~Same~
Entah apa yang ada dipikiranku sekarang, kenapa...
"Kenapa aku berdandan hari ini?"gumamku sambil memasang tampang agak masam.
Itu terjadi waktu beberapa hari yang lalu..
.
.
.
"Yuna,"
"Hm?"
"Hari Minggu kamu ada waktu luang?"tanya Akashi seraya memainkan pulpennya. Saat ini kami sedang belajar bersama di perpustakaan untuk persiapan ulangan harian.
"Ada kok. Aku juga kebetulan mau belanja hari Minggu. Kenapa?"sahutku menghentikan kegiatan menulisku.
"Bisa temani aku hari itu?"tanya Akashi.
"Eh? Kenapa tiba-tiba?"
"Ngga apa-apa. Bagaimana? Kamu bisa kan?"tanya Akashi kini memperlihatkan seringainya.
Oke, pertanda buruk kalau aku menolaknya. Karena aku tahu kalau ia mengancam para senpai pasti dengan seringai mengancamnya itu.
"Baiklah, tapi aku juga ingin berbelanja untuk Ibuku, oke?"
"Hn,"
.
.
.
Percakapan singkat itu jujur membuatku agak tidak enak karena tahu-tahu aku langsung menyetujuinya. Bahkan sebelum berangkat pun Ibuku sudah heboh sendiri dan mengataiku mau kencan, dan tentunya tak lupa ia memberiku daftar belanja yang jumlahnya...banyak pake banget karena itu untuk persediaan selama tiga bulan. Bahkan aku sendiri sampai bingung melihatnya.
Aku melihat jam tangan hitamku yang sekarang menunjukkan pukul 08.15 waktu setempat. Aku menoleh pada sebuah butik tempat aku berdiri sekarang. Dari situ terpantul bayangan diriku yang memakai baju lengan pendek dengan kerah bentuk V dan rok berwarna merah dengan gambar bunga disudut bawahnya. Rambutku sengaja kuikat ekor kuda karena tahu cuaca hari ini akan panas. Bahkan aku sempat memakai lotion untuk menghindari panas matahari yang menyengat.
Tak lama tas kecil merahku pun terasa bergetar, ah aku yakin ada panggilan masuk dari dia. Aku merogoh tasku dan mencari ponselku. Setelah ditemukan, aku membuka ponselku. Dan ternyata benar dia.
"Ha'i, moshi-moshi,"
"Udah sampai?"
"Sudah, kamu dimana?"
"Dibelakangmu,"
"Heh?"
Aku menoleh ke belakangku dan melihat sosok yang tengah dalam posisi menelpon. Ia tersenyum mengejek padaku, "Baka (bodoh),"ucapnya sambil menutup ponselnya. Aku sedikit kesal mendengarnya dan juga menutup ponselku.
"Rasanya ngga tepat kalau kamu bilang aku bodoh, Akashi-kun,"ucapku protes.
"Lalu?"
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau sudah datang kamu yang misscall,"
"Lah terus dimana salahnya,"
"Kamu muncul seakan jatuh dari langit tau,"
"Hoo..."
Oke, dia mengejekku sekarang dan aku jengkel melihatnya. Tapi kuputuskan untuk diam saja daripada dia makin menjengkelkan. "Haah, sudahlah. Jadi, kita mau kemana?"tanyaku.
"Terserahmu,"
"Kok begitu? Kan kamu yang bilang kamu yang mau jalan,"
"Kamu sendiri yang bilang mau belanja, jadi ikut saja,"ucap Akashi makin menyeringai tidak jelas.
"Lalu, kamu yang mengajakku untuk jalan itu apa?"tanyaku lagi makin kesal.
"Aku hanya ingin berdua denganmu saja hari ini. Apa aku salah?"tanya Akashi sambil tersenyum padaku.
Aku tercengang saat mendengar kalimat terakhirnya itu. Kenapa rasanya aku yang salah tingkah ya? Dan kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini?
Aku dan dia terdiam.
"Haah, sudahlah. Kamu sudah sarapan belum?"tanya Akashi memecahkan suasana.
"Eh? Belum tuh,"jawabku.
