Kabuto memasuki ruang sidang nomor satu seakan-akan tahu betul jalannya. Ketika memasuki mimbar saksi, ia segera meraih Alkitab dan mengucapkan sumpah tanpa melihat sekalipun kertas yang dipegang oleh petugas di depannya. Itachi menyeringai pada saksi itu sebelum melihat daftar pertanyaan yang telah disiapkannya.

"Apakah nama Anda Yakushi Kabuto?"

"Ya, Uchiha-san" jawabnya,

"Anda tinggal di Sunview R.313, 4-7 Akane Hachioji Tokyo?"

"Benar, Uchiha-san."

"Apa profesi Anda?" tanya Itachi seolah-olah tidak tahu,

"Aku dokter bedah."

"Saya ingin mengajak Anda mengingat kembali peristiwa malam tanggal 28 Maret tahun lalu, saat Anda dan dua teman Anda minum-minum di Bars and Pubs Akebinomi, Chiyoda. Bisa Anda jelaskan secara rinci apa yang terjadi pada malam itu?"

"Saat itu aku dan teman-temanku merayakan hari keberhasilan Toneri dalam meraih kursi di Parlemen."

"Ah, Oosutsuki Toneri?" Potong Itachi, Kabuto mengangguk mengiyakan,

"dia teman lamaku di Hokkaido University. Malam itu kami bertiga sama-sama menikmati waktu tersebut dengan meneguk sebotol anggur."

Gaara menulis kembali catatannya, pengacara muda yang baru berusia dua puluh empat tahun ini menambahkan beberapa pertanyaan yang menurutnya janggal.

"Tapi sungguh menyedihkan, malam tersebut justru menjadi malam yang mengenaskan."

"Silakan ceritakan apa yang terjadi kemudian." Ucap Itachi tenang, tanpa melihat berkas-berkas berisi pertanyaan yang telah dibuatnya, seolah dia tengah hapal di luar kepala segala skenario persidangan ini. Untuk pertama kalinya, Kabuto memandang para juri.

"Seperti yang telah kukatakan bahwa kami sedang minum-minum untuk merayakan keberhasilan Toneri, saat itu aku melihat keributan di ujung meja yang menghadap langsung dekat jendela di mana aku melihat dua orang lelaki pirang yang sepertinya kembar bersama seorang perempuan berambut hitam panjang."

"Apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Itachi, sekali lagi, pura-pura penasaran.

"Salah satu dari laki-laki kembar itu berdiri," lanjutnya,

"dan mulai berbicara keras sambil tangannya menuding-nuding ke kembarannya yang tetap duduk di situ dengan tenang. Aku mendengar salah satu dari mereka berkata: Sialan! Kau tahu bahwa tou-sama yang menjodohkannya denganku tapi tahu-tahu kini kalian resmi tukar cincin?! Berengsek kau! Lalu, aku melihat wanita muda itu berusaha menenangkannya, tapi tiba-tiba si terdakwa berseru, kalau begitu ayo kita selesaikan di luar! Kukira mereka hanya bercanda, tetapi aku melihat salah satu dari kembarannya yang kuyakini berkata lantang itu meraih pisau dari ujung meja bar—"

"—Anda melihat terdakwa meraih pisau dari meja bar?" Potong Itachi, pura-pura kaget.

"Ya, aku melihatnya."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Dia berlari dengan cepat ke pintu belakang. Itu membuatku terkejut,"

"Mengapa Anda terkejut?" Sela Itachi–lagi

"Karena, wilayah Akebinomi Chiyoda adalah tempat dimana aku dibesarkan, kalian tahu, Panti Asuhan Chiyoda." Beberapa para juri terhenyak, tidak menyangka bahwa lelaki itu–Kabuto–adalah yatim piatu. Melihat ekspresi dari para juri membuat garis bibir Itachi tertarik ke atas membentuk seulas senyum. Ini menarik, batinnya.

"Tunggu sebentar, Yakushi-san, sepertinya saya kurang memahami cerita Anda. Pintu keluar Bars and Pubs itu tidak terlihat jika kau duduk di sudut ruangan seperti yang kau singgung sebelumnya, tetapi lelaki itu sepertinya tahu persis ke mana dia pergi." Itachi tampak berpikir,

"ah, saya paham." Katanya,

"silakan lanjutkan."

"Beberapa saat kemudian, kembar satunya bangkit untuk mengejar terdakwa, diikuti wanita muda tadi. Setelah itu aku tidak memikirkannya lagi, tetapi beberapa saat kemudian, saya melihat rekan saya"–Kabuto melirik gadis merah muda yang kini tengah menatapnya tajam, terlihat penuh kilatan kebencian–"Haruno Sakura, berlari menuju arah yang sama dengan orang-orang tadi pergi, tidak lama setelahnya, terdengar suara jeritan." Itachi seolah gatal untuk menahan seringai di wajahnya, tapi dia tetap bersikap profesional.

