Hahaha, nggak seperti fict 'Si Penulis Puisi' yang update-nya lama banget, kan? Ya kan? Ya kan? Hehehe. Soalnya sudah ada file-nya dalam bentuk tulisan di buku Fui, tingal diketik dan di edit di beberapa bagian. Yap, fui jenis author yang menulis dulu baru mengetiknya. Hehehe, jadi emang agak lola. ^^

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Fui just own this story

Warning: AU, lil OOC, sebenarnya harus diupload bulan Desember, tapi karena saya lelet jadi baru Januari ini bisa upload, Hinata POV, Naruhina all the way. Jika reader tidak suka, sebaiknya tidak menyakiti perasaan Anda sendiri. Terimakasih.

Fui present this story for you, so enjoy please...

Please Kiss Me

Chapter 2

52 hari terlewat begitu saja

Di dera angin musim gugur yang masuk ke puncaknya

Aku merindukanmu wahai Sayangku

Meski aku tahu

Diriku pergi untuk bertemu lagi

Bukan lavender yang koyak dan terkulai lagi

Yang akan kau temui

Namun aku yang tegar

Terlahir kembali

Dengan deru jantungku yang sempurna

Tunggulah aku wahai Sayangku

Akan kukabarkan pada langit

Dan dipantulkan kepada cahaya bintang

Sampai padamu, bahwa

Aku pulang

The Amethyst

~Aiko Fusui~

Keramaian khas bandara internasional segera menyambut kedatangan penumpang di pintu kedatangan yang sedikit longgar. Berdesakan namun tetap berjalan lancar. Satu tangan dari seorang ayah berambut panjang gelap, menggenggam erat telapak tangan sang putri yang melangkah di sampingnya.

"Tou-san?" gadis yang kemarin lusa berulang tahun ke tujuh belas, mendongakkan kepalanya.

Dua pasang mata Hyuuga bertemu, tetap menggerakkan kaki mereka. "Setengah jam lagi." Kata sang ayah, tersenyum menenangkan.

Hinata mengangkat tangan kirinya, melihat jarum jam dalam bingkai kaca yang membentuk waktu. Pukul 17.00. "Hh..." helaan nafas bosan keluar. Menunggu selama setengah jam di Bandara Narita? Yang benar saja.

"Kita ke foodcourt dulu. Tou-san lapar." Dia kembali mendongak. Menatap ekspresi wajah lelaki separuh abad-yang mengeluhkan makanan di pesawat yang katanya tidak sesuai dengan seleranya-yang lebih ceria dari 52 hari yang lalu. Tak perlu ada komando untuk membuat Hinata mengangguk. Menyetujui perkataan ayahnya. Lagipula perutnya juga minta diisi.

~Aiko Fusui~

_Hinata's Point of View

On the night like this,

There's so many things i want to tell you...

Suara backsound lembut menerima kehadiran kami di dalam sebuah foodcourt bandara. Suhu hangat yang menyelimuti ruangan, mendesakku untuk melepas jaket yang sedari tadi kupakai. Aroma khas coffee dan pie menyeruak masuk ke dalam penciumanku. Rasa manis tergambar jelas dalam benak, menyusun sekeping demi keping kenikmatan yang bisa membuat perutku tenang.

Duduk di salah satu bangku dengan kapasitas empat orang sendirian, Tou-san pergi memesan ke pramusaji. Memilih menu sekaligus meminta pesanan yang aku mau. Tak sampai lima menit, Tou-san datang. Membawa senampan besar menu kami.

Tou-san duduk di depanku, tangannya terampil meletakkan sajian ke meja. Dua hamburger, dua frenchfries, satu soda, dan apel, berjejer rapi di hadapan Tou-san. Sedang aku sendiri hanya meminta latte panas, tiramisu ukuran sedang, dan salad buah.