Akashi pun melirik sekitar kami. Sampai dirasa menemukan sesuatu, tiba-tiba ia menarik tanganku.
"Kita makan disana aja yuk!"ucapnya sambil terus menarik tanganku.
Aku hanya bisa terdiam menatapnya. Lalu kulirik pergelangan tanganku yang ia genggam. Seketika itu juga wajahku langsung merona dibuatnya. A-apa seperti ini kencan yang dimaksud? Berpegangan tangan seperti ini rasanya membuatku malu. Apalagi setelah melihat tangan Akashi yang ternyata lebih besar dariku sedang menggandeng pergelangan tanganku seperti sedang memborgolku.
Kami berdua pun masuk pada sebuah cafe sederhana yang dimana pengunjungnya masih sedikit hari ini. "Selamat datang!"seru seorang pelayan perempuan menyambut kami.
"Tolong meja untuk dua orang,"ucap Akashi.
"Ah, bersama pacar ya? Mari ikut saya,"ucap pelayan itu sambil berjalan menuntun kami. Eh, pacar? Aku dan Akashi?
Kami berdua pun mengikutinya ke meja dekat jendela dengan pot bunga di sebelahnya. Kemudian pelayan lain membawakan buku menu pada kami.
"Silahkan mau pesan apa,"ucap pelayan tersebut sambil bersiap dengan kertas pesanan dan papan jalannya.
Aku mulai membuka buku menu tersebut sambil melihat-lihat nama makanan yang tertera pada buku tersebut. Satu persatu nama makanan kubaca dalam list tersebut, bahkan ada pula gambar makanan yang termuat di dalamnya yang kupikir pasti enak. Lalu aku membuka halaman untuk minuman dan kuharap ada yang kusuka disana.
"Ah,"
"Sudah tahu apa yang mau dipesan?"tanya pelayan tersebut.
"Um...tolong strawberry milkshake satu ya,"ucapku agak gugup.
"Baik. Apa lagi?"
"Aku pesan earl tea satu ya,"ucap Akashi. Si pelayan pun mengangguk dan mencatat pesanan Akashi.
"Makanannya?"
"Uhm, sebentar..."ucapku kembali membalikkan halaman menunya ke daftar makanan.
Uhh, kenapa banyak sekali dan jujur aku tak tahu apa saja menu andalan disini karena ini pertama kalinya makan di cafe. Namun mataku tertuju pada satu nama unik. 'Teddy bears Rice with Omelet and fillet chicken'.
"Anu, teddy bears rice with omelet and fillet chicken ya,"ucapku pada akhirnya.
"Oke, kalau Anda?"tanya pelayan pada Akashi.
"Sama dengan dia,"jawabnya santai.
Eh? Sama denganku? Apa tidak salah?
"Baiklah. Saya ulangi pesanannya ya. Satu strawberry milkshake, satu earl tea, dan dua teddy bears rice with omelet and fillet chicken ya,"ucap palayan itu. Aku dan Akashi pun mengiyakannya.
"baiklah, mohon tunggu sebentar ya,"ucap pelayan itu meninggalkan kami berdua.
Suasana hening kini menyelimuti kami berdua. Tak ada yang bicara diantara kami. Sedikit demi sedikit pengunjung mulai datang memasuki cafe dan suasana menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Aku melihat sekitar cafe, cukup sederhana dan bersahabat. Dinding-dindingnya berwarna krem cerah dengan setengah bagian bawahnya berwarna hijau tua. Lalu terdapat setidaknya lima sofa berada di panggung atas dekat aku dan Akashi sekarang duduk. Tiba-tiba aku melihat sebuah mesin yang sepertinya mesin karaoke yang berjarak enam meter dari kami. Dari situ aku mulai tertarik untuk mendatanginya.
"Akashi-kun, aku tinggal sebentar ya,"ucapku sambil tersenyum kepadanya.
"Mau kemana?"
"Itu,"ucapku sambil menunjuk mesin itu.
Aku segera beranjak dari kursiku menuju mesin itu. Sesampainya aku menghampiri mesin itu sambil melihat-lihat sebentar. Lalu, tak lama seorang pelayan menghampiriku. "Mau mencoba menyanyi? Gratis lho!"ucap pelayan itu mempersilahkan diriku.
