Ia hanya ingin bersama dengan tim basket Seirin dan Akashi -orang yang dicintainya. Sampai nanti tiba saatnya bahwa ia bisa lepas dari bayang-bayang sang paman. Hanya tunggu sampai saat itu tiba.
Tapi-
Apakah ia sanggup menunggu selama itu?
Kouki tidak pernah membayangkannya.
Dan disaat kesadarannya mulai menghilang, Furihata masih bisa mendengar dengan jelas. Bagaimana rambut merah Akashi yang basah sedikit bergoyang ketika ia mencapai titik puncak untuk yang ketiga kalinya mendesahkan sebuah nama yang membuat hatinya tercabik.
"Tetsuya"
.
.
.
.
.
Karena Aku Bukan Dia
Story by ocana
Disclaimer by Fujimaki Tadatoshi
Rated : M (Mature content)
Genre : Angsty, romance
Main Pair : Akashi Seijuurou – Furihata Kouki
-I told u before about the content, so if u don't really like pair on this story my apologize and please go away-
.
.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul Sembilan pagi, dan Furihata jelas sama sekali tidak memiliki niat untuk sekedar membangunkan diri dari atas ranjang. Tubuhnya sangat sakit. Tadi malam Akashi memperlakukannya cukup kasar, tidak hanya itu. Hatinya cukup terluka atas perlakuan pemuda itu. Mendapati seorang yang kau cintai setengah mati dan rela melakukan apa saja untuk melakukan apapun menyebutkan nama lain ketika sedang bercinta denganmu. Itu cukup untuk menampar Furihata. Dunia yang mengatakan bahwa hubungan yang jelas baru berumur kurang dari sebiji jagung hanya sepihak yang menghendaki. Meski begitu Furihata tetap ngotot memaksakan hubungan mereka. Akashi tidak perduli, Furihata hanya akan menjadi pelampiasan nafsu birahinya semata. Tidak lebih. Ini adalah keputusannya, dan ia tahu konsekuensinya.
Resmi menjadi kekasih Akashi, sekalipun diperlakukan buruk dan lebih parah tidak dianggap. Furihata dengan pemikirannya yang kelewat sederhana masih mampu menguraikan senyum lirih mendapati hubungan baru yang Akashi dan ia jalani. Katakan dia gila atau apapun itu. Ia sudah kebal. Bahkan dunia menyadari bahwa afeksi cinta buta hanya dirasakan oleh sebelah pihak, Furihata meyakini, hati manusia akan berubah. Sekeras-kerasnya hati manusia, bahkan sebeku apapun dinginnya hati Seijuurou yang mungkin saja bisa diibaratkan seperti musim dingin yang mendera Hokkaido bertahun-tahun tentu akan tiba masa dimana matahari akan terbit dan memekarkan kuncup bunga sakura merefleksi cinta Akashi padanya. Meskipun kecil, kemungkinan itu tetaplah ada.
Bodoh, di jepang mana ada salju yang turun bertahun-tahun tanpa henti.
Sekalipun pengecut dan selalu tenggelam dengan pemikiran tololnya, Furihata bukanlah semacam pesakitan yang akan menyerah hanya karena satu kali penolakan dan terpuruk terus menerus karenanya. Ia keras kepala, dan semua orang tahu itu. Berhenti ditengah jalan hanya akan membuang waktu. Omong kosong dengan semua nilainya yang jeblok, penganiayaan, ataupun perkosaan yang menghiasi masa-masa mudanya yang suci. Yang ia butuhkan saat ini adalah seseorang yang menjadi tujuan hidupnya. Ia tidak perlu dicintai, baginya mencintai seorang Akashi Seijuurou sudahlah cukup. Karena hanya dengan mencintainya, pemuda itu bisa merasakan bahagia.
Kebahagiaan yang telah lama terenggut olehnya.
Kedua iris mungilnya mengerjap membiasakan keadaaan gemilang mewah yang ada di sekitarnya. Bagaimanapun Furihata butuh waktu untuk membiasakan diri dengan kemewahan keluarga Akashi. Menangkap semangkuk oatmeals yang tidak lagi mengeluarkan uap panas, segelas susu dan setangkup roti bakar diatas meja, pemuda itu tersenyum tipis. Tahu benar siapa yang menyiapkannya. Disebelahnya terdapat kemeja biru kotak-kotak lengan panjang dihanger serta satu lipat celana jeans coklat muda. Namun entitas yang jelas Furihata cari sejak tadi sama sekali tidak menampakan batang hidungnya. Waktu terus berjalan, dan sejumput surai crimson pun tidak ia temukan. Sebenarnya ia ingin pulang pagi-pagi tadi, dengan memikirkan kemungkinan bahwa lelaki 'itu' tidak akan menyadari kehadiraanya. Ya, lelaki itu adalah sang paman. Ogiwara Shigehiro.
