Halo! Update sebelum author mudik. Kalo kalian mudik... apakah kalian masih setia ngebuka FFn? #ganyambung
Hmm, terpikir untuk bales review di atas aja. So, here's your reply!
Searaki Icchy : walah, jadi kayak nama cowok ==' Aria aja ya~8'D IYA! gue penggemar seri FF soalny :P iya... Ichigo bakal... ya gitu deh. Wahaha mungkin, soalnya saya gak terlalu suka FF X-2. Ya, saya juga aneh sih mikirnya. Tapi rasanya ga ada yang lebih pas dari Toushiro! (pas apanya coba ==') Wahah tak apa.
GaemDictator SparKyu YeWo : SAYA JUGA! malah FF yang pertama kali dimainin itu FF 8. Yaa, kalau begitu fic ini bakalan jadi spoiler jalan ceritanya sih :P
wu : m-masa? kyaaa makasih ya XD oke ini udah update!
Yuina Valkyrion : wahaha makasih ya^^ ini lanjutannya, maap kalo geje. APA? pengisi suaranya sama? #brbkeyoutube wah? suka juga toh? berarti udah main FF X?
Zanpaku-nee : Iya sih... asalny ingin beneran pake seragam kayak tim bola beneran, tapi rasanya aneh kalo Ichigo pake kayak gitu. Lagipula berarti nanti sepanjang cerita dia pake seragam bola dong? jadi saya bikin aja seragam asalan gitu wkwk. ... saya baru tahu kalo pengisi suarany sama. :O #brbkeyoutube Iya, emang sengaja. Toushiro jahat :( Tapi nanti alasanny dijelasin kok :P
Wi3nter : wahaha tak apa. Soalnya cerita ini sama kok kayak jalan cerita game-nya. So, keep reading ya^^
Done! Thanks for your review! Review lagi ya~
Listen to my story. This maybe our last chance.
This is Our Story
ariadneLacie
.
BLEACH by Tite Kubo
Final Fantasy X by Squaresoft (sekarang Square Enix)
Chapter II
"A Person From 1000 Years Ago."
Ichigo terbangun di sebuah tempat yang tidak ia kenal sebelumnya. Ia sekarang berada di sebuah reruntuhan bangunan tua. Tempat ini tidak mungkin Karakura, karena tempat ini seperti sudah ditinggal selama bertahun-tahun lamanya. Ternyata dia masih hidup.
Ichigo pun melihat sekeliling. Ia dapat merasakan bahwa tangannya memegang sesuatu. Ternyata itu adalah sebuah pedang berwarna hitam. Pedang pemberian Toushiro.
"Jadi... tadi itu bukan mimpi," gumam Ichigo. "Cih! Tapi apa sih maksud si Toushiro itu?"
Ichigo pun bangkit. Ia melihat ke sekeliling.
Ruangan ini berbentuk bundar. Langit-langitnya sangat tinggi. Dinding-dinding dan lantai-lantainya terbuat dari batu, sebagian besar sudah retak dan hancur. Ichigo dapat melihat sebuah pintu bobrok. Satu-satunya pintu di ruangan ini, karena pintu yang lainnya sudah tertutup oleh reruntuhan.
DUG.
Ichigo dapat mendengar seseorang memukul-mukul pintu bobrok tersebut. Ichigo pucat seketika.
"Baiklah, kali ini apa?" gumamnya. Pedangnya ia genggam erat, siap untuk segala serangan.
BUM!
Pintu tersebut terbuka dengan ledakan dapat melihat sekumpulan orang yang memakai google(1) dan membawa senapan.
"Si... siapa kalian?" tanya Ichigo.
Salah seorang di antara mereka maju. Dia adalah seorang cewek bertubuh tinggi, dengan rambut berwarna ungu yang diikat. Ia mengenakan baju yang seperti kostum untuk menyelam berwarna merah.
"-?" Cewek itu berbicara dengan bahasa yang sama sekali Ichigo tidak mengerti.
"Hah?"
BUK! Selang beberapa detik, cewek tersebut memukul kepala Ichigo keras. Dan setelah itu semuanya menjadi gelap.
Ichigo terbangun—lagi-lagi di tempat yang tidak ia kenal—tetapi ia dapat melihat cewek aneh tadi di sebelahnya. Sekarang Ichigo berada di atas dek sebuah kapal kecil. Kapal ini terbuat dari besi. Dan sepertinya dijalankan dengan mesin.