"Eh? Gratis?"
"Iya, kami baru saja mendapatkan mesin karaoke ini minggu lalu dan mesin ini sudah diisi dengan banyak lagu. Karena sedang promosi untuk minggu ini, kami membolehkan pelanggan untuk menyanyi satu lagu secara gratis. Anda mau mencoba?"jelas pelayan tersebut.
"Ti-tidak apa-apa nih?"tanyaku masih ragu.
"Tidak apa-apa kok. Saya bantu memprogramnya ya,"ucap si pelayan sambil mengutak-atik mesin itu.
Dari jauh aku bisa melihat Akashi sedang memperhatikanku. Aku dengan gugup tersenyum padanya sebagai isyarat agar ia tidak khawatir. Lalu, si pelayan menyerahkanku buku lrik lagu dan menyuruhku untuk memilih lagu. Aku pun membuka buku tebal itu dan mencari laguku. Sampai kutemukan laguku, aku memperlihatkan buku itu pada si pelayan dan ia mengangguk dan menyetel instrumen lagu tersebut. Setelah selesai, ia menepuk tangannya keras-keras hingga semua pengunjung melihat ke arah kami.
"Para pengunjung sekalian, kami baru saja mendapatkan pelanggan yang mau mencoba menyanyi di sini. Kami baru saja mendapatkan mesin karaoke ini minggu lalu, sebagai promosi kami membolehkan semua pelanggan menyanyi secara gratis untuk periode hari ini sampai enam hari ke depan. Saya persilahkan Nona untuk menyanyi,"ucap si pelayan diikuti tepuk tangan para pengunjung.
Kemudian lagu pun dimainkan. Aku menyanyikan lagu Taylor Swift yang berjudul Speak Now. Dengan sepenuh hati aku menyanyikan lagu ini semerdu mungkin meski tidak semerdu penyanyi aslinya. Namun, aku bisa menyempurnakannya dengan lafal bahasa Inggrisku yang cukup bagus hingga tak terdengar aneh. Terlihat para pengunjung menikmati alunan laguku, bahkan sakng nikmatnya mereka tidak makan makanan pesanan mereka.
"Horrified looks from everyone in the room But I'm looking at you,"
Pada lirik itu aku menatap Akashi yang tersenyum meinkmati alunan laguku dan aku pun tersenyum lebar ke arahnya. Beberapa saat aku melihat ke arah Akashi untuk beberapa lirik selanjutnya. Sampai itu aku terus menyanyi sampai lagu pun habis. Aku membungkuk hormat diikuti riuh tepuk tangan semua pengunjung termasuk Akashi pun bertepuk tangan untukku. Aku kembali melemparkan senyumku padanya dan ia menjawabnya dengan mengancungkan ibu jarinya.
"Bagus sekali, nak! Lain kali kau bernyanyi lagi!"seru seorang bapak-bapak. Aku hanya membungkuk mengiyakan, lalu aku kembali ke tempat dudukku bersama Akashi. Saat itu juga seorang pelayan membawakan pesanan kami.
"Ini pesanan Anda berdua. Oh ya, selamat ya untuk Nona. Suara Anda bagus sekali,"ucap si pelayan sekaligus memujiku.
"Oh, iya, terima kasih banyak!"sahutku sambil mengangguk malu.
Kemudian, si pelayan pun pergi meninggalkan kami berdua lagi. Lalu aku melirik pada pesananku. Dan saat itu juga aku yakin mataku sudah membulat lebar.
"Uwaaah! Imutnyaa! Nasinya dibentuk seperti teddy bear!"ucapku kagum.
"Hn, memang. Ternyata ada juga kejutan seperti ini dan kurasa kamu senang sekali,"ucap Akashi sambil tersenyum ke arahku.
"Aku senang banget malah! Aku baru sekali ini makan di cafe yang menunya punya makanan seperti ini! Sebentar, aku foto dulu,"ujarku kegirangan lalu aku merogoh ponselku di dalam tas. Setelah dapat aku memfoto makananku.
