Pena bertinta hitam yang Mingyu pegang menari-nari di atas buku tugasnya dengan lincah. Mingyu sesekali membuka buku paket dan catatannya untuk mencari jawaban dari soal-soal yang diberikan dosennya tadi pagi. Mingyu mengusap matanya yang terasa sangat berat. Ini sudah tengah malam dan dia masih harus berkutat dengan kertas-kertas sialan ini! Ini semua karena dosen sialan—
Tok Tok Tok!
Mingyu mengurungkan niatnya yang hendak memaki dosennya ketika mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Hatinya bertanya-tanya, orang macam apa yang bertamu di tengah malam? Tunggu, apa bahkan yang mengetuk pintunya adalah seorang manusia? Bagaimana jika itu adalah vampire atau gumiho? Astaga, Mingyu masih ingin hidup!
Tiba-tiba saja Mingyu menjadi paranoid mengingat dia tinggal seorang diri di sini dan seorang Kim Mingyu tidak menyimpan senjata apapun di rumahnya bahkan untuk melindungi dirinya sendiri. Mingyu berjalan mendekati pintunya dengan gemetar.
"Kim Mingyu! Bukakan aku pintu! Kenapa lama sekali sih!" seru seseorang di luar sambil mengetuk pintu rumah Mingyu dengan kasar.
Mingyu menautkan alisnya.
Sial.
Itu bukan vampire atau gumiho—itu bahkan lebih parah dari siluman mana pun!
UNEXPECTED
CH. 2 — Taruhan?
by diciassette
"Aku akan masuk sekarang! Pintu tidak kau kunci kan?" tanya seseorang di luar.
Mingyu tidak membalasnya sama sekali. Pemuda itu memilih untuk kembali duduk di depan meja belajarnya dan memfokuskan pikirannya pada tugas-tugasnya yang masih menumpuk.
Mingyu bahkan tidak mengalihkan pandangannya ketika seorang pemuda berambut kelam berjalan memasukki rumahnya.
"Kau bahkan tidak menyapaku? Oh, lupakan itu, bahkan kau tidak membukakanku pintu." Desis Wonwoo sambil meletakkan kopernya di samping lemari Mingyu.
Tunggu. Koper?
Mingyu menoleh dan memperhatikan Wonwoo dari atas sampai bawah. Pemuda itu memakai parka tebal dengan syal yang menggulung di antara lehernya. Dia juga membawa dua buah koper yang lumayan besar. Mingyu memiringkan kepalanya—merasa ada yang tidak beres.
"Apa maksudnya ini?" tanya Mingyu sambil menunjuk dua koper Wonwoo.
Wonwoo mengikuti arah jari Mingyu dan menatap Mingyu lagi. "Aku akan menginap di sini."
Mingyu hendak membuka mulutnya—untuk protes—sebelum Wonwoo melanjutkan kalimatnya. "Ayah pergi dinas ke Busan selama sebulan. Dia menyuruhku untuk menginap di rumahmu." Jelas Wonwoo. Mingyu membulatkan mata dan mulutnya—sudah bersiap untuk menenggelamkan dirinya ke dalam samudra Pasifik saat itu juga.
"Ta—tapi, bagaimana bisa? Dia tidak memberitahuku sama sekali tentang ini." Protes Mingyu.
Wonwoo menoleh ke arah Mingyu yang memasang tampang frustasinya. "Apa kau tidak mendapatkan pesan darinya? Dia bilang dia sudah mengirimkanmu pesan soal ini." Jawab Wonwoo santai sambil melepas parka coklat mudanya.
Mingyu menatap Wonwoo sinis dan meraih handphone-nya yang sejak tiga jam yang lalu tidak ia sentuh—karena mengerjakan tugas.
From: Sajangnim.
To: Mingyu.
Wonwoo akan ke rumahmu malam ini. Aku dinas ke Busan selama satu bulan. Aku harap kau bisa menjaganya dengan baik, Mingyu. Gajimu bulan ini dan untuk bulan depan sudah aku transfer. Terima kasih bantuannya.
Mingyu menatap Wonwoo sedih. Demi Tuhan! Dia benar-benar ingin menendang Wonwoo keluar dari rumahnya saat ini. Rumahnya bahkan sangat kecil untuk satu orang dan hell, dia harus menampung Wonwoo di sini?
"Wonwoo, apa tidak sebaiknya kau menginap di apartement keluargamu—maksudku, lihatlah, rumahku ini kecil dan pasti tidak cocok untukmu—"
"Ssst, diamlah. Aku sedang mencoba untuk tidur." Balas Wonwoo sambil membetulkan letak bantalnya. "Oh iya, lebih baik kau cepat selesaikan tugasmu itu, Mingyu. Aku tidak bisa tidur dalam keadaan terang seperti ini." Lanjutnya.
