Chapter 2
Lee Taeyong..?
Pancake With Love
Disclaimer:
NCT milik SM Entertainment
Cuma pinjam nama dan delusi wajah kikiikii
Lee Taeyong
Jung Jaehyun
Nakamoto Yuta
NCT + (SM Rookies) member menyusul
Main pair:
JaeYong
Pair lain nyusul..
Warning:
YAOI (BoyXBoy)
Rated T
Hope you like it ^^/
Enjoy..
.
Chapter ini full 70% flashback, so siapkan mental kalian nee..
*,*/
Yuta sebelumnya tak pernah merasakan apa itu mau mati, bagaimana rasanya mau mati itu, tidak sampai saat itu. Dimana ia melihat sahabatnya, si setan dimple bongsor, Jung Jaehyun tiba-tiba terjun bebas dan terkapar dihadapannya. Dia yang sedang asyik chatting dengan Jung abeoji yang berada di Hokaido sana, bagaikan melihat dewa Osiris berwajah abeoji Jung, bertengger manis di atas punggung sahabatnya. Membawa tombak, dan tersenyum manis padanya. Membunuh Yuta saat itu juga.
.
.
BRUGG
BRUGG
Yuta benar-benar melihat dan mendengarnya saat itu. Saat tau asal muasal suara itu, Yuta memohon dilenyapkan saja dari dunianya. Jung Jaehyun dan kegilaannya tiba-tiba terjatuh dari balkon tua diatas sana.
Sahabatnya itu terkapar dengan posisi tengkurap, menghadap kebawah lantai aspal sana. Meskipun tidak bisa melihat wajahnya –karena posisinya yang tertelungkup begitu-, Yuta yakin benar itu sahabat setannya.
Karena hanya sahabat setannya itu yang mau memakai jaket armany kumal bersablon dan luntur di bagian punggung dengan tulisan Lord of Devil, mirip seperti si pemakai.
Tapi Yuta pasti terlalu berlebihan jika dia mengatakan sahabatnya itu hampir mati karena didatangi dewa kematian berwujud appanya. Nyatanya ia mendengar rintihan pelan Jaehyun. Maka dengan kecepatan nimbus 2000, ia spontan berlari menghampirinya, keluar dari persembunyiannya. Lantas saat sampai dihadapannya, matanya menatap horor kedepan.
.
"J-ja-jae.."
.
Jaehyun diam saja, tak berkutik, seperti mati perang. Yuta berjongkok dan memberanikan diri menyentuh pundak Jaehyun. Ya, takut-takut ada yang patah kan tulangnya kalau tidak hati-hati.
"Yaakk Jung Jaehyun.." mulai horror, "jangan main-main kau.."menggoyangkan bahu kekar Jaehyun.
Tapi Jaehyun tetap diam saja, Yuta benar-benar ketakutan sekarang. Tapi tunggu, kenapa posisi jatuh Jaehyun aneh begini, seperti menimpa sesuatu, ehh ituu dibawahnya, kenapa ada sosok lain, sepertinya..
.
.
"ANDWAEE..Lee Taeyonggg.."
.
.
"Aduhh.." Yuta mengaduh saat bokong cantiknya menyentuh aspal keras-keras. Ia terkejut dan terjengkang kebelakang. Bukannya apa sih, Yuta itu gampang terkejut jadi ya begitu, reaksinya spontant berlebihan saat mendengar teriakan orang di atas balkon sana.
Yuta mendongakkan kepalanya penasaran, menatap balkon dimana Jaehyun tadi terjun indah. Di atas sana seorang wanita, disusul seorang pria membelalakkan matanya kaget melihat kearahnya, bukan, maksudnya ke arah Jaehyun, ehh Jaehyunn..astaga ia jadi ingatt.
"Jae bangun heii..kau bagaimana, astaga jangan main-main Jae," yuta menghampiri Jaehyun -lagi-, membalikkan tubuh Jaehyun pelan-pelan, takut ada yang luka parah.
"Jae bertahanlah, aku akan minta pertolongan, Jae..ehh..siapa dia?"
Yuta bengong melihat seorang wanita ehh pria –iya bukan sih- dibawah Jaehyun. Mana tau dia ada orang lain dibawah Jaehyun kalau ia tak segera membalikkan badan Jaehyun.
Yuta meringis pelan. UHH pasti sakit sekali dia ditimpa badan seberat Jaehyun. Lalu, dia ini siapa, kok ada dibawah Jaehyun, jatuh berhadapan, ehh bukan tapi saling berpelukan begini. Apa jangan-jangan dia ini yang namanya Lee..
.
.
"Taeyong ...hahhh..hahh.." dan segala keingin tahuan Yuta harus sirna karena kedatangan si wanita ini. Wanita yang tadi dilihatnya ada di atas balkon kini dihadapannya, mengahampiri Jaehyun dan korban lainnya. Berlari dengan ngos ngos-an dan kepayahan, maklum sudah tua.
Wanita itu menatap ngeri orang yang tadi dipanggilnya Lee Taeyong, sosok dibawah tubuh Jaehyun, sosok berambut hitam, bertubuh kurus dan berwajah pucat, lalu ia mulai menepuk-nepuk pipinya dan terus mendengungkan kata 'ani' 'ani'begitu..Yuta juga jadi ikut panik.
"Jae.." menepuk pipi Jaehyun, " yakk Jung Jaehyun bangunlahh.!" Yuta tambah ketakutan sekarang. Jaehyun tak bangun-bangun jua. Saat Yuta meneliti tubuh Jaehyun, ia tak terluka sama sekali, tapi jangan-jangan luka bagian dalam tubuhnya parah. Hweee anii..bagaimana ini.
Lalu Yuta menoleh lagi kearah korban –Jaehyun- itu, kepala si pria kecil itu terlihat mengeluarkan darah, merah pekat dibagian belakangnya. Hwaa tuh kan, jatuh dari balkon setinggi lima meter kan bukan main-main. Mana bisa baik-baik saja kan, apalagi si pria kecil ini terjatuh dan tertimpa badan bongsor Jaehyun lagi. Itu si namanya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Huaa bagaimana kalau mereka..hwaaaa..
"Yakk Jaehyun, bangunlah, kumohon," ulang Yuta lagi, sumpah dia ketakutan sekali sekarang ini.
"Kajja kita bawa kerumah sakit, sebelum ada yang melihat..ppali, ppali," seru seorang pria tiba-tiba mengejutkan yuta. Si pria bertubuh gempal, terlihat mengambil alih si pria malang yang ditimpa jaehyun tadi dari pangkuan wanita tua itu, hendak menggendongnya.
Yuta tersadar, "hey tolong aku juga, tolong temanku ini, kumohon," seru Yuta tak sabaran. Mukanya sudah pucat, karena tiba-tiba, si pria gempal itu sudah menggendong pria yang dipanggil lee taeyong tadi, brydal style, bersama si wanita berambut hitam dan hendak meninggalkannya. Omona, apa yang harus yuta lakukan ditempat gelap dan sepi seperti ini kalau mereka benar-benar pergi.
Si pria gempal menghentikan kegiatannya, masih menggendong Taeyong dengan kedua tangannya, "kau siapa?" tanya si pria itu cepat.
"Sudahlah Kangin, bawa orang itu saja biar cepat selesai, aku siapkan mobil," si bibi itu berkata pelan tapi cepat, meninggalkan mereka dan berlari masuk kedalam rukonya.
"Apa katamu, heyy heyy, aishh.." si pria menoleh menatap Yuta yang menatapnya memelas, pria itu lantas memasang wajah garangnya, "yakk kau, cepat bawa dia, kita kerumah sakit, cepat."
Seakan mendapat ultimatum perang, Yuta bergegas. Membopong Jaehyun kepayahan, tapi gagal. Lantas melingkarkan tangan kiri Jaehyun di lehernya, astaga bagaimana ia membawa si bayi raksasa ini. Badannya saja lebih besarnya darinya.
Yuta tadinya mau meminta tolong pada si pria itu, tapi si gempal sudah berlari kearah mobil putih yang sudah terparkir manis diujung gang sana. Aisshh...seseorang tolong bantu Yuta.
