-makan malam-
-o-
.
.
.
Ekspresi terkejut yang jelas kentara diwajah Natsume, berhasil mengukir satu senyum licik dibibir Matoba. "apa yang membuatmu berpikir aku tidak mengetahuinya? Yuujincho cukup terkenal dikalangan yokai dan kebaikanmu mengembalikan nama-nama itu membuatnya lebih terkenal lagi. Bukankah begitu, Natsume-kun?"
"kenapa?" Natsume bicara. Pelan seperti bisikan—ia belum berhasil mengatasi keterkejutannya, tapi Natsume harus memastikan, "kenapa kau tidak mencoba merebut yuujincho?". Matoba tertawa sekali lagi, kekeh geli yang licik seperti biasanya. Laki-laki itu membungkuk dihadapan Natsume, tersenyum dengan cara yang tidak pernah Natsume suka—lantas ia bicara, "kenapa aku harus merebutnya disaat aku bisa memiliki pemiliknya?" ia meraih tangan Natsume yang gemetaran, mencium punggung tangannya sambil tersenyum geli lalu tanpa aba-aba menariknya berdiri. Natsume hampir terjerembab jatuh dalam prosesnya, tapi lengan-lengan Matoba menahannya. Pemuda itu menyentak dan mendorong tubuh Matoba menjauh, seperti ia akan hancur jika mereka berdekatan. Natsume melangkah mundur hingga punggungnya membentur shoji—pintu geser—ia gemetar dibawah tatapan dingin dan senyum licik Matoba.
Natsume ketakutan.
Seperti tidak peduli dengan semua itu, Matoba mendekati Natsume sekali lagi. Senyum masih bermain dibibirnya. Ia menghimpit Natsume diantara shoji dan dadanya dengan sebuah gerakan ringan—bahkan nyaris tanpa suara. Natsume melihatnya dengan mata membulat terkejut—tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Natsume bahkan tidak sanggup bicara. Warna hitam memenuhi pandangannya. Bola mata hitam matoba, rambut yang menutupi sebelah mata dengan kertas jimat—atau yukatanya yang sekelam malam. Ia merasa terjebak dalam kegelapan pekat. Kegelapan yang lebih mengerikan dari malam. Ia bahkan tidak pernah setakut ini saat yokai mengejarnya.
Satu tangan Matoba menyentuh dagu Natsume, sekali lagi mempertemukan mata mereka. "kau takut padaku, Natsume-kun?" Matoba berbisik. Natsume bahkan bisa merasakan hembusan nafas laki-laki itu. Ia hampir berteriak, hampir—sebelum Matoba menjauh begitu saja. Mundur dua langkah kemudian menyembunyikan tangannya dibalik yukata. Bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi. Natsume merasakan tubuhnya melemas. Ia membiarkan saja tubuhnya merosot menyentuh lantai. Ada bunyi 'buk' pelan yang muncul karena tindakannya—tapi Natsume tidak peduli. Tubuhnya masih gemetar hingga tanpa sadar ia menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana. Kedua tangannya bergerak memeluk lututnya dengan jari-jari yang gemetaran. Matoba hanya melihatnya dalam diam, lalu menghela nafas. Tidak lama setelahnya, ada suara yang terdengar dari balik shoji yang tertutup. Suara seorang wanita yang Matoba kenali sebagai, Misao—salah seorang pelayannya. "seiji-sama—Natsume-sama, makan malam sudah disiapkan."
Matoba tidak mengatakan apapun untuk membalas tapi dari derap langkah kaki yang menjauh, ia tahu Misao sudah pergi. Natsume masih bergelung dalam hening didepan salah satu shoji, tapi Matoba tahu ia berhasil mengatasi ketakutannya. Tubuh gemetaranya membuat laki-laki itu merasa bersalah. Mungkin ia terlalu terburu-buru—tapi terburu-buru untuk apa? memangnya dia akan melakukan apa?
Rasanya memang aneh jika ia mengharapkan Natsume menurutinya. Seperti pelayan-pelayan Matoba—atau seperti siluman-silumannya—tapi kenapa Natsume berubah sedingin itu padanya? Selama ini Matoba mengira Natsume punya kharakter yang lembut, hangat seperti matahari. Matoba selalu menganggapnya menarik, bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Matoba selalu melihatnya mengenakan kemeja putih khas seragam sekolah dan menurutnya itu sangat membosankan. Natsume juga tidak terlalu cocok menggunakannya. Itu sebabnya ia menyiapkan yukata merah dengan pola bunga-bunga kecil dihari pertama Natsume dirumahnya. Ia penasaran, apakah Natsume cocok dengan yukata—atau ia memang lebih pantas menggunakan seragam sekolah yang membosankan. Matoba bahkan tidak peduli jika ini masih pertengahan musim semi dan ia menyiapkan yukata—alih-alih kimono.
