Chapter 2: Meet The Dark King.

Disclaimer: Jika One Piece itu nyata rasanya aku ingin menjadi bajak laut, tapi One Piece hanya ciptaan Oda-sensei dan menjadi bajak laut hanya akan membuat aku ditangkap polisi x-P

###############################################################

"Ngaco…" respon Hekima sambil memandang muka Isamu yang tanpa ekspresi.

"Coba kau perhatikan sosoknya, sosoknya sangat menyerupai dirinya…" kata Isamu sambil memberi isyarat dengan menggerakan matanya sekilas kearah sosok yang disampingnya.

Hekima yang penasaran lalu mecondongkan badannya kedepan dan melihat sosok laki-laki tua yang sedang tidak sadarkan diri itu, lalu membandingkan sosok sang Silver Rayleigh yang adiknya maksudkan. Ternyata sosok laki-laki tua itu benar-benar mirip dengan Silver Rayleigh, tidak malah sangat mirip, tidak berupa animasi tapi ini sosok dalam bentuk nyata, tapi apakah mungkin ini tokoh yang berasal dari manga. Rasanya saat tidak masuk akal dan mustahil.

"Mustahil…mungkin dia hanya orang yang sedang ikut perlombaan cosplay."

Isamu menyipitkan matanya, mendengar tanggapan Hekima yang sedang bertarung dengan logikanya.

"Tentu saja ini kan Jepang…Isamu, dimana cosplay adalah keahlian mereka."

Isamu hanya menanggapi Hekima dengan mengangkat sebelah alis matanya.

"Yang benar saja, jangan bilang kamu percaya dia Silver Rayleigh yang itu…." Hekima mendengus sambil melipat tangannya.

"Entahlah…tapi aku merasa dia ini benar-benar orang itu."

Hekima hanya bisa mendesah kesal dan memandang adiknya.

"Dia tadi mengigau, tolong duniaku…tolong Luffy…katanya…" ujar Isamu sambil menunduk dan memainkan jari-jarinya.

Hekima menyandarkan punggungnya pada dinding mobil ambulans, dan mulai berpikir dan memproses sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini.

"Mungkin dia orang gila…" duga Hekima.

"Bagiku dia terlihat sangat normal…" bantah Isamu.

"Isamu…bisa saja dia orang gila atau malah psikopat yang sangat terobsesi dengan One Piece…Ayolah yang benar saja,…" Hekima mulai merasa lelah dan tidak sabar karena seharusnya dia sedang beristirahat di Hotel sekarang, karena sudah menghabiskan waktu perjalanan selama 8 jam dari rumahnya hingga ke Okinawa.

"Kalau kakek tua itu mengatakan yang sebenarnya bagaimana?" kata Isamu masih meyakini sosok itu adalah tokoh dari manga One Piece.

"Cihhh, yang benar saja…" cibir Hekima kesal.

"Katanya…dia kemari karena ingin menyelamatkan dunianya…" kata Isamu memandang sedih sosok yang mengaku bernama Silver Rayleigh itu.

"Dunia ini, dunianya…hal yang tidak masuk akal apa ini…" renung Hekima sambil mengerutkan alisnya, bingung dan kepalanya mulai terasa pusing karena tidak bisa menerima sesuatu yang menurutnya sangatlah tidak rasional.

"Nak…kita sudah sampai, kami akan langsung mengangkut orang ini ke UGD." kata salah satu petugas ambulans yang bersiap mengeluarkan si "Silver Rayleigh".

"Oh kita sudah sampai, ayo Isamu kita keluar" kata Hekima, lalu menarik lengan adiknya agar segera cepat keluar dari ambulans.

"Aku akan menemaninya sampai dia sadar…" kata Isamu setelah keluar dari ambulans dan melihat para petugas ambulans membawanya ke dalam rumah sakit.

"Isamu! Yang benar saja! Ayolah kita sudah menemaninya sampai dirumah sakit, sampai mana kamu ingin mendengar omong kosongnya?!" bentak Hekima sambil meremas lengan Isamu. Isamu segera melepaskan diri dari remasan tangan kakaknya dengan cepat.

"Pokoknya aku akan berbicara dengannya sesudah dia siuman! " balas Isamu tidak kalah keras dengan bentakan Hekima. Hekima kehilangan kata-kata, dan hanya bisa bengong melihat Isamu berjalan memasuki rumah sakit.

"Hei…" seseorang sudah menepuk bahu Hekima. Sedikit terkejut, Hekima membalikkan badannya dan melihat seorang petugas ambulans yang tadi ikut dengannya sedang menyodorkan pedang yang sedang diseretnya karena berat dan menenteng tas kulit punya laki-laki tua yang mengaku bernama Rayleigh tersebut.

"Ini barang-barang milik kakekmu kan?" tanya petugas itu.

"Tidak,…maksudku iya ini milik kakek tadi, tapi dia bukan kakekku.." kata Hekima sambil mengambil tas kulit tersebut dan menenteng pedang yang terbungkus kain itu.

