Desclaimer: J.K Rowling
Pair: DMHP, etc.
Genre : Romance,Hurt/Comfort.
Rating : T
Warning:AU (Alternate Universe), OOC (Out Of Character ), OC (Original Character), Incest, YAOI, typo(s), EYD tidak sempurna, no magic.
APABILA ADA YANG MEMPERMASALAHKAN APA YANG TELAH DITULIS DI ATAS MAKA AKAN KAMI ABAIKAN….^-^
"IF YOU DON'T LIKE , DON'T READ , DON'T ANY BASHING, DON'T PLAGIARIZED, NO FLAME!"
Author: Astia Aoi and Raya Salimah
Title: 1st January
Summary: "Akankah aku hidup dalam jerat dendam seperti ini?"/DraRry/YAOI/ff kolaborasi.
-o0o-
Thanks To :
Grup : Linda Yunita Aja Lah, Eka Rachma Echa, Han Kyung Mi, Dika Deevil Uzumaki-Uciha, Anindya Cahya.
: Jamcomaria, ochan malfoy, , angelchokoriizu.
-o0o-
2. Kilat Dendam
Pengawal Draco yang melihat kejadian dihadapan mereka terdiam dan saling tatap satu sama lain.
"Hei, aku rasa Tuan muda tidak mungkin melakukan hal itu," Kata pengawal berperawakan pendek.
"Ya, aku pikir juga begitu. Kalau begitu kita cari di tempat lain," ajak pengawal berperawakan tinggi.
Setelah itu para pengawal Draco keluar dari restoran milik Hagrid. Sementara itu Draco yang masih menikmati apa yang telah dilakukan olehnya terhadap Harry hanya diam tidak bergerak sedikitpun. Setelah beberapa menit kemudian Harry tersadar, dia refleks melepaskan wajahnya dari tangan Draco yang tadi menahan wajahnya. Harry memalingkan wajahnya ke arah lain dengan wajah yang sangat merah.
"Ehem…" Hagrid yang kini berada di dekat mereka membuyarkan situasi mereka berdua.
Harry yang terkejut dengan interupsi Hagrid langsung salah tingkah, sementara Draco tetap memasang wajah datar selayaknya Malfoy bersikap, lalu tanpa bicara apapun Harry membayar makanan yang baru dia makan setengahnya tanpa bicara apapun dan segera berjalan menuju pintu keluar.
"Harry…." Panggil Draco dengan suara yang lembut tanpa melihat ke arah Harry. Seketika itu juga Harry berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Draco.
"Aku tidak bisa pulang ke manor," ucap Draco tanpa melihat Harry. Harry yang bingung langsung mendekati Hagrid yang jaraknya tidak jauh dari Draco. Harry memandang ke arah Hagrid, begitu pula Hagrid yang menatap Harry. "Apa yang dimaksud olehnya?" bisik Harry yang dijawab dengan gelengan Hagrid.
"Aku butuh tempat tinggal sementara," kata Draco yang kini menatap wajah Harry. Hagrid menyenggol Harry menggunakan sikunya, tetapi itu membuat tubuh Harry sedikit limbung sehingga membuatnya hampir terjatuh. Harry masih tetap mencoba berusaha cuek tapi gagal. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menatap wajah Malfoy muda.
Draco sedikit menyeringai lalu dia melanjutkan lagi, "Kalau kau tidak punya saran mungkin lebih baik aku menginap di kediaman parkinson."
"Jangan!" kata Harry sedikit berteriak, membuat Hagrid dan dirinya sendiri kaget. Sementara Draco tersenyum penuh kemenangan.
"Ck, baiklah kau menginap di flatku saja. Tapi jangan mengharapkan flat mewah, karena flatku sederhana," kata Harry sedikit frustasi.
"Ok, itu tidak penting. Yang penting aku memiliki tempat untuk menginap," Draco berdiri dan mengejar Harry yang sudah terlebih dulu keluar dari restoran itu.