Matoba sangat berharap bisa menjumpai Natsume malam itu. Ia bahkan sempat membayangkannya beberapa kali. Natsume yang mengenakan yukata merah, duduk menyantap makan malamnya_ tapi sepertinya itu hanya khayalannya saja. Kenyataannya, Matoba menemukan pemuda itu tergeletak diatas tatami yang dingin dengan nafas menderu. Ia bisa melihat jejak air mata dipipinya, tapi Matoba mengabaikannya. Suhu tubuh pemuda itu menarik seluruh perhatiannya. Natsume demam—Natsumenya demam tinggi.
Matoba merawat Natsume dengan tangannya sendiri. Ia menolak pelayan yang berniat membantunya—selain hanya membawakan air dingin untuk kompres. Matoba bahkan melupakan makan malamnya.
Ia melakukan apapun untuk Natsume. Matoba bahkan melakukan ritual penyucian—secara diam-diam—dikamar Natsume. Ia berpikir, mungkin Natsume tidak terbiasa dengan rumahnya, yang dipenuhi yokai, jimat, mantra dan hal-hal supranatural lainnya. Matoba bahkan melupakan kenyataan Natsume beberapa kali terlibat dalam hal supranatural—Natsume bahkan bergaul dengan beberapa siluman besar. Saat suhu tubuh Natsume berangsur turun, hari sudah hampir pagi. Laki-laki itu akhirnya meninggalkan Natsume dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ia masih punya satu atau dua jam sebelum hari benar-benar pagi. Ia punya pertemuan dengan anggota klan hari ini, jadi Matoba butuh istirahat.
Natsume masih belum bangun saat Matoba menengoknya sebelum sarapan, jadi ia hanya membuka sedikit shoji yang terhubung kehalaman. Berharap udara pagi membuat ruangan itu terasa lebih segar- kemudian meninggalkan kamar Natsume. Ia langsung masuk ke ruangannya setelah itu, setelah sebelumnya meminta pelayan mengantarkan sarapan ke ruang kerjanya.
ia kembali mengunjungi kamar Natsume menjelang makan siang. Kali ini ia disambut dengan wajah dingin pemuda itu, tapi Matoba mengabaikannya. Natsumenya terlihat baik-baik saja_ masih sedikit pucat tapi ia baik-baik saja. Interaksinya dimulai dengan sebuah kalimat yang diucapkan dengan nada aneh yang terdengar menyedihkan. Mengejutkan saat melihat Natsume mengatakannya bahkan tanpa ekspresi— sungguh, Matoba bahkan menahan diri untuk tidak melakukan ritual penyucian sekali lagi, ia sempat berpikir Natsume kerasukan siluman atau sesuatu yang seperti itu.
Alih-alih menjawab, Matoba Seiji memilih menyunggingkan senyum. Natsume belum siap dengan jawaban apapun, jadi ia memilih diam dan meninggalkan pemuda itu dikamar untuk beristirahat.
Ia disibukkan dengan pertemuan klan setelah makan siang dan baru kembali saat hari menjelang malam. Mendapat laporan kalau Natsume bahkan tidak menyentuh makan siangnya. Apa ada yang salah dengan menunya? Atau Natsume tidak menyukainya?
Tapi Matoba merasa bukan itu masalahnya. Ia penasaran dan—katakanlah ia khawatir, jadi Matoba mengunjungi kamar Natsume sekali lagi untuk menemukan pemuda itu tersenyum—untuk pertama kalinya setelah ia menginjakkan kaki di kediaman Matoba—pada seekor rubah kecil berbulu putih susu. Senyum itu membuat Matoba melangkah lebih dekat, mencoba mengangkat rubah kecil itu sebagai topik ringan. Awalnya hanya terasa seperti pembicaraan satu arah. Natsume lebih banyak diam alih-alih menanggapinya.
