"Teme... Kau tidak minta maaf pada Sakura-chan?"
"Naruto, itu salahnya sendiri karena sudah menggangguku, dan siapa yang menyuruhnya untuk menyukaiku."
"...karena limapuluh persen dari hatiku pun sudah terlalu sakit, aku terus-terusan menyukainya.. Tetapi ia juga terus-terusan membuatku menangis, membuat dadaku sesak dengan tindakannya.. Dia sudah dua kali lebih ingin membunuhku dengan tangannya sendiri.. Shisou.. Aku bingung.. Aku harus bagaimana.."
"... Bicaralah Sakura-chan.."
"...ta, tapi... Ketika kau sudah membawanya pulang, aku sama sekali tidak merasakan apapun.. Malah aku berpikir kalau Sasuke-kun tidak usah pulang saja.. Aku memang aneh..."
.
.
...
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Warning! : Semi-Canon! Typos(maybe), sedikit OOC (Apalagi Sasuke) dan kekurangan lainnya (membosankan, kepanjangan, abal, tidak jelas).
Genre: Hurt/Comfort, little Romance, little Friendship
Pair: SasuSaku
...
.
.
Jam 5 sore..
Berkali-kali seorang pria berambut raven-yang kita ketahui adalah Sasuke- mendengus kecil. Ia menyenderkan punggungnya pada gerbang Konoha yang terbuka luas. Angin sepoi-sepoi pun tak henti-hentinya menerbangkan helaian rambutnya di udara, terkadang jubah hitamnya pun terlihat berayun kecil seirama dengan arah angin.
"Uh.. lamanya," gerutunya pelan tanpa mengubah posisinya. Matanya tertutup menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
"Gomen ne, Uchiha-san. Tadi aku harus mengobati beberapa orang yang terluka sebelum ke sini." terdengar suara Sakura yang menyeruak masuk ke dalam gendang telinga Sasuke.
Sasuke membuka matanya, di onyxnya terpantul sesosok kunoichi cantik berambut soft pink pendek. Wajah Kunoichi itu terlihat datar tanpa ada sedikitpun rasa bersalah karena membuat Sasuke membuang waktu agak lama untuk menunggunya.
"Hn," sahut Sasuke. Dia tidak protes, atau lebih tepatnya tidak bisa. Toh dia tahu tugas seorang ninja medis adalah mengobati orang banyak. Dan dia tidak berhak marah ataupun mengeluh atas keterlambatan Sakura.
Sebab Sakura yang sekarang bukan lagi Sakura empat tahun yang lalu. Kini ia menjadi seorang ninja medis yang sangat dibutuhkan di desa.
"Ayo," ucap Sasuke sambil melangkahkan kakinya ke luar gerbang, memunggungi Sakura yang masih berdiri di tempatnya. Wajah Sakura terlihat sedikit frustasi, dadanya masih terasa bergemuruh tidak jelas ketika berada di dekat Sasuke. Ia sendiri bingung, apakah dadanya itu berdebar-debar ataukah nyut-nyutan... hem.. Atau bahkan kedua-duanya.
Sakura menggelengkan kepalanya, mencoba menepis perasaannya. Ini demi misi. Seorang shinobi harus bersikap profesional.
A ninja never allows their emotions to get in to the mission.
Sakura pun melangkahkan kakinya mengekori Sasuke yang sudah jauh di depannya.
Misi yang ditugaskan pada Sasuke dan Sakura hanya mengambil beberapa tangkai bunga herbal di puncak gunung Tertinggi. Tapi tidak semudah kedengarannya, jalan menuju puncak gunung itu sangat berbahaya dan sulit untuk dilewati. Dan kabarnya di daerah itu menjadi markas bandit-bandit jahat yang kuat. Wuw, misi tingkat D.
.
.
Agak jauh dari gerbang, tepatnya di atas atap bangunan yang tinggi nampak seorang Uzumaki Naruto berkutat dengan teropong di depan sepasang bola mata safirnya.
"Sakura-chan.. Kau benar-benar berubah..." gumam Naruto. Ia menurunkan teropong yang sedari tadi menjadi medianya untuk menguntit Sasuke dan Sakura.
"Haa~h.. Kau tidak akan mengerti bagaimana perasaannya, Naruto." sahut Shizune yang juga turut serta berada di sana.