"Hey cepat, atau kutinggal sekarang," teriakan bibi yang sudah duduk didepan kemudi itu lantas menggema, memanggil Yuta untuk bersegera.
Maka entah mendapat kekuatan darimana, ia menyeret tubuh berat Jaehyun, menuju mobil box putih itu, dan demi dewa Neptunus, Yuta seperti mati rasa. Semua seperti mimpi baginya seketika. Yuta mau mati saja daripada melewati malam ini.
T_T...
.
.
.
.
Tapi semua perjuangan dan ketakutan Yuta saat itu seperti sia-sia. Karena saat ini, detik ini, dihadapannya, sahabatnya tengah tersenyum sok polos dan tanpa dosa dihadapannya. Menggaruk leher belakangnya dengan tangan kanannya yang tak terluka, bebas.
Si Jaehyun, yang kemarin terjun bebas dan tak sadarkan diri kemudian, sekarang sudah sehat sentausa. Duduk manis di keranjang pesakitannya. Sesekali tersenyum polos menghadap Yuta sambil ngemil apel fuji yang tersedia dimeja pasien dengan mantapnya. Nakal sekali dimata sipit Yuta.
Sedang Yuta, masih terpaku menatap Jaehyun, jengah, marah, kesal, tapi lega dan bahagia semua tercampur menjadi satu. Yang benar saja, kemarin ia sudah membuatnya hampir mati ketakutan, sekarang malah senyam senyum begini, Yuta ingin sekali berkata kasar.
"Aku kan sudah minta maaf padamu Yuta ahh, jangan marah lagi nee.."ucap Jaehyun manja, manis sekali, seperti orang tak berdosa saja. Tangan kanannya yang bebas memegang tangan Yuta. Sedang tangan kirinya harus digips.
Setelah jatuh kemari, Dokter menvonis tangan Jaehyun harus digips selama kurang lebih tiga bulan. Lengan bagian sikunya harus di pen karena mengalami pergeseran. Dokter memperkirakan itu terjadi karena Jaehyun menggunakan tangan kirinya sebagai penopang saat terjatuh. Jadi ia harus puas dengan gips-nya. Rasakan itu, jahil sih. Masih untung tidak patah tulang kan.
Yuta kasian juga sih, sahabatnya yang sok cool ini harus begini. Apalagi ia ini kan kapten basket di sekolahnya. Bukan itu saja, Jaehyun baru saja dicasting oleh agency besar yang juga impian Yuta selama ini. Huhuu... tapi ini salahnya sendiri kan, ngeyel dan tidak hati-hati. Sok mau jadi pemberani, jadi nikmatilah Jung Jaehyun.
"Hahh.." menghela nafasnya, Yuta mengalah juga, "kau tau bagaimana aku saat itu. Rasanya aku menyesal tidak meninggalkanmu saja saat itu," menpoutkan bibirnya, Yuta jadi flashback.
"Yakk, tega sekali mau meninggalkanku, kita kan soulmate," bela Jaehyun.
"Kalau begini saja kau bilang soulmate, kalau lagi senang kau bilang aku bakamoto, dasar gendut," sembur Yuta.
"Hehe...aye aye..aku tak akan memanggilmu bakamoto lagi, tapi superyuta, serius.." pinky promise Jaehyun, membuat Yuta horror sendiri.
"Pabbo, sudah berat, merepotkanku saja,"umpat Yuta sambil menggeplak kepala Jaehyun.
"Yakk sakit tau.."
"Makannya jangan sok, kalau begini siapa yang kesusahan, kan aku juga.."
"Mianhae, kan aku cuma punya kamu disini Yut, jangan ngambek nee. Aku janji nggak akan nolak ke festival ramen itu lagi, sumpah dah Yut.." bujuk Jaehyun.
"Aku yang malas.."timpal Yuta,"kalau akhirnya begini, lebih baik katakan selamat tinggal pada kupon itu," lanjutnya.
Yuta bersumpah, tidak akan ikut kesana lagi. Ke festival ramen gratis, kupon hadiah dari games mari menjadi asrama terbersih disekolah.
"Aku malah bersyukur bisa kesana, naik ke balkon itu, dan jatuh seperti ini..hehe.." cengir Jaehyun tak berdosa -lagi-.
"Kau memang gila.." balas Yuta. Kesal juga dia lama-lama kalau begini.
"Bukan apa-apa, karena malam itu, aku jadi bertemu dengannya..Lee Taeyong ku," jelas Jaehyun dengan mata berbinar-binar.
"Hehh, kau yakin Lee Taeyong yang ini yang kau cari-cari Jae. Di Korea ini kan nama itu juga tidak cuma satu, yakin nihh," tanya Yuta heran.
Yuta jadi ingat tiga jam lalu, saat Jaehyun sadar. Saat Yuta ketakutan dan penasaran dengan keadaan sahabat evilnya ini, ehh Jaehyun malah bertanya soal si pria yang jatuh bersamanya. Bagaimana dia, dimana dia, dan siapa dia. Kalau Jeahyun tidak kenal, kenapa juga harus perduli.
Dan alasan klisenya membuat Yuta sweatdrop,"matanya mirip hyeongku itu Yut.."
Mata dia bilang, demi madu pancake yang lezat kemaren, kapan Jaehyun melihat matanya. Mereka kan jatuh berbarengan, lalu pingsan, apa jangan-jangan sebelumnya mereka sudah saling kenal. Tapi Yuta tambah heran saat tau kalau Jaehyun bahkan tidak tau namanya. Tidak tau namanya dan sok kenal. Bakka Jung.
Maka karena Yuta adalah sahabat terbaik yang pernah ada di dunia ini, ia memberi tahu siapa nama si pemuda bertubuh kurus itu, dan sukses membuat imajinasi Jaehyun semakin tumbuh.
"Aku heran, kenapa dia berubah drastis, sangat berbeda seperti itu," Jaehyun berucap sambil menerawang ke jendela, menatap jendela seolah-olah itu layar kaca yang menampilkan gambar imajiner.
"Kau ini yakin sekali dia Taeyongmu itu, siapa tau bukan jae?" Yuta prihatin menatap Jaehyun, " lagipula aku berharap dia bukan Taeyong kenalanmu, habisnya orang tuanya galak sekali sih," gerutu Yuta.
"Mereka bukan orang tuanya," Jaehyun menoleh menatap Yuta, "lagipula ayahnya sudah meninggal," tambahnya.
"Ayah tirimu?" tanya Yuta, Jaehyun mengangguk lemah.
"Tapi kalau buka orang tuanya, lalu siapa?"
"Entahlah..mungkin..,walinya?"tebak Jaehyun. Wajahnya sudah tak seserius tadi, malah berubah jadi wajah kebingungan.
"Ibunya kemana?" Yuta penasaran juga akhirnya.
"Meninggal. Astaga Yut, aku kan sudah cerita tadi.."
"Hehe miann miann aku lupa," cengir Yuta.
Menghela nafas, Jaehyun lupa kalau si bakamoto-ralat-Yuta ini kan pikun, jadi harus diingatkan berkali-kali. Melelahkan.
"Yut.."menolehkan wajahnya kearah Yuta sambil tersenyum tipis, suara Jaeyun antusias sekali.
"Bantu aku sekali lagi nee, pliss.."mohon Jaehyun sambil beragyeo. Uhh perasaan Yuta jadi tak enak sekarang.
"Big No.." menggelengkan kepala kekanan dan kekiri, sok menolak. Tapi tatapan kucing itu menghalau perikemanusiaannya.
"Ayolah Yut, bantu aku menghilangkan rasa bersalah ini, kau tega aku hidup dalam penyesalan terus,kumohon Yut," mohon Jaehyun, "aku janji ini yang terakhir, aku tak akan merepotkanmu lagi, nee nee," menangkupkan kedua tangannya, bertingkah seperti kucing yang terbuang. Yuta kalah sudah, ia hanya mengangguk pelan
"Kajja bawa aku ketempat Lee Taeyong itu," seru Jaehyun riang.
