Chapter 2:

Sudah diputuskan kita pergi ke Jepang

Aku tetap tidak setuju dengan rencana itu

Aku hanya ingin semuanya cepat selesai

Ini hal yang membingungkan

Silahkan berdebat, aku akan menonton saja

AAA! Sakuraa!

Hai bu!

Baik hati apanya? Tampang horror itu kau bilang baik hati!

To make strong the weak

To make the broken up

To crush the evil

Aku merindukanmu

Sudah kubilang keluar…

Hai Sas!

Created by : Black winged Reaper

Naruto © Masashi Kishimoto

FBI kepunyaan U.S.A

A/N: Aku tetap mempertahankan reted T. Tapi setelah aku baca-baca fic lainya, banyak Author yang mengambil jalur aman dengan menjadikan fic-nya rated M. Jadi, ya aku belajar dari yang sudah-sudah, mungkin di chap berikutnya, aku ubah deh!

Setelah perdebatan yang hasilnya kurang memuaskan dengan Ino, Sakura memutuskan untuk membicarakanya dengan Tenten di larut malam (setelah Ino tertidur).

"Hai" Sapa Tenten ketika Sakura duduk di ruang tengah. Tapi Sakura tak membalasnya. Tenten duduk dikursi didepan Sakura

"Aku tahu jadinya pasti begini. Seharusnya, kau langsung bicara padaku" kata Tenten lagi dengan nada yang –dibuat- tenang.

"Aku tahu, maaf ya Ten. Tapi seharusnya dia sudah bisa mengontrol emosinya" kata Sakura sebal.

"Kau tak tahu rasanya ditinggalkan. Tapi kau tahu rasanya meninggalkan. Ada perasaan bersalah?" Tanya memandang Sakura lama

"Aku anggap itu 'Ya'. Baiklah, tak ada waktu membahas masa lalumu dan masa lalu Ino. Sekarang kau punya ide?" Tanya Tenten

"Aku punya satu. Dan kau harus memikirkan rencana cadanganya." Kata Sakura.

"Baiklah" kata Tenten.

"Pertama. Bisa saja, kita tak mendapatkanya dari Sasuke secara langsung. Dari karyawan, misalnya sekretaris atau wakil direktur. Dengan begitu, aku aman, kita aman." Kata Sakura enteng dan membuat Tenten cengo.

"Sakura, dengar ya. Walaupun aku bukan karyawan swasta, aku ngerti kalau yang tahu menau soal hubungan kerja sama dan juga motifnya adalah orang yang memutuskan, yaitu dalam kasus ini Sasuke."

"Tapi yang lain juga bisa tahu tentang 'motif itu' kita hanya harus menemukan orang itu" kata Sakura

"Jadi kau mau bilang kalau mungkin saja dalam perusahaan Sasuke, ada anak buah Kakashi. Ada benarnya juga sih. Tapi sebentar, jika kasus : Jika Presiden melakukan suatu hubungan kerja sama dengan Negara lain, pihak mana yang paling tahu? " kata Tenten.

" Siapa lagi yang Presiden percaya?Kita. Presiden bisa saja ditipu. Kita juga bisa menipu Presiden, dan bisa menipu orang yang menipu Presiden" kata Sakura

"Berarti dalam kasus ini 'orang' yang kau bilang tadi bisa menjadi perantara, atau pengkhianat keduanya, atau Intelligent."….. "Kita harus menemukan orang ini" sambung Tenten.

"Jadi yang mana rencana utama dan yang mana yang rencana cadangan?" Tanya Sakura

"Ini semua rencana utama. Kau dan Hinata akan masuk ke perusahaan Sasuke. Dan untuk Ino, aku punya rencana cadangan. Kita bisa mendapatkan informasi dari tempat lain."

"Maksudmu yayasan lain yang bekerjasama dengan Kakashi?" Tanya Sakura

"Ya. Itu tugas Ino."

"Kau sendiri?" Tanya Sakura

"Kau tahu gayaku kan.., membuntuti, mengawasi , mendengarkan, dan memahami. Just like 'Owl'" kata Tenten dengan bangganya. Sakura memutar bola matanya.

"Dengar. Targetmu Sasuke. 'Orang itu', Hinata, dan orang-orang lain aku dan Ino. Jadi…" Tenten tak menyelesaikan kalimatnya, dia menunjuk wajah Sakura.

"Apa?" Tanya Sakura bingung.

"Kita harus mengubah kau, Sparrow, menjadi Haruno Sakura yang sangat dicintai oleh Uchiha Sasuke."

"Tunggu dulu, bagaimana kalau Sasuke sudah…" Sakura menelan ludahnya "mempunyai orang lain."

"Kita kan masih punya 'Orang itu'.Dan itu berarti nanti kau ikut bersamaku menjalankan 4 M." kata Tenten

"Bagaimana kalau perkiraanku meleset, bagaimana kalau tak ada 'Orang itu'?" Tanya Sakura

"Sak, sejak kapan kau terlalu memikirkan sesuatu yang bahkan belum kita lakukan?" Tanya Tenten bingung. Dan pertanyaan Tenten terus menghantui Sakura sepanjang dia menyadari sesuatu. Dia gugup.

08.00 a.m.

Semua telah berkumpul dan Tenten sudah menceritakan rencana-rencana dan juga perkiraan-perkiraan yang telah ia bahas dengan Sakura kemarin malam.

"Sudah diputuskan kita pergi ke Jepang" Kata Tenten mengakhiri kalimat-kalimatnya.

"Aku berharap ada 'Orang itu'. Dan melupakan rencana pertama. Aku tetap tidak setuju dengan rencana itu" kata Ino yang sekarang sudah agak mendingan dari kemarin hal itu cukup untuk memunculkan sepercik api ditubuh Sakura.