"Tentu saja aku mengerti! Makanya aku menyusun rencana seperti ini!"
Ah, ternyata Naruto memang sengaja tidak ikut serta dalam misi ini. Ada udang di balik batu...
"Geez... Rencanamu ini terlalu simpel! Kau kira dengan ketiadaanmu dalam misi kali ini Sakura dan Sasuke akan baikan? Teori dari mana itu," protes Tsunade yang juga ada di sana. Kedua tangannya bertolak pinggang, matanya menatap sinis pada Naruto.
Naruto mengerucutkan bibirnya tidak suka, "Ck, nenek berisik! Dengan ketiadaanku di misi kali ini mereka berdua bisa berbicara dengan bebas dan segera baikan! Lagipula dulu Sakura-chan selalu berharap bisa menjalankan misi berdua dengan Sasuke, supaya dia bisa lebih dekat dengan si teme itu! tentu saja rencanaku ini akan berhasil!" optimis Naruto.
Tsunade menghela napas panjang, "Asumsimu itu nol besar! Kau pikir dengan ketiadaanmu di misi kali ini membuat mereka berinteraksi lebih nyaman? Mana mungkin. Sakura yang sekarang bukan Sakura yang dulu. Dia sudah terlalu sakit hati pada si bungsu Uchiha itu. Tentu saja ia canggung untuk berinteraksi langsung dengan orang yang sudah menyakitinya!"
Naruto terdiam. Benar juga apa yang diucapkan Tsunade, dia tidak berpikir sampai sana. "Tapi! Siapa yang tahu isi hati Sakura-chan sekarang! Nenek tidak usah berargumen macam-macam deh, mungkin saja Sakura-chan akan mengubah hatinya seperti dahulu lagi,"
Tsunade mendengus pasrah. Memang repot berdebat dengan bocah berambut emas ini. Tidak akan ada habisnya, "Ya, sesukamu lah." Naruto langsung nyengir kuda melihat Tsunade yang kalah berdebat dengannya. Dia merasa lebih pintar.
"Eits, kau harus menjalankan misi pula! Enak saja kau bersantai-santai tanpa misi!" Tsunade berujar sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ya, ya, ya.. Asalkan yang tingkat B ke atas tidak masalah."
"TIDAK BISA! Keadaanmu belum pulih sempurna dari pertarunganmu melawan Madara! Cakramu masih sedikit terganggu! Begitupula dengan Sasuke! Makanya kalian hanya menjalankan misi tingkat D!" Jelas Tsunade berserta suaranya yang meninggi, sementara Naruto hanya menunduk lesu.
.
o.O.o
.
Tap
Tap
Tap
Hanya suara derap langkah kaki yang saling bersahutan terdengar di gendang telinga. Tak seorangpun dari Sasuke dan Sakura yang membuka mulut untuk sekedar menggerakkan pita suara.
Sakura mencermati punggung Sasuke yang berjalan jauh lima meter di depannya. Punggung tegap dan lebar itu selalu berjalan di depannya, baik dulu maupun sekarang. Dulu dia sangat menggilai punggung itu, menatap punggungnya saja membuat perasaannya menjadi nyaman, seolah si pemilik punggung selalu melindunginya dari segala mara bahaya yang akan menghampirinya.
Tapi itu dulu…
Seorang anak lelaki yang sangat disukainya dan dianggapnya sebagai pahlawan yang akan selalu melindunginya, kini sudah berubah menjadi sesosok lelaki dingin yang hampir mengambil nyawanya..
DEG!
Sakura meremas jubah di bagian dadanya. Rasa sakit itu menimpa hatinya lagi. Sesosok lelaki yang dia kira akan melindunginya itu malah ingin membunuhnya. Membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri…
"Ada apa?"
Sakura tersentak ketika mendengar suara Sasuke yang memecah lamunannya. Sakura sendiri malah tidak sadar saat ia menghentikan langkahnya dan meremas jubahnya sambil memejamkan mata, wajahnya frustasi.
"A, ah, tidak apa-apa.. Kita lanjutkan perjalanan," Sakura melangkah cepat ke depan. Ia berjalan mendahului Sasuke yang masih melihat ke arahnya. Sekarang giliran Sasuke yang berjalan di belakang Sakura, sehingga dia bisa melihat punggung kecil namun tegap milik gadis itu. Entah apa yang ada di pikiran sang Uchiha itu saat ini.