-.-.-.-.-.-.-.-.-0o0-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Well, selamat datang di flatku, dan semoga kau betah,"setelah mengatakan itu Harry melangkahkan kakinya menuju dapur yang sederhana.
Draco melihat sekelilingnya ruang tamu sekaligus ruang bersantai yang cukup luas, empat buah sofa yang empuk berwarna cream sesuai dengan wallpaper coklat dengan motif batik (?), di temboknya ada beberapa foto yang terpajang rapi, lukisan lama yang ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya, karpet berbentuk kotak berwarna coklat terletak dibawah meja ruang tamu dengan motif daun terhampar rapi, sebuah lemari tua berisikan buku-buku di sudut ruangan, tidak ketinggalan sebuah tv tua terletak disebuah lemari berukuran sedang di depan sofa dan meja. Well, kondisi yang cukup lumayan untuk sebuah flat dengan biaya yang paling murah dan pantas untuk ditempati di kota London yang serba mahal.
"Mau minum apa Malfoy? Coklat panas atau teh?" tanya Harry membuyarkan lamunan Draco.
"Teh saja, Thanks," jawab Draco yang kini duduk di sofa.
Ketika Harry sedang berada di dapur untuk membuatkan teh untuk Draco dan untuk dirinya sendiri, Ron datang ke flat Harry begitu saja tanpa mengetuk pintu atau memencet bel. Ron yang melihat keberadaan Draco yang notabenenya adalah musuh atau rival mereka kini sedang berada di flat sahabatnya, terkejut dan terdiam saking kaget dan bingung.
Draco melihat ke arah Ron dan menyeringai, "kenapa kau diam weasley? apa kau terpesona melihatku?" narsis Draco.
Harry yang melihat kedatangan Ron segera saja memberikan teh yang dia buat kepada Draco dan mendekati Ron yang masih terdiam heran, "Mate, ada apa?"
"Tidak,cuma baru kali ini menjumpai setan di flatmu," jawab Ron tanpa memperdulikan delikan tajam dari Draco dia segera berjalan ke meja makan untuk menyiapkan makan malam yang khusus dibuat oleh ibunya, Molly Weasley. Harry mengikuti Ron untuk membantunya, tetapi dia ditahan oleh Draco. Harry memandang Draco dengan sedikit kesal.
"Mereka orang tuamu?" tanya Draco sambil memegang sebuah bingkai foto suami istri.
Harry memandang bingkai foto yang digengam draco, "Ya, orangtua yang tidak pernah benar-benar kumiliki."
Tanpa diduga oleh Harry, Draco dengan cueknya memecahkan bingkai foto itu. Harry yang melihatnya sangat terkejut, " Apa yang kau lakukan Malfoy!"
Draco dengan santainya mengambil foto dari figura yang sudah pecah itu, dan tanpa menghiraukan protes Harry dia mencari-cari sesuatu. Begitu menemukan gunting di laci ketiga terbawah, Draco dengan seenaknya menggunting foto orang tua Harry. Harry shock dan tidak bisa bereaksi apa-apa. Dia memotong bagian wajah ayah dan ibunya Harry, lalu dia melepaskan sebuah liontin bulat yang dapat dibuka tutup. Draco memasukan foto itu kedalam liontin. Tanpa banyak bicara Draco memasangkan liontin itu ke leher Harry yang terdiam. "Sekarang kau memiliki mereka-" Draco memotong kata-katanya dan mendekati Harry sambil mendekatkan liontin itu ke dada kiri Harry, "Di setiap detakan jantungmu."
Harry yang terkejut memegang liontin itu dan melihatnya, entah sadar atau tidak air mata keluar dari mata emeraldnya. Ketika tersadar Harry buru-buru mengusap matanya, "T-thanks... eeh... ah ayo kita makan sekarang, Malfoy." ucap Harry salah tingkah dan segera berbalik menuju meja makan.
