137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
.
Reflected in You
.
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , OC, kosa kata yang berantakan
DLDR
Please enjoy ^^
Disclaimer : Remake Novel karya SYLVIA DAY dengan judul yang sama.
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
JOYER
.
.
Tepat sebelum aku keluar dari lift di ruang depan kantorku, Kyuhyun berbisik ditelingaku, "Pikirkan aku sepanjang hari."
Aku meremas tangannya diam-diam di dalam lift yang padat, "Pasti."
Kyuhyun melanjutkan perjalanannya ke lantai paling atas, yang menjadi markas besar Cho Industries.
Aku berjalan menyusuri koridor panjang ke bilikku. Ketika aku tiba di mejaku, aku memasukkan tas dan dompetku ke laci paling bawah, mengeluarkan ponselku sehingga aku bisa mematikan suaranya. Aku menemukan pesan dari Donghae.
Maafkan aku, baby girl.
"Lee Donghae," aku mendesah. "Aku menyayangimu, walaupun kau membuatku marah."
Aku pun membalas pesannya.
Luangkan akhir pekan untukku kalau bisa.
Jeda panjang, dan aku membayangkan dirinya memikirkan permintaanku. Akhirnya ia membalas.
Kau pasti merencanakan omelan hebat.
"Mungkin sedikit," gerutuku. Kami harus benar-benar meluangkan waktu.
Pergi ke Gangnam? Hanya kau dan aku. Bagaimana?
Dia membalas dengan cepat.
Tentu saja!
Aku pun mengakhirinya.
Oke… kita bicara lagi nanti.
.
.
.
Karena sudah waktunya istirahat, aku mulai melakukan pencarian di Internet tentang Dr. Terrence Lucas, pria yang jelas-jelas bermusuhan dengan Kyuhyun ketika aku melihat kedua pria itu bersama di jamuan makan malam kemarin. Aku baru saja mengetik nama dokter itu di kotak pencarian ketika telepon di mejaku berdering.
"Kantor Tan Hangeng," jawabku. "Ini Lee Sungmin."
'Apakah kau serius tentang Gangnam?' tanya Donghae tanpa basa-basi.
"Sangat."
Jeda sesaat.
'Apakah ini saatnya kau memberitahuku bahwa kau akan tinggal bersama kekasih miliunermu dan aku harus pergi?'
"Apa? Tidak. Apakah kau sudah gila?" Aku memejamkan mata,memahami betapa resahnya Donghae. "Kau terperangkap bersamaku seumur hidup, kau tahu itu."
'Dan kau tiba-tiba saja memutuskan bahwa kita akan pergi ke Gangnam?'
"Begitulah. Kupikir kita bisa menyesap anggur dari pinggir kolam dan makan dari layanan kamar selama dua hari."
'Aku tidak yakin berapa banyak uang yang kusumbangkan untuk itu.'
"Jangan khawatir, Kyuhyun yang membayarnya. Pesawatnya, hotelnya. Kita hanya perlu membayar makanan dan minuman kita." Itu bohong, karena aku berencana untuk membayar semuanya, kecuali transportasi, tetapi Donghae tidak perlu tahu soal itu.
'Dan dia tidak ikut bersama kita?'
Aku duduk bersandar di kursiku sambil menatap foto-foto Kyuhyun. Aku sudah merindukannya padahal baru dua jam kami berpisah. "Dia punya pekerjaan di Jepang, jadi dia akan ikut dalam penerbangan kesana dan kembali, tetapi hanya ada kita berdua di Gangnam. Kurasa kita membutuhkannya."
'Ya.' Donghae mengembuskan napas dengan keras. 'Aku memang butuh perubahan suasana dan waktu bersama gadis terbaikku.'
"Baiklah, kalau begitu dia akan terbang besok malam pukul delapan."
'Aku akan berkemas. Apakah kau ingin aku berkemas untukmu juga?'
"Kau mau melakukannya? Bagus!"
'Sungmin?'
"Ya?"
Donghae mendesah, 'Terima kasih karena tahan menghadapi kekacauan yang kuperbuat.'
"Sudahlah. Kita bicarakan nanti."
