Ponsel Baru Miyazawa Kenji

Chara: Dazai Osamu x Miyazawa Kenji, ADA

Genre: Friendship, humor.

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, gaje, humor garing, enggak masuk akal (?), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta diikutkan pada "Dazai x happiness 2019" di tumblr.


Day 2: Dress Up


Kepada siapakah seseorang ingin memberikan arti hari ini?

Kantor Agensi Detektif Bersenjata ramai oleh rekan-rekan pengangguran yang asyik mengerumuni sofa. Dazai Osamu–manusia terakhir yang baru tiba di pukul sepuluh, dan terlambat dua jam itu menontoni dengan wajah bengong, gara-gara teringat mimpi semalam. Namun, lamunannya segera buyar kala mendapati Nakajima Atsushi–seorang juniornya menghampiri penuh kegembiraan.

"Pagi, Dazai-san. Kamu terlambat dua–", "Jangan ingatkan aku, Atsushi-kun." Bengong seorang Dazai kian kentara, saat memandangi Kunikida Doppo larut dalam keramaian. Pandangan mereka belum bertemu, tetapi keringat dingin sudah mengucur deras.

"Wajahmu pucat. Mau kuantar ke–", "Sssttt ... Atsushi-kun. Tolong merapatlah sedikit." Tanpa bertanya-tanya yang bersangkutan mendekatkan telinga. Dazai harus cepat, karena Kunikida sudah menyadari kehadirannya.

"Kenapa kantornya tidak hancur?"

"Eh? Hancur? Dazai-san ini bicara apa?" Dalam batinnya Atsushi meringis, 'tolong kembalikan dua detikku yang berharga'. Sudah terlambat gara-gara ketiduran masa masih melantur?

"Aku–", "Dazai-san! Kemarilah!" Suara yang imut dan bersemangat ini adalah milik Miyazawa Kenji. Mereka jarang mengobrol membuat Dazai sedikit aneh, sehingga malah melambaikan tangan.

"Kenji-san ingin kamu menghampirinya. Kenapa malah melambai?" tanya Atsushi tak habis pikir, akan tingkah Dazai yang bukannya tambah waras melainkan ngaco.

"Tidak apa-apa, kok. Kenji-kun juga melambai padaku."

Jadilah mereka terus-terusan melempar lambaian. Pemandangan absurd ini langsung di-notice, dengan ribuan tanda tanya yang memenuhi kepala. Atsushi menggeleng ketika Kunikida mencari tahu lewat tatapan. Menggeleng lagi saat Yosano–dokter agensi melakukan hal serupa. Menggeleng juga sewaktu Ranpo–detektif andalan mereka memiringkan kepala–pokoknya menggeleng terus sampai pusing.

Tetapi enggak jadi kepala barbie, kok.

"Kemarilah, Dazai-san. Ayo bertukar nomor ponsel," ajak Kenji penuh antusiasme. Mula-mula Dazai mengerjap-ngerjap lebih dulu, sebelum menghampiri akibat didorong Atsushi.

Bergabung dengan keramaian di sofa sedikit-banyak menjadikan Dazai sadar. Tangannya bahkan mengelus dada, membuat Kunikida istighfar lebih banyak sambil bulak-balik melepas kacamata -ingin memastikan dia salah lihat.

"Ponsel barumu, kah?" Warnanya biru seperti baju kodok yang biasa Kenji kenakan. Masih mulus, pemakaian baru sehari, dipasangkan kaca anti gores, minus tidak ada. Minat PM–private message, bukan Port Mafia.

Bercanda, kok. Dazai hanya ingin menjualnya di dalam hati. Mana tega ia menggadaikan ponsel Kenji demi uang tak seberapa? Miras oplosan bisa dibikin kapan saja.

"Uhm! Aku baru membelinya kemarin ditemani Atsushi-san. Bagaimana menurut Dazai-san?"

"Model terbaru, ya? Bahkan ada gantungan topi jeraminya." Jelas ini Kenji banget! Dazai merasa berdosa telah berkeinginan menjual ponsel ini, ditambah menilik ekspresi Kenji yang berseri-seri seolah-olah terpikirkan ide bagus.

"Karena Dazai-san suka memakai perban, apa ponselmu dipakaikan perban juga?"

