Jarak antara kita kini tak bisa terpenuhi

Air mataku ini kian menyusut setiap waktu

meluapkan perasaan mungkin meningkatkan kekuatan

Oh, ini sulit untuk aku katakan

.

.

.

Pierce by : One Ok Rock

Naruto : by Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, TYPO(S), EYD, ETC

Pairing : HinaSasu / SasuHina

Prequel/Sekuel dari Never Be Alone

Genre : Hurt&Comfort

Don't Like Don't Read

Happy Reading

.

.

.

.

"Sasuke-Nii, hari ini aku tak bisa berangkat bersama denganmu." Kataku memulai percakapan dengannya. Saat itu kami semua sedang menyantap sarapan pagi yang dibuat oleh Kaa-san yang juga dibantu oleh para pelayan. Sasuke mengalihkan pandangannya padaku dengan alis mengkerut.

"Kenapa?" tanya nya kemudian.

"Seorang teman akan menjemputku untuk berangkat bersama." Jawabku

"Siapa?" Tanya nya lagi dengan rasa penasaran yang kentara di dalam nada suaranya.

"Ara? Apakah artinya kini Hinata-chan telah memiliki seorang kekasih?" tanya Okaa-san tiba-tiba. Sontak membuat pipiku memerah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Okaa-san.

"Benarkah itu Hinata? jika benar bawalah kekasihmu ke rumah, kenalkan kepada kami. Benar bukan Okaa-san?" Kali ini Tou-san yang menyahuti, membuatku semakin merasa gugup dengan respon positif yang diberikan oleh kedua orang menyadari bahwa Sasuke telah mengeluarkan aura negatif ke sekitar meja makan itu.

"Sasuke-kun, bagaimana denganmu? Apa kau tak memiliki seorang kekasih? Bagaimana mungkin kau kalah dengan Hinata, adikmu Sasuke? hehe"

"Aku duluan." Tanpa membalas perkataan yang keluar dari mulut ibu, Sasuke tiba-tiba menyudahi acara sarapan paginya dan pergi meninggalkan kami semua. Membuat ayah dan ibu memasang tampang heran dan bertanya-tanya ada apa dengan Sasuke hari ini. Yang hanya ku balas dengan gelengan pelan.

Akupun tak mengerti, mengapa Sasuke harus terlihat kesal seperti itu.

Ada apa denganmu Sasuke?

.

.

.

.

"Terimakasih Gaara-kun, maaf merepotkan." Kami sampai di halaman parkir sekolah. Setelah menyerahkan helm yang sempat di berikan oleh Gaara-kun, kami berdua bergegas berjalan bersama menuju kelas. Aku dan Gaara-kun berada di satu kelas yang sama. kami berdua sudah menjadi teman sekelas selama 2 tahun.

"Tak perlu sungkan Hinata, justru aku senang akhirnya kau menerima tawaran dariku kali ini." Gaara-kun membalas perkataanku sambil tersenyum tipis. Dan aku tak membalas kata-katanya lagi tetapi fokus untuk berjalan menuju kelas.

Dan aku sama sekali tak menyadari bahwa ada seseorang yang melihat ke arah kami dengan pandangan tak suka.

.

.

Cukup lama aku mengenal Gaara-kun. Dia adalah pemuda yang sangat baik. Dan aku bukannya sama sekali tak sadar dengan apa yang selama ini Gaara-kun lakukan terhadapku. Aku tau Gaara-kun mempunyai perasaan lebih terhadapku di banding dengan siswi-siswi lainnya. Dengan sikap baiknya dan perhatian lebih yang selalu ia perlihatkan secara terang-terangan cukup menjadikan sebuah fakta pendukung kalau sebenarnya Gaara-kun telah jatuh cinta kepadaku sejak lama. Terdengar seperti sangat percaya diri bukan? Mungkin saja. Tetapi, banyak teman sekelas kami yang juga mengatakannya kepadaku. Dan mau tak mau aku pun membenarkan perkataan mereka dalam hati.

Dan mencoba untuk memanfaatkan Gaara-kun.

