GAH! Akhirnya jadi juga chapter ke-1 nya (TT^TT).

Pada chapter ini belum ada romancenya, mungkin masih sejenis perkenalan kali ya? Pokok'e pada chapter ini akan muncul Kise, Akashi, dan Kasamatsu. Untuk Aomine mungkin bakal muncul pada chapter berikutnya~

So… STAY TUNED!

o

o

DISCLAIMER

I DON'T OWN KUROKO NO BASUKE

(Unless he want to)

But OC belong to me 3

o

o

"Riko~ kamu tau tempat untuk nyari pekerjaan sambilan yang bagus nggak?" tanyaku sambil menaruh daguku di meja. Teman sebangku ku Riko lngsung menatapku heran.

"Yah…. Sekalipun ada pasti kakakmu nggak bakal mengizinkan" ucapnya sambil menekankan kata 'kakakmu'.

Aku menghela nafas, "Justru karena dia nggak bakal tau aku mau nyari kerja sambilan. Kan lumayan buat ngisi tabungan"

Riko menatapku kaget. Bulu kuduknya berdiri. "Kok bisa? Kamu tau kan… dia punya berbagai kuping yang selalu mendengar?" lalu dia berbisik "Dan kalau sampai ketahuan mungkin aku bakal d penggal"

Untuk kedua kalinya aku menghela nafas. "Sudah kubilang, dia nggak bakal tau. bulan depan kan bakal ada acara 'Gelar Apresiasi Siswa', jadinya minggu-minggu ini tuh anggota OSIS lagi sibuk-sibuknya. Dan aku yakin kalau dia pulangnya malam terus."

Riko menekuk lehernya kearah kanan, dan memasang muka 'maksud?'.

"Ya ampun Riko-tan! Kadang aku bingung kenapa kamu menduduki ranking 2 disekolah kita!" aku mendekatkan mukaku. "Maksudku kalau dia pulang malem berarti aku juga bisa pulang malem."

"OH!" kini Riko baru mengerti. Tapi tetap saja ia tidak setuju setelah aku meminta mencarikan tempat kerja sambilan.

Riko berpikir bahwa 'Mencari masalah dengan Akashi = nyari mati', dan tetunya itu salah. Makanya aku berusaha meyakinkannya dengan seribu satu macam cara. Mulai dari ala mba-mba SPG sampai penipu kelas kakap.

Hingga pada akhirnya, setelah aku meyakinkannya dan menanyainya secara berulang-ulang dengan kata-kata yang bisa dibilang sama, Riko menyerah. Kini aku mengetahui rasanya pahlawan-pahlawan yang berhasil mengusir penjajah.

"Oke, aku ada satu pekerjaan nih" Riko mengubek-ubek tas sekolahnya, dia berusaha mencari selembaran kertas yang didapatkannya tadi siang.

"um…. Pekerjaannya itu menjadi maid di café tante ku. Bayaran itu 2000 yen per jam" katanya setelah memberikanku kertas berwarna baby blue tersebut.

Mataku mebelakak, "Dua ribu yen per jam?!" tanyaku kaget.

Ini pertama kalinya aku mencari pekerjaan sambilan, dan hal pertama yang muncul di kepalaku adalah 2000 yen itu uang yang lumayan banyak untuk dicari dalam satu jam.

"Jadi gimana nih? Setuju nggak?"

"Banget!"

xoxoxoxoxox

Oke, aku mau review dulu…..

Ceritanya aku disini berperan sebagai seorang ojou-sama yang sifatnya itu tsundere…

Setiap ada pengunjung yang datang aku berkata 'ngapain kamu kesini lagi?!' sambil marah-marah. Dan ketika pengunjung itu mau pulang aku bilang 'ja-jangan lupa datang lagi ya!' sambil memasang muka malu.

Absurd tingkat kecebong anyut.

….

Tapi setidaknya ini masih lebih baik dibandingkan harus bertatap muka dengan kakakku setiap hari. Dan aku sangat beruntung karena Akashi nggak punya fetish maid maupun orang yang sifatnya tsundere, jadi aku yakin 100% kalau aku kerja disini si kepala merah itu nggak bakal menemukanku.

"Hee, ketua! Aku baru tau kalau kamu suka ke tempat beginian!" ucap seseorang tepat berada di belakangku.

Maksudnya apaan 'tempat beginian' ?!.