"Lalu…siapa dia?" tanya petugas itu heran.

"….aku juga tidak tahu…kakek penggemar cosplay mungkin.." jawab Hekima datar.

Hekima langsung beranjak melangkah memasuki rumah sakit dan meninggalkan petugas yang kebingungan dengan kata-kata Hekima barusan.

Setelah memasuki rumah sakit dan menanyakan dimana letak ruangan UGD, Hekima segera mendatangi ruangan dimana letak lelaki tua itu dirawat. Dia bisa melihat Isamu didepan ruangan tersebut, sedang duduk disalah satu bangku berjejer dan tampaknya dia sedang termenung.

Tanpa berkata apa-apa, Hekima ikut duduk disebelah kanan Isamu dan menyimpan barang-barang yang tadi dibawanya di bangku kosong sebelahnya. Melihat kakaknya duduk disebelahnya, Isamu hanya melirik sekilas dan berdiam diri. Hekima pun mendengus melihat adiknya yang terlihat sedang memendam amarahnya dan sepertinya berusaha menenangkan diri dengan diam seribu bahasa. Beberapa saat mereka berdua hanya berdiam diri, tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Hekima melirik jam tangannya, dan ternyata sekarang sudah menunjukkan pukul 11.25 PM. Pantas saja udara semakin terasa dingin kata Hekima dalam hati, dia menggigil sambil merekatkan jaketnya dan melipat tangannya, berusaha menghangatkan tubuhnya.

"Pedang si kakek tua itu, benar-benar berat…" komen Hekima akhirnya, berusaha melumerkan suasana yang dingin.

"Jika Onee-san perhatikan baik-baik, pedangnya juga mirip dengan yang dipunyai di Manga maupun Anime…" Isamu akhirnya berbicara, menanggapi komentar kakaknya.

"Oh ya? Ngomong-ngomong, memang boleh ya kita membawa pedang ke rumah sakit?" tanya Hekima sepertinya baru menyadari hal tersebut.

Isama tertawa kecil, kemudian dia sekarang merenggangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya keatas.

"Mungkin mereka tidak menyadari kalau itu pedang beneran, apalagi pedang itu terbungkus dengan kain kusam seperti itu." ujar Isamu, dia sekarang menyenderkan punggungnya ke bangku.

"Benar juga…" kata Hekima sambil tersenyum.

"Onee-san apakah kau ingin memeriksa isi tasnya?" tanya Isamu sambil menoleh kearah Hekima.

"Huh? Kurasa tidak, itu sama saja dengan melanggar privasi orang lain.."

"Apa kau tidak tidak penasaran?"

"Isamu, apakah kau penasaran dengan isi tas kakek tua itu?" tanya Hekima balik.

"Kakek tua itu bernama Silver Rayleigh, dan apakah kau tidak ingin memastikan sesuatu?"

"Memastikan apa? Kalo dia Silver Rayleigh yang baru keluar dari dunia Manga? Oh please…" Hekima menyipitkan matanya.

"Apa salahnya kalau kita mencoba memastikannya…" Isamu tersenyum persuasif.

"Kita?...No, Thank you…" tanggap Hekima tidak tertarik.

"Kalau begitu berikan tasnya padaku…" pinta Isamu sambil menyodorkan tangan kanannya.

"Ya Tuhan…Isamu…." kata Hekima sambil mengusap mukanya.

"Aku ingin memastikan sesuatu, kita lihat apakan dia benar Silver Rayleigh yang asli." kata Isamu memandang serius kakaknya.

"Tidak, Kita tunggu si kakek tua itu siuman saja…" tolak Hekima.

"Silver Rayleigh…"

"Iya, terserah…" kata Hekima sudah mulai merasa lelah dengan segala kekonyolan ini.

Tiba-tiba seorang dokter dan beberapa suster keluar dari ruangan UGD, mereka sepertinya sudah selesai mengoperasi si kakek tua itu.

Dokter itu menghampiri mereka berdua, dan sepertinya akan menyampaikan sesuatu.

"Apakan kalian relasi dari orang yang baru saja aku operasi?" tanya dokter yang memakai kacamata, dan berperawakan kecil, berumur sekitar 40 tahunan.

"Iya, kami keponakannya…" kata Isamu langsung. Hekima hanya berdiam diri dan sudah malas untuk berusaha protes dengan adiknya yang sudah membulatkan tekadmya dalam ingin mencapai sesuatu, tidak satu orang pun bisa menghalangi keinginan adiknya kecuali mendiang Ayah mereka.

"Sepertinya paman kalian mengalami luka yang sangat parah, dia seperti baru saja mengalami perkelahian yang dahsyat, karena beberapa tulang rusuknya patah, banyak sekali luka memar dimana-mana, terlebih dengan beberapa luka dalam. Aku hanya bisa mencoba menahan rasa sakit disekujur badannya, mengeluarkan air laut yang ada diparu-parunya dan memperbaiki beberapa tulang yang salah tempat. Aku sangat kaget karena dia masih bisa bertahan hidup sampai saat ini, sepertinya dia mempunyai daya tahan tubuh yang kuat. Kira-kira kalian tahu mengapa paman kalian bisa sampai seperti itu?"