Pada awalnya aku memang tak terlalu menanggapi sikap baik dan perhatian yang Gaara-kun berikan kepadaku. karena ku pikir, aku tak ingin memberikan sebuah harapan yang tak pasti kepadanya. Menerima semua sikap baiknya kepadaku, membuat perasaan yang tumbuh di dalam hatinya kian membesar dan berharap lebih dengan respon baikku. Walaupun sebenarnya aku tak memiliki perasaan apapun padanya.

Itu pada awalnya, namun sekarang. Aku mencoba untuk memanfaatkan perasaan Gaara-kun sebagai salah satu alasan untuk menjauh dari Sasuke. Aku tau, itu artinya sama saja aku mempermainkan Gaara-kun bahkan memanfaatkan kebaikan hatinya. Menjadi perempuan jahat nan egois serta pemberi harapan semu kepada Gaara-kun. Tetapi, itu semua kulakukan demi kebaikan ku dan Sasuke. Meskipun memanfaatkannya, tetapi aku juga berusaha untuk membuka hatiku untuknya. Aku percaya mungkin seiring berjalannya waktu aku bisa jatuh cinta kepada Gaara-kun dan perlahan-lahan melupakan perasaan ini dari Sasuke.

Tapi nyatanya tak semudah seperti perkiraanku, ekspektasi memang jauh lebih indah dan mudah daripada kenyataan yang sesungguhnya.

.

.

.

.

"Hinata?" Sapa Ino-chan saat aku baru saja memasuki kelas

"Ha'i, Ohayo Gozaimasu Ino-chan" balasku sembari menyapanya balik

"O-Oh Ohayo mo Hinata gomen sampai lupa memberi ucapan selamat pagi hehe.."
"Ada apa? apa ada yang ingin kau tanyakan?"

"E-eh, tidak. Tadi aku hanya melihat Sasuke-senpai berangkat ke sekolah sendirian dengan tampang masam, apa kau bertengkar dengannya?" Tanya Ino dengan rasa penasaran yang amat kentara terselip di dalam nada bicaranya.

"Tidak. Kami baik-baik saja."

"Benarkah?" Tanya nya kembali memastikan

"Hu-um." Aku mengangguk menanggapi sembari menyiapkan buku-buku yang akan kami pelajari saat jam pertama nanti.

"Hinata, kau tau tidak? Sebenarnya aku sempat merasa bahwa kau dan Sasuke-senpai itu memiliki sebuah hubungan spesial, u-uhm ma-maksudku... bagaimana ya? Kalian itu terlalu dekat sebagai seorang kakak-adik, kalian selalu terlihat bersama-sama kemanapun, berangkat ke sekolah bersama, memakan bekal bersama, kau juga selalu menunggunya untuk pulang bersama. Tidakkah itu terlihat sedikit berlebihan? E-eh ma-maksudku bukan-"

"Ap-apakah kami memang terlihat seperti itu selama ini Ino-chan?" aku bertanya setelahmemotong perkataan Ino yang belum sempat ia selesaikan dengan suara pelan yang lirih, entah Ino menyadarinya atau tidak. Tetapi, aku yakin raut kesedihan telah terpancar jelas di parasku.

"Emm, Go-Gomen Hinata sepertinya aku tak seharusnya membicarakan ini." Ino menunduk, terlihat menyesali apa yang telah ia tanyakan kepadaku.

"I-ie Ino-chan, tak apa. aku justru senang ada yang mau mengatakan hal i-ini kepadaku. jadi, sebenarnya bagimana menurutmu tentang kami?" Aku kembali bertanya sebari berusaha menampilkan senyum manis yang tak tulus ku keluarkan. Semoga Ino tak menyadarinya.