"Kau tahu Ino, terkadang pengorbanan itu harus dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan" Akhirnya Tenten lah yang angkat bicara.

"Ya, tapi tidak dengan cara yang menjijikan seperti ini. Kau kira mudah ya mempermainkan jiwa seseorang? Kau tak punya hati!" kata Ino yang sepertinya sudah kembali seperti kemarin.

"Aku hanya ingin semuanya cepat selesai. Kita harus bekerja dengan baik. Juga kerjasama tim harus diperhatikan. Jangan lengah dan jangan mudah termakan emosi. Kita ini agen FBI, kita harus tahu siapa kita. Untuk siapa kita bekerja. Dan juga untuk apa kita rela membahayakan diri kita sendiri. Dulu kita dengan bangganya mengucapkan kalimat yang sederhana itu. Kita tetap harus melaksanakan dan menjaga sumpah yang telah kita ucapkan. Jangan menarik perkataanmu. Dengar itu!" kata Tenten menceramahi Ino dan yang lain.

"Ini hal yang membingungkan. Ino marah.. Sakura marah… Tenten juga marah.. Aku pusing" kata Hinata mengeluh sambil berjalan menuju dapur.

"Tak ada yang boleh membantah! Kita jalankan rencana kita. Kita berangkat 2 hari lagi, jadi persiapkan diri kalian dengan baik. Dan juga, jika kalian berdua mulai berdebat lagi tentang masa lalu kalian masing-masing... Silahkan berdebat, aku akan menonton saja" kata Tenten dengan nada malas.

"Aku sedang malas berdebat" kata Ino sambil masuk kekamarnya. Tak lupa dia membanting pintu.

Tenten menghela nafas.. "Dasar…" keluhnya.

"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Sakura… "Tak mungkinkan kerjasama tim tercipta dalam kondisi yang seperti ini" lanjutnya

"Ya kau benar. Tapi kita tetap akan mencoba. Oya, siap-siap dan ikut aku" kata Tenten. Sakura menuruti perintah Alfa-nya itu. Dia menuju kamar dan berganti pakaian. Setelah selesai, dia dan Tenten keluar apartemen.

Jalanan di Washington D.C memang tak begitu ramai bila dibandingkan dengan LA atau New York. Tapi tetap membawa kesan tersendiri. 2 orang ini terus menelusuri trotoar dan berhenti disebuah Salon yang cukup besar. Mereka masuk dan suasana serta aroma salon langsung terasa dan dan Sakura segera menuju meja receptionist.

"May I help you?" (Dapatkah aku membantumu?) kata mbak-mbak receptionist

"Yes. My friend wants change her hair back to natural. And has a sauna with cherry smell." (Ya. Temanku ingin mengubah rambutnya kembali seperti semula. Dan sauna dengan aroma cheri.)

" me get the registry" (Baiklah. Biar ku daftarkan dulu)kata-nya sambil membuka buku dan mulai mencatat-catat.

"Id please" (Kartu nama?)katanya lagi

"Oh here you are" (Oh. Ini dia) kata Sakura memberika Id palsunya –identitas sebenarnya harus dijaga dengan baik-baik-. Jadi mereka memutuskan untuk membuat kartu nama palsu –yang tentunya banyak-.

"Ok. Ms. Margaret. Follow me please" (Baiklah. Nona Margaret. Tolong ikuti aku). Sakura menurut saja. Sekarang dia sedang duduk didepan sebuah cermin yang sangat besar, dan seorang pegawai salon berada dibelakang kursinya. Dia mulai mengoleskan sesuatu ke rambut Sakura dengan mulai mengusap-ngusap. Dan dengan malasnya Tenten membaca atau lebih tepatnya melihat-lihat majalah fashion yang disediakan oleh pihak salon. Setelah selesai, rambut Sakura dibungkus dengan handuk dan siap dengan perawatan yang kedua. Sauna dengan aroma cheri. Tenten mulai tidak bosan ketika ada seorang pelanggan yang tidak sengaja lupa membawa koranya yang tergeletak di meja. Dia-pun mulai membaca isi Koran tersebut. Setelah 45 menit menunggu, akhirnya, Sakura selesai.

"Wow! Kau terlihat sangat Sakura. Seperti yang pertama kali kulihat hanya dengan kesan lebih dewasa dan mandiri, kuat dan hebat" komentar Tenten

"Aku seperti anak ingusan" kata Sakura yang masih memandang dirinya dengan terherah-heran

"Ayolah, rambut pink natural itu lebih bagus daripada hasil dari tonic hitam." Kata Tenten

"Aku tetap masih shock"

"Oya. Kau juga sangat.. bau cheri. Itu bagus. Ayo pulang" kata Tenten. Sakura beranjak dari kursinya. Setelah membayar, mereka keluar dari Salon itu dan segera menyetop taksi untuk pulang.

"Kita lihat reaksi mereka" kata Tenten setelah mereka sampai didepan pintu apartemen mereka. Tenten membuka pintu.

"Kami pulang!" teriak Tenten. Dari dalam apartemen, terdengar derap langkah kaki yang ringan dan cukup berirama. Hinata.

"Selamat da.. AAA! Sakuraa!" teriak Hinata histeris dan juga masih memegang celemek. Dia shock dengan pemandangan didepanya. Pink..pink… cheri…cheri…

"Kau benar-benar Sakura?" Tanya Hinata

"Iya lah.." kata Sakura agak malas sambil masuk apartemen dengan Tenten dibelakangnya tanpa memperdulikan Hinata yang masih dan tenten duduk di sofa ruang tengah. Sakura mulai menyalakan TV dan Tenten membaca Koran harian. Hinata masuk dan duduk disebelah Tenten.

