because i love you, that's why (c) black paperplane (2012)
dika ranggala (c) black paperplane
axis powers hetalia (c) hidekaz himaruya
romance drabbles/oneshots
indobela/on a rainy day - beast
Musim hujan di Asia Tenggara. Hujan angin, petir menyambar. Sudah gitu, pasti pohon tumbang dimana-mana. Hujannya labil pula. Menyedihkan. Paling enak makan mi instan sambil nonton sinetron atau film bajakan dari mall kenamaan. Ditemani teh manis hangat. Dibungkus oleh selimut tebal atau jaket. Kalau mi atau filmnya sudah habis? Tidur di sofa. Kucingmu ikutan? Tidak masalah.
Jujur, Dika ingiiiin sekali melakukan hal itu.
Sayangnya, ia tengah terjebak di sebuah daerah anonim. Banjir merendam, pula. Mobilnya mogok, harus tunggu banjir usai dulu—baru dia bisa pulang. Tidak ada sinyal pula. Kedinginan, juga. Euh.
"…bagaimana, Dika?"
Ditambah lagi, ia harus berbagi saung random yang ditemuinya secara ajaib di daerah antah berantah tersebut dengan seorang wanita separuh psikopat asal Eropa yang bisa kapan saja bangkit jiwa saikonya—Natalya Arlovskaya.
"Aku nggak bisa telepon. Sinyalnya SOS," gerutu si pemuda Indonesia.
"Lho, kalau SOS, bisa telepon untuk emergensi, dong." Sahut Natalya.
"Natalya," Dika menghela napas putus asa. "banjirnya sampai pahaku. Sudah begitu, ini daerah antah berantah. Kalaupun telepon emergensinya sampai ke pusat sana, kita mau bilang kita berada dimana? Kalaupun bisa dilacak, bagaimana mereka menjemput kita? Helikopter juga tidak berguna, hujan badai begini."
Natalya terdiam, memainkan renda di roknya.
"Jadi kita harus apa?" tanyanya, menatap Dika sekali lagi.
"Menunggu banjir selesai." Jawab si lelaki. "Ya, paling gampang sih, tidur."
Natalya menutup mulutnya lagi. Dika yang sedari tadi berdiri di saung tersebut memantau banjir memutuskan untuk duduk di seberang rekannya. Ia mencuri pandang ke arahnya.
Perempuan berparas langsing itu hanya mengenakan sepotong kemeja putih dengan jas hitam dan rok selutut, tanpa jaket atau penghangat badan lainnya. Rambut platinum panjangnya agak basah terkena air.
Dika sendiri tidak jauh berbeda pakaiannya, hanya baju dinasnya yang biasa: jas, kemeja, celana panjang. Namun ia memakai selembar jaket yang lumayan tebal. Selalu dibawanya untuk jaga-jaga.
"Hei, Natalya." Panggilnya.
"Ya?" perempuan minim ekspresi tersebut mendongakkan kepalanya menatap Dika—yang sedang mengisyaratkan agar Natalya duduk di sebelahnya. Wanita Belarusia tersebut menuruti kemauan Dika.
Saat matanya sudah terpejam hendak mencoba tidur, sebuah jaket disampirkan di badannya dan sebuah lengan yang kuat menariknya mendekat—dan menyenderkan kepala Natalya ke bahunya.
Dika membuang muka.
"…kalau kau demam, bisa repot aku."
Wajah keduanya memerah, dan keduanya membagi kehangatan tubuh mereka tanpa kata.
A/N: Makin random, ya. /pundung Saya terus mengetik. Jangan sampai kena WB. ;_; Review please? ;D
