Kadang aku lupa siapa diriku,
Dan terkadang aku juga lupa bagaimana keadaan fisikku.
Tapi aku bahagia jika aku lupa bahwa aku hanya seorang cacat,
Karna saat itu aku akan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang normal.
My Heart In Tokyo.
Cast: Park Chanyeol as Chanyeol.
Byun Baekhyun as Takada Baekhyun.
Oh Sehun as Namamoto Sehun.
Kim Jong In as Kai Kim.
-Setting untuk cerita ini adalah Tokyo, Jepang. All Cast not Mine, But Character and This Fanfiction is Mine. Please Comment And gimme Your Love! Lets Love!
Tokyo, 13 Juni
Sisa hujan semalam masih menyisakan genangan kecil dipinggir jalan, pun dengan udara yang terasa dingin dibulan juni ini.
Hal yang membuatku kesal adalah permen karetku yang tidak terjamah tangan pembeli karna mereka memilih berjalan dengan cepat daripada menengok kesamping dan membeli sebungkus permen karet. Tapi bagaimanapun juga, aku akan tetap duduk disini dengan payung hitam yang tergeletak di samping kursi rodaku sembari mengangkat kertas berisi harga permen karet perbungkus yang kini lusuh karna terlalu sering terkena cipratan air hujan.
Aku bukan meminta belas kasihan mereka dengan menggunakan fisikku ini, aku melakukan apapun selagi aku bisa, dan hanya hal inilah yang aku mampu lakukan untuk mendapatkan uang.
Lima tahun lalu mungkin aku masih duduk dengan sendok emas di mulutku, tapi hari ini aku duduk dengan mulut kosong. Bagaimanapun juga, Ayahku adalah orang kaya dengan segudang prestasi, sedangkan ibuku terlahir sebagai orang terpandang yang berjalan dengan mengangkat dagunya.
Hanya adik laki-laki ku yang akan menunjukan prestasinya nanti setelah lulus dari universitasnya, hanya adikku yang akan mengangkat dagunya ketika berjalan dengan orang-orang yang menunduk saat bertemu dengannya, bukan aku. Bukan Park Chanyeol.
"Selamat pagi! Butuh bantuan?" tapi satu keberuntungan mengikutiku hari ini, si kecil Baekhyun datang dengan membawa sebotol air mineral dan oat bar yang ia berikan padaku. Pagi ini akan bersinar walau langit mendung.
"Permen Karet! Silahkan Beli! Jika kalian manusia yang tinggal di Tokyo, kalian harus membeli Permen Karet ini!" Baekhyun berteriak dipinggir trotoar sembari mengangkat kotak permen karetku yang entah sejak kapan telah berpindah ke tangannya. Apa yang akan dia lakukan?
"Memangnya kenapa orang Tokyo harus membeli permen karet itu?" seorang yang baru saja lewat didepanku berhenti tepat saat Baekhyun mengatupkan bibirnya. Aku tidak tau kenapa dia tertarik dengan celotehan Baekhyun sedangkan orang lain memilih mengabaikan teriakan pria kecil itu, karna bagi mereka lebih baik untuk segera pergi dari jalanan karna hujan bisa saja turun tiba-tiba.
"Kau ingin tahu?" Baekhyun mulai memasang wajah seriusnya lalu menyodorkan kotak permen karet itu kearah pria asing didepannya.
"Karna permen karet ini dibuat oleh perusahaan Jepang! Tokyo adalah Ibu Kota Negara kita, jadi kau harus mencintai produk buatan Negara!" Aku terkekeh dalam hati mendengar jawaban Baekhyun dan berhenti saat pria asing itu mengambil satu kota permen karet yang Baekhyun bawa lalu menyodorkan beberapa lembar uang Yen pada Baekhyun. Dan bagaimana bisa perkataan Baekhyun itu bekerja?
"Kau benar! Kita adalah Negara yang kuat, jadi kita harus mencintai produk buatan Negara!" Baekhyun mengangguk semangat lalu membungkukan badannya saat pria asing itu pergi kearah stasiun diujung jalan persimpang ini. Mungkin sebentar lagi Baekhyun akan ikut menjual permen karet sepertiku karna tahu dirinya pandai dalam menjual produk, tidak buruk sebenarnya.