"Kenapa kalian melakukan ini?" Tanya Hinata. Tenten hanya meliriknya sebentar, dan Hinata langsung tahu maksudnya.

"Aku sih suka-suka saja.., tapi aku nggak jamin kalau 'Cran' bakal suka dengan perubahanmu, Spar" kata Hinata sambil menunjuk-nunjuk kea rah Sakura.

"Dengar ya, 'Finch' kita atau lebih tepatnya aku melakukan ini karena misi kali ini terdengar begitu penting, melibatkan Negara Jepang. Jepang! Aku tak mau kalau Negara itu dalam masalah besar yang berkepanjangan" kata Sakura

"Wow, sangat… nasionalis" komentar Tenten yang matanya masih sibuk pada koranya.

"Lupakan" kata Sakura cepat.. "Ngomong-ngomong, mana Ino-si Cran-?" sambungnya

"Oh, mandi. Jadi kau, siapkan mentalmu" kata Hinata dengan nada setengah mengancam

"Terserah" jawab Sakura singkat.

"Itu juga. Sifatmu itu, perbaikilah selagi masih bisa diperbaiki." Kata Tenten pada Sakura. Hinata tersenyum lebar seolah mengatakan 'kubilang juga apa'. Sakura memutar bola keluar dari kamarnya dengan rambut yang sedikit basah. Dia juga shock dengan pemandangan yang dilihatnya.

"Kalian bertindak sejauh ini? Menakjubkan" kata Ino. Koran yang dibaca Tenten jatuh tergeletak di lantai, Hinata memandang Ino dengan perasaan shock dan yang paling shock adalah Sakura. Tak ada nada sindiran atau caci maki.

"Kurasa kalian memang agen FBI sejati" kata Ino… "Aku mau beli snack dulu, jadi aku pergi dulu" katanya melenggang pergi dan keluar apartemen. Ketiganya masih sulit mengambil okesigen –terutama Sakura-.

"Wow…, kukira dia akan mengamuk. Dan ternyata, tidak. Cukup mengecewakan" kata Hinata.

"Kukira dia akan langsung mengeluarkan argument tentang ini lah, itu lah dan setelah itu dia akan menghajarmu. Hihihi" kata Tenten terkikik pelan sambil memungut kembali koranya.

"Dengar ya, Nona dan calon Nona Hyuuga, yang paling kaget adalah aku. Tapi, itu aneh bukan, dia malah tidak marah padaku, padahal baru kemarin dia seperti gunung meletus…" kata Sakura.

"Tapi menurutku itu bagus, dia sudah bisa menerima hal ini. Sudahlah, sekarang bereskan barang-barangmu Sakura" perintah Tenten.

"Baik." Kata Sakura yang lalu masuk ke dalam kamarnya, menyiapkan segala sesuatu untuk pulang –eh pergi- ke Jepang. Dan dia yakin, ini adalah misi yang sangat atau bahkan tersulit yang akan ia jalani.

1 hari berikutnya , Tokyo, Jepang. 8 a.m

Gedung itu menjulang tinggi dengan bangganya. Semua orang yang masuk mengenakan seragam dari gedung itu juga sangat bangga pada dirinya sendiri. Tapi tidak pada orang yang memimpin gedung itu…

"Selamat pagi tuan" kata seorang karyawan sambil membungkukkan badanya, ketika seorang pria memasuki pintu utama.

"Selamat pagi tuan" kata karyawan lain, melakukan hal sama. "Selamat pagi tuan"..."Selamat pagi"… "Selamat pagi"… "Selamat pagi tuan"… -nggak tahu berapa kali aku harus ngetik kata-kata itu -. Tapi senyum, salam , sapa (by: Pertamina) para karyawan tak ia perdulikan sama sekali. Secuil-pun tidak, segecil juga tidak . Dia hanya melenggang pergi dan segera menuju lift. Memencet tombol, dan setelah sampai, terdengar kembali sapaan para karyawan, tapi juga tak ia hiraukan. Setelah menemukan ruangan yang dituju, dia-pun memasukinya. Dan menjalankan ritualnya setiap hari. Membaca ini dan itu, menandatangani, bicara ini-itu dan lain-lain.

Ketika hari sudah menjelang malam. Dia mulai beristirahat, memandang keluar dari dinding kaca kantornya. Dan menggumamkan sesuatu sambil memegang sesuatu, "Dimana kau? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau memikirkanku? Apa kau masih memikirkan hatiku?"

Deg…Deg…

Perasaan aneh tiba-tiba muncul dibenaknya, dia berfikir, apa ini pertanda buruk, atau pertanda baik?

1 Hari berikutnya. Tokyo International Airport.11 a.m

"Whuu, panasnya! Panas sekali" keluh Hinata

"Tentu, ini kan musim panas" kata Tenten sambil mendorong kopernya yang sedikit kerepotan. Karena bawaanya yang paling banyak dan berat, apalagi dia juga harus membawa tas tempat barang-barangnya sendiri, serta tas menyangkleng tas punggung. Setelah sampai dibagian pemerikasaan. Tak lupa Tenten menunjukkan surat izin-nya dan juga identitas mereka berempat. Setelah selesai, mereka segera keluar dari bandara. Mereka berjalan menuju mobil FORD merah yang terparkir tak jauh dari lobi. Tenten menekan tombol dan terdengar bunyi –biip- dari mobil itu.

"Selama kita di Jepang, ini mobil kita, ayo!" kata Tenten mengajak teman-temanya. Dalam perjalanan –yang entah selain Tenten tak tahu kemana- meraka berbincang-bincang.