Hekima dan Isamu shock dengan penjelasan dokter itu, Isamu bingung harus menjawab apa, karena pikiran dia blank akibat rasa terkejutnya.

"Mungkin dia mengalami kecelakaan saat dia sedang memancing…" Hekima berusaha berbohong dengan membuat penyataan yang masuk akal.

"Memancing? Tapi sangatlah luar biasa pamanmu bisa berenang menuju ketepian pantai ditengah arus gelombang laut malam hari yang kuat, dalam keadaan tubuh seperti itu…" kata dokter tercengang dengan pasien yang baru saja dia operasi.

"Wajar saja dia bekas pensiunan tentara…" Hekima berpura-pura tersenyum bangga dan berbohong agar dokter tidak mencurigai mereka berdua kalau mereka sebenarnya sedang berpura-pura menjadi keponakan lelaki tua itu.

"Wow, pamanmu punya tubuh seorang superman kalau begitu.." puji dokter. "Walau stabil, tapi keadaannya masih kritis dan aku masih belum tahu apakah dia akan segera cepat sembuh, kita lihat perkembangannya besok saja."

"Kalo begitu terima kasih dokter, syukurlah pamanku sekarang baik-baik saja…" Hekima berpura-pura merasa lega.

"Apakah kami bisa melihat keadaannya sekarang?" tanya Isamu.

"Ya boleh, tapi jangan terlalu mengusiknya, dia masih belum siuman…" kata dokter.

"Okey, terima kasih dokter." ujar Hekima membungkukkan badannya, dan tidak lama Isamu mengikutinya.

Setelah Dokter itu meninggalkan mereka berdua, tanpa ragu-ragu mereka langsung masuk kedalam ruangan dimana lelaki tua itu dirawat. Mereka bisa melihat jelas lelaki tua itu masih terbaring dan dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Apa Onee-san masih meragukan dia, jika dia bukan Rayleigh?" tanya Isamu yang sekarang memandangi sosok lelaki tua itu.

"Itu hanya kebetulan…" sanggah Hekima.

"Tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini, bukankah Ibu selalu mengatakan itu." kata Isamu bersikeras.

"Tetapi tak ada yang bisa diterima secara logika, jika dia adalah benar-benar Silver Rayleigh!"

"Kurasa sepertinya ada sesuatu yang membuat dia datang kedunia ini, mungkin ada hubungannya dengan Oda-sensei." kata Isamu sambil menatap kakaknya.

"Apa,,?!" mulut Hekima ternganga.

"Iya, Onee-san masih ingat kan berita yang tadi siang, entah kenapa hati nuraniku mengatakan ini ada hubungannya dengan kecelakaan Oda-sensei."

"Mustahil!" pekik Hekima "Tolong pakai pikiran rasionalmu Isamu!"

"Tapi apa Onee-san tidak melihat dengan jelas semua hal yang sangat kebetulan ini?!"

"Kalau dia benar-benar tokoh dari One Piece, bagaimana dia bisa datang kemari, kedunia kita?" tanya Hekima sambil berusaha menahan amarahnya yang sedang meluap.

"Pasti ada alasannya, karena itu aku ingin menanyakan pada dia langsung." kata Isamu.

Hekima menggeleng-gelengkan kepalanya, disaat inilah dia saat membenci salah satu dari sifat adiknya.

"Bagaimana jika dia hanya orang gila.?"

"Tidak mungkin…kurasa dia waras…" bantah Isamu.

"Kalau dia berpura-pura menjadi Silver Rayleigh?"

"Onee-san masih benar-benar mengira dia seorang cosplayer?!" suara Isamu meninggi.

"Lalu kau pikir dia benar-benar Silver Rayleigh asli?!" urat kepala Hekima menegang.

"Iya! aku merasa yakin, dengan segala penampilannya, semuanya sangat cocok!"

"Kalian…." tiba-tiba terdengar suara dari samping mereka.

Hekima dan Isamu langsung terdiam dan menoleh perlahan kearah sumber asal suara tadi, terlihat lelaki tua yang mirip dengan Silver Rayleigh itu sudah membukakan matanya. Lelaki tua itu menatap mereka berdua beberapa saat dan kemudian matanya melihat kesekeliling ruangan. Hekima dan Isamu saling berpandangan sesaat, lalu kembali melihat lagi lelaki tua yang baru saja siuman itu.

"Ahhh…tunggu dulu," kata lelaki tua itu tiba-tiba, sebelum Hekima maupun Isamu mengeluarkan suara, "Jangan mengatakan apapun, sepertinya aku mulai bisa membaca situasi yang sedang terjadi sekarang." kata lelaki tua itu dengan tenang sambil memandangi mereka berdua. Lelaki tua itu berdehem keras dan terbatuk-batuk sebentar.