Cause when you're around

I feel save and warm

When you are around

I can falling love everyday~

Lirik manis dari lagu 'On The Night Like This' by Mocca terus mengalun. Menemani makan sore kami yang begitu tenang. Tou-san yang memang tidak banyak bicara, hanya menanyai keadaanku. Aku mengangguk sebagai tanda bahwa keadaanku pasca operasi ini sangat baik.

Lima menit berikutnya, ringtone dari ponsel Tou-san menginterupsi. Panggilan masuk. Terburu-buru Tou-san meminta ijinku untuk pergi sebentar. Sekali lagi aku mengangguk, sudut bibirku tertarik ke atas, agak terpaksa. Beliau lalu berlari-lari kecil, sengaja meninggalkan jasnya untuk memberitahuku bahwa Tou-san tidak berniat meninggalkanku sendirian.

Latte panas di depanku mengepulkan kabut tipis ke atas. Sepertinya sengaja menggodaku untuk mencicipi minuman manis yang menjadi favoritku setelah teh hijau tentunya. Sembari aku menatap latte itu, kepalaku dengan cepat meluncurkan berbagai imajinasi liar yang entah sejak kapan tenggelam dengan logika dan akal sehatku.

Jauh di dalam otakku sana, latte itu menjelma bagai gelas yang hidup. Memintaku menelan isinya dengan jutsu puppy eyes dengan aksen 'onegai' dalam permohonannya. Kilas imajiner itu tak pelak membuat sang imajinator alias aku sendiri tersenyum. Menggeleng kepala sendiri sebelum akhirnya mengangkat gelas latte-ku. Mencecap rasa manis pahit yang menyambung ke lidah, masuk ke tenggorokanku, dan lebih dalam lagi ke sana.

See, aku mengabulkan permohonanmu, latte.

"Kulihat kau senyum-senyum sendiri, kamu waras kan?"

BLURPH!

Aku tersedak, suara tawa dibelakangku terdengar mengejek. Refleks aku menatap sumber suara, menemukan seorang lelaki yang kuperkirakan lebih tua dua tahun dari usiaku. Rambutnya lurus, patuh pada gravitasi, kulitnya putih pucat dengan mata sipit khas orang jepang.

Hanya sekejap itu sebelum aku sibuk mencari tisu basah dalam tas. Mengelap mukaku sendiri yang agak ternoda dengan cipratan latte panasku. Aku tidak menghiraukan lagi lelaki yang kali ini harus kuperhitungkan lagi.

Tenpa segan, cowok tersebut duduk di hadapanku, mengisi kursi yang tadinya jadi sandaran Tou-san. Kakinya disilangkan dengan anggun meski tak mengurangi kesan maskulin yang alami ia miliki. Lelaki tak dikenal itu tanpa peduli menyesap kopi dalam cangkirnya. Matanya terpejam syahdu menikmati minuman hangat itu.

Aku bukan orang yang suka membentak, apalagi mengusir orang. Sekali tatap juga akan tahu bagaimana karakteristikku yang pemalu. Kedua mataku tak lepas dari gerak gerik pemuda yang sepertinya punya kadar percaya diri yang terlalu tinggi.

"Kenapa kau menatapku begitu intens? Nggak pernah liat cowok sekeren aku ya?" dia angkat bicara lagi. Kalimatnya menelisikku dengan tekanan aneh. Buru-buru kupalingkan wajahku, beralih memandang tiramisu yang masih setengah.

Tanpa sadar betul, aku berucap, "Gomen-" yang segera kusesali. Di dalam kondisi ini, aku seharusnya punya kuasa. Aku yang seharusnya bisa mengendalikan situasi ini. Tapi kenapa semuanya seolah diambil alih kendali oleh lelaki yang bahkan tidak memperkenalkan namanya di hadapanku. Kau payah Hinata!

Suara tawa kecil terdengar melewati sekat telingaku. Menyentuh rasa penasaran yang bergetar hebat dalam diriku untuk menanyakan sebab musabab tawanya yang terdengar aneh itu.

"A-ada yang l-lucu?" mataku memicing waspada.

