Akhirnya selesai juga chapter ini. Maaf membuat kalian semua menunggu.

Rin : Lama sekali, aku dan Len bosan menunggu.

Iya iya, maaf.

Len : Lain kali cepat dikit!

Iya iya! Ku usahakan.

Disclaimer : Vocaloid bukan milikku. Tapi cerita ini adalah milikku.


Chapter 2 : Anak ini Kelewat Polos

Aku membalikkan badanku di atas kasurku yang empuk dan hangat. Anehnya, makin lama, aku makin hangat saja. Aku beringsur mendekati sumber hangatku itu, tepat di sebelah posisi tidurku, sampai sumber hangat itu memeluk diriku. Aku balas memeluk sumber hangatku itu, tanpa memedulikan kejanggalan apapun. Dan tidak lama, sumber hangat atau apapun itu bergerak...

Eh...? Aku membuka mataku dan terbelalak. Aku berbaring berhadapan dengan seseorang. Rambut pirang berantakannya menutupi bantalku dan wajah imut seorang malaikat. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut. Yang mengangetkanku adalah bahwa seseorang itu adalah cowok. Anak cowok tidur denganku. Tidur. Sama-sama. Satu kasur. Semalan aku tidak melakukan 'itu' dengan dia kan? Siapapun dia itu. Oh tidak, semoga saja tidak. Harga diriku akan hancur kalau aku melakukannya dengan anak cowok yang tidak ku kenal. Aku baru 15 tahun. Gimana kalau aku hamil?

Kembali dari alam pikiran Rin yang ajaib, lebih tepatnya berantakan sih, aku tersadar aku masih memeluk dia. Capat-cepat aku dorong dia menjauh dari aku, moga-moga saja dia jatuh dan bukan aku. Sialnya aku men-jinx kan perkataanku, bukan dia yang jatuh melainkan aku. Terkutuk juga kasurku yang kecil. Belikan aku kasur besar sedikit juga kali? Aku mengerang kesakitan saat kepalaku bersentuhan dengan lantai kayu.

"Ouch" aku meraba-raba kepalaku yang berdenyut-denyut. Ini benar-benar bukan cara bangun pagi yang bagus. Bukannya segar, aku malah stress sendiri. Coba saja kalau kau yang jadi aku. Menemukan cowok tidur sekasur dengan mu, mendorongnya, malah kau yang jatuh, dan kepalamu terbentur. pasti kesalkan, dan ini yang kurasakan. Untung saja aku masih mengantuk dan tidak terlalu fokus. Kalau tidak sudah ku panggang dia hidup-hidpu atau ku tenggelamkan dia dengan sihirku.

Aku mengamati badanku lewat cermin lemariku, untung juga aku mendarat di depan lemari. Aman, hanya itu yang bisa kupikirkan sekarang ini. Aku masih menggunakan piyama tanpa kekurangan pakaian satu pun. Berarti aku tidak melakukan apapun dengan dia semalam... atau iya? Bisa saja kan aku pakai baju setelah melakukan 'itu'? Tubuhku terasa sangat pegal, apalagi di bagian kaki dan pinggang, dan aku baru menyadari hal tersebut. Mulutku juga terassa sangat kering dn susah mengeluarkan suara, seakan habis berteriak sangat keras. Dan aku ada kantong mata, yang sangat jarang di dapati.

"Siapapun yang tisur di atas kasurku akan maati..." geramku kesal. Mataku berapi-rapi dengan amarah yang tidak dapat ku jelaskan. Akan ku siksa dia pelan-pelan sampai aku puas. Mungkin membakar dia sedikit sedikit atau menenggelamkannya pelan-pelan. ungkin juga cari cara lain. Tanpa sihir mungkin? Mungkin dengan senjata atau sejenis. Yang pasti tidak akan ku biarkan dia bebas. Oh... Betapa sadisnya diriku ini.