Ron yang setengah apatis masih menatap Draco setengah mendelik. Beberapa saat di meja makan dia baru sadar sahabatnya memakai benda asing.
"Apa itu mate?".
Harry diam, hanya menatap Draco sekilas sambil memasang cengiran kuda kebanggaannya. Ron membiarkan dahinya mengernyit dan lebih memilih menyuapkan makanan ke mulutnya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-0o0-.-.-.-.-.-.-.-.-
Kediaman Malfoy…
"Sayang, apa sudah ada kabar dimana Draco?" tanya Narcissa kepada suaminya yang sedang terduduk di sofa ruang keluarga.
"Belum, anak buah kita yang bertugas mencarinya belum berhasil menemukannya."
Narcissa yang mendengar itu mendengus kesal dan duduk disebelah Lucius. "Ini juga salahmu Luc! Kalau saja kau tidak terlalu memaksakan kehendakmu pada Draco, pasti dia tidak akan kabur!"
"Cissy, aku melakukan semua ini juga demi kebaikan dia dan untuk masa depan dia," Lucius tidak rela kalau dia disalahkan oleh istri tercinta.
"Pokoknya aku tidak mau tau, Draco harus cepat ditemukan," ucap Narcissa tidak mau kalah, lalu dia meninggalkan ruang keluarga.
Sementara itu Bandara Internasional Heathrow London, Seorang pria berambut hitam panjang, berpakaian casual dan trendi baru saja tiba. Dia berjalan menyusuri koridor bandara dengan santai, di luar gedung para anak buah pria itu menyambutnya.
"Selamat datang kembali ."
"Ya, apakah kalian sudah mendapatkan informasi dimana anak baptisku berada?"
"Ya tuan. Dia tinggal bersama keluarga Dursley, kakak ibunya. Tapi kini dia sudah pindah dan kami belum mendapatkan informasi terbaru."
"Ck, bagaimana kerja kalian selama ini? Kenapa bisa lambat?!"
"Ma-maafkan kami tuan. Kami akan segera mencarinya."
Setelah itu pria tersebut masuk ke mobil sport hitam miliknya dan pergi dari bandara itu.
-.-.-.-.-.-.-.-.-0o0-.-.-.-.-.-.-.-.-
Keesokan harinya Harry dan Draco berangkat bersama menuju kampus mereka. Pagi ini mood Draco sedikit down. Dengan bujukan dari Harry, akhirnya Draco bersedia untuk naik bis menuju kampus.
"Ck, Harry…. Kita menunggu bis ini selama dua jam dari pagi terus kita harus merasakan perjalanan yang 'sangat tidak nyaman' seperti ini?" gerutu Draco semakin kesal, ditambah dia harus duduk bersebelahan dengan ibu-ibu gendut yang menggendong bayi laki-laki yang tidak bisa diam. Sementara harry yang sebenarnya sudah mengorbankan jatah tempat duduknya agar Draco bisa duduk di bis yang penuh itu, cuek-cuek saja. Harry lebih memilih untuk mengajak bicara bayi laki-laki yang disebelah Draco dengan bahasa yang hanya mereka berdua saja yang mengerti.
Draco yang merasa dicuekin bicara ke harry, "Kita kan bisa naik taksi,harry. Uangku masih cukup untuk sekedar taksi dari flatmu ke kampus."
Harry hanya menjawab sambil nyengir,"Simpan uangmu untuk nanti."
.
Tidak lama kemudian mereka sampai di kampus, Harry masuk ke kampus terlebih dahulu dan segera masuk ke dalam kelas. Sementara itu Draco, bagaimanapun dia masih ingin menjaga harga diri malfoy-nya memlih memutar ke arah parkiran mobil, berusaha seakan-akan dia terlihat baru turun dari mobil. Harry yang melihatnya, menatap jengah dan langsung fokus pada buku pelajarannya. Tidak lama kemudia Ron datang sambil membawa sebuah tas yang berisi kotak makanan.
