Bel istirahat berbunyi. Wonwoo melirik kearah Mingyu yang berdiri dengan malas kemudian keluar kelas. Wonwoo terkikik geli, lalu melihat kupon hijau yang tadi Mingyu sodorkan padanya.

Beli 2 porsi jjangmyeon.

Wonwoo mengambil dompet kecilnya dan langsung berjalan kearah kantin.

Dikantin yang cukup ramai itu, Wonwoo segera menyambar jjangmyeon yang sudah jadi dan dibungkus dan membayar sebanyak 16000. Kemudian, Wonwoo membawa tubuhnya kearah taman belakang sekolah. Wonwoo masih berada dikoridor, tapi ia sudah mendengar pekikan suara berat khas Mingyu.

"JANGAN MEMATUKKU AYAM JELEK!"

"MINGYU KERJAKAN SAJA JANGAN BANYAK PROTES!"

Ha Ha. Wonwoo senang sekali mendengarnya. Jarang sekali, penjaga taman belakang sekolah berteriak begitu.

"Chogiyo." Kata Wonwoo pada kedua manusia yang masih berdebat akan ayam dan kandangnya serta merta bau eeknya. Wonwoo mengulas senyum tipis kepada mereka. Wajah Mingyu begitu sumringah. Mata Mingyu berkedip berkali-kali pada Wonwoo, minta bala bantuan. Tapi Wonwoo tidak meresponnya. Ia malah menghampiri si bapak penjaga. "Sudah berapa persen Mingyu bekerja, pak?"

fuck you. Mingyu melotot, tak lupa jari tengahnya yang ia acungkan kearah Wonwoo. Tapi Wonwoo malah tersenyum lebar- mengejek. Bapak pemilik kandang ayam sekaligus penjaga taman belakang itu menghela nafas kasar. "Bawa saja temanmu pergi. Bukannya membantu dia malah mengacau!"

Dan Mingyu bersorak senang akan hal itu. Manusia yang baru saja menginjaki sweet seventeennya kemarin itu berlari dengan senang kearah toilet lelaki, sedangkan Wonwoo menunduk hormat pada si bapak. "Terimakasih, pak. Maaf kalau ia sangat mengacau."

"Tak masalah. Awasi temanmu dengan baik agar ia tak lagi kena hukuman Yoon seonsaengnim."

"Nde, arrayo."

Wonwoo membalikan tubuhnya dan berjalan kearah toilet lelaki. Tapi, belumlah ia berbelok koridor, tangannya sudah dicekal dan ditarik. Tanpa bertanyapun, Wonwoo tahu kalau itu Mingyu. Jadilah Wonwoo hanya mengikuti kemana Mingyu berlari. Kaki Mingyu berhenti didepan sebuah tangga yang Wonwoo ketahui sebagai tangga penghubung ke atap sekolah.

"Aku tidak tahu pasti apa yang ada di kupon itu, tapi aku yakin itu berhubungan dengan plastik ditanganmu, kan?" kata Mingyu. Wonwoo mengangguk membenarkan. Lalu Wonwoo menyodorkan plastik itu dan kupon hijau yang sudah dirobek setengah ke Mingyu. "Nih. Selamat menikmati." Wonwoo menarik bibirnya untuk tersenyum 'manis' sebelum berbalik dan pergi.

"Ya Wonwoo. Tak ada yang menyuruhmu untuk pergi, bukan?"

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

Menemani Mingyu makan? Ayolah, Wonwoo tak punya waktu untuk hal itu! Wonwoo berkali-kali berkata tipu muslihat untuk kabur seperti- aku mau beli minum, atau aku mau pipis, atau biarkan aku memastikan pintu atap terkunci atau tidak. Tapi, Mingyu malah jadi menahannya dengan posisi yang... Err.

Bayangkan saja. Wonwoo duduk dengan kaki yang bersila, dan Mingyu yang duduk disebelahnya meluruskan kakinya diatas kaki Wonwoo. Oh, tak lupa, tumit kanan Mingyu berada ditengah-tengah silaan kaki Wonwoo. yang berarti apabila Wonwoo bergerak sedikit, tumit Kim sialan Mingyu itu akan menggesek pada aset pribadinya.

Wonwoo mendengus, namun Mingyu tersenyum puas ditengah acara memakan jjangmyeon ke dua nya.

"Wonwoo, kau tak lapar?"

"Tidak."

"Tak mau mencicipi hm?" Wajah Mingyu mendekati wajah bagian samping Wonwoo. Wonwoo meringis karena nafas Mingyu yang menerpa leher dan telinganya- dan juga ujung hidung Mingyu yang mengenai pipi tirusnya.

"Tidak." Jawabnya mutlak. Mingyu menjauhkan wajahnya. "Begitu... Kalau begitu aku habiskan saja."

"Ya, terserah." Jawab Wonwoo seraya menepis kaki Mingyu dari atas kakinya.