Matoba hanya ingin membantunya menangkap rubah kecil yang lari dan menghilang direrumputan saat Natsume tiba-tiba menjerit. Selanjutnya Matoba Seiji dihadapkan pada raut kosong natsume yang bersanding dengan suara pelan yang menyedihkan, kemudian tatapan tajam dari sepasang bola mata keemasan dan berakhir dengan menyaksikan tubuh gemetar Natsume yang bergelung didepan shoji. Ia menghela nafas mengakhiri lamunannya, cepat-cepat menguasai diri.
Entah sudah berapa menit terlewat sejak Misao datang. Natsume masih menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya, tapi Matoba menolak untuk membiarkannya seperti itu lebih lama lagi. Biarlah ia dipandang seperti penjahat, seorang kejam dan tidak punya rasa kasihan. Ini bukan pertama kalinya lagi pula, jadi Matoba sudah terbiasa. Ia bahkan sudah belajar menikmatinya sejak lama, toh—tidak terlalu buruk juga.
Ia akan memaksa Natsume makan. Matoba bahkan berniat mengikat Natsume dengan kertas mantra dan menyuapinya jika pemuda itu masih menolak—tapi ia akan memulainya dengan cara yang lebih halus. Matoba memulainya dengan berlutut dihadapan Natsume, mengusap lembut punggung tangan Natsume yang memeluk erat lututnya. Tangan kecil itu tersentak dan bergerak, meremas lututnya lebih kuat. "makan malam sudah disiapkan, kau kan belum makan dari siang tadi—kau bahkan tidak sarapan pagi ini." Ia menghela nafas saat tidak mendapat jawaban apapun dari Natsume kemudian berdiri dan melihatnya dalam diam. Tampak seperti tidak yakin dengan apapun yang akan dilakukannya. Saat Matoba mengabaikan keraguannya, ia menggenggam pergelangan tangan natsume dan menariknya berdiri dengan paksa. Natsume hampir terjerembab dalam prosesnya, tapi Matoba cukup kuat untuk menahannya berdiri— lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh kecil Natsume dipundaknya. Sama sekali tidak kesusahan dengan apapun yang dilakukan Natsume untuk melawan.
Lalu Natsume? ia bukan hanya berteriak seperti sedang diculik yokai untuk dimakan, ia juga memukul punggung Matoba seperti gadis yang akan diperkosa, atau menjambak rambut panjang laki-laki itu. Ia menarik, memukul dan menjerit—tapi Matoba mengabaikan semua itu. Matoba bahkan mengabaikan pelayan-pelayannya yang memandang khawatir pada mereka_ lebih pada Natsume sebenarnya. Ia tidak pernah benar-benar peduli pada pendapat orang lagi pula.
Matoba Seiji—kepala klan Matoba yang ditakuti diantara klan pengusir setan, saat ini menghela nafas lega hanya karena melihat shoji yang memisahkannya dengan ruangan dimana misao menyiapkan makan malam untuknya dan Natsume. ia menggunakan kakinya untuk membuka shoji dan menutupnya kembali saat ia berhasil masuk kemudian melemparkan Natsume_ baiklah, itu berlebihan. ia hanya menurunkannya dengan sedikit kasar_ diatas tatami. Natsume melihatnya dengan mata emas yang membara tapi Matoba tidak peduli. Sudah cukup ia sakit kepala karena tarikan-tarikan liar Natsume pada rambutnya, jadi ia tidak akan menambah pusing kepalanya dengan mempermasalahkan tatapan penuh kebencian pemuda itu.
Setelah menempelkan beberapa kertas segel pada shoji— memastikan pintu itu tidak bisa dibuka tanpa ijinnya—Matoba memilih duduk, bersiap menyantab makan malamnya. Ia hanya mengatakan, "duduk dan makanlah." Pada Natsume sebelum mengambil mangkuk nasinya dan mulai makan. Natsume masih melihatnya dengan tatapan tajam—seperti Matoba sedang menodongkan pisau padanya—sampai ia, Matoba Seiji menyelesaikan makan malamnya. Natsume sama sekali tidak menyentuh makan malamnya—atau bahkan bergerak dari posisinya.
"nah, natsume—" Matoba tersenyum, lalu dengan kedua tangan terlipat didepan dada—ia melanjutkan, "sekarang katakan padaku, apa maumu? atau kau ingin makan dulu sebelumnya?"
"tasku—dimana tasku."