"Ah, kalau seperti ini aku jadi tidak tega untuk memakannya. Soalnya imut sekaliii,"gumamku masih kegirangan. Mungkin lain kali aku bisa bikin seperti ini juga kali ya.
"Kalau tidak segera dimakan nanti teddy bearnya nangis lho,"
"Eeh, tapi teddy bear kan tidak bisa bicara,"sangkalku.
"Hahaha, iya iya. Nah, sekarang makanlah,"ucap Akashi sambil tertawa pelan. Ah, baru kali ini aku melihat dia tersenyum dan tertawa sebanyak ini. Dan mungkin aku adalah orang yang beruntung karena bisa melihatnya kali ya.
"Un, selamat makan,"ucapku sebelum makan.
Jujur, sebenarnya aku tak tega memakan makanan seimut ini, tapi apa boleh buat karena aku juga yang memesannya. Aku mulai memakan bagian kaki si nasi teddy bear dan memotong omelet dengan saus tomat yang berbentuk hati terlukis diatasnya. Kusuapkan ke dalam mulutku dan merasakan makanan tersebut.
"Enak,"gumamku.
"Iya, enak. Jujur aku baru kali ini makan makanan seperti ini,"sahut Akashi. Aku mengadahkan kepalaku dan menatapnya. Kulihat wajahnya seperti senang saat memakan makanan yang kupesan untuk kami berdua. Lihat saja matanya terlihat berbinar seperti itu. Aku hanya bisa menahan tawaku melihat reaksi Akashi saat makan itu. Jujur, dia imut sekali dengan wajah seperti itu.
Aku dan dia pun melanjutkan makan kami. Sampai akhirnya kedua piring kami habis tak bersisa. Aku mengambil gelas milkshake milikku dan mengaduknya, lalu mulai menyeruput minumanku dengan sedotan. Ah, ternyata milkshake ini pun tak kalah enak dibanding dengan nasi teddy bear yang tadi kumakan. Sepertinya cafe ini akan menjadi tujuan utamaku kalau-kalau aku ke sini lagi, dan kalau bisa aku ingin mengajak ibuku juga.
"Yuna, ada nasi di pipimu,"ucap Akashi.
"Eh? Dimana?"tanyaku.
"Dekat dagumu,"lanjutnya. Ia mengambil tisu dari kotak tisu. Ia berdiri dan mencondongkan badannya mendekat padaku. Oh, tidak, ini buruk. Jantungku berdebar kencang sekali sekarang. Akashi mengelap sekitar bibirku dengan tisu dan membersihkan sisa-sia makanku tadi. Aku hanya bisa terdiam dan kaku dengan sikapnya. Uhh, aku yakin sekarang wajahku memerah. Akashi yang melihatku hanya bisa terkekeh pelan sambil menyeringai kemenangan. Begitu ya? Dia senang mengejaiku seperti ini?
Sungguh menyebalkan. Dasar pengambil kesempatan dalam kesempitan.
Aku terdiam sambil terus menyesap milkshake strawberry milikku, sedangkan ia dengan tenang menikmati teh miliknya.
~Same~
Setelah dari cafe tadi, kami memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat. Kami memasuki supermarket dimana aku dan ibuku biasa membeli kebutuhan kami. Jaraknya dengan cafe tempat kami makan tidak lah jauh, hanya perlu melewati dua blok dari cafe tadi kami sudah sampai di sana. Terlihat banyak para ibu sedang berbelanja membawa keranjang belanja dan kereta troli yang dapat memuat seorang balita di dalamnya.
Aku menarik sebuah troli dan membawanya masuk bersama Akashi.
"Kamu sudah biasa belanja sendiri disini?"tanya Akashi.
"Iya, kadang-kadang aku ke sini bersama Ibuku. Jadi, aku membawanya bersama Ibuku. Namun, berhubung kamu di sini Ibu meminta agar kamu bisa membantuku juga,"ucapku sambil terus menjalankan troli.
"Kalau aku tidak mau?"tanya Akashi mulai iseng lagi.
Oke, aku jengkel sekarang. Kenapa Akashi suka sekali melontarkan pertanyaan yang kadang membuat hatiku jengkel padanya? Apa sekarang ini dia jadi suka menjahiliku?
