Nisan di hadapannya telah menegakkan kepala dari seminggu lalu. Mata bocah itu sudah berbincang melalui luka, mempelajari bahasa rindu yang ribuan makna-nya, lantas memutuskan kehilangan tanpa menggenggam satu pun arti.
Ia benci pengertian mana pun, karena rindu adalah puisi yang dikutuk oleh kelemahan (dan bocah itu kuat, selama kesendirian bukan mengartikan kesepian)
"Semua akan pergi, karena kita ada untuk mempersembahkan nyawa kepada kematian." Omongan bocah dua belas tahun itu tajam, jernih, dan terlalu dewasa untuk seukuran anak-anak. Namun, kenyataan tidak akan berpaling sehingga realitas mengangguk dalam bisu.
"Aku mengetahui itu sejak awal, karena pernah melihat kematian adikku di depan mataku. Dan ini yang kedua kali."
Nada kalimatnya bukanlah penyesalan, sedu sedan atau kehilangan, melainkan tertuju pada kebencian yang mustahil terpahami oleh penjelasan–kalimat mana pun akan melupai, saking mendalamnya sebuah rasa hingga menghanyutkan kata-kata.
"Kita sama-sama menyadari itu, meskipun kamu menolak pendapatku mengenai hidup untuk mempersembahkan nyawa. Tetapi ..." Kedua tangannya mengepal erat sembari menggigit bibir. Sang bocah gemetar hebat sampai kakinya bertekuk lutut.
"Kenapa kamu mengatakan 'akan tetap tinggal di sisiku' ..."
"Ayah?"
Kenapa manusia bisa mengatakan hal sesombong itu dengan kerapuhan mereka?
Father isn't Hero He Just Stupid Person
Rate: T
Genre: Angst, family
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, feel ga sampe, alur kelamaan/kecepetan, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta diikutkan pada event "Odazai week 2019" di Tumblr.
Day 2: Scars/ Playfulness / Cop, criminal!AU
Gerimis menciptakan sendu lewat garis-garis air mata yang pelan membasuh perpisahan. Duka menyanyikan lagu sunyi mewarnai Pemakaman Umum Yokohama dengan kelabu, di mana mendung bersarang untuk mengelamkan tangis. Sementara para gagak di ranting pohon sakura, saling menukar kata lewat suara koak yang memperbincangkan bocah di bawah sana.
Bocah bernama Dazai Osamu dengan baju kumal, dan compang-camping di berbagai sisi. Mata kirinya dibebat perban, penuh memar di sekujur badan, tubuh kurus kering menonjolkan tulang, bekas rokok menghitamkan kulit, belum lagi luka gores yang memperburuk tampilannya.
"Aku melanggar perintah ayah, dan kembali pada mereka. Kouyou-san langsung menghajarku karena sembarangan kabur. Mori-san sangat bahagia bisa mengangkat rotan lagi."
Dazai tidak keliru ketika ia menyeringai, atau mengatakan ayah angkatnya itu sangat bahagia bisa mengangkat rotan. Tawa keras si Pak Tua sewaktu memukul punggungnya sampai berdarah, dilanjut mengguyurnya dengan air es, dan membiarkan ia kebasahan serta telanjang di kamar mandi satu jam telah mengenyangkan Dazai, walau perutnya kosong tiga hari.
"Tetapi kemanusiaan yang kamu berikan masih ada, ayah. Aku tidak membalaskan dendamku, meski pisau lipat yang kucuri darimu tersimpan di kantong."
Tangan kanannya merogoh pisau lipat yang dimaksud pada kantong sebelah kiri. Memperlihatkan benda tajam itu kepada nisan yang selalu saja, terasa menghangatkan kekosongan.
"Rasa kemanusiaan yang ayah berikan semakin membuatku membencimu. Padahal jika kamu tidak memungutku saat aku kabur dari rumah, semua akan berjalan sesuai rencana."
"Dan jika ayah tidak memayungi, melindungiku dari mereka bahkan mengulurkan tanganmu, aku bisa membunuh Kouyou-san dan Mori-san di gang tersebut."
Kekesalan tersebut menampar pipinya dengan nyata, namun Dazai tertahan supaya tidak melemparkan pisau lipat. Jika sosok yang ia panggil ayah itu masih hidup, Oda Sakunosuke pasti merengkuh kepalanya lantas membiarkan Dazai memukul-mukul. Punggung baret sang bocah akan dielus, sembari dia membisikkan sesuatu untuk menenangkan.
Kamu boleh marah, karena dirimu menganggap seseorang itu berharga sehingga cukup pantas untuk merasakan emosi darimu. Tetapi, jangan biarkan amarah menguasai hatimu, karena kamu akan kembali pada belas dendam.
"Bukankah secara tidak langsung ayah mengatakan dirimu berharga?" Nasihat itu telah ada sejak dua tahun lalu. Odasaku bahkan terang-terangan, meski ia baru seminggu bersama Dazai.
"Tetapi, mungkin ayah benar karena sebenci apa pun aku pada mereka, aku tidak menunjukkan emosi apa pun."