"Morning, mate. Ini sarapan untukmu, mom sengaja membuatnya khusus untukmu, jadi jangan ditolak," ucap Ron sambil memberikannya kepada Harry.
"Ok, thank's mate. Aku memang belum sarapan," jawab Harry dengan cengiran khasnya. Tapi ketika dia membuka bungkusnya, dia kembali lagi melihat ke keributan yang terjadi di lorong. Dalam hati dia ingat,'Draco belum makan pagi ini." Jadi dia tanpa memperdulikan teriakan ron yang kebingungan, segera menghadang jalan Draco yang sudah seperti selebritis datang dari Hollywood.
"Ikut aku, ada surat undangan dari universitas Drumstrang." Mendengar itu Draco berakting sempurna, dengan melempar tatapan sinis ke Harry dan melangkah dengan sedikt antusiasme, padahal dalam hati dia bersorak senang. Dia tidak pernah suka dengan perhatian orang-orang yang berlebihan, tetapi dia juga kecanduan sampai tidak berani melepaskannya.
Harry mengajak Draco ke atap gedung kampusnya.
"Draco kamu belum makan kan? Nih makanlah." kata Harry sambil menyerhkan jatah sarapannya.
Draco menerimanya, "Kamu sendiri sudah sarapan?" tanya Draco.
"sudah, tadi." jawab Harry berbohong.
Draco tahu betul kalau Harry berbohong. Dia membuka bungkusan sandwich tuna di depannya. Menggigitnya seujung. Harry yah.. Bagaiamanapun dia merasa lapar juga. Melirik sedikit-sedikit ke arah Draco yng sedang asyik makan sambil menatap langit. Draco yang sadar akan kelakuan Harry, memiliki inisiatif sedikit gila di otaknya. Dia mulai masuk ke gigitan ketiga sambil mendekati Harry, Harry yang masih terbayang-bayang kejadian kemarin refleks berusaha menjauh. Draco sengaja menelan makannanya sangat perlahan.. Dia tahu meskipun Harry menghindar dia tetap sekali-sekali menatap makanan yang sedang dikunyah olehnya. Terus mulailah akal bulusnya keluar, Draco menarik diri sedikit menjauh, tapi terus tiba-tiba Harry merasakan ada hembusan nafas di dekat telinganya.
"Jangan pernah berani membohongi Malfoy, Potter. sekarang pilih, makan dengan mulutmu sendiri? Atau makan menggunakan mulutku?", Harry langsung blushing. Matanya makin jauh menjelajah langit. Draco kembali ke posisi semula, dan menyerahkan separuh potongan sandwich pada Harry.
Harry menerima dan memakannya dengan wajah yang merona. Tidak lama kemudian Harry berdiri, "Hn, Draco. aku pergi dulu sudah waktunya aku masuk kelas."
Draco mengawal langkah Harry yang menjauh darinya. Semakin menyadari sesuatu yang kosong setiap kali pemuda itu tak berada di sampingnya.
Draco dan para pengikut kubunya sedang berbincang-bincang di perpustakaan tentang strategi yang akan digunakan untuk membatalkan rencana aksi demo itu. Meskipun Draco sendiri sudah tidak peduli. Tapi dia tahu diri, dia yang paling pertama berdiri dan menyatakan penolakan. Memalukan sekali kalau harus tiba-tiba mengurungkan niat. Sedang asyik dengan macam-macam rencana yang terkesan licik. Dari jauh draco melihat para bodyguard utusan ayahnya mendekati mereka.
"Ok, untuk hari ini cukup. Aku ada keperluan, bye," Draco berpamitan.