Tawanya berhenti, perhatiannya teralih sempurna padaku. Dia mencubit dagu, pose berpikir. Keningnya berkerut seolah sedang ada masalah serius yang harus dicari solusinya. Bibirnya bergerak-gerak, seperti bingung mencari lanjutan percakapan kami yang aneh ini.

Aku memperhatikan sampai detail-detailnya. Sungguh membuat gatal hati ini. Lebih baik aku menghadapi sikap dingin dan tamparan Sasuke-kun daripada harus berhadapan dengan orang asing aneh yang membingungkan seperti dia. Semua gerak gerik yang tampak diperhitungkan itu membuatku semakin penasaran. Sampai pada batas maksimal, akhirnya aku memberanikan diri bertanya apa tujuan lelaki asing tersebut.

"T-tuan, apa yang a-anda cari disini?"

"Tidak ada." Jawabnya singkat. Jemari pucatnya menyentuh keramik cangkir, mengetuk-ketuk hingga menjadi nada yang berima.

"A-ano, itu t-tempat duduk Tou-san saya." Ini usahaku, salah satu usahaku untuk membuatnya menyingkir.

"Aku tahu."

Argh! Aku benar-benar gatal pada orang ini.

"Em, Nona apa punya pacar?"

"Eh?"

Aku tidak siap dengan pertanyaan seperti itu! Mataku yang kini membelalak, mengerjap-kerjap bingung. Rona merah di pipi menyebarkan hangat yang tak asing namun kurindukan kehadirannya. Jantungku berdetak lebih cepat, menerima respon keterkejutanku akan pertanyaan sederhana yang cukup menusuk.

"Ahahaha, tenang saja Nona." Suara tawanya timbul lagi. Dari sudut mataku, terlihat ia tak melepas pandangannya dariku. Membuatku semakin salah tingkah.

"Oops, nampaknya ada yang kurang. Apa ya-?" dia berkata lagi, lebih kepada dirinya sendiri. Satu telunjuknya mengetuk-ngetuk pipi yang tidak berjerawat. "-ah, aku lupa mengenalkan diriku. Nona, aku Sai."

Dengan gerakan cepat, dia menyambar tanganku. Menjabat tangan secara sepihak dengan senyuman yang kini terasa palsu. Aku hanya bisa melongo, bagai boneka kayu yang menuruti apapun gerakan yang dibuat oleh tali kekangku. Aku tak sempat merespon perkenalan itu sampai orang yang mengenalkan namanya sendiri sebagai 'Sai' itu melepaskan jabatan tangannya-secara sepihak.

Nyawaku masih mengawang, belum bisa mengendalikan semua hal yang menabrakku dengan cepat ini. Perlu setidaknya satu menit bagiku menguasai diriku sendiri. "A-aku Hyuuga H-hinata." Sopan, kuperkenalkan diriku.

Dahinya berkedut, matanya memicing tajam. "Siapa yang nanya?"

"Eh?"

Tanganku refleks tergenggam erat. Menyalurkan perasaan marah bercampur malu yang tertahan di tenggorokanku. Untuk kesekian kalinya, pertanyaan yang dilontarkan padaku, berhasil membuat ekspresi aneh yang terpeta di wajahku. Merasa dipecundangi.

"Ahahaha, bercanda kok."

Kalau aku jadi Sakura-chan, kemungkinan besar akan ada adegan kekerasan bersoundtrack shannaro dengan korban yang tak lain tak bukan adalah pemuda menyebalkan itu tergeletak di lantai.

Sayangnya, aku hanya seorang Hyuuga Hinata.

"Yak, sankyuu karena telah menghargaiku dengan balik memperkenalkan namamu padaku. Dan aku ingin kau lebih menghargaiku lagi dengan menjawab pertanyaan pembuka konversasi inti kita tadi." Jelasnya, yang tidak berhasil membuatku terjelaskan. Cara bicaranya lebih aneh daripada Anko-sensei, cepat sekali.