"Ten, ngomong-ngomong, kita menginap dimana? Tak mungkin dirumah masing-masing kan…" kata Sakura

"Tentu pembantu sudah mengaturnya. Tempatnya cukup bagus dan sangat tertutup dan mungkin sedikit terpencil. Sepi." Kata Tenten

"Sangat tipe Tenten" komentar Ino.

"Bukan, tipe 'I'" jawab Hinata dan Sakura bersamaan.

"Jangan bicarakan itu lagi!" tegas Tenten.

"Memang kenapa?Oya kau masih kepingin di posisi itu kan?" Tanya Ino

"Ya, sedikit" kata Tenten sedikit jengkel.

"Kalau waktu pemilihan kita merekomendasikanmu, kira-kira kau terpilih tidak ya?" gumam Hinata

"Kalau aku jadi 'I' siapa yang akan mengurus kalian bertiga. Labil, childish, cerewet, cuek,…"

"TENTEN!" protes mereka bertiga. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Hinata dan Ino mengomeli Tenten, sedangkan Sakura hanya memandang keluar jendela.

"Jika aku bertemu denganmu lagi, apa yang akan kau lakukan? Membunuhku? Atau kau malah sudah melupakan aku? Apa yang akan terjadi… Sasuke?" kata Sakura dalam hati. Setelah kira-kira 1 jam, mereka sampai di apartemen -markas- mereka yang baru. Hinata yang melihat sekeliling keadaan langsung protes…

"Ini yang kau bilang sepi? Persis ditengah kota, dan dihadapan sebuah..Town Square? Yang benar saja? " protes Hinata.

"Aku hanya menuruti alamat yang tertera. Itu saja, jika memang menurut atasan tempat ini paling strategis, ya apa boleh buat." Kata Tenten menjulurkan lidahnya. Mereka masuk dan berbicara dengan receptionist, setelah mengambil kunci,mereka segera

"Kau dari tadi diam terus Sakura." Tanya Hinata

"Dari tadi kau bicara terus Hinata!" kata Ino. Hinata memasang muka sebal.

"Biarkan saja, dia harus menata emosi dan mentalnya kan…" bela Tenten. Semua mingkem. Sekali Tenten bicara, tak ada yang akan melawan kecuali kau ingin didepak dan dibunuh secara tidak terhormat dihadapan presiden. Mereka memasuki apartemen. Hinata dan Ino bertugas menyiapkan baju-nya dan teman-temanya. Sementara Tenten dan Sakura menyiapkan semua peralatan mata-mata yang telah dibawa Tenten.

Ruang keluarga yang tadinya memanjakan dan menenangkan, berubah suasana seperti kalau sedang berada di lab computer. Korden-korden ditutup dan semua perabotan ditata ulang sehingga menyerupai markas anggota mata-mata –mereka memang selesai…

"Baiklah, pekerjaan kita dimulai besok. Untuk permulaan, aku besok kau ke Kantor Uchiha dan meminta bantuanya untuk mendirikan sebuah usaha yang telah aku atur." Kata Tenten

"Ten, walaupun aku bukan pegawai swasta, aku ngerti kalau nanti kau tiba-tiba saja meninggalkan 'usahamu' itu tanpa memberi tahu Uchiha apa-apa, kau bisa didenda dan dijebloskan ke penjara" kata Hinata

"Siapa bilang usaha ini hanya untuk misi" kata Tenten

"Jadi?"

"Memang aku ingin membuka usaha di Jepang. Hitung-hitung, jaminan hari tua. Tak mungkin kan kalau kita menjadi agen FBI selamanya. Kalian juga seharusnya mengikuti jejakku." Kata Tenten dengan lagak menyarankan.

"Tidak, terimakasih. Dan kita bisa menjadi agen FBI selamanya. Kalau dalam misi kita mati, ya kita mati sebagai agen FBI. Dan itu artinya kita menjadi agen FBI, selamanya!" cerocos Tenten hanya memutar bola matanya menanggapi calon -mungkin- adik sepupunya itu.

"Kita kesini untuk menjalankan misi, bukan untuk bebisnis" kata Ino mengingatkan.

"Dan siapa yang bilang aku yang mengurusnya? Ibuku yang akan menjalankan usaha ini" kata Tenten

"Wow! Bagus! Usaha apa?" Tanya Sakura.

"Restoran fast food dan masakan barat. Bisnis fast food cukup menjanjikan, aku baca di internet" kata Tenten …"Oke. Sekarang bahas misi. Hinata kau tak lupa kan apa tugasmu?" sambungnya.

"Tentu aku ingat. Aku melamar pekerjaan menjadi seorang Cleaning service di Uchiha CO" kata Hinata.

"Bagus. Kau Ino?"

"Memata-matai dan juga berusaha untuk mendapatkan informasi dari orang bernama Darui dari Kiri CO" kata Ino lancar

"Great. Kau Sakura?"Tanya Tenten dengan bego-nya. Keadaan mulai sunyi senyap.

"Kurasa kau sudah tahu" kata Tenten canggung. "Baiklah kalian boleh istirahat" sambung Tenten sambil menepuk tanganya 2 kali untuk mencairkan suasana yang telah dibuatnya sendiri.

"Tenten" panggil Sakura

"Ya, ada apa?"

"Boleh aku mengunjungi ibuku. 2 tahun lalu dia pindah ke Tokyo, bolehkah aku mengunjunginya, aku merindukanya" kata Sakura

"Tentu. Hanya sampai malam ini" kata Tenten memberikan izin

"Iya, aku mengerti". Katanya yang setelah itu beranjak dari tempat duduknya dan keluar apartemen, meninggalkan teman-temanya yang siap menghardik Tenten.