"Haruno Sakura? Apa gadis itu bermata emerald yang duduk di bangku pengunjung sidang ini?" Tanya Itachi, hakim Tobirama mengalihkan perhatiannya dari saksi ke gadis yang kini masih tetap menatap penuh kebencian.

Kabuto mengangguk.

"Jadikan gadis itu saksi, Uchiha-san." Sela Hakim Tobirama tiba-tiba, semuanya terhenyak, tidak biasanya ada hakim meminta langsung seseorang menjadi saksi di saat berlangsungnya persidangan.

Itachi tersenyum, "tentu, Yang Mulia."

"Lanjutkan." Kata Hakim, Itachi mengangguk.

"Tadi Anda bilang mendengar suara jeritan, jeritan seperti apa?"

"Jeritan dengan nada tinggi, jeritan Haruno Sakura." Sakura mengepalkan tangannya,

"Lalu apa yang Anda lakukan?" tanya Itachi, ujung matanya melirik bangku pengunjung.

"Tentu saja aku buru-buru meninggalkan teman-temanku untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, aku takut gadis merah muda itu dalam bahaya." Sakura memutar bola matanya, persetan!

"Lalu apa yang Anda lihat? Apa gadis merah muda itu memang dalam bahaya?"

"Tidak, aku melihat gadis itu memejamkan matanya yang berurai air mata sambil menutup telinganya seraya berteriak untuk berhenti."

"Berhenti apa?" tanya Itachi

"Berhenti menyerang korban."

"Apa mereka berkelahi?"

"Benar, Uchiha-san. Lelaki kembar yang menuding-nuding kembarannya tadi mendorong terdakwa ke dinding dengan lengan kirinya, namun naas, karena kejadian berikutnya terdakwa justru mengeluarkan pisau yang diambilnya itu lalu menghujamkannya berulang kali di dada sang korban." Semua penghujung terhenyak, beberapa dari juri menatap tidak percaya pada sosok lelaki yang duduk di bangku pesakitan di mana Uzumaki Naruto duduk.

"Sebentar, Yakushi-san, lalu di mana nona Hyuga-san? Bukankah seharusnya dia berada di sana?" Kabuto menggelengkan kepalanya,

"saya tidak tahu, Uchiha-san. Di sana hanya ada Uzumaki kembar dan Haruno Sakura."

"Tidak ada nona Hyuga, tapi justru ada nona Haruno Sakura. Lalu apa yang Anda lakukan selanjutnya?"

"Aku bergegas menghubungi layanan darurat, dan mereka meyakinkanku akan mengirim polisi dan ambulans secepatnya." Gigi Sakura bergemelatuk, sialan! Sialan sialan sialan! Jelas-jelas akulah yang menghubungi ambulans, aku dokter andalan rumah sakit pusat di Tokyo! Mereka datang lima belas menit setelah aku menghubungi rumah sakit, dan Shizune bisa dijadikan saksi! Rutuknya dalam hati.

"Apa teman-teman Anda, Haku-san dan Toneri-san hendak keluar untuk memberikan pertolongan?" Kabuto mengangguk,

"Ya, tapi kucegah. Karena polisi sudah tahu, dan akan segera diurusi oleh pihak berwajib, kurasa dalam keadaan seperti itu mereka lebih baik pulang."

"Berapa lama Anda menunggu polisi datang?"

"Tidak lama, lalu aku mendengar bunyi sirene, dan beberapa saat kemudian detektif masuk ke bar melalui pintu belakang, dia menunjukan lencana dan memperkenalkan diri sebagai Sersan Detektif Morino. Dia mengatakan bahwa korban telah dibawa oleh ambulan menuju rumah sakit terdekat."

"Apa yang Anda lakukan selanjutnya?"

"Mereka meminta penjelasanku, dan aku memberikan penjelasan sesuai dengan apa yang kusaksikan. Kemudian, Morino-san menyuruhku untuk pulang."

"Dan Anda pulang?" Tanya Itachi,

"Ya, aku pulang ke panti asuhan karena jaraknya jauh lebih dekat hanya sekitar seratus meter dan memang dalam bulan ini aku belum mengunjungi adik-adikku di sana." Beberapa juri terkesima, namun sepertinya si pengacara muda pihak Naruto, Sabaku Gaara menemukan kerancuan baru, karena dia kembali mencatat dengan spidol merah menandai tulisan: sekitar seratus meter.

"Kapan Anda mengetahui bahwa Uzumaki Naruto dikenai tuduhan atas pembunuhan saudara kembarnya?"

"Aku membaca beritanya di Tokyo times dua hari seletahnya. Aku jarang menonton televisi. Koran tersebut memberitakan bahwa pewaris Namikaze & Uzumaki Corporation, Uzumaki Menma meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit serta saudara kembarnya, Uzumaki Naruto dituduh sebagai pembunuhnya. Selama waktu satu minggu, hampir seluruh media memberitakan kasus tersebut tanpa henti karena seperti yang kita semua ketahui, keluarga Uzumaki adalah kedua terkaya di Jepang setelah Uchiha tentunya." Itachi menyeringai mendengar penjelasan dari Kabuto.