"Dimana... ini?" tanya Ichigo.
"Kapal," jawab cewek itu.
"Hah?" Ichigo kaget. Ternyata cewek tersebut mengerti bahasanya! "Err... siapa namamu?"
"Senna," jawab cewek tersebut. Ia pun membuka google-nya. Ichigo dapat melihat sepasang mata indah berwarna amber. "Kau?"
"Kurosaki... Ichigo..." jawab Ichigo. Ia pun berdiri dan menyangkutkan pedangnya ke sabuknya.
"Kau mau makanan?" tanya Senna sambil menyodorkan sepotong roti. Ichigo langsung menyambar roti tersebut dan memakannya dengan lahap.
"Wow! Rasanya sudah bertahun-tahun aku tidak makan," jawab Ichigo. "Kenapa kau tadi memukulku?"
"Hmm... refleks," jawab Senna sambil nyengir. Ichigo cengo.
"Yah... tapi terima kasih ya. Aku kira hidupku sudah berakhir sejak aku bertemu dengan menos," kata Ichigo sambil meregangkan tubuhnya.
"Hah? Kau selamat setelah bertemu dengan menos?" timpal Senna takjub. "Memangnya sebelumnya kau berasal dari mana?"
"Karakura," jawab Ichigo.
Senna semakin kaget mendengar jawaban Ichigo tadi. "Hei, Karakura kan... sudah hancur sejak seribu tahun yang lalu."
Kali ini giliran Ichigo yang kaget. Seribu tahun yang lalu? Jangan bercanda! Masa sih ia koma selama seribu tahun di bangunan tua tadi? "Tidak mungkin!"
"Itu benar. Bahkan Karakura memang dihancurkan oleh menos. Tapi, kalau kau bertemu dengan menos, ada kemungkinan kau terkena racunnya sehingga hilang ingatan," jelas Senna.
Ichigo yang malas untuk berdebat dengan cewek ini pun pura-pura setuju. Ia pun melanjutkan memandang laut.
Hari masih malam. Di langit pun tidak ada bintang. Tapi dengan keterangan tadi, entah sudah berapa malam yang ia lewati sejak insiden Karakura.
"Menjauh dari pagar!" seru Senna. Ia berlari menuju tengah dek. Ichigo buru-buru mengikutinya.
"Ada apa?"
"Menos!"
Ichigo tersentak. Masa setelah bertemu dengan makhluk aneh itu, ia harus bertemu lagi? Sepertinya ia tidak bisa istirahat barang sebentar saja.
Orang-orang pun berdatangan ke dek. Mereka membawa berbagai jenis senapan. Ichigo pun siap mengeluarkan pedangnya. Tetapi tiba-tiba semuanya terasa berputar-putar.
"Huh...?" Ichigo memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit. Dan tiba-tiba kapal tersebut mengalami goncangan yang sangat hebat. Ichigo seketika kehilangan keseimbangan. Ia pun terguling menuju sisi kapal.
"Ichigo!" seru Senna. Ia berusaha menangkap Ichigo tetapi terlambat.
Dan, lagi-lagi semuanya menjadi gelap.
Kali ini Ichigo terbangun di sebuah pantai. Dan syukurlah, kali ini siang, bukan malam lagi. Ichigo dapat merasakan air laut yang dingin di kakinya. Ia pun bangkit.
Ichigo melihat sekelilingnya. Ia dapat melihat hamparan laut yang luas di depannya. Langitnya berwarna biru jernih, dan tanpa awan. Pantainya tidak terlalu besar, tetapi sangat bersih. Di belakangnya, terdapat bukit kecil yang menutupi pandangan.
"Hei! Bisa kau kemarikan bola itu?"
Ichigo pun mencari sumber suara tersebut. Ia dapat melihat sekelompok orang tidak jauh darinya. Salah satu diantaranya berambut merah nyentrik, dan sedang melambai ke arahnya.
Ichigo pun memungut bola sepak yang mengambang dekat kakinya. 'Bermain sepak bola di pantai? Ada-ada saja,' batin Ichigo.
