Hujan itu sama membunuhnya dengan salju, Lucy Heartfilia menyimpulkan.

Sama-sama berpedang panjang dan menusuk, sama-sama bersuara merdu yang menyumsum; mau berwujud padat atau cair, sama-sama menakutkan. Tatapan Lucy semakin nanar menyadari jejak cakra waktu yang tercatat selama dirinya berdiam diri di kedai kopi demi menaungi diri dari curahan hati dewi musim hujan―dua seperempat jam. Pelayan sudah bolak-balik mengisi ulang kopinya dan dirinya juga lelah bolak-balik ke toilet.

Lebih dari itu, hujan sangatlah menyenangkan.

Lucy seratus persen setuju. Hujan selalu membawa keberkahan―meresap ke dalam tanah dan membiarkan diri diisap habis oleh akar-akar kelaparan, menyejukkan hewan-hewan, dan memberikan ruang untuk meresapi waktu bagi manusia (hanya yang menyadarinya, seperti dirinya). Dan juga, hujan membuat jalanan bebas debu, hujan menyegarkan kesesakan psikis, merapatkan diri ke dalam kehangatan, dan―

"Selamat sore, Lucy."

―memberikan kesempatan emas mendapati cinta yang kaulipat diam-diam di lekukan terkecil sanubari datang menyapamu.

Lucy menelengkan kepalanya sedikit ke kanan, memberikan ruang sebanyak-banyaknya agar si penyapa melihat senyum lebar yang agak malu-malu.

"Selamat sore juga, Natsu. Aku senang melihatmu sudah kembali bugar setelah dirawat inap."

Pria berambut merah muda itu merapatkan bibir, membentuk senyum lemah namun lembut. Tangan besar yang terlihat begitu halus itu menuding halus ke arah kursi di hadapan Lucy, "Di luar hujannya luar biasa, bukan? Boleh aku ikut menikmati kopi bersamamu?"

"Ada apa pula denganmu, Tuan Dokter?" Lucy tertawa renyah, "Duduklah, duduklah," lambaian tangannya langsung dijawab pelayan.

"Tolong punyaku di-refill lagi―maaf sudah merepotkanmu… kau juga, Natsu, kau ingin apa?" Natsu mempercepat gerak-gerik melepaskan mantel bepergiannya.

"saja. Semua minuman Nona ini biar saya saja yang bayar nanti."

"Hei! Apa maumu?" Lucy mendesis cukup kencang setelah pelayan menjauh.

Natsu merapatkan satu tangan ke atas meja, "Ini belum semuanya. Aku harus berterima kasih kepadamu karena sudah repot mengurusiku selama aku dirawat inap. Aku benar-benar minta maaf telah menelatkan ucapan resmi ini. Aku harus melayani Juvia terlebih dahulu. Mengurusi seluruh pasienku―terlebih ibu-ibu hamil yang temperamentalnya sedang hebat-hebatnya―bukanlah urusan mudah."

"Aku mengerti. Tapi sebaiknya kau tidur saja di kamar apartemenmu atau pulang ke rumah orang tuamu, mumpung ada kesempatan bebas seperti ini―dari pada menemuiku. Urusan berterima kasih yang berlebihanmu itu bisa lain waktu, kok."

Natsu meremangkan senyum. Dia menarik napas kuat sembari mendongakkan kepala. Mata obsidian menerawang jauh ke dalam mata cokelat lembut.

"Tidak bisa, tidak bisa. Utangku harus segera lunas… agar aku bisa cepat-cepat pergi dengan tenang."

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

I KNOW

Chapter 2

[You know, I have reached my limit]

By Nnatsuki

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

Mata dan mata saling menjurus. Mata cokelat lembut berputar digandrungi sentimen segala rasa; bingung, khawatir, dan takut―beradu menjadi padu. Mata obsidian tetap tegap, tak menunjukkan suatu ciri khas yang biasa ditemukan di mata yang tengah mengibuli.

Lucy tersenyum memaksa, mengeluarkan suara menyerupai tawa, "Maaf? Aku pikir aku salah dengar, Natsu."