"Kau gila," spontan Yuta , "aku bahkan tidak tau dia diruang apa?, bagaimana keadaanya, masih hidup atau tidak? Hahh.."
"Makannya bantu aku Yut, masa iya aku pasien begini bertanya ketempat Informasi. Kau tega?, kumohon Yut. Lagipula aku yakin dia baik-baik saja kok."
"Hahh.." Yuta sudah terlalu banyak menghela nafas, kasian dia kehilangan satu kebahagiaannya gara-gara si Jung ini. Kalau saja si Jung ini melihat bagaimana kondisi si Lee itu, apa masih bisa tersenyum begini dia.
"Hanya itu?" dan dengan bodohnya, Yuta menawarkan bantuan lagi, 'memang benar-benar bakamoto aku ini' rutuk Yuta dalam hati, ingin menangis.
"Hehehehe..kau memang pengertian, sahabat terbaikku.." terkekeh bocah, lalu melanjutkan ucapannya "bawa aku kesana, sebelum ummaku datang kesini," merubah nada serius, Jaehyun beralih lagi menatap jendela, tersenyum tipis,membayangkan sesuatu lalu berujar mantap, "Menemui Lee Taeyongku..."
.*,*/
.
.
Everyone can see
There's a change in me
They all say i'm not same kid i used to be
My first love
He think that i'm too young
He doesn't even know
Wish that i could show him what i'm feeling
Cause i'm feeling my first love
.
.
Flashback
Teman teman dan fans Jaehyun bilang kalau dia adalah pemilik senyum termanis yang pernah mereka lihat. Jaehyun si pemurah senyum, si manis berdimple sempurna dan anak laki-laki yang ramah. Tapi meskipun ia punya senyum semanis malaikat, Jaehyun malah tidak menyukai makanan yang manis-manis.
Padahal ummanya, seorang cheff ternama yang jago membuat berbagai macam masakan. Setiap menu makan malam dirumah mereka, ummanya tidak pernah lupa menyiapkan dessert yang manis-manis dan kreatif.
Dan si kecil Jehyun, hanya memicingkan matanya dan menutup mulutnya saat sepiring dessert tersaji manis didepannya. Jadi, siapa bilang kalau Jaehyun itu manis.
Sampai pada suatu hari, saat ia yang baru naik kelas tiga sekolah dasar, ia yang sudah bisa membedakan mana yang cantik dan mana yang biasa saja, bertemu dengan bocah cilik bertubuh pendek –tapi tidak sependeknya- dan berbadan gempal, berkacamata,berkulit hitam, dan cerewet minta ampun, yang kemudian ia panggil, si giant.
Si bocah yang merupakan peserta koki cilik di sebuah reality show salah satu televisi swasta, dimana sang eomma menjadi coach dan juri disana. Si bocah gendut yang suka mengejeknya pendek dan anak mama, atau si puppy Jaehyun.
.
..
"Hei bocah, sampai kapan kamu bengong disitu," si bocah berkacamata, rival Jaehyun mulai bercuap-cuap lagi. Padahal baru lima menit yang lalu ia menyuruh si bocah gendut ini untuk diam. Sumpah, Jaehyun hanya mau menuntaskan novel Elizabeth jadi pengawas-Enid Blytonnya ini, tapi si giant ini merusuh terus, jangan jangan dia juga pengawas seperti si Elizabeth dan Julian ini.
"Kau itu sudah kurus, pendek, nggak doyan ini," menggoyangkan pizzanya, si giant pamer ke Jaehyun.
"Dasar puppy, anak mama, anak manja, wakwakwakk.." ejek si giant lagi.
Jaehyun sebal juga lama-lama,"diamlah dan habiskan makanmu. Nanti kurus lagi!" balas Jaehyun sarkastik.
Si giant yang sedang asyik dengan pizza seloyangnya melotot ke arah Jaehyun. Pipinya yang chubby jadi menggembung karena pizza yang masih penuh dimulutnya.
"Apa?", itu suara Jaehyun,"berani padaku?"
Jaehyun yang menantang, eh dia yang keder juga. Gendut-gendut begitu, giant kan badannya lebih tinggi –sedikit- dari Jaehyun. Jadi kalau dia sudah marah, maka kepala kecil Jaehyun pasti akan berakhir di ketiak bau si giant.
Dan itu terjadi sekarang ini...
.
.
"Ya...ya...yaa, kau gila, lepaskan..lepaskan...aishhh,"jaehyun meronta saat kepala imutnya terjepit diketiak bocah ini. Sumpah, karena badannya yang gendut, ketiaknya jadi bau sekali. Jaehyun ingin menangis sekarang.
"Kau bocah pendek, rasakan ini, rasakan.."si giant semakin menjadi-jadi. Padahal, tangan Jaehyun sudah berontak brutal daritadi. Meminta dibebaskan. Apa sih salahnya. Tiap dia melawan, membela diri lebih tepatnya, kepalanya pasti akan berakhir seperti ini. Poor kepala tampan Jaehyun.
Mentang-mentang badannya kurus dan pendek, jadi seenaknya ditindas begini. Kalau sudah begini, ia jadi bercita-cita ingin cepat besar. Biar bisa gantian memiting si giant ini. Dia kan bukan nobita yang seenaknya mudah ditindas.
Jaehyun yakin sekali, kalau sudah besar nanti, si giant ini, murid kesayangan ummanya divarshow ini, pasti bakal 11:12 sama si giant kakak Jayko, si musuh sekaligus sahabat Nobita itu.
Sudah gendut, berkacamata, kulitnya hitam,kalau makan banyak, badannya bau lagi, ughhh Jaehyun sudah takut sendiri membayangkannya.
Jaehyun mengernyitkan dahinya saat tiba-tiba si giant melepaskan kepalanya dari tawanan ketiak ini. Jaehyun meraup oxsigen dan membuka mulut sambil megap-megap seperti ikan koi dengan liar. Berlebihan sekali dia.
Jaehyun tambah bingung saat si giant memeluknya dari samping sok akrab. Ehh..ia menolehkan kepalanya slow motion. Si giant tersenyum sok manis menatapnya. Seakan-akan mereka ini memiliki hubungan manis dan akrab sekali.
"Yakk Jae, sudah kubilang kan, jangan terburu-buru makan pizzanya, masih banyak kok.."ehhh.. Jaehyun jadi heran, giant bilang apa tadi
"Apa maksudmu?" tanya Jaehyun heran. Ia jadi semakin heran saat si giant menyodorkan segelas susu coklat padanya. Iyuhh, dia kan tidak suka yang manis-manis.
"Ini diminum, biar enakan!" Si giant berseru manis sambil menyodorkan gelas susunya ke Jaehyun. Tinggi Jaehyun yang hanya sebahu giant jadi harus membuat Jaehyun mendongakkan kepalanya.
Jaehyun masih terbengong, "kau ini kenapa sih, tumb.."
"Wahh, kalian akrab sekali yaa, lucunya..." dan suara ummanya mengagetkan Jaehyun dalam mode- mari heran- pada tingkah si giant. Jaehyun berkedip-kedip bingung menatap ummanya dan giant secara bergantian.
Umma cantiknya sekarang tengah berdiri di muka pintu ruang anak- anak. Masih mengenakan celemek kokinya, lantas menyenderkan tubuh rampingnya sambil melipat kedua tangannya di dada. Menatapnya dengan mata berbinar-binar.
Sedang si giant, yang sudah melepaskan rangkulannya, tersenyum dengan senyuman sok polosnya –yang malah mirip iblis nakal bagi Jaehyun- dan membenarkan celananya yang mulai melorot –badannya gendut si, mana muat kan-.
"Nee ahjumma, Jae sudah seperti adikku sendiri kok, hehe.." si giant tersenyum nyengir, menoleh menatap Jaehyun yang terbengong-bengong, lalu merangkul pundaknya. Jae sadarlah kau..
"Benar kata hyungmu Jae, makan pelan-pelan. Nikmati setiap citarasa makanan itu. Jangan begitu," ujar umma Jaehyun. Sang umma berjalan pelan kearah Jaehyun dan giant, berdiri di tengah- tengah mereka.