Furihata, sekalipun hampir dua tahun ia tinggal bersama dengannya, perasaan takut akan terror penyiksaan dari sang paman sama sekali tidak menghilang. Perlakuan buruk yang ia terima dari hari kehari cukup untuk tidak membuatnya memulai pembicaraan yang berarti dengannya, bahkan hanya untuk sekedar saling bertatap muka lama. Di hari-hari biasa, saat pagi hari ia akan duduk dimeja makan sendiri dengan sarapan yang sudah disiapkan oleh seorang pembantu yang disewa untuk datang di jam-jam tertentu. Ia tidak mengerti, Sekalipun sang paman membenci dan memperlakukannya sangat buruk, namun kenyataan bahwa lelaki itu tetap mengurusnya dan memastikan bahwa segala keperluannya terpenuhi tetaplah ada.
Ogiwara jarang menampakan diri, sesekali ia datang dengan keadaan mabuk dan marah, dan ketika saat itu tiba maka dipagi harinya tubuh Furihata akan penuh dengan tanda lebam atau bahkan tidak masuk sekolah karena kesakitan sehabis secara paksa bercinta dengan sang paman. Tetapi lelaki itu lebih sering pulang dengan keadaan baik, hanya sebentar mengambil beberapa barang kantor dan kemudian tanpa banyak berkata-kata melenggang pergi. Seakan menunjukan bahwa lelaki itu tidak terlalu perduli dengan kehidupan Furihata. Meski begitu Furihata yakin pasti, sedikit pun perhatian dari sang paman menjelaskan bahwa lelaki itu tidak benar-benar membencinya. Mimik mukanya yang selalu sedih juga mengingatkannya bahwa bukan Furihata sendiri yang merasakan kesedihan atas kematian ibunya. Hal itu pula yang memaksa hatinya enggan untuk pergi dan memilih terus bertahan dari segala limpahan amarah yang selalu lelaki itu tumpahkan padanya. Anggap saja bodoh, dan ia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Lagipula, kemana lagi ia bisa pergi.
Suara getaran ponsel mengalihkan atensi pemuda itu. Bibirnya mengulas senyum tipis ketika sebuah nama pemuda crimson tertera disana. Seolah segala rasa sakitnya menguap entah kemana mendapati bahwa Akashi telah pergi lebih dulu dan sekarang memintanya untuk menyusul. Lantas secepat kilat pemuda itu mengganti pakaian yang sudah disiapkan tadi, mengenakan sneakers andalannya dan melenggang keluar. Hatinya berdesir bahagia tidak sabar bertemu dengan Akashi.
.
.
.
"Kau terlambat, Kouki"
"Ma-maaf!"
Seperti dejavu kejadian yang sama kembali terulang.
Furihata menunduk, bukan salahnya jika bis yang ia tumpangi tadi mendadak mogok dan terlebih karena sial atau apa uangnya menghilang entah kemana. Mengharuskannya berjalan sejauh satu kilometer agar sampai ditempatnya berpijak sekarang. Bahkan ia belum sempat mengisi perut, Furihata mengutuk dalam hati atas kebodohannya. Lagipula kenapa juga Akashi tidak mengajaknya berangkat bersama.
Akashi mendengus tak habis pikir, menelisik sosok didepannya kembali. Pemuda di depannya tentu jauh dari kriteria penuh elegensi yang sering Akashi gemborkan menjadi tipe wanita atau bisa jadi pria idamannya. Tidak tepat waktu, tidak rapi, dan apa-apaan penampilannya itu, benar-benar tidak bisa diharapkan. Bukankah sebelumnya baju yang ia pilihkan sudah cukup bagus dan pas untuknya, tapi entah mengapa kesan lusuh dan kampungan sama sekali tidak bisa tersingkir. Furihata semakin menunduk ketika kedua iris tajam Akashi seakan kembali mengintimidasi. Berpikir apakah Akashi marah karena keterlambatannya, ataukah karena penampilannya? Kalau boleh jujur dia belum sempat mandi tadi.
"Ayo masuk"
Perkataan Akashi lantas menghentikan langkah Furihata, ia ingat bahwa saat ini tidak ada sepeser pun uang didompetnya
"Ano-"
Akashi menghela nafas "Tutup mulutmu dan ikuti aku" seolah tahu apa yang pemuda itu pikirkan, Akashi kembali bersuara dengan nada berat khas nya.