Lalu lelaki itu menarik nafas panjang dan perlahan-lahan badannya bangkit sehingga dia terduduk. Dia mencabut maskernya dan jarum infus ditangannya tanpa ragu-ragu, kemudian matanya terpejam, seolah-olah dia sedang bermeditasi.

Hekima dan Isamu hanya bisa bengong melihat sosok lelaki tua itu, entah kenapa sosok lelaki tua itu membuat mereka tercengang, rasanya ada aura karismatik disekelilingnya yang membuat mereka secara tidak sadar mengagumi sosok yang mereka lihat sekarang. Isamu menelan ludahnya, karena dia sangsi setelah mendengar suara lelaki tua itu dan melihat gerak-geriknya, sangatlah sesuai dengan Silver Rayleigh yang selama ini dia ketahui lewat Manga maupun Anime, dia semakin yakin jika sosok didepannya adalah Silver Rayleigh asli, sedangkan Hekima masih berpikir mengapa suara dan tingkah laku lelaki tua itu bisa sangat mirip dengan tokoh fiksi.

"Terima kasih kalian berdua sudah menolongku…" katanya sambil membuka matanya dan tersenyum ramah pada mereka berdua.

"Tidak masalah….." kata Isamu grogi.

"Kalian berdua sepertinya bersaudara, yang disebelah kiriku sang kakak dan kau yang memakai baju lambang Mugiwara adalah sang adik, benar kan?."

"Hu-uh.." Isamu hanya bisa menganggukan kepalanya.

"Ba-bagaimana kau bisa berenang menyelamatkan diri?" tanya Hekima memberanikan diri.

"Sebelum aku menceritakannya, bagaimana kalau memberi tahu nama kalian berdua terlebih dahulu, Namaku Silver Rayleigh, kalian panggil saja aku 'Ray-san'" katanya masih tersenyum, sepertinya dia sudah tidak merasakan sakit ataupun terluka, sangat berbeda dengan keadaannya saat kedua kakak-beradik tersebut pertama kali menemukannya di pantai.

"Ray-san…" mata Isamu terbelalak.

"Iya…ada apa?" tanyanya. "Mengapa kalian terlihat sangat tegang? Apakah kalian tahu siapa aku?"

"Namaku Hekima Douglas, tolong berhentilah berpura-pura kakek tua…" tuduh Hekima.

"Onee-san!" protes Isamu.

"Hekima-kun, aku tidak sedang berpura-pura…" ekspresi Rayleigh berubah bingung.

"Kau sedang berpura-pura menjadi salah satu tokoh One Piece, mengapa harus repot-repot melakukan hal sekonyol ini?" tanya Hekima dengan nada ketus.

"Onee-san, mengapa kamu masih meragukan Ray-san? Coba lihat dan perhatikan baik-baik bagaimana penampilannya, suaranya dan juga tingkah lakunya!"

"Hmmm…" Rayleigh mengelus-ngelus jenggotnya, sambil memikirkan sesuatu.

"Ray-san, namaku Isamu Douglas, aku percaya jika kamu adalah sang The Dark King yang asli." kata Isamu.

"Isamu-kun, terima kasih sudah mempercayaiku…" Rayleigh tersenyum lagi "tapi tampaknya kehadiranku didunia ini, sepertinya adalah sesuatu yang fiksi."

"Tentu saja, kau tokoh buatan manusia, mana mungkin aku mempercayai hal yang tidak ada didunia ini!" kata Hekima memandang tajam Rayleigh.

"Mungkin kamu belum mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak kamu ketahui.." kata Rayleigh.

"Apa maksudmu?" tanya Hekima bingung.

"Sesuatu yang diluar nalar pikiranmu, yang tidak bisa disentuh, dan hanya bisa dirasakan hati nuranimu.." jelas Rayleigh.

Hekima benar-benar bingung dengan pernyataan Rayleigh, sekarang memang hati nuraninya bergelut dengan akal sehatnya. Dalam hati Hekima memang mengakui bahwa penampilan lelaki tua itu sangatlah mirip dengan tokoh fiksi One Piece, tapi disisi lain dia berpikir jika rasanya mustahil kalau tokoh fiksi bisa menjadi kenyataan.

"Aku tahu sekarang kau sedang mengalami dilemma, aku juga baru saja merasakannya saat aku memutuskan untuk datang ke dunia ini, ternyata aku hanya seorang tokoh fiksi didunia lain." kata Rayleigh sambil menarik nafas panjang.

"Lalu mengapa kamu datang ke dunia ini?" tanya Hekima sedikit melunak.

"Aku datang untuk mencari pertolongan yang terakhir…" ujar Rayleigh sedih.

"Pertolongan? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Isamu penasaran.

"Sesuatu hal telah merusak keseimbangan duniaku, perlahan-lahan aku bisa merasakan duniaku diambang kehancuran…" kata Rayleigh muram.

"Maksudmu…dunia One Piece…?" tanya Isamu takut-takut.

"Hahaha…Iya, duniaku yang terdapat One Piece…" Rayleigh terkekeh.