Sebelah alis Matoba terangkat naik, "tas?" lalu laki-laki itu kembali tersenyum hingga matanya menyipit, "aku tidak tahu. Aku menyerahkannya pada pelayan dan sekarang aku tidak tahu mereka meletakkannya dimana. Kau bisa menanyakannya pada mereka nanti." Natsume tidak membalasnya. Pemuda itu masih belum menghentikan tatapan tajam yang dilayangkannya pada Matoba sejak tadi. "kenapa?
Kenapa kau menyerang Natori? Kenapa kau memaksanya menyerahkan hak Asuhku?" Natsume bertanya. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha menguasai diri. Pandangan mata pemuda itu turun pada tangannya yang meremas yukata merah yang membalut tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir bayangan Natori yang terluka dari pikirannya dengan sia-sia.
Natsume tahu ia akan gagal. Kenangan buruk itu akan kembali menyusup dalam mimpi-mimpinya, seperti api yang membakar senyumannya. Natsume bahkan masih mengingatnya seolah itu baru saja terjadi, saat Hiiragi—yang penuh darah—menuntun pulang Natori yang juga penuh darah, yang tetap tersenyum dan mengatakan 'jangan khawatir.' sebelum akhirnya jatuh pingsan. Kejadian itu terus-menerus diputar ulang dalam kepalanya seperti kaset rusak, biasanya diiringi dengan gema sirine mobil pemadam dan kobaran api yang hampir selalu membuat natsume meringkuk ketakutan.
Tawa renyah Matoba Seiji menariknya kembali ke dunia nyata saat Natsume hampir tenggelam dalam ketakutannya. Ia mendongak, melihat langsung bagaimana laki-laki dengan yukata hitam yang duduk beberapa meter didepannya tertawa hingga matanya menyipit—seperti ia baru saja melihat Natsume melawak. "sepertinya kau memang membenciku, tapi Natsume-kun, pertanyaanmu tadi rasanya sedikit berlebihan. Natori bahkan belum menyerahkan hak asuhmu sampai saat ini. Kebetulan kau mengingatkanku, jadi aku akan mendatanginya besok." lalu dengan kelicikan yang tidak pernah berubah setiap ia tersenyum, Matoba melanjutkan, "soal tas—aku memang tidak tahu dimana para pelayanku meletakkannya tapi jika yuujincho yang sedang kau khawatirkan—buku itu ada diruang kerjaku." Membuat Natsume terbelalak karenanya.
"kau—kau bilang tidak akan merebutnya dariku?! Kau berbohong?!"
Matoba Seiji masih tersenyum saat 'ahh—' yang sarat akan pemahaman berhasil lolos dari sela bibirnya. "aku tidak berbohong Natsume-kun. Aku tidak merebut buku kesayanganmu, aku hanya memindahkannya. Kau bisa mengambilnya saat selesai makan malam—atau kau ingin memberikannya padaku? Aku tidak keberatan, tentu saja."
Natsume bahkan tidak akan kaget jika matanya mendadak keluar dan menggelinding diatas tatami. Ia lebih dari sekedar terkejut. "apa yang kau inginkan?! Apa yang kau inginkan dariku, Matoba?!" Natsume tidak lagi mengerti apa yang ada dalam pikiran Matoba Seiji—tidak, Natsume memang tidak pernah mengerti. Jika memang ia menginginkan kekuatan—kendali dari para siluman—Matoba bahkan berhasil merebut yuujincho. Lalu apa lagi? Natsume bukan pengusir setan. Ia tidak mengerti mantra, jimat atau sesuatu seperti itu. Apa yang diinginkannya?! Kenapa harus Natsume?!
"aku tertarik padamu, bukankah sudah pernah kukatakan? Saat kau bertamu ke rumahku dihutan timur dan jika ingatanku benar, aku bahkan sudah mengulurkan tangan dan mengajakmu bergabung dengan klan Matoba saat itu. Apa kau melupakannya, Natsume-kun?"
"bukankah sudah kukatakan, aku menolak!" Matoba Seiji hanya mengedikkan bahu tidak peduli saat mendengarnya, lalu pada Natsume ia berkata, "aku tidak mudah menyerah, Natsume-kun. Baiklah, bagaimana jika kita membuat perjanjian—
Aku akan menyerahkan yuujincho-mu kembali, melindungimu dari siluman bahkan membiayai apapun yang kau butuhkan. Nah—syaratnya mudah, berhentilah melotot padaku karena sungguh, kau tidak cocok melakukannya. Lalu mulailah untuk hidup dan membiasakan diri disini. Bagaimana?"
