Tittle : Vintage.
Rate : T+.
Genre : Romance, Hurt/Comfort.
Pair : DaeLo.
Author : Skinner Kim.
Disclaimer : TS Entertainment.
Warning : BL, Yaoi, DLDR, No Flamers, Miss Typo(s), RnR.
Cerita Sederhana yang aku buat untuk seseorang disana yang mengalaminya. Semoga kalian bisa saling jujur pada perasaan kalian. Dan bisa mengakhirinya dengan rasa ikhlas, dan percayalah semua hal itu akan membuat kalian dewasa. –Skinner.
Chapter 2 : Signs.
Bocah Kaktus itu sepertinya baru menyadari bahwa akulah yang ia tabrak tadi. Dia bangun dengan sedikit kepayahan, dan melihatku tidak suka.
" Hey, kenapa kau—"
" Bukan urusanmu!." Potongnya cepat lalu dia segera meninggalkanku.
Apa hubungannya Bocah Kaktus itu dengan orang-orang di pub? Apa dia memiliki masalah yang serius?
Aku memutuskan untuk tidak terlalu memperdulikan hal itu. Dan mencoba untuk melupakan hal itu. Lagipula aku tidak menyukainya, jadi aku tidak perlu ingin tau tentang kehidupannya.
Keesokkan harinya, siswa di kelas sedikit terkejut melihat Bocah Kaktus itu datang ke sekolah dengan wajah yang memar dan ada beberapa plester dan perban yang menutupi lukanya. Tak ada yang bertanya apa yang terjadi padanya, ataupun mengkhawatirkannya. Mereka semua mengira Bocah Kaktus itu baru saja di-bully atau di hajar oleh siswa-siswa preman.
" Apa yang terjadi pada anak itu?." Tanya Yongguk.
" Mana kutahu." Jawabku singkat.
" Keterlaluan jika dia di-bully sampai seperti itu." Kata Yongguk.
" Tak perlu ikut campur urusan orang. Lagian tidak ada hubungannya denganmu kan?." Kataku.
" Bukan aku yang terlalu ikut campur urusan orang, tapi kau yang terlalu cuek pada sekitar." Balas Yongguk sambil menyentil telingaku.
" Haish, sudahlah, yang penting aku tidak suka pada anak itu." Kataku.
Pulang sekolah aku mampir ke sebuah Game Center, karena Yongguk harus pulang duluan untuk menjemput ibunya di tempat kerja.
Hari ini Game Center yang kukunjungi tidak seramai biasanya. Jadi kurasa aku bisa bermain lebih lama tanpa mengantri.
Saat aku baru saja selesai bermain pump, tak sengaja aku melihat Bocah Kaktus, awalnya kukira bukan dia, setelah aku lihat lebih lama ternyata benar, itu si Bocah Kaktus.
" Apa yang dia lakukan disini?." Gumamku.
Kulihat dia mengangkat beberapa barang dari truk yang terparkir di depan menuju ke gudang Game Center ini. Luka dan perban yang menutupi lukanya juga masih ada disana, dia bekerja dengan keadaan seperti itu? Apa dia gila? Memiliki banyak pekerjaan secara bersamaan? Sebenarnya siapa Bocah Kaktus itu? Apa benar dia berasal dari desa?.
Aku segera kembali berkutat dengan game lagi, mencoba tidak terlalu ingin tau tentang Bocah Kaktus itu. Tiba-tiba ponselku berdering, saat kulihat siapa penelponnya aku segera mematikan ponselku.
" Kenapa dia terus saja menghubungiku?." Kesalku.
Aku menghabiskan sore itu di Game Center hingga aku benar-benar bosan dan akhirnya pulang. Ketika aku sudah sampai di depan rumah, aku melihat mobil ayah terparkir. Aku menghela nafas panjang. Aku sungguh tidak ingin menemuinya, setelah terakhir kali kami bertengkar.
" Anda sudah pulang? Tn. Jung ada di rumah hari ini—"
" Aku lelah, ingin istirahat. Jangan di ganggu." Kataku pada pelayan itu.