"Lalu pertolongan apa yang kau cari didunia kami?" tanya Hekima, masih mencurigainya dan terus berusaha menyelidiki Rayleigh.

"Aku membutuhkan seseorang dari dunia ini, agar menyelamatkan duniaku…"

"Apa?!" seru Hekima dan Isamu bersamaan.

"Iya, 'Sang oracle' dari duniaku memberitahukan aku jika aku ingin menginginkan duniaku selamat, aku harus datang kedunia tempat 'Sang pencipta', lalu mencari 'Sang penyelamat' agar bisa memperbaiki sesuatu yang salah dari duniaku…"

"Sulit dipercaya…" guman Isamu.

"Gila…ini..benar-benar edan…" Hekima tercengang dengan kata-kata Ray-san.

"Apa yang salah dari duniamu?" tanya Isamu.

"Aku tidak tahu apa…'Sang oracle' memberitahukan aku jika hanya 'Sang penyelamat' yang akan mengetahui apa yang salah dari duniaku, karena mereka mengetahui dunia kami walaupun kami tidak mengetahui dunia mereka…"

"Bagaimana 'Sang penyelamat' dari dunia lain harus menyelamatkan duniamu jika kamu sendiri tidak mengetahui harus berbuat apa dengan semua masalah diduniamu." kata Isamu bingung.

"'Sang oracle'…hanya memberitahukanku satu petunjuk kunci untuk menyelamatkan duniaku…"

"Apa itu?" tanya Isamu tidak sabar.

Rayleigh menarik nafas panjang dan dengan pelan-pelan mengatakan,

"Selamatkan…Monkey D. Luffy …."

Mulut Hekima dan Isamu menganga, rasanya dunia disekitar mereka terhenti sesaat.

Melihat reaksi mereka berdua, Rayleigh menyadari jika kedua orang ini sepertinya benar-benar mengenali dunianya.

"Memangnya ada apa dengan Luffy?" tanya Isamu tegang.

"Sesuatu yang buruk telah terjadi padanya…" ujar Ray-san matanya menyiratkan kesedihan.

"Bagaimana dengan kru Mugiwara yang lain? Jika Luffy dalam keadaan bahaya kurasa mereka tidak mungkin berdiam diri" kata Hekima.

"Sepertinya kalian mengetahui persis bagaimana duniaku..." katanya sambil tersenyum lebar."Bagaimana jika sebaiknya kalian yang mencari tahu sendiri?" tawar Rayleigh.

"Apa maksudmu?—kita yang mencari tahu sendiri?" kata Hekima hati-hati.

"Jangan bilang kami yang kamu pilih!" seru Isamu terkejut sekaligus senang.

"Ya…sepertinya begitu…" kata Rayleigh tersenyum.

"Tunggu! Bagaimana kalau kita tidak mau! Lagipula aku masih belum bisa mempercayaimu." protes Hekima.

"Semua keputusan ada ditanganmu, jika kalian tidak mau menolong, mungkin memang seharusnya dunia kami hancur…" kata Rayleigh sambil tersenyum sedih. "Lagipula waktuku sudah tidak banyak lagi..."

"Aku mau menolong dunia kalian…" kata Isamu memutuskan tiba-tiba.

"APA!" Hekima berteriak marah pada Isamu.

"Jika Onee-san tidak mau, biar aku saja…" Isamu menawarkan diri.

Hekima langsung menarik lengan Isamu agar bisa menatapnya mata adiknya lekat-lekat dan memelototi adiknya.

"Kamu sudah Gila ya!" bentak Hekima.

"Jika Onee-san tidak mau, biarkan aku menolong mereka!" balas Isamu sambil berteriak.

"Kau pikir kau bisa menyelamatkan Luffy dan dunianya?!" teriak Hekima.

"Memangnya kenapa?!" Isamu balas berteriak.

"Dengar dan Coba Pikir! Salah satu tokoh terkuat di One Piece tidak bisa menyelamatkan seorang Luffy, bagaimana dengan dirimu?!" kata Hekima sambil menekankan jari telunjuknya kedada Isamu.

"Kalau kita tidak mencobanya kita tidak akan tahu kan Onee-san…" ujar Isamu.

"Kau…" Hekima benar-benar kehilangan akal dalam menyadarkan adiknya yang sangat keras kepala ini.

"Lagipula, sepertinya kau tanpa sadar sudah mempercayai jika lelaki tua ini Silver Rayleigh dan kau percaya dengan kata-katanya…" kata Isamu tersenyum memandangi Hekima yang marah tanpa gentar.

Hekima menggertakan giginya, tanda dia sudah benar-benar diambang batas kesabarannya.

"Bodohhh!" Hekima langsung mendorong tubuh Isamu ke lantai, sehingga Isamu terjatuh dan teerlempar kelantai. Hekima yang sangat marah, langsung beranjak pergi meninggalkan Isamu dan Rayleigh, keluar dari ruangan UGD dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, dia ingin sekali cepat-cepat segera sampai pulang ke Hotel. Hekima langsung mencari taksi dan pulang meninggalkan adiknya di rumah sakit.