"Ide bagus~ Nanti aku coba setelah kita bertukar nomor."

Selesai bertukar nomor, Dazai mengirim SMS kepada Kenji. Anggota agensi telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing–meski rata-rata tidak berfaedah, mengingat belum satu pun klien meminta pertolongan.

Dazai: Kenji-kun tahu tidak? Semalam aku bermimpi agensi hancur.

Kenji: Hancur kenapa? Gara-gara monster?

Dazai: Aku menaiki dinosaurus ke agensi. Kunikida-kun marah-marah, karena katanya cicilan kantor ini belum lunas.

Kenji: Keren banget! Aku juga ingin naik dinosaurus Apa kalian main kejar-kejaran setelahnya?

Dazai: Tiba-tiba saja aku berada di sebuah rawa. Kunikida-kun mengejarku dengan berlari ala ninja. Larinya kenceng banget, dan dinosaurusku malah lambat.

Kenji: Sepertinya dinosaurus Dazai-san lupa dikasih makan. Kebetulan aku baru mendapat kiriman dari kampungku, nanti kukasih wortel, ya.

Dazai: Dinosaurus itu sukanya kepiting, Kenji-kun~ Terus, terus, kami tiba di sebuah sawah, di sekelilingnya ada padi. Terdapat dua gunung di depanku, sama matahari terbit yang tersenyum. Dinosaurusku menembus gunung begitupun Kunikida-kun. Tamat~

Kenji: Ternyata dinosaurus sukanya kepiting. Mimpi Dazai-san sangat menyenangkan. Aku semakin ingin naik dinosaurus.

"Dazai-san dan Kenji-san melakukan apa dari tadi?" Atsushi yang semula asyik bermain PupG mengalihkan pandangan dari ponsel. Sebelum menjawab Dazai cekikikan, menduga juniornya itu gugur sehingga basa-basi.

"Kami bertukar SMS~ Atsushi-kun pasti kalah, ya, makanya mengajakku mengobrol."

"Hehehe, begitulah. Tetapi, kenapa kalian bertukar SMS padahal duduk bersebelahan?" Inilah kejanggalan utamanya. Dazai tampak menimbang-nimbang jawaban, lantas tersenyum bangga atas pemikirannya yang brilian.

"Mau bagaimana lagi~ Pulsaku banyak soalnya."

"Jangan percaya, Atsushi. Dazai pasti kehabisan kuota makanya SMS," celetuk Yosano mengelap pisau daging. Tidak ketinggalan diunggah ke insertgram dengan caption, 'baru selesai didandani'.

"Lagi pula aku sengaja tidak mengisi kuota, supaya wanita-wanita cantik yang memiliki kontakku mencariku."

"Wanita-wanita itu ingin naik dinosaurus bersama Dazai-san?" Pertanyaan Kenji sukses membuat humor anggota lain sembah sujud. Namun, mereka berhenti sewaktu Dazai ikut tertawa–mana paling kencang lagi bikin horor.

Ah. Sudahlah. Kalau punya kuota Dazai tinggal membuka santet online, terus mengancam mereka satu per satu dan baru dilepas, ketika dijanjikan nasi padang–entah itu di mana, Dazai asal lihat kemarin pakai Wi-Fi apartemen. Suasana yang kembali hening menjadikan Dazai bosan. Maka, matanya melirik iseng pada Kenji yang tengah memainkan gim dress up -jadi teringat mantan rekan nun jauh di sana.

(Salah seorang eksekutif Port Mafia pun bersin–penyebabnya adalah pilek)

"Ponselmu tidak tertukar dengan milik Kyouka-chan?" Entah apa menariknya. Catat pula satu hal; Dazai ikut menontoni karena bosan! Siapa juga yang ingin menistakan mantan rekan nun jauh di sana, dengan memakaikan pakaian macam di gim dress up.

Kecuali Fitzgerald mau turun tangan membantu biaya.

"Kyouka-chan sedang bermain PupG, Dazai-san."

"Terima kasih, Atsushi-kun. Aku tidak ingin pup saat ini."

"Kapan kau mati, Dazai?" tanya Kunikida dengan wajah jijik. Dirinya teringat momen, ketika si idiot perban memperlihatkan foto bentuk-bentuk tinja, saat jam makan siang.