Aku melintas di depan ruang kerja ayahku, dia berkutat dengan telfonnya. Aku bisa mendengar dia sedang memearahi orang yang ia telfon.
BRAAK!
" Kalau begitu lakukan apa saja agar dia tidak bisa menemukannya!." Bentaknya sambil membanting sesuatu. Membuatku terkejut.
" Kenapa dia selalu saja berbicara dengan nada tinggi?." Gerutuku tidak suka sambil segera melenggang pergi.
" Sebenarnya kenapa aku masih bisa tinggal di tempat yang membuatku sulit bernafas? Lagi pula rumah ini seperti tidak ada pemiliknya. Semua tidak ingin berada disini." Kataku sambil membanting pintu kamarku.
Malam harinya Yongguk menghubungiku. Dia bilang dia bosan ada di rumah, jadi mengajakku keluar. Tentu saja aku tidak akan menolak. Aku menuggunya di stasiun tak jauh dari rumahku.
" Daehyunie!." Panggilnya dari kejauhan. Aku membalas dengan melambaikan tangan.
" Kau ingin main kemana?." Tanyaku.
" Kudengar ada live street tak jauh dari sini. Mau tidak nonton kesana?." Tanya Yongguk.
" Boleh."
Kamipun segera berjalan menuju tempat yang biasanya memang di buat untuk live street oleh pemain-pemain musik, entah mereka hanya ingin bermain-main disana, menghibur, hingga mencari receh dari orang-orang yang menonton mereka.
" Wah, sepertinya ramai sekali." Seru Yongguk sambil mempercepat jalannya. Aku segera menyusul di belakangnya.
" Omona! Daehyunie palli! Kau harus lihat ini!." Seru Yongguk.
Aku segera mencari celah dari kerumunan dan melihat live street itu. " Tidak mungkin…" aku benar-benar tidak percaya. " Kenapa Bocah Kaktus itu ada disana?." Kataku.
" Kurasa dia memang benar-benar seniman musik. Lihat dia bermain dengan cukup baik kan? Ani, sangat baik malah." Kata Yongguk.
Bocah Kaktus itu bermain beberapa alat musik bersama sebuah grup musik dan beberapa orang memainkan perkusi. Meski aku tidak ingin mengakuinya, tapi dia bermain dengan sangat baik! Dia tidak bercanda dengan bisa memainkan banyak alat musik. Aku tidak bisa percaya dia berasal dari desa. Bagaimanapun sangat aneh anak sepertinya bisa pintar dalam segala bidang.
" Jika mengingat dia dari desa, itu sangat tidak mungkin ketika aku melihat pertunjukan ini." Kata Yongguk.
" Tidak. Dia pasti bukan dari desa! Dia menyembunyikan identitasnya." Kata Daehyun.
" Jangan emosi begitu. Lagi pula itu diluar batas kita. Untuk apa kita mencari tau terlalu dalam? Itu melanggar privasinya." Kata Yongguk.
Aku tetap akan mencari siapa dia sebenarnya!.
Setelah 30 menit kami menonton, akhirnya pertunjukan mereka selesai. Dan sepertinya mereka juga mengumpulkan uang dengan menampilkan live street.
Yongguk melemparkan uang 50.000ribu Won pada mereka. " Kau memberikan setengah dari uangmu?." Tanyaku.
" Aku sangat mengapresiasi musik mereka. Bagaimanapun mereka sudah menampilkan pertunjukan yang bagus." Kata Yongguk.
" Baiklah baiklah." Sahutku. Lalu aku juga memberikan 50.000ribu Won pada mereka.
" Aku ingin ke café untuk makan." Kataku.
" Kajja." Sahut Yongguk.
" Hey! Bocah Gunung! Kau benar-benar sangat membantu. Entah bagaimana pertunjukan tadi tanpamu, kau sudah menggantikan beberapa anggota kami yang tidak bisa datang. Uang ini kuberikan semua padamu." Kata salah satu musikus yang tadi juga melakukan pertunjukkan.