Masih menunduk sembari memainkan ujung kemeja kebesaran miliknya, tarikan disebelah lengannya membuat Furihata tertegun. Dan seperti melupakan kejadian beberapa detik yang lalu, pemuda itu tidak bisa lagi menahan senyumnya ketika mendapati telapak tangan Akashi yang besar dan hangat menggenggamnya. Perasaan hangat itu lantas menjalar hingga ke hati, dan dari sudut matanya pemuda dengan rambut merah menyala itu menangkap lesung pipit yang muncul akibat senyuman bodoh pemuda disampingnya. Akashi hanya mendengus.
Kedua pemuda itu masuk melalui jalur khusus, mengingat bagaimana status sosial Akashi saat ini, Furihata tidak mau lagi bertanya. Belum semenit mereka menginjakan kaki, suara nyaring melengking yang nyaris memecahkan gendang telinga Akashi membuat langkah mereka terhenti. Sedikit sangsi namun jelas menyadari, Furihata melihat Kise Ryouta sang Ace Kaijou bersemangat berlari terbirit-birit kearahnya-atau Akashi sembari melambai-lambai hiperaktif.
"Ah, Kise kau sudah datang?"
"Tentu, kita sudah menunggumu dari tadi!" ujar pemuda blonde itu dengan senyum yang kelewat lebar.
"Kita?" Furihata mengernyit. Dari balik punggung Kise, Furihata melihat lima sosok yang familiar mendekat kearah mereka. Kiseki no Sedai. Pemuda itu mengernyit. Furihata jelas bisa merasakan bagaimana tubuh Akashi menegang sesaat mendapati sosok yang dikalkulatif sebagai Kuroko berada diantara mereka. Wajar kana da Kuroko disana, dia kan salah satu anggota kisedai.
"Akashi-cchi tidak memberitahumu? Huh, kau kejam sekali"
Akashi mendelik, mengutuk mulut mantan anggota tim nya di Teikou. Kise dan mulut embernya.
"A-ah hehe" Kise menggaruk kepalanya canggung. "Sebenarnya anggota kisedai janjian hangout hari ini Furihata-cchi, sekalian hitung-hitung minta traktiran Akashi-cchi merayakan hari jadi kali-Ouch sakit! Aomine-cchi!" tamparan keras dikepala telak membuat Kise protes, siapa lagi kalau bukan ulah dari si dim mantan se-tim nya di Teikou yang doyan mem-bully nya. Meski tidak menampik kemungkinan bahwa anggota yang lain juga mempunyai hobi yang sama.
"BagusAomine, biar dia tidak tambah berisik" Suara beratMidorima membuat Kise menggerutu. Seorang pemuda raksasa muncul dari belakang punggung shooter Shutoku itu, mulutnya sibuk mengunyah jajanan entah apa. Dia, Murasakibara.
Selanjutnya gurauan-gurauan singkat dan tingkah konyol para anggota kisedai mengisi kebersamaan mereka. Seharian itu Furihata habiskan bersama ke enam anggota Kisedai, tingkah konyol mereka berlima sesekali menyedot perhatian publik. Meski yang tanpa sikap konyol mereka itu pun tentu siapa saja yang berpapasan akan memalingkan wajah menilik ketampanan dari masing-masing anggota.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Siang itu dengan diiringi semangat yang menggebu-gebu milik Kise. Mereka lantas menaiki beberapa wahana menyenangkan yang memacu adrenalin, berfoto bersama dan yang terakhir kini mereka tengah mendudukan diri direstoran yang ada disekitar sana. Meski begitu entah mengapa Furihata tidak merasa bahagia. Melihat bagaimana seluruh perhatian Akashi yang hanya berpusat pada Kuroko, berbincang dan mengabaikannya ketika jemari keduanya masih saling bertaut. Genggamannya terasa dingin seiring berjalannya waktu. Ia bisa merasakan bagaimana anggota lainnya merasan kasihan padanya dan mencoba menghibur dengan sedikit mengajak berbincang, bahkan Aomine yang terkenal acuh itu sesaat menyempatkan diri mengobrol dengannya. Tapi sebanyak apapun mereka menghibur tentu tidak bisa mengobati perasaan cemburu yang menjalar keseluruh nadinya secepat api yang membakar dedaunan kering dimusim semi. Lagipula apa-apaan pemuda bersurai biru itu, seharusnya ia menyadari bahwa Akashi adalah kekasihnya dan menghentikan obrolan konyol tidak penting- terkesan lama mereka. Apakah ia tidak menyadari bagimana sesekali alis Furihata mengkerut balas menatapnya. Atau tidakkah ia menyadari bagaimana gestur tubuh pemuda itu yang sarat akan ketidaknyamanan. Tetapi bukankah anggota kisedai bersahabat? Jadi tentu wajar saja jika mereka melepas rindu dengan sesekali obrolan panjang. Meski berat, Furihata mencoba memahami.
"Kouki?" Seperti orang linglung, Furihata menatap kearah Akashi.
