Konnichiwa minna-san! Author Nirina kembali lagi di fic yang sama dan berchapter baru :D langsung saja, happy reading!

Reviewer Zone : for…

Kanon rizumu : iya, memang unik, hahahaha. Arigatou, sudah mendukung fic ini untuk di continue :)

Hanazono yuri : arigatou, sudah mendukung fic ini untuk di continue :)

Scarlet24 : arigatou, sudah menunggu fic ini :)

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Mystery

Warning! : AU, OOC, typo, gaje, dll.

Keesokan harinya, Sakura dan Sasuke sudah ada di TKP. Police line terbentang di sekeliling nya. Polisi dan wartawan berita sudah berserakan di sekitar TKP. Taman untuk sementara ditutup agar tidak mengganggu jalannya pemeriksaan oleh para pengunjung.

"Apa yang anda temukan, Sakura-san?" tanya Sasuke.

"Ini parah, Sasuke-san" kata Sakura dengan raut wajah kekhawatiran. Sasuke menatap Sakura dengan pandangan tidak mengerti.

"Sepertinya, ada beberapa potongan badan disini. Saya akan memeriksa potongan-potongan badan ini" kata Sakura sambil menunjuk kearah potongan tangan, kaki, dan perut.

"Sedangkan anda, apa yang anda temukan?" tanya Sakura.

"Aku mendapatkan informasi dari beberapa saksi mata. Kata mereka, mereka sempat mencium aroma anyir darah segar di sekitar TKP. Beruntungnya, disini ada CCTV. Setelah ini, aku akan meminta para pekerja di divisi computer forensic untuk menyelidikinya melalui kaset CCTV ini" kata Sasuke, menunjukkan 2 kepingan CD kecil. Sakura merasa ada yang salah dengan cara bicara Sasuke.

"Sasuke-san, saya harap anda bisa berbahasa yang sopan kepada saya" kata Sakura dingin. Sasuke bingung, dan berpikir mencari-cari kesalahan perkataannya. Emang dasar penyakit musiman, penyakit otak lemot, setengah jam kemudian dia menyadari kalau dia berkata 'aku' bukan 'saya'.

"Gomenasai, Sakura-san. Ayo kita lanjutkan penyelidikannya" kata Sasuke lalu pergi meninggalkan Sakura yang sibuk dengan objek di depannya –potongan tubuh manusia.

Malamnya, Sakura mengendarai mobilnya menuju rumah Sasuke. Sakura memarkirkan mobilnya di halaman rumah Sasuke yang begitu luas. Sakura mengamati rumah ini. Rumah nya biasa-biasa saja, dengan cat hitam kusamnya itu. Sungguh tidak terawat sekali! Dan tamannya hanya berhiaskan tanaman anggrek hijau dan beberapa pot aster merah, yang HAMPIR layu.

'Prestasi tak terhingga kok merawat halaman rumahnya seperti ini? Merawat halaman rumahnya saja tak becus, apalagi kamarnya? Sudahlah tak perlu kupikirkan' pikir Sakura.

TING TONG!

"Sebentar," sahut si pemilik rumah. "Ah, Sakura-san, silahkan masuk." Sasuke berjalan kearah ruang televisi.

Sungguh, Sakura benar-benar terkejut hingga ia tidak bisa melangkahkan kakinya memasuki rumah itu sejenak. Bungkus kacang bertebaran, majalah dimana-mana, kaleng-kaleng minuman yang sudah tak berisi lagi menyebar keseluruh ruangan, dan masih banyak lagi.

"Ano, gomenasai, Sasuke-san. Apa anda sesibuk itu sehingga tak membersihkan seluruh rumah anda?" tanya Sakura sambil melepas jas putih dokternya. Sasuke menggaruk belakang tengkuknya yang tidak gatal, "Yah, begitulah. Begitu sampai di rumah, saya langsung mendapat panggilan khusus. Padahal saya barusan dari bandara. Dan di rumah ini memang tidak berpenghuni selama saya study di Jerman. Orangtua saya tinggal di Filipina untuk sementara karena menangani masalah perusahaan. Dan kakak saya sedang kuliah di Amerika."