Percakapan mereka membuatku berhenti sejenak. " Jinjja? Untukku?." Tanya Bocah Kaktus itu.
" Nde. Kami sering menampilkan Live Street. Tapi itu adalah hobi kami. Kami tidak bertujuan mencari uang. Lagipula kau bilang sedang butuh uang kan? Ambilah. Jika kau mau, kau bisa bergabung sesekali dengan kami jika kau ada waktu." Kata orang itu.
" Daehyunie! Kajja!." Panggil Yongguk.
" Nde!." Seruku sambil menyusul Yongguk yang sudah ada di depan.
Apa benar dia bekerja disana-sini hanya untuk mendapat uang? Lalu untuk apa uang itu ia kumpulkan? Apa dia harus membiayai kehidupannya sendiri disini?.
Keesokkan harinya aku dan Yongguk hampir terlambat masuk sekolah karena kemarin kita pergi hingga larut malam.
" Untung masih sempat…" gumamku.
" Iya. Untung saja." Sahut Yongguk.
Tak lama kemudian seonsaengnim datang. Pelajaran kesenian lagi.
" Anak-anak, mulai hari ini Lee Minhyuk tidak akan datang ke sekolah lagi." Kata seonsaengnim. Membuat seisi kelas bertanya-tanya, beberapa ada yang takut Minhyuk sudah meninggal karena penyakitnya. Dia orang yang menyenangkan menurutku. Aku dulu pernah berkolaborasi bermusik dengannya.
" Dia pindah sekolah. Karena dia harus pindah ke Rumah Sakit yang lain untuk menjalani operasi. Jadi besok kalian boleh menjenguknya dan mengucapkan selamat berpisah. Karena setelah besok dia sudah pindah." Kata seonsaengnim.
" Kasihan sekali Minhyukie… padahal dia juga termasuk pintar…" kata Yongguk.
" Keurom…" sahutku.
" Baiklah, kita kembali ke pelajaran. Dan dikarenakan Minhyuk pindah, mulai sekarang, Jung Daehyun, kau satu kelompok dengan Choi Junhong." Kata seonsaengnim.
Aku begitu terkejut. Tidak mungkin aku harus satu kelompok dengan anak itu. " Shireoyo seonsaengnim. Aku tidak ingin satu kelompok dengannya." Kataku cepat.
" Wae? Apa kalian saling bermusuhan?."
" A… ani…"
" Kalau begitu tidak ada masalah kan? Kalian tidak boleh pilih-pilih teman seperti itu. Daehyun akan tetap satu kelompok dengan Junhong. Tidak ada protes." Kata seonsaengnim.
" Sial…" gerutuku.
" Sudahlah Daehyunie… terima saja. Lagipula jika kau ingin tau siapa Junhong, kau bisa memulainya ketika kalian satu kelompok." Kata Yongguk.
Aku hanya diam. Tetap saja kau tidak ingin satu kelompok dengannya. Satu semester bersamanya tidak akan membuatku betah.
Tugas pertama yang di berikan seonsaengnim adalah memainkan satu alat musik yang sama, dan menciptakan lagu. Sedikitnya harus ada 2 verse dan harus ada intro.
Semua segera menata tempat duduk berpasangan dengan kelompok masing-masing. Karena Sungjae satu kelompok dengan Yongguk, dia ingin duduk di kursiku. Jadilah aku yang harus duduk bersama Bocah Kaktus di belakang.
Kami tidak saling bicara selama beberapa saat. " Kau bisa baca not balok kan?." Tanyaku.
" Ya." jawabnya.
" Akan kubuat intronya." Kataku sambil mengeluarkan bukuku dan segera mengarang instrument. Aku sering membuat instrument dengan cepat. Aku langsung melakukan ini karena aku tau dia juga sudah paham.
" Aku pilih gitar." Kataku sambil memberikan secarik kertas.
Dia membaca not balok yang kutulis tadi. Tiba-tiba dia mencoret dan menambah beberapa nada di kertasku, tidak hanya satu dua, tapi lumayan banyak.
" Akan lebih bagus jika seperti ini." Katanya sambil memberikannya padaku.