"Ada apa Aka-eh maksudku Sei?" Hening sesaat, Akashi nyaris melotot mendapati Furihata yang hampir saja salah mengucapkan nama kecilnya. Lantas kemudian semua orang mendengus geli, melihat bagaimana gugupnya Furihata yang salah memanggil nama Akashi dan wajahnya yang memerah hebat karena malu.
"Dari tadi kau diam saja, apa kau baik-baik saja?" Akashi menyentuh kening sang kekasih, mencoba memastikan. Gesture yang sarat akan perhatian semu dari Akashi lantas membuat Furihata salah tingkah, menepis tangan Akashi berlebihan dan tanpa sengaja menyenggol cangkir cokelat panas miliknya yang kemudian meluncur mulus menumpahi celana milik Kuroko. Kuroko memekik tertahan merasakan cokelat panas yang mengenai kulitnya, membuat Akashi dengan sigap mengambil tissue kemudian mengelapnya hati-hati. Furihata menggigit bibirnya sendiri. Ia tidak suka.
"Kau baik-baik saja, Tetsu?" masih dengan raut khawatir Akashi menatap sang pemuda babyblue, Kuroko sendiri hanya tersenyum canggung mendapati perlakuan Akashi.
"Aku baik-baik saja Akashi-kun" Ujar Kuroko pelan, sembari sesekali menatap Furihata yang balas menatapnya dengan raut campur aduk-jelas mengetahui bahwa pemuda itu tidak suka dengan perhatian yang Akashi tumpahkan padanya. Akashi yang menerima penolakan halus dari Kuroko lantas berhenti.
"Maafkan Kouki, dia memang ceroboh" ujar Akashi sarat akan penyesalan.
"Tidak apa-apa Akashi-kun, Eh, mau kemana Furihata kun?"
Kuroko tidak bisa berkata-kata lagi ketika mengetahui Furihata berlari meninggalkannya dan anggota kisedai lainnya. Setitik perasaan bersalah melingkupi hatinya. Panggilan Kuroko lantas menyadarkan Akashi, pemuda itu lantas berlari mengejar Furihata tanpa disuruh. Meninggalkan kelima sahabatnya termasuk seorang pemuda bermanik biru yang menatap punggungnya sendu.
.
.
.
.
Akashi mendecih sebal. Bagaimana mungkin pemuda pengecut tampang tolol itu melenggang pergi setelah membuat kekacauan itu. Akashi dengan emosi yang coba tahan yang meski tampangnya kaku mencoba sekuat tenaga memanfaatkan kejeniusannya untuk menemukan pemuda berkemeja kotak-kotak tinggi tidak lebih dari dirinya yang menghilang entah kemana. Ditengah-tengah pusat keramaian orang yang berlalu lalang itu Akashi mencoba memfokuskan penglihatannya. Dan tak lama kemudian, gotcha. Sebuah siluet pemuda kemeja biru kotak dengan surai coklat berlari menjauh menuju kearea yang lebih sepi, tanpa harus melihat tampangnya Akashi sudah kepalang tahu siapa pemuda itu dan lantas mengejarnya. Furihata harus diberi pelajaran, batinnya.
Tidak langsung mendekat hanya sekedar ingin tahu apa yang pemuda itu lakukan, Akashi memelankan langkah kakinya, mengawasinya dari jauh. Ia mendapati yang tersangka mengasingkan diri dengan duduk dipinggir danau dengan warna wajah yang sekelabu langit diatas sana ditemani angsa-angsa berleher panjang yang berenang tenang diatasnya. Enggan mengakui, tapi pemandangan didepannya jelas punya nilai keindahan tersendiri dimata Akashi. Diantara kemelut pikirannya, Akashi meyakini bahwa gestur tubuh yang seolah tengah melempari kerikil kearah danau itu terlihat kesal. Salah satu tangannya yang bebas sesekali mengusap wajahnya kasar. Dia sedang menangis, Akashi tahu itu.
Mencoba berkali-kali menolak prasangka sisi jiwanya yang lain, yang mengatakan bahwa dirinya memang terlahir brengsek dengan obsesi absolutisme mendarah daging entah mengapa membenarkan bahwa memang benar adanya bahwa saat ini sebuah perasaan tidak mengenakan bernama menyesal telah bercokol dihatinya. Ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya hanya dengan melihat berbagai macam ekspresi yang pemuda itu tunjukan, Akashi yang jelas terkenal berpendirian teguh oleh teman-temannya sudah terhitung beberapa kali mengabaikan kerasionalitasannya. Kerasionalitasan mengenai keputusan untuk terus mengabaikan friksi aneh yang memaksanya agar tidak mengabaikan eksistensi seorang Furihata Kouki.
