Shingeki no Kyojin/Attack on Titan

Hajime Isayama

The Beginning

Chapter 2: Au

"Eren."

"Hm?"

"Apa kau sudah selesai?"

"Su-sudah!"

Eren dan Mikasa sedang sibuk mencari kayu bakar di hutan yang ada di Disktrik Shingashina. Kayu-kayu ini akan digunakan untuk memasak. Eren mengikat kayu bakar yang sudah dikumpulkan di tas yang dibuat khusus untuk menampung hasil kayu bakar.

"Kau sudah selesai?" Eren membalikkan badan menatap Mikasa yang ada di belakangnya.

"Sudah," jawab Mikasa dengan setumpuk penuh kayu bakan di punggungnya.

Eren menelan ludah. Kayu yang ia kumpulkan saja hanya setengah dari yang Mikasa kumpulkan. Nyatanya, Mikasa lebih kuat dibanding dirinya.

"Ya sudah, ayo kita pulang."

Eren dan Mikasa berjalan berdampingan keluar dari hutan. Di depan sana ada pemandangan kota yang berbatasan langsung dengan tembok yang sangat tinggi dan besar. Itu adalah Wall Maria.

Umat manusia hidup di dalam tembok selama 100 tahun lamanya. Tembok ini melindungi mereka dari makhluk yang merupakan ancaman terbesar umat manusia kini. Raksasa. Entah dari mana asalnya, raksasa tiba-tiba muncul di bumi dan memulai teror bagi umat manusia. Mereka seperti manusia namun berbadan besar dan tidak memiliki akal. Namun, para raksasa memakan manusia. Sejak kemunculan raksasa, para manusia yang selamat membangun tembok raksasa ini untuk berlindung dari para titan.

Sudah 100 tahun setelah tembok dibangun. Dan sejak saat itu manusia bebas dari ancaman raksasa. Paling tidak, itulah yang manusia pikirkan sampai detik ini.

Keluar dari hutan, Eren dan Mikasa menyusuri rumah-rumah penduduk yang terbuat dari batu dan kayu. Rumah-rumah di Distrik Shingashina begitu sederhana karena kebanyakan penduduk yang tinggal di distrik ini adalah orang biasa. Karena itulah mereka tinggal di wilayah yang paling dekat dengan tembok.

Ada banyak orang yang berlalu-lalang di kota. Para penjual makanan, ibu-ibu yang sedang mengobrol, serta para pasukan penjaga tembok.

Di belokan menuju rumahnya, Eren melihat seorang anak laki-laki dengan rambut pirang sebahu yang sedang dipukuli oleh anak-anak yang lebih besar darinya.

"Huh, dasar lemah!"

"Kalau lemah begini tidak usah berkata yang aneh-aneh!"

"Anak payah! Pecundang!"

Ketiga anak itu terus memukul dan menendang si Anak Pirang sambil mengejaknya. Eren mengambil sebatang kayu yang ia kumpulkan tadi di hutan dan berlari ke arah anak-anak pengganggu.

"Hey, kalian! Hentikan!"

Anak-anak pengganggu berhenti memukuli si Anak Pirang dan melihat Eren yang berlari ke arah mereka.

"Wah, itu Eren!"

"Dasar anak bodoh. Tidak kapok juga sudah kita hajar."

"Dia memang minta dihajar, sih!"

Eren mengarahkan kayunya ke arah anak dengan rambut rancung. Sayanganya, kayu itu diambil oleh temannya yang lain. Eren berusaha memukul para anak pengganggu dengan tangannya, walau tubuhnya memang lebih kecil dibanding mereka.

Kebalikannya, justru Eren yang malah dipukul oleh anak-anak pengganggu itu. Tidak kapok, Eren balas memukul dan menendangnya lagi. Anak pengganggu itu balas memukul sampai Eren jatuh tersungkur ke atas tanah sampai kayu yang ia bawa jadi berantakan.

"Hahaha, payah kau Eren!"

"Hentikan." Mikasa berdiri di depan para anak pengganggu dengan mata tajam.

Para anak pengganggu itu berhenti melancarkan serangan mereka kepada Eren. Mata mereka memandang remeh Mikasa yang lebih pendek dibanding mereka.