Ia pun melambungkan bola itu, menunggunya sampai setinggi lutut, lalu menendangnya sekuat tenaga. Bola tersebut pun melesat membelah pantai, menuju si rambut merah. Tetapi bola tersebut gagal ditangkap oleh si rambut merah. Ichigo tersenyum puas. Tendangang andalannya itu selalu membuat tim-nya menang di Karakura dulu. Ichigo pun mendekati kumpulan orang tersebut.
"Hei, tendanganmu bagus!" seru orang tersebut. Ia pun mengulurkan tangannya. "Abarai Renji."
"Kurosaki Ichigo," jawab Ichigo sambil menjabat tangan Renji.
"Kau bisa bermain sepak bola ya? Ikut tim apa?"
"Karakura Rangers!" jawab Ichigo bersemangat. Ia sudah paling bersemangat jika ditanya soal sepak bola.
Renji diam. Ia tampak kaget. Orang-orang di sekitarnya mulai berbisik-bisik.
Oh iya, Karakura kan sudah hancur seribu tahun yang lalu.
"Err... sebenarnya aku pernah berada terlalu dekat dengan menos, dan aku terkena racunnya, jadi ingatanku agak aneh," sambung Ichigo. Ia takut dianggap aneh. Meskipun berada terlalu dekat menos sudah cukup aneh...
"Oh!" Renji pun mengangguk-angguk mengerti. "Kau sangat beruntung bisa selamat kalau begitu!"
"Oh iya, kalau begitu mungkin kau bisa tinggal dulu disini, sampai ingatanmu normal kembali," sambung Renji. "Ayo! Ikut aku!"
Renji pun berbalik dan berjalan menuju hutan yang berada di sudut pantai, diapit oleh dua bukit kecil. Sementara orang-orang yang tadi bersama Renji melanjutkan permainan bola-nya. Ichigo pun segera mengikuti Renji.
Mereka berjalan menelusuri jalan setapak di hutan. Tetapi hutan ini tidak terlalu lebat, sehingga tidak terlalu menyeramkan. Dan setelah berjalan sekitar lima menit, Ichigo mulai dapat melihat rumah-rumah.
Sekarang mereka berada di sebuah desa kecil. Jalan setapak tersebut masih lurus menuju sebuah bangunan yang besar dan tua, tampak seperti kuil. Sementara di kanan kirinya terdapat banyak gubuk, dengan orang-orang yang sedang bercengkerama ataupun anak-anak yang bermain. Desa ini sangat berbeda dengan Karakura yang serba modern, desa ini terkesan sederhana dan apa adanya. 'Aneh, padahal ini kan sudah seribu tahun ke depan.' batin Ichigo.
"Selamat datang di Rukongai!" seru Renji sambil menepuk bahu Ichigo. Ichigo dapat melihat ada seorang wanita sedang berlari kearah mereka.
"Renji! Darimana saja kau? Rukia sudah masuk ke kuil daritadi!" katanya.
Wanita itu terlihat sangat dewasa. Ia mempunyai rambut blonde yang indah, dan... pakaiannya terkesan agak seksi. Ia memakai kimono berwarna hitam. Ia juga memiliki wajah yang sangat cantik. "Siapa itu?" tanyanya.
"Oh, ini Ichigo, aku baru bertemu dengannya tadi. Ingatannya agak terganggu karena racun menos," jawab Renji.
"Oh! Syukurlah kau selamat kalau begitu. Kenalkan, Matsumoto Rangiku," kata Rangiku. "Ayo, Renji!"
"Baiklah..." Renji pun segera mengikuti Rangiku menuju bangunan yang terlihat seperti kuil tadi. Sementara Ichigo ditinggalkan begitu saja.
"Hei, hei..." gumam Ichigo. Setelah berpikir sebentar, ia pun memutuskan untuk mengikuti kedua orang tersebut masuk ke kuil.
Ternyata tempat itu memang sebuah kuil. Ruangannya berbentuk bundar. Terdapat banyak ukiran-ukiran, dan penerangannya hanya menggunakan obor. Menimbulkan kesan mistis. Terdapat beberapa pintu kecil selain pintu utama yang besar, tetapi yang paling menarik perhatian Ichigo adalah pintu yang berada di atas tangga tinggi yang berada di depan pintu utama.
"Mungkin mereka ada di dalam sana?" gumam Ichigo. Ia pun menaiki tangga perlahan, dan setelah sampai di puncak, ia membuka pintu tersebut hati-hati.