"Tenten, aku tahu kau Alfa, tapi boleh kukatakan satu hal, tadi kau benar-benar idiot!" kata Ino yang setelah itu melenggang pergi ke kamarnya.

"Aku tahu kak Neji akan membelaku dalam hal bodoh!" kata Hinata yang setelah itu juga pergi tapi ke dapur.

Dalam perjalanannya, Sakura terus memikirkan misinya. Kemarin-kemarin, hal ini terasa akan mudah. Tapi setelah tiba dan akan menghadapi kenyataan yang sebenarnya, kenapa hatinya menjadi galau? 'Sial!' rutuknya pada dirinya sendiri. Setelah sampai, dia mengamati sekeliling, 'Tidak buruk' pikirnya

Dia melihat ibunya menghadap kea rah barat. Ini jam 4 sore, kelihatanya kebiasaan sang ibu tak pernah pergi. Sakura menggeser gerbang.

"Siapa itu?" Tanya ibu Sakura. Dia mengedarkan pandanganya dan, dia melihat seorang wanita yang tengah berdiri menatapnya. Putri kecilnya yang amat ia sayangi sekarang datang kehadapnya, dan telah menjadi seorang wanita yang cantik, anggun, dan terlihat kuat.

"Hai bu.." sapa Sakura enteng.

"Sakuraaa!" teriak sang ibu yang langsung menghambur ke dekapan putri semata wayangnya itu.

"Aku merindukanmu." Kata Sakura terharu.

"Aku lebih merindukanmu. Sudah 6 tahun.., tak terasa" kata ibunya terharu. Dia melepas pelukanya dan menuntun Sakura masuk ke rumah yang baru 2 tahun ditempatinya duduk di ruang keluarga. Saat ibunya mengambilkan minum, dia mengamati sekeliling. Disana ada foto ukuran 10R, ibu, ayah dan dirinya. Dia sperti berumur 5 tahun. Sakura memandang sedih foto ayahnya yang sudah 18 tahun meninggalkanya. Lalu ada beberapa foto lainya saat dia masih kecil dan beberapa pajangan dinding dari rumah lama.

"Sepertinya rumah ini tak begitu tipe ibu" kata Sakura yang sudah duduk di kursi dan menonton TV. Dulu acara ini favoritnya, tapi sekarang tidak lagi. Tapi karena ia ingin ibunya tak bertanya macam-macam, jadi dia menonton acara itu saja.

"Ini adalah rumah yang paling nyaman yang aku temukan. Yang lain malah lebih buruk. Arah baratnya tertutup oleh pepohonan atau gedung-gedung besar" kata ibunya datang dengan dua gelas jus jeruk.

"Ibu senang tinggal disini?" Tanya Sakura

"Ya. Tentu. Ngomong-ngomong, kenapa kau pergi ke Jepang? Apa bos-mu mengizinkanmu? Bagaimana dengan klien-klienmu? Mereka pasti masih membutuhkan batuanmu kan. Apalagi sejak krisis global berlangsung, orang-orang membutuhkan pendamping dalam mengelola keuanganya" Tanya ibunya beruntut-runtut. Ya, Sakura adalah agen FBI. Identitas sebagai seorang agen FBI memang harus dirahasiakan, dan itu termasuk ibunya sendiri.

"Ya. Ada orang yang menggantikanku." Dusta Sakura dengan mulusnya. Hei! Apa kau tak takut dengan dosa?

"Baguslah kalau begitu? Dan ngomong-ngomong kau tinggal dimana? Kenapa tak disini saja?" Tanya ibunya.

"Aku tinggal diapartemen bersama 3 orang temanku. Kita disini untuk mendirikan usaha bu…, jadi kita harus sering berdiskusi. Hitung-hitung, jaminan hari tua." Kata Sakura –yang sedikit bohong-

"O. Bagus itu". Kunjunganya kali itu dipenuhi canda dan tawa serta kehangatan keluarga, sampai ibunya berbicara sesuatu yang tak ingin Sakura bicarakan.

"Lalu soal Uchiha bagaimana? Kau tahu, dia masih sering berkunjung disini dan juga menanyakan kabarmu. Sepertinya dia masih mencintaimu Sakura…". Sakura terdiam lama…

"Aku juga tak tahu bu…"

"Apa kau sudah memiliki seseorang?"

"Belum! Tidak!. Aku tak memiliki siap-siapa"

"Lalu maukah kau membukakan pintu hatimu untuknya kembali?" Tanya ibu Sakura. Sakura hanya tersenyum…

Esok harinya 7 a.m

"Sasuke orangnya penuh dedikasi, murah senyum dan penuh kasih sayang. Dia baik hati" kata Sakura menerangkan sifat-sifat Sasuke.

"Baiklah, aku dan Hinata akan bergerak sekarang. Kalian tunggu disini dan persiapakan diri kalian, mengerti? Oya jangan lupa pakai …" kata Tenten sambil menunjuk telinganya.

"Baik" kata Sakura dan Ino. Tenten dan Hinata lenyap dari pintu dan terdengar suara mereka berdua dari microphone mereka "Owl is taking off" "Finch is taking off "

"Aku akan menggerakan kamera pengintai. Kau tahu tenten meletakkanya pada badan burung yang sudah dibalsem dan dijadikan sebagai kamera pengintai. Jadi … INI KEREN SEKALI!" teriak Ino. Dia langsung membuka jendela dan melayangkan burung kenari –yang sebenarnya kamera pengintai- itu. Dia mulai mengikuti Hinata dan Tenten dari kira-kira 25 kaki dari permukaan tanah, tak mungkin kan burung terbang setinggi 6 kaki (180 cm). Sementara itu, Sakura mendekati Ino yang focus pada beberapa layar computer didepanya.