"Kalau berak Kunikida-kun bentuk tai-nya yang mana?"

"Tidak bisakah kau memperhalus bahasanya?"

"Bagaimanakah bentuk dari ampas kehidupan yang telah melalui saluran pembuangan berupa garis lengkung nan elok?"

"Saat aku berak, tai-nya seratus persen mirip dengan wajahmu, Dazai."

"Mudah saja. Aku akan mati saat kehilangan nyawa."

Oh, iya, benar juga, jadi ingin mencium tembok dengan kepala. Lelah memperpanjang obrolan, Kunikida memutuskan balik ke laptop. Mumpung laporan sudah selesai, ia mencari 'cara memulangkan iblis ke neraka' pakai mo zillat api rubah (baca: mozilla firefox)

"Hey, Kenji-kun~ Kenapa kamu memilih gim dress up?" Penasaran jelas. Padahal anggota lain, apa lagi Kyouka bucin sama PupG. Dazai juga main, tetapi sering di-kick sama Kunikida karena menyusahkan.

'Kemampuan musuh tidak akan berguna padaku, karena aku bisa menetralisir~"

Perkataannya membuat Dazai selalu mati pertama, disusul Atsushi yang gampang kaget.

"Soalnya ini rekomendasi nomor satu. Aku juga punya gim bertani, Dazai-san mau coba?" Tawaran Kenji ditolak sehalus mungkin. Bukan gengsi atau apa, Dazai hanya terpikirkan sesuatu setiap Kenji mengganti baju karakternya.

"Hanya kaget saja, karena biasanya cowok tidak main gim dress up."

"Permainan adalah sesuatu yang menyenangkan. Jadi, apa pun gim-nya tentu tidak masalah." Samar-samar Dazai tersenyum mendengar jawaban tersebut. Sudut pandang Kenji yang sederhana, dan lugu memang menjadi kekuatannya untuk menggerakkan hati.

Manusia se-licik Dazai bahkan kadang kala kagum, dengan kemurnian Kenji yang mengundang kebaikan dari tawa orang-orang.

(Tidak seperti dirinya yang konyol, tetapi dibuat-buat tanpa memperhatikan perasaan sendiri)

"Melihatmu mengganti baju karakternya membuatku kepikiran sesuatu."

"Apa Dazai-san ingin Kyouka-san memakainya?"

"Bukan itu~ Kupikir akan menyenangkan jika manusia bisa mengganti perasaan sesuai keinginan mereka, seperti di gim dress up di mana seseorang bisa memakai baju yang disukai."

"Mengganti perasaan sesuai keinginan, ya. Hmm ..." Tentu menjadi menarik dengan perumpamaan Dazai yang menggunakan gim dress up. Kenji pun sering kali kagum, akan kecemerlangan Dazai setiap memecahkan masalah atau berlomba menyelesaikan riddle dengan Ranpo.

Dazai adalah orang hebat yang baik, bersahabat serta mengagumkan. Bisa menjadi rekannya tentu merupakan kebanggaan yang diam-diam, sering Kenji ceritakan di surat.

"Jangan dipikirkan. Aku hanya asal bilang saja, kok."

"Menurutku tidak perlu." Ponsel diletakkan di meja. Kenji menatap mata kecokelatan Dazai dengan pandangan yang turut tersenyum, selain di bibir.

"Ehhh~ Kenapa tidak perlu? Jadinya walau Kenji-kun merasa sedih, kamu bisa mengganti perasaanmu menjadi bahagia. Orang-orang tidak akan tahu kamu bersedih, sehingga mereka enggak perlu repot-repot menghibur."

"Perasaan itu hal yang jujur. Kalau bisa diganti sesuai keinginan Dazai-san malah membohongi dirimu sendiri, juga teman-teman yang lain. Kamu pasti tersakiti, begitupun kami karena tidak mengetahui apa pun."

"Jadi kalau aku sedang sedih Kenji-kun akan menghibur?"

"Tentu! Karena itu perasaan adalah hal jujur, soalnya ada untuk dibagikan pada orang lain."

"Tetapi, tidak semua orang akan mengerti atau peduli. Bahkan Kenji-kun belum tentu bisa memahami perasaaanku."