Ia melajukan langkah-langkah anggun khas bangsawannya secepat mungkin. Dia tahu para pengawalnya juga tidak akan bertindak gegabah, bagaimanapun mereka utusan ayahnya. Lucius pasti tidak akan suka mendengar berita anaknya ditangkap oleh pengawal sewaan dengan cara tidak manusiawi. Harga diri seorang malfoy-bahkan jika ia pembangkang seperti draco- harus tetap terjaga.
Pada saat yang sama Harry sedang berjalan di koridor, dia melihat di koridor sebelah kanan di sana Draco sedang berusaha untuk lepas dari pengawalnya.
"Huh, lagi-lagi dia dikejar-kejar bodyguard-nya…. Ck, dasar tuan muda," gumamnya. Meski begitu Harry segera mencari ide dan mendekati Draco.
Begitu Harry cukup dekat Dengan Draco, dia segera menarik tangan Draco dan membawanya ke sebuah ruangan yang tertutup dan tidak diketahui oleh pengawalnya.
"Ck, lagi-lagi tuan muda menghilang," ucap pengawal yang pendek.
"Sudahlah, kita cari di tempat lain."
Setelah merasa keadaan aman, Harry baru sadar kalau posisi mereka terlalu berbahaya. Refleks dia mendorong dada Draco menjauh. Tapi berhenti waktu tiba-tiba Draco mengatakan, "Thanks." Draco Malfoy bilang thanks?! Saudara2 itu artinya kiamat akan segera datang...*yang ini abaikan, saya lebay*
Harry yang sudah ke-GR-an dan nyaman diam saja dalam posisi itu. Terus Draco melanjutkan kalimatnya, "Tapi lain kali jangan bawa aku ke gudang penuh debu, bisa kan?". Harry tidak jadi mau senyum-senyum malah merengut.
Pada pukul sepuluh, mereka mengadakan rapat mengenai rencana demo penolakan yang akan dilaksanakan pukul satu siang nanti. Dalam rapat dewan mahasiswa yang mereka adakan, berlangsung tegang. Tidak ada kata mufakat diantar dua kubu. Akhirnya mereka melakukan voting. Beberapa anak yang menjadi pengikut Draco yang sepanjang rapat diam saja, tidak bisa menentang maupun membela. Mereka menjadi ragu dengan sikap pangeran es itu. Dan ketika voting mereka lebih memilih untuk menyetujui rencana ini. Tapi meskipun suara terbanyak sudah di dapat tetap saja Draco memberikan sebuah syarat yang membuat Harry kesal. Tetapi akhirnya mereka jadi melakukan demo penolakan itu dipimpin oleh Cedrig, Luna, Ron, Neville... Sementara Harry hanya dibelakang layar atas persetujuan syarat yang diajukan Draco.
Siang harinya tepat pukul satu siang, mereka melakukan rencananya. Ketika demo Draco dan kubunya juga tetap ikut karena semua anggota dewan mahasiswa diwajibkan untuk ikut. Draco hanya diam sambil mengawasi jalannya demo itu, Karena pertemuan itu memang salah satu pemrakarsanya Lucius Malfoy-ayahnya-, otomatis dia juga berada disitu.. Sementra Harry, dia juga diam tidak banyak berkata-kata, Harry melihat dari jauh bagaimana mereka berpandangan seperti saling tidak mengenal satu sama lain. Setelah berorasi berjam-jam akhirnya mereka mengundurkan diri.
-.-.-.-.-.-.-.-.-0o0-.-.-.-.-.-.-.-.-
Malamnya di flat Harry…
Harry yang telah mandi terlebih dahulu kini ssedang duduk sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Beberapa menit kemudian Draco keluar dari kamar mandi dan mendekati Harry, Harry yang menyadari kedatangan Draco melihat ke arahnya.
"Draco, aku tahu perkara ini bukan urusanku, tapi.. Boleh aku tahu alasanmu tidak mau pulang ke manor?" Draco hanya menatap harry dalam hening selama bermenit-menit. Sampai harry jengah sendiri, dan kembali fokus ke tugasnya.