Aku terkekeh-kekeh dengan tidak elitnya seperti orang gila. Saking terfokus pada pikiranku sendiri bagaimana menyiksa dia, aku tidak menyadari cowok pirang itu sudah bangun dan sekarang berada tepat di depan wajahku. "Kya!" teriakku kaget. Mengangetkan semua burung-burung di luar, kucing dia tas atap rumah orang, serta orang yang masih tidur. Jadi secara singkat saja, aku mengangetkan semua makhluk hidup.

Itulah pagi hariku saat hari libur. Mungkin setiap hari juga, setelah Yuuma sensei menitip seorang cowok untuk tinggal bersamaku entah sampai kapan.


Pagi hari di hari yang sama.

Sekarang aku sedang duduk berhadapan di meja dengan Len, cowok tadi, sambil menikmati sarapan. Simpel aja, pancake dengan saus maple. Enak sih enak, makanan buatan sendiri, tapi aku tidak nafsu makan. Kejadian tadi pagi masih membekas di pikiranku. Lihat saja, Len, malah lahap memakan pancake nya, sampai belepotan di meja. Anak ini seperti anak kecil saja. Penampilan keren, tapi sikap seperti... gitu.

"Rin tidak makan?" Aku mendongak melihat Len yang dengan polosnya menatapku yang sedang memainkan garpu. Raut wajahnya hanya menampakkan keinginketahuan, tanpa ada sedikit penyesalan sekalipun. Tanpa sadar, genggaman aku pada garpuku menguat, sampai membengkokkan garpu malang itu, apa dia tidak sadar kalau tidur satu kasur dengan cewek yang belum kau kenal itu haram? "Rin.. Marah?" Eh...?

Mataku melotot ke arah Len. Lihatlah dia, dengan imut nya memiringkan kepalanya, gemas sekali. Ingin ku cubit dia rasanya. Tetap tidak ada perasaan bersalah di tampangnya, polos sekali. "Rin marah sama Len?" Plus dia memanggil dirinya sendiri menggunakan nama nya. Bentar bentar bentar. Aku melenceng. Kenapa aku malah membicarakan perilakunya? Salah fokus, salah fokus! Aku harusnya memikirkan jawaban atas pertanyaan Len. Apa aku kesal? Iya. Tapi apakah aku marah sama dia? Aku tidak tahu. Rasanya salah saja memarahi dia, seperti dia itu anak kecil yang berbuat tanpa mengetahui apa-apa.

Kami hanya diam. Aku diam karena malas menganggapi dan Len diam menunggu jawabna dariku. Tiba-tiba saja suasana jadi canggung seperti ini. Aku menghela nafas. Tidak akan ada orang yang angkat bicara, maka aku saja. "Aku tidak marah," jawabku singkat. "Er... Wajah Rin.. em... kesal?" balas Len. Dia menyadarinya. Itu antara aku yang memang terlihat kesal dengan jelas atau Len memang pengamat yang baik. Aku masih kesal, sangat kesal malahan. Kejadian tadi pagi tidak bisa dilewati begitu saja. Harus ada penjelasan. Dan pasnya, pelakunya ada di depanku, sedang meminta perhatianku.

Len tidak nyaman dengan tatapan mataku yang ingin membunuhnya. "Len salah?" Akhirnya dia mengetahui kesalahannya. Tinggal tunggu saja dan dia pasti akan meminta maaf sambil berlutut. Memohon ampun terus. Lalu dia akan menjadi pelayanku dan dia akan membantuku menguasai dunia ini dengan kehebatanku. Dan aku malah berpikiran tidak jelas seperti tadi. Pikiranku ini memang hebat sekali. Jadi lupakan saja apa yang kukatakan tadi kecuali bagian Len akan minta maaf kepadaku. "Salah apa?" Masalahnya... Anak itu, Len, tidak menyadari kesalahannya dan malah bertanya kepadaku. Oke, sekarang saat nya memberi dia pelajaran.

