AFTER

.

Cast : Jung Yunho (29 tahun)

Jung (Kim) Jaejoong (27 tahun)

Jung (Shim) Changmin (3 tahun)

Other cast : Jin Yihan (28 tahun), Park Yoochun (26 tahun), Kim Junsu (25 tahun), Son Dongwoon (23 tahun), Jessica Jung (23 tahun), Mr. Jung (52 tahun)

Genre : YAOI/Family/MPreg

Pairing : YUNJAE

Note : cerita ini asli milik saya sendiri, alur maju mundur, typo(s)bertebaran, bahasa tak sesuai dengan EYD

.

.

Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^

.

.

DOUZO

.

::

CHAP 1

::

.

Matahari bersinar sangat terik siang hari ini. Memancarkan panas yang mampu membakar siapa saja yang mencoba untuk menembus sinarnya. Seakan tak peduli dengan panas terik yang sedang terjadi, seorang namja dengan kemeja putih dan map tersampir di lengan kirinya, berjalan menembus panas. Tak diperdulikannya keringat yang sudah bercucuran membasahi kemeja yang digunakannya. Membuat kemejanya basah dan menampakkan badannya yang ramping. Matanya memincing tajam karena sinar matahari menghalangi pandangannya.

"Huuhh, panasnya. Tenanglah Jaejoong, kau pasti bisa!"

Ya, namja itu adalah Kim Jaejoong. Setelah bercerai dari Jung Yunho, ia seakan tak ingin lagi berurusan dengannya. Terbukti, dengan ia mengembalikan semua barang-barang yang Yunho berikan padanya selama mereka hidup bersama. Termasuk mobil dan tempat tinggal yang kemarin dipakainya, sebelum resmi bercerai dari Yunho. Sekarang, ia masih menginap di apartement Junsu, karena ia masih berusaha mencari tempat tinggal baginya. Sebenarnya Junsu malah menyarankan mereka untuk tinggal bersama, tapi Jaejoong tak ingin lagi memberatkan sepupunya itu. Sekarangpun ia mulai mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan Changmin.

Tak mudah memang mencari pekerjaan, berkali-kali Jaejoong melamar, berkali-kali pula ia ditolak. Tak heran memang, dengan statusnya yang adalah 'mantan' istri Jung Yunho, seorang CEO dari Jung Corp, perusahaan yang paling besar dan berkuasa di Seoul bahkan sebagian besar wilayah Asia. Selain itu, karena setelah perceraian dari orang terkemuka dalam dunia bisnis itu sudah menyebar, juga karena Mrs. Jung sudah memperingatkan, siapa saja yang membantu Jaejoong maka ia akan berurusan dengan Jung Corp. Maka dari itu, setiap perusahaan yang Jaejoong lamar semuanya menolak lamaran Jaejoong.

Sudah dari pagi Jaejoong pergi mencari pekerjaan, tapi sampai sekarang jam sudah menunjukkan pukul 02.00 siang, ia masih belum mendapat pekerjaan. Karena sudah lelah dan kepanasan, Jaejoongpun memilih untuk makan siang sebentar.

Jaejoong memilih makan semangkuk ramen cup yang dibelinya di supermarket terdekat, terus terang ia memang tak mempunyai banyak uang sekarang. Maka dari itu ia harus pandai-pandai menghemat uang yang masih ia punya. Sebenarnya Yunho masih menafkahi Jaejoong dan Changmin secara financial, tapi Jaejoong sama sekali tak pernah menggunakan uang pemberian Yunho itu. Ia hanya menyimpannya untuk pendidikan Changmin nantinya. Biar bagaimanapun, Yunho adalah appa dari Changmin, bukankah sudah sewajarnya jika ia memperhatikan biaya pendidikan anaknya.

Jaejoong mulai lahap menyantap makan siangnya, walau hanya dengan segelas ramen cup. Ia makan dengan tenang di sebuah taman dekat dengan tempat supermarket tempat ia membeli ramen tadi. Ia duduk disebuah bangku panjang yang terdapat disana. Matanya menerawang jauh memperhatikan tiap orang yang berlalu-lalang disekitarnya. Orang-orang yang tengah bersenda gurau dengan teman atau keluarga yang diajaknya.