"Lihat? Orang Tokyo kadangkala bersikap angkuh karna merasa hebat tinggal dikota, tapi ada kalanya mereka bersikap nasionalis atau mungkin sok nasionalis." Baekhyun tertawa sembari menepuk lenganku dua kali, entah kenapa tawanya seolah menular padaku yang kini ikut tertawa tanpa suara. Bibir tipisnya yang terbuka itu mengalunkan suara tawa yang ringan, seperti bulu angsa yang terbang terbawa angin, membuat sesuatu dalam hatiku ikut melambung bersama tawanya.
Baekhyun mengulurkan uang yang ia terima padaku, saat aku ingin memberikan setengah dari uang itu, dia hanya menggeleng pelan.
"Aku membantumu bukan karna itu, aku melakukannya karna memang aku mau membantu." lihat? Dimana lagi aku menemukan keberuntungan yang seperti ini jika bukan pada Baekhyun?
"Bagaimana jika kita pergi minum teh di toko ku lagi?" bukan ide buruk dan aku menganggukan kepalaku duakali. Tangan cantiknya membawa payung yang tergeletak ditanah lalu mulai mendorong kursi rodaku menyebrangi jalanan yang sepi ini. Saat sampai didepan toko miliknya, yang aku temukan hanya kesunyian seolah tidak ada yang pernah datang ketoko buku tua yang dulu sangat terkenal di Tokyo ini.
Baekhyun menutup pintu kaca perlahan saat kami sudah didalam; itu bukan pintu dorong yang otomatis akan tertutup saat kau pergi.
"Kemarin Sehun datang dan memberikanku ini, tapi kupikir ini jauh lebih baik jika kita meminumnya bersama." Baekhyun berujar yang merujuk pada sebungkus Teh hijau dengan campuran bunga Melati didepannya, aku tahu ini merek teh terkenal yang punya papan iklan disepanjang jalan Akita.
"Kau masih suka manis kan?" ujarnya setengah bercanda. Aku mengangguk dan lima detik kemudian mug berukuran sedang telah disodorkannya padaku. Baekhyun tersenyum saat aku membuat gerakan terima kasih dengan tangan kanan, hingga kedua bola matanya seolah tenggelam dalam sipitnya.
"Aku hanya tidak ingin ini seperti jamuan formal, jadi minum dengan mug akan terasa seperti minum dengan orang terdekat kita." Benar. Aku mungkin juga merasa canggung saat minum teh dengan cangkir kecil yang habis dalam sekali teguk, tapi minum dengan mug terasa lebih nyaman dan tidak canggung.
"Bicara soal Sehun, apa kau sudah lama mengenalnya? " apa ini? Sehun? Jadi Baekhyun mengajakku minum teh karna ingin bertanya tentang Sehun? Ah, kenapa rasanya menyesakan seperti ini.
"Aku akan ambilkan pulpen dan kertas untukmu." Aku bisa melihat bagaimana semangatnya Baekhyun hari ini, saat dia telah duduk kembali didepanku tangan kecilnya menaruh pulpen dan secarik kertas dipangkuanku.
"Jadi bagaimana Sehun? Dia baik kan? " Aku menggenggam erat pulpen yang kupegang, aku mulai menulis sesuatu disana, cukup panjang hingga membuat Baekhyun penasaran. Saat aku berhenti pada titik terakhir kalimatku, aku menyodorkannya pada Baekhyun yang sontak mengeryitkan dahinya.
"Hei! Mau mengerjaiku ya? Aku kan tidak bisa baca tulisan Korea." dan mungkin aku akan mengatai bahwa Baekhyun kadang bisa terlihat sangat bodoh, aku ini lahir dan besar dikorea tanpa belajar mengenai bahasa ataupun tulisan Negara Jepang, aku bisa mengerti apa yang orang-orang sekitarku katakan karna aku mulai terbiasa mengartikan apa yang mereka katakan, tapi aku tidak pernah belajar menulis disini.
"Ah, kau tidak bisa menulis selain dengan tulisan korea ya? Maaf aku lupa." Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu, itu benar-benar membuatku ingin mencium bibir merah jambu miliknya. Gila.
"Sebenarnya aku hanya ingin meminta pendapatmu soal Sehun, kemarin dia mengajakku berkencan."
Byurr
Aku menyemburkan air teh yang belum sempat singgah di tenggorokanku, tepat diwajah Baekhyun. Diwajah. Baekhyun!