Natsu tersenyum tipis sekali, "Tidak, Lucy. Apa yang kaudengar persis seperti yang kukatakan, tak kurang sedikit pun."

Seketika pupil mata cokelat lembut itu mengecil, berguncang tak keruan seolah tengah dicengkram ketakutan.

"Natsu, jangan main-main! Apa maksud―?"

"Permisi." Suara halus si pelayan bertabrakan dengan suara pelan Lucy yang mendesis geram. Senyum ramah si pelayan yang mengantarkan pesanan mereka semua hanya dijawab oleh Natsu dengan terima kasih berbonus senyum kecil.

"Natsu! Jangan mengabaikanku!" Natsu melirik sesaat sahabatnya sebelum kembali melanjutkan menghabiskan jatah satu seruput. Mengelap bibir dengan tisu yang tersedia, baru kembali meladeni si rambut pirang yang mulai marah.

"Pergi―seperti yang tercantum di kamus―mengangkat kakimu bersama koper-kopermu dan menaiki pesawat."

"Natsu, aku serius."

"Aku juga serius, Lucy."

Hening meradang. Mata cokelat lembut tak pandang bulu menghujani mata obsidian dengan sorotan tajam. Mata obsidian sama sekali tidak meminta ampun. Tetap tenang, tetap damai, ditambah sebuah hiasan senyum tipis.

"Lucy, aku benar-benar serius mengatakannya," ujar Natsu mengulangi klarifikasinya.

"Jadi apa artinya? Tidak ada ceritanya seorang dokter dipecat hanya karena diopname, Natsu! Dokter juga tidak akan di-PHK!"

"Pendidikan, apa lagi? Jerman punya universitas yang luar biasa. Aku harus belajar lebih banyak lagi."

"Paman Igneel dan Bibi Grandine tidak akan mengizinkanmu. Mereka tidak akan membiarkan putra mereka satu-satunya pergi ke luar negeri hanya untuk melanjutkan studi, kau tahu itu."

"Harus, harus setuju. Mereka harus mendukung keinginan putra mereka yang tidak bahagia."

"Apa!? Apa maksudmu tadi!?" Lucy menjilat bibir dengan gerakan tidak puas, "Apa yang tidak membuatmu bahagia? Kau, kau tidak sedang dilanda masalah apa-apa! Kenapa kau harus pergi!?"

Suara Lucy tidaklah meninggi, tapi emosi sebal dan paniknya tetap melambung dalam takaran tinggi. Natsu menarik dirinya mendekat ke meja, menegakkan punggung.

"Masalahnya bukan di situ. Memang bukan pekerjaan, apalagi pendidikan," Natsu menutup matanya sesaat, "Baik, aku akan mengaku. Aku pergi untuk melarikan diri."

"Melarikan diri dari apa?"

"Bayi."

"Huh!?" Lucy terperajat hingga punggungnya membentur punggung kursi. Wajahnya sesak dengan emosi, "Kau―kau menghamili siapa!?"

Bukannya merasa bersalah atau apa, Natsu malah terkekeh riang, "Inilah salah satu yang kusuka darimu. Reaksimu bukan main lucunya."

"Kau, kau masih punya waktu luang untuk tertawa di saat seperti ini―yang benar saja!" Lucy menebas udara di depan wajahnya dengan kuat, geram bukan main.

Natsu menelan habis kekehannya dengan satu teguk kopi dan kembali mengelap sisanya dengan tisu. Mata yang sewarna dengan dirgantara malam yang berbenih gemintang itu merasuk ke mata cokelat lembut, memandang dengan penuh kehangatan.

Dengan suaranya yang dalam, Natsu bicara dengan lembut, "Pembentukan manusia itu rumit. Persatuan dari dua sel adalah awalnya; lalu gabungan sel itu membelah menjadi dua, empat, delapan, enam belas, tiga puluh dua, empat puluh empat…. Dua buah sel yang menyatu itu berkembang menjadi deretan jaringan, gumpalan darah, dan ongokan organ. Semua itu butuh waktu sampai sembilan bulan sepuluh hari―lama sekali. Belum lagi proses kelahirannya, sang ibu harus mengantung nyawanya selama proses tersebut. Tidak ada ibu yang tidak menjerit selama bersalin―sakit sekali. Kau tahu itu, bukan, Lucy?"