"E-eto sebelumnya maaf ya Hinata, tapi aku benar-benar penasaran akan hal ini. Dan sebenarnya beberapa siswi pun memiliki rasa penasaran yang sama besar sepertiku, karena aku sempat mendengar mereka berbisik-bisik membicarakan kalian berdua. Hm gomen. Tapi, apa kalian benar-benar tak memiliki hubungan khusus selain adik kakak? Karena yang kami tau kalian itu kan hanya saudara tiri. Em, yaa kau tau cinta itu buta iya kan? mungkin saja kalian berdua memiliki hubungan khusus lain, seperti berpacaran mungkin, karena yang ku lihat sepertinya Sasuke-senpai me-menyukaimu?" Kalimat terakhir yang di ucapkan Ino sedikit terdengar ragu, Sasuke menyukai ku? Apakah terlihat seperti itu? Bukankah disini aku yang jatuh cinta kepadanya. Lalu apa? berpacaran? Apakah maksud Ino selama ini kami terlihat seperti sepasang kekasih?

"Tidak mungkin." Gumamku tiba-tiba, lirih dan sangat tersarat nada kesedihan di dalamnya. Sasuke, dia.. tak mungkin menyukai ku kan?

.

.

.

.

Segala macam cara yang ku lakukan untuk menjauhkan diriku dengan Sasuke sepertinya benar-benar berhasil. Beberapa minggu sejak Gaara-kun menjemputku untuk berangkat bersama ke sekolah Sasuke tak pernah lagi mempermasalahkannya. Bahkan ia telah bertingkah lagu seperti biasa, bahkan sangat sangat biasa saja kepadaku. Ia tak lagi mengunjungi kelasku untuk mengajakku makan siang bersama meskipun selalu mendapat penolakan, tak lagi menunggu ku keluar kelas untuk mengajakku pulang bersama. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Intensitas pertemuan kami di sekolah pun menjadi semakin menurun. Sasuke sibuk dengan segala urusannya dan persiapan-persiapan belajar extra di kelas 3. Sasuke akan mengikuti ujian kelulusan sebentar lagi. Dan itu artinya kami akan berpisah.

Seharusnya aku senang bukan? karena seluruh upaya yang aku lakukan akhirnya berhasil. Sasuke telah jauh dariku, jarak tak kasat mata berhasil hadir memisahkan kami. Tetapi kenapa? Kenapa hatiku semakin sedih? Kenapa aku selalu bertanya-tanya segala hal tentang Sasuke? kenapa aku selalu mengharapkan kehadiran Sasuke untuk memaksaku menemaninya memakan bekal makan siang yang selalu aku buatkan? Kenapa aku selalu berharap Sasuke datang dan memintaku untuk menunggunya menyelesaikan tugas dan pulang bersama setelahnya? Kenapa terkadang diam-diam aku selalu menangis? Kenapa? Apakah itu artinya bahwa sebenarnya segala usahaku tak pernah berhasil?apakah sebenarnya semua itu gagal? Apakah benar begitu?

.

.

.

.

.

.

"Nii-san?"

Sasuke menolehkan kepalanya ke arahku tanpa ekspresi berarti di wajahnya.

"Hn."

"Sasuke-Nii, a-ap-pakah hari ini kita bisa... pu-pulang bersama?" Tanyaku takut-takut. Ujian Kelulusan siswa kelas tiga baru saja selesai kemarin, tetapi seluruh siswa kelas tiga masih di wajibkan untuk datang kesekolah. Dan, saat ini aku sengaja menghampiri Sasuke di taman belakang sekolah, tempat yang biasa kami jadikan tempat untuk makan bekal makan siang bersama dulu.

"Tentu." Jawabnya cuek. Lagi-lagi, apakah Sasuke benar-benar sudah tak peduli lagi padaku?

"A-A-Aku akan datang ke kelasmu nanti."

"Tak perlu-" Jeda beberapa saat "Aku yang akan datang ke kelasmu Hinata, sekarang duduklah temani aku makan siang." Sasuke memang mangatakan itu, menggeser posisi duduknya dan memintaku menemaninya makan, tetapi entah kenapa. Aku merasa bahwa Sasuke tak sungguh-sungguh memintanya. Mungkin hanya sekedar basa-basi?

Sebenarnya ada apa dengan mu Sasuke?

.

.

.

.

.