Hanya "mungkin" dan bukan pasti. Entah syarat apa yang pantas untuk mengukur berharga atau tidaknya seseorang, karena rasa kemanusiaan bukan si serba tahu melainkan hati.
Dazai menganggap seseorang berharga ketika kamu merasa sayang padanya, dengan ditunjukkan lewat kata-kata serta tindakan.
"Apakah seseorang yang mengembalikan rasa kemanusiaanku, membuatku memanggilmu 'ayah' sekaligus membencimu adalah seseorang yang berharga?"
Atau lebih tepatnya, apakah Dazai memang menyayangi Odasaku meski bocah itu kerap mengatakan hal-hal kejam, seperti mengatai ayahnya bodoh, naif, terlalu sabar dan pemaaf sehingga nanti bakalan hancur?
Seakan-akan dikutuk pula, omongannya menjadi kenyataan seminggu lalu–Odasaku dibunuh tepat di hadapan Dazai, oleh seorang teman yang berutang padanya, dan ketakutan jikalau ditagih seratus ribu yen suatu saat.
Benci adalah bentuk dari cinta yang tidak sempurna. Nanti juga sempurna kalau Dazai sudah mengerti cara mencintai dengan benar.
"Ya ampun~ Walaupun nanti aku memang dipungut, kuharap bukan orang sebodoh ayah yang terlalu optimis." Kesannya pilih-pilih memang. Namun, andaikata boleh Dazai menginginkan seseorang yang tidak memedulikannya secara personal, tetapi memiliki kebaikan berupa sandang, pangan serta papan.
"Bagiku ayah memang bodoh, kok. Apa lagi saat kamu bilang ingin membuatku menjadi manusia. Itu pertama kalinya aku tertawa~"
"Lebih lucunya lagi, ayah mengatakan sesuatu seperti menemaniku saat sedih atau senang. Sudah seperti drama picisan yang sering Kouyou-san tonton saja."
Namun, Dazai tahu pemenang kekonyolan itu adalah rasa kemanusiaan yang berhasil Odasaku beri. Niat tersebut membuktikan kehadirannya dengan kesungguhan hati, dan menjelmakan kenyataan yang mengerikan karena kini Dazai tahu cara tersenyum, menangis bahkan keduanya secara bersamaan.
"Bicara soal Kouyou-san, dia membenturkan kepalaku hari ini. Kupikir akan segera mati, darah yang keluar sangat banyak soalnya." Sudah kering saat Dazai mengelus keningnya. Beruntung bocah itu telanjur kabur, karena ibunya tersandung kaleng bir sewaktu kejar-kejaran.
"Mati seperti itu menyalahi aturanku. Ayah pasti tahu aku inginnya tanpa rasa sakit. Makanya kuputuskan untuk kabur, lalu sekalian mengunjungimu karena ..."
Apa, ya? Alasan-alasan itu bukanlah cerita klise, semacam berterima kasih atas dua tahun terakhir, telah mengembalikan kemanusiaan, sebatas bernostalgia ataupun bermonolog tanpa arti. Namun, keyakinan dalam langkahnya berani bilang, Odasaku masih memintal benang yang mewarnai kelingking mereka dengan merah takdir. Dazai bahkan bisa melihat jalinan itu mengikat jarinya, dan melilit nisan yang setia mendengarkan.
Kira-kira jika Odasaku menemukan kebingungannya ini, nasihat apa yang akan dia beri? Kebenciannya menjadi-jadi usai meloloskan segaris rindu yang menggenang, dan membentuk kolam mungil di mana pesawat kertas beterbangan untuk mengantarkan rasa kangen yang terbungkus dalam bulir-bulir kecil, sehingga berbaur dengan biru langit supaya didengarkan.
Mungkin bisa dikabulkan suatu hari nanti.
"Ayah mungkin bilang, 'kamu tidak selalu membutuhkan alasan untuk melakukan sesuatu'. Karena itu aku akan menjawab entahlah~"
"Ternyata saat meniru ayah menasihatiku, rasanya jauh lebih mengerikan dibandingkan pecutan rotan atau Kouyou-san yang melempar barang." Perlahan Dazai mendekat. Lututnya dibiarkan sakit, kotor, dan pegal karena sekarang, dia hanya ingin memeluk nisan tersebut.
"Odasaku Sakunosuke adalah yang paling mengerikan karena kebodohanmu itu! Jika kamu membiarkanku membunuh mereka, hidupku pasti lebih tenang karena penjara memang bukan tempat untuk manusia!"
Umurmu masih sepuluh tahun. Lagi pula ada banyak hal yang lebih menyenangkan di luar sini, dibandingkan di penjara.
"Sekarang aku menjadi lemah! Bagaimana cara ayah bertanggung jawab atas beban yang kamu berikan padaku?"
Entah secepat apa lari sebuah tangisan. Air mata tahu-tahu menjernihkan jutaan kristal, dan meleleh walau jatuhnya tidak membuat nisan itu ingin membangkitkan kepergian. Sedu sedan pertamanya ini sangat keras–terlalu kencang sampai menulikan pendengarannya yang gagal mengetahui, tangisnya membentuk rupa sejenis apa.