" Kau meremehkanku?." Kesalku.
" Ani. aku mengalah padamu. Aku tau kau tidak ingin disaingi kan? Kau akan melakukan bagian melody. Kau bisa bermain melody kan? Kau akan dapat nilai lebih bagus. Aku hanya akan bermain chord seperti biasa. Kau bisa coba instrument-mu yang sebelumnya dan bandingkan dengan pembetulanku. Pilih saja yang kau suka. Aku tidak memaksa." Katanya.
" Ck! Bagaimana bisa kau tau milikmu lebih bagus?." Tanyaku tidak suka.
" Aku tidak ingin menjawabnya, karena hanya akan membuatmu semakin kesal padaku." Katanya.
" Wae?! Malhaebwa!." Kataku lebih keras. Beberapa anak menoleh ke arah kami. " Perangaimu buruk sekali. Kendalikanlah emosimu." Katanya datar.
" Ya! kubilang katakan!." Kesalku.
" Daehyunie, apa ada sesuatu?." Tanya seonsaengnim.
Aku terdiam menatapnya tidak suka. Lalu membuang muka kesal. " Ani. semua baik-baik saja." Kataku.
Aku benar-benar tidak sabar menunggu waktu istirahat. Aku tidak tahan dengan Bocah Kaktus itu.
" Baiklah, dengarkan baik-baik anak-anak, sebentar lagi jam pelajaran selesai. Jadi kalian harus segera berlatih dengan alat musiknya. 2 minggu lagi kalian sudah harus siap untuk menampilkannya." Kata seonsaengnim. Beberapa siswa masih kebingungan untuk mengarang lagu.
Setelah itu seonsaengnim segera keluar dari kelas. Dengan cepat aku langsung kembali ke tempat dudukku.
" Hey. Kenapa dengan wajahmu itu? Aku yakin dia pasti tidak mengatakan hal-hal jahat. Pasti kau yang kesal sendiri pada anak itu tadi." Kata Yongguk.
" Ck! Sudahlah lupakan." Sahutku.
" Jadi, bagaimana dengan tugasnya?." Tanya Yongguk.
" Tinggal cek langsung dengan alat musiknya dan membuat lirik." Jawabku seadanya.
" Kau selalu bisa mengarang nada tanpa mencoba dengan alat musiknya. Aku dan Sungjae saja masih bingung memakai alat musik apa." Kata Yongguk.
" Ani. aku belum bisa hebat jika aku tidak bisa melebihinya." Kataku. Apalagi mengenai instrument tadi. Bagaimana bisa anak itu memiliki otak yang jenius?.
" Haish… semua orang bisa dianggap jenius. Tinggal dilihat saja siapa yang ada di dekatnya. Jika kau duduk bersama Namjoo maka kau akan dianggap jenius karena dia tidak pintar main musik." Kata Yongguk sambil tertawa.
" Ck! Shikkeuro!." Gerutuku.
.
.
.
.
.
" Haish! Kenapa bisa instrument-nya jauh lebih bagus dariku?." Gerutuku kesal. Sepulang sekolah aku mencoba membandingkan instrument milikku dengannya.
" Dia bahkan melakukannya dengan cepat. Dan benar-benar peka terhadap nada." Kataku.
" Aku harus bicara dengannya."
Aku segera mengambil tasku dan berangkat pergi. " Tuan tunggu! Ini sudah hampir malam, kau ingin kemana?."
" Aku harus mengerjakan tugas kelompok." Sahutku sambil memakai sepatu.
" Aku akan panggil supir—"
" Tidak perlu. Aku bisa berangkat sendiri."
" Tapi Tn. Jung bilang—"
" Kau…" potongku. " … selalu tau aku tidak akan melakukan apa yang ayah katakan." Kataku.
Dia terdiam. Aku segera berdiri dan menghadapnya. " Ahjussi… aku tau kau bekerja dengan baik. Aku akan menghubungimu jika aku butuh sesuatu." Kataku pelan.
Lalu aku segera berangkat pergi.
