Alegria

story by C.C

.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

I don't take any profit from this fict!

.

Modified-canon & Fluffy

Romance & Friendship

.

For KuroMomo Week

#2 : Es Krim

.

Hope you can enjoy it and give me your feedback? :)

.


Satsuki masih ingat betul bagaimana bahagianya ia saat menerima telepon dari Tetsuya beberapa hari yang lalu. Pemuda bayangan dari SMA Seirin itu meminta Satsuki untuk menemaninya menghabiskan akhir pekan bersama; yang langsung disimpulkan Satsuki sebagai ajakan kencan. Tapi saat hari itu tiba, rencana yang ia susun untuk menghabiskan akhir pekan bersama Tetsuya hancur begitu saja karena ia harus mencari sesosok pemuda berkulit gelap yang lagi-lagi mangkir dari latihan rutin.

"Dai-chan! Kau ini selalu saja merepotkanku! Bukannya setelah kalah dari Tetsu-kun kau berjanji tidak akan bolos latihan lagi?" Satsuki berkata dengan nada kesal pada sosok Daiki yang berjalan di sampingnya.

"Tch! Aku bukan bermaksud untuk bolos latihan, tapi hari ini majalah terbaru Mai-chan edisi terbatas rilis. Jadi aku harus segera membelinya," ucap Daiki malas.

Satsuki menghentikan langkahnya dan berkacak pinggang. "Lalu apa kau tidak bisa menghidupkan ponselmu?"

"Baterainya habis," sahut Daiki dengan nada datar yang membuat Satsuki semakin geram.

"Pokoknya sekarang cepat pergi ke ruang olahraga! Imayoshi-san dan yang lainnya sudah menunggumu. Kau sudah membuatku terlambat datang di kencan keduaku dengan Tetsu-kun!" Satsuki berkata sambil menunjuk batang hidung Daiki. Setelah itu, ia langsung berjalan menjauhi Daiki yang hanya bisa melongo.

Daiki hanya mengangkat bahunya pelan, "dasar cewek!"

Satsuki yang sudah berjalan meninggalkan area sekolahnya dengan langkah cepat, melirik jam tangannya sekilas. "Ya ampun! Lima belas menit lagi! Mana sempat aku pulang ke rumah untuk mengganti baju," keluh Satsuki. Ia lalu melirik seragam sekolah yang sedang ia pakai, dan menghela napas pasrah. "Kuharap Tetsu-kun tidak mempermasalahkan ini," gumam Satsuki sebelum ia menaiki bus yang baru saja tiba.

.

.

Tidak cukup dengan kesialannya yang diawali dengan tingkah Daiki di hari kencannya bersama Tetsuya, kini kesialan lain kembali menghampiri Satsuki. Bus yang ia naiki untuk sampai ke tempat perjanjiannya dengan Tetsuya, tiba-tiba saja mengalami bocor ban. Hal itu membuat Satsuki harus berjalan dan menunggu di halte berikutnya yang berada tak jauh dari tempat busnya berhenti.

Satsuki tidak masalah jika harus berjalan sebentar untuk mencapai halte berikutnya, tapi bus berikutnya baru akan datang tiga puluh menit lagi, dan saat itu ia sudah sangat terlambat untuk menemui Tetsuya. Naik taksi bukanlah pilihan tepat untuknya yang masih berstatus sebagai seorang siswa sekolah menengah atas.

"Tch! Satu-satunya cara hanya berjalan kaki. Jarak dari sini ke tempat perjanjian memang tinggal beberapa blok lagi, tapi cukup jauh juga kalau ditempuh dengan berjalan kaki~" keluh Satsuki. "Kalau begitu aku harus berlari. Semangat Satsuki!" serunya pada dirinya sendiri.

Manajer klub basket akademi Tōō itu memang sering melihat anggota tim basketnya berlatih, termasuk berlari mengelilingi lapangan sebelum memulai latihan rutin. Tapi karena tugasnya hanya sebagai manajer yang bertugas menganalisis kemampuan anggotanya dan kemampuan tim lawan, tentu saja dirinya tak pernah ikut dalam latihan fisik yang dilakukan anggota timnya itu.

Setelah berlari melewati lima blok dengan berlari, akhirnya Satsuki sampai di depan mini market tempat ia dan Tetsuya berjanji untuk bertemu. Dengan napas yang terengah-engah, mata Satsuki menelusuri area luar mini market itu untuk mencari sosok Tetsuya. "Sudah tidak ada," ucapnya pelan, masih dengan napas yang terengah-engah. Ia melirik jam tangannya lagi, "sudah lewat lima belas menit. Pantas saja Tetsu-kun sudah pergi," gumamnya lagi.