Setelah kami menutup telepon, aku menatap telepon itu untuk waktu yang lama, membenci kenyataan bahwa Donghae merasa tidak bahagia dengan kehidupannya yang sempurna itu.
Aku pun kembali menatap komputerku. Beberapa artikel tentang Dokter Lucas ada di Web, beserta fotonya,
Dokter spesialis anak. Umur empat puluh lima tahun. Sudah menikah selama dua puluh tahun.
Dengan gugup aku mencari 'Dokter Terrence Lucas dan istri'. Dia tidak berambut cokelat panjang. Hal itu membuatku bingung. Kupikir wanita itulah yang menimbulkan masalah di antara mereka.
Aku pun menutup Google dan membuka e-mail ku, dan menemukan berita harian Google tentang "Cho Kyuhyun". Berita hari itu sebagian besar adalah foto-foto Kyuhyun dalam pakaian resmi tanpa dasi, dan aku sendirian di jamuan makan malam kemarin.
Aku mengecilkan kotak e-mail ku, menyingkirkan kehidupan pribadiku dan mulai bekerja.
.
.
Tengah hari menjelang dan aku mulai merasa lapar ketika teleponku berdering. Aku menjawab dengan sapaanku yang biasa.
'Sungmin?' Suara wanita dengan logat asing menyapaku. 'Ini Jessica. Apakah kau punya waktu sebentar?'
Aku bersender ke kursi dengan waswas. "Satu menit. Ada apa?"
Ia mendesah, lalu berbicara dengan cepat, kata-katanya meluncur dengan terburu-buru. 'Aku duduk di meja di belakang Corinne kemarin malam. Aku bisa mendengar sedikit pembicaraan antara dia dan Kyuhyun selama makan malam.'
Aku menegang. "Mengungkit-ungkit masalah ketika aku sedang bekerja adalah tindakan yang buruk," kataku dingin. "Aku tidak-"
'Dia tidak mengabaikanmu.'
Mulutku terbuka sedetik, dan dia dengan cepat mengisi keheningan.
'Dia sedang mengendalikannya, Sungmin. Corinne memberikan saran ke mana Kyuhyun bisa mengajakmu berkeliling Seoul karena kau baru di kota ini, tetapi dia melakukannya dengan memainkan permainan kuno ingatkah-kau-dan-aku-pernah-kesana.'
"Menyusuri jalan kenangan," gerutuku, kini merasa bersyukur aku tidak bisa mendengar pembicaraan lirih Kyuhyun dengan mantannya.
'Ya,' Jessica menarik nafas dalam-dalam. 'Kau pergi karena kau pikir dia mengabaikanmu demi Corinne. Aku hanya ingin kau tahu bahwa Kyuhyun sepertinya berpikir tentang dirimu, mencoba mencegah Corinne membuatmu kesal.'
"Kenapa kau peduli?"
'Siapa bilang aku peduli? Aku berutang padamu, Sungmin, karena caraku memperkenalkan diri.'
"Baiklah. Terima kasih."
Tidak diragukan lagi, aku merasa lebih baik.
'Ada lagi,' lanjut Jessica. 'Dia menyusulmu.'
Cengkeramanku di gagang telepon mengencang.
'Pernah ada wanita dalam hidupnya yang mencoba ultimatum seperti itu, Sungmin. Mereka bosan atau mereka menginginkan perhatiannya atau bersikap berlebihan… Jadi mereka pergi dan berharap Kyuhyun mengejar mereka. Kau tahu apa yang dilakukannya?'
"Tidak melakukan apa-apa," kataku lirih, karena aku mengenal kekasihku.
'Ya,' Jessica membenarkan. 'Tetapi ketika kau pergi, dia langsung mengejarmu. Dan dia tidak terlihat seperti biasanya ketika berpamitan. Dia terlihat…bingung.'
Karena ia merasa takut. Mataku terpejam sementara aku mengomeli diriku sendiri dalam hati.
Kyuhyun sudah memberitahuku lebih dari satu kali bahwa dia takut aku akan pergi, karena ia tidak kuat memikirkan kemungkinan aku takkan kembali. Apa gunanya aku memberitahunya bahwa aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya sementara tindakanku sering menunjukkan sebaliknya? Apakah mengherankan jika dia belum bisa membuka diri dan menceritakan masa lalunya kepadaku?