"Umma senang kalian akrab begini. Sebagai dongsaeng, kau harus patuh pada hyungmu Jaehyunie," ummanya mulai ngelantur. Apa yang ummanya katakan tadi?, dongsaeng?, hyung?, apa ini maksudnya?.
Tersadar, Jaehyun jadi tambah benci giant ini. Mana mau dia punya hyung seperti dia. Mending dia punya hyung seperti suneo saja. Nakal-nakal gitu, suneo kan cengeng, Jadi bisa dijahili, bukan malah dia yang dijahili.
"Apa sih umma, dia ini cum.."
"Ahjumma benar, Jaehyunie sudah kuanggap dongsaengku sendiri, dia manis dan lucu, hehe.." si giant memotong perkataannya lagi. Apa- apaan sih dia ini. Oh, Jaehyun tau sekarang, selain nakal dia juga jago akting rupanya. Bhahh..musang cilik berbulu lemak .
"Kami bahkan tidak akrab sama sekali," jaehyun bicara jujur. Bersedekap, nada sarkatisnya kembali mengejutkan sang umma.
"Apa maksudmu sayang?, Taeyongie bilang Jaehyun sayang padanya, begitu juga hyungmu, iyakan Yongie?" tanya ummanya dengan nada manis. Ihh ummanya pasti sudah tertipu kali ini. Lalu tadi apa, sayang?, mereka, uhh menakutkan.
"Yee, tentu ahjumma emm maksudku.."
"Umma yongie ahh, umma. Jangan lupa lagi!"
"Hehe yee umma.."
Ehh, ada apa ini. Jaehyun terkejut. Ia benar-benar terlupakan disini, ia seperti tak tahu apa-apa, "apa maksud umma?,kenapa dia memanggil umma 'Umma'?" Jaehyun bertanya, bingung juga dengan situasi ini.
"Hehee..Jaehyunie begini, mulai besok, Taeyongie resmi menjadi hyungmu.."
EHHHH
"Maksud umma?"
"Ya kamu jadi dongsaengnya Taeyongie.."
Apa? Dongsaeng si giant ini. Andwaeeee...
"Kenapa? Aku tak paham?"
"Ya karna umma dan appaku akan menikah, begitu saja tidak paham, upss, miann.." giant kelepasan, kasar sekali bicaranya. Benar kan, dia itu memang gitu aslinya. Sok manis didepan ummanya, aslinya begitu, kasar..
Jaehyun bengong, jadi, ummanya akan menikah dengan appanya Taeyong, wae..
"Aku tidak mau.." seru Jaehyun langsung.
"Ehh.. Jaehyunie, apa maksudmu.."
"Pokoknya aku nggak mau, nggak mauuu..titik.." dan Jaehyun melangkahkan kakinya dengan sebal keluar ruangan kantor ummanya itu. Menghentakkan kakinya, melangkah keluar ruangan itu. Apa –apaan itu, ummanya mau nmenikah begitu?.
Padahal ummanya baru bebarapa bulan yang lalu pisah ranjang dengan appanya yang sekarang sedang berada di Jepang. Baru dua bulan yang lalu, dan sekarang sudah mau menikah. Yang benar saja.
Pokoknya Jaehyun nggak mau. Bisa mati kecil dia kalau sampai jadi adiknya si giant itu. Jadi tanpa menghiraukan teriakan ummanya dari dalam sana, ia memantapkan hatinya untuk pulang saja kerumah kakek neneknya di Chungnam. Masa bodoh dengan ummanya, masa bodoh dengan ongkosnya, masa bodoh juga dengan dia yang masih bocah dan kesusahan naik kereta nantinya. Diakan bisa minta tolong Ten, si bocah Thailand yang tak jelas gendernya itu.
Dan sembari memantapkan langkahnya keluar dari kantor ummanya, Jaehyun berdoa, semoga Ten memang ada dirumahnya, atau malah sedang nongkrong cantik di mall, bersama cewek-cewek kecenya.
.
.
Tapi siapa si Jaehyun. Dia hanya bocah kecil berumur 8 tahun yang bahkan belum bisa naik bis kemana-mana sendiri. Jadi malam itu. Dia tetap dibawa pulang –secara paksa- oleh sang umma dari rumah Ten. Boro boro ke Chungnam, masih untung dia sampai ke rumah Ten dengan selamat sentausa.
.
Jadi Jaehyun hanya bisa pasrah ketika tiga hari kemudian, Lee Taeyong dan appanya yang seorang Pilot datang ke apartement ummanya, membawa dua koper kecil bermotif spiderman, lalu mereka menginap beberapa hari disana. Lantas sang apppa meninggalkan Taeyong bersama umma dan dirinya.
Jaehyun harus bersabar saat Lee Taeyong megambil alih tempat tidurnya, makan siangnya, boneka teddynya si Mika, memakai kamar kecilnya lama-lama dan masih banyak hal lain yang tidak pernah Jaehyun bayangkan.
Termasuk mengambil perhatian ummanya dengan bakat memasak yang ia miliki. Jaehyun benci sekali pada si gendut itu. Ia dan taeyong yang terpaut usia dua tahun, seakan-akan memiliki batas usia yang jauh sekali. Karena Taeyong yang selalu bersikap sok dewasa itu bertindak sebagai pemilik apartementnya.
Menyuruh ini itu, meminta ini itu, dan Jaehyun korbannya.
Jaehyun tambah sabar, saat sang umma dan appa si giant menikah satu bulan kemudian. Dengan pesta kecil-kecilan ala militer –yang tertutup-, Jaehyun dengan sebal menatap ummanya yang tersenyum bahagia, di altar sana.
Sedang dia terpojok disini, bermuram durja tak menikmati pesta. Toh dia lebih baik ikut appanya di Hokaido sana daripada mojok disini, melihat senyum palsu ummanya. Ummanya kan tidak suka pesta sederhana, dia suka dipuji dan diperhatikan, tapi apa daya, pria itu, yang sekarang menjadi appa tirinya, menyukai hal sederhana. Berseberangan sekali, kenapa mereka berjodoh si.
Karena Jaehyun pintar, iya maka paham semua itu, umma dan appa barunya, serta prinsipnya yang berlawanan. Ummanya pasti pura-pura menerima itu semua karena tak mau kegagalan lagi. Apalagi kabarnya appanya, Jung Yunho yang tidak hadir malam ini juga akan segera menikah. Jaehyun tinggal menunggu waktu untuk dikenalkan pada umma keduanya. Jaehyun dewasa sekali kan.
.
Kalau dulu, Jaehyun pusat perhatian di keluarga besarnya, sekarang si giant mengambil alih semuanya. Dengan sikap sok manisnya, pipi gembulnya, dan badan gendutnya itu, ia sukses dipeluk-peluk, dicubit-cubit, dicium-cium kesana kemari.
Iyuhh, apasih sih istimewanya dia, manis juga tidak, gendut sih iya, mereka sadar tidak sih. Jaehyun jadi sebal sendiri. Karena semua itu, si giant jadi tambah sombong. Tambah meremehkan Jaehyun dan menyuruhnya ini itu, dengan ancaman bonek teddynya, si Mika tak akan selamat kalau ia melawan.
Heyy..Mika kan boneka terakhir pemberian appanya. Sekarang malah ditawan si giant. Mika pun berakhir di sarang penyamun, Mika yang malang. Ohh Mika, tunggu aku, prince Jaehyun, aku akan membebaskanmu dari tawanan monster gendut berbulu lemak itu –inner Jaehyun-.
.
Jaehyun mencoba bersabar setelah pesta pernikahan ummanya. Bukan apa-apa, ia hanya tak mau mengganggu kebahagiaan sang umma. Tapi apa yang ia dapatkan, buah dari kesabarannya, si giant semakin menjadi. Bukan hanya menyuruh dan mengancam Jaehyun ini itu, tapi juga menjadikannya kelinci percobaan giant.
Kalau mau Mika-nya kembali, ia harus mau makan masakan buatan si giant, yang ngakunya sih little cheff.
Seperti sekarang, ia tengah duduk gugup didepan sepiring pancake bertopping strawberry diatasnya. Melihat saja ia mau muntah, Jaehyun tidak suka makanan manis. Jaehyun sudah mulai mual dengan hanya melihatnya saja.
