Hallo minna-sama! Ogenki desuka? Baik-baik kan ya? Haha
Maaf ya, Umu baru bisa update ficnya sekarang, maklum, Umu mah anaknya malesan, jadi jarang banget ngetik, ini pun ngetiknya lewat hape, haha
Oke, langsung saja! Yuuuk mariii! Tarik maaaaang! :D
Judul, Chapter 2, Rate : M
Disclaimer:Paman Masashi Kisimoto ©
Judul punya Aumu Hatake, pesenan amumu-chan
Warning:Semua saja, mulai dari hal kecil sampai besar yang membuat sebuah fic menjadi tidak dapat dikatakan sempurna, terkandung dalam fic ini.
Summary:Akan kujaga bayi ini Naruto. Meskipun harus aku sendiri yang akan melakukannya. Karna, inilah bukti cinta kita dulu, sebelum kau bersamanya.
Anda tidak suka? Silahkan dibanting saja komputer atau hapenya, and don't FLAME please ^^v
M = Mature = Dewasa = 17+++++
Happy Reading! RnR please :D
LIME LIME LIME!
Naruto melepaskan ciumannya yang bisa dikategorikan sebagai ciuman terganas yang pernah dirasakan Hinata. Perlahan, ia mulai meraba-raba leher jenjang Hinata, lalu turun dan mulai menyentuh dua bukit kembar yang ada disana.
"Hmmm, Naruto. Apa kau menginginkannya?" Hinata membalas Naruto dengan membelai lembut rambut kuning jabrik Naruto.
"Kau sendiri?" Naruto balas bertanya.
"Aku hanya ingin membuatmu merasakan apa yang belum pernah kau rasakan sebelumnya Naruto."
Naruto hanya tersenyum kecil. Dengan sigap, ia segera membopong Hinata menuju salah satu kamar yang ada disana. Dimana lagi kalau bukan di kamar Hinata?
Naruto membanting kecil tubuh mungil Hinata diatas kasur spring bed yang akan menjadi alas mereka saat bercumbu nanti. Ia mulai membuka satu per satu kancing kemejanya. Saat melihat dada bidang dan perut sixpack Naruto, Hinata hanya bisa menahan senyumnya dan mendadak pipinya berubah warna dan suhu.
"Ayo buka bajumu Hinata." Kata Naruto saat ia melihat Hinata masih mengenakan pakaiannya lengkap.
"A-aku malu Naruto." Jawab Hinata sambil mengalihkan pandangannya dari tatapan Naruto yang begitu memabukkan.
"Kenapa harus malu? Apa kau ingin aku yang membukanya?"
"Ahh Naruto. Aku benar-benar malu. Aku, aku..."
Naruto berjalan mendekati Hinata. Hinata yang tahu akan hal apa yang selanjutnya akan terjadi pada dirinya, hanya diam saja dan tidak menolaknya. Apa yang tidak akan dilakukan Hinata untuk Naruto? Bahkan, kalau sampai keperawanannya hilang hari inipun, tidak masalah bagi Hinata, asalkan ia bisa membuat Naruto merasakan apa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ssshhh...aahh..Na-Naruto.." Desah Hinata saat ia merasa ada sesuatu yang mulai bergerak-gerak di payudaranya saat ia tengah berciuman mesra dengan Naruto.
Naruto hanya diam saja dan mendengarkan desahan demi desahan yang keluar dari mulut Hinata. Ia masih sibuk dengan lidahnya yang kini tengah menjelajahi rongga mulut Hinata dan juga tangannya yang sibuk meremas-remas dua bukit kembar milik Hinata.
"Hmmm...aahh..sshh.." Hinata kembali mendesah.
Naruto melepas ciumannya. Ia menatap Hinata dengan tatapan tenang dan seolah memberi kepercayaan bahwa ia akan selalu ada untuk Hinata. Naruto semakin menuruni tubuh Hinata. Menikmati setiap centimeter tubuh Hinata, tanpa ada satu milimeterpun yang terlewat.