Bel tanda berakhirnya jam pelajaran akhirnya berdenting. Siswa dan siswi bersorak-sorai gembira mendengar bel penyelamat mereka. Mereka bergegas membereskan seluruh alat tulis menulis yang sempat berserakan di meja untuk di masukkan kembali ke dalam tas dengan snyum cerah terpancar di masing-masing wajah mereka. Sepertinya bunyi dentingan bel tersebut adalah hal yang di tunggu-tunggu oleh semua murid. Termasuk diriku. Dengan senyum mengembang aku membereskan seluruh buku dan perlengkapan tulis menulis. Menjawab salam dari Sensei yang mengajar di jam pelajaran terakhir kami kemudian bergegas keluar kelas. Hari ini aku akan pulang bersama dengan Sasuke. sudah lama sekali rasanya..

Tapi ketika nyaris mencapai pintu, seseorang menarik pergelangan tanganku.

'set'

'!?'

"Ga-Gaara-kun?"

"Gomen Hinata, bisakah kita berbicara sebentar?" Tanyanya sambil sedikit menarik pergelangan tanganku.

Menengok sebentar ke luar kelas dan tak mendapati kehadiran Sasuke. Aku menyanggupi permintaan nya "Ha-Ha'i Gaara-kun, ada apa?"

Jeda sebentar aku melihat Gaara-kun terdiam.

"Maaf jika aku sempat mengagetkanmu" kemudian ia melepaskan pergelangan tanganku. Namun, kedua tangannya justru berpindah ke masing-masing bahu ku. Sedikit menekannya dan menatap jauh kedalam mata amathesyt ku.

"A-Ada a-ap-apa Ga-Gaara-kun?" Takut-takut aku mencoba melepaskan salah satu tangannya dan mengalihkan pandangan dari kedua bola mata Jade nya yang indah.

"Hinata, kau tau. Selama ini aku selalu memeperhatikanmu lebih, dan aku yakin kau juga telah mengetahui perasaanku yang sesungguhnya padamu-" Gaara-kun menghentikan kata-kata yang keluar dari mulutnya, memberikan jedayang cukup lama sembari memintaku untuk menatap ke dalam mata Jade nya yang indah. Membuatku tak kuasa ingin menangis melihat kesungguhan yang terpancar di kedua mata indahnya itu. Gaara..

"Aku mencintaimu Hinata. Maukah kau menjadi kekasihku?" lanjutnya kemudian. Setetes air mata tak dapat ku segah jatuh dari kedua mataku, perlahan-lahan mengalir melewati pipiku dan berakhir jatuh di lantai tempatku berpijak. Di susul oleh tetesan-tetesan berikutnya. Aku menangis, tapi kenapa aku menangis?

"Hinata-"

"Hiks... Hiks Gaa-Gaara-kun.."

"Hinata dengar, jika memang kau tak bisa menerima perasaanku tak apa. aku sama sekali tak memaksa. Tapi, jika memang aku tak bisa memilikimu bisakah aku..." Aku masih menunduk terisak, menyembunyikan wajahku dari sorotan kedua netra Gaara-kun yang kini memandangku sedih. Melepaskan kedua tangannya di kedua bahuku kemudian salah satu tangannya menyentuh daguku. Mengangkatnya perlahan dan mendekatkan wajahku dengan miliknya. Jika dengan melakukan ini bisa membuat Gaara-kun sedikit senang, aku akan membiarkannya. Demi menebus semua kesalahan dan kebohongan yang telah aku lakukan Gaara-kun aku membiarkan bibir tipis milik Gaara-kun menyentuh milikku. Memejamkan mata, mencoba menikmati apa yang kini tengah Gaara-kun lakukan padaku sampai tiba-tiba..

'Set'

Aku tertarik kebelakang dan Gaara-kun dengan cepat terhempas ke belakang juga. Seseorang telah menarikku dan mendorong Gaara-kun cukup keras.

Sasuke!