Mereka tahu Dazai adalah sosok rumit yang pandai mempermainkan perasaannya sendiri. Bukan mustahil untuk menyusup masuk ke topeng itu. Namun, jika siapa pun bisa membukanya, Dazai tentu tak sekompleks ini sampai menderita seorang diri–toh, anggota lain juga mengalami ketidakpahaman serupa.

Kenji tahu dia bukan orangnya -menyadari pula ada sesuatu yang dalam, rumit, dan sulit untuk dipahami dari seorang Dazai Osamu–optimisme tak terkalahkan bahkan tunduk, karena memanusiakan manusia membutuhkan lebih dari pemikiran positif.

"Itu juga salah satu alasan, kenapa perasaan sebaiknya tidak bisa diganti sesuai keinginan." Kali ini Dazai kesulitan menebak. Senyuman Kenji masih cerah, hanya saja lebih berarti sekaligus menarik.

"Apa jawabannya?"

"Bagiku itu adalah kesempatan, sekaligus tantangan untuk lebih memahami seseorang. Manusia tidak dimengerti dari kebahagiaannya saja, tetapi seluruh perasaan yang ia tumpahkan."

"Bagaimana jika aku bilang Kenji-kun naif?" Seperti dalam kasus Atsushi, meski Kenji jauh lebih parah. Dazai terkadang heran saja, kenapa takdir membuat ia dikelilingi manusia-manusia seperti mereka.

"Tidak apa-apa jika Dazai-san menganggapku naif. Aku hanya mengatakan apa yang ingin kukatakan, dan ini murni perasaanku."

"Kejujuranmu itu kadang bisa menyakiti, lho. Berbohong jauh lebih baik untuk sebagian orang."

"Aku tidak ingin melihat seseorang hancur, karena kebohongan yang kubuat nantinya akan terbongkar." Menyimpan hal seburuk itu berada di luar kemauan Kenji. Bahkan, jikalau ia mampu pasti ditolaknya, karena membayangkan kesedihan orang-orang menjadikan Kenji ragu untuk berdusta.

"Kamu memang orang sebaik itu, ya. Aku terkadang iri melihat Kenji-kun begitu bahagia. Perasaanmu juga tidak dibuat-buat."

"Soal itu aku tidak bisa memberi Dazai-san saran apa pun. Atsushi-san atau Kunikida-san pasti lebih bisa memahamimu, lalu memberikan yang sesuai untukmu."

"Jangan bawa-bawa Kunikida-kun, dong~ Kalau dia dengar terus merasa GR bahaya nanti~"

"Meski aku tidak bisa memberimu saran, tetapi ada satu hal yang bisa kulakukan," ucap Kenji seraya beranjak. Seorang kurir mengantarkan box besar, dan itu ditujukan pada Kenji yang teramat riang sewaktu menerimanya.

"Salah satu kunci kebahagiaan adalah tubuh yang kuat. Karena itu, Dazai-san dan semua anggota agensi harus makan sayur!"

Siapa menyangka, ya, gim dress up membawakan ketenangan pada Dazai? Meski hanya sejenak, percakapan ini bisa perlahan-lahan menjadikan ia lebih baik, bukan?

Tamat.


A/N: anggap aja aku bertaruh ya di fanfic ini, apa eksekusiku baik/enggak. aku tipikal yang kalo udah penasaran harus dicoba dulu, karena kalo gak jadi risih. makanya anggaplah juga aku nekad. dan ya ... siapa peduli mau ada yang baca atau enggak? jika ada yang baca maka syukur, lalu semoga kalian suka. soalnya aku tau, pair ini emang parah banget dan bikin ga abis pikir. kok bisa ya dazai x kenji dijadiin fic?

pemikiranku sederhana aja sih; dazai yang iri sama Kenji, karena dia ceria ga dibuat-buat sementara dazai palsu. dan meski aku bikin kenji ga bisa memahami dazai (emang dia bukan orangnya kok) seenggaknya dazai mendapat pengalaman baik kan? ini baru dazai x happiness, ga kayak fic sebelumnya WKWKWKW.

oke. thx buat yang udah baca, review, fav, follow, aku menghargai apa pun yang kalian berikan padaku~ fanfic ini emang banyak bolongnya, tapi ini yang terbaik yang bisa aku berikan.