Moonlight Chemistry
CAST :
KIM JAEJOONG
KIM JUNSU
JUNG YUNHO
SHIM CHANGMIN
PARK YOOCHUN
RATED : T-M (?)
GENRE :Drama, Romance
WARNING : YAOI !
DISCLIMER:
Ini FF YUNJAE (YAOI) pertama bikinan author. So, maap kalo nggak jelas dan absurd ==". FF ini MURNI bikinan author loh, ciyusan lol. Berhubung ini FF YAOI bagi yang nggak suka YAOI nggak usah baca deh daripada jadi saling bash dan ribut – ribut. ^^
Btw maaf baru update Jirin abis berjuang (?) menempuh banyak banget ujian. Maaf ya /bow/
Oh iya Jirin mohon doanya semoga bisa diterima PTN :p makasih ya
Oke, author nggak mau banyak cap cip cup lagi. Happy Reading all. Moah :*
...
"kalian jangan semena – mena sama siswa lain. hah, kalian benar benar menghancurkan nafsu makanku?"
" Kau kira kau siapa?, kau tidak kenal kami? Hah?" Changmin yang ternyata adalah yang tadi menggebrak meja angkat bicara lagi.
"sepertinya dia anak baru. Manisnya" Ucap Yoochun yang berdiri di belakang Changmin dengan nada menggoda Jaejoong. Muka Jaejoong merah padam memendam kemarahannya. Ia mulai naik pitam. Junsu yang melihat itu mau tidak mau menarik Jaejoong menjauh dari mereka. Jaejoong pergi dari kantin itu. Tatapan mata seisi kantin mengiringi kepergian Jaejoong. Tak terkecuali tatapan mata musang milik sang leader dari Changmin dan Yoochun yaitu Jung Yunho. Mata musang itu menatap punggung Jaejoong yang pergi menjauh dengan tatapan dingin yang sulit untuk diartikan.
.
.
.
.
.
Chapter 2
"Kau kenapa tiba – tiba menarikku? Urusanku dengan mereka belum selesai." Jaejoong menarik tangannya lagi dan berbalik lagi. Ia bermaksud kembali ke kantin. Namun Junsu berhasil menahannya.
"Ya! Jaejoong ah~, kurasa kita tidak usah berurusan dengan mereka lebih dari ini atau kita tidak akan selamat. Lagi pula ada pekerjaan yang lebih penting selain meladeni mereka." Ucap Junsu panjang lebar. Jaejoong hanya menghela nafas panjang untuk meredam emosinya keluar lagi.
"Kau ini kenapa? Kau lihat kan sikap mereka? Huh? sangat menyebalkan. Seharusnya aku menghajarnya tadi, tapi kau malah menarikku dan membawaku pergi." Jaejoong masih kesal dengan kejadian tadi. Ia lalu melangkah pergi keluar gedung sekolah menuju lapangan sepak bola yang ada di depan sekolah sendirian.
Matahari bersinar tidak terlalu terik. Angin berhembus sepoi – sepoi menerpa wajah putih mulus Jaejoong yang saat itu sedang duduk di bangku di sebelah lapangan sepak bola. Ia memakai headset di telinganya. Pandangannya terarah pada para siswa yang sedang bermain sepak bola. Diantara mereka ada Junsu yang kini sudah menjadi sahabat Jaejoong.
" Yah! Kim Jaejoong. Ayo ikut bermain bola. Cepat kesini" Junsu berteriak dari tengah lapangan. Jaejoong hanya membalasnya dengan melambaikan tangannya sebagai ganti jawaban 'tidak' darinya. Jaejoong kembali menikmati suasana siang itu.
Sementara itu tanpa disadari oleh Jaejoong sepasang mata musang tengah menatapnya dari kejauhan. Tatapan itu dingin namun, menyiratkan banyak makna.
Bel sekolah kembali berbunyi waktu istirahat sudah usai. Jaejoong dan Junsu sudah kembali duduk di bangku mereka siap untuk menerima pelajaran lagi. Jaejoong memang terliahat dingin dan ya, sedikit semmbarangan. Tapi jangan tertipu dengan sikapnya yang demikian. Ia justru seorang murid yang pandai. Ia bahkan menerima pujian saat mengerjakan Pre-test tadi karena ia mendapat nilai sempurna.
"waaah, kau hebat juga, eung kyang kyang," Puji Junsu diikuti tawa khasnya itu.
Jaejoong hanya tersenyum menanggapinya.
Pelajaran telah usai. Semua siswa berjalan berhamburan keluar kelas. Tak terkecuali dua sahabat baru Jaejoong dan Junsu. Saat berjalan di koridor seseorang menghadang mereka berdua.
"Ya! Kau yang tadi siang. Hei!" teriak cowo bertubuh jangkung yang berdiri tak jauh dari mereka.
Jaejoong terkesiap. 'ah, dia lagi,' pikirnya. Jajoong berjalan mendekatinya dengan wajah yang emm, sedikit menantang.
"Kau lagi, kau ini selalu cari masalah ya," ucap Jaejoong dengan lantang. Seisi koridor sontak memperhatikan mereka berdua. Ya, cowo yang tengah berdiri di hadapan Jaejoong sekarang adalah Changmin –Shim Changmin. Salah satu anggota dari trio yang mengganggu Jaejoong di kantin tadi pagi. Dari sekian banyak siswa di sekolah itu, tak ada satupun dari mereka yang berani menantang atau berurusan dengan mereka. Terlalu mengerikan. Sikap mereka yang sombong, tukang rusuh, dan senang berkelahi membuat para siswa ketakutan.