"Brengsek! Apa yang kau lakukan? Hah?!" Sasuke menarik kerah seragam yang Gaara-kun kenakan lalu memberinya pukulan yang cukup keras di sebelah pipinya. Membuat darah segar sedikit keluar di sudut bibirnya. Aku memekik kaget menyaksikan itu. Mencoba menarik Sasuke menjauh namun justru Gaara-kun ikut menarik kerah seragam yang di kenakan Sasuke dan membalas pukulan yang tadi di terimanya.

"Memangnya kenapa hah? Aku hanya mencium Hinata! Apa itu salah?!" sembari membalas pukul memukul Gaara-kun menjawab pertanyaan Sasuke sebelumnya. Mereka berdua bermain baku hantam tanpa memperdulikan aku yang tengah menjerit-jerit memanggil nama mereka. Meminta mereka untuk menghentikan semua itu dan melihat ke arahku.

"Cukup! Ku mohon hentikan ini! Sasuke-Nii, Gaara-kun!"

"Salah! Tentu saja salah memangnya kau pikir siapa yang tengah kau cium itu hah?! Brengsek selama ini kau yang telah membuat Hinata berubah! Sabaku sialan!" Sasuke memberikan pukulan bertubi-tubi kepada Gaara-kun yang telah tampak kelelahan. Wajahnya di penuhi lebam-lebam biru yang cukup banyak. Sasuke pun mengalami hal yang sama tetapi ia tak memiliki luka lebam sebanyak yang di miliki Gaara-kun.

Gaara-kun tak bisa membalas pukulan Sasuke lagi, ia tampak lemas dan pasrah menerima pukulan dari Sasuke, sedangkan Sasuke seperti buta dengan apa yang di lihatnya masih saja memberikan pukulan-pukulan di sekitar wajah Gaara-kun. Membuatku tanpa berpikir lagi segera menghampiri mereka berdua tak perduli jika pukulan Sasuke akan mengenaiku atau tidak aku tetap menghampiri Gaara-kun. Menarik seragam yang Sasuke kenakan dari belakang lebih kuat sampai membuat Sasuke mundur beberapa langkah. Aku bergegas memeluk Gaara-kun yang tampak seperti orang pingsan.

"Bodoh! Kau pikir apa yang kau lakukan hah?! Kau ingin membunuh Gaara-kun?! Iya? Bodoh!" hardikku sembari menangis tersedu-sedu kepada Sasuke yang terengah-engah. Sasuke memandang kami dengan tampang kesal di wajahnya yang babak belur. Mencoba menarikku menjauh dari Gaara-kun namun segera ku tepis tangannya yang sempat menyentuh bahuku.

"Ayo Hinata! kau harus pulang bersamaku!" Sasuke membentak

"Pulang bersamamu? Kau pikir aku akan meninggalkan Gaara-kun di sini dalam keadaannya yang seperti ini? Kau pikir aku akan mengikuti perintahmu untuk pulang? Begitu?! Bodoh! Mana mungkin aku membiarkan Gaara-kun sendirian di sini! Kau gila!" Sambil terus menangis, aku mencoba memanggil Gaara-kun, mengelus surai merah nya perlahan berharap Gaara-kun akan membuka matanya.

"Kau yang gila Hinata! kenapa kau membiarkan laki-laki itu menciummu hah?!"

"Kenapa? Memangnya kenapa? Gaara-kun adalah kekasihku!"

"Kekasih katamu?! Keh, bahkan dia baru saja menyatakan cintanya tadi. Kau pikir aku tak tau? Aku mendengar semua yang kalian bicarakan!"

"Lalu memangnya kenapa? Kenapa kau marah dan lantas memukul Gaara-kun sampai seperti ini? Di mana letak kesalahannya? Gaara-kun mencintai aku dan aku menyayanginya, aku yang mengijikannya menciumku. Lalu kenapa Gaara-kun yang kau pukul hah?! Seharusnya aku yang kau pukul!"

"Sudahlah Hinata, cukup! Kita harus kembali kerumah sekarang! Biarkan bocah sialan itu disini. Kau bisa menghubungi temanmu yang lain untuk membantunya, atau hubungi saja keluarganya!" Sasuke masih terus saja membentak, tanpa membalas kata-kataku sebelumnya.