Aku hanya diam sambil dongkol dalam hati karena kalau pertanyaannya diladeni otomatis aku yang malu. Kudengar Akashi tertawa pelan, aku pun berhenti dan menatap jengkel padanya.
"Apa yang kamu tertawakan, Akashi-kun?"tanyaku dengan nada jengkel.
"Pfft! Baru kali ini melihat wajah dongkolmu yang lucu, Yun. Kamu lucu banget ternyata, sumpah!"ucapnya masih terkikik pelan. Oke, dia mulai OOC (Out of Character) dan aku semakin jengkel dibuatnya. Mungkin sudah banyak perempatan muncul di wajahku karena wajah mengejek yang ia lontarkan padaku.
"Salah siapa coba yang mau menemaniku berbelanja tapi tidak membantunya untuk membawakan belanjaan? Dan siapa suruh kamu mau menemaniku hari ini? Kita kan tidak kencan, Akashi-kun. Dan hentikan tawamu, kamu ooc sekali tau,"ucapku dengan wajah jengkel.
"Memangnya salah kalau aku ingin berdua denganmu, hah? Kamu ngga suka?"tanya Akashi balik sambil memasang wajah mengejek padaku.
Kejengkelan sudah berada di titik puncak dan inilah yang kulakukan. Aku mendekat pada Akashi dan mencubit pinggangnya. Dan otomatis dia meringis kesakitan dan mencoba melepaskan tanganku dari pinggangnya. Puas membuatnya kesakitan, barulah aku mengejeknya dan tersenyum penuh kemenangan. Siapa suruh kamu tertawa dari tadi hah? Rasain tuh cubitan maut dariku.
Lalu aku melihat Ibu-Ibu yang tak jauh dari kami tengah berbisik-bisik.
"Mereka lucu sekali,haha"
"Seperti pasangan muda saja. Haah, masa muda memang indah,"
"Anak-anak muda sekarang tingkahnya macam-macam yaa,"
Oke, aku sudah muak dan kami sekarang jadi perhatian para Ibu disana. Akashi masih mengelus pinggangnya yang sakit karena kucubit tadi. "Ayo, Akashi-kun. Kita dilihatin lho,"bisikku sambil menarik lengan pemuda yang tingginya sembilan sentimeter lebih tinggi dariku.
Ia hanya diam sambil tersenyum lebar menatapku yang mungkin sudah merah sekali wajahku. Bahkan telingaku terasa panas karena darah yang mengalir terpompa banyak ke kepala saking malunya. Setelah berjalan menjauhi kerumunan ibu-ibu tadi aku melepas genggamanku dari lengan Akashi dan mulai melihat-lihat barang-barang yang tersusun rapi di rak-rak makanan. Aku merogoh tasku dan mencari daftar belanja yang Ibu berikan kepadaku.
Kami mulai berkeliling supermarket sambil mencari barang-barang yang ada di dalam daftar belanja. Sesekali kami berhenti untuk mengambil barang-barang yang kubutuhkan dan kadang-kadang Akashi mengejekku dengan menghubungkanku dengan barang yang kubeli. Jujur aku jengkel melihat dia mengejekku terus, apa memang ini hobinya yang sebenarnya?
Sehari-hari yang kulihat sebagai orang yang tegas dan keras, ternyata bisa seperti ini. Aku hanya bisa menghela nafas sambil menaikkan sebelah alisku karena tingkahnya yang diluar dirinya yang sebenarnya. Aku tahu Akashi-kun itu orang yang baik, namun pernahkah ia berpikir untuk menampakkan sifatnya itu di depan yang lain? Padahal dengan begitu dia juga akan bisa mendapatkan teman yang lebih banyak dariku.
"Akashi-kun,"panggilku.
"Hn?"
"Kamu ternyata populer lho di kalangan anak perempuan, bahkan kakak kelas banyak yang naksir,"ucapku.
"Hmm, begitu ya.."
"Kamu tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu?"
"Aku tidak peduli soal itu. Asal aku bisa menang saja sudah cukup bagiku,"
"Hee, kupikir kamu akan menggunakan kepopuleranmu untuk bisa menggaet mereka,"ujarku sambil terkekeh pelan.