Desau angin musim gugur yang cukup membuat tubuhnya merinding, seolah mengejek Satsuki yang hanya bisa berdiri mematung di depan mini market itu. Kedua iris matanya mulai berkaca-kaca karena merasa kesal dengan kesialan yang bertubi-tubi menghampirinya hari itu.

"Kenapa kau berdiri di luar, Momoi-san?"

Sensasi dingin yang tiba-tiba menjalar di pipi kanannya membuat Satsuki terlonjak kaget, terlebih lagi dengan suara lembut yang didengarnya. "Tetsu-kun!" serunya kaget saat ia berbalik dan mendapati Tetsuya tengah menyodorkan sepotong es loli rasa strawberry padanya. "Ku-kupikir kau sudah pulang, Tetsu-kun," ucap Satsuki lega. Ia kemudian menghapus setitik air mata yang mengintip di sudut matanya.

"Sedari tadi aku menunggumu di dalam mini market, karena angin di luar mulai dingin," sahut Tetsuya. Ia masih menyodorkan sepotong es loli di tangannya, "kau tidak mau, Momoi-san?"

"A-ah, terima kasih." Satsuki akhirnya mengambil es loli yang ditawarkan Tetsuya. "Ne, tapi ini, 'kan, hampir musim dingin, Tetsu-kun. Kenapa membeli es loli?" tanya Satsuki heran.

"Tidak apa-apa. Kupikir makan es loli tidak harus selalu di musim panas," jawab Tetsuya polos. Ia lalu tersadar dengan keadaan Satsuki yang sedikit kacau. Butiran peluh masih mengalir dari pelipis gadis yang tengah asyik dengan es loli miliknya itu.

"Benar juga! Tenggorokanku jadi sejuk," ucap Satsuki pada Tetsuya yang diiringi dengan senyuman manisnya. "Hmm? Ada apa, Tetsu-kun?" tanyanya saat menyadari pemuda biru muda itu terus menatapnya sedari tadi.

"Kau berlarian untuk sampai ke sini?" Tetsuya balik bertanya.

Satsuki lalu memamerkan cengirannya pada Tetsuya, "iya. Hari ini aku sial sekali. Sudah direpotkan dengan mencari Aomine-kun dulu sebelum berangkat menemuimu, lalu bus yang kutumpangi mengalami bocor ban. Kalau naik bus yang berikutnya harus menunggu selama tiga puluh menit lagi, jadi aku memilih untuk berlari sampai ke sini. Tapi tetap terlambat lima belas menit. Kupikir kau sudah pergi, ternyata—" Perkataan cepat Satsuki itu terhenti saat Tetsuya memasukkan potongan es loli yang lain ke dalam mulutnya.

"Kau tidak perlu menjelaskannya dengan cepat seperti itu, Momoi-san," ujar Tetsuya yang tersenyum kecil. "Kita punya waktu beberapa jam ke depan untuk bercerita, 'kan?" Setelah berkata seperti itu, Tetsuya lalu melangkah meninggalkan Satsuki.

Satsuki yang masih berusaha menghabiskan es loli keduanya, segera menyusul langkah Tetsuya yang sudah berada di depan. Dan saat itu, ia baru sadar kalau Tetsuya juga masih memakai seragam sekolah miliknya. 'Tidak apa-apa, deh. Anggap saja kencan setelah pulang sekolah,' gumamnya dalam hati.

"Ah, omong-omong, bagaimana persiapan Seirin untuk menghadapi timnya Akashi-kun di final besok? Aku akan menonton pertandingan kalian dan memberi semangat," ucap Satsuki antusias.

"Semua anggota sudah berlatih sekeras mungkin untuk menghadapi Rakuzan di final nanti. Sisanya hanya tinggal membuktikan hasil latihan kami saja," tukas Tetsuya.

"Syukurlah kalau begitu." Satsuki menganggukkan kepalanya pelan. Ia masih sibuk menghabiskan es loli di tangannya.

"Momoi-san..."

Panggilan Tetsuya membuat Satsuki mengalihkan perhatiannya pada pemuda itu sejenak. "Hmm? Ada apa, Tetsu-kun?"

Tetsuya memandang dalam kedua fuchsia milik Satsuki. "Aku tidak tahu kenapa ... di saat-saat seperti ini aku kembali teringat dengan janji itu."

"Janji?" tanya Satsuki yang memiringkan kepalanya. Ia belum bisa menangkap maksud dari perkataan Tetsuya.

"Hmm. Janjiku padamu agar suatu saat nanti, para anggota kiseki no sedai bisa kembali bermain basket bersama-sama." Tetsuya memandang langit sore yang sudah mulai berubah warna menjadi kuning keemasan. "Mungkin ... janji itu belum bisa kupenuhi sampai sekarang, dan tidak tahu kapan akan bisa kupenuhi. Tapi setidaknya, para anggota kiseki no sedai, kecuali Akashi-kun, sudah kembali menikmati bermain basket seperti dulu lagi," sambungnya sambil tersenyum kecil.