Aku bangkit berdiri dan menghampiri Len yang masih menatapku dengan polos, seperti tidak bersalah sama sekali. "Begini Len," aku memulai. "Tadi pagi, kau itu tidur sekasur dengan ku. Tanpa izin dariku. Asal tahu saja, cewek tidak tidur dengan cowok sembarangan. Bilang saja kalau itu dilarang. Kecuali mereka menikah atau apalah istilahnya. Untung saja kita hanya tidur, tidak melakukan apapun yang bisa membuat kita menyesal. Mengerti?" Aku memberi penekanan di kata 'mengerti' di akhir penjelasan. Moga-moga saja dia mengerti dan tidak bertanya yang aneh-aneh.

Dia ingin membantah. Dia sedang memikirkan sesuatu. "Tidur berdua salah? Yuuma dan Haku tidur bersama. Tidak salah," Anak ini... pikirku geram. Dia masih mau membalas. Walau begitu, mendengar Yuuma sensei dan Haku-san tidur bersama itu mengejutkanku, rumor mengatakan kalau mereka itu pasangan, dan bagaimana Len bisa tahu hal itu. Aku belum kenal dia, tapi pasti dia tidak berbohong. "I-itu... Aku juga tidak tahu..." Aku menyerah saja. Sebelum dia mulai bertanya lagi. Aku mau mandi dan menghabiskan waktuku melatih sihirku. Aku harus menjadi yang terkuat.

"'Melakukan apapun yang bisa membuat kita menyesal' apa? Len tidak mengerti," Hampir saja aku terpeleset saat pergi mendengar pertanyaannya. Anak ini kelewat polos atau memang tidak mengerti? Dipikir-pikir... Apa perbedaan kedua pertanyaanku tadi juga.

Susah sekali lah hidup ku tinggal dengan orang itu. Kalau saja bukan Yuuma sensei yang menyuruhku, sudah pasti ku tendang bokong Len keluar dari rumahku.


"Ah... Segarnya!" aku berseru nyaring sambil meregangkan tubuh. Sehabis mandi memang membuat tubuhmu menjadi lebih refresh. Pikiranku yang awalnya kalang kabut akhirnya lancar juga. Pikiran tentang Len sudah kubuang jauh-jauh. Sekarang hanya ada tentang aku dan bagaimana caraku melatih kekuatan sihirku agar menjadi lebiih kuat. Dan tidak ada yang bisa mengangguku lagi.

Kalau ada yang berniat menganggu hari ini... aku terkekeh pelan, akan kubakar dia, lalu, ku basahi dan kubakar sampai seterusnya... Aku memang agak sadis jadi jangan kaget mendengar/membaca isi pikiranku saat aku sedang tidak mood.

Setelah berganti pakaian yang lebih santai, kaus putih dengan celana training merah, aku menuju halaman belakang rumahku, yang tergolong sangat luas. Tidak banyak tumbuhan di sini, hanya ada beberapa pohon di ujung halaman dengan satu kolam kecil. Dari dulu tempat ini dijadikan tempat untuk berlatih kekuatan sihir. Karena kekuatan ayahku adalah api, ibuku berusaha meminimaliskan kerusakan atau barang yang mudah terbakar, jadi tidak ada banyak pohon atau semak-semak. Sementara kolam kecil itu adalah untuk ibu melatih sihir airnya. Dia bisa saja mengeluarkan air menggunakan sihirnya, tapi lebih gampang jika sudah ada air di sekitar.

Tanpa sadar aku sudah sampai ke belakang saat berada di akhir penjelasan singkat tentang halaman belakang rumahku. Halamannya sama persis seperti minggu lalu saat aku berlatih. Saat latihan, aku tidak segan-segan mengeluarkan semua kemampuanku. Tidak ada yang bisa ku jadikan sasaran tembak, aku menembak pohon, tanah, ke arah langit atau/dan rumah tetanggaku. Dia jelas sekali tidak senang rumahnya hangus sebelah akibat ulahku. Singkat cerita saja, halaman belakangku hancur berantakan. Pohon hangus dan tanah berlubang. Bukan pemandangan yang enak.

Tentu saja aku tidak peduli. Aku melangkah ke tengah, memerhatikan sekeliling. Tidak ada orang, bagus. Entah kenapa, aku tidak suka kalau ada orang yang melihat aku berlatih. Mungkin saja gara-gara aku tidak mau ada orang yang tahu tentang kemampuan ku secara keseluruhan.