"Kenapa...?" Suaraku kian memelan, tanpa menatap Sasuke yang terlihat kesal dan masih terengah-engah aku kembali bersuara.

"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?"

"Aku tak perlu menjawabnya."

"Kenapa tidak?! Kenapa kau selalu menjadikan aku sebagai prioritas utama di dalam hidupmu? Kenapa kau selalu bersikap baik kepadaku dan tak melakukan hal yang sama kepada orang lain, kenapa kau selalu meminta aku menemanimu memakan bekal makan siang yang aku buatkan padahal kau memiliki banyak sekali teman,bahkan penggemar!? Kenapa kau selalu memintaku untuk pulang dan berangkat ke sekolah bersamamu serta melarangku pergi dengan temanku yang lain? Aku bukan lagi seorang anak kecil Nii-san, dan aku bisa menjaga diriku sendiri! Kau tak seharusnya terlalu Over Protective kepadaku!"

"Karena kau ADIKKU!"

"Adik?" tersenyum sedih, aku mencoba melepaskan Gaara-kun dari pangkuanku. Berdiri kemudian berjalan menghampirinya. Mendekat ke arah Sasuke menatap ke dalam matanya yang kelam sekelam malam itu. Kemudian melanjutkan

"Aku hanya adikmu, iyakan? Jadi, bukankah tak seharusnya kau melakukan semua itu Nii-san. Kau tau? Apa yang orang lain lihat kepada kita selama ini? Mereka salah paham. Mereka meyalah artikan kedekatan kita di sekolah selama ini. Mereka menganggap kita memiliki hubungan khusus yang tak sewajarnya di miliki seorang adik dan kakak tiri. Harusnya kau mengerti apa alasanku mencoba menjauhi mu beberapa waktu ke belakang ini, aku senang pada akhirnya berhasil membuat jarak tak kasat mata di antara kita. Aku mengajakmu untuk pulang bersama hari ini karena ku pikir kau telah mengerti maksud ku tanpa ku beritahu dengan jelas. Kau tak lagi marah dan tak lagi bersikeras untuk datang ke kelasku meski sering ku tolak, ku pikir pada akhirnya kau mengerti, lalu kau serta aku dapat bersikap selayaknya seorang kakak dan adik di lingkukan sekolah maupun di rumah seperti dulu ketika kita masih kecil, kau selalu baik kepadaku tetapi, kau tak pernah memaksa atau marah terhadap sesuatu yang aku lakukan. Tapi kenapa? Kenapa kau memukul Gaara-kun sampai seperti ini hanya karena melihatnya menciumku? Apakah jika kau melihatku berciuman dengan lelaki lain kau juga akan memukulnya seperti itu Nii-san?!" berbohong. Semua yang ku katakan adalah omong kosong. Meskipun itu adalah kebenarannya tetapi bukan itu yang tengah ku rasakan kini. Jelas sekali aku samasekali tak senang saat Sasuke berhenti bersikeras untuk mengunjungi ku di kelas. Namun, memang seharusnya bukan itu yang aku katakan kan? Air mataku tak henti-hentinya menetes. Dalam hati aku berdoa , semoga Sasuke tak akan menjawab dengan sesuatu yang aku takutkan selama ini.

Sasuke menunduk, menyembunyikan wajahnya yang penuh luka itu dalam-dalam. Kemudian suara lirihnya terdengar sangat kecil

"Aku tau, semua itu memang sangat berlebihan untuk di lakukan oleh seorang kakak kepada adiknya. Maaf."

Membuang nafas lega, kemudian aku berbalik menuju tempat Gaara-kun yang tak sdarkan diri berada. Kemudian membawanya ke dalam dekapanku.

"Sebaiknya kau pulang Nii-san, aku akan disini hingga bantuan datang. Kau lebih baik pulang agar tak menimbulkan lebih banyak masalah." Aku tak mendengar jawaban Sasuke sama sekali, kemudian ku lihat ia masih saja menundukan wajahnya, dengan masing-masing jari-jari tangannya yang terkepal erat.