Isamu hanya bisa melihat kakaknya yang marah keluar dari ruangan UGD dan dia bangkit dari lantai. Isamu menepuk-nepuk celananya, membersihkannya dari debu.

"Maafkan aku…karena.."

"Tidak Ray-san…jangan meminta maaf, harusnya aku yang meminta maaf atas perilaku kakakku…" potong Isamu.

"Tidak…aku juga bisa memahami bagaimana perasaannya sekarang, lagipula aku hanya tokoh fiksi di dunia ini, itu memang kenyataannya." kata Rayleigh menatap muka Isamu yang terlihat sedih.

"Aku tahu Eki-neesan sebenarnya sudah menyadari jika kamu benar-benar Silver Rayleigh, hanya…"

"Hanya dia mempunyai pemikiran yang panjang dan penuh logika…" tebak Rayleigh.

"Ya, dia mirip dengan pemikiran Ibu yang seorang detektif…" ujar Isamu tersenyum tipis.

"Sepertinya kakakmu pintar bermain catur." tebak Rayleigh lagi.

Isamu tertawa terkekeh dan tersenyum semakin lebar.

"Tepat sekali, dia memang cewek tomboy yang penuh taktik dan perhitungan. Dia juga seorang pemain kendo yang handal."

"Menarik…" puji Rayleigh, matanya menunjukkan binar kagum.

"Tapi ada kalanya dia malah jadi orang yang licik dan licin." gerutu Isamu sambil meruncingkan bibinya.

Rayleigh tertawa dan tidak lama Isamu ikut tertawa bersamanya.

"Bisakah kau mengambil kacamataku?" pinta Rayleigh sambil menunjuk letak kacamatanya yang berada disebelah ranjang diatas meja kayu. Isamu segera mengambil kacamata Rayleigh, tapi sebelum Isamu menyentuh kacamata tersebut, Rayleigh menggumankan sesuatu yang sepertinya dia baru menyadari sesuatu.

"Oh! Apakah kalian membawa tasku dan juga pedangku?" tanya Rayleigh tiba-tiba.

"Iya, kami sudah membawanya, tenang saja Ray-san."

"Syukurlah, untung tidak hilang…" Rayleigh lega mengetahui tas miliknya tidak lenyap," Maaf, bisakah kau juga membawakannya kepadaku?" pintanya.

"Hai, tidak masalah." setelah Isamu mengambil kacamatanya, diasegera mengambil tas kulit dan pedang yang terbungkus kain kusam milik Rayleigh,

Isamu menggusur pedang terbungkus kain dan merangkulkan tas kulitnya di pundaknya. Lalu dia menyerahkan tas kulit dan juga pedang tersebut kepada Rayleigh.

"Kau benar-benar anak laki-laki yang baik…" puji Rayleigh.

"Ahhhh…tidak.." pipi Isamu merah karena malu dipuji tokoh favoritnya di One piece," Mungkin karena aku salah seorang dari fan-mu, aku jadi berbuat baik padamu, ini kacamatanya.." kata Isamu menyerahkan kacamata Rayleigh yang tadi ditaruh disaku jaketnya.

"Ohhh aku terkenal didunia ini juga, sungguh mengejutkan." Rayleigh terkekeh, lalu dia memakai kacamatanya.

"Iya, kau tokoh yang keren dan terkenal sangat kuat, aku suka sekali melihat Ray-san ikut bertarung berusaha membantu Luffy dan teman-temannya melawan Kizaru dan Sentoumaru di Shanbody." kata Isamu antusias, tentu saja semua fanboy pasti akan senang melihat para tokoh favoritnya secara nyata juga langsung berbicara padanya.

"Rupanya kau juga mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di duniaku.." kata Rayleigh.

"Iya, tapi tidak secara detail atau menyeluruh sebenarnya aku mengetahuinya secara objektif sesuai yang diceritakan Oda-sensei." jelas Isamu.

Rayleigh tiba-tiba mengerutkan keningnya, mukanya sekarang berubah dan menatap Isamu dengan serius.

"Kurasa Eiichiro Oda-sensei itu adalah penciptamu." kata Isamu.

"Ternyata itu nama Sang pencipta duniaku…" ujar Rayleigh, matanya menyiratkan kesedihan. "Bisakah aku bertemu dengannya.."

"Soal Oda-sensei…sepertinya saat ini Ray-san tidak bisa bertemu dengannya…" kata Isamu sambil mengalihkan pandangannya dari Rayleigh ke lantai.

"Sepertinya ada sesuatu yang buruk terjadi dengan Sang pencipta, benar kan Isamu-kun? Aku bisa menebaknya dari raut mukamu."

"Iya…dia sedang mengalami koma sekarang, akibat suatu kecelakaan lalu lintas." Isamu tidak berani memandang mata Rayleigh, karena dia merasa tidak tega dan sedih.

"Aku mengerti…." Rayleigh mendesah panjang. "Memang alam itu ada hukum sebab dan akibatnya."