'Kumohon, berhentilah terasa sakit!' jerit Sakura di dalam hati seraya memegangi dadanya. Ia menggigit bagian bawah bibirnya, menahan segala macam gejolak di dadanya.
.
Nampak dua sosok lelaki di balik semak-semak sedang memperhatikan gerak-gerik Sasuke dan Sakura yang sudah berjalan jauh dari hadapan mereka.
"Wah-wah bos.. Ada 'tamu' yang memasuki daerah kita tanpa permisi nih," ucap seorang bandit yang tampak menyeramkan pada seorang lelaki yang agak tua dengan penampilan yang sangat mengerikan. Tindik di sana sini, kepala yang tidak ada rambutnya, mata tajam yang menyeramkan, badan besar dan berotot
Lelaki tua yang sepertinya bos bandit itu menyeringai licik lalu tertawa kencang, "Ayo kita beri mereka pelajaran nanti,"
o.O.o
Warna biru di langit sudah berubah menjadi jingga, burung-burung pun terlihat berbondong-bondong terbang menuju rumah mereka. Mataharipun terlihat pergi untuk beristirahat setelah seharian bekerja menyinari bumi. Dan… inilah resikonya kalau pergi menjalankan misi pada sore hari. Padahal mereka baru berjalan selama satu jam. Dan selama satu jam pula tidak ada yang angkat bicara.
Tiba-tiba saja Sasuke mengaktifkan sharingannya sedangkan Sakura yang berada lima meter di depan Sasuke langsung menghentikan langkahnya.
"wii~w, ada gadis manis nih," tiba-tiba muncullah si bos bandit dengan tujuh orang bawahannya di hadapan sakura. Sepertinya si Bos bandit ini menguasai beberapa jurus ninja, terlihat dari pergerakan cakranya lewat sharingan milik Sasuke.
Sakura menatap sinis pada bos bandit yang barusan menggodanya, "Mau apa kalian?" tanya Sakura kesal.
Sementara itu, Sasuke terlihat menonaktifkan sharingannya. Pasalnya dia tidak bisa berlama-lama menggunakan sharingan dengan kondisi matanya yang belum pulih sempurna. Apabila dia nekat menggunakan sharingan lama-lama, kebutaanlah yang ia dapat. Sasuke meraih Kusanagi-nya dan membuat kuda-kuda untuk menebas habis para bandit itu apabila berani macam-macam.
"kira-kira mau apa,yaaa…?" Bos bandit itu mendekat pada Sakura lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Sakura.
Plak.
Sakura langsung menepis tangan yang akan menyentuh wajahnya itu dengan keras dan kasar.
"Jangan menyentuh wajahku," ucap Sakura dingin, disertai tatapan tajamnya yang sinis.
Bos bandit itu tertawa mengejek lalu pura-pura meringis, "aduduuh.. Tanganku sakit sekali~" ucapnya dengan wajah yang benar-benar mengesalkan sementara anak buahnya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Pergi dari hadapanku," geram Sakura sambil mengalirkan cakra ke kaki kanannya.
"HAHAHA!" Bos bandit berserta anak buahnya itu langsung tertawa sebelum mengeluarkan berbagai senjata mereka, " Jangan bercanda, ya! Cepat berikan uangmu atau kau dan juga temanmu itu kami kirim ke neraka!"
BUK!
"Waaaa!" para bandit itu langsung berteriak kaget plus histeris ketika tanah yang menjadi pijakan mereka untuk berdiri, tiba-tiba retak karena hentakan dari kaki Sakura.
Sasuke -yang sedang berdiri di dahan pohon- terlihat sedikit kaget. Ini baru pertama kali baginya melihat perkembangan Sakura dari empat tahun yang lalu. Aksi Sasuke untuk menebas habis para bandit itu tertunda, padahal dia sudah melompat. Ckckck..
Para bandit yang kehilangan keseimbangannya itu langsung berdiri, lalu mengambil ancang-ancang untuk menyerang Sakura dengan berbagai senjata milik mereka. Sakura hanya diam dengan ekspresi datar, tidak ada rasa ketakutan sedikit pun yang terpancar di parasnya. Saat para bandit itu sudah di depannya Sakura menyeringai lalu memulai aksinya untuk menyerang para bandit itu satu persatu.