Sakura membersihkan sedikit barang-barang Sasuke. "Sakura-san! Anda tidak perlu membuang itu, biar saya saja" cegah Sasuke. "Tidak, Sasuke-san. Jika anda yang membuangnya, mungkin setahun kemudian anda tetap tidak akan melakukannya" Kata Sakura yang tetap berjalan mencari-cari tong sampah.

ZAP!

Sasuke merentangkan tangannya, berusaha mencegah Sakura. Sakura terkejut. Bagaimana tidak? Jarak mereka hanya sejengkal. Dan Sasuke pun sepertinya merasakan hal yang sama seperti Sakura. Peristiwa tatap-menatap pun terjadi. Mereka seolah-olah tenggelam oleh buaian iris mata mereka masing-masing, saling mengagumi satu sama lain. Seolah-olah dimanjakan dengan keindahan emerald dan onyx. Cukup lama, hingga akhirnya Sakura duluan yang sadar dari buaian mematikan itu.

"Ehm, Sasuke-san, saya harus mengambil beberapa berkas yang akan di diskusi kan di mobil saya" kata Sakura. Sasuke menurunkan rentangan tangannya dan berjalan menuju kamarnya, berniat untuk berganti baju. setelah itu mereka membersihkan ruang tengah rumah Sasuke bersama-sama.

Setelah semua beres, Sakura dan Sasuke duduk bersebelahan di sofa abu-abu milik Sasuke. Di depan sofa terletak sebuah meja yang diatasnya terdapat beberapa berkas yang menurut mereka penting.

"Nah, apa hasil dari potongan-potongan badan tadi?" tanya Sasuke.

"Hasilnya, potongan-potongan badan tadi dimiliki oleh 2 orang. Menurut saya, si pembunuh sengaja meninggalkan salah satu korbannya di taman itu, dan satu lagi di bawa kabur entah kemana. Mungkin, potongan tangan yang berbeda kepemilikan itu terjatuh ketika dia mau membawa pergi korban lainnya" kata Sakura.

"Kalau begitu, saya sama seperti anda. Saya menemukan 2 dasi berbeda warna dan alat berupa pisau untuk memutilasi mereka" kata Sasuke sambil menunjukkan barang bukti ke Sakura.

"Apa anda sudah memeriksa sidik jarinya? Terus, siapa pemilik dasi itu?" tanya Sakura.

"Belum, saya belum memeriksanya. Dasi itu adalah pemilik si kedua korban. Karena, ketika saya bersama petugas computer forensic untuk menyelidiki salah satu CD CCTV, corak dari kedua dasi itu sama seperti yang di kenakan calon korban sebelum pembantaian" kata Sasuke.

"Sakura-san, Siapa kedua korban itu? Apa anda mengetahuinya?" tanya Sasuke.

"Ya, menurut prediksi sementara mereka berdua adalah 2 orang pebisnis terkenal di Jepang, Shimura Sai dan Inuzuka Kiba. Dan menurut analisis ku, mereka pergi ke taman bukan ada maksud dan tujuan lain selain bercengkrama di waktu kosong. Terlihat wajah mereka tidak menunjukkan stress sedikit pun. Otot-otot perutnya sedikit kram karena banyak tertawa" kata Sakura sambil membaca beberapa dokumen didepannya.

"Baiklah, kita lanjutkan besok pagi" kata Sakura yang mulai beranjak dari sofa, namun tangannya di genggam oleh Sasuke.

"Buatkan dulu aku makan malam" perintah Sasuke. "Kau manja sekali! Kau tidak bisa memasak?" tanya Sakura Sasuke menggembungkan pipinya kesal dan memalingkan wajahnya dari Sakura.

"Tidak. Mulai sekarang, panggilan kita 'aku kamu', tidak ada 'aku kau' atau 'saya anda'. Dan juga panggil nama biasa. Jangan menambahkan kesan formal didalamnya. Sekarang, buatkan aku nasi goreng" perintah Sasuke.

Sakura hanya menuruti perkataan Sasuke sambil menggerutu tak jelas dalam hati. 'Dasar! Umur 20-an tingkah childish banget! Dasar cowok manja!' gerutu Sakura dalam hati lalu berjalan kearah dapur. Meskipun kesal, entah kenapa di turutinya. Aneh.