"Ino, kenapa kau tiba-tiba setuju padaku?" Tanya Sakura. Hening sebentar…

"Karena aku sudah bicara pada Sai. Dia bilang, aku harus percaya pada kalian aku juga harus bertanggung jawab pada tugasku. Dia juga bilang, kalau memang begitu yang seharunya, maka semuanya akan berakhir bahagia. Aku percaya padanya, dan itu yang membuatku berfikir aku percaya pada kalian. Dulu kita harus menjadi pelayan bar, dan itu mamang seharusnya. Hal itu membuat kita bisa meringkus pelaku dan semuanya baik-baik saja dan berakhir bahagia. Jadi aku mendukungmu" kata Ino dengan senyumnya.

"Jika memang seharusnya, akan berakhir bahagia…" gumam Sakura

"Ya, itu yang Sai bilang. Oya aku mau tanya padamu" Kata Ino.

"Tanya apa?"

"Kau dan Sasuke sudah bertunangan kan. Ehm! Mungkin aku agak sinting menanyakan hal ini. Kau sudah pernah 'begitu' belum?" Tanya Ino

"Begitu? Aku tak mengerti Ino…" kata Sakura jujur.

"Itu lho… 'Itu' Ehm! Sex." Kata Ino melirihkan suarnya pada kata terakhir. Sakura membuang mukanya, dan Ino menangkapnya sebagai 'Ya'.

"Wow. Sungguh? Berapa kali? Dan kapan?"

"1 kali. 1 minggu setelah acara pertunangan, saat liburan, berdua.". Ino menghela nafas. Dia mendapat satu pelajaran berharga. Jika suatu hari dia dan Sai menikah dan punya anak. Dia tak akan membiarkan anaknya liburan sendirian bersama pacarnya. Titik.

"Wow, aku pernah baca. Biasanya orang yang telah berhubungan intim dengan cinta memiliki koneksi hati yang sangat kuat. Kau merasakanya?"

"Aku tak tahu Ino…" kata Sakura. Ino hanya memakluminya.

Siang hari 1 p.m.

"Owl is taking on" terdengar suara Tenten dari microphone mereka berdua. "Finch is taking on" terdengar suara Hinata.

"Mereka sudah pulang." Kata Ino sambil menyambut burung kenari-nya.

"Kami pulang…" terdengar suara sang Alfa dari depan pintu dengan nada yang tak mengenakkan.

"Selamat datang" teriak Sakura dari ruang keluarga. Mereka berdua duduk di sofa. Hinata bermuka khawatir dan Tenten… sulit dijelaskan.

"Kau kenapa Ten?" Tanya Ino. Tenten menghela nafas berkali-kali.

"Dia sedang menyiapkan diri untuk sedikit memarahi Sakura" sahut Hinata. Sakura menunjuk dirinya sendiri. "Aku?" tanyanya bingung.

"Dengar ya Sak! Kau bilang Sasuke itu penuh dedikasi, kasih sayang dan ditebari senyum. Baik hati apanya? Tampang horror itu kau bilang baik hati! Kau tahu aku bergidik ngeri saat mendengar setiap kata yang diucapkanya dengan rasa sedingin es. Es Sak! ES! Bukan matahari dengan penuh cahaya kebaikan hati yang berbung-bunga. Tapi ES! Dikutup utara!" teriak Tenten tak henti-henti bahkan sampai berdiri dari sofanya.

"Huh…" Tenten menghela nafas sambil duduk di sofanya lagi.

"Ten, sungguh aku tak mengerti kata-katamu" kata Sakura

"Kau saja yang bilang Hinata. Aku capek!" keluh Tenten. Dan Ino serta Sakura baru pertama kali ini melihat Alfa mereka mengeluh.

"Ya Sak, tadi kalu bilang si Sasuke itu baik hati…, tapi nyatanya tidak sama sekali. Bahkan jauh dari kata kasih sayang. Tadi aku juga bicara pada salah satu cleaning service, mereka bilang Sang direktur memang begitu. Dia tak pernah membalas setiap senyum dan sapaan yang keryawanya lontarkan padanya. Dia juga tak pernah bilang terimakasih atau maaf. Dan sepertinya…, Tenten mengalami hal kurang mengenakkan tadi." Terang Hinata sejelas-jelasnya.

"Hah! Benarkah?" Tanya Sakura terkejut.

"Kurasa kau membawa perubahan besar pada dirinya Sak" kata Hinata. Hati Sakura semakin bergejolak.

"Ten, izinkan aku untuk bertemu denganya, Sekarang!" kata Sakura. Tenten menatap Sakura dengan sengat dalam. Dia melihat kesungguhan dalam mata emerald yang berkobar melihat Ino dan Hinata yang sepertinya menyiratkan ketidaksetujuan.

"Baiklah. Tapi ingat siapa kau? Juga sikap dan emosimu, mengerti? Dan tolong berikan ini pada Sasuke, ini desaign tempat dari Restorantku" Tanya Tenten.

"Ya!" . Sakura mulai bersiap. Microphone kecil di balik kerah bajunya, dan rambut yang ia gerai, semakin menutupi keberadaan microphone untuk berhubungan dengan teman-temannya. Saat ia menyisir rambutnya, dia teringat percakapan kecilnya bersama Tenten saat misi mereka yang ke-10 selesai.

Flash back

Mereka mengadakan perayaan kecil-kecilan di apartemen bersama Neji, Sai dan Naruto. Naruto sampai jauh-jauh terbang dari Los Angles ke Washington DC hanya untuk menghadiri pesta kecil ini, padahal saat itu seharusnya dia menghadiri pesta yang lebih besar dan mewah, tapi hal itu tak menyenangkan kalau Hinata tidak . Sakura berada di balkon, dan Tenten menghampirinya.