"Hinata, sungguh aku merasa nyaman dan bahagia bila ada di dekatmu. Sungguh ingin rasanya kumiliki dirimu, jika saja aku bertemu denganmu sebelum aku bertemu dengan Neji, pasti sekarang aku hidup bahagia denganmu."
"Naruto, aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu, bahkan sampai kita melakukan hal ini. Sungguh anugrah terindah dapat mengenalmu Naruto."
Naruto kembali tersenyum dan mengecup kecil kening Hinata. Ia kembali menikmati setiap inchi tubuh Hinata, yang mungkin tak bisa ia sentuh lagi. Yang mungkin akan pergi untuk selamanya setelah ia bersama Neji nantinya. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.
"Aaahhh..awww..Na-Narutoo.." Sedikit ada teriakan di antara desahan Hinata. Ia merasa sakit yang luar biasa saat Naruto mulai menyatukan tubuh mereka.
"Maafkan aku Hinata." Naruto mencoba membatalkan niatnya untuk mengunci tubuhnya dengan tubuh Hinata.
"Bukan itu maksudku Naruto. Lebih pelan sedikit saja, karna ini benar-benar sakit." Hinata memaksakan senyumnya agar tergambar jelas di wajahnya. Ia tak ingin membuat Naruto kecewa. Karna mungkin inilah hari terakhir dimana ia bisa bersama Naruto.
Naruto melihat darah yang mengalir keluar dari milik Hinata, ia telah mengambil keperawanan Hinata. Naruto merasa bersalah, tetapi ia juga merasa bahagia. Bersalah karena sudah dengan lancang mengambil keperawanan Hinata, dan bahagia bahwa ialah orang pertama yang besetubuh dengan Hinata.
"Hi-Hinata..." Naruto sedikit gugup setelah melihat apa yang terjadi pada Hinata.
Hinata hanya tersenyum, "Tidak apa-apa Naruto. Lanjutkan saja."
Naruto hanya tersenyum. Ia kembali melakukan aktivitas memaju mundurkan pinggulnya. Semakin kuat, dan semakin dalam. Rasa sakit yang tadi dirasakan Hinata, kini berubah menjadi rasa yang begitu nikmat dan memabukkan.
Naruto terus melakukannya. Dengan tubuhnya yang masih terkunci di tubuh Hinata, Naruto terus menciumi dan membuat kissmarkdi tubuh Hinata. Bibir mungil Hinata, kini terlihat sedikit bengkak dan merah karena terus menerus dihisap oleh Naruto.
"Naruto, apa kau mencintaiku?" Tanya Hinata.
"Ya, tentu saja. Ada apa Hinata?"
"Tidak apa-apa Naruto. Aku hanya merasa bahagia dapat dicintai oleh seseorang seperti dirimu."
"Apa kau juga mencintaiku?" Naruto balik bertanya.
"Ya, tentu. Mana mungkin aku mau melakukan hal ini kalo aku tidak mencintaimu?"
Naruto tersenyum, "Andai saja, aku tidak berjanji dengan Neji untuk segera bertunangan dengannya. Pasti aku akan bertunangan denganmu, Hinata."
Hinata hanya menunduk. Ia merasa ada cairan hangat yang keluar dari matanya. Ia menangis. Ya, Hinata menangis karna ia tahu seperti apa masa depannya dengan Naruto nanti. Mereka tidak akan pernah bersatu. Mereka tidak akan pernah bersama, dan mereka tidak akan pernah menjalin hubungan yang lebih selain hubungan antara seorang kakak ipar dengan keponakan(?).
Naruto mengangkat kepala Hinata yang menunduk, "Jangan menangis Hinata. Aku ingin melihatmu tersenyum, bukan menangis." Kedua Ibu jari Naruto mengusap pelan air mata yang membasahi pipi Hinata.
Hinata hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan Naruto, "Sungguh, aku tak pernah ingin kehilanganmu Naruto." Katanya.
"Aku juga Hinata. Aku juga tak pernah ingin kehilanganmu. Jujur, aku lebih mencintaimu daripada Neji. Andai saja aku tidak berjanji, pasti sudah aku batalkan pertunangan ini."