.

"Sasuke!" panggil Sakura. Tidak ada sahutan dari Sasuke. Sakura memutuskan untuk menghampiri ke kamarnya. Dia menaiki tangga dan mengetuk-ketuk pintu kamar Sasuke.

"Sasuke! Makanannya udah siap!" kata Sakura dari luar kamar. Masih tidak ada sahutan. Dia mencoba membuka kenop pintu kamarnya, ternyata tidak di kunci. Di bukanya pintu itu dan… kamar Sasuke begitu luas! Sakura mencari-cari Sasuke ke setiap sudut kamar sambil memanggil nama Sasuke.

"Nggak ada. Coba aku cek ke kamar mandi" kata Sakura. Ketika mau menuju ke kamar mandi, Sakura berteriak.

KYYAAA!

Di dapatinya Sasuke yang topless dan hanya dibalut dengan handuk putih di bagian bawahnya. Dia mengeringkan rambut pantat ayam biru donker-nya yang sepertinya basah. Tetesan-tetesan air di sekujur tubuh sixpack-nya menunjukkan kalau dia baru selesai mandi. Sakura sempat terdiam terpaku dengan 'pemandangan indah' di depannya.

'Se-seksi…' Sakura yang tak sadar terpaku dengan 'pemandangan indah' di depannya dengan segera memutar balik badannya, membelakangi Sasuke. Bahkan, dia juga nggak sadar wajahnya mulai memerah.

"Kenapa?" tanya Sasuke, dia nggak sadar kalau dia yang membuat Sakura seperti ini.

"A-ano, i-itu makanannya udah siap. A-aku tunggu di bawah" kata Sakura gagap. 'Kenapa aku gagap begini?' batin Sakura.

Sakura dengan segera meninggalkan kamar Sasuke dengan wajah semerah lampu lalu lintas. Sasuke? Dia hanya bingung dengan sikap Sakura.

.

Diruang makan, keheningan berhembus. Hanya terdengar bunyi dentingan antara sendok garpu di disini. Setelah selesai makan, Sasuke membuka pembicaraan.

"Kebetulan, aku mendapatkan undangan acara Anniversary perusahaan terkenal, aku rasa perusahaan pimpinan Shimura dan Inuzuka akan di undang juga. Sepertinya kita harus menghadirinya."

Sakura mengelap mulutnya dengan tissue, lalu menatap sejenak pria di hadapannya ini. Seakan mengerti arah pembicaraan Sasuke, dia pun memikirkan perkataan Sasuke sejenak.

"Boleh saja. Tapi, dari mana kau mendapatkan undangan itu?" tanya Sakura.

"Owner-nya adalah teman se-university ku di Jerman. Dia tinggal di Suna" kata Sasuke.

"Lalu, aku akan menyamar jadi apa?" tanya Sakura.

"Pacar atau tunangan mungkin" kata Sasuke santai seakan tanpa beban. Sakura terdiam. Tiba-tiba otak cerdasnya memutar memori beberapa menit lalu, disaat dia melihat 'pemandangan indah' itu. Membayangkannya, membuat wajah Sakura memerah.

"Sakura, kau sakit?" tanya Sasuke.

"A-ah? Ng-nggak kok" kata Sakura. 'Shit! Kenapa gagap lagi?'

"Benarkah? Wajahmu memerah." Sasuke menempelkan punggung tangannya di jidat lebarnya Sakura. Namun, Sakura langsung menepis tangannya.

"A-aku pulang dulu, besok pagi aku ada operasi autopsi" kata Sakura dengan terburu-buru mengambil tas dan jas dokternya lalu pergi meninggalkan rumah Sasuke.

"Aneh sekali tuh cewek" kata Sasuke memandang pintu rumahnya.

TBC

Haah~~ selesai juga chapter 2 nya. Gomen ne minna, fic nya pendek *bungkukkanbadansedalam-dalamnya. Jika ada kesalahan di fic ini, gomen ne. Dan ini pengalaman pertama aku membuat fic bergenre ini. Jadi, langsung saja di review yaa!