"Apa?" aku bertanya, dan dia balik bertanya dengan mengulang pertanyaan yang berhasil membuat jantungku terpompa luar biasa cepat.

"Hyuuga-san punya pacar?"

"Eh?"

Dia memicing tak suka. "Jangan 'ah, eh, ah, eh' terus! Jawab yang bener dong."

Duh, orang ini! Aku menyesal kenapa aku tidak ikut Tou-san pergi saja tadi.

Kuhembuskan nafas panjang sekali, kutatap langsung matanya dengan sorot mata nyalang. Berani.

"Aku punya, tentu saja."

Pemuda itu tak mengubah ekspresinya. Tetap mengerutkan kening solah berpikir serius. Tangan kanannya mengepal, menopang dagu dengan siku menempel di meja.

"Ara, kau pasti yang mengejarnya, ya kan?" satu alis matanya naik. Nada suaranya seakan mengejek.

Sekian detik, aku terdiam. Sengaja tidak menjawab pertanyaan menjengkelkan itu. Semakin lama, aku merasa mulai terbiasa dengan gaya bicara orang ini. Kalau aku nekad menjawab, kemungkinan kata-kata yang keluar darinya akan lebih nyelekit sampai menusuk tulang-tulangku. Jadi aku diam dengan bijak. Menunggu penuturan menyebalkan lain yang membuat jantungku merasakan berbagai perubahan frekuensi detakan.

"Jadi... kau sudah mendapatkan ciumannya?"

Pertanyaan ini sungguh tak terduga. Mataku yang serupa bulan, membesar dengan cepat, menutup dan membuka kelopak mata dengan intensitas melebihi tadi. Rona merah yang memang dari awal percakapan sudah mendominasi sebagian besar wajahku, melumer dengan cepat. Nyaris sampai ke daun telingaku yang mulai memanas. Bagai virus warna yang tersemai rata di wajahku.

"Kiss~ sudah pernah?" tanyanya lagi dengan aksen yang sengaja menggodaku.

"A-anda tidak sopan!"

Reflek kututupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Berusaha menyembunyikan perasaan campur aduk yang kuyakini tergambar jelas dari seluruh mimik wajahku. Dan dia tertawa puas, ugh! Menyebalkan!

"Hahaha, Hyuuga-san tidak usah malu-malu begitu. Meskipun baru sekali, itu juga terhitung ciuman kok. Aku saja yang sudah berkali-kali masih belum puas. Hihihi."

"A-?"

Entah sudah berapa kali hatiku tersentak kaget akan kalimatnya yang seolah tahu segalanya tentangku. Perlahan, kedua telapak tanganku berpindah tempat. Meremas-remas ujung coat yang terjuntai sampai ke pahaku, menutupi celana biru yang membungkus kedua kakiku hangat. Keringat dingin keluar semakin deras. Apalagi ketika kusadari bahwa tatapan yang dipancangkan cowok itu berkesan menyelidik sampai ke akar-akarku.

Mulutnya tiba-tiba berhenti mengoceh dan pandangan matanya sudah terlepas dariku. Dia merubah posisi duduknya, mencari kenyamanan dengan menyandarkan punggung berlapis mantel hitam itu ke sandaran sofa. Kaki kanan naik ke kaki kiri dan kedua genggaman tangannya anteng di atas lutut.

I remember the way you glanced at me,

Yes i remember...

Backsound di speaker foodcourt berganti dengan lagu manis lainnya yang masih tercantum sebagai ciptaan Mocca. Dalam diam yang sejenak itu, kuresapi lirik yang mengalun menyentuh kokleaku dengan lembut. Sekelebat petir memori menyentuh kerinduanku yang telah begitu banyak menumpuk pada Naruto-kun.

Aku ingat bagaimana pertama kalinya ia menatapku.

Aku ingat pertama kalinya ia menyentuh tanganku.

Aku ingat pertama kalinya ia memanggil namaku dengan sayang.

Aku ingat bagaimana rasanya pertama kali ujung bibirku tersentuh oleh bibirnya yang hangat.