Akashi memutuskan untuk melangkahkan kaki lebih dekat.
"Kouki"
Panggilan itu tak lantas serta merta membuat Kouki mengalihkan wajahnya. Kali ini saja, ia hanya sedang kesal.
Akashi hanya bisa berdiri dibelakang pemuda itu, seperti orang bodoh karena mengharapkan perhatian dari orang yang sedang kesal. Suara air yang dilempar krikil menjadi latar keheningan mereka.
"Apa kau sengaja melakukan ini semua-"
Akashi terdiam mendengarkan, menebak arah pembicaraan mereka.
"Apa maksudmu?"
"Kau-sengaja ingin mempermalukanku dan merendahkanku didepan teman-temanmu kan?" ujar Furihata, suaranya yang terdengar parau membuat Akashi mengernyit lebih dalam. Jadi, dia sudah menyadarinya, huh.
Akashi hendak membuka mulutnya ketika secara tiba-tiba pemuda dihadapannya berdiri dan berbalik menatapnya. Sorot matanya membuat Akashi tercekat, dia tidak pernah ditatap seperti itu.
"Bukankah kau sendiri yang setuju berpacaran denganku, t-tapi didepan mataku kau bermesraan dengan Ku-Kuroko. Kau kekasihku sekarang, tolong hargai perasaanku.." kedua bola mata yang tergenang itu seolah menyudutkan Akashi.
Berinhalasi lama, Akashi menatap sosok didepannya dalam.
"Apa perlu aku perjelas? Kau tidak bodoh, kau tahu aku mencintai Tetsu, lalu kenapa kau masih bertahan? Aku melakukan ini untuk membuat otak tololmu sadar jika hubungan ini sejak awal sudah salah, tapi kau bertindak seperti orang dungu yang seakan tidak mau tahu! Menjual tubuhmu demi orang brengsek sepertiku yang hanya memanfaatkan mu sebagai teman bercinta? Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu? Adakah yang kau inginkan, harta? Uang? Akan aku berikan semuanya asalkan jangan meminta yang tidak bisa kuberikan padamu, Kouki. Perasaanku hanya untuk Tetsu! Hanya orang itu yang ada dihatiku sekarang dan selamanya!" Akashi terkesiap menyadari nada bicaranya yang meninggi. Nafasnya yang memburu, tatapan emosi yang ia layangkan, dan juga kedua tangannya yang terkepal erat. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, bertingkah tidak selayaknya Akashi Seijuurou yang biasanya.
"A-Akashi-" Kedua iris coklat lawan bicaranya bergetar. Bagaimanapun mendengar penolakan langsung dari Akashi lebih menyakitkan dari pada mengetahui kenyataan itu sendiri secara langsung.
"Kita akhiri saja hubungan ini-" Akashi berkata putus asa. Berharap semua perkataannya dapat menyadarkan Kouki dari pemikiran kolotnya. Ia tidak bisa lagi. Menjalankan hubungan ini hanya akan menggerus rasa cinta tulusnya pada Kuroko.
Furihata menunduk "A-ku tahu, tidak usah kau perjelas lagi. Tapi tidakkah kau sadar, aku melakukan sejauh ini karena aku tulus mencintaimu, Akashi. A-apakah salah jika aku ingin selalu dekat dengan orang yang aku cintai? " suaranya yang tergugu masih jelas ditelinga Akashi, mimik pemuda crimson itu mengeras. Pernyataan tadi membuat pemuda itu tertegun, ini diluar perkiraannya.
"Pergilah, kau akan terus tersakiti jika bersamaku-"
Grep
"Ku-kumohon jangan katakan kau akan meninggalkanku, Akashi.. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, hanya kau milikku satu-satunya. To-olong jangan pergi, jika itu terjadi aku tidak tahu lagi harus kemana. Ma-af, ma-maaf..ugh"
Pelukan tiba-tiba dari pemuda didepannya membuat Akashi terpaku. Sembari menahan tremor kepanikan yang melanda tubuhnya, Furihata dengan bibir yang tidak bisa diam dan senggukan terus meracau memohon agar pemuda itu tidak meninggalkannya. Meninggalkannya seperti yang dilakukan kedua orangtuanya.
Sekalipun Akashi mencoba melepaskan, namun cengkraman sepasang tangan kecil ringkih yang melingkar ditubuhnya sama sekali tidak bisa dihindari. Akashi hanya diam terpaku, sekalipun dia jenius tak mau kalah dan kuat menggenggam teguh harga dirinya, Akashi tidaklah sejahat yang dirumorkan orang-orang yang seenaknya menebar racun fitnah tentang dirinya yang tidak menolerir sedikit pun kelemahan, kenyataanya adalah Akashi tidak bisa mengacuhkan Furihata. Dan disela-sela keputusasaan pemuda surai tanah bumi tergugu memeluk Akashi, ia tidak menyadari, bahwa ada sebuah lengan yang membalas mengusap punggung bergetar miliknya serta mengelus surai coklat miliknya dengan lembut nan ragu. Akashi, telah kalah atas kekeraskepalaan pemuda didepannya.