Draco menjawab,"Aku akan menjawab pertanyaanmu asalkan kamu menjawab pertanyaanku terlebih dahulu." jawab Draco datar sambil duduk di dekat Harry-padahal dia masih memakai handuk-. Harry menyipitkan matanya, setelah beberapa menit perang batin akhirnya dia mendesah dan mengatakan,"Akan kujawab jika itu tidak menyinggungku." Draco tersenyum kecil, "Baiklah, aku mau bertanya, apa yang terjadi kepada orang tuamu? lalu, kenapa kamu bersikeras menentang pertemuan para ilmuwan itu?" Draco berusaha membaca air muka Harry yang mendadak dipenuhi kebencian. Mata hijaunya mengilatkan dendam. Sesuatu yang tidak pernah Harry tampakan sebelumnya. "Harry?" Harry berbalik memandang Draco, ekspresinya datar sama sekali.
Tiba-tiba Ron masuk ke flat Harry sambil berteriak kalau dia membawa makanan dan dengan sumringah dia menyalakan tv. "Mate! Lihat! Berita demo kita ada di berita utama malam ini!" serunya sedikit bangga. Begitu Draco kembali berbalik memandang Harry, pria berkacamata itu sudah kembali tersenyum polos. "Akan kuceritakan kapan-kapan."
"Cepat ganti baju! Bukankah tadi kau baru saja membeli baju baru!" perintah Harry dan beranjak keluar kamar.
Draco sedikti curiga, dia berpikir bahwa sikap Harry selama ini berbeda dengan apa yang barusan dia perhatikan, tapi dia menepis semua itu, ia simpan prasangka itu di dalam memorinya, lalu dia segera memakai bajunya dan keluar. Draco duduk di samping Harry, "Hei Weasley lihat kau tersorot oleh kamera, kacau sekali wajahmu... hahahaha..." ejek Draco.
"Yah..ya... Setidaknya aku tidak sedang mendemo pertemuan ayahku sendiri..." Harry menyikut Ron. Ron melempar pandangan memprotes. Sementara televisi itu sedang menyiarkan sekerumunan wartawan yang sedang menanyai pendapat Lucius Malfoy.
Harry memandangnya khawatir, dan buru mengalihkan perhatian. "Kalian berdua. Ayo makan!" ucapnya berusaha seriang mungkin. Namun tetap saja Draco menatap televisi kuno itu dengan pandangan dingin. "Draco.." Harry memanggil lagi. Draco akhirnya berbalik dan menghampiri makan malamnya. Ron menatap heran pada kedua pria muda itu, tidak habis pikir bagaimana bisa dua musuh besar di kampus tinggal satu atap. Dan lagi..err.. Bukankah kamar di flat Harry hanya satu? Ron jadi sibuk mengeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Membuat Harry memandang khawatir dan berhadiah satu ejekan lagi dari Draco.
-.-.-.-.-.-.-.-.-0o0-.-.-.-.-.-.-.-.-
Di sebuah laboratorium gelap bawah tanah. Sedang dilakukan sebuah percobaan. Ruangan yang sebelumnya sengaja lampunya diremangkan. Tiba-tiba benderang efek dari mesin yang sedang diujicobakan. Disana ada seorang pria yang tidak diketahui berapa umurnya bersama seorang pengikutnya.
Alarm berbunyi menandakan bahaya. Si pengikut memperingati tuannya untuk menghentikan percobaan. Namun sosok itu malah menambah tenaga mesin tersebut. Hingga terjadilah ledakan dahsyat sampai memecahkan kaca pelindung yang membatasi mereka dengan mesin itu. Sementara para karyawan panik berlindung. Pria itu tetap kukuh berdiri.
"Gagal lagi," desisnya sinis.