"Tentu, tentu. Aku masih ingat dengan pelajaran SMA―ya, lalu, apa artinya dengan pelarianmu itu?"

"Artinya, aku tidak sudi membantu kelahiran bayimu dengan Gray."

Mata cokelat lembut membulat, memucat, dan kewalahan. Mulut terbuka lebar, tercolong kata-kata sekaligus tersedak dengan pernyataan tersebut.

"Apa… apa maksudmu?" wajah jelita si rambut pirang memucat pasi. Kedua mata bergetar takut.

Natsu terhenyak, melemparkan napas pelan namun kasar, "Kaumenyadarinya, Lucy."

"Aku bersumpah aku belum pernah melakukan hal itu pada siapapun!"

"Hm? Apa mataku ini kausebut sudah minus? Aku ada di sana―seminggu yang lalu. Aku datang ke apartemen Gray. Kautahu Gray, dia suka lupa mengunci pintu. Aku langsung masuk saja karena aku yakin dia ada di rumah. Ada sepatumu dan sepatu Gray, tapi kalian tidak ada di ruang tamu maupun ruang TV. Dan aku menyesal sempat mengintip pintu kamar Gray."

Wajah Natsu yang tetap tenang, berbanding terbalik wajah nyaris pingsan Lucy. Lucy berkata, tersendat-sendat dan bergetar, "Percayalah… kami memang nyaris melakukan itu. Tapi ingat, nyaris. Aku menghentikannya sebelum semuanya jadi kacau. Aku bersumpah sampai saat ini aku masih belum tersentuh! Kumohon, percayalah!"

Wajah Lucy memelas. Matanya sudah berkaca-kaca. Mimik yang dipahat wanita muda ini bukan mimik memohon untuk tidak mengumbarkan isu dirinya nyaris melakukan hubungan pranikah, melainkan mimik untuk menyakinkan bahwa dirinya seratus persen masih perawan.

Natsu tersenyum, lebih tipis dari sebelumnya, "Walaupun begitu, aku tetaplah harus pergi, Lucy."

"Untuk apa!? Hanya karena kau tidak suka kami hampir melakukan hubungan terlarang!? Aku berjanji tidak akan membiarkan Gray melakukan itu lagi, tentu saja!" tangan kiri Natsu dicengkeram kuat-kuat.

"Kumohon…" cicitan itu begitu lemas, "jangan pergi… apapun alasannya, jangan tinggalkan aku…."

Pendar di mata obsidian mengabur. Pendarnya seolah diisap lubang kesedihan tak kasat rasa, "Buat apa kau masih menginginkanku di sisimu? Kaupunya Gray, bukan? Kaumencintai Gray, bukan? Aku tak menginginkan kepedihan ini terus berlanjut, Lucy. Tujuh tahun sudah cukup, sudah cukup melelahkan. Aku lelah harus terus mengalah dari Gray. Aku capek jika harus disiksa terus―melihatmu tersenyum bahagia di pelukan Gray, melihatmu tertawa setiap pelakuan intim dari Gray. Aku gerah melihatnya setiap aktu selama tujuh tahun terus-menerus."

Suara bariton itu terhenti sesaat, menarik napas, dan kembali melanjutkan dengan irama penuh ironi.

"Aku sangat yakin aku benar-benar akan terkena serangan jantung dan mati terkapar jika harus menghadiri pernikahan kalian. Aku muak. Gray terus yang bahagia. Kapan aku bisa bahagia? Gray mendapatkanmu, aku membiarkannya demi dia. Kini dia ingin yang lebih lagi, menculik keperawananmu di depan mataku? Hebat!" suara tawa menggetarkan leher si rambut merah muda, sekaligus menjungkirkan lelehan air mata ke bawah dagu.

"Tunggu! Apa maksudmu kaumembiarkan Gray mendapatkanku!? Natsu, jelaskan!"

Natsu menggelengkan kepalanya, tak menghendaki memberikan penjelasan. Jejak aliran air mata masih membekas meski likuid tak berwarna itu telah dihapus. Tangan besar menangkap tangan mungil yang mencengkeram kemeja putihnya, menyatukannya dengan pasangannya.