Jaejoong menatap kumpulan orang-orang itu dengan tatapan sendu. Ingatannya kembali saat ia dan keluarga kecilnya pergi piknik bersama.

.

Flash back

.

Suara celotehan riang terdengar dari dalam mobil Audy hitam milik Yunho. Rupanya suara celotehan itu milik Jung Changmin anaknya. Changmin begitu riang karena orang tuanya mengajaknya untuk piknik. Hal yang sangat ingin ia lakukan. Tanpa pikir panjang Changmin langsung mengangguk setuju saat ditanya apa ia mau pergi piknik atau tidak, ia begitu senang dan bersemangat. Sampai-sampai ia berjingkrak-jingkrak kegirangan, membuat rambut hitam tebalnya bergoyang-goyang lucu.

"Appa, eomma, nanti Minie mau makan yang banyak ne. Nanti juga Minie mau dipoto cama appa dan eomma. Ah, ah juga Minie mau main cama appa dan eomma. Ne ne?"

Changmin begitu bersemangat, ia sudah tak sabar ingin melakukan sederet kegiatan yang memenuhi otaknya. Ia sampai merengek-rengek karena tak kunjung sampai ditempat tujuan. Dan akhirnya setelah cukup lama mereka melakukan perjalanan, merekapun sampai disalah satu taman yang terletak di daerah Busan. Changmin yang sedari tadi terus merengek, seketika terdiam. Matanya berbinar saat dilihatnya mereka sudah sampai. Changmin segera mendorong-dorong bahu Jaejoong yang memangkunya.

"Ayo eomma, cepat buka pintunya. Minie cudah gak cabal."

Jaejoong hanya tersenyum mendengar Changmin, dan segera ia membuka pintu mobil. Segera setelahnya Changmin langsung turun dan berlari keluar. Jaejoong dan Yunho hanya tersenyum melihat tingkah lucu anaknya. Merekapun turun dan mengikuti Changmin. Changmin yang memang lincah itu, terus-terusan berlari mengitari kedua orang tuanya. Jaejoong yang tengah mengambil bekal mereka jadi sedikit terganggu. Yunho yang melihat itu lalu menegur Changmin, Changmin hanya mempoutkan bibirnya kesal karna ditegur sang appa.

Kini merekapun sudah duduk disalah satu tempat ditaman itu. Taman ini memang khusus dibuat untuk mereka yang ingin menghabiskan waktu dengan piknik, tak heran jika tempat ini sedikit ramai. Apalagi mengingat hari ini adalah hari minggu. Banyak keluarga-keluarga kecil yang menghabiskan waktu bersama ditempat ini. Tak sedikit juga pasangan-pasangan yang nampak memenuhi tempat ini.

Changmin terlihat begitu lahap memakan makanannya. Cara makannya yang berantakan membuat remih makanan berserakan disekitarnya. Melihat itu Jaejoong hanya tersenyum sembari membersihkan sisa makanan yang berserakan disekitar Changmin.

"Minie, pelan-pelan makannya." nasehat Jaejoong sambil tersenyum memperhatikan Changmin. "Yunie, kau juga makan. Ini," Jaejoong menyerahkan kotak bekal yang dibuatnya tadi pada Yunho.

"Ne, kau juga Joongie." sahut Yunho manja.

Mereka nampak seperti keluarga yang sangat hangat dan harmonis. Hubungan Yunho dan Jaejoong yang sangat hangat ditambah dengan kehadiran jagoan cilik ditengah mereka, yang tak pernah diam dan selalu membuat mereka bahagia. Sungguh, sesuatu yang sangat diinginkan oleh hampir semua pasangan.

"Nah, ayo Minie mendekat sama eomma. Biar appa foto." Yunho segera mengambil kamera dari tasnya. Bersiap untuk mengabadikan pose kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya.

"Siap, hana dul set,"

Splassshhh

Changmin segera berlari menuju Yunho, ia ingin melihat hasil jepretan appanya. Ia tertawa lucu saat dilihatnya foto dirinya dan eommanya, ia segera memperlihatkan foto itu pada eommanya. Difoto itu nampak Jaejoong memeluk Changmin dengan hangat, keduanya tersenyum manis menatap kamera.

"Ah, appa, ayo kita poto cama-cama. Ayo," Changmin segera menarik Yunho dan membuatnya berjongkok disebelahnya.

