Ino melupakan makanan yang tersaji di hadapannya, membiarkannya hingga dingin dan sibuk dengan ponsel pintarnya. Berkali ia menilik ponsel pintarnya. Ia menghela napas lesu. Gadis cantik bak boneka porselen ini sudah berulang kali membuka aplikasi chatting, menutupnya, membuka aplikasi lain, menutupnya dan kembali lagi membuka aplikasi chatting. Belum ada pemberitahuan apapun dari Shikamaru.

Resah. Hampir saja ponsel pintar itu menyentuh lantai karena dilempar si pemilik tapi tidak jadi karena ia bergetar sebelum peristiwa itu terjadi. Mendadak girang, Ino segera mengaktifkan ponsel pintarnya untuk melihat notifikasi yang tertera.

Alih-alih mendapat pesan dari kekasih, pesan dari operatorlah yang dia dapat. Alhasil si dokter serupa barbie hidup itu mengumpat di hari pertama long distance relationshipnya.

"Sialan!"

Dan hari bertugasnya di rumah sakit kali itu menjadi hari terburuknya karena Shikamaru belum juga memeberi kabar setibanya di Venice. Lebih buruk dibandingkan jaga malam seminggu penuh tanpa tidur.

.

.

.

Long Distance Relationship

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Road To SIFD – Come Back To Me

Happy Reading

[Dua: Kembali]

.

.

.

Hari kesepuluhnya di Venice.

Pemuda bermarga Nara itu terbangun dari tidurnya setelah merasa ponsel pintarnya tidak jua berhenti bergetar—tanda adanya pemberitahuan. Manik kelamnya melirik jam analog pada ponselnya. Pukul tiga pagi. Ia terpaksa bagun lagi sepagi itu seperti hari-hari sebelumnya karena getaran yang dihasilkan dari ponselnya.

"Mendokuse," Shikamaru menghela napas. Ia mau tidak mau memaklumi sikap Ino yang masih belum terbiasa dengan perbedaan waktu antara Jepang dan Itali. Kesal karena tidurnya diganggu mendadak hilang setelah membaca pesan dari gadisnya.

Hei Shika! Selamat pagi! Eh—atau terlalu pagi di sana? Lupakan! Bagaimana kabarmu? Hari ini aku akan jaga malam di rumah sakit. Aku harap kau tidak lupa sarapan, kurangi pola tidurmu yang berlebih itu, jangan lupa minum vitamin agar kau terus sehat. Cepatlah selesaikan studimu! Aku menunggumu pulang saat musim panas nanti.

Ps: jangan lupa untuk mengabariku tentang harimu di sana ya! Aku sangat merindukanmu!

Seulas senyum terkembang di bibirnya.

"Kau benar-benar merepotkan, Ino." Shikamaru kemudian memerhatikan foto Ino di ponselnya, "aku juga merindukanmu."

Detik berikutnya ia melanjutkan tidur yang tertunda. Menyertakan gadis kesayangannya dalam mimpi. Bermimpi bertemu si gadis dan melewatkan waktu berdua.

.

.

.

Hubungan jarak jauh tidak membuat keduanya berhenti saling menghubungi, melainkan terus berkomunikasi satu sama lain.

Ino selalu memberikan perhatian kecil pada Shikamaru setiap harinya dengan mengucapkan selamat tidur, mengingatkannya untuk sarapan, memberi semangat beraktifitas. Kadang memberinya foto tempat yang dikunjunginya saat itu, keadaan tempatnya bekerja atau terkadang juga mengirim potret diri beserta pesan suara pada Shikamaru. Pun Shikamaru melakukan hal demikian. Tak hanya itu, keduanya sering bertatap muka melalui aplikasi chatting yang terdapat fitur video call. Bukankah akan bosan dan kesepian jika tidak pernah bertatap muka dalam waktu cukup lama?

Kadang Shikamaru merasa gadisnya sangat merepotkan. Terlebih pesan yang dikirimkan Ino melalui aplikasi chattingnya yang berlebihan. Tapi justru hal itulah yang membuatnya ingin segera menyelesaikan studi lalu kembali ke Jepang, menemui keluarga dan Ino-nya. Sendiri merantau di negeri orang tanpa didampingi yang terkasih memang membuatnya rindu. Tapi ia sangat bersyukur dengan kemajuan teknologi kini. Tentu karena dengan demikian, ia dapat menghubungi Ino dan keluarganya tanpa ada kesulitan.

Bukankah memang benar pepatah jauh di mata dekat di hati itu?

Setelah sekian lama Shikamaru menempuh studinya di Venice, tidak terasa musim dingin tiba. Ino berteriak kegirangan saat tahu salju pertama telah tiba. Malam harinya, seusai membereskan pekerjaannya dan pulang lebih awal, putri bungsu Yamanaka itu merogoh ponselnya, dan tanpa ragu menghubungi kekasihnya di ujung dunia sana. Berharap nanas kesayangannya pulang ke tempat seharusnya ia berada dan menghabiskan liburan musim dingin dan merayakan natal bersamanya—dan keluarganya tentu saja.