"Hukum sebab-akibat?"

"Iya, rasanya aku mulai paham mengapa duniaku terasa tidak seimbang dan kacau." kata Rayleigh matanya menerawang kedepan.

"Kalau memang itu penyebabnya kurasa kita harus menolong Oda-sensei." saran Isamu.

"Aku tidak bisa…" kata Rayleigh.

"Kenapa?" Isamu tidak menyangka Rayleigh tidak mau meolong Sang penciptanya.

"Aku sudah bilang, aku tidak punya banyak waktu lagi.." jawab Rayleigh sedih.

"Apa maksudnya dengan tidak mempunyai banyak waktu lagi?" Isamu merasakan hal yang tidak enak.

"Sebentar lagi aku akan mati, Isamu-kun." kata Rayleigh sambil tersenyum sedih.

Badan Isamu rasanya seperti disengat listrik, dia merasakan suhu tubuhnya tiba-tiba turun.

"Sebentar lagi…., memangnya kau sedang sakit Ray-san?" tanya Isamu cemas.

"Kau tahu tadi kakakmu barusan menanyakan padaku bagaimana aku bisa datang kedunia ini."

"Iya, Eki-neesan bertanya padamu soal itu, memangnya bagaimana caramu datang kemari?"

"Aku menggunakan 95 persen nyawaku supaya aku bisa datang kemari, itu resiko dan syarat aku bisa datang kemari." Rayleigh ketawa tertekan. "Ternyata sihir kuno itu berhasil dan sisa dari nyawaku aku gunakan untuk berenang ketepian pantai."

Isamu tidak tahu harus berkata apa, setelah mendengar penjelasan dari Rayleigh. Dia shock dan merasa sangat simpati pada lelaki tua didepannya, dia baru menyadari Rayleigh memang terlihat begitu tua, rapuh dan lelah, sepertinya memang terlihat nyawanya tersedot oleh sesuatu.

"Jika tebakanku tepat waktuku hanya sekitar 10 jam lagi." tambahnya kemudian dia terbatuk-batuk.

"Ray-san…, aku turut bersedih mendengarnya…" kata Isamu sedih, dia menggigit bibir bawahnya supaya tidak menangis. Baru saja dia merasa senang bertemu Rayleigh, tapi sekarang tidak lama dia akan menemui ajalnya.

"Sudahlah, jangan bersimpati padaku Isamu-kun." Rayleigh mengelus kepala Isamu sesaat.

"Aku sangat bersyukur ada seorang bocah yang bisa mempercayaiku secepat ini dan tanpa segan-segan bersedia membantuku." katanya sambil tersenyum lebar, Isamu sangat hapal dengan senyuman itu, senyuman yang hangat mirip almarhum ayahnya.

"Kalau begitu bagaimana caranya aku menyelamatkan duniamu?" tanya Isamu tiba-tiba.

"Woahh kau benar-benar ingin menolong duniaku?" tanya Rayleigh nyengir, mukanya terlihat kembali cerah.

"Iya, aku sudah bertekad bulat." kata Isamu sambil menepuk dadanya. "Seorang lelaki tidak akan menarik kata-katanya lagi."

"Ini kualitas yang sangat aku butuhkan dari Sang penyelamat." Rayleigh tertawa.

"Jadi aku sudah memenuhi syarat ya?" kata Isamu nyengir.

Rayleigh tertawa semakin keras, tawanya membahana hampir keseluruh ruangan.

"Bocah yang menarik…ternyata takdir itu memang ada, tidak sia-sia aku mempertaruhkan nyawaku dan langsung bertemu dengan kalian berdua."

"Lagipula ingin sekali aku berlibur musim panas ke duniamu, ini akan menjadi pengalaman yang takkan terlupakan." kata Isamu bersemangat.

"Liburan? Kau tahu ini adalah suatu misi yang berat dan fatal, jika kau salah langkah maka semuanya akan berakhir." kata Rayleigh menatap tajam Isamu.

Isamu menelan ludahnya, melihat Sang The Dark King menatapnya dengan tajam seperti itu membuatnya merinding, rasanya kakek tua itu bisa melihat kedalam jiwa Isamu.

"Bagaimana Isamu-kun, apa kau bersedia menerima resikonya, apa kau sanggup menolong Monkey D Luffy ?" kata Rayleigh menyeringai.

"Kalau kita tidak mencobanya kita tidak akan tahu kan." kata Isamu tersenyum memandang Rayleigh yang tercengang, bocah ini mengingatkannya pada sesosok yang sangat dikenalnya katanya dalam hati.

"Bagus! Kuharap kau tidak akan menyesali keputusanmu."

"Lalu sekarang bagaimana caranya aku pergi keduniamu?" tanya Isamu.

"Ada dua cara bagaimana kau bisa pergi keduniaku, tapi aku ingin kau memakai cara yang pertama."

"Mengapa aku memakai cara yang pertama?" tanya Isamu bingung.