"Siapa kau? Aku tidak pernah melihat kau di sini."

"Hahaha Eren memang pantas dibalas anak perempuan!"

"Jangan sampai aku memukulmu, ya, anak pe—"

Sebuah tinju keras mendarat di perut sia anak pengganggu sampai jatuh tersungkur di sebelah Eren. Eren yang sedang menahan rasa sakitnya menatap Mikasa kaget. Begitu pula dengan teman-teman anak pengganggu.

"Si-sialan kau!"

Berbagai pukulan ditujukan kepada Mikasa. Tetapi, Mikasa berhasil menghindarinya dan justru menjatuhkan mereka sekaligus. Ketiga anak itu memandang Mikasa dengan gemetar dan ketakutan.

Eren berusaha berdiri sambil memegangi pipinya yang lebam. "Bagus ... Mikasa."

Mikasa berdiri tegap di depan ketiga anak itu dengan syal merahnya yang berkibar tertiup angin. "Jangan pernah mengganggu Eren lagi."

Sekejap, ketiga anak itu langsung lari terbirit-birit. "Kami tidak akan melupakan ini MIKASA!"

Si anak pirang yang jatuh terduduk di sisi jalan yang lain memandang takjub sekaligus heran kepada Mikasa. Ia takjub karena kekuatan Mikasa, walau ia seorang perempuan dan badannya kecil. Ia juga heran dengan siapa Mikasa itu.

Mikasa mendekati Eren dan menjulurkan tangannya untuk membantu Eren berdiri, tapi Eren menolaknya dan berdiri dengan tangannya sendiri. Eren mendekati si anak pirang yang sudah berdiri memandang bingung dan heran ke arah Mikasa.

"Kau baik-baik saja, Armin?"

Armin, anak berambut pirang, mengangguk. "Dia ... siapa?" jari telunjuknya mengarah kepada gadis dengan syal merah tanpa ekspresi yang berhasil mengalahkan tiga anak laki-laki yang lebih besar darinya seorang diri.

"Err ... Ini Mikasa Ackerman. Sekarang, dia tinggal dengan keluargaku," ucap Eren mengenalkan Mikasa. "Dan Mikasa ... Ini Armin Arlet, temanku."

"Salam kenal," Armin mengangguk ke arah Mikasa.

"Salam kenal juga," balas Mikasa. "Eren, kau terluka. Aku harus mengobatimu."

Eren mendengus. "Sial, aku tidak bisa pulang seperti ini. Ibu pasti mengomeliku," gerutu Eren.

Mikasa berjongkok dan memunguti kayu bakar Eren yang berserakan. "Tapi, kita harus segera pulang. Ibu menunggu kita untuk makan malam."

"Setidaknya, lebih baik kau mencuci mukamu dulu, Eren," usul Armin.

"Benar juga."

Selagi Eren mencuci mukanya, Armin membantu Mikasa memunguti kayu bakar yang berserakan dan menyusunnya kembali.

"Mikasa."

"Apa?"

"Mengapa kau tinggal dengan Eren? Apa kau saudaranya?"

"Bukan."

"Lalu?"

Berat bagi Mikasa untuk menjawab pertanyaan Armin. Ia tidak ingin mengingat lagi hal itu. Setidaknya, sekarang ia punya hal untuk dilindungi. Ia tidak mau menyesal seperti dahulu. Sekarang, ia akan melindungi keluarga barunya.

"Aku ... aku kehilangan keluargaku." Akhirnya Mikasa menjawab.

Badan Armin berhenti bergerak untuk sejenak. "M-maafkan aku."

"Tak apa."

Eren kembali dengan wajah basah namun bajunya tampak kotor karena jatuh ke tanah tadi. "Eren, kau tampak mengerikan," komentar Armin.

"Huh? Sudahlah. Ibu pasti mengomeliku."

"Eren, ayo pulang."

Eren mengambil kayu bakarnya yang sudah tersusun rapi. "Baiklah, Armin. Kami harus pergi. Sampai jumpa."

First fanfic made by me

Biasanya bikin pake original chara

Maaf kalau banyak kesalahan karena Miyuki tidak sempurna T^T

Terimakasih yang sempet read, follow, dan favorite. Review-nya juga boleh ^^