"Aiss, anak appa. Kalau begini appa tidak bisa memoto sendiri, sebentar ne appa minta tolong dulu pada orang."

Yunho segera pergi meminta bantuan pada seorang namja yang lewat didepannya. "Ah, mian. Bisakah anda mengambil fotoku dan keluargaku sebentar?"

"Ah, ne."

"Khamsa,"

Kini merekapun siap untuk difoto. Changmin tersenyum sangat manis melihat kearah kamera, sementara dikedua sisinya ada sang appa dan eomma yang tak kalah manis tersenyum kearah kamera. Mereka sangat terlihat sebagai keluarga yang harmonis.

"Hana, dul, set."

Splassshhh

"Mian, tolong sekali lagi foto kami ne." teriak Yunho yang rupanya masih ingin mengabadikan moment yang langka ini.

"Ah, ne. Siap?"

Yunho tersenyum lalu berbisik pada Jaejoong, "Joongie, saat hitungan ketiga kita sama-sama cium pipi Changmin ne."

"Ne," Jaejoong hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Siap, hana dul set,"

Cup~

Splassshhh

"Yak, khamsahamnida." Yunho brterima kasih pada namja itu. Lalu dengan semangat melihat foto-foto tadi.

"Waa, Minie sangat manis ne."

"Hihi, Minie cuka yang ini appa, eomma. Minie cuka cekali kalian yang cium pipi Minie" mata Changmin berbinar melihat foto itu. Ia rupanya sangat senang, karna jarang sekali bisa berlibur dan berfoto bersama kedua orangtuanya. Karna mengingat kesibukan Yunho bekerja di Jung Corp.

"Nah, nanti kita cetak saja ne fotonya. Supaya Minie bisa menyimpannya. Otte?"

"Ne appa." jawab Changmin sambil mengangguk.

"Kau juga sangat cantik Joongie," kata Yunho sambil melihat kearah 'istri'nya. Jaejoong hanya tersenyum dan wajahnya memerah, entah kenapa ia masih saja malu jika Yunho menyebutnya cantik. Padahal mereka sudah hampir 4tahun tinggal bersama.

"Appa, ayo kita main. Minie mau main cama appa, ayo appa." Changmin menarik-narik baju Yunho, membuat Yunho berhenti memandangi Jaejoong.

"Eoh, anak appa mau main? Ja, ayo kita main. Appa jadi kucing, Minie jadi tikusnya ne. Jaa, kucingnya ingin menangkap tikus. Ayo, jangan lari."

Kedua appa dan anak itu segera larut dalam permainan, Yunho mengejar-ngejar Changmin dan Changmin terus belari menghindari Yunho. Jaejoong yang tak ikut bermain hanya melihat kedua anak dan appa itu sambil tersenyum, sesekali terdengar teriakan darinya karena Minie tertangkap Yunho. Ia begitu bahagia melihat keluarga kecilnya begitu harmonis, ia berharap semua ini akan tetap begini selamanya, sampai ajal memisahkan mereka.

.

Flash back end

.

Tak terasa butiran kristal jatuh dari mata bulat Jaejoong. Kenangannya akan keharmonisan keluarganya dulu membuat dirinya merasa sangat sedih, membuatnya kehilangan selera makan. Ramen yang tadi dibelinyapun kini sudah enggan ia makan. Ia kembali menatap orang-orang didepannya. Sungguh, ia merindukan saat-saat harmonis seperti itu. Pergi bersama keluarga dan menghabiskan waktu bersama. Jaejoong teringat sesuatu, diambilnya dompet disaku belakang celananya. Dibukanya lalu mengambil salah satu foto. Jaejoong menatap foto dirinya, Changmin dan juga Yunho yang diambil saat mereka pergi piknik. Foto dimana ia dan Yunho mencium sayang pipi Changmin anaknya. Ditatapnya foto itu dengan mata sendu, ia tersenyun lemah mengingat saat ia dan keluarga kecilnya pergi bersama.

"Yunie," desis Jaejoong.

.

::

AFTER

::

.