Namun sayang, jawaban yang dilontarkan Shikamaru tidak seperti yang dibayangkannya.

"Maaf Ino, kali ini aku tidak bisa pulang. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."

Ino mendadak lesu ketika mendengar jawaban dari seberang sana.

"Jadi kapan kau akan pulang, Shika?" Tanyanya lirih.

"Aku tidak tahu. Mungkin tahun depan?"

Gadis pirang itu mengentikan langkahnya.

"Dan itu artinya kita tidak merayakan natal bersama lagi tahu ini?"

"Sepertinya begitu," jawab Shikamaru disertai embusan napas berat.

"O-oh begitu haha ..." Ino tertawa garing.

"Ino ada beberapa urusan lagi yang harus kuselesaikan. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Sampai nanti."

Belum sempat berbicara lagi, Shikamaru telah memutus telponnya. Saat itu juga Ino sukses kecewa. Tapi apa mau dikata, ia tidak boleh egois karena itu demi kebaikan Shikamaru—dan demi kebaikannya juga.

Ino berjalan gontai menuju flat mungilnya. Dia sudah tidak tinggal lagi bersama orang tuanya dan kakak laki-lakinya—Deidara sejak berumur 17 tahun dengan alasan ingin mandiri yang tentu dengan mudah dipersilahkan oleh orang tuanya. Meski demikian, tidak jarang ia mampir menemui keluarganya karena kesepian. Terlebih ketika Shikamaru berangkat ke Venice, ia semakin kesepian.

Ia mengeratkan mantelnya ketika telah hampir sampai ke flatnya, dingin. Cuaca hari pertama musim dingin malam itu benar-benar tidak bersahabat. Ia berencana membuat secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh setibanya di flat.

Namun ia mendadak melupakan rencana awalnya ketika melihat seseorang berdiri di depan flatnya. Penasaran dengan orang yang terlihat tidak asing baginya, ia mempercepat langkahnya hingga akhirnya ia berdiri mematung tepat di depan flatnya saat ia temukan sosok yang sangat dirindukannya berdiri di sana, memberikan senyum terbaiknya.

Selama beberapa waktu Ino tidak mampu melakukan apapun selain menangis. Setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu.

"Shika—" gumamnya.

Sosok yang dikenalinya itu berjalan ke arahnya.

"—Shika pulang. Aku bertemu dengannya." Ino menutup mulutnya dengan tangannya yang gemetar. Ia bahkan tidak dapat bergerak dengan benar saat itu.

Shikamaru—sosok yang sedari tadi menunggu kedatangan gadis pirang itu di depan flatnya tanpa ragu merengkuh Ino ke pelukannya.

"Ini nyata," bisik Ino yang ternyata di dengar Shikamaru.

"Tentu ini nyata, mendokuse. Ini aku, Ino. Aku pulang." Shikamaru mengusap lembut kepala gadisnya.

"K-kau bilang tidak akan pulang! Kau bohong Shika! Kau menyebalkan!"

Tak mampu berkata, Ino terisak dalam pelukan Shikamaru.

"Maaf telah berbohong padamu tapi aku ingin memeberimu kejutan."

"Kejutanmu jelek tahu!" Ujar Ino yang kemudian tertawa.

Shikamaru melepaskan pelukannya.

"Jadi—mau membuatkanku omelette jamur? Aku sudah lapar."

Alih-alih dipersilahkan Ino masuk ke flatnya, ia malah mendapat jitakkan di kepalanya.

"Kenapa aku dipukul? Mendokuse!" Ujar Shikamaru sembari mengelus kepalanya yang sakit dijitak Ino.

"Datang-datang minta omelette jamur! Yang benar saja!"

"Bukankah biasanya begitu?"

Ino terkekeh. Ya, memang setiap Shikamaru pulang ke kampung halamannya, Ino selalu membuatkan omelette jamur kesukaannya.

"Jadi kau tidak mau membuatkan omelette jamur untuk tamu agungmu ini?" Tanya Shikamaru.

Yang ditanya memutar mata, "tunggu apalagi? Ayo masuk ke dalam! Kubuatkan omelette jamur dan kopi untuk tamu agung dari Italy!"

Shikamaru tersenyum seraya mengikuti Ino yang berjalan terlebih dahulu—masuk ke dalam flatnya.

"Aku pulang, Ino. Aku kembali," ucap Shikamaru setelah melangkahkan kakinya masuk ke dalam flat.

"Selamat datang lagi, Shikamaru," sambut Ino.

.

People says long distance relationship doesn't work, but love will find it ways

Meski jauh, percayalah bahwa cinta akan menemukan jalan untuk kembali.

.

Fin