Bibirku mengulas senyum, memuji diriku sendiri atas betapa luasnya memori yang dapat tertampung di otakku tentang Naruto-kun. Memuat kaset, lagu, nama, sentuhan, dan senyumannya. Baru sehari jadian, namun seolah...

"Seolah setahun kalian bersama."

Sai-san sudah bicara lagi. Bola mataku bergerak heran, dan ups! Kututup mulutku. Apa tadi aku membocorkan khayalanku? Tapi rasanya aku hanya senyum-senyum dan tidak membuka mulutku sekecil apapun tadi. Berdehem pun tidak.

Jadi, bagaimana dia bisa tahu?

Hanya ada satu kemungkinan yang mengganggu pikiranku.

"Er, S-sai-san bisa m-membaca pikiranku?"

"Yap."

Kalau sudah begini aku memilih diam saja deh. Percuma membantah. Yah, meskipun aku tak bisa menyembunyikan rasa takjubku pada lelaki yang kini memasang senyum palsunya. Dia seperti cenayang, atau peramal, atau apalah sebutannya, aku lebih suka menyebutnya 'mind reader'. Jawaban barusan sudah menjelaskan kepadaku kenapa orang ini seolah bisa mendalami dan mendominasi pikiranku. Alur yang tadinya sempat terpetakan dalam otak, hilang seketika.

"Ara, Kau yakin banget sama cintamu ke dia. Sampai-sampai nggak bisa ngasih kelonggaran di hatimu untuk orang lain. Bagus sih, tapi kurang waspada. Gimana kalau kalian putus karena... ya mungkin saja dia menemukan 'orang lain' yang lebih cantik daripada kamu. Terus ninggalin Hyuuga-san gitu aja, hm?" ia bicara banyak, lancar sekali dengan wajah didongakkan sedikit ke atas, seolah mengetes kemampuan akademik seorang siswa yang divonis terlalu bebal untuk mempelajari setiap buku yang dilemparkan kepadanya.

Mata hitamnya masih menyelidik ekspresi wajahku yang entah ke berapa kalinya terkejut dengan pertanyaannya, kemudian murung, menunduk menahan perasaan aneh-ingin marah dan sedih dalam satu tempat-lalu dengan pasti kali ini aku menggeleng sambil bergumam, "Nggak mungkin kok."

"Hahaha, jangan naif begitu ah. Semua kemungkinan itu ada, Hyuuga-san. Ara, bisa aja pacarmu itu bosan karena kau tinggal jauh sekali selama ini, lalu memilih untuk menutup kisah kalian secara sepihak. Celah itu pasti ada, Hyuuga-san. Apa lagi dia cowok." Dia berdehem sebelum melanjutkan pidatonya.

"Ambilah antisipasi. Buka sedikit ruang untuk orang lain. Tak perlu banyak-banyak, cukuplah orang itu bisa membuat kamu nyaman." Sai-san tersenyum penuh arti. Jemari putihnya menggapai cangkir di hadapannya, mendekatkan pinggiran cangkir hingga menempel di bibirnya. Menyesap isinya sampai nyaris tandas.

Antisipasi?

Orang lain?

Selingkuh maksudnya?

"A-ano, saya tidak mau." Aku menggeleng mantap. Tidak apa-apa jika Naruto-kun bosan padaku, tapi untuk membayar cintaku yang teramat besar kepadanya dengan ketidaksetiaan? Aku tak akan sanggup.

"Hahaha." Wajah putih Sai-san tertawa lagi, meremehkan. "Keras kepala juga dirimu, Hyuuga-san. Hm, kau menarik."

Hening, pemuda di hadapanku ini sepertinya tengah sibuk mencari kata-kata yang bisa melanjutkan obrolan kami hingga tak menyadari bahwa sedikitnya wajahku merona merah karena kata 'menarik' yang ia tujukan padaku. Seumur-umur pun, Naruto-kun belum pernah mengatakan hal itu padaku.