Aku harus berhenti melarikan diri. Aku dan Kyuhyun harus bertahan dan berjuang untuk ini, untuk kami, kalau kami ingin punya harapan untuk membuat hubungan kami berhasil.
"Apakah sekarang aku berhutang padamu?" tanyaku datar, membalas lambaian Hangeng ketika ia pergi makan siang.
Jessica mengembuskan napas. 'Aku dan Kyuhyun sudah saling mengenal sejak dulu. Ibu kami berteman. Kau dan aku akan sering bertemu, Sungmin, dan kuharap kita bisa mencari cara untuk menghindari kecanggungan.'
"Dengar,Jessica, kalau kau tidak menimbulkan masalah, kita akan baik-baik saja. Aku bisa mengacaukan hubunganku dengan Kyuhyun sendiri, percayalah padaku. Aku tidak membutuhkan bantuan."
Ia tertawa lirih. 'Kurasa itulah kesalahanku, aku terlalu hati-hati dan terlalu penurut. Dia harus berusaha denganmu. Bagaimanapun juga… ah, aku sudah menghabiskan waktu satu menit. Aku akan menutup telepon sekarang.'
"Semoga akhir pekanmu menyenangkan," kataku.
'Kau juga.'
.
.
Aku membuka laci bagian bawah dan mengeluarkan ponselku dari dalam dompet. Didorong keinginan agar Kyuhyun juga memikirkanku, aku mengirimkan pesan kepadanya tantang keinginan mendadak untuk menguasainya sepenuhnya.
Aku rela menyerahkan apa saja untuk memuaskanmu sekarang juga.
Memikirkan bagaimana ekspresinya saat aku membuatnya puas… suara liar yang dikeluarkannya saat ia nyaris mencapai puncak…
Aku berdiri, menghapus pesan yang sudah terkirim itu, lalu memasukkan kembali ponselku ke dalam dompet.
Aku pun menghampiri Megumi untuk makan siang bersama. Kami baru saja melangkah ke lobi ketika aku merasakan ponselku bergetar. Ketika kami sudah di luar gedung aku mengeluarkan ponselku dan terkejut melihat nama Kyuhyun. Ia meneleponku, bukan mengirimkan balasan pesan kepadaku.
"Permisi sebentar," kataku kepada Megumi sebelum menjawab telepon.
Megumi mengangguk. "Silakan saja."
"Hei," aku menyapa Kyuhyun dengan nada bercanda.
'Sungmin.'
Langkahku berhenti sejenak mendengar caranya menggeramkan namaku.
Aku menelan ludah. "Kyuhyun…."
'Kau menginginkan perhatianku, sekarang kau mendapatkannya. Aku ingin mendengarmu mengucapkan kata-kata itu.'
Aku merasa wajahku memanas. "Aku tidak bisa. TIdak di sini. Aku akan meneleponmu nanti."
'Aku tidak sabar untuk menerima teleponmu.'
.
.
.
Setelah selesai makan siang, kami pun bergegas kembali ke kantor.
Kami berhenti di samping lampu merah di seberang gedung Chofire, dan mataku terpaku pada mobil Bentley hitam yang berhenti di depan gedung.
Tiba-tiba tubuhku berubah dingin.
Karena melihat Corinne keluar dari gedung.
Aku mengeluarkan ponselku dan mengaktifkan kamera, dan memotret. Dengan zoom aku bisa melihat kenapa ia sibuk mengurusi lipstiknya, lipstiknya berantakan. Seolah-olah dikacaukan ciuman penuh gairah.
Lampu berubah hijau. Kami bergerak mengikuti arus. Aku melihat Shindong melangkah keluar dari mobil dan berbicara dengan Corinne sejenak sebelum membuka pintu belakang untuknya. Seketika perasaan dikhianati oleh Shindong dan Kyuhyun terasa begitu besar sampai tidak bisa bernapas.
Aku mengamati tubuh Corinne masuk ke dalam mobil. Tanganku terkepal sementara amarah menerjang diriku. Dari balik air mata amarahku, mobil itu melaju pergi dan menghilang.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