Gerakan Sakura sangat lincah, kakinya menendang tangannya meninju. Menghindar lalu menyerang lagi. Sampai para bandit termasuk bosnya itu kewalahan menghadapi Sakura. Mereka terkapar lemas dengan wajah yang babak belur.
"Fuu~h," Sakura menarik napasnya pelan lalu menepuk-nepukkan telapak tangannya, "Cukup mudah.." gumamnya.
"Brengsek..." gerutu salah satu bandit sebelum melemparkan kunai dengan sangat cepat ke arah Sakura yang tengah membelakanginya. Sangking cepatnya Sakura tidak bisa menghindar, bahkan menyadari kunai itu saja tidak.
TRING!
Kunai yang sedetik lagi akan mengenai Sakura itu langsung ditepis oleh Kusanagi milik Sasuke. Karena sebelumnya Sasuke secepat kilat melompat ke depan Sakura dan langsung melindungnya.
"Hn, akhirnya aku beraksi juga,"
Sakura tertegun, di emeraldnya terpantul sosok Sasuke yang tengah berdiri di hadapannya. Kenangan-kenangan masa lalu saat dilindungi oleh sosok itu terlintas lagi di otaknya.
Deg deg! deg deg!
Sakura memegangi dadanya. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdebar kencang. Wajahnya terasa memanas.
Oh… perasaan apalagi ini?
"Huh, kau hanya memberikanku kesempatan kecil begini untuk beraksi," protes Sasuke lalu memasukan lagi pedang ke dalam sarungnya. Matanya beralih ke arah tumpukan tubuh para bandit yang sudah sekarat semua itu. Dan matanya pun beralih lagi, melirik Sakura yang tengah memegangi dadanya.
'Kau jadi kuat….' seutas senyum tipis tergambar di wajah tampannya. Teman setimnya yang dianggapnya paling lemah dan bisanya hanya menangis dan dilindungi kini berubah menjadi sesosok Kunoichi yang hebat dan mampu melindungi diri sendiri.
.
.
.
o.O.o
.
.
Beribu bintang bertabur indah, menghiasi langit bersama sang rembulan yang tinggal setengah. Jumlahnya yang begitu banyak membuat langit malam yang gelap menjadi bercahaya kelap-kelip. Mendongakkan kepala dan kita langsung disuguhi kuasa tuhan yang begitu menakjubkan. Apalagi kalau memandanginya langsung dari atas puncak gunung tertinggi ini.
"Indahnyaaaa," Sakura merentangkan tangannya lalu menghirup udara malam yang sedikit dingin, ia pun kembali mendongakkan kepalanya, meneliti sumber cahaya keperakan malam ini. Yah, setidaknya dia bisa melupakan rasa sesak di dadanya barang sejenak.
Sasuke pun terlihat menikmati pemandangan yang tersuguhkan tanpa mengeluarkan biaya itu. Wajahnya tetap datar. Onyxnya beralih meneliti landscape dari atas puncak gunung tertinggi ini. Dari atas sini dia dapat melihat gunung-gunung yang berjejer rapi, danau-danau yang permukaan airnya memantulkan cahaya rembulan dan langit malam.
"Ah iya, herbal!" Sakura mengalihkan pandangannya dari langit lalu berlari kecil ke arah sebuah pohon besar, mengambil beberapa tangkai bunga herbal yang tumbuh di bawahnya. Sasuke terlihat melirik Sakura sebentar lalu mendongakan kepalanya. Wajahnya tiba-tiba berubah sedikit sayu.
'Niisan... Kau melihatku dari atas sana? Sekarang aku akan menjadi orang baik lagi, kau senang...?'
"Misi hampir selesai, tinggal membawa tanaman herbal ini ke Konoha," Sakura berujar pelan sambil melangkahkan kakinya ke arah Sasuke. Ditangannya terdapat sekantong plastik penuh tanaman herbal.
Setelah memberi jarak beberapa meter, Sakura menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Sasuke mengerlingkan matanya ke arah Sakura, dan setelahnya ia pun menghempaskan tubuhnya.