Kualihkan pandangan kepada gelas latte yang kini tak mengepulkan asapnya lagi. Sudah dingin. Isinya pun tinggal setengah penuh.

Ia lalu menatapku lagi, kali ini tatapannya mendekat. Sekejap, seperti dihipnotis, aku mendongak untuk membalas tatapannya.

"Beneran nih, nggak mau?"

"I-iya."

"Aku lagi kosong lho."

"T-tidak, terimakasih."

"Yakin?"

"Yakin."

"Aku cukup tampan lho."

"M-maaf."

"Nggak nyesel?"

"Mustahil menyesal kalau hatiku sudah mencintai orang seperti Naruto-kun."

"Ahahaha~" dia tertawa lagi. Melihat tawanya yang lebih 'ramah', aku menghela nafas lega. Sedikit sesak karena pertanyaan cepat yang ia lontarkan kepadaku tadi.

"Ya sudah. Kulihat dari sini-" telunjuk tangan kanannya menyentuh mata hitamnya. "-kalian baru sekali melakukan kiss, itupun tidak full kiss. Kalau bertemu dia, cobalah main tarik ulur. Jual mahal. Biarkan dia mengejarmu sampai kau menyerah." Nasehatnya.

"Tapi-" lanjutnya, satu alis terangkat penuh misteri. "Coba tanyakan dulu alasan kenapa dia mau sama kamu. Setelah itu terserah pada dirimu. Hihihi."

Bibirku mulai bisa tersenyum padanya. Kami saling bersitatap. Pelan aku mengucapkan terimakasih, tapi dia tidak menanggapi. Lelaki itu beranjak, mengambil cangkir kopinya yang terlihat kosong dan membawanya menjauh dariku.

~Aiko Fusui~

"Hinata, hinata?"

Tubuhku terguncang pelan. Kurasakan sebuah telapak tangan besar yang hangat milik Tou-san menggerak-gerakkan bahuku. Kepalaku terasa berat, mataku juga begitu. Ngantuk sekali.

"Tou-san baru meninggalkanmu lima menit yang lalu, kau sudah tertidur. Capek sekali ya?" beliau duduk disampingku. Membantuku bangkit duduk dengan tegap di sofa foodcourt.

Lho? Aku tertidur ya?

On the night like this

There so many things I want to tell you…

Suara Mocca dengan lagu 'One the Night like This'-nya masih mengalun? Bukankah sudah berganti?

"Minum dulu, mumpung lattemu masih panas." Tou-san menyodorkan gelas latte milikku. Kabut tipis mengepul dari permukaannya yang terlihat penuh.

Lho? Masih hangat? Sepertinya tadi sudah hampir satu jam ketika aku dan Sai-san bertemu dan membuat konversasi membingungkan. Seharusnya... latteku sudah dingin dan tidak penuh.

Eh? Dimana Sai-san?

"Tou-san, sekarang jam berapa?"

"Jam 17.20."

"Eh?" Aku semakin bingung. Kalau otakku masih normal untuk berhitung, aku tidak mungkin salah mengkalkulasi ini; kami tiba di bandara sekitar jam 17.00, masuk foodcourt sekitar jam 17.05, Tou-san lalu meninggalkanku sendiri pada pukul 17.15, aku dan Sai-san bertemu tidak lama setelah itu, berbincang sampai hampir satu jam. Seharusnya ini sekitar pukul 18.20, kan?

Cepat-cepat kulihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Analognya menunjukkan keterangan yang sama dengan Tou-san, mengkhianati kalkulasiku yang-sungguh kuyakin-benar. Tou-san sepertinya menyadari kebingunganku. Dengan lembut beliau bertanya kenapa. Aku malah balik bertanya tentang keberadaan seorang lelaki berkulit pucat, mata sipit, senyum yang dipalsukan, dan memakai mantel hitam yang mungkin saja baru beranjak dari sini.

Jawaban Tou-san benar-benar membuatku tercengang.