Aku memulai latihan dengan melakukan beberapa sihir sederhana. "Water Magic:Water Bullets!" Selusin gumpalan air muncul di sekitarku, seketika itu, 12 gumpalan air itu ku tembakkan ke arah salah satu pohon jauh di ujung dengan kecepatan tinggi. Pohon tersebut berlubang kemudian roboh. Water Bullets memang sihir sederhana,tapi kalau penggunanya pandai, airnya bisa setajam pisau yang baru diasah, mengiris apa saja. Kalau tidak pandai, palingan seperti di ciprat air biasa, tidak ada sakitnya. Ini masih permulaan dan hanya sihir airku, belum sihir api. Lanjut.

"Fire Magic:Fire Balls!" Dua api biru muncul di kedua telapak tanganku, ku lemparkan sembarangan arah, dan semoga saja tidak mengenai rumah sebelah. Untungnya saja, api nya hanya mengenai bebatuan dekat kolam, tidak ada yang terbakar. Ini sihir tersimpel. Hampir semua pemula bisa menggunakan sihir ini. Sakit atau tidak semua tergantung dari kekuatan perapalnya. Kekuatannya bisa dilihat dari warna api. Api warna kuning atau orange itu api lemah, untuk pengguna sihir api dan air, sama sekali tidak sakit, hanya terasa agak hangat.

Yang kedua warna merah, hampir semua pengguna sihir api memiliki warna api merah. Api ini lebih panas, kira-kira sepanas api biasa atau lebih. Bagaimana aku tahu apinya sepanas api biasa? Jawabannya gampang. Aku pernah memasukkan tanganku ke dalam api. Tanganku tidak terbakar, apalagi terluka. Aku sudah melapisi tanganku dengan sihir apa. Jadi aku hanya bisa merasakan panasnya. Enggak panas-panas amat sih, mungkin sekitar 50 sampai 60 derajat Celcius. Panas? Bagiku engggak, sudah biasa.

Ketiga, seperti apiku tadi, warnanya biru. Pengguna sihir api tingkat tinggi semuanya memiliki warna api ini. Panasnya kira-kira seperti api kompor. Api kompor kan warnanya biru juga. Karena tidak pernah mencoba merasakan panasnya, aku tidak tahu sepanas apa, hanya mengira-ngira. Bagi yang memberitahu rasanya, aku dengan senang hati menembakkannya ke arah kalian, kemudian memberitahuku.

Dan yang terakhir adalah api putih atau hitam. Kedua api tersebut merupakan yang terpanas dan terkuat. Saking panasnya, baja saja bisa meleleh, seperti memotong mentega dengan pisau. Ada rumor juga yang mengatakan kalau api hitam tidak bisa padam, meskipun sudah disirami air banyak-banyak. Hanya akan padam kalau penggunanya yang memadamkannya. Walau begitu, tidak ada yang mengetahui secara pasti, karena di era ini, era damai, tidak ada yang melihat seorang Mage api putih atau hitam.

"Pemanasan selesai..." gumamku. Aku melemaskan seluruh badanku, bersiap-siap untuk merapalkan sihir yang lebih susah daripada yang tadi. Aku menutup mata dan mengambil nafas yang banyak. Butuh konsentrasi yang tinggi agar bisa memunculkan sihir tingkat tinggi, aku tidak mau sihirku meledak tepat di wajahku saat masih diproses. Jujur saja, aku pernah mengalaminya gara-gara ada iseng menggangguku saat latihan. Tentu saja yang iseng langsung ku panggang dia hidup-hidup danharus masuk rumah sakit selama beberapa hari. Tetap saja, pengalaman tersebut sangat tidak enak.

Ku buka mataku, pandangan fokus ke depan. Dengan suara yang kecil, tapi jelas dan lantang aku merapalkan sihir berikutnya, "Fire Magic:Blazing Wheel" Sebuah bola api kecil muncul di telapak tanganku, perlahan membesar terus dan berubah menyerupai setir mobil. Aku tetap berkonsentrasi, memfokuskan semua pikiranku agar sihir ini berhasil. Aku tersenyum senang ketika apiku sudah sebesar bola basket, agak lebih besar sedikit aku rasa. Segera saja, aku melempar 'setir mobil' api yang baru kubuat.