"Ayo dicoba, lalu coba yang topping coklat ini," si giant memerintah sok lembut, lalu meletakkan sepiring lagi pancake dimeja,kali ini berwarna coklat pekat, ughh "yang ini juga, jangan lupa," timpal giant lagi.
Jaehyun menelan ludahnya kasar, "tidak mau," belanya. Peluhnya mulai bercucuran. Apartementnya ini ber AC, tapi dia merasa hawa disini seperti dimusim panas.
"Ohh begitu.." si giant mengambil Mika dari kantong celemeknya. Boneka sebesar kepalan tangan orang dewasa itu diletakkan diatas kompor.
"Mika kalau dimasak rasanya bagaimana yaa?" giant mengetuk-ngetukkan tangannya kedagu. Pose berpikir. Sedang Jaehyun menatap Mika horror.
"Ahaa.." giant membuka suara sok imut, dasar cempreng.
"Mari kita coba, Mika panggang rasa madu.." suara giant bagai malaikat pencabut nyawa ditelinga Jaehyun.
"Andwaee..." Jaehyun mulai menangis. Huhuuhhuu..Mikanya malang sekali, tak akan Jaehyun biarkan.
"Jadi..Jaehyunku ini mau jadi adik yang baik ya.." tawar giant dengan suara lebih dilembutkan, tapi menakutkan.
"Nee.."Jaehyun mengangguk lemah,"aku akan mencobanya," mulai mengambil sendok dan menuju piring oval itu. Matanya berkaca-kaca, mengambil satu sendok pancake dengan tangan bergetar, membawanya kemulutdan menelannya bulat-bulat.
GLEKK
Satu telan dan..
Ehh
Rasanya enak
Manis
Gurih
Melted
"Mashitta..ehh," tanpa sadar kata nista itu terucap. Duhh Jaehyun merutuki mulut kecilnya, bisa-bisanya ia bilang begitu, nista sekali. Duhh malunya...
"Ehh sudah kuduga.." si giant tersenyum puas, "kau itu, cuma begini saja harus pakai ancaman, merepotkan," si giant mengambil Mika dan memasukkan lagi ke kantong celemeknya.
Sedang Jaehyun masih merutuki kebodohannya. Tapi beneran, pancakenya beda, enak sekali, manis dan gurihnya pas. Jaehyun tidak merasakan eneg dengan masakan si giant ini, ini aneh.
"Nah mari kita coba yang lain, ayooo.." seruan si giant mengagetkan Jaehyun.
Mata sipit Jaehyun melotot mendengar seruan giant, ohh siapapun, bunuh ia sekarang juga..
.
.
Dan Jaehyun harus merelakan hari-hari berikutnya menjadi kelinci percobaan si mr pancake –sebutan baru dari Jaehyun- setiap pulang sekolah. Dan Jaehyun tak bisa berbuat apa-apa, ini semua demi Mika terkasih. Mika lihatlah pergobananku untukmu –jangan mulai Jae-.
.
.
.
Dipikir-pikir, pada akhirnya Jaehyun tak tahan juga. Maka malam itu, tepat setelah tiga bulan si Taeyong dan appa barunya –Jaehyun enggan memanggil begitu-, maka Jaehyun mengatakan semuanya, semua uneg-uneg dan perasaannya. Di meja makan marmer tempat ia dan ummanya terbiasa makan. Kali ini dengan dua penghuni baru ini.
"Yeobbo, ini semua Taeyongie yang masak loh," suara umma Jaehyun membuka percakapan dimeja maka setelah semua habis menelan makan malam yang istimewa ini, ala Maroko.
Appa Lee meletakkan gelasnya, tersenyum menatap istri barunya, "benarkah?,wahhh Taeyongie berkembang sangat baik disini,sudah jago rupanya" appa Lee tersenyum manis, menatap umma Jaehyun penuh cinta, seakan tak menghiraukan kedua anak mereka yang masih bernafas dan hidup diseberang meja sana.
"Aku senang Taeyong punya ibu sepertimu Yeobbo,"ujar Appa Lee lagi, meraih rambut anaknya, Taeyong dan mengacak-acaknya gemas, " Taeyong bisa menyalurkan bakat memasaknya, dia sangat mirip ummanya dulu, suka belajar dan antusias," appa Lee tersenyum mengingat mendiang istrinya.
"Aku juga senang punya anak semanis Taeyong,"umma Jaehyun menjawabnya dengan pipi merona merah muda. Kenapa dia bertingkah seperti orang pacaran saja sih, batin Jaehyun.
"Taeyong anak yang manis dan penurut," ummanya kini menoleh menatap si giant, Taeyong. Jaehyun menghentikan acara –mari makan dessertnya-, meletakkan sendoknya dan beralih menatap si giant yang duduk di samping kanannya.
Cihh... si muka dua, tersenyum sok manis. Lihat, lihat itu tingkahnya, menyebalkan sekali, tapi lihat saja, sandiwaranya itu tidak akan sukses lagi. Semua harus berhenti disini saja. Jaehyun sudah membulatkan tekatnya.
"Taeyongie juga sangat menyayangi Jaehyun dan memperlakukannya dengan sangat baik, iyakan Taeyong sayang?" tanya ummanya.
"Nee umma, Jaehyunie adalah adikku tersayang. Aku juga sayang umma kok.." wow apa-apaan si giant ini. Jaehyun hanya bisa mendecih lirih. Hebat-hebat, aktingnya bahkan sudah melebihi Jang Dong gun atau Bae Yong Joon di drama mellow yang sering dilihatnya.
Umma dan appa Lee tersenyum sembari menatap menatap Jaehyun dan Taeyong bergantian. Mereka seakan puas dengan kondisi ini. Lalu Jaehyun harus puas begitu?
Tidak...dia bahkan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan kedua orang dewasa ini tidak tau –atau tak mau tau-, ia benar-benar bisa mati muda kalau begini. Bisa –bisa nanti ia ditemukan mati gantung diri di kamar mandi dan kedua orang dewasa ini masih bisa tersenyum dan memuji si giant. Big no untuk ini.
"Aku jadi tidak sabar melihat mereka satu sekolah nanti, saling membantu dan pulang bersama," appa Lee sangat antusias, ia mengatakan itu sambil menerawang indah, " Taeyong pasti bisa menjaga adiknya dengan baik, iyakan Taeyong ahh."
"Nee appa, tentu saja," si giant menjawabnya sambil tersenyum manis.
Ummanya ikut menimpali, "dan kelak, saat masing-masing dari mereka punya kekasih, mereka akan membawanya kemari dan memperkenalkannya pada kita yeobbo,hahaa..."ummanya berdelusi deh.
"Pasti nanti kekasih mereka cantik-cantik nee yeobbo, kikiikiii..aku tak sabar punya anak perempuan..ahh.." timpal Ummanya lagi.
Hey...mereka -dua anaknya- bahkan masih duduk dibangku sekolah dasar, dan ummanya sudah ingin punya menantu, pliss ini bukan sinetron India itu, batin Jaehyun tertohok.
"Yeobbo, mereka masih kecil, lagipula mereka harus lulus sekolah dulu, sekolah setinggi-tingginya, bekerja dengan mapan, baru seperti itu, iyakan anak-anak," appa Lee mengingatkan dengan bijak.
Apa-apaan pria ini, sok memberi nasihat. Jaehyun kan hanya akan mendengar nasihat appanya yang di Jepang, appa Jung catat, bukan pria Lee ini.
"Benar kata appa, kami harus sekolah setinggi-tingginya dulu, bekerja setelah itu, tidak merepotkan appa dan umma,iyakan Jaehyunie.." tanya Taeyong halus.
"Ehh,..y-yee.." Jaehyun tersentak, ia baru sadar sedari tadi ia hanya menjadi pendengar saja. Dan kini mau membalas pertanyaan si giant itu, Mika tolong aku.
"Ahahaa..mianhae nee, umma terlalu bersemangat, habisnya anak-anak umma sangat tampan-tampan. Jadi umma kan tak sabar," ucap umma Jaehyun salah tingkah.