Lalu dia berbalik hingga jubah putih labnya berkibar. Sebelum keluar ruangan dia memerintah pada anak buahnya, "panggil Severus! Katakan rumusannya gagal lagi. Dan katakan bahwa ia harus mencari Potter terakhir itu!"
Ditempat lain tepatnya di manor keluarga Black, Sirius merasa kesal dan galau *plakk* karena pencarian anak baptisnya sampai sekarang (?) belum juga diketahui. Pada saat Sirius sibuk memikirkan Harry, Regulus-adiktercintasirius- baru pulang dari Perancis karena tugasnya sebagai salah satu agen ORDE masuk ke ruang kerjanya. "Siri, aku pulang." ucap Regulus di depan meja kerjanya sambil tersenyum kecil.
Sirius yang sedang setengah putus asa cuma menyahut kecil. Tiba-tiba telepon kunonya berdering. Dengan separuh semangat sirius hendak mengangkatnya. Tapi didului oleh regulus. "Aku tidak akan membiarkanmu yang sedang ber-mood buruk mengangkat telepon. Bencana jadinya." gurau Regulus. Kemudian mulai menyapa seorang disebrang sana.
"ah.. Sirius ada. Tapi.. Ah.. Baiklah kalau kau memaksa, Albus. Kuperingatkan.. Dia sedang tidak enak hati. Yeah.. You know exactly the reason.." menyerahkan telepon.
Sirius menerima teleponnya, "Yeah Albus, ada apa? jika tidak penting aku tutup." ucap Sirius, sementara matanya menyiaratkan Regulus untuk mendekat. Regulus menurut dan memutari meja kerja untuk mendekati Sirius. setelah jarak mereka dekat Sirius memegang tangan Regulus dan menciumnya lembut, membuat Regulus Blushing.
"apa kau sudah melihat berita tadi di tv?" tanya Albus. Sirius mengangkat satu alisnya sementara tangannya masih memegang tangan Regulus. "belum, ada apa?"
"Tadi ada berita tentang demo para mahasiswa yang menolak pertemuan para ilmuwan." jawab Albus.
"Yeah lalu?" Regulus hendak menjauh namun kalah cepat dengan tangan Sirius yang justru menariknya semakin mendekat. Regulus mengirimkan deathglare pada Sirius untuk melepaskannya. Tapi Sirius tetap tak bergerak,
"Aku harap kau tidak sambil melakukan adegan lovey dovey ketika berbicara denganku, Sirius. Aku melihat anak baptismu.".
Sirius merenggangkan pelukannya pada Regulus. Regulus yang mengerti memberi ruang dengan sedkit menjauh, diam memperhatikan raut wajah Sirius yang berubah cerah.
"Benarkah? di mana? dimana kamu melihat Harry?" tanya Sirius.
"sudah kubilang di tv.. dia Kuliah di Hogwarts University, tapi aku tidak tahu dia jurusan dan fakultas apa." jawab Albus.
"Begitukah? ok, berarti besok aku akan kesana mencari tahu, Thank's," ucap Sirius langsung menutup teleponnya, dan seketika itu juga dia memeluk Regulus dan mencium bibirnya. Regulus yang meskipun kaget berusaha bersikap sereaktif yang diinginkan Sirius, ia tahu Sirius sedang gembira. Jadi ia tidak mau merusak kebahagiaan kakaknya itu.
"Kau dengar tadi?" ucap Sirius antusias. Sementara Regulus masih sibuk menertibkan nafas. Hanya matanya saja yg mengisyaratkan "apa?"
"Mereka menemukan Harry! Ia kuliah di Hogwarts! Hogwarts! Bodoh sekali aku! Itu tempat aku dan james memulai persahabatan dan segalanya?! Kenapa tidak terfikirkan?". Sirius sibuk berbicara sendiri tanpa sadar sedari tadi Regulus masih berada dalam pelukannya.