Natsume hanya diam saat Matoba melanjutkan, "perjanjian ini bahkan tidak memberikan keuntungan apapun padaku. Aku tidak memintamu mengendalikan teman-teman silumanmu untuk membantuku, aku tidak membatasi pergerakanmu—kau bebas pergi kemanapun dirumah ini, tapi sebaiknya kau selalu bersama seseorang. Beberapa siluman tangkapanku masih perlu waktu untuk dijinakkan atau mengenal majikan mereka, itu sedikit berbahaya. Bagaimana? Kau tertarik?"
Natsume masih membeku ditempatnya, nampak benar-benar memikirkan tawaran Matoba. Yuujincho berada ditangan laki-laki itu dan Natsume tidak bisa membiarkannya terlalu lama. "kenapa? Apa maksud dari semua ini?"
"aku tidak mengerti apa yang kau maksud, Natsume-kun. Aku sudah pernah mengatakannya, aku tidak mengambilmu dari Natori untuk membuatmu mati—entah itu kelaparan atau karena alasan lain. Aku akan dapat masalah dari kepolisian, lagi pula. Bukan masalah besar memang—tapi aku sangat berhati-hati pada masalah apapun."
"perjanjian itu— aku hanya akan berada disini. Aku tidak akan membantumu dalam kegiatan pengusiran setan atau bahkan menurutimu seperti para pelayan." Matoba Seiji tersenyum, bergumam "benar sekali."
Lalu Natsume melanjutkan, "Sekarang kembalikan yuujincho padaku."
"itu artinya kita sepakat?"
Natsume mengangguk, "aku hanya akan berada disini. Hanya itu."
"baiklah, bagaimana jika kita mulai dengan menyelesaikan makan malammu?" matoba tersenyum puas saat tanpa banyak bicara Natsume meraih sumpit dan mulai makan. Pemuda itu bahkan tidak menghabiskan setengah dari porsi makan malamnya saat akhirnya ia meletakkan sumpit dan bergumam, 'aku selesai. Terima kasih makanannya.' Lalu kembali menatap Matoba, menuntut. Laki-laki beryukata hitam didepannya hanya membalas dengan senyum puas sebelum berdiri dan mulai melangkah mendekatinya. Natsume hampir terkejut saat matoba mengulurkan tangan didepannya, berniat membantu Natsume berdiri. Natsume mengabaikannya, tentu saja—tapi itu tidak mengganggu Matoba sama sekali. Seperti mulai terbiasa dengan semua penolakan natsume.
Matoba Seiji membimbingnya melewati lorong-lorong panjang khas rumah bergaya jepang kuno. Ada lilin yang menyala dilantai, terbungkus lentera kertas dengan motif khas jepang. Berjejer disepanjang lorong. Ada jarak dua atau tiga meter yang memisahkan lilin satu dengan lainnya. Dibalik shoji—yang Natsume yakin—terhubung dengan halaman, beberapa siluman pelayan Matoba berkeliaran. Seperti berpatroli disekeliling rumah. Juga siluet-siluet ranting pohon atau guguran sakura khas musim semi. Natsume berhenti saat Matoba membuka salah satu shoji dan masuk kedalamnya. Ruangan itu lebih terang. Interiornya mengingatkan Natsume pada ruang baca—dengan banyaknya rak-rak tinggi berisi buku. Natsume menaruh perhatian penuh pada setiap gerakan Matoba, memperhatikan bagaimana ia mengambil yuujincho dari salah satu rak dan menyodorkannya pada Natsume. "aku tidak melakukan apapun dengan ini, jika itu yang kau khawatirkan, Natsume-kun."
Natsume mengambilnya dan memeluk yuujincho didadanya. Berusaha percaya apapun yang dikatakan Matoba—bahwa yuujincho baik-baik saja, bahwa ia tidak melakukan apapun padanya. Natsume membiarkan tangan Matoba menyentuh punggungnya dan membimbingnya keluar, mengantarkannya kembali ke kamar dalam keheningan. Natsume hanya bergumam, "terima kasih." saat mereka akhirnya dipisahkan oleh shoji yang tertutup. Natsume tidak tahu, malam itu Matoba Seiji tersenyum, senyum yang berbeda.