"Kenapa Sakura?" Tanya Tenten

"Tidak apa-apa, hanya memandangi bintang saja."

"Bintang ya. Kau tahu, aku sangat senang dengan keadaan kita sekarang. Aku merasa kita telah melaksanakan sumpah kita.". Sakura hanya memasang ekspresi bingung. Tenten mengalihkan pandangnya pada Hinata yang sedang melempar-lempar popcorn ke mulut Naruto yang menganga lebar dan Neji yang juga ikut-ikutan melempar Naruto dengan kacang, tapi ke Sakura mengikuti."To make strong the weak". Pandangan mereka beralih pada Ino yang sedang bersendau gurang bersama Sai sambil berpegangan tangan "To make the broken up". Dan pandangan Tenten beralih lagi ke bintang

"To crush the evil"

End of Flash back

Tanpa sadar, ia bergumam "Aku merindukanmu, Sasuke….". Dia keluar kamar dan Hinata, Tenten, dan Ino sudah siap mendukungnya.

"Aku pergi dulu ya…" kata Sakura. Dia melangkahkan kakinya keluar apartemen dan berkata sesuatu "Sparrow is taking off" katanya pelan tapi tegas.

Dia sampai. Dia sudah sampai. Di sebuah gedung pencakar langit, diama -mungkin- seseorang telah menunggu kedatanganya. Bahkan sekarang dia yang selalu pandai dalam bertugas, tak tahu lagi, dia sedang bertugas atau memang ingin bertemu dengan Sasuke. Dia masuk ke kantor itu. Dan berjalan menuju meja receptionist.

"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" kata sang receptionist

"Saya ingin bertemu dengan Pak Direktur" kata Sakura

"Maaf, tapi beliau sedang beristirahat"

"Dimana?"

"Kantornya. Dia tidak suka kalau jam istirahatnya diganggu"

"Tidak apa-apa. Dia bilang padaku harus mengantar dokumen ini secepatnya, jadi aku yakin tidak apa-apa"

"Punya jani?"

"Ya" kata Sakura seakan ragu.

"Tolong nama anda"

"Tenten" katanya. Karena memang, seharusnya yang datang kesini itu Tenten.

"Oya. Pak direktur memang menunggu anda. Baiklah, silahkan, kantornya di lantai 54 dan paling ujung menghadap ke timur. Dan ini kartu tamu anda" katanya sambil menyerahkan sebuah kartu tanda tamu pada Sakura.

"Terimakasih". Dia berjalan menuju lift dan segera menekan tombol dengan angka 54. Setelah kira-kira beberapa saat, lift terbuka tanda sudah sampai di lantai tujuan. Dia berjalan ke sebuah ruangn yang dimaksud. Saat ia memegang gagang pintu, dia seakan kehilangan akalnya. Dia ingin bertemu Sasuke.

"Permisi" katanya sambil masuk. Sasuke menghadap keluar.

"Apa kau tak tahu jam berapa ini?" kata sebuah suara yang Sakura kenali, itu adalah suara Sasuke. Suaranya sedikit berubah. Lebih rendah, dan lebih dingin serta cuek.

"Pukul 2 siang" jawab Sakura

"Kau bodoh atau apa! Kau tak tahu jam apa ini untukku? Sudah berapa lama kau bekerja disini…, keluar!" perintah Sasuke.

"Aku takkan keluar" kata Sakura tenang.

"Sudah kubilang keluar! Kau mau kupecat!" kata Sasuke yang belum berbalik arah.

"Aku tak bekerja disini, jadi kau tak bisa memecatku." Kata Sakura. Perkataan Sakura sukses membuat Sasuke membalikkan kurisnya. Dan alangkah terkejutnya ia!

"Selamat siang! "

Sasuke's P.O.V

Aku melihatnya! Aku melihat belahan jiwaku! Hatiku! Didepanku saat ini juga. Dia, Haruno Sakura, yang sudah 6 tahun meninggalkanku, tiba-tiba saja muncul dihadapanku. Aku tak marah padanya. Aku tak akan pernah bisa. Dia terlalu berharga untukku. Aku sangat senang, lebih dari senang. Saking senangnya, aku tak bisa bergerak. Aku ingin memeluknya, mencumbunya, tapi tubuhku tak bisa bergerak dari kursi. Ada apa denganku?

"K-k-kau Sakura?" tanyaku memastikan.

"Ya" jawabnya rikuh. Aku senang, aku meliha perasaan bersalah dimatanya. Mata emerald yang jernih dan mampu membawaku ke fantasi-fantasi yang dulu yang menyiratkan cinta yang begitu besar. Ini mata Sakura. Ini milikku.

"Boleh saya duduk?" tanyanya formal

"Tentu" kataku yang tak bisa lepas dari pandanganya. Aku masih belum sadar sepenuhnya.

"Terimakasih. Saya datang kesini untuk menyerahkan dokumen ini. Ini design tempat restorant teman saya. Dia menyuruh saya untuk membantunya jadi. Ini…" katanya meletakkan dokumen itu didepanku. Hatiku mencelos, dia kesini bukan untuk bertemu denganku?. Aku seperti orang paling bodoh sedunia. 1 menit yang lalu aku bagaikan orang yang paling dibahagiakan, dan sekarang seperti orang paling menderita karena dihantam oleh selusin paku bumi.

"Kalau begitu, permisi" kata Sakura lagi sambil beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kantorku. Mendadak daduke menjadi sangat sesak, lebih sesak dari 6 tahun yang lalu. Nafasku memburu.