"Aku tidak seperti yang kamu pikirkan, Yuna. Aku tak peduli kalau aku disukai atau tidak, yang kuinginkan hanyalah kemenangan saat aku bisa bertanding basket nanti. Karena selama aku menang, aku akan selalu benar,"ucapnya dengan wajah datar.
"Percaya diri sekali,"ucapku sambil menyenggolnya dengan sikuku. Ia pun terkekeh pelan menanggapi senggolanku.
Tiba-tiba aku menyenggol seseorang di dekatku tanpa sengaja, ia pun mengaduh. Aku pun dengan segera menoleh padanya, "Ah, maaf, maaf. Aku menyenggolmu,"ucapku panik.
"Ah, tidak apa-apa kok,"ucap orang itu.
Akashi menoleh ke arah orang yang tadi kusenggol. Matanya langsung terbelalak saat ia dan orang itu bertemu tatap. Orang yang di tatap pun juga terkejut ketika ia melihat Akashi.
"Akashi-kun?"
"Shirou Akira?"
Eh? Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba mereka bisa saling kenal?
"Akashi-kun, dia—"
"Lama tak jumpa, Akashi-kun,"ucap seorang pemuda berambut biru muda di sebelah gadis dengan warna surai yang sama. Eh? Mereka kembar? Dan sejak kapan laki-laki itu di sana?
"Tetsuya, Akira, sedang apa kalian di sini?"tanya Akashi.
"Kami berbelanja. Tidak lihat?"ucap gadis yang bernama Shirou Akira itu.
Gadis itu mempunyai mata heterokrom kelabu-perak dan berambut sebahu warna biru muda. Tingginya lebih tinggi tiga sentimeter dariku dan sepantar dengan pemuda di dekatnya.
"Aku tahu itu. Tapi kenapa tiba-tiba kalian ada di Kyoto?"tanya Akashi dengan wajah mengerut.
"Wisata gratis karena menang undian,"jawab pemuda bernama Tetsuya.
"Ooh,"sahut Akashi datar.
"Ano, Akashi-kun. Mereka siapa?"tanyaku gugup.
"Oh iya aku lupa. Mereka adalah teman seangkatanku sewaktu SMP dalam klub basket. Ini namanya Shirou Akira dan yang ini namanya Kuroko Tetsuya,"ucap Akashi sambil memperkenalkan mereka berdua.
"Salam kenal,"ucap mereka berdua serempak.
"Ah, iya salam kenal. Namaku Yuna Seijuurou, senang berkenalan,"ucapku sambil membungkukkan badanku.
"Ahaha, tak usah canggung begitu, Yuna-san. Ngomong-ngomong nama kalian sama ya. Apa kalian kembar?"tanya Shirou.
Oke, pertanyaan yang sama pun kembali terlontar pada kami berdua.
"Kami tidak kembar, hanya kebetulan saja nama kami sama,"jawab Akashi dengan nada agak kesal.
"Oh, maaf. Kukira kalian kembar. Dan Yuna-san..."
"Ya?"
"Kamu penulis yang terkenal itu kan? Yang menulis novel Lunar Maria?"tanya Shirou sambil mendekat padaku.
"Iya, darimana kamu tahu?"tanyaku.
"Aku juga tak mengira bisa bertemu denganmu. Mungkin ini yang disebut dengan takdir ya. Haha. Aku membeli novelmu lho dan itu pun stok terakhir di Tokyo saat itu. Kuroko juga ingin membelinya, namun ia memutuskan untuk meminjamnya saja dariku,"ujarnya sambil melirik pada Kuroko. Kuroko hanya tersenyum sambil mengangguk palan.
"Bukumu benar-benar bagus, Yuna-san. Aku yang membacanya nyaris menitikkan air mata saat membacanya,"ucap Kuroko memujiku.
"Dan untungnya dia adalah 'bayangan'. Jadi tak ada yang menyadari kalau dia nyaris menitikkan air matanya saat ia membaca,"ucap Shirou sambil terkekeh pelan.