"Kamu jetlag?" mata Tou-san khawatir. Aku menggeleng cepat, lalu memaksakan senyumanku karena tak mau melihat wajah cemas beliau.

"Ya sudah, kau mungkin bermimpi tadi. Kita pulang saja. Neji dan Hanabi sudah menjemput di Lobi." Tou-san bangkit, mengajakku pergi.

Tanpa sadar betul dengan apa yang terjadi, aku menurut. Tepat ketika tubuhku berdiri, selembar kertas kecil terjatuh dari pangkuanku. Tidak ada perintah maupun larangan bagiku untuk memungut kertas itu. Hanya insting dan perasaan aneh yang menyeret rasa ingin tahuku untuk mengambilnya.

Mataku membelalak menatap rangkaian tulisan yang tidak rapi disana. Kemudian tersenyum kecil sebelum akhirnya menyusul langkah Tou-san yang telah berjalan duluan.

Aku tidak bermimpi.

~Aiko Fusui~

#Selip:

"Hyuuga-san, kau teman ngobrol yang menyenangkan,

Sayangnya kau sudah ada yang punya.

Hh, padahal aku ingin menjadikanmu harem, hihihi.

Jadi, kalau kau bosan dengan pacarmu itu

Menangislah dan cari aku di foodcourt sejenis ini lagi yah.

Jaa matta~

Atau mungkin, Sayounara~"

Sai

~Aiko Fusui~

~Bersambung...

Yang masih bingung, Sai itu ada kok, manusia dan bukan hantu. Dia punya kekuatan memanipulasi waktu, atau menghipnotis waktu. Yah, begitulah. ^^

Terus kenapa dia ngajak ngobrol Hinata? Cari tahu di Omake di bawah sana ya.

Balesan review:

Nimarmine: Ah, ini bersambung lagi T.T #apasih. Hahaha. Yep2, ini termasuk update kilat nggak? Hehehe.

Riisuka: Ah, Rii-san (saya panggil gitu ya? Hehehe) Hinata emang pulang kok. Terimakasih ya. ^^

: iyapp. ^^

Annonymous99: uhuk, adegan, uhuk, yang mana? Uhuk. Hehehe. Kamu di posisi Shion atau Naruto nih? wakakaka

Asna amelia: salam kenal juga. ^^ ini sudah kilat apa belum? hehehe

Mongkichii: iya kah? Hahaha. Salam kenal juga... manggilnya apa nih? Terimakasih. ^^

Kuchiki: oke2, ini sudah kilat atau masih geledek? Hehehe.

Moeyoko-chan: iyap. Ini chap 2. ^^

Eits, jangan lupa tinggalkan review kalian para reader untuk melanjutkan fict ini. Bentuk review bagaimanapun diterima dengan senang hati.

Salam

Aiko Fusui (NaruHina Lover 4ever)

.

.

.

~Omake:

"Anda bilang akan membuktikannya pada kami, wahai Master?" seorang wanita berjubah hitam merangsek maju dari kelompoknya yang memasang wajah sama dengannya, menuntut janji dari Master sulap mereka yang katanya bisa menghipnotis waktu.

Sang Master maju mendekat, menyeringai dengan tatapan meremehkan. Ia menyingkap rok pendek yang dipakai pengikutnya itu sekejap, sebelum mengalihkan pandangan kepada seorang gadis yang menghela nafas sendirian di depan meja yang sepi. Lelaki tua yang tadi duduk dihadapannya telah pergi.

"Lihat ini, itu sasaranku. Kalau kalian nggak percaya pada kemampuanku, akan kubuktikan kalau aku bisa menarik hatinya juga. Mengerti?"

Para pengikutnya menunduk dengan patuh sembari kompak bilang, "Mengerti."

"K-kalau Anda tak bisa mencuri hatinya, wahai Master?" seorang wanita yang terlihat paling muda mengangkat tangan.

Master Sai berpikir sejenak, kemudian menyeringai.

"Hihihi, kau yang melayaniku."

~Omake: Fin.