Keduanya menadahkan kepala, kembali menekuni langit malam yang indah. Hening, hanya terdengar suara deru angin malam yang bertiup menusuk tulang belakang. Untungnya Sasuke dan Sakura mengenakan jubah, jadi mereka terhindar dari rasa dingin –sedikit sih-.
Sakura menggerlingkan matanya, menatap Sasuke yang masih menadahkan kepala. Lagi-lagi perasaan aneh menimpa dada Sakura. Perasaan itu tetap terasa, walaupun dia sudah mencoba menghilangkan perasaan aneh itu kuat-kuat.
Sakura menurunkan pandangannya, melirik tangan kekar milik Sasuke,
"Tangan itu mencekikku.." Sakura begumam dengan sangat pelan, tangan mungilnya memegangi leher jenjang miliknya yang sebagian tertutupi jubah.
Sasuke –yang sepertinya mendengar- memutar matanya, memandangi Sakura-yang masih memegangi lehernya- dengan ekspresi datar. Sedangkan Sakura yang hanya fokus pada tangan Sasuke tidak menyadari bahwa si empunya tangan sedang menatapnya.
"Kau kenapa?"
Sakura tersentak lalu secepat kilat menurunkan tangannya, "Ah, eng.. maafkan aku, Uchiha-san. Bisa kau ulangi perkataanmu barusan? Aku tidak begitu mendengarnya…" ucap Sakura yang sebelumnya gelagapan.
Sasuke mendelik tajam ke arah emerald Sakura, sementara yang di delik hanya memasang wajah datar tanpa ada rasa takut, risih dan marah di delik seperti itu.
"Bisakah kau berhenti memanggil ku seperti itu?"
Oh..
"Memangnya kenapa dengan panggilan seperti itu, Uchiha-san? Bukankah itu namamu?" jawab Sakura sambil tersenyum hambar.
Sasuke semakin menatap dingin dan tajam ke emerald Sakura. Dia tidak suka. Dia benci dipanggil seperti itu. Terasa seperti orang asing..
…memangnya siapa dia?
Sasuke diam Sakura pun diam. Hanya permainan bola mata yang saling mengintimidasi. Lama-kelamaan emerald Sakura pun menatap dingin pada sepasang onyx Sasuke, "…Kurasa tak bisa…. lagi," jawab Sakura -yang memberikan penekanan di kata lagi- setelah beberapa saat perang 'diam' dengan Sasuke-.
"Sebenarnya kau ini kenapa?"
"…kenapa apanya?"
"Semenjak aku kembali ke desa, sepertinya kelakuanmu berubah. Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Dada Sakura terasa sesak mendadak. Pertanyaan macam apa yang diajukan Sasuke ini? Apa yang sebenarnya Sakura inginkan? Bukankah keinginannya selama ini, pulangnya Uchiha Sasuke ke Konoha? Ehm, tapi kenapa saat Sasuke sudah kembali dia malah merasa tidak senang, ah bukan.. tepatnya dia merasa perasaannya tiba-tiba jadi kacau? Ah… perasaan aneh yang menyebalkan.
"Khhh... Aku tidak tahu, jangan tanyakan itu." gumam Sakura sambil memegangi pelipisnya yang terasa sakit ; sementara Sasuke hanya memandanginya dengan wajah datar. Dan kita tidak tahu apa yang sedang Sasuke pikirkan di balik ekspresi datarnya itu.
.
o.O.o
.
...
Malam semakin larut, mungkin jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Suara nyanyian burung hantu pun seolah menjadi musik pengiring perjalanan Sakura dan Sasuke kembali ke desa. Mereka berjalan dengan mata yang sudah sangat mengantuk. Tapi tidak seorang pun dari mereka berdua yang hendak mengeluarkan suara dan berinisiatif untuk beristirahat. Mempertahankan ego dan gengsi masing-masing.
"Tidak ngantuk… tidak ngantuk…" gumam Sakura di dalam hatinya. Menguatkan matanya untuk tetap terjaga, tapi pandangan matanya mulai mengabur. Mungkin ia akan jatuh tertidur beberapa saat lagi.
TAKK!
"Kyaaa!" jeritan Sakura yang tiba-tiba terdengar membuat Sasuke tersentak kaget lalu langsung membalikan tubuhnya.
Sakura terperangkap di dalam sebuah sangkar besi yang cukup besar. Mungkin gara-gara mengantuk, ia tidak fokus terhadap jalanan -yang memang gelap- dan dengan mudah terperangkap di sana.