Hari itu, setelah kejadian penuh emosional yang menimpanya dengan meninggalkan teman-temannya yang mungkin saja masih menunggu disana tanpa sekedar mengirimkan pesan singkat penjelasan, Akashi membawa Furihata kembali ke kondominium miliknya. Melemparnya keatas ranjang, melucuti semua yang melekat pada dirinya, dan menghujam tubuh itu dengan beringas. Menghentakan diri tanpa ampun, melampiaskan segala emosi dan perasaan yang ia tahan selama ini. Perasaan marah, jijik, dan benci. Benci pada dirinya sendiri yang tidak mau berhenti meski sosok dibawah tubuhnya meronta mencoba melepaskan diri. Akashi tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
Dan untuk yang kedua kalinya, di musim dimana daun-daun pasrah menggugurkan diri dihias langit penuh gantungan awan-awan kelabu yang suram, dua pemuda telah menyatukan diri. Melepaskan segala hasrat yang dimiliki, dengan tirai lambaian ganas tirai merah marun diruangan itu yang menjadi saksi. Salju pertama dimusim dingin telah jatuh. Furihata kouki, telah kotor untuk yang kesekian kalinya.
Matahari bahkan belum memberikan tanda untuk memunculkan dirinya, namun suara gesekan engsel besi pagar sebuah rumah seolah memecah keheningan pemukiman penduduk di sebuah komplek perumahan sederhana di pusat kota Tokyo. Derap langkah ringan dengan sedikit terseok menjadi alunan pengiring. Pemuda itu, yang menjadi satu-satunya penyebab sumber suara cukup tahu bahwa ia tidak ingin atensi dirinya dipagi hari diketahui oleh siapapun. Oleh sebab itu ia berada disini, didepan pintu kediaman miliknya dengan tangan yang bergetar memegang kunci berbandul cihuahua coklat mungil menggantung manis terburu membuka pintu berkayu mahoni didepannya. Meski begitu ia tetap berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang berlebihan sembari sesekali berharap bahwa entitas lain penghuni rumahnya tidak memergokinya pulang pagi buta begini.
Memejamkan matanya ketika sebuah suara derit pintu terbuka menyapa telinganya, pemuda surai coklat tanah itu masuk kedalam rumah, melepas kedua sneakers putih miliknya dan menggantinya dengan sandal didalam kegelapan karena ia memang sengaja tidak menyalakan lampu –sekali lagi demi agar tidak ada satu entitas lain yang mengetahui kehadiran dirinya. Furihata masih bisa melihat meski samar bagaimana tatanan prabot rumahnya yang sederhana namun elegan menjadi penghias rumah bergaya masyarakat jepang-modern pada umumnya itu. Bagaimana pun keadaan Furihata saat ini termasuk dalam kelas ekonomi menengah keatas.
Helaan nafas lega yang sempat lolos darinya tercekat ketika kilatan cahaya terang sepersekian detik membutakan matanya, dan disaat semuanya menjadi terang kedua bola mata beriris mungil miliknya terpana. Bukan karena nyala lampu yang seolah membutakannya tiba-tiba, tetapi lebih kepada sosok yang kini berdiri menjulang dihadapannya. Sosok yang selalu menghiasi mimpi-mimpi buruknya. Sosok yang tak akan pernah membiarkan pemuda itu hidup tenang. Lelaki itu memasang senyum meremehkan, membuat Furihata meneguk ludah berat. Tubuhnya mengigil.
Ogiwara Shigehiro, sang paman kini ada dihadapannya.
.
.
.
.
SET
Kedua kelopak itu terbuka, memaksa cahaya matahari pagi yang malu-malu menyeruak masuk melalui jendela dengan kain gorden merah marun yang melambai-lambai itu memasuki retina matanya. Seperti biasanya, dua bola mata dengan tatapan kelewat tajam menelisik segala sudut yang ada diruangan itu. Mencari suatu entitas yang samar ia sadari telah dengan berani masuk kedalam celah-celah mimpi indahnya. Namun sekeras apapun ia mencari keruangan dengan interior mahal nan mewah itu, kedua irisnya sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari. Seorang pemuda dengan surai yang mengimitasi daun-daun yang mengering di musim gugur serta sepasang iris merefleksi seekor kucing jalanan yang penuh akan determinasi rasa takut terhadap siapapun yang menatapnya. Furihata Kouki dimata Akashi. Mendengus dengan pemikiranya sendiri, Akashi pun bangun. Tubuh atletis tersambar cahaya matahari yang masih dengan malu-malu menyelinap diantara jendela-jendela besar itu, membuat otot-otot yang menonjol itu terlebih pada kenyataan bahwa perut terbentuk sempurna itu terekspos dengan gradasi bayang-bayang yang membuatnya terlihat semakin sempurna. Meski berada pada ukuran kisaran dibawah normal pemuda pada umumnya, Akashi Seijuurou tidak akan kalah sekalipun itu berhubungan dengan bentuk fisik. Ingat, dia tidak ingin dikalahkan dalam hal apapun. Apapun.