"Apakah kau ingin tau yang kebenarannya Hinata?" suara datar tiba-tiba terdengar

'deg'

'deg'

"Apakah kau benar-benar ingin mengetahuinya?!" suaranya mengeras memecah keheningan yang sempat beberapa saat lalu tercipta

"A-Apa?"

"A-aku menyanyangimu, sangat menyayangimu Hinata. Lebih. melebihi rasa sayang yang di miliki seorang kakak kepada adiknya. Tidak. Aku... aku mencintaimu." Lirih, suaranya sangat lirih.

'tes'

'tes'

'tes'

Kenapa? Kenapa kau harus memiliki perasaan itu Sasuke? kau membuat semuanya semakin menjadi sulit.

"Tidak Nii-san. Itu tidak benar."

"Kenapa tidak benar?! Memang itulah kenyataannya, kenyataan yang sangat ingin kau ketahui bukan?!"

"Bukan, bukan itu yang ingin ku dengar dari mulutmu!"

"Lalu kau mau apa jika aku mencintaimu hah?! Kau pikir selama ini aku tak menahan perasaan itu? Kau pikir aku tak mencoba membunuh perasaan yang tak seharusnya ada di antara kita? Kau pikir aku tak berusa menjauh dari mu? Kau bertanya mengapa aku marah dan memukul bocah sialan itu saat melihat ia menciummu kan? itulah jawabannya Hinata, itulah kenyataannya! aku mencintaimu. puas?!Sekarang katakan Hinata! katakan bagaimana perasaanmu kepadaku. katakan!"

"Tidak! Aku sama sekali tidak!" dengan cepat aku membalas sembari menggeleng kuat-kuat.

Sasuke diam beberapa saat, hanya suara isak tangisku yang terdengar. Hening menyapa, hening yang sangat tak kusukai. Hening yang menegangkan.

"Baiklah, aku harap kau tidak berbohong saat mengatakannya Hinata. Aku pergi, Selamat tinggal"

Tap

Tap

Tap

Tap

Suara langkah kaki menjauh terdengar semakin kecil, Sasuke telah meninggalkan kelas ini menyisakan aku dan Gaara-kun yang tak sadarkan diri. Kemudian aku menangis, menangis dan menangis. Menumpahkan seluruh air mata yang mengantri meminta di keluarkan. Aku tak bisa menahannya. Menahan air mataku.

.

.

.

.

"Kenapa berbohong?"

"H-Huh?!"

"Hinata"

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

A/N:

Balasan review :

Uchihaxhinata : terimakasih ini udah next

: iya endingnya tetep sad, maaf ya soalnya ini memang chapter yg sebenarnya sudah kubuat sebelum publish NBA, bisa dibilang NBA itu chapter terakhir dari cerita ini, jadi endingnya tetap sama. ini sudah next ya;)

Keita uchiha : Sudah Next ya;)

Panda Dayo : Iya ini Piercenya OOR! Uh, aku juga lagi suka banget sama lagu itu, dan aku juga suka lirik yang "i don't know what i can do we can't be true"-nya ... Ngena banget di hati, bikin pengen nangis gitu pas denger huwe.. berkat lagu itu juga akhirnya nge buat aku memiliki dorongan dan inspirasi buat publish cerita yang sempat aku tinggalkan ini hehe. Terimakasih ya Panda-san sudah berkenan mampir :D

Guest : Iya.. ini sudah next;)

Ada ada aja hmz : sudah next ;) tapi ini sad ending. Maaf ya..

Fleur Choi : Iya bener ini Pierce-nya One Ok Rock. Aku juga suka bangettttt lagunya..

Cahya Uchiha : iya ini sudut pandang Hinata, sengaja milih sudut pandang Hinata karena aku udah sering buat pake sudut pandang Sasuke. jadi kali ini aku pakai sudut pandang Hinata;)

Indry : Lagunya enak lho~ coba deh denger;)

Terimakasih yang sudah mampir

Maaf kalau chapter ini mengecewakan dan gak sesuai harapan.

.

Thanks For Reading~

MIND TO REVIEW?
-siskap906