"Ah ... ternyata kau masih mengingat janji itu, Tetsu-kun," tukas Satsuki pelan. Ia memandang sendu jalanan di bawahnya, namun sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Topik yang diangkat oleh Tetsuya lebih menyita perhatiannya daripada es loli yang mulai meleleh di tangannya.

"Maaf."

"Eh?" Satsuki langsung menatap Tetsuya saat mendengar perkataan pemuda itu.

"Aku sudah menyakitimu saat itu dengan mengatakan bahwa aku tak mengingatnya. Maafkan aku, Momoi-san," ucap Tetsuya pelan. Terdengar lirih dan penuh penyesalan.

"Tidak, aku tidak apa-apa, kok. Aku paham bagaimana perasaanmu saat itu, Tetsu-kun," elak Satsuki. Mana mungkin ia menceritakan pada Tetsuya bahwa perkataannya waktu itu yang mengingkari janji yang mereka buat di masa lalu, sebenarnya membuat Satsuki sedih dan pulang dengan keadaan menangis.

Tetsuya tersenyum lembut mendengar perkataan Satsuki. "Aku tidak yakin bisa membuat Akashi-kun menjadi dirinya yang dulu dalam waktu dekat. Tapi aku akan berusaha sebisa mungkin, agar suatu saat nanti kita semua bisa bermain basket kembali dan bersenang-senang bersama lagi," tukasnya kemudian.

Satsuki bergeming mendengar perkataan Tetsuya. Ia tahu saat itu adalah musim gugur dan udara sekeliling mulai terasa dingin. Tapi entah kenapa, perkataan Tetsuya yang diucapkannya sambil tersenyum lembut seperti itu membuat sensasi sejuk di hatinya. Sama seperti es loli yang tadi menghilangkan dahaganya karena terlalu lelah berlarian seorang diri. Rasanya seperti ... usahanya selama ini untuk kembali menyatukan teman-teman di SMP-nya itu, disambut oleh kata-kata menjanjikan yang diucapkan Tetsuya tadi.

Satsuki sendiri tak tahu kapan hal itu bisa terjadi, tapi jika ia bersabar menunggu, mungkin hari itu akan segera tiba. Apalagi kini ia tidak menunggu sendirian, melainkan ada Tetsuya yang juga mengharapkan hal yang sama. Tidak, bukan hanya ia dan Tetsuya. Menurutnya, mungkin saat ini Aomine, Kise, Midorima dan Murasakibara juga mulai merasakan hal yang sama.

Gadis bermahkotakan surai softpink itu mengangguk semangat. "Mm-hmm. Suatu saat nanti, hari itu pasti tiba. Aku akan sabar menunggunya bersamamu, Tetsu-kun," ucap Satsuki sambil tersenyum cerah pada Tetsuya.

Tetsuya membalas senyum Satsuki, "ah, esnya sudah mencair, Momoi-san," celetuk Tetsuya polos saat melihat es loli di tangan Satsuki yang sudah mencair sepenuhnya.

"Yah ... aku lupa menghabiskannya," sesal Satsuki. "Eh? Ada tulisan di stick-nya," lanjutnya saat melihat bayangan tulisan yang terukir di stick es loli miliknya.

"Kau menang, Momoi-san," ucap Tetsuya saat melihat tulisan 'menang' dalam kanji yang terukir di stick itu.

"Yeay! Lagi-lagi Tetsu-kun memberiku stick kemenangan," seru Satsuki senang.

"Apa kau tidak mau menukarkannya, Momoi-san?"

Satsuki menggeleng. "Tidak, tidak! Aku akan menyimpannya. Mungkin ini pertanda bahwa tim Tetsu-kun akan memenangkan Winter Cup nanti," tukas Satsuki semangat.

Tetsuya hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Satsuki. Tanpa disadarinya, sebelah tangannya sudah terangkat ke puncak kepala gadis pink itu, dan membelai surainya pelan. Dan perlakuan Tetsuya itu, sukses membuat wajah Satsuki berubah menjadi sewarna daun-daun pohon maple yang berguguran di sepanjang jalan.

-FIN-


Author's Note:

Oke, KuroMomo week hari kedua bisa ngikuti~ /o/

Btw, makasih buat yg nge-review dan nge-fave fict hari pertama kemaren, buat Nozomi Rizuki 1414, VilettaOnyxLV, Anim, Shei-chan dan madeh18 xD

Ah, aq lupa blg di hari pertama kemaren... fict ini bukan MC, tapi kumpulan OS yg setiap chapter-nya itu gak saling berkaitan... Karena ini fict partisipasi utk KuroMomo week, jadi setiap harinya akan ada tema yg berbeda :3

Akhir kata, mind to give me some concrit? :)

Sign,

C.C

01062014