Mengambil mantel tidur tebal yang tersampir di sofa, mengenakannya hanya untuk kembali mencari sosok Furihata Kouki di sudut-sudut ruangannya yang lain. Sedikit kecewa ketika mendapati bahwa memang adanya pemuda itu telah pergi meninggalkannya.
Memori-memori tentang bagaimana pemuda itu menyetubuhi Kouki kembali terlintas dibenaknya. Tadi malam ia memperlakukannya cukup kasar, ia tahu itu. Tapi mengingat bagaimana emosionalnya ia kemarin atas kejadian-kejadian yang diluar perkiraannya membuat Akashi kehilangan kontrol. Ia tidak tahu setan apa yang merasukinya malam itu. Menghela nafas panjang dan memutuskan untuk kembali menyegarkan pikirannya, pemuda itu lantas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tak selang beberapa menit kemudian seorang pemuda dengan helaian crimson nya yang jatuh dengan bulir-bulir air yang menetes dibeberapa ujungnya menampakan diri. Akashi yang sekarang terlihat lebih hidup.
Setelah cukup lama berkutat dengan segala tetek bengek apa yang akan dikenakannya, akhirnya pemuda itu telah siap untuk kunjungan perusahaannya hari ini. Alasan utama kenapa ia memutuskan untuk berada di Tokyo selama seminggu, meninggalkan segala aktivitas sekolahnya yang ada di Kyoto sana . Pihak sekolah pun baik-baik saja menerimanya. Bukan tanpa alasan mereka mengijinkan. Toh, dengan liburnya pemuda itu selama seminggu tidak akan mengurangi eksistensinya meraih posisi puncak dalam lingkaran persaingan akademik para siswa di Rakuzan.
Sejak berada ditahu pertama SMA, Akashi sudah dilatih untuk belajar dan menyesuaikan posisinya sebagai penurus perusahaan sejak dini. Ayahnya telah mengatur semuanya. Bagaimana pemuda itu akan berkecimpung di dunia bisnis yang dibangun ayahnya, dan bagaimana jalan hidup yang harus pemuda itu lalui. Opsi yang terakhir tentu tidak digubris Akashi.
Pemuda itu kini sudah rapi dengan Setelan jas three pieces suits biru tua dengan kemeja baby blue dibaliknya-tersenyum tipis atas warna yang mengingatkannya akan entitas lain. Jas nya yang tidak terkancing menampilkan rompi dengan tiga kancing terakhirnya yang sengaja ia biarkan tidak menyatu, penampilannya semakin sempurna dengan sepasang sepatu pantofel coklat yang membalut kedua kakinya. mendengusnya dalam hati, tahu benar apa yang ia pikirkan.
Jika ingin dibayangkan, penampilan pemuda crimson itu persis seperti gambaran para eksekutif muda di serial drama luar negeri yang tengah populer saat ini. Menawan dan elegan.
Menyapa beberapa pelayan dan sang butler yang menyambutnya tepat ketika ia keluar dari kondominium highclass miliknya. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kawasan hotel dan serta merta mendapati sebuah limousine sudah menyambutnya lengkap bersama sang supir.
Hari ini mungkin akan menjadi hari dimana Akashi akan sejenak melupakan masalah-masalahnya. Setidaknya untuk saat ini.
.
.
.
.
Disisi lain secepat kilat Ogiwara Shigehiro menarik Furihata masuk ke kediamannya, melucuti pakaiannya dan membuat pemuda itu hanya bisa menjerit dan memohon dengan lirih atas perlakuan sang paman. Namun seakan tak perduli sang paman terus mencoba menarik lepas kemeja putihnya dan tentu Furihata tak lantas diam, ia gencar melakukan perlawanan. Disela-sela kuasa akan alkohol yang menguasai lelaki itu melepaskan kungkungannya kasar, meski begitu Furihata masih bergetar hebat dengan kedua tangan yang terus mencengkram mencoba menyatukan kembali kancing kemeja miliknya. Celananya bahkan sudah tidak lagi pada tempatnya. Nafasnya putus-putus dan cicitan ketakutan yang keluar dari bibirnya semakin membuat Ogiwara menyeringai senang. Berpikir bahwa penyebab kematian sang adik adalah salah dari Furihata, dan ia pantas mendapatkan balasannya. Balasan atas kematian sang adik yang telah ia cintai, yang bahkan tuhan pun mengutuk perasaan terlarang itu. Dan lelaki itu lebih memilih untuk mengutuk dunia dan seisinya yang tidak bisa menyatukan cinta mereka berdua. Mengutuk Furihata. Wanita itu yang lebih memilih menikah dengan ayah Furihata, melahirkan pemuda dibawahnya dan yang paling menyedihkan meninggalkannya dengan ia harus menanggung buah cinta dari orang yang paling ia benci. Orang yang telah merebut sang adik dari sisinya. Ibu dari sang pemuda surai tanah bumi.