Seorang namja dengan tubuh tinggi diatas rata-rata tengah berdiri memimpin rapat. Matanya yang nyalang seperti mata elang memincing tajam saat seseorang menginterupsi omongannya. Dia adalah Jung Yunho. Sekarang ia tengah memimpin rapat pemegang saham di Jung Corp. Pembawaannya yang tegas dan berwibawa, membuatnya dengan mudah menjabat sebagai CEO dari perusahaan besar itu. Padahal persaingan diantara anak dan cucu dari Jung Family sangat ketat.

Selama dua jam penuh Yunho memimpin rapat tersebut. Semua yang menghadiri rapat semua sangat kagum dengan kinerja seorang Jung Yunho. Semuanya begitu segan dan mengidolakan Yunho. Tak hanya yeoja, bahkan namja pun sangat mengidolakannya.

Semua staff dan pegawai Jung Corp memang sudah mengetahui perihal berpisahnya pimpinan mereka dengan Jaejoong, namja yang dulu juga pernah menjadi karyawan Jung Corps. Karena itu juga, sekarang yeoja dan namja yang mengidolakan Yunho berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan hati seorang Jung Yunho.

"Permisi sajangnim, ini saya bawakan minuman dingin, diluar sangat panas. Sajangnim pasti sangat lelah setelah memimpin rapat tadi." seorang yeoja masuk dengan membawa sebuah nampan berisi jus alpukat setelah rapat usai.

"Ne. Khamsa Yoona-ssi," jawab Yunho tanpa menoleh pada Yoona.

"Ne sajangnim. Apa ada yang bisa saya bantu sajangnim?" tanya Yoona lagi yang merupakan salah satu sekretaris Yunho.

Yunho bukannya tak tahu jika Yoona menyukainya, bahkan hampir semua yeoja yang berkerja di perusahaannya bisa dibilang menyukainya. Tapi, ia tidak tertarik sama sekali pada mereka. Bukan karena mereka tidak menarik sama sekali, namun sampai sekarangpun dihatinya masih ada satu nama. Nama yang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Jung Jaejoong. Dialah orangnya. Walaupun sekarang ia sudah resmi bercerai dari Jaejoong, namun ia sama sekali tak menganganggap dirinya sudah berpisah dari Jaejoong. Ia tetap merasa bahwa Jaejoong adalah bagian darinya, Jung Yunho.

"Ani. Kau boleh pergi Yoona-ssi." sahut Yunho yang lagi-lagi tanpa menoleh pada Yoona.

Yoonapun pergi meningalkan Yunho yang masih sibuk memperhatikan layar Laptopnya. Sepeninggal Yoona, Yunhopun menutup layar laptopnya. Ia sebenarnya lelah hari ini, ia menutupi semuanya dari semua orang. Perlahan Yunho membuka dompetnya, ditariknya satu lembar foto. Ia menatap foto itu dengan sangat sendu. Matanya yang biasanya menatap tajam saat memimpin rapat, kini menjadi sayu dan memerah. Memendam rasa yang bergejolak didadanya saat melihat foto itu. Foto dirinya, Changmin dan juga Jaejoong yang tengah tersenyum bersama sambil memandang ceria kearah kamera. Foto yang mereka ambil ketika mereka piknik bersama, foto dimana mereka masih sangat harmonis sebagai keluarga.

"Joongie, Minie," desahnya.

.

::

AFTER

::

.

Jaejoong masih duduk di bangku taman. Matanya agak sembab karna menangis tadi. Sekarang hari semakin beranjak sore, entah berapa lama tadi Jaejoong menangis dan duduk diam disini. Perlahan ia bangkit dan hendak pulang, namun suara ponselnya membuat dirinya urung berjalan.

"Yeoboseyo hyung," sapa suara diseberang.

"Ne, yeoboseyo. Wae Su-ie?" jawab Jaejoong menjawab telpon yang ternyata dari Junsu.

"Ani hyung, apa kau masih lama hyung? Changmin dari tadi merengek memanggilmu."

"Ah, mian Su-ie. Aku akan segera pulang."

"Ne, hyung. Hati-hatilah."

Jaejoong segera memutuskan panggilan, ia bergegas untuk pulang. Ia juga sangat rindu dengan Changmin. Sejak melihat foto tadi ia jadi merasa rindu pada anaknya yang cerewet itu, segera saja ia pulang dan sebelumnya singgah di supermarket membeli beberapa makanan ringan untuk oleh-oleh Changmin.