"Aku sudah mencapai batasku." Tangan mungil yang ditangkup kuat oleh kedua tangan besarnya diremas, dipoles dengan kelembutan yang penuh kehati-hatian. Senyum lemah lagi-lagi terukir, "Jangan menangis, Lucy."

Lucy menggeleng kasar, membuat tumpukan air mata yang setengah jalan melunjuri pipinya berhamburan, "Kenapa pula kau mesti pergi? Jangan tinggalkan aku…."

"Gray sudah cukup, 'kan…? Biarkan, biarkan aku pergi, Lucy. Tolong."

"Aku tak mengerti ini. Kau sama sekali tak perlu angkat kaki kemanapun…."

"Kau memang tak diinginkan untuk mengerti oleh Gray."

"Kalau begitu, aku akan minta Gray untuk memperbaiki semuanya! Asal kau tidak pergi!"

"Mustahil, Lucy. Kalau kau benar-benar menginginkan kehadiranku di masa depanmu, pilihlah."

Lucy terperangah merasakan sesuatu yang begitu kecil dan dingin memasuki wilayah pautan tangannya. Belum sempat dirinya mengintip untuk mengetahui wujud asli benda tersebut, Natsu kembali menutup ikatan kedua tangannya.

Tangan Natsu memangkuk dagu mungil Lucy, meminta dengan halus untuk kembali bertatapan. Berbeda warna, namun sama-sama dalam kondisi mengenaskan. Mata cokelat lembut masih diputari emosi ketakutan yang berkecamuk dengan gila. Mata obsidian hampa, terlihat lelah dengan segalanya. Namun ada satu pentar yang tak bisa menipu Lucy yang sudah membaca ratusan kisah romantis. Pendar itu terselubung di dalam lipatan berlapis, tak akan terjamah dengan mudah. Namun kekuatan yang tersimpan di dalamnya tak tertandingi. Bereaksi pasif dalam kehidupan nyata, namun begitu dahsyat di dalam bidang imajiner―sekonyong-konyongnya memanaskan seluruh peredaran darah Lucy.

"Aku begitu memujamu, Lucy," begitu lirih suara bariton tersebut, "Sangat, sangat memujamu. Aku hanya bisa menyaksikanmu dari jarak jauh. Setidaknya sebelum aku pergi, aku ingin kau tahu keberadaan dirimu di mataku yang sesungguhnya. Aku menginginkan lebih dari sekedar sahabat, apalagi kekasih."

Tautan tangan Lucy dilepaskan, ditepuk pelan untuk terakhir kalinya. Sejumlah uang kertas diletakkan di meja. Si rambut merah muda mengenakan kembali mantelnya dengan tergesa sebelum bergegas pergi.

Lucy terdiam, tak berkata-kata. Air mata beramai-ramai menghujani sebuah cincin berapit permata mungil yang keindahannya menggelora.

"Jadi, selama ini cintaku terbalaskan…?"

~To Be Continued~


YAK BATAL SUDAH USAHA SAYA UNTUK BELAJAR BUAT SBMPTN, MAK! #menggelepar

Mueh... padahal saya niatnya post chappy 2-nya sebelum UAS, tapi MS Word malah pake acara ngambek, kan kampret... X"))

Untuk chappy ini, yang bikin baper adalah lagu dari Exile, Lovers Again~ Huhu, saya nggak tahu apa artinya tapi tetep aja jadi bikin tambah maso ngetik chappy ini yang rada tersendat~

Soo, udah jelas kenapa Abang Natsu tetiba ngelamar Neng Lucy /o/ Uh, masih dua chappy lagi sampai Juvia muncul (kalau tidak ada perubahan...). Saya sukaaa banget karakter Juvia di sini:") Bukan apa-apa, coz Juvia MASONYA MAKSIMAL! #BaperisLiveMasoisLove

Terima kasih atas review-nya~ Kalian benar-benar bikin saya terharu:"))

Bagaimana dengan yang ini? Silakan keluh kesahnya dilempar ke kotak review~

Salam maso tingkat tinggi,

Nnatsuki