Tak ada suara apapun. Maksud Wonwoo, tidak ada suara kunyahan Mingyu, apalagi suara Mingyu ketika berbicara. Wonwoo pun memutuskan untuk menoleh ke samping. Dan detik berikutnya, nafas Wonwoo tercekat bersamaan dengan jantungnya yang bekerja berlebihan.

Bibir Mingyu yang penuh saus kacang hitam itu menubruk bibir Wonwoo, melumat bibir Wonwoo dengan kasar sebelum memasukan suapan terakhir jjangmyeon yang sudah halus ke mulut Wonwoo. Wonwoo secara kesulitan berusaha menelan jjangmyeon itu sebelum menutup matanya dan membalas ciuman Mingyu dengan lembut dan menuntut.

Pertanyaannya adalah. Sebenarnya, apa yang terjadi diantara mereka?

.

ㅡㅡㅡ쪽쪽ㅡㅡㅡ

.

bagian keempat: membolos

Setelah mencuci tangan dan kembali kekelas, Mingyu merobek kupon biru yang bertuliskan, ayo berdamai. Mingyu tidak paham maksudnya apa, tapi sepertinya Wonwoo merencanakan ini.

"Wonwoo! Lakukan ini."

Wonwoo menghela nafas. "Kau sengaja melakukan ini agar aku lelah seharian?!"

"Tergantung kau menafsirkannya!" Mingyu tersenyum remeh seraya mengecup kelopak mata Wonwoo. Wonwoo memukul wajah Mingyu dan berdiri dari tempat duduknya kemudian keluar kelas. Mingyu tersenyum lebar dan menyusul Wonwoo.

"Maksudmu berdamai di kupon itu, bagaimana?"

"Ya berdamai, bodoh." Wonwoo menghentikan langkahnya dan menatap yang lebih tinggi. "Kau! Berhentilah bertingkah menyebalkan! dan dengan begitu, aku tidak akan naik darah!"

"Hoo. Oke." Mingyu menjawab. Ia mengamit tangan Wonwoo dan menariknya menuju perpustakaan. Wonwoo mengernyit bingung. Yang ia tahu, Mingyu itu libraryphobia. Mingyu anti perpustakaan teramat sangat.

"Kenapa kesini?"

"Di perpustakaan kan tidak boleh berisik. Otomatis aku tidak akan menjahilimu!"

"Nice idea." Komentar Wonwoo kemudian masuk kedalam perpustakaan duluan.

Wonwoo mengambil posisi dipaling pojok perpustakaan. tak lupa, Wonwoo mengambil buku berjudul "Probably" sebelum tiduran dikarpet pojokan. Mingyu mendelik tidak suka melihatnya. Ia mendudukan dirinya dibagian kepala Wonwoo, dan Wonwoo otomatis meletakkan kepalanya diatas paha Mingyu.

"Ayo membolos!"

Mingyu terkejut atas penuturan Wonwoo. "Kau sehat?"

"Ayolah." Wonwoo menutup bukunya dan memanyunkan bibirnya. "Aku lelah"

"Okelah." Mingyu tersenyum sebelum mengecup bibir Wonwoo singkat.

berdetik-detik, hingga bermenit-menit berlalu, Wonwoo dan Mingyu saling menghening satu sama lain. Dan Mingyu tidak suka keadaan ini.

"Ya Wonwoo!"

"hm?"

"Kau tahu tidak, apa bedanya buku dengan kau?"

"What?" Wonwoo memutuskan pandangannya dari bukunya dan melihat Mingyu. "Kalau buku bisa dibuka-buka oleh semua orang. kalau kau hanya bisa dibuka-buka olehku."

Bruk!

"Awh! Wonwoo!"

"Fuck you Mingyu! Selamanya Aku tidak sudi dibuka-buka olehmu, bodoh!"

Dan perjanjian kupon ayo berdamai berakhir didetik setelah Wonwoo melempar Mingyu dengan kamus besar bahasa Indonesia.

Pertanyaannya adalah. Kenapa Mingyu jadi cheesy begitu?

.

ㅡㅡㅡ쪽쪽ㅡㅡㅡ

.

bagian kelima: lagi, bukan teman?

Mingyu menutup buku latihannya ketika bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Ia menguap sebentar sebelum memasukan buku tulis dan satu-satunya pena yang iya punya. Tapi matanya terpaku pada karton putih didalam tasnya. Oh- itu kado dari Wonwoo.

Mingyu mengambil lipatan kertas itu dan membukanya. Ia lalu membaca dengan benar isi-isi kupon itu, dan mencabut kupon berwarna pink.

Mingyu cepat-cepat merapihkan barang-barangnya ketika melihat Wonwoo keluar kelas, dan mengejar Wonwoo.

"Wonwoo!"

Badan kurus Wonwoo berhenti berjalan. Namun tidak berbalik. Mingyu mempercepat langkahnya agar dapat bersebelahan dengan Wonwoo. Tangan Mingyu menyodorkan kupon pink itu. "Lakukan ini."