" Waktu itu, dia bekerja di café ini…" gumamku sambil melihat kedalam apakah Bocah Kaktus itu ada disana.
" Permisi…" kataku sambil berjalan ke arah kasir.
" Ada yang bisa saya bantu?."
" Aku ingin bertanya. Aku ingin mencari karyawan disini yang bernama Choi Junhong. Apa dia ada?." Tanyaku.
" Oh. Si Bocah Gunung itu?." Tanyanya.
" Nde."
" Dia bekerja part time disini. Dan dia bekerja untuk shift siang. Dia sudah pergi sore tadi."
" Apa kau tau dimana dia bekerja lagi?."
" Kurasa disalah satu café di deretan blok itu." Jawabnya sambil menunjuk deretan café tak jauh di depan.
" Baiklah. Terimakasih." Kataku sambil berjalan keluar.
Aku segera pergi menuju salah satu café yang ada disana. 2 café yang kudatangi ternyata bukan tempatnya bekerja. Yang ketiga benar dia bekerja disana. Tapi pegawai disana bilang Bocah Kaktus itu sudah pergi 2 jam yang lalu untuk pekerjaannya yang lain.
" Dia bekerja dengan cepat. Dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Jadi kami membolehkannya pergi lebih dulu." Kata mereka.
" Apa kau tau dimana dia bekerja sekarang?."
" Kalau tidak salah dia bekerja di tempat pengiriman barang. Aku tidak tau dia ada disana atau tidak. Dia memiliki banyak pekerjaan." Katanya.
" Selain disana, dia bekerja dimana lagi?."
Dia berfikir sejenak. " Aku pernah melihatnya bekerja di toko alat musik. Akan kuberikan alamatnya." Katanya.
Setelah dari sana akhirnya aku pergi ke tempat pengiriman barang lebih dahulu. Dan ternyata dia sedang mengantar beberapa barang. Akhirnya aku menunggu di kantor pengiriman barang itu hingga dia kembali.
" Dia gila. Pekerjaan sebanyak ini dia lakukan hanya untuk mengumpulkan uang? Dia bisa bekerja di satu pekerjaan saja. Atau setidaknya dua. Dia penggila kerja atau bagaimana?." Gumamku.
45 menit berlalu, akhirnya kulihat truk pengirim barang datang. Dan ada si Bocah Kaktus itu.
" Hey, Bocah Gunung! Ada seseorang yang mencarimu. Dia sedang menunggumu disana." Kata salah satu pegawai.
" Siapa?."
" Mana kutahu. Ini ongkosmu bekerja." Katanya.
" Terimakasih."
Dia segera menghampiriku dengan wajah bingung. " Kau lama!." Kesalku.
" Apa yang kau lakukan disini?." Tanyanya.
" Aku harus membahas tugas kita. Sekarang juga." Kataku.
" Tidak bisa. Aku masih ada satu pekerjaan lagi. Aku tidak bisa meninggalkannya." Katanya.
" Aku sudah mencarimu kemana-mana, dan sekarang kau menyuruhku untuk menunggu lagi?." Tanyaku kesal.
" Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan satu kalipun dari semua pekerjaanku. Kumohon kau mengerti. Aku tidak ingin di pecat." Katanya.
" Walaupun kau dipecat, kau masih punya pekerjaan lain."
" Waktuku adalah uang. Aku masih bisa menghasilkan 20.000ribu Won untuk satu jam. Aku tidak bisa membiarkan itu terbuang." Katanya.
" Aku bisa memberimu 100.000 ribu Won sekarang juga jika kau mau." Paksaku.
" Maaf. Aku bukan pengemis. Lebih baik aku bekerja dengan gaji sedikit dari pada dikasihani orang lain."
" Ck! Tidak ingin dikasihani katamu? Lalu apa yang kau lakukan di live street itu? Meminta uang receh?."
Dia menatapku dengan pandangan kesal. " Itu seni. Aku memberikan suatu hal yang membuat orang lain bahagia. Dan itu adalah sebuah jasa untuk di hargai. Jadi sekali lagi kuminta kau untuk mengerti." Katanya.