Mingyu jaw-drop. Kalau Wonwoo tidur di matrasnya.
Lalu, dia tidur di mana?!
.
.
Mingyu terbangun ketika hidungnya mencium aroma makanan dari arah dapur. Siapa yang memasak? Apakah si Jeon-manja-Wonwoo itu bisa memasak?
Mingyu merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah semalaman tidur di atas sofa kerasnya. Karena tentu saja dia lebih memilih tidur di atas batu daripada harus satu ranjang dengan Wonwoo. Mingyu berjalan ke arah dapur dan benar saja, Wonwoo sedang sibuk menata meja makan kecilnya dengan beberapa makanan.
"Oh, kau sudah bangun? Duduk, duduklah, Mingyu!" sambut Wonwoo sambil tersenyum.
Mingyu memutar bola matanya malas. Apa ini? Kenapa dia merasa seperti suami yang baru bangun dan Wonwoo terlihat seperti istri yang tengah menyambut suaminya? Sial, dia pasti akan dibully gila-gilaan oleh Seokmin nanti.
Mingyu menatap meja makannya yang hampir dipenuhi oleh makanan hari ini.
"Apa kau memasak ini semua?" tanya Mingyu yang mulai memakan kimchi tanpa menatap Wonwoo.
Wonwoo mendesis. "Apa kau gila? Apa kau kira aku doraemon atau sejenisnya?"
"Lalu, dari mana kau dapatkan ini semua?" tanya Mingyu yang kembali memasukkan bulgogi ke dalam mulutnya.
"Aku memesannya."
Mingyu mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus menyantap hidangan yang tersedia di atas mejanya dengan senang. Menampung Wonwoo di rumahya membawa dampak positif pada sisi ekonominya— karena dia tidak perlu mengkhawatirkan soal makanan sehari-hari.
.
.
Mingyu memandang malas Seokmin yang sejak lima menit yang lalu tertawa terpingkal-pingkal—bahkan pemuda itu sempat tersedak karena terlalu semangat tertawa.
"Berhenti atau aku akan memotong lehermu berkeping-keping, Lee Seokmin." Ancam Mingyu dengan suara beratnya.
Seokmin berusaha menutup mulutnya untuk meredakan tawanya. "Terima kasih, kawan. Kau benar-benar harus menghentikanku sebelum aku mati tertawa karena ceritamu itu."
Mingyu memutar bolanya malas dan memilih untuk berkutat dengan tugasnya yang belum sempat ia selesaikan semalam.
"Jadi, beri tahu aku Mingyu. Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" Seokmin menurun-naikkan alisnya dengan jenaka.
Mingyu menatap Seokmin dengan death-glarenya. "Apa maksud perkataanmu barusan Lee Seokmin?"
Bukannya takut, Seokmin malah semakin tertarik untuk menggoda sahabatnya itu. Dia menyenderkan bahunya ke kursi dan memandang ke arah lain sambil tersenyum usil. "Ya, karena kau tinggal satu atap dengannya, tentu saja akan terjadi hal-hal yang—"
"Demi Tuhan! Apa yang baru saja kau bicarakan Lee Seokmin?"
Mingyu dan Seokmin menoleh ke arah Nayoung—teman sekampus mereka—yang baru saja menjerit.
"Bicara?" Seokmin menoleh ke arah Mingyu seakan bertanya. "Bicara apa maksudmu?" tanya Seokmin tidak mengerti.
Nayoung menghela nafas dan mengambil tempat duduk di samping Mingyu.
"Jalang mana yang berani tinggal satu atap dengan Mingyu-ku?" tanya Nayoung sambil memeluk lengan Mingyu.
Mingyu menatap Nayoung risih dan berusaha melepaskan pegangan gadis itu tapi sepertinya Nayoung masih tetap bertahan pada posisinya.
"Jalang apa maksudmu? Aku ini laki-laki, lho."
Mereka bertiga menoleh ke arah Wonwoo yang baru saja tiba dengan wajah datarnya.
Nayoung mendelik dan semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Mingyu. "Oh, jadi kau yang tinggal bersama Mingyu? Baguslah. Aku kira Mingyu tinggal dengan seorang gadis. Karena kau laki-laki aku tidak perlu khawatir kalau Mingyu akan menyukaimu. Benar kan?"
Wonwoo terkekeh pelan dan menarik tangan Mingyu sampai membuat pemuda berkulit tan itu bangkit dan otomatis melepaskan pegangan Nayoung. "Seharusnya kau lebih khawatir karena aku yang tinggal dengannya." Balas Wonwoo tidak mau kalah.