"Karena ada orang kedua yang akan ikut menjalankan misi ini, lagipula aku lupa membawa buah yang satu lagi." jelas Rayleigh.

"Buah..!" Isamu tercengang.

"Kurasa kau sudah tahu buah yang aku maksud." kata Rayleigh sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

"Buah Iblis!"

Rayleigh tersenyum lebar mendengar bocah didepannya bisa menebaknya dengan tepat, tidak salah lagi bocah ini sangat tepat untuk menyelamatkan Luffy pikirnya.

"Dengan memakan buah iblis ini, maka kau akan langsung meninggalkan duniamu dan beralih keduniaku." kata Rayleigh sambil menyodorkan buah yang bentuknya mirip dengan apel tapi memiliki corak melingkar-lingkar sesuai dengan ciri khas buah iblis lainnya, dan uniknya warna kulit buah tersebut berwarna emas.

"Woahhhhh Keren!" seru Isamu langsung meraih buah iblis itu dan mengamatinya dengan mata berbinar-binar.

"Selain itu aku akan memberikan buku catatanku, sebagai buku panduan untukmu dalam menjelajahi duniaku juga akan membantumu dalam menjalani misi ini." terang Rayleigh. "Juga satu potong vivre card." tambahnya sambil mengeluarkan barang-barang yang tadi dia sebutkan, sebuah buku yang terbungkus kulit berwarna coklat dan dia membuka buku tersebut dan mengeluarkan sepotong kertas putih berbentuk segi empat.

"Syukurlah karena bukuku terbungkus kulit jadi isinya tidak basah dan kertas vivre cardnya berada didalamnya." kata Rayleigh memeriksa barang-barangnya.

"Vivre card punya siapa itu?" tanya Isamu penasaran.

"Ini milik teman dekatku." jawab Rayleigh.

"Siapa?"

Dretttt Drreeettttt.

Tiba-tiba terdengar getaran handphone Isamu, karena ruangan tersebut sepi jadi bisa terdengar hapenya bergetar tanda ada panggilan masuk atau ada sms yang masuk. Isamu langsung mengambil hapenya dari jaketnya dan melihat kelayar hapenya. Ternyata ada sebuah pesan masuk, Isamu langsung membacanya dan langsung mendesah panjang.

"Apa itu?" kata Rayleigh.

"Benda ini namanya Handphone, alat komunikasi di dunia kami seperti Den den mushi diduniamu." Jelas Isamu.

"Mengapa tidak bersuara?"

Isamu terkekeh, Rayleigh pasti menyamakan handphone dengan alat komunikasi unik dari dunianya pikir Isamu.

"Handphone juga bisa mengirimkan sebuah pesan tertulis." terang Isamu. "Aku mendapatkan pesan dari cewek tomboy yang baru saja ngambek padaku." tambahnya.

"Apa yang dia tulis?" tanya Rayleigh penasaran.

"Hmm.. disini tertulis, 'Baka! Cepat pulang ke Hotel! Aku sudah menyuruh taksi yang tadi aku tumpangi supaya menjemputmu.'"

Rayleigh tertawa setelah mendengar pesan dari Hekima yang dibacakan Isamu.

"Rasanya kakakmu marah bukan karena tindakan gegabahmu." kata Rayleigh menyenderkan punggungnya kebantal, berusaha membuat rileks badannya.

"Memangnya Ray-san pikir dia ngambek karena apa?" tanya Isamu.

"Karena dia takut dan khawatir jika adiknya kenapa-kenapa." kata Rayleigh tersenyum lagi.

Mendengar kata-katanya Isamu sedikit terkejut dan perlahan-lahan dia ikut tersenyum.

############################################################

Author's note:

Tadinya memang konsep pertama kalinya fanfiksi ini akan kubuat dengan bahasa Inggris, tapi mengarang fanfiksi dengan menggunakan bahasa asing itu sangatlah sulit. Terutama dalam pemilihan grammar. Tanpa habis pikir, aku buat versi bahasa Indonesia dulu, dan jika cerita ini diminati maka akan kubuah versi bahasa Inggrisnya.

Untuk para reader, Please REVIEW!

Jika ada saran dan kritik tolong sampaikan melalui review, bagiku review adalah nyawa dari cerita ini. Aku memang pemula dan baru di , kuharap ceritaku bagus dan diminati orang lain. Semoga kalian menikmatinya seperti aku menikmatinya dalam membuat cerita fanfiksi ini, Terima Kasih.

Spoiler Chapter 3:

Isamu menggosok-gosokkkan matanya dengan kedua tangannya, berusaha agar matanya bisa melihat pemuda tersebut dengan jelas. Isamu lalu menatap pemuda itu lekat-lekat, dan jantungnya berdegup kencang. Tidak salah lagi, pemuda itu, salah satu tokoh yang cukup dikenal di One Piece. Mulut Isamu menganga berusaha mengucapkan sesuatu, tapi tersangkut karena rasa kagetnya, dan dia sadar jika dia sudah berada di dunia dimana para bajak laut Mugiwara hidup.

End spoiler

End Spoiler.