Apa ummanya tadi bilang, tampan-tampan?. Oh clapp..Jaehyun tak rela disamakan dengan si giant bermuka dua ini. Mereka jauhlah. Jaehyun si iya tampan, sekali malahan. Tapi si giant.
Okay, setiap orang yang melihat juga pasti bakal tahu, bagaimana wujud mereka. Jaehyun yakin itu. Dia yang manis dan juga tampan, bertubuh kurus walau tingginya sekarang cuma segini-gini saja. Tapi Jaehyun yakin, kelak dia akan tumbuh tinggi seperti atlit basket. Dan setampan Bi Rain, aktor idolanya.
Tapi si giant itu, badannya saja bantet, bulat dan pipinya chubby, kulitnya hitam, berkacamata dan walau tubuhnya tinggi, tapi karena dia gendut, jadi ya kelihatan pendek. Benar-benar mirip Jayko. Hahaahaa, upss...-itu suara hati Jaehyun ya-.
"Mereka pasti akan jadi saudara yang saling menyayangi sampai dewasa, aku yakin itu.."ummanya masih belum puas, dan Jaehyun sudah benar-benar muak dengan ini semua. Apalagi setelah ia melihat senyum sok manis si giant, dan senyum bangga si pria Lee didepannya.
.
.
"Taeyong tidak seperti itu.."maka lepas sudah kata-kata itu dari mulut Jaehyun.
"Ehh.."
"Mwo.."
Dua manusia dewasa didepannya tersentak. Begitu juga dengan si giant disampingnya. Ia terkejut dengan adik tirinya yang akhirnya buka suara. Diakan sudah menyuruh anak ini diam saja sepanjang makan malam, apa ia tuli, Taeyong tak yakin Jaehyun tak paham. Apalagi Mika masih bersamanya. Apa jangan-jangan Mika sudah pindah dari tangannya.
.
"Yaa..dia hanya bersandiwara, dia tidak seperti ini selama ini," tambah Jaehyun.
"Apa maksudmu Jaehyun ahh.."ummanya mengeryitkan keningnya, terkejut dan heran pada ucapan putranya. Pria disampingnya apalagi, ia tertarik lebih dalam untuk mendengar setiap kata yang keluar dari mulut si whitty ini.
"Taeyong bukan hyungku, bukan..." Jaehyun berucap sambil mengambil nafas, dia deg deg-an sekali, tapi ini harus diselesaikan, ia sudah memulainya kok, "dia bahkan tidak pernah memperlakukanku dengan baik, dia selalu memperlakukanku dengan buruk dan mengancamku," Jaehyun menoleh pada Taeyong.
Menatapnya tajam, si giant terlihat kaget, hendak memotong ucapannya, tapi Jaehyun tak akan membiarkannya lagi, "dia bahkan mengancamku tadi agar aku diam saja untuk hal ini. Selama ini dia mengancamku dengan alasan Mika," Jaehyun mulai berapi-api.
"Apa maksudmu Jaehyun ahh," appa Lee tersentak, kaget dan mulai penasaran. Maka Jaehyun menatap pria itu dengan berani, "Putra anda ini, yang katanya kakakku itu, selalu memerintahku ini itu, membentakku, mengambil semua milikku," mata Jaehyun berkaca-kaca sekarang. Dia terlihat benar-benar menderita.
"...melarangku ini itu, mengambil yang kusukai, menjadikanku kelinci percobaannya, lalu mengancamku lagi," kini Jaehyun kecil mulai menangis, dadanya sesak sekali. Ia hanya anak berusia delapan tahun yang menahan semua uneg-unegnya sendiri selama ini, diminta bersandiwara dan bungkam. Dan kini, boomm...ia tak tahan lagi.
"J-jae..benarkah, tatap umma, kau tidak bohong kan?"
"Umma percaya padanya," menunjuk si giant, " dan dia.." juga menunjuk appa barunya dengan tak sopan,"tapi tidak padaku, putramu?"
"Jaee.."ummanya menaikkan intonasi suaranya satu oktaf, mulai marah "jangan keterlaluan, kau hanya iri Jaehyun ahh, jangan begini.." ummanya mengucapkannya dengan ekspresi sendu.
"Kalau aku iri aku akan langsung mengatakannya dari dulu," Jaehyun bersikukuh. Tuh kan, ummanya benar-benar tak percaya padanya.
"Apa aku pernah berbohong pada umma selama ini?" tanya Jaehyun, "aku bahkan tak pernah berbohong soal appa dulu," tambah Jaehyun dengan suara serak.
"Sudahlah hentikan ini, ayo kita ma.."
"Biarkan Jaehyun bicara yeobbo, selesaikan semuanya Jaehyun ahh.." si pria Lee memotong ummanya, tersenyum ramah menatap Jaehyun, merasa bersalah.
Jaehyun mendongakkan kepalanya lagi, menatap appa barunya, seperti mendapat kekuatan lagi. Jaehyun menoleh ke arah Taeyong, bocah itu diam saja tak bergeming sedari tadi, menatap piring kosong didepannya. Skakk...dia pasti malu sekali –atau dia bermuka tembok-.
Menarik nafas lagi, "ia hanya bersikap baik dihadapan umma, dan anda –appa Lee-, tapi tidak padaku, intinya, Taeyong itu pura-pura baik padaku kalau ada kalian saja, tapi setelah itu memperlakukanku dengan buruk," ucap jaehyun cepat, sudah seperti rapper saja tadi.
"Aku tidak kuat lagi, jadi, aku hanya ingin kalian tahu, hanya itu," jaehyun menunduk, menatap lantai, takut juga dia.
"B-benarkah, Jaehyun ahh?" tanya ummanya lirih, tak percaya, dan kecewa. Jaehyun hanya mengangguk pelan dalam situasi menundukknya. Ia tak tahu bagaimana ekspresi sang umma, Taeyong dan appanya sekarang. Ia tak mau tahu.
"Hahh.." appa Lee mendesah menghembuskan nafasnya berat.
"Kenapa kau begitu lagi Taeyong ahh, kau sudah berjanji pada appa bukan?"suara Appa Lee mengejutkan Jaehyun dan ummanya. Ia percaya, bahkan langsung menegur putranya yang kini tertunduk malu. Dan apa katanya tadi, lagi dan janji?.
"Mianhae Jaehyun ahh, Sooyoung ahh, ini semua salahku," pria itu berkata halus, Jaehyun jadi merasa bersalah merusak situasi ini sekarang. Apa ia sudah keterlaluan.
"Donghae ahh..belum tentu Taeyongie begitu, dia kan belum menjelaskannya.." ummanya beralih menatap Taeyong lembut, tapi bocah gempal itu semakin tertunduk.
Appa Lee tersenyum –benar benar murah senyum-,"dia seperti ummanya, jahil hahaa.." pria lee itu malah tertawa. Jaehyun dan ummanya tersentak, menatap pria itu.
"Tapi kali ini kamu sangat keterlaluan Taeyong ahh, mari kita harus bicara berdua sekarang, " sambung Appa Lee tegas. Pria itu lalu beranjak dari sana, berdiri dan tersenyum lagi menatap istri barunya, "tidak apa-apa, percayalah pada putramu, dia anak yang baik dan hebat, maafkan Taeyong ahh nee," menatap istrinya lembut, lalu beralih ke Jaehyun, mengacungkan jempolnya sembari berkata, "Jaehyun ahh, jangan pernah takut nee untuk mengutarakan isi hatimu kalau kau yakin kau benar, itulah pria sejati," appa Lee mengakhiri ucapannya.
Jaehyun menatap appa barunya heran, pria itu benar-benar berkharisma dan baik. Jaehyun jadi merasa bersalah sekarang, selalu berprasangka buruk pada pria sebaik itu.
Setelah itu yang Jaehyun lihat, si giant, Taeyong beranjak dari tempat duduknya, masih dengan menundukkan kepalanya, mungkin malu. Berjalan menuju kamar utama, dimana kamar ummanya berada. Disana sang appa sudah menunggu penjelasannya.
.
.