Wonwoo melirik isi kupon yang ia tulis. Menjadi babumu selama 30 menit kedepan.

"Oke." Wonwoo menjawab dengan tenang seraya merobek kecil kupon pink itu.

Padahal, dalam hatinya ia mengutuk. Apa yang sudah aku tulis.

Mingyu menyeringai. "Oke, babu Jeon. Sekarang kau harus ikut aku kemanapun aku pergi. Ku perintahkan kau untuk membawa semua belanjaanku dan menjadi bodyguardku!"

Wonwoo mengangguk. "Tak masalah. Aku mulai waktunya sekarang."

Mingyu melempar tasnya ke Wonwoo. "Bawa ini. Ayo ke toko buku!"

"Damn you." geram Wonwoo karena lemparan tas yang mengenai hidung bangirnya.

Wonwoo berjalan dibelakang Mingyu yang sibuk memilih buku komik di rak bertitel ecchi. Ia fikir Mingyu sudah taubat dan akan membeli buku pelajaran. Taunya tetap saja, bacaannya seperti itu. Wonwoo memutar bola matanya sebal. Mana tas Mingyu berat lagi. hish.

Selepas dari toko buku, Mingyu berjalan kearah kedai bubble tea yang tak jauh dari toko buku. Wonwoo melihat jam tangannya. Sudah 22 menit berlalu. tinggal 8 menit lagi menuju kebebasan dari neraka dunia Mingyu.

"Mingyu-ah!"

Wonwoo menoleh kearah suara yang cempreng itu. Wonwoo melihat sesosok bogel berambut pirang ke merah muda-an menjijit dan memeluk Mingyu dengan ramah. Wonwoo bertanya-tanya. Siapa dia? Apalagi, Mingyu terlihat tersenyum ramah dan mengusak rambut di bogel itu.

Daripada menyusul Mingyu, lebih baik Wonwoo mengambil duduk yang agak jauh dari Mingyu dan menguping pembicaraan mereka.

"Apa kabar, Gyu?"

"Baik. Bagaimana denganmu?"

"Aku juga." Si bogel tersenyum manis. "Apa waktumu kosong? Mau nonton bersamaku?"

Mingyu menggeleng. "Tidak. Aku kesini bersama temanku."

Pip. Pip. Pip.

Wonwoo tersenyum miring. Suara alarm jam tangan Wonwoo berbunyi. Ia berdiri dan berjalan ke meja dimana Mingyu dan si bogel yang entah namanya siapa bercakap-cakap. Lalu Wonwoo melempar tas Mingyu ke meja mereka. "Waktumu habis. Aku pulang duluan."

Wonwoo lalu pergi dari sana tanpa berkata apapun lagi. Si bogel memiringkan kepalanya bingung, tapi kemudian tersenyum lagi. "Temanmu pulang duluan. Mau nonton film denganku tidak?"

"Tidak, Jihoon." Mingyu langsung mencangklongkan(?) tasnya kebahunya dan berdiri. "Aku duluan!"

"Mingyu!"

Tapi Mingyu acuh padan panggilan si bogel yang ternyata bernama Jihoon, dan fokus mengejar Wonwoo yang hampir menghilang diantara manusia-manusia sibuk.

"Jeon Wonwoo!"

"Apa?" Wonwoo berhenti sambil menjawab dengan dingin. Mingyu menarik Wonwoo kesebuah lorong kecil terdekat dan mengunci badan Wonwoo.

"Kau kenapa hm?" Mingyu mendekati wajahnya pada wajah Wonwoo yang merah padam. Mingyu sadar betul ada yang aneh dari Wonwoo. Mata anak itu tidak datar seperti biasa, tapi... itu tatapan nanar. Wonwoo jarang sekali menatap Mingyu seperti itu, kecuali...

"Kau cemburu?" :

"Teman ya?" Sabet Wonwoo langsung, kemudian tersenyum remeh. "Kau tau betul aku bukanlah tipe orang yang cemburuan, sialan."

Wonwoo mendorong Mingyu kasar dan melenggang pergi dengan cepat, meninggalkan Mingyu yang kebingungan.

Pertanyaannya adalah. Bagaimana readerku menafsirkan apa yang terjadi diantara mereka?

.

.

.

edisi 8 april 2016

.

aku kemarin baca ada yang komentar: "masak iya, jeon bohyuk jadi adik tiri sedangkan yang jadi adik kandung nya orang asing?"

jawabanku: karena ini fanfiksi, jadi kufikir menjadikan bohyuk jadi adik tiri wonwoo bukanlah hal yang haram. dan juga, awalnya kuketik yang adik tiri itu jungkook, tapi umur bohyuk kan, lebih muda dari jungkook.

jadi aku twist. aku penyuka twisted-fortune kalau difanfiksi.

review please? karena review kalian adalah pupuk penyemangat bagi penulis!