.

.

Changmin terbangun dari tidurnya, ia kelelahan setelah seharian bermain dengan Junsu. Saat bangun tadi itulah, Changmin menangis histeris menanyakan dimana eommanya. Junsu sudah mencoba membujuk Changmin dengan memberikannya berbagai makanan yang ada di kulkasnya, namun hal itu tak bisa membuat tangis Changmin berhenti juga.

"Huweee,, eomma,, huwaaaaa,,,"

"Cup cup, Minie. Sebentar lagi eomma pulang changy, jadi Minie tidak boleh menangis ne. Nanti eomma sedih kalau pulang dan melihat Minie menangis begini," Junsu mencoba membujuk Changmin agar tak menangis lagi. Namun percuma saja, Changmin masih tetap menangis. Bahkan tangisannya semakin keras.

"Howaaa, eomma... Mana eomma,, huweeeee,.."

Junsu kelihatannya sudah lelah menenangkan Changmin. Syukurlah Jaejoong cepat datang setelah ditelpon Junsu. Membuat Junsu lebih tenang setelah Changmin berada digendongan Jaejoong.

"Aigoo, anak eomma kenapa menangis? Lihat anak eomma jadi jelek begini." kata Jaejoong sambil menggendong Changmin dengan tangan kirinya.

"Hiks, eomma, eom,, ma.."

"Wae changy, uljima ne. Eomma sudah pulang, dan ini," Jaejoong mengangkat tangan kanannya yang menenteng kantung belanjaan yang berisi camilan untuk Changmin. "Cemilan untuk anak eomma."

Mendengar itu Changmin segera meminta turun dari gendongan eommanya. Menengadahkan tangannya untuk meminta 'hadiah'nya. Tapi masih dengan sesenggukan.

"Hemm, tapi karena tadi anak eomma menangis, jadi eom-"

"Andwae, Minie cudah gak nangis lagi." Changmin dengan cepat memotong ucapan Jaejoong, dan dengan gusar mengusap airmata diwajahnya.

"Ne? Jinja sudah tak menangis lagi?"

"Ne." jawab Changmin mantap, "Jadi eomma mau beli hadiah Minie kan?" tanya Changmin dengan mata mengerjap-ngerjap lucu. Jaejoong tak tahan dan segera mencubit pelan pipi tembam Changmin, sambil kemudian mengecupnya pelan.

"Baiklah, ini." Jaejoongpun menyodorkan kantung itu pada Changmin, Changmin menerimanya dengan senang hati. Lalu berlari sambil sebelumnya mengecup bibir Jaejoong.

"Gomawo eomma." teriaknya saat sudah duduk di sofa panjang milik Junsu.

Junsu yang sedari tadi hanya melihat kehangatan eomma dan anak itu merasa tak dihiraukan, sehingga ia berdeham pelan dan membuat Jaejoong sadar kalau Junsu masih bersama mereka.

"Ah, mian Su-ie. Aku begitu rindu pada Minie. Sampai aku melupakanmu. Minie tidak merepotkan kan?"

"Ani hyung, malah ia mau membantuku membersihkan apartementku. Hyung sendiri bagaimana? Apa hyung berhasil?"

"Ah, mianhaeyo Su-ie. Hari ini aku belum mendapat pekerjaan. Semua perusahaan yang aku lamar, semuanya menolak aplikasi lamaranku. Huh, aku tahu ini semua gara-gara Jung ahjumma sialan itu." geram Jaejoong. Junsu sedikit geli mendengar geraman Jaejoong pada mantan mertuanya itu.

"Haha, hyung. Darimana kau begitu yakin ini semua kerjaan nenek tua itu?" jawab Junsu sambil tertawa mendengar ucapannya sendiri.

"Ne, siapa lagi yang punya kuasa untuk mengancam semua perusahaan agar tak menerimaku sebagai pegawai. Cih, cara kotor untuk membuatku mati perlahan." jawab Jaejoong semakin sinis. Entah kenapa setiap membicarakan Mrs. Jung itu, emosi Jaejoong menjadi meledak.

"Haha, benar juga hyung. Dia pasti mengancam semua perusahaan agar tak membantumu. Ia ingin sekali rupanya kau menderita. Sungguh tak punya perasaan, aku heran kau bisa betah bersama lebih dari 4tahun hyung."