Pintu tersebut terbuat dari batu, tetapi terasa seringan angin. Di pintu tersebut ada ukiran yang berbentuk seperti kelelawar. Ichigo jadi tidak yakin mau masuk atau tidak.
"Ah! Sudahlah!" akhirnya Ichigo pun memutuskan untuk masuk saja.
Keadaan di dalam sangat jauh berbeda dari di luar. Di dalam sangat terang, meskipun tidak terlihat ada lampu. Dinding dan lantainya terbuat dari batu pualam yang berwarna putih. Mengingatkan Ichigo pada Karakura Stadion.
"Sebenarnya... tempat apa sih, ini," gumam Ichigo. Ia pun berjalan lurus mengikuti koridor putih itu.
Setelah berjalan beberapa langkah, Ichigo sampai di ujung koridor. Koridor tersebut terbagai menjadi dua arah kali ini. Dan di dinding-dinding koridor mulai bermunculan berbagai ukiran aneh.
"... serem amat," gumam Ichigo. Ia pun memutuskan untuk mengambil jalan ke kanan.
Sepertinya pilihan Ichigo benar, karena setelah berjalan beberapa langkah, ia sekarang berada di sebuah ruangan bundar... lagi.
Ruangan ini kosong. Dinding-dindingnya penuh dengan ukiran-ukiran. Dan Ichigo dapat melihat satu-satunya pintu berwarna hitam tidak jauh di depannya. Ia pun segera berjalan menuju pintu itu dan membukanya.
Di balik ruangan itu, ada ruangan bundar lain. Tetapi kali ini tidak berwarna putih. Melainkan hitam. Ruangan ini diterangi dengan batu-batu yang mengapung dan mengeluarkan cahaya putih. Ichigo dapat melihat Renji dan Rangiku, beserta seseorang dengan rambut biru. Ichigo tidak mengenalnya. Mereka bertiga sedang memandang sebuah pintu kecil dengan was-was.
'Apa yang mereka tunggu ya?' batin Ichigo. Ichigo pun memutuskan untuk diam di ambang pintu dan ikut menunggu. Tetapi orang yang berambut biru tersebut menyadari keberadaan Ichigo.
"Hei, siapa kau?" tanyanya.
"Ah? Aku... Kurosaki Ichigo," jawab Ichigo sambil nyengir.
"Bukan itu...!"
"Ichigo?" seru Renji kaget. "Kenapa kau bisa ada disini?"
"Ah? Itu... ya... aku bosan," jawab Ichigo.
"Kau ini... kau tahu, jika kau salah mengambil jalan di kuil ini, maka kau akan tersesat selamanya!" seru Renji. "Tapi... sepertinya keberuntunganmu cukup besar ya."
Ichigo pun nyengir dan mendekati mereka. "Sebenarnya apa sih, yang kalian tunggu?" tanya Ichigo.
"Tentu saja Rukia," jawab si rambut biru sewot.
"Hei, hei, sudahlah, Grimmjow. Kenalkan, ini Ichigo, dan ini Grimmjow," kata Renji. Ichigo tersenyum ramah sementara Grimmjow mendengus.
"Hanya para pelindung dan para miko yang boleh masuk ke dalam kuil!" kata Grimmjow.
"Miko? Pelindung?" tanya Ichigo heran.
Dan, di tengah pembicaraan mereka, pintu hitam yang sejak tadi tertutup akhirnya terbuka juga. Seketika semuanya diam dan memandang pintu itu, harap-harap cemas.
Dari pintu tersebut, keluar seorang gadis yang manis dan cantik. Rambutnya berwarna hitam sebahu. Matanya berwarna violet indah. Ia mengenakan kimono berwarna putih dan rok panjang berwarna merah. Ia terlihat sangat kelelahan dan jalannya linglung.
"Rukia!" seru Rangiku. Berlari ke arah Rukia. "Kau tidak apa-apa?"
Rukia tersenyum dan mengangguk. "Ya... aku... aku berhasil menjadi seorang miko!"
-To be Continued-
(1) google tu maksudnya... yang kayak kacamata selam itu loh. Bingung namanya.
.
Mungkin setelah nge-update fic yang satu lagi, author bakal hiatus sampe mudik selese. So...
Minal aidzin wal faidzin, minna-san!
Author minta maaf atas segala kesalahan author... review yang terlalu nyolot... fic yang geje... pokoknya segalanya deh.
See you in the next chapter! And... please review!