"Lalu apakah Anda menganggap berita itu sebagai akhir penyelesaian masalah sejauh keterkaitan Anda secara pribadi dalam kasus ini?"

"Ya, meski aku tahu aku akan dipanggil sebagai saksi dalam persidangan mendatang, kalau Uzumaki Naruto tidak mengaku bersalah." Naruto mengepalkan tangannya, akan kubuat kau mengakui kesalahanmu dan mendekam di balik jeruji besi, sialan! Ucapnya dalam hati,

"Tetapi, sejauh ini Anda sudah memberikan kesaksian secara verbal maupun non-verbal, benar?"

"Ya, aku sudah melakukannya." Jawab Kabuto mantap.

"Lalu, kenapa mereka melakukannya lagi?" Itachi kembali bertanya,

"Karena Uzumaki Naruto menuduhku membunuh kembarannya, Uzumaki Menma, dan bahkan menuduhku yang mengambil pisau pemotong daging dari meja bar." Jelas Kabuto, dengan nada sedih dan tidak percaya. Sakura berdecih di tempatnya, dasar tukang acting!

"Apakah Anda pernah bertemu Uzumaki Naruto atau Uzumaki Menma sebelumnya, tepatnya, sebelum kejadian perkara malam itu?"

"Belum pernah, Uchiha-san." Jawabnya bersungguh-sungguh.

"Terima kasih, Yakushi-san." Tanpa ada yang menyadari, keduanya saling menarik sudut bibirnya membentuk seringai. Itachi berbalik menghadap Hakim Tobirama dan berkata,

"tidak ada lagi pertanyaan, Yang Mulia."

.

.

Hakim Tobirama Senju mengalihkan perhatiannya ke ujung lain meja pengacara bersurai merah darah mirip dengan seseorang yang dia kenal. Tentu saja, ia mengenal baik ayah Sabaku Gaara yang terhormat, yang baru-baru ini pensiun sebagai hakim agung pengadilan tinggi negeri Jepang, tetapi putera bungsunya yang mengambil profesi sama seperti sang ayah belum pernah tampil di persidangan sang hakim, membuatnya sedikit penasaran.

"Sabaku-san," kata sang Hakim, "Anda ingin menanyai saksi?" Tanyanya, yang dijawab dengan anggukan kepala penuh percaya diri.

"Tentu, Yang Mulia." Jawab Gaara sambil membenahi berkas-berkas catatannya. Retina jade-nya menangkap sepupunya yang tengah tersenyum memberikan semangat serta pengharapan padanya. Gaara balik tersenyum, kini semangatnya jauh lebih baik lagi. Akan kutendang bokong si Yakushi! Tekadnya,

Itachi berdehem, entah apa maksudnya, tapi Gaara jelas tidak ambil pusing. Dia menatap tajam saksi sebelum memulai pertanyaan.

"Yakushi-san," Sabaku Gaara memulai dengan suaranya yang berat nan khas, Hakim Tobirama terkesiap, karena sedetik yang lalu dia melihat sosok Sabaku senior dalam diri Gaara. Seulas senyum tertarik di bibir si hakim, ini menarik. Batinnya kembali fokus pada persidangan.

"Saya yakin saya tidak perlu mengingatkan bahwa Anda masih berada di bawah sumpah, dan tidak perlu saya mengingatkan atas tanggung jawab Anda sebagai saksi yang berada di bawah sumpah." Kabuto terhenyak dengan permulaan Gaara yang di luar dugaan.

"Sabaku-san, berhati-hatilah dalam berbicara." Tegas Hakim memotong pembicaraan. "Klien Anda yang disidang, bukan saksi." Lanjut sang hakim.

"Kita akan lihat apakah Yang Mulia masih merasa begitu, hingga saat pembacaan putusan nanti."

"Sabaku-san!" Kata Tobirama tajam, "bukan tanggung jawab Anda untuk mengingatkan tugas saya di ruang sidang ini. Tugas Anda menanyai saksi. Tugasku menangani hal apapun dalam hukum yang akan muncul, dan mari biarkan juri memutuskan vonisnya."

"Baik, Yang Mulia. Saya mohon maaf." Jawab Gaara, berbalik kembali menatap saksi.

"Yakushi-san.."

.

.

=====Next======

a/n : Ah! Hallo, sebelumnya saya mau memberitahukan bahwa saya juga mem-publish-nya di akun wattpad saya, nama id-nya : myshinris. Di sana hampir semua saya bikinnya ItaSaku, ada satu sih yang Between Us saya upload sana juga, hehe. Jangan lupa review dan sarannya ya! Terima kasih:-)