End of Sasuke's P.O.V

Sakura's P.O.V

Setelah keluar dari kantonya, aku segera berlari ke lift. Lift terbuka, tak ada masuk dan segera memencet tombol lantai 1. Setelah lift menutup, entah kenapa aku meringkuk disudut lift, aku menangis.

Ya, aku melihatnya, aku melihat Sasuke. Aku bertemu dengan aku melihatnya. Aku melihat wajahnya yang hancur, dan itu karena aku. Tenten benar, dia memiliki tampang horror, dan itu karena aku! Aku baru manyadari aku jahat sekali!. Dan aku juga melihatnya. Aku melihat wajah yang sangat berseri-seri ketika dia melihatku lagi, dan sekarang aku menghancurkanya lagi! Aku tak pantas bertemu denganya lagi. Sungguh tak pantas! Sangguh tak siap!.

Lift terbuka, aku keluar dan berlari tanpa menghiraukan teriakan receptionist yang memanggilku. Aku keluar dari gedung itu, tapi sebelum aku mencapai gerbang, aku ingat, aku mengucapkanya. 'Sparrow is taking off'.Aku sedang menjalankan misi, jika aku melewatkan kesempatan ini, maka semua teman-temanku juga akan kesusahan memikirkan rencana cadangan yang selanjutnya.

Aku melihat sekeliling. Labirin? Seingatku, saat Sasuke membawaku kesini 6 tahun lalu, labirin itu belum ada. Aku berjalan kesana. Dan kulihat seekor burung kenari berwarna kuning mengikutiku. Tenten dan Ino. Aku masuk ke labirin aku. Tumbuhan yang dugunakan untuk membuatnya adalah tumbuhan yang biasa digunakan untuk membuat labirin seperti ini. Tapi pertanyaanya? Untuk apa Uchiha membuatnya? Apa untuk menghabiskan uang mereka yang tak akan pernah habis bahkan untuk 7 turunan sekalipun.

Aku berkeliling, ada kamera cctv disana, disetiap tikungan, dan ada juga beberapa tikungan yang diberi 2 kamera. 1 kamera tersembunyi. Aku melihatnya, ada gundukan aneh di tembuhan pembuat labirin itu, Kamera tersembunyi, tak diragukan. Cukup effective. Tapi untuk apa?

End of Sakura's P.O.V

Sasuke keluar dari kantornya, dengan perasaan tak menentu dia segera menuju lift dan memencet tombol lantai 1. Setelah sampai, dia seperti orang gila, menoleh kesana kemari, karyawan yang memperhatikanya-pun ikut terkejut, mereka jarang atau bahkan belum pernah melihat boss-nya seperti orang sinting seperti itu. Dia berlari keluar kantor. Dia bertanya pada seorang tukang sapu.

"Kau melihat seorang wanita, berambut pink, cantik" tanyanya.

"Ya tuan, dia pergi menuju labirin" katanya. Sasuke segera berlari menuju labirin. Bertambah lagi karyawan yang bingung, seperti ada sinyal dikepala mereka untuk segera menjuju ke kantor keamanan. Mereka semua berlari berbondong-bondong pergi ke bagian keamanan dan melihat apa yang dilakukan boss mereka.

Sementara itu, Sasuke terus berlari menyusuri labirin itu, tentu tidak mudah menemukan orang didalam tempat seperti itu, terjebak dalam sautu tempat yang kau tidak tahu, apakah kau bisa kembali. Tapi dia menemukanya, dia menemukan Sakura. Dia sedang memandangi jalan buntu didepanya. Dia berbalik dan mata mereka bertemu. Dan saat itu juga, Sakura mengalihkan pandanganya.

"K…pa?". Sakura yang mendengar itu segera menatap Sasuke lagi. Sasuke sedang menundukkan menunggu Sasuke menyelesaikan kalimatnya.

"Kenapa?". Sakura masih diam. Jujur, dia tak begitu mengerti.

"Kenapa kamu mau pergi lagi?" Tanya Sasuke dengan sekali nafas direstai isakan yang cukup keras.

"…". Sakura tak menjawab. Sasuke menangis. Seingatnya, terakhir Sasuke menangis pada saat …., pensi. Akting. Tapi ini bukan acting. Sasuke benar-benar menangis.

"Kenapa…kenapa….". Sasuke jatuh seketika. Sakura tak tega melihatnya, dia juga ikut terisak, pelan. Dia menyentuh kerah bajunya. "Sparrow is taking on" katanya pelan. Dia sedang tidak bertugas yang akan dia lakukan?

Wahahahaha. Aku tahu, aku tahu ini aneh banget. Aku ngaku kok. Aku juga ketawa-ketawa waktu ngetik cerita ini. Tapi ya, sudahlah…

I am the author of my life and my story. Unfortunately, I am writing in pen and I can't erase my mistakes ©abbitobinpe –-

Chapter 3:

Kita tak akan berpisah lagi kan?

Aku hanya meminta hal ini pada Alfa yang sejati

Aku tak bisa menjaminya

Aku memberimu waktu 2 minggu, dengar itu!

Kau punya rumah sendiri?

Dengar! Aku menemukan pekerja yang aneh!

Jika perkiraanku benar, Uciha terlibat dalam hal ini

Satu kata: Tidak mungkin

Ini aneh! Sudah 3 bulan ini, keuangan Uchiha merosot karena hal yang tak kumengerti, seperti dicuri.

Labirin itu!

Jangan yakin dulu, kita butuh bukti yang lebih banyak

Aku mengajakmu ke pesta teh, ya mungkin agak membosankan

Ada Kakashi juga, wow!

Sparrow is taking off!