"Mau apa lagi?" Jaejoong melanjutkan ucapannya.
"Urusan kita tadi belum selesai," Changmin menimpalinya.
" Hah, kau ini seperti anak kecil saja. Urusan sekecil itu dibesar besarkan. Kau ini cowo apa cewe sih?" Ucapan Jaejoong kali ini benar – benar tajam dan berhasil membuat Changmun makin emosi. Changmin mengangkat tangannya bersiap menghajar wajah cantik Jaejoong. Tapi hal itu berhasil dihentikan oleh pemimpin geng mereka, Yunho. Ia menyeret changmin menjauh. Jaejoong juga ikut pergi dari tempat itu dengan diiringi tatapan siswa yang ada di sekitarnya.
" Junsu ah~. Kajja," Jaejoong mengajak Junsu pulang.
Jaejoong dan Junsu berjalan menuju halte dekat sekolah mereka. Karena sekolah melarang siswa membawa kendaraan bermotor, mau tidak mau Jaejoong pulang – pergi naik bis.
" Ah, menyebalkan sekali sekolah di sini. Bawa motor saja tidak boleh, padahal waktu di Seoul aku tidak harus serepot ini," ucap Jaejoong di tengah perjalanan.
"Selain itu, kenapa mereka menerima siswa seperti mereka yang sikapnya saja sudah seperti preman pasar dan sangat menyebalkan," Jaejoong melanjutkan perkataannya dengan sedikit geram.
"Jaejoong ah, kau belum tahu siapa mereka," Junsu mulai buka mulut.
"Belum tahu? Apa yang harus aku tahu dari siswa berandalan yang menyebalkan macam mereka? Buang – buang waktu saja," Jaejoong memasang headset di telinganya, hanya satu.
" wow, santai. Mereka itu terlalu sering berkelahi. Siapa saja yang menantang mereka akan mereka habisi tanpa ampun. Jadi, lebih baik kamu jangan cari masalah dengan mereka deh," Mereka berdua duduk di halte ketika mereka telah sampai.
" oh, ayolah. Mereka juga siswa kan? Tidak seharusnya mereka seperti itu. Benar – benar seperti preman." Jaejoong mendengus kesal. Junsu hanya tertawa menanggapi kalimat sahabatnya ini.
Tak lama kemudian bus yang Jaejoong tunggu datang juga.
"ah, itu bus ku sudah datang. Aku duluan ya," Jaejoong bangkit dari tempat duduknya lalu menepuk pundak Junsu.
" ah, ne hati – hati."
Jaejoong baru saja terbangun dari tidur sorenya . Angin masih berhembus lewat jendela di seberang ranjangnya membuat tirai putih disana berkibar – kibar. Jaejoong bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke balkon. Ia menghirup dalam dalam udara di sekitarnya lalu menatap indahnya bulan purnama yang bersinar di tengah – tengah taburan bintang.
"hmmm, lumayan juga" gumamnya lalu meregangkan sedikit otot-otonya. Jaejoong kembali kedalam tanpa menutup pintu balkon. Ia berjalan keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga. Tak ada seorangpun di lantai satu. Orang tuanya sedang pergi lagi. Jaejoong mengambil cereal di salah satu lemari dapur lalu menuangnya di mangkuk yang sudah ia ambil tadi saat baru sampai di dapur. Tak lupa ia juga menuangkan susu di cerealnya. Ini sudah sore sebenarnya, tapi Jaejoong sedang tidak ingin memasak meskipun ia lapar. Jadi, ia memutuskan untuk makan cereal saja. Jaejoong kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Ia membawa cereal itu ke balkon bermaksud memakannya di sana. Jaejoong duduk di kursi yang mirip tempat tidur di balkonnya. Memakan sendok demi sendok cerealnya sambil melihat – lihat lingkungan di sekitarnya. Jaejoong baru saja memasukkan satu sendok cereal dan baru beberapa kali mengunyahnya, tapi ia tiba – tiba tersedak saat ia melihat seseorang muncul dari tikungan di dekat rumahnya, Jung Yun Ho. Ia melihat cowok itu lagi. Geram. Itu yang ia rasakan. Ia teringat apa yang ia alami tadi di sekolah. Ingin rasanya ia melempar sendok yang tengah ia pegang sekarang kearah cowo yang menyebalkan itu. Tapi, niat itu ia urungkan. Sendok itu terlalu berharga untuk dilempar kearah cowo macam dia. Jaejoong menghabiskan kembali cerealnya setelah matanya tak menangkap bayangan Yunho yang telah hilang di ujung jalan.
"Joongie~... Chagi~..."panggil umma Kim dari dapur.
"Ne umma" Jae Joong berlari menuruni tangga meuju tempat dimana ummanya berada.
Umma kim menydorkan bungkusan yang cukup besar ke hadapan Jaejoong.
"Joongie, kita kan baru pindah disini, boleh umma mintakamu mengantarkan oleh- oleh ini untuk tetangga sebelah sebagai tanda perkenalan?" Jae joong menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan ummanya.
Mian Jirin baru bisa update chapter 2nya. Jirin abis sibuk banyak ujian.
Mianhae... ne