Senyumku mengembang melihat api ku tidak padam, aku memfokuskan pikiran lagi untuk membuat apiku tambah panas dan berhasil. Berhasil, sihir yang kubuat sendiri akhirnya bisa aku kuasai. Konsepnya sederhana, ysitu seperti bumerang. Saat mencapai satu titik tertentu, akan secara otomatis kembali ke arahku dan aku bisa menangkapnya kembali. Kalau konsentrasiku tidak pecah, aku bisa melakukan sihir ini terus.

Sepertinya apiku sudah mencapai titik tersebut, aku melihat seberapa jauh sihirku bisa capai, 30 meter, oke juga lah. Segera saja, apiku berputar kembali ke arahku, aku sudah bersiap-siap untuk mengambil api tersebut, sampai suara di belakang mengejutkanku. Apa aku sudah memberitahu apa yang terjadi kalau aku kehilangan konsentrasi? Belum? Akan kujelaskan. Singkatnya, karena api yang terkumpul sangat kuat tekanannya, aku harus bisa mengontrolnya agar tidak lepas kendali. Kalau konsentrasiku hilang, tekanan yang terkumpul akan lepas dan 'BUM!'

Itulah yang terjadi sekarang ini. Fokusku semerta-merta hilang dan sihirku sudah siap meledak tanpa bisa kuhentikan. Dengan cepat aku melangkah ke samping dan membiarkan 'Blazing Wheel' ku melintas. Dan suara 'BUM!' keras menggemparkan suasana tenang. Burung berkicau pergi dan aku menyadari beberapa tetanggaku mencoba mencari asal suara ledakan keras tadi, karena mengejutkan mereka. Tidak terkecuali aku, tapi dengan alasan yang berbeda.

"Menghindar gooblok!" teriakku panik kepada orang yang mengejutkanku tadi. Siapa lagi kalau bukan Len. Dia pasti sedang mengelilingi rumah dan tidak sengaja melihatku di sini. Timing nya sangat buruk sekali, dia berada di lintasan sihirku dan dia sepertinya tidak akan sempat menghindar. Walaupun aku berlari secepat mungkin, aku tetap tidak akan mencapainya tepat waktu. Aku memejamkan mata kala mendengar ledakan.

Pelan-pelan ku buka mata, mengira akan melihat Len berbaring tidak bernyawa dan terpanggang di tanah. "Len!" Aku berlari ke arah tempat dia berdiri tadi. Rasa panik menikamku seperti pedang, kalau dia sampai meninggal aku yang akan di salahkan. Asap hitam beserta debu menganggu penglihatanku, aku mengumpat dalam hati. "Wind Magic:Gust," Walaupun angin bukan sihirku, aku bisa memakainya, asalkan sihir sederhana saja. Embusan angin membawa asap pergi. Sekarang, aku bisa melihat dengan jelas. "Oh Tuhan!" pekik ku tidak percaya.

Di hadapanku adalah Len yang masih berdiri tegak tanpa ada sedikit luka di tubuhnya. Dia masih dengan polosnya bertanya, "Ada apa?"

Aku tidak mempercayai apa yang baru saja kulihat. Tidak mungkin dia selamat dari ledakan sebesar itu dari jarak yang sangat dekat. Dia juga tidak akan sempat mengucapkan satupun sihir pelindung yang kuat, dengan waktu sependek itu. Tapi, dia masih berdiri di depanku, tidak terluka. Aku sepertinya kena serangan jantung karena terlalu kaget.

Sepertinya benar karena aku merasakan duniaku menghitam dan tubuhku yang terjatuh menghantam tanah.


Aku sempat bertanya-tanya, kenapa setiap kali aku tidur, aku akan selalu memimpikan orang yang sama. Hanya tadi malam aku bisa tidur tanpa mimpi. Sekarang juga tidak menjadi pengecualian.