Natsume tidak ingat, jam berapa atau sejak kapan ia tertidur. Saat ia dibangunkan oleh mimpi buruk, ia sudah berada diatas futon—dengan yuujincho dalam pelukannya. Ia tahu, Natsume tahu ia tidak akan bisa tidur lagi jadi ia bangun dan mulai membalik halaman yuujincho dengan kerinduan. Setelah puas, natsume menyimpannya dalam laci di meja kecil disudut ruangan kemudian melangkah untuk membuka shoji yang terhubung dengan halaman. Natsume berniat duduk sebentar diteras, sekedar menikmati bulan—jika ada. Natsume tidak terlalu memperhatikan siklus bulan, sebenarnya—atau sekedar menikmati hembusan angin musim semi.
Mimpi buruk membuatnya butuh sedikit udara segar. Ini bukan mimpi buruk pertamanya, Natsume sering mengalaminya bahkan ketika ia tinggal bersama keluarga Fujiwara. Natsume sangat mudah terbawa, terlebih jika ada yokai dengan perasaan kuat disekitarnya. Natsume akan dengan mudah melihat masa lalu yokai itu dalam mimpi-mimpinya. Tidak semuanya baik, beberapa bahkan cukup mengerikan untuk dilihat anak seusianya. Tapi kehidupan membuat Natsume lebih dewasa dari pada usianya, lebih pendiam dan lebih pemalu dari anak kebanyakan. Ia tidak terbiasa banyak bicara, Natsume juga tidak terbiasa menceritakan kehidupannya pada orang lain—termasuk mimpi-mimpinya. Kebiasaan yang mulai hilang saat ia bertemu teman-temannya, teman manusianya atau teman silumannya.
Ada desah lelah yang lolos dari sela bibir pemuda itu saat akhirnya Natsume mengusap wajahnya diantara terpaan dinginnya angin musim semi. Ia sedang bersandar disalah satu sisi shoji saat teriakan pelayan Matoba memecah. Derap langkah beberapa orang yang berlari mendekat membuatnya yakin, ada sesuatu yang terjadi. Natsume penasaran, tentu saja—Natsume sangat mudah penasaran—jadi ia melangkah mendekat, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Bunyi 'buk—buk' keras terdengar saat Natsume baru berjalan beberapa langkah. Lalu dari sana—dari tikungan yang gelap karena malam—sesuatu meluncur cepat, menerjang langsung kearah Natsume. Natsume tidak tahu apa yang terjadi, ia terdorong oleh sesuatu yang besar dan kuat hingga jatuh dan terlempar beberapa meter. Natsume bahkan belum bangkit dari keterkejutannya saat ia merasakan sesuatu yang besar menggigit bahunya, membuatnya terangkat ke udara.
Natsume tidak tahu apa yang terjadi, tapi rasa panas dan perih dibahunya membuat Natsume berteriak sekuat tenaga—berteriak hingga ia kegelapan menjemputnya.
tbc.
-o-
haloooooo /w/ jumpa lagi,
sebelumnya ijinkan aku berterimakasih pada kalian yang sudah menyempatkan diri mampir kesini. Sungguh, aku berterima kasih. Tapi akan lebih baik lagi jika kalian mengijinkan aku mengetahui sedikit pendapat kalian lewat kolom review_ jika kalian tidak keberatan, tentu saja.
baiklah, sekarang apa? pairing? matoba natsume, tentu saja. bukankah kelihatan sangat jelas, atau aku yang tidak bisa menyampaikannya dengan benar? sepertinya aku memang tidak bisa menyampaikannya dengan benar_ tapi kita bisa mengabaikan itu sekarang. kumohon_
terima kasih juga untuk anclyne-san untuk masukannya, aku tidak pernah terlalu memperhatikan soal penggunaan huruf kapital sebelum ini_ aku menyerahkan seluruhnya pada xD
tapi sungguh, aku berusaha memperbakinya sekarang. pasti itu sangat mengganggu, jadi aku sangatt minta maaf.
lalu untuk penggunaan tanda "_" , itu lebih kepada kebiasaanku, tapi aku juga berusaha memperbaikinya kali ini. terima kasih. apakah masih ada hal lain yang terlihat janggal dan mengganggu? aku tidak akan keberatan jika diberitahu, sungguh_ aku justru berterimakasih untuk itu.
baiklah_ kurasa itu saja. aku tidak tahu harus menyampaikan apa lagi_ sampai jumpa di chapter berikutnya~