"Cih, Tunggu sebentar." Sasuke langsung meraih kusanaginya lalu mengayunkan pedang itu untuk menghancurkan sangkar tersebut.
Bzzzzttttt!
"ARG!"
"Sas-eh, Uchiha-San!" teriak Sakura yang histeris melihat Sasuke sedang terkulai lemas di samping sangkarnya.
Ternyata sangkar itu bisa menghasilkan listrik bertegangan tinggi yang akan menyengat orang yang menyentuh ataupun memukul sangkar itu dari luar. Untungnya, orang yang ada di dalamnya tidak ikut tersengat.
"Ukh, sialan! Melawanku dengan listrik!" gerutu Sasuke kesal. Dan ia pun mengaktifkan Sharingannya untuk membuat Chidori, tapi nihil chakranya seolah tersumbat. Bahkan mengaktifkan sharingannya saja tidak bisa.
"A, apa-apaan ini!"
"Hahahahaha, Kau tahu? Kalau sudah tersengat oleh listrik dari sangkar itu, Chakramu akan kacau balau! Sel-sel di dalam tubuhmu tidak akan bisa menghasilkan cakra!" tiba-tiba muncullah si bos bandit yang tadi sore mereka kalahkan. Kalau tadi sore dia hanya dengan tujuh orang anak buahnya, sekarang dia bersama lima puluh enam anak buahnya. Hemm.. sepertinya dia mengadakan acara balas dendam.
"Dan kau tahu apa artinya? Artinya kau tidak bisa menggunakan jurus apapun! Wahahahahaha!" sambungnya lagi.
Sasuke berdecak kesal lalu mengambil Kusanaginya dari sarung. Tak masalah baginya walaupun tidak menggunakan jurus ninja melawan mereka, toh mereka hanya bandit-bandit biasa walaupun jumlahnya lumayan banyak.
"Serang dia!" seru bos bandit. Dan dalam seketika para anak buahnya yang berjumlah limapuluhan itu langsung berbondong-bondong menyerang Sasuke. Kemampuan taijutsu bandit-bandit itu lumayan hebat. Dan itu membuat Sasuke sedikit kewalahan, apalagi para bandit itu juga menggunakan senjata-senjata tajam untuk menyerangnya.
Sasuke mengayunkan pedangnya berkali-kali, menjatuhkan para bandit itu satu persatu. Terlihat seperti seorang samurai tampan yang kuat.
"Hehehe, halooo..."
Sakura langsung memutar tubuhnya, ternyata si bos bandit sekarang ini sudah ada di samping sangkarnya. Sakura langsung menatap sinis dan tajam ke arahnya. "KAU! Cepat keluarkan aku dari sini!" seru Sakura.
Bos bandit terkekeh, "Sebagai hukuman buatmu karena sudah berani mempermalukanku tadi sore, aku akan melakukan sesuatu nanti,"
"Apa maumu hah!" seru Sakura lagi. Dan dengan tangkas ia langsung menendang sangkar besi yang mengurungnya itu dari dalam.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Sakura berteriak histeris. Listrik yang tegangannya lebih besar, menyengat sekujur tubuhnya. Sementara bos bandit yang melihat itu langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Sasuke dengan refleks menjeda aksinya dan langsung memutar tubuhnya, "SAKURA!" teriaknya pada Sakura yang berpuluh-puluh meter dari hadapannya. Sakura terlihat meringkuk di dalam sangkar dengan wajah menahan rasa sakit.
"Brengsek!" Sasuke langsung melangkahkan kakinya, hendak menuju ke arah Sakura untuk menolong gadis itu, tetapi karena dia tidak fokus ataupun lupa masih dalam keadaan bertarung, ia terkena sayatan pedang salah satu bandit yang masih tersisa.
Sasuke meringis sedikit, "Tunggu sebentar Sakura!" Sasuke pun kembali menghabisi para bandit itu satu persatu.
"Ukh… listrik tadi membuat cakraku kacau balau dan menghisapnya.." gerutu Sakura lalu mengalihkan matanya menatap Sasuke yang masih bertarung dengan berpuluh-puluh bandit itu. Mata Sakura mulai menyipit kesadarannya menipis..