" Lalu bagaimana dengan tugas kita? Kau juga harus ikut andil dalam hal ini."
" Kukira kau tidak ingin aku ikut campur dengan musikmu." Sindirnya. " Ini kunci rumahku. Kau bisa tunggu aku disana hingga aku pulang. Masih ada yang harus kuantar sebelum aku ke pekerjaanku yang satunya. Aku akan kembali pukul 10." Katanya sambil memberiku kunci dan sebuah alamat.
" Aku tidak ingin menunggu."
" Jika kau tidak bisa menunggu 3 jam saja untuk hal yang kau inginkan, maka tunggulah sampai besok jika kau mau." Katanya.
" Ck! Tepat jam 10! Jangan buat aku menunggu satu detikpun melewati jam 10." Kataku sambil mengambil kunci itu dan alamatnya, lalu pergi meninggalkannya.
Akupun segera pergi ke alamat yang tertulis di kertas itu. 3 pemberhentian stasiun dari tempatnya bekerja tadi. Setelah mencari-cari, sampailah di sebuah rumah kecil. Terlihat sangat rapi dan bersih. Akupun segera masuk kesana.
" Apa dia tinggal sendiri disini?." Gumamku.
Ketika aku masuk, aku bisa melihat banyak pohon kaktus yang ia taruh di banyak sudut untuk menghias tempat itu. Rumah ini hanya ada satu ruangan besar yang ia bagi menjadi kamar tidur di sudut dekat jendela, dan beberapa meja untuk belajar dan meja makan. Ruang lain hanya kamar mandi.
" Bagaimana bisa dia hidup di tempat seperti ini? Ini hanya seluas garasi rumahku." Kataku.
Aku melihat ada sebuah Phonograph yang masih berfungsi dan sekardus piringan hitam di dekatnya. " Apa dia maniak musik?." Gumamku. Lalu aku melihat ada gitar dan biola di dekat meja belajarnya. Ada banyak kertas berserakan, berisi musik dan pelajaran-pelajaran sekolah. " Tidak mungkin dia belajar semua ini secara otodidak. Pasti ada yang mengajarinya."
Tapi bagaimana bisa dia belajar dengan maksimal jika dia terus saja bekerja? Bahkan dia tidak mungkin memiliki waktu untuk belajar. Dia bukan robot yang tidak tidur dan melakukan banyak hal dalam 24 jam penuh.
Dan masih ada bekas kotak kari dan ramen instan disana sini. Sebegitunyakah dia menghemat uang? Aku ingin tau untuk apa dia menumpuk uangnya.
Aku duduk di kursi belajarnya sambil membaca beberapa hal yang sedang ia pelajari. Lalu aku melihat ada sebuah bingkai foto yang tertimbun beberapa kertas. Aku menyingkirkan kertas-kertas itu dan melihat foto yang ada di dalamnya.
Aku begitu terkejut ketika aku melihat siapa yang ada di foto itu. " Ti.. tidak mungkin…"
.
.
.
.
.:: To Be Continued ::.
.
.
.
.
A/N : Hy Readers! Hayooo pada kangen aku yah? –di gampar- oke meski vintage hanya ada beberapa review, nggak mungkin juga langsung aku discontinued xD
Tapi aku berharap banyak pada readers-readers penikmat FF antimainstream. Semoga kalian suka cerita ini, cerita ini akan lebih kompleks di chapter-chapter depan. Tapi aku tetap ingin FF ini terlihat sederhana karena ada beberapa hal dari FF ini yang emang Based on True Story. Seenggaknya kalian bisa terhiburlah dengan Vintage ini.
Maaf karena aku telat update, sampe bikin readers jadi geregetan nunggunya. –deep bow- dan juga aku punya FF baru lagi judulnya Sacramental Confession, semoga kalian mau baca dan suka FF itu. :D
Nggak banyak yang aku omongin sih disini, karena ini juga masih FF baru. Jadi kau tunggu review-riview kreatif kalian. Karena sumber inspirasiku adalah review kalian :D
So, Mind To Riview?