Sekelebat kenangan pahit itu lantas menghilangkan nafsu birahinya seketika. Niat untuk melampiaskan rasa sakitnya dengan jalan kenikmatan telah hilang sudah, dan ia tidak suka itu. Ditengah kewarasan yang coba lelaki itu pertahankan ia terus mengutuki bocah keparat dibawahnya. Mulutnya terus menerus meracaukan kutukan serta umpatan yang ditujukan kepada Furihata. Mengutuki bahwa seharusnya bocah itu mati karena ia hanya menjadi beban, dan mengutuk bahwa seharusnya pemuda itu tidak harus dilahirkan ke dunia ini. Furihata hanya bisa mengigit bibirnya mendengarnya, sebagian lagi membenarkan perkataan sang paman.
Haruskah ia lebih baik mati?
Namun pemuda itu tidak ingin menyerah. Dengan sisa tenaganya, Furihata mencoba sekuat tenaga untuk merangkak menjauh dari amukan lelaki gila itu. Namun seperti tuhan tidak menghendaki, lelaki itu secara tiba-tiba menarik salah satu kakinya untuk kembali. Belum sempat ia menggerakan tubuhnya sebuah tendangan kuat diperut menyentaknya, dilanjutkan dengan tendangan bertubi-tubi keseluruh tubuhnya. Kejutan itu membuatnya tidak berkutik. Tendangan diawal tadi menyeruak menggetarkan sumsum tulang belakang miliknya hingga ke ubun-ubun, rasa sakitnya mampu untuk membuat Furihata bungkam seketika.
Ia tidak tahu lagi, baginya seluruh dunia menjadi hening seketika. Telinganya menjadi tuli. Hanya rasa sakit ditubuhnya yang bisa ia rasakan. Dan ia sadar betul tidak ada orang lain yang bisa ia mintai pertolongan, sebersit nama Akashi terlintas dipikirannya dan ia cukup tahu diri bahwa pemuda itu bahkan tidak akan pernah sampai hati untuk memikirkannya apalagi muncul untuk menolongnya. Satu hal yang ada dipikirannya saat ini, bahwa hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Lelehan darah yang keluar dari hidungnya seolah memberi tanda bahwa sang pemuda berambut coklat itu telah mencapai limit.
Masih dikuasai alkohol miliknya, lelaki itu, Ogiwara Shigehiro mendadak naik pitam mendapati pemuda dibawahnya tidak merespon setiap racauan gila darinya. Melayangkan tendangan terakhir ke kepala Furihata yang cukup untuk membuat pandangannya menggelap sesaat sebagai hukuman, lelaki itu pun berdiri menjauh, berjalan terhuyung-huyung dan kemudian menghilang dibalik debaman pintu kamar sembari masih terus meracau tidak jelas. Furihata dalam hati menghela nafas lega. Meski begitu tidak menampik kenyataan bahwa ia masih disudut sana, meringkuk memegangi perutnya yang memberontak kesakitan, sulit baginya untuk bergerak. Setitik air mata tak kuasa menyeruak menerobos pertahanan Furihata. Diantara rasa takut dan kesedihan mendalam atas apa yang terjadi pada dirinya, pemuda itu, Furihata Kouki menangis pilu dalam diam. Tanpa ia sadari sebuah nama terus terucap diantara setiap tetesan air mata yang mengalir dari kedua kelopak matanya yang terpejam erat.
"Akashi. Akashi. Akashi"
.
.
.
.
=To be continued=
.
.
.
A/N
Thanks! Untuk segala apresiasi yang readers berikan untuk kelangsungan hidup ff author. Semoga cerita kali ini memuaskan dan maaf karena lama meng-update hehehe. Tenang saja chapter tiga sudah selesai, tinggal menunggu waktu untuk update kembali. Jadi dijamin tidak akan terjadi lagi keterlambatan. Sekali lagi terima kasih!
Silahkan isi daftar hadir di kotak review
Ciao!