Gelap. Hanya itu yang dapat kulihat sekarang. Tidak bisa melihat pun aku tahu aku sedang mengamati anak itu, anak yang selalu muncul di dalam mimpiku. Semakin lama menunggu, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Di mana ini? Kenapa aku ada di sini? Dan tidak ada yang menjawabnya. Hanya ada aku dan suara nafas seseorang. Huh? Nafas seseorang?

Tiba-tiba saja, cahaya datang menghampiri dan menyinari semuanya. Walaupun ini hanya mimpi, aku tetap harus menutup mata karena silau.

"Bagaimana keadaannya?" Aku menoleh ke arah suara tadi. Di sebelahku adalah seorang wanita, orang yang sama seperti yang kulihat di mimpi sebelumnya, sedang berbicara lewat telepon. Seperti biasa, aku tidak dapat melihat wajah semua orang yang ada di sini. Hanya wajah anak cowok itu yang dapat ku lihat, yang sekarang ini sedang tertidur dengan nyenyaknya di samping wanita tersebut. Perhatianku hanya terfokus pada anak itu. Suara percakapan wanita itu dengan orang di balik telepon hanya menjadi suara latar belakang yang menganggu saja.

"Sudah siap? Baik. Segera dilaksanakan. Akan ku bawa anak itu sekarang. Jangan sampai membuat dia menunggu terus. Oke, akan kututup sekarang," Entah kenapa, aku malah mendengarkan permbicaraan satu arah itu. Dia pasti mengecilkan volume suara telepon agar tidak menganggu anak yang sedang tidur itu. Tapi itu malah membuatku penasaran. Apa yang akan mereka lakukan? Ke mana mereka-"Kemana kita akan pergi?"

Anak itu sudah bangun, wanita itu sudah membangunkan nya dan siap untuk pergi dari tempat ini. Dia terus berjalan cepat, tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan ke dia. Sementara itu, aku berjalan di belakang mereka, mengikuti ke mana pun mereka pergi. Melewati lorong kotor, tanah bertebaran di sana sini, dengan banyak pintu di kanan kiri.

Tidak ada orang kecuali mereka, aku baru menyadari hal tersebut. Mereka terus berjalan melewati banyak nya pintu, terus lurus. Akhirnya mereka berhenti, di hadapan mereka adalah sebuah pintu besi. Aku mendengar wanita itu menggumamkan sebuah sihir, tapi aku tidak tahu sihir apa yang dia pakai. Pintu besi itu seketika terbuka dengan suara berdecit yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya dari jarak dekat.

Di balik pintu besi adalah sebuah altar. Pencahayaan hanya berasal dari lilin yang nyala di setiap sudut altar yang kulihat berbentuk persegi 8, melambangkan elemen dasar setiap sihir, api, air, angin, tanah, petir, suara, logam dan cahaya. Wanita tersebut membawa anak itu memasuki altar. "Berdiri di dalam dan jangan berpindah," Anak itu menuruti dan berjalan perlahan menuju tengah altar. Wanita tersebut tersenyum sedih, walaupun tidak dapat melihat wajahnya, aku dapat melihat ekspresinya dengan jelas. Aneh, tapi kalian tidak usah bertanya sama hal itu.

"Mulai" Suara serak menggema di ruangan yang relatif kecil tersebut. Warna-warni bermunculan dari setiap sisi, dan semua warna itu bercampur menjadi satu, menjadi warna putih yang menyilaukan mata.

Seketika itu juga, aku terbangun. Len berada di depanku, tampak khawatir. "Rin baik-baik saja?"

Dan saat itu juga aku menyadari, Len dan anak yang ku lihat di dalam mimpiku itu merupakan orang yang sama.


Tidak jauh dari rumah Rin, seseorang berdiri di bawah bayangan pohon. Sebuah ponsel menempel di telinga nya. "Aku menemukan nya," Dia menutup ponselnya dan menghilang, mengabur bersama dengan bayangan. Mereka sudah siap untuk melakukan ritual itu lagi dan kali ini tidak akan gagal. Tidak boleh.


To be Continue