"Shirou-san, jangan begitu ah. Aku marah lho,"sangkal Kuroko sambil merengut pada Shirou. Shirou hanya bisa mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum mengejek pada Kuroko. Sedangkan aku hanya bisa tertawa garing melihat mereka berdua.
Tak lama kemudian, Shirou menatap Akashi intens. Akashi pun membalas tatapannya yang tak kalah intens.
"Akashi-kun, bagaimana perasaanmu padaku? Apa masih sama dengan waktu kita dulu?"tanya Shirou tiba-tiba mengubah topiknya. Dan tentunya membuatku terkejut.
"Aku memang masih punya perasaan itu, tapi setidaknya sedikit berubah seiring waktu,"jawab Akashi serius.
"Begitu, kuharap kejadian itu tidak membuat kamu goyah. Aku juga tak menginginkanmu untuk melakukan itu. Lain kali kita harus bertanding kembali untuk membuktikan kalau aku bisa melebihimu. Meski kamulah orang yang menemukanku pertama kali dan menyeretku dalam basket,"ujar Shirou dengan nada tak kalah serius.
"Shirou-san, apa maksudmu?"tanyaku takut-takut.
"Tak ada yang khusus kok, Yuna-san. Dan tak ada yang perlu kamu khawatirkan tentang kami. Sungguh, aku sudah bukan siapa-siapa bagi Akashi-kun selain sekedar teman saja. Kami duluan ya,"ucap Shirou sambil tersenyum padaku.
Shirou dan Kuroko pun berpamitan pada kami berdua dan pergi menuju rak yang lain. Sedangkan wajah Akashi terlihat murung setelahnya. Aku hanya bisa diam tanpa mengucapkan apa pun padanya dan aku hanya menarik pelan tangannya agar kami melanjutkan belanja kami.
~Same~
Setelah berbelanja, aku dan dia duduk di taman dekat butik dimana aku menunggunya. Kami sempat membeli es krim di sebuah mobil penjual es krim yang letaknya tak jauh dari kami. Kami duduk di bangku di bawah pohon yang rindang. Udara sejuk pun terasa menyegarkan dan angin pun bertiup sepoi-sepoi.
Kami masih diam satu sama lain. Aku masih terngiang-ngiang perbincangan antara Akashi dan Shirou sewaktu kami berbelanja. Dan nampaknya Akashi terlihat menyesali akan sesuatu yang berhubungan dengan Shirou. Ah, jujur sebenarnya aku cukup iri pada gadis bernama Shirou Akira itu. Sudah tinggi, cantik pula, matanya heterokrom kelabu-perak dan menyiratkan suatu rahasia di dalamnya.
Kalau tidak salah ia adalah mantan anggota basket di SMP Teikou tempat Akashi bersekolah dulu. Namun, entah apa yang terjadi antara mereka dulu hingga Akashi menatap Shirou dengan tatapan yang berbeda. Seperti tatapan sedih ia lontarkan pada gadis itu.
"Akashi-kun, kalau saja ada masalah yang menyangkut dirimu ceritakan saja padaku,"ucapku memecahkan keheningan.
"Huh? Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Yaah, aku lihat Akashi-kun murung setelah kita bertemu teman lamamu. Dan sepertinya terjadi sesuatu sewaktu kalian SMP..."ucapku sambil menatap padanya dan berusaha tersenyum. Tapi sayang senyumku itu karena kupaksa.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan,"sahutnya datar.
"Ah, kalau kamu tidak mau menceritakannya juga tidak apa-apa. Aku tak akan memaksa kok,"ucapku buru-buru, takut menyinggung perasaannya.
"Yuna,"
"Eh? Apa?"
"Es krimmu meleleh,"ucap Akashi sambil menunjuk tanganku.
Aku melirik ke arah es krim vanillaku yang kini meleleh. Eh? Meleleh? Astaga!
Dengan segera aku menjauhkan sedikit tanganku dari rokku agar tetesannya tidak mengotori pakaianku dan cepat-cepat merogoh tas kecilku untuk mencari saputanganku. Setelah ditemukan, aku segera mengelap tanganku yang sudah berlumur es krim dengan saputangan.