"Chanyeol!" Baekhyun berteriak kencang sembari mengusap wajah basahnya dengan telapak tangan. Sungguh, yang tadi itu karna aku kaget.
"Lihat, bajuku jadi basah! Kau jorok sekali!" Baekhyun berlalu dengan menghentak-hentakan kaki pendeknya menuju pintu penghubung toko dengan rumahnya, aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya tadi, aku hanya merasa kaget dan sedikit... Cemburu? Ah, iya aku memang cemburu saat Baekhyun berkata bahwa Sehun mengajaknya kencan besok, aku bukannya membenci Sehun, hanya saja aku belum siap patah hati.
"Kau menyebalkan!" aku menelangkupkan kedua tanganku, berusaha meminta maaf atas sikapku tadi.
"Iya, aku maafkan. Hey, berhenti memasang wajah seperti itu Chanyeol, kau membuatku gemas!" Aku menunduk malu saat telapak tangan Baekhyun mendarat di atas kepalaku lalu mengusaknya pelan, rasanya aku ingin lari saja karna malu.
"Yeol, jadi bagaimana? Besok aku harus pergi kencan dengan Sehun atau tidak?" Tidak. Aku ingin mengatakan bahwa Baekhyun tidak seharusnya pergi berkencan dengan Sehun karna aku cemburu, tapi fisikku seolah menghianatiku karna aku mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Baekhyun tadi. Agh! Aku benci badan ini.
"Oke! Besok aku akan pergi dengannya, terimakasih atas sarannya, imut." apa? Baekhyun memanggil aku tadi dengan sebutan apa? Imut? Ya Tuhan, kenapa pipiku mulai terasa panas hanya karna panggilan Baekhyun tadi.
"Ada apa dengan pipimu itu?" Baekhyun membawa tangannya untuk menyentuh pipiku, gawat aku malu sekali sekarang. Apa aku boleh menangis atau berteriak sekali saja? Demi Tuhan aku rasa bahwa aku mulai gila hanya karna sikap Baekhyun ini.
"Kau sakit, Yeol?" aku menggeleng, kemudian mengangguk lalu menggeleng lagi hingga Baekhyun tertawa kecil.
"Aku akan mengantarmu pulang, bagaimana? Kupikir kau tidak enak badan karna kau terlalu sering diluar dan hujan-hujanan." sebenarnya aku merasa buruk saat Baekhyun berniat mengantarkanku, bagaimanapun juga harusnya aku yang mengantarkannya pulang kerumah, bukan sebaliknya, aku benar-benar tidak jantan.
"Ayo, aku akan mengunci pintu dulu." Baekhyun mendorong kursi rodaku sampai luar toko lalu menguci pintu utamannya, semenjak Ayah Baekhyun meninggal, ia hanya tinggal sendiri sedangkan ibunya bekerja di Kyoto dan pulang sebulan sekali. Aku tidak tahu apa yang ibunya kerjakan, karna Baekhyun tidak pernah bercerita tentang ibunya.
Sepanjang jalan trotoar yang kami lalui diisi dengan beberapa guyonan lucu dari mulut Baekhyun, sesekali aku hanya ikut tertawa tanpa suara atau mengangguk dan menggeleng saat ia bertanya sesuatu. Aku tidak tau hubungan macam apa yang aku dan Baekhyun miliki, teman kah atau sahabat, atau mungkin juga hanya sebatas Baekhyun yang meras iba padaku, entahlah. Tapi jika boleh jujur, aku berharap suatu hari nanti aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya, walaupun aku tahu dia tidak akan menerima pria cacat sepertiku, tapi setidaknya aku akan lega jika dia tahu perasaanku padanya.
"Apa Kai ada dirumah?" aku menggeleng saat Baekhyun bertanya tentang sepupuku, saat sore begini Kai pergi ke kafe internet untuk bermain game, memang apalagi yang dikerjakan pengangguran macam sepupuku itu? Aku bahkan tidak tahu darimana ia mempunyai uang untuk membayar sewa flat dan bermain di casino setiap hari padahal ia menggunakan semua uang dari hasil menang untuk menyewa jalang yang mahal.
"Chanyeol!".
.Terimakasih Atas Reviewnya, maaf kalo masih banyak kurangnya. Aku bakal belajar lebih giat lagi buat nulis, kritik dan saran silahkan komen yo! Lets Love!