"Jangan Naruto. Meskipun kau bisa membatalkannya, ku harap kau tidak akan melakukannya. Coba pikir bagaimana perasaan kak Neji nanti saat kau membatalkannya."
Naruto menunduk, "Ya. Aku tahu itu Hinata."
Hinata tersenyum. Tangannya menarik tubuh Naruto untuk menindihnya kembali.
"Sudahlah Naruto. Lupakan sejenak tentang masa depan. Sekarang, selagi kita masih bisa bersama, manfaatkan waktu ini sebaik-baiknya."
o0o
"Ayah, Ibu.." suara Neji mengalihkan perhatian Hinata. Ia berjalan menuju ke ruang tamu, dimana sumber suara tersebut terdengar.
"Kakak?" Tanya Hinata.
"Hinata, dimana ayah dan ibu?"
Hinata menengokkan kepalanya ke arah belakang, "Entahlah, mungkin ada di belakang," Saat Hinata kembali menatap kakaknya, ia baru sadar bahwa Naruto sudah berdiri tegak di samping Neji. Sempat Naruto memandang secara dalam ke arah Hinata.
"Emm, kak, Hinata ke atas dulu." Pamitnya.
"He? Baiklah." Jawab Neji.
Hinata sedikit menundukkan kepalanya dan berlari kecil menuju kamarnya. Setelah ia membuka kenop pintu kamarnya, Hinata segera menutupnya kembali dan menguncinya. Tak terasa cairan hangat itu kembali keluar dari matanya. Hinata merebahkan tubuhnya di kasur spring bednya yang menjadi saksi bisu cinta terlarang antara dirinya dan calon kakak iparnya.
Hinata mengelus kecil perutnya yang masih terlihat ramping. Ia menatap foto Naruto yang terpajang di meja belajarnya. Hinata tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mencintai seseorang yang sangat terlarang untuk ia cintai.
o0o
"Saya berjanji, bahwa saya akan mencintai istri saya dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit dan saya akan terus bersamanya sampai ajal yang memisahkan kami."
"Saya berjanji, bahwa saya akan mencintai suami saya dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit dan saya akan terus bersamanya sampai ajal yang memisahkan kami."
Janji itu terikrar di sebuah gereja bercat putih dengan saksi dari keluarga masing-masing dan seorang pendeta yang berdiri di hadapan mereka. Naruto memasangkan cicin pertunangannya di jari manis Neji, begitu pula dengan Neji. Naruto mengecup lembut kening istrinya, Neji. Semua yang ada di dalam gereja, semua yang menyaksikan Naruto dan Neji di gereja itu bertepuk tangan, termasuk Hinata.
Hinta memberi selamat kepada Naruto, ia berjalan mendekati kedua mempelai yang baru saja mengikrarkan janji untuk saling mencintai selamanya.
"Selamat kak Naruto, kak Neji. Semoga kalian menjadi suami istri yang diberkahi oleh Tuhan. Semoga kalian terus bahagia selamanya." ucap Hinata.
"Terimakasih adikku." Jawab Neji sambil memeluk adiknya, Hinata. Hinata hanya tersenyum, lalu Naruto menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Hinata.
"Terimakasih Hinata." Kata Naruto. Hinata hanya mengangguk dan memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Hinata sedikit berlari kecil saat mencoba untuk keluar dari gereja itu. Ia menangis sambil memegangi perutnya yang mulai terlihat sedikit lebih buncit,
'Akan kujaga bayi ini Naruto. Meskipun harus aku sendiri yang akan melakukannya. Karna, inilah bukti cinta kita dulu, sebelum kau bersamanya.'
F I N !
Uwooo, akhirnya selesai, haha.
Abal ya? Garing? Haha, gomen gomen *bungkuk2*
Maaf juga ya kalo kata2 yang ada di fic ini terlalu vulgar dan emm, kasar, hehe, habis Umu gatau harus pake kata apalagi, wkwk *ditimpuk*
oke, terimakasih atas partisipasinya untuk membaca fic abal ini, kritik dan saran, Umu tunggu lewat review!
Arigato gozaimasu! :D