Tiba-tiba Akashi menarik tanganku yang memegang es krim yang hampir setengahnya mencair. Ia mengambil es krim itu dan membuangnya. "Akashi-kun, kenapa kamu buang?!"seruku namun segera ia hentikan. Ia menatapku intens, lalu membawa tangan kiriku yang bekas lelehan es krim ke depan mulutnya. Ia mengecup pelan tanganku, lalu menjilatnya.
"Akashi-kun.."gumamku terpaku di tempat. Wajahku merona merah seketika.
Kalau saja ini bukan tempat sepi,mungkin ia tidak melakukan ini sekarang. Lidahnya dengan lihai menjilat jemar-jemari lentikku dan mengecap setiap inci kulit tanganku. Kenapa? Kenapa jantungku tak berhenti berdetak? Dan justru jantungku berpacu makin cepat. Oh Tuhan, aku ingin sekali mati sekarang daripada melihat pemandangan dimana Akashi menjilat seduktif jari-jari dan tanganku hingga meninggalkan bercak-bercak gigitannya di sana.
Aku mencoba menarik tanganku dan berharap ia melepaskan tanganku.
"Akashi-kun, sudah jangan di teruskan. Aku malu..."
Ia tak mendengarkanku dan terus menjilat tanganku hingga seluruh tanganku basah oleh air liurnya. Rasa geli dan terangsang merambat hampir ke seluruh tubuhku seperti kesetrum listrik. Cukup! Aku sudah tidak tahan lagi!
"Akashi-kun, sudah! Hentikan!"ucapku dengan nada agak tinggi sambil terus mencoba melepaskan tanganku darinya.
Tapi sayang kekuatan tangannya jauh lebih besar dariku karena tangannya lebih terlatih oleh basket dibanding diriku yang terlatih untuk menulis dan melukis. Tiba-tiba ia menjatuhkanku ke atas rumput dan menindihku. Ia mengunci kedua tanganku dengan kedua tangannya dan menatapku dengan serius.
"Akashi-kun, lepaskan. Kumohon.."
"Yuna, lebih baik kamu menjauh dariku mulai besok,"ucapnya serius.
"Eh? Kenapa?"
"Karena aku tahu setelah aku melakukan ini kamu pasti akan membenciku,"jawabnya sambil mendekatkan wajahnya padaku. Aku pun panik.
"Akashi-kun, tunggu! Jangan-!"
"Terlambat,"
Angin langsung berhembus lebih kencang dan menggugurkan banyak dedaunan. Gesekan daun-daun yang jatuh dan saling tumpang tindih menjadi harmoni sepi diantara kami. Saat kusadari kami sudah dalam jarak yang sangat tipis dan lagi bibir kami bertemu untuk yang pertama kali.
Dan ini adalah yang pertama bagiku dari Akashi. Sebuah ciuman lembut nan posesif ia berikan padaku yang tak tahu apa-apa tentang hal-hal berbau 'cinta'.
Hari ini pun aku belajar satu hal. Cinta itu menyakitkan dari yang selama ini aku tulis di buku karanganku. Mataku hampir tak berkedip selama ia mengecup bibirku dan membelainya dengan lidahnya yang ia pakai untuk membasahi tanganku. Namun, lama-kelamaan mataku tertutup dan membiarkan belaian bibirnya membelai bibirku.
Dan disaat ia hampir melepaskan ciumannya, tanpa kusadari air mata sudah membanjiri mataku dan turun membasahi wajahku. Ia melepaskan ciumannya dan menatapku penuh penyesalan. "Maaf," ucapnya sambil menatap sedih padaku. Sampai itu, aku hanya diam tanpa membalas apa pun padanya dan hanya menangis tanpa alasan.
Kenapa?
Kenapa kau sedih, Yuna?
Harusnya kamu senang karena kamu sudah menemukannya. Menemukan orang yang akan menjadi orangmu satu-satunya. Tapi kenapa hatiku pedih? Sepedih itu kah mencintai seseorang?
Aku tak mengerti. Namun, setelah itu Akashi memelukku tanpa berucap apapun. Dan aku pun membalas pelukannya.
To be continued...
Maaf, ternyata feelingnya hilang begitu saja. Maaf kalau mengecewakanmu, Yuna.
Mind to RnR?