"Memangnya boleh langsung pergi begitu saja? Kamu ... benar-benar mengerikan. Aku jadi semakin benci karena sempat rindu."
Hal sebesar ini harus diapakan? Menjaga dengan cara yang bagaimana agar tangisan itu masih miliknya? Matematika dan sains yang Dazai pelajari dari memungut buku bekas menjadi sampah seperti kata Kouyou. Rumus hafalannya, soal-soal yang ia kerjakan, pengetahuan umum, semua itu bukan rasa kemanusiaan, dan kepastian mereka adalah angka-angka–sementara kehidupan tidak terbatas pada satu sampai sekian miliar.
Dazai benar-benar suka belajar, ya. Bagaimana kalau pergi ke sekolah? Kamu bisa punya teman.
Sekolah hanya untuk anak kecil.
Kamu tidak harus bertingkah, dan berbicara seperti orang dewasa agar merasa aman. Lagi pula ada ayah yang melindungimu sekarang, tidak apa-apa untuk bertindak menjadi anak kecil.
"Tetapi aku ... aku mau digandeng ayah lagi ... pergi ke sekolah, mencari teman, pulangnya makan sup kepiting, mengerjakan PR, lalu ... aku juga mau minta maaf sama Chuuya karena menggunting buku catatannya."
Bertengkar lagi dengan Tachihara? Bekas lukamu jadi semakin banyak kalau begini.
Terus kenapa? Mori-san saja tidak pernah peduli.
Ayah sedih melihatnya, karena rasa sakitmu jadi tertinggal di bekas lukamu.
"Ada bekas luka yang lebih parah dari itu, ayah ... aku kembali pada Mori-san dan Kouyou-san bukan karena memaafkan mereka. Aku pulang ke sana karena berpikir, ayah akan kembali jika diriku sama seperti dua tahun lalu, saat ditemukan olehmu."
Lubang yang Odasaku tinggalkan terlalu besar untuk diisi air matanya. Bekas luka itu menganga lebar, memiliki warna hitam yang seram, dan seolah-olah hendak menerkam Dazai apabila melemah.
"Katanya ayah akan selalu berada di sisiku, kan? Makanya kembalilah ke sini! Tepati janjimu ..." Aku tidak ingin memahami kematianmu. Menjadi bodoh juga bukan masalah, selama aku adalah anak kecil yang ayah sayangi.
Terkadang, harapannya sekadar berceloteh mengenai keinginan untuk menjadi anak kecil yang normal -bisa tidak paham tanpa berpura-pura, serta jujur dalam berkata-kata. Dazai benci menjadi jenius maupun berlagak dewasa. Pemahamannya terlalu melangkahi batas, dan pengertian-pengertian itu hanya menggugurkan rasa kemanusiaan yang lemah, karena pada akhirnya Dazai memang anak-anak yang mengingini aman dalam nyaman.
Selama akal masih melabuhkan pilihannya kepada manusia, Dazai bisa mempelajari matematika, dan sains tanpa perlu menjadi jenius. Asalkan ayah menemani dia mengerjakan PR, membantu belajar dengan membawakan camilan, menanyakan materi pelajarannya–semua itu sangatlah cukup, karena pintar tanpa berbahagia lebih menyiksa, ketimbang bodoh tetapi penuh rasa sayang.
"Hari ini biarkan aku tidur bersamamu, ya? Nanti hujannya juga berhenti. Jadi, ayah tidak perlu khawatir."
Bahkan setelah menjadi dewasa, dunia selalu sekecil itu tanpa seorang ayah yang mengangkatnya, dan mengatakan 'kamulah yang terbaik'.
Tamat.
A/N: Langsung aja ya. Fic ini rencananya bakal aku bikin versi chapter beberapa waktu ke depan (ga tau kapan, jangan ditagih). jadi anggap aja ini versi mungilnya hehehe~ dan konsepku di sini adalah bikin dazai jadi anak kecil yang sok berlagak dewasa demi melindungi diri, karena meskipun ini hanya gambaran sekilas kouyou ama mori di sini kubikin jahat (tapi kurang jahat ya gaes, dazai nya kurang menderita nih).
Terus spesial thx banget buat zian~ berkatmu ku jadi sadar ternyata chapter 1-ku ada kalimat rumpang. aku juga minta maaf buat yang sebelumnya udah baca. enggak ngeh asli :( makanya fic nya ku delete lagi terus sekalian publish chapter 2 wkwkw. Thx buat yang udah baca, follow/fav, review ataupun sekedar lewat, aku menghargai apa pun yang kalian berikan padaku~ see you in day 3!
Balasan review:
Peanut: salim ga nih? hehehe, atau langsung peluk aja ya? entar dazai nya dipeluk pas pulang dari makam ya, kasian dia jadi gila :) soal itu tenang kok, aku bakal tetep nulis meski maafkan kalo dari day 1-7 bakalan kacau hehehedia belum nemu tujuannya. thx udah review ya. semangat bikin chapter 7-nya, ayo tembus 2k.