"Sasuke-kun."
.
.
.
"Hah...hah..." Napas Sasuke terdengar ngos-ngosan, di sekitarnya 'terdampar' seluruh bandit yang tidak sadarkan diri, "Dan sisanya hanya kau..." ucap Sasuke yang sudah berdiri di beberapa puluh meter dari si bos bandit, memandangnya dengan mata yang berkilat marah.
Perlahan ia berjalan semakin mendekati bos bandit yang berpura-pura gemetaran. Semakin Sasuke berjalan mendekat, si bos bandit semakin menyeringai licik.
Sasuke dengan secepat kilat langsung mengayunkan kusanaginya pada si bos bandit. Tapi seketika gerakannya berhenti mendadak karena tiba-tiba saja Sakura sudah berada di dekapan bos bandit, berperan sebagai tameng sekaligus sandera.
"Aa.." rintih Sakura yang sedang dicekik bos bandit dari belakang. Tubuhnya sudah sangat lemas.
Sekarang ia menjadi sandera.
"Cih! Dasar bandit sialan!"
"Hehehehe, ayo serang aku.. Serang akuuuu..." suruh si bos bandit sambil mendekat-dekatkan kunai ke leher Sakura; sedangkan Sakura hanya menutup matanya, pasrah akan semua hal yang akan terjadi setelah ini.
"U, uchiha-san.. Kau pergi saja... Kantong tumbuhan herbalnya aku lempar di dekat sangkar.. Misi harus diselesaikan." gumam Sakura yang masih menutup kedua matanya.
"Berisik! Kalau masih ingin hidup tutup mulutmu!" seru si bos bandit tepat di depan telinga Sakura, sementara Sasuke hanya menatap si bos tajam-tajam.
Nah, ayo Sasuke.. Apa yang akan kau perbuat? Mengorbankan sandera seperti yang kau lakukan pada Karin? Atau menyelamatkan sandera seperti yang sering kau lakukan dulu?
"Cepat serahkan temanku!"
Perlahan Sakura membuka matanya, emeraldnya memandangi onyx Sasuke sambil mengembangkan senyum miris.. yah, setidaknya dia masih dianggap sebagai seorang teman. Dan, Sasuke berniat menyelamatkannya.
Bos bandit itu semakin menyeringai bak sesosok iblis licik. "Tidak semudah itu, bocah! Nikmatilah permainan jurusku sebagai hadiah untuk kalian yang sudah mengalahkanku tadi sore! Hahahhaha!" Sasuke diam tak berkomentar, matanya tetap menatap tajam si bos bandit.
"…Kuro-shin no jutsu!" bisik bos bandit di telinga sakura, seketika mata Sakura melebar dan pupil matanya terlihat mengecil. Tubuhnya terasa sakit, kepalanya pusing, dadanya sesak. Seperti ada sesuatu yang menguasai kesadarannya.
"Hehehehe, akan ku serahkan!" seru Bandit itu lalu melempar tubuh Sakura ke arah Sasuke.
Sasuke langsung menangkap tubuh Sakura yang dilempar asal dan lumayan keras itu.
"Sakura! Kau tidak apa-ap..." Sasuke terdiam. Sakura nampak berbeda, bola matanya yang berwarna hijau bening, kini berubah menjadi hitam pekat yang sangat gelap.
"Khu..khu...khuu... KUBUNUH KAU!" teriak Sakura kencang-kencang pada Sasuke, suaranya terdengar berubah.
To be continued..
...
.
.
A/N : Halooo *greeting tanpa dosa* #plak! Aduh! Maaf karena chapter ini ngaret bgt apdetnya, masih kena TBC pula *sujud*, dan mungkin fik ini akan diapdet sekaligus ditamatin dua sampai lima hari ke depan. Dan entah kenapa ceritanya jadi rada abal ==a , pas ngebaca kok saya malu sendiri ya? Bahaha
BIG THANKS To : Tsubasi, Pianika cinta, Hye mi-chan, Widyan, Uchiha neni-chan, CheZahana-chan, Just Ana, Shirayuki haruna, Andromeda no Rei, Chiby Maruko-chan, Orari Hinara, Mikaela Williams, Devil'D, 4ntk4-ch4n, Sagarayuki, Eureka.
Terimaksih banyak sudah membaca ;)