Ummanya diseberang meja sana masih terpaku, seakan tak percaya. Tuh kan, dia benar-benar lebih percaya pada anak lain daripada dirinya. Jaehyun jengah juga sekarang.
"Maafkan umma..," ehh, apa kata ummanya tadi, tiba-tiba sekali.
Ummanya tersenyum menatap Jaehyun dan membuka mulutnya lagi," umma selalu percaya padamu, jangan berpikir yang tidak-tidak nee Jaehyunie..,"ummanya mengatakan itu sembari tersenyum manis, meraih kedua tangan Jaehyun dan meremasnya pelan. Menguatkan Jaehyun.
"Maafkan umma, kau pasti selama ini merasa tertekan. Umma hanya ingin kau mandiri dengan semua ini. Dan umma berhasil," apa kata ummanya tadi. Jadi..ummanya sudah tahu selama ini, dan hanya diam saja. Ini teka-teki bagi Jaehyun.
"Jadi umma.."
"Nee..,"ummanya mengangguk pelan, masih tersenyum,"kau hebat Jaehyun ahh, umma sangat menyayangimu.."dan kata-kata ummanya tadi, adalah kata-kata terindah yang pernah Jaehyun dengar. Jaehyun tersenyum bahagia, memutari meja dan memeluk leher ummanya. Mencium kedua pipinya dalam-dalam.
"Gomawo umma, saranghae.."
"Nee, nado saranghae Jaehyunie, my baby.."
.
.
.
.
Setelah kejadian tu, Taeyong mengakui semuanya, segala kesalahannya. Meminta maaf pada Jaehyun dan ummanya, serta appanya. Berjanji tak akan mengulanginya lagi. Appa Lee juga meminta maaf pada Jaehyun dan ummanya. Ia mengaku malu dan kecewa, tapi menurut appa Lee, Taeyong mempunyai alasan atas itu semua. Tapi apa itu?
Awalnya Jaehyun tak tega juga dengan si giant yang dihakimi, tapi bagaimanapun ia memang harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya bukan.
Semua lantas berjalan seperti biasa, tapi sekarang, si giant yang menempati kamar untuk tamu –bukan kamar Jaehyun lagi- jadi jarang bicara, mengurung diri dikamar sepulangnya dari sekolah, tak keluar setelah itu –kecuali kekamar mandi dan makan-, tak pernah menyapa Jaehyun juga. Jaehyun jadi kasihan juga, dia juga merasa kesepian di apartement ini.
Apalagi appa dan ummanya juga jarang pulang. Ummanya sibuk sebagai cheff intern dan apa Lee harus bertugas di Korut, jarang sekali pulangnya, huhh sibuknya mereka.
Tapi dari itu semua, Jaehyun rasa, hubungan keduanya tidak seromantis dulu-dulu. Padahal belum genap empat bulan mereka menikah. Tapi kenapa rasanya seperti saat appa Jung dan umma-nya dulu sebelum berpisah. Masa Jaehyun harus merasakan itu lagi sih.
.
.
Jaehyun kesepian, benar-benar benar-benar berubah. Tidak pernah memasak, atau mengganggunya lagi menjadikannya bahan percobaan makanan makanan itu. Harusnya kan Jaehyun senang, tapi kenapa dia jadi seperti kehilangan begini ya, bagaimana sih dia ini, labil sekali.
Apa mungkin kalau dulu Jaehyun tak membuka aib Taeyong semua ini tidak harus ia alami ya, jadi dia dan Taeyong masih terus bermain –bermusuhan- seperti biasa, tapi rumahnya tetap ramai kan. Kalau begini, Jaehyun hanya bisa termangu didepan TV, sesekali kerumah Ten, belajar, main ps sendiri, makan ice cream diluar, pulang kerumah dan sepi. Sudah begitu terus. Membosankan sekali bukan.
Puncaknya, saat Taeyong jatuh sakit setelah hampir sebulan tak menyapa Jaehyun. Ia ditemukan pingsan dikamar oleh Bibi Go, bibi pekerja yang baru bekerja satu minggu di apartment Jarhyun.
Taeyong ternyata terkena tifus dan kekurangan gizi dan harus dirawat inap dirumah sakit selama dua minggu. Yang benar saja, badannya juga menjadi lebih kurus, malas makan dan dia tetap irit bicara. Benar-benar bukan Lee Taeyong yang sebelumnya.
.
"Taeyong akan kembali ke Busan," ummanya mengejutkan Jaehyun saat mereka tengah makan malam di sebuah restoran cepat saji. Ummanya baru saja pulang menjenguk Taeyong yang kini tengah ditunggui bibinya. Lantas menjemput Jaehyun dan mengajaknya makan malam. Tumben sekali ummanya mau makan diluar begini kan. Jaehyun senang juga sih, ia jadi bisa makan burger sepuasnya, hehe. Tapi tunggu, apa kata ummanya tadi.
"Ke Busan?,kemana?," tanya Jaehyun heran.
"Ikut nenek dan bibinya," ummanya menjawab sembari tetap serius menatap majalah didepannya.
Yahh.. apartementnya semakin sepi dong. Apalagi appa Lee sedang bertugas ke Timur Tengah sekarang. Profesinya sebagai pilot pesawat tempur mengharuskannya ikut bertugas ke Suriah. Benar-benar sibuk, dan keren.
"Kenapa harus kesana?, dia masih marah?" penasaran Jaehyun.
"Marah kenapa?" heran ummanya. Meletakkan majalahnya, menatap sang putra lembut, "hak asuh Taeyong sudah lama jatuh ditangan kakek neneknya," jelas ummanya.
"Kenapa begitu?", heran Jaehyun.
"Karena kesibukan appanya, setelah umma Taeyong meninggal, keluarganya mengajukan perwaliannya, jadi ya begitu..ahh nanti kamu tidak paham juga baby.."jelas ummanya sembari remeh menatap Jaehyun. Bocah ini belum genap sembilan tahun, tapi keponya minta ampun.
"Siapa bilang.." bela Jaehyun bersedekap tangan,"aku kan calon ahli hukum, jadi hal begitu, kecil.."belanya dengan gaya sok dewasa.
"hahahaa...kau ini.." mencubit pipi Jaehyun, "jadi jangan iri lagi ya pada Taeyong, kasian dia sudah tidak punya umma, jadi sekarang aku ummanya juga.."ujar sang umma.
"Siapa yang iri, aku kan dulu cuma jujur saja, appa Lee juga bilang begitu.." mempoutkan bibir kecilnya,"laki-laki sejati harus jujur, iyakan?" timpal Jaehyun kecil lucu.
"Iye iye..anak umma Soyoung memang pintar," memeluk Jaehyun gemas, "kajja kita pulang, besok menjemput Taeyongie, Okay.." ummanya mengerling genit.
"Yess captain, siap..hahaa.."
"hahaaa.."
Dan mulai sekarang, Jaehyun berjanji akan bersikap lebih baik pada Lee Taeyong. Apalagi ia ternyata jauh lebih beruntung darinya. Ia masih punya umma dan appa –walaupun jauh di Jepang sana-, dan sekarang punya appa baru yang hebat, seorang pilot pesawat tempur yang gagah.
Sedang si Taeyong, umma kandungnya sudah meninggal. Dan appanya super sibuk, ehh sekarang malah jadi rebutan kakek dan appanya, malang sekali nasib si gian itu.
Jaehyun berjanji akan menjadi adik dan saudara yang baik.
^,^/
.
.
.
Tapi sayangnya mimpi Jaehyun itu tak akan pernah terwujud. Saat ia dan ummanya akan menjemput giant pagi harinya, keluarga ummanya, selaku pihak sah perwalian Taeyong sudah membawanya kembali ke Busan. Ia dan ummanya hanya mendapati kamar rawat yang sudah kosong dan secarik kertas berisi alamat keluarga Taeyong di Busan. Jaehyun harus bagaimana, sedih atau bahagia, ia benar-benar merasa hampa sekarang.
O_O
.
.
.
.