"Hah, sejak awal aku sudah tak betah dengannya, hanya saja aku menghormatinya sebagai eomma dari suamiku, mau tak mau aku harus bersikap sopan padanya. Tapi sudah sejak setahun yang lalu aku tak tahan, alhasil aku sering cekcok dengannya."

"Aiss, kau masih menganggap Yunho hyung suamimu eoh? Ckck, rupanya kau masih mencintainya ne?"

Kontan wajah Jaejoong memerah dengan perkataan Junsu. Ia tak menduga kalau Junsu akan berkata demikian.

"Aiss kau ini. Bukannya begitu, hanya saja, emm," Jaejoong tak bisa melanjutkan kata-katanya.

"Haha, hyung kau tak bisa menjawabnya eoh?"

"Hiss, sudah jangan meledekku." jawab Jaejoong kesal sambil mempoutkan bibirnya kesal.

"Ne ne, baiklah hyung. Ah, senang rasanya bisa melihatmu marah-marah seperti tadi. Karna selama ini kau hanya bersedih dan muram hyung."

Jaejoong sedikit tersentuh dengan perkataan sepupunya itu. Jadi selama ini ia terlihat begitu menyedihkan? Hah, andai saja semua berjalan sesuai dengan yang ia harapkan, pasti kehidupannya tak akan seperti ini.

"Eomma, kapan appa pulang?"

Deg

Pertanyaan spontan dari Changmin seakan menohok ulu hati Jaejoong dengan telak. Semenjak berpisah dari Yunho, memang Jaejoong memberitahukan Changmin kalau sang appa sedang pergi keluar negri. Jadi untuk sementara waktu mereka tinggal dirumah Junsu.

"Ah, itu. Appa sedang bekerja changy, jadi appa sedang sibuk. Nanti kalau appa sudah pulang pasti appa akan mencari Minie. Ne. Arra?"

"Tapi kenapa appa tak pernah menelpon Minie, Minie kan kangen cama appa eomma."

Aiss, ternyata Jung Changmin ini begitu keras kepala, ia tak terima jika hanya mendapatkan jawaban yang belum membuatnya puas. Kalau sudah begitu ia akan terus bertanya sampai mendapat jawaban yang membuatnya puas.

"Appa sedang sibuk Changminie, jadi appa tak bisa menelpon Minie. Arra?"

"Tapi kan Minie cangat lindu cama appa. Biacanya tiap appa pulang kelja appa akan membawakan Minie makanan dan mainan yang banyak." kata Changmin sambil menatap Jaejoong dengan wajah sendu. Kelihatan sekali kalau ia sangat merindukan appanya.

"Ne Minie. Sekarang juga appa sedang bekerja. Jadi kalau Minie mau appa pulang dan memberi Minie hadiah, Minie harus jadi anak yang patuh ne. Jangan nakal. Arra?"

"Ne, eomma. Arraceo. Tapi, Minie cangat lindu cama appa. Minie mau main kuda-kudaan cama appa, hiks eomma, appa kapan pulang. Hiks," Changmin mulai menangis sesenggukan, makanan yang tadi dipegangnya terlepas dan kini berserakan disofa.

"Aiss, uljima Minie. Sini main sama jumma saja. Otte?" kata Junsu segera saat dilihatnya Jaejoong tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Changmin, ia yakin kalau hyungnya itu pasti juga merindukan sosok Jung Yunho.

"Hiks, jumma mau jadi kudanya?" tanya Changmin sambil mengerjapkan matanya.

"Ne. Ayo, Minie mau naik kepunggung jumma tidak?" Junsu mulai membungkukkan badannya, memposisikan dirinya seperti kuda.

"Hihi, Minie mau." dengan segera Changmin menaiki punggung Junsu. Kakinya bergoyang-goyang disamping badan Junsu.

"Sudah siap? Jaa, kudanya akan lari. Hiyyyaaaa," Junsu mulai berlari sambil menirukan suara kuda. Changmin yang tadinya bersedih seketika berubah ceria. Kini ia sudah bisa tertawa bermain dengan Junsu. Jaejoong yang melihat keduanya bermain hanya bisa menghela nafas. Untung tadi Junsu cepat menjawab pertanyaan Changmin, sebab kalau tidak ia tak yakin bisa menghentikan tangis Changmin.