Mingyu mengerutkan dahinya sambil memandang Wonwoo dan Nayoung yang sedang mengadu death-glare masing-masing.
Nayoung bangkit dari duduknya dan menghadap Wonwoo. "Apa maksud perkataanmu, Wonwoo?"
Wonwoo tersenyum sinis. "Apa kau tidak mengerti, Nayoung? Astaga, apa kau selalu sebodoh ini?"
Sindiran Wonwoo membuat Nayoung emosi membuncah. Dia menatap Wonwoo dengan tajam menusuk. "Mari kita bertaruh, Jeon Wonwoo."
Wonwoo menaikkan sebelah alisnya—tertarik—sambil menunggu gadis di depannya melanjutkan kalimatnya. "Bertaruh apa?"
Nayoung tersenyum kecut. "Siapa yang lebih dulu berhasil membuat Mingyu jatuh cinta, dia yang berhak mendapatkan Mingyu." jawab Nayoung yang masih menatap tajam Wonwoo.
"Lalu, apa yang terjadi padamu—ah, maksudku, apa yang terjadi pada pihak yang kalah?" tanya Wonwoo sarkasme.
Nayoung mengepalkan tangannya kesal dan menjawab. "Pihak yang kalah harus pergi dari kehidupan Mingyu."
Wonwoo tersenyum kecil. "Itu saja?"
"Selamanya." Lanjut Nayoung dengan smirk di wajahnya.
Wonwoo mengangguk-angguk dan mengulurkan tangannya. "Deal?"
Nayoung tersenyum dan mengangguk mantap, dia menerima uluran tangan Wonwoo. "Deal."
Mingyu tertawa tidak percaya dan menatap aneh dua manusia yang baru saja berbicara tentang taruhan.
"Hey, apa aku terlihat semurahan itu sampai kalian membuatku sebagai bahan taruhan? Aku tidak akan jatuh cinta pada salah satu dari kalian!" bantah Mingyu.
"Well, nothing is impossible, Kim Mingyu." balas Wonwoo.
Mingyu mendesis dan melirik ke arah Seokmin yang sepertinya sedang kesusahan menahan tawanya.
"Bangun Lee Seokmin. Kita pergi dari sini." ajak Mingyu sambil menarik kerah baju Seokmin—pergi mengeluari kelasnya.
Nayoung menatap kepergian Mingyu dan kembali menatap Wonwoo. "Waktumu hanya satu bulan, Jeon Wonwoo." Ucap Nayoung sebelum melangkahkan kakinya keluar.
.
.
Wonwoo membuka pintu rumah Mingyu dengan lesu. Kakinya berjalan ke arah matras dan mendudukkinya. Wonwoo menghela nafas. Matanya terpejam dan dahinya mengerut.
Sepertinya Mingyu marah karena taruhan konyol yang ia dan Nayoung perbuat tadi. Wonwoo sendiri juga merutukki perbuatan bodohnya tadi. Entah kenapa hatinya panas sekali ketika melihat Nayoung memelukki lengan Mingyu.
Wonwoo terbawa emosi dan langsung menyetujui tawaran Nayoung tanpa berpikir panjang.
Wonwoo terkekeh pelan menyadari kebodohannya. Bagaimana mungkin dia bisa membuat Mingyu menyukainya hanya dalam satu bulan? Hell, satu abad bahkan tidak cukup untuk membuat Mingyu menyukainya!
Wonwoo tahu betul Mingyu itu membencinya. Wonwoo tahu kalau Mingyu tidak suka ia tinggal di rumah ini. Wonwoo tahu karena Wonwoo tidak bodoh.
Tapi, Mingyu itu sangat penting untuknya. Wonwoo menggambarkan Mingyu sebagai oksigen yang sangat ia butuhkan. Wonwoo hampir menteskan air matanya ketika mengingat taruhannya dengan Nayoung—yang mengharuskan pihak yang kalah pergi dari kehidupan Mingyu selamanya. Bagaimana kalau dia kalah? Apa dia harus menjauhi Mingyu?
Wonwoo menggeleng kuat. Dia harus memenangkan pertaruhan bodohnya ini. Tapi, bagaimana caranya?
A/N: sooo- adakah yang menunggu kelanjutan fanfict-ku yang ini? aku kena WB pas mau lanjutin fanfict ini dan voila! sekarang jadi begini. anyway, aku udah ngetik kelanjutan fanfict ini untuk chapter berikutnya! kalau responnya bagus aku akan fast update—soalnya udah liburan hahaha. so, last but not least, review please!