Karena kita tidak pernah tau sejauh mana kita bisa terus melangkah, hari esok akan senang atau sedih, apakah kita masih bisa menatap lurus kedepan, dan apakah langit diatas sana masih akan selalu mendung dikala hujan menyambut. Kita tidak akan pernah tau masa depan.
Jadi Jaehyun hanya bisa menangis –ikut menangis- sesenggukan saat ia melihat umma tersayangnya juga menangis sesenggukan di ruang tamu mereka, berpelukan miris dengan bibi Go, meratapi nasibnya yang harus kehilangan suaminya untuk kedua kalinya –kali ini benar benar kehilangan untuk selama lamanya-, menatap televisi dan memegang telepon rumahnya.
Suara tangisan pilunya mengiris siapapun yang mendengarnya, begitu juga Jaehyun, ia kali ini benar- benar menangis, meratapi kepergian appa Lee nya, appa yang baru satu setengah tahun ini ia kenal, appa yang mengajarkannya menjadi pria sejati, yang tangguh dan berprinsip, melindungi apapun yang sudah dimilikinya, dan tidak pernah mengeluh.
.
.
Appa Lee, yang selalu ia panggil begitu, meninggal dalam tugas daruratnya di perbatasan Irak, diusia yang masih muda, 36 tahun. Appanya, Lee Donghae, pria tangguh yang pantang berkata bohong meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Meninggalkan nama dan pangkat yang luar biasa diusia muda. Jaehyun benar-benar kehilangan sosok itu
.
.
.
Jaehyun melihat appa kandungnya, appa Jung Yunho, tengah menenangkan sang umma, yang masih dalam suasana kehilangan. Sesekali appanya menolehkan kepalanya padanya, mengangguk lemah seakan mengatakan 'semua akan baik-baik saja' pada Jaehyun.
Kini, dihadapannya, pigura foto sang appa Lee dengan seragam gagahnya berada dihadapannya. Tersenyum menatap kesiapa saja yang melihatnya. Jaehyun tidak percaya pria ini telah tiada. Sosok hangat yang mulai mengambil hatinya, sosok yang dikaguminya.
"Huks hukss..appaaaa..,andwaee..huks" jaehyun menolehkan kepalanya, melihat kearah belakang. Dimana si giant, yang sudah setengah tahun tak ia jumpai kini menangis sesenggukan di depan peti sang appa. Meronta-ronta, ditenangkan beberapa pria dewasa berjass mahal.
Jaehyun mendekat, ingin menghiburnya, tapi lidahnya kelu, hanya untuk bicara sepatah katapun terasa sangat sulit. Dia benar-benar pengecut sekarang.
.
"Jaehyun ahh, jangan pernah takut nee untuk mengutarakan isi hatimu kalau kau yakin kau benar, itulah pria sejati,"
Ucapan appa Lee terngiang-ngiang dikepalanya. Berjalan pelan Jaehyun memantapkan hati, ia harus jadi adik yang baik. Ia akan melindungi kakaknya, seperti janjinya dulu.
"H-Hyung.."cicitnya.
Tapi Taeyong tak menoleh, makin menangis histeris. Jaehyun ikut menangis jadinya. Merasa iba dan kasian. Dia, Lee Taeyong, sudah kehilangan ibunya sejak kecil, sekarang juga kehilangan appanya. Jaehyun benar-benar tak tega.
Maka selama upacara kehormatan itu berlangsung, Jaehyun hanya menatap sendu Taeyong, jauh disini, bersama para pelayat lainnya. Ia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Taeyong kuat. Begitu juga dengan ummanya..
.
.
.
.
Jaehyun kira semua akan kembali baik-baik saja. Tapi tidak, semua sudah ditentukan oleh Tuhan. Setelah appa kandungnya dan calon umma barunya pulang, kembali ke Hokaido, ummanya memutuskan menerima beasiswa S2 cheff nya di Italia, mengajak Jaehyun, lalu..bagaimana Taeyong.
Di pemakaman appa Lee kemarinlah, untuk terakhir kalinya ia melihat Lee Taeyong. Karena setelah itu, si giant kembali ke Busan, tanpa pamit dan berkata apapun pada ia dan ummanya. Ia resmi menjadi hak asuh kakek dan neneknya.
Satu hal yang Jaehyun ingat, Mika dan pancake dengan selai strawberry teronggok manis didalam paket dengan kartu ucapan manis tertanda Lee Taeyong.
Tanpa ucapan apa –apa, hanya kertas manis berwarna biru bercorak pancake, dan icon smile disamping kanan bawah, serta tanda tangan unik si bocah Lee.
.
Hahh.. Jaehyun termenung, duduk menghadap jendela balkon. Menatap sendu sembari menggenggam kotak kardus dengan Mika dan pancake didalamnya.
"Dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku.." racau Jaehyun, "padahal dia itu cerewet sekali kan, dia benar-benar masih marah.." ujar Jaehyun lagi. Matanya berkaca-kaca sekarang, "ini memang salahku."
Ia menatap kamar luasnya. Kamar dimana dulu ia dan taeyong selalu tidur bersama, berkelahi, beradu suara, saling jahil-jahilan, kini sepi.
"Aku harus bagaimana sekarang..hyung.." menatap Mika yang diam saja, "aku kangen kalian, kau dan appa Lee..huks..huhuuuhuu" tangis Jaehyun pecah sudah, memeluk Mika. Benar-benar menyedihkan.
"Hyung, appa Lee aku kesepian sekarang, aku kangen kalian, kangen sekali.. .." Jaehyun sesenggukan lagi.
Jaehyun memang tak pernah akur dan bersahabat dengan Taeyong. canggung saat bersama appa Lee, tapi ia diam-diam kehilangan mereka. Sangat kehilangan keluarga barunya.
Jaehyun masih sesenggukan, sampai suara serak sang umma mengejutkannya..
"Jaehyunie.." ummanya memeluknya lembut,"sudah, kita harus merelakan mereka."
Jaehyun menatap ummanya, pipinya yang chubby basah akan airmata.
Kasian ummanya, dia pasti lebih kehilangan. Bukan hanya kehilangan suami barunya, suami yang dicintainya, tapi juga putra yang mulai dicintainya. Putra yang punya hobby sama dengannya, memasak dan ngomel-ngomel.
Maka Jaehyun mengangguk mantap, memantapkan hatinya. Ini semua demi kelangsungan hidup ia dan ummanya. Siapa tau akan jadi lebih baik lagi.
"Umma..aku sudah memutuskan.." ummanya melepas pelukannya, menatap mata sipit Jaehyun heran, "yee Chaggiya.."ummanya penasaran. Bocah yang baru genap sembilan tahun ini penuh dengan kejutan.
"Ak-aku..aku.." Jaehyun bicara takut takut, lalu memantapkan hati, sekali lagi.
"Aku akan ikut appa ke Hokaido.." Jaehyun menutup percakapan itu, karena ummanya hanya tersenyum setelahnya, lalu memeluknya lagi. Menyalurkan kebahagiannya, atau pura-pura bahagia atas keputusan putra kecilnya.
END
Or
TBC
Kaburr...
Panjang atau kurang panjang nih, tapi aku tetep capek nulis ide di otakku ini wkwk..7000+ words pliss,,capcayy kann..
Dunia kedokteran membuatku gila, jadi hanya di penpik abal ini aku bisa meluapkan otak panasku ini, someone plis, call me monster, karena aku benar-benar mau meledak sekarang..ahhhh..rawrrr
Jadi plis, dilihat dari jumlah views dan visitor yang bejibun (ohh ternyata, aku terharu), Review plisss..beri aku masukan kalian wkwkk, tapi jangan dimasukin nee..
Buat para siders, sadar pliss sadar woyy, taubatlah taubatlah haha..
Buat yang sudah follov, fav dan review di chap kemarin, emuahh..ghamsahamnida..pokoknya i love you all..maaf aku gak bisa nyebutin atu2 disini, pokoknya aku selalu ingat kalian all..
Pstt.. maaf aku menistakan Taeyongiku, tapi janji deh, sesuai dunia nyatanya, dia sudah berubah jadi kupu kupu yang cantik dan indah kok, kekekkee..
NCT Dream, Mark oppa, ganbate /apaini../abaikan