"Haha, lebih cepat jumma. Cepat, wuuuu,"

"Baiklah, bersiaplah. Kudanya akan berlari kencang. Hiyaaa," Keduanya begitu bersemangat bermain. Kalau sudah bermain, Changmin akan lupa dengan semuanya. Bahkan makanan yang tadi Jaejoong belikan saja dilupakannya begitu saja. Dengan sabar Jaejoong memungut remih makanan yang berserakan karna ulah Changmin tadi. Membersihkannya agar tak ada semut yang memakannya.

Tak terasa hari beranjak semakin sore, tapi Changmin dan Junsu tak kelihatan lelah sama sekali. Ups, bukan Changmin dan Junsu, melainkan Changmin seorang. Junsu yang menjadi kudanya sudah terlihat sangat kelelahan. Jaejoong merasa kasihan melihat Junsu, iapun menghentikan permainan mereka.

"Nah sekarang Minie sudah puas main kudakan? Ayo mandi dulu, sudah sore."

Jaejoong menginterupsi kegiatan paman dan keponakan itu, Junsu segera menurunkan Changmin dari punggungnya. Nafasnya terengah-engah karna bermain tadi. Disenderkannya punggung pada sofa dibelakangnya. Sementara Changmin langsung berlari mendekati eommanya.

"Minie sekarang mandi ne. Eomma siapkan air hangatnya dulu."

"Eomma, Minie mau mandi cama Cu-ie jumma caja eomma." kata Changmin sambil tersenyum evil. Pertanda sebentar lagi Junsu akan menjadi korban ke-evilannya lagi.

"Eh, Minie mau mandi dengan jumma? Kasihan jumma Minie kelelahan tadi bermain dengan Minie."

"Andwae, Minie mau mandi cama Cu-ie jumma." kata Changmin keras kepala sambil terus memasang senyum evil.

"Gwencana hyung. Nah, ayo Minie, sini, buka bajunya." Junsu menghampiri Changmin berniat untuk membuka bajunya.

"Em, tapi Cu-ie jumma haruc bica tangkap Minie dulu baru Minie mau mandi. Kyaa," Changmin segera berlari mengitari Junsu.

Rupanya Changmin ingin bermain dulu dengan Junsu. Iapun berlari sehingga mau tak mau Junsu mengejarnya agar ia mau membuka baju dan mandi.

"Yah, Minie. Kau mau mengerjaiku eoh?" teriak Junsu sambil ikut berlari mengejar Changmin. Changmin terus tertawa sambil berlari menjauh dari Junsu. Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan sepupunya. Tak mau ambil pusing, ia pun masuk ke dapur untuk mulai membuat makan malam untuk mereka. Kalau Changmin sudah mulai mengganggu Junsu, itu artinya memerlukan waktu lama untuk membuatnya bisa melakukan apa yang Junsu minta.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Otanjoubi omedetou 10th debut TVXQ ^^

Chap 2 update.. Bagaimana? Huwaaa,, ternyata YunJae cerai.. Kira-kira apa ya penyebab perceraian mereka? Dan nampaknya mereka masih saling mencintai ne. Tapi kenapa bisa cerai?

Hayolohh... Penasaran? Kalo penasaran kajja kasih review dan tunggu kelanjutannya ne~~

Part favorit saya saat flash back YunJaeMin piknik, ah, kelihatan sekali kalau rumah tangga mereka harmonis ani? Apalagi pas YunJae cium pipi Changmin, ukhhh, aku juga mau~~ hohohooo,, favorit kalian?

Terimakasih bagi yang kemarin uda follow, favorit dan review.. Jangan kapok ne baca ceritanya dan kalo bisa kasih review terus di setiap chapnya..

shanzec , teukieangle , 3kjj , gothiclolita89 , zoldyk , Dee chan - tik , haruko2277 , YunHolic , hanasukie , kimRyan 2129 , aliensparkdobi , Clein cassie , queen harkyu , Ria , T , Byunchannie26 , ifa p arunda , anastasya regiana , akiramia44 , Teripark , ryeo ryeong , Ai Rin Lee

Akhir kata, review onegaishimasu~

.

Denpasar, 26 Desember 2013