Regulus tersenyum lembut-halyangtidakpernahdiperlihtk annyakepadaoranglain-dan menatap wajah gembira kakak tersayangnya itu. "Kalau begitu besok kita kesana Siri, dan sekarang kau harus makan dulu! tidak boleh menolak Love." pinta-perintah-Regulus lembut tapi penuh dengan aura intimidasi.
"Uh-oh baiklah love, kita makan berdua kalau begitu." ucap Sirius yang kini berjalan sambil memeluk pinggang Regulus.
-.-.-.-.-.-.-.-.-0o0-.-.-.-.-.-.-.-.-
Harry sedang membaca koran di ruang santai setelah Ron pulang. Harry membaca koran yang membahas tentang demo mereka di situ dia juga melihat artikel tentang Sirius yang sudah pulang ke London.
"Jadi si konglomerat banyak gaya itu sudah pulang?" Harry yakin jantungnya berhenti berdetak sesaat tadi saat menyadari Draco tiba-tiba berdiri di belakangnya. Mengintip baca melalui lehernya, yang otomatis mengirimkan hembusan nafas wangi pasta giginya di dekat daerah sensitif Harry. Pemuda berkacamata itu berusaha bersikap cuek.
"Jangan sembarangan membicarakan orang. Dia itu teman ayahku." Harry heran sendiri dengan kelancaran lidahnya memberi informasi.
"Jadi? Sudah mau cerita soal orang tuamu?" Draco lagi-lagi menemukan kilat dendam pada manik mata Harry.
"Tidak sekarang," Harry membuka halaman terakhir dan wajahnya langsung berubah cerah. "Demi rambutku yag selalu berantakan! Dimuat?! Benar-benar dimuat?" Draco menjauh dari Harry yang kalau girang bisa lepas kendali.
"Ron tidak memasukan sesuatu yang salah ke makannmu kan Harry?" Harry menggeleng. Menunjuk-nunjuk halaman belakang koran. Sebuah foto sederhana dan beberapa baris pargraf bertengger disana. Kolom citizen journalism.
"Kau yang ambil?" Harry mengangguk. "Artinya aku akan dapat tambahan uang bulan ini! Tidak harus menunggu santunan dari pemerintah yang sering terlambat!". Draco tersenym samar. Tapi begitu Harry kembali menatapnya senyumnya sudah menghilang.
"Hmm...lalu apa alasanmu tidak mau pulang ke manormu?" tanya Harry sambil berdiri di depan Draco.
"sudah kubilang aku akan menjawab pertanyaanmu apabila kau memberitahuku tentang orang tuamu," jawab Draco dingin.
"Kenapa harus aku dulu yang menjawab? Kan aku duluan yang bertanya, Draki...",jawab Harry keras kepala dengan sengaja mengejek Draco.
"Panggil aku seperti itu sekali lagi, aku tidak akan segan melakukan sesuatu yang buruk padamu," Draco menjauh dengan langkah terkesan kesal walaupun tetap anggun. Tapi Harry malah menantang, "Draki.. Draki... Draki... Draki..." cemoohnya. Tapi Draco serius dengan ucapannya kepada Harry. Tiba-tiba saja bibir mereka sudah beradu, dan tubuh Harry yang limbung karena serangan tiba-tiba Draco jatuh terlentang di lantai. Sementara Draco memerangkap tubuh Harry yang beberapa senti kalah tinggi dari Draco.
TO BE CONTINUED…
Author Note:
Astia Aoi : Sebelumnya saya selaku author yang mengetik ff ini minta maaf karena ff ini lama dilanjutnya. Alasan utamanya adalah tugas saya selaku mahasiswa yang selalu menumpuk .. tapi akhirnya ff chap kedua ini selesai. Untuk kali ini saya terpaksa meshare ff ini tanpa ada note dari Author Raya, karena dia sedang sibuk-sepertinya-. Mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam cerita maupun cara menulisnya. Kami menerima kritik dan saran, tapi FLAME NO! Thank's ^^