"Ssst! Berisik kamu Kise!" balas orang yang dipanggil 'ketua' tadi, pipnya bersemu merah.

Orang bersurai kuning itu lalu duduk disebelahnya, kepalanya menari-nari penasaran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

*TING*

Bunyi dari dapur sebagai tanda kalau makanan sudah selesai mengkagetkanku. Hampir saja aku menjatuhkan piring kotor di nampanku.

Dengan bergegas aku melangkahkan kakiku ke dapur, menaruh piring kotor di atas wastafel, dan mengambil makanan yang baru saja jadi. Sebuah parfait degan toping pisang,

Gila, mungkin yang makan ini lagi ngidam kali ya… pikirku setelah memperhatikan banyak sekali makanan berbau pisang di dalamnya. Entah itu berupa es krim hingga ke pisang beneran.

"Kaichou, ini buat nomor berapa?" tanyaku ketika menyadari kalau makanan tersebut tidak diberi keterangan siapa yang memesan. Dan aku pasti yang memesan adalah seorang wanita, kayaknya nggak banget deh laki-laki makan parfait.

"Oh, gue lupa naroh nomernya, itu buat nomer 4." Ucap Ruka atau Kaichou, dia sedang berperan sebagai seorang ketua yankee, dan perbedaannya ketika dia sedang dalam keadaan normal? 180 derajat!.

Aku melongokkan kepalaku ke luar, berusaha mencari tau siapa yang duduk di nomor 4. Mata ku membelakak, ternyata cowok yang dipanggil ketua dan orang aneh bersurai kuning tadi!

Aku menhirup nafas dalam-dalam.

"Kamu! enak saja kamu menyuruh saya membawa makanan ini kesini!" dengan kasar aku menaruh parfait di depan mukanya, aku memulai peran ku.

"EH?!" cowok bersurai kuning itu menatapku kaget. "ketua…. Jangan bilang kamu itu 'M' ya?"

Mukanya langsung merah, seperti kepiting rebus. "M-ndas mu!" ucapnya.

Aku menaruh tanganku di pinggang, dengan sedikit tatapan 'watch your mouth fool' kepada pria bersurai kuning tadi. Mungkin kata kesal masih terlalu baik untuk menjelaskan perasaanku saat ini.

"Oi! Sekarang kamu malah nyuekin aku gitu?!" tanyaku lagi, tentu saja sesuai dengan peran ku. Eum…. Mungkin ada campuran kesal disana.

"eh… eum…. Ano…" cowok bersurai hitam itu menatap parfait di depannya, Mukanya sekarang seperti tomat mateng. lucu banget.

Melihat tingkah ketuanya, cowok bersurai kuning.. nggak, cowok menyebalkan tadi angkat bicara. "Maid-san, ketua ku ini sangat malu untuk berbicara kepada perempuan. Jadi ku harap kamu tidak mem-bully-nya"

"Oh iya. Maid-san, aku boleh mesen omu-rice nggak? Aku dengar kalau di tempat-tempat seperti ini omu-rice nya enak" ucapnya lagi.

OK. Kini aku ada alasan untuk menjauh darinya….

"HMPH!" aku berjalan kesal kearah dapur. tapi dalam hati aku berteriak kegirangan.

…..dan 5 menit berikutnya aku menyadari kalau penderitaanku masih berlanjut.

xoxoxoxoxooxoxoxoxox

Besok harinya…

"berdiri, bungkuk!" ucap ketua kelas ketika bel pelajaran ke-dua sekaligus istirahat berbunyi. Dengan serentak semua murid melakukannya.

Setelah selesai aku langsung membanting tubuhku ke kursi. "akhirnya…. Untuk pertama kalinya aku merasa istirahat itu adalah anugerah tuhan"

Riko menatap ku geli, "Heh, walaupun selama pelajaran berlangsung kamu udah 'istirahat'?"

Aku tertawa kecil, memang sih… selama pelajaran fisika berlangsung aku tertidur pulas di kursi ku. Tapi anehnya tidak seperti murid lain aku tidak kena timpuk di kepala dengan penghapus papan.

"Itu mungkin karena para guru mengiramu sedang membaca buku dengan serius. Sampai-sampai kamu tidak memperhatikan ke depan" ucap Riko seakan membaca pikiranku.

"Mungkin itu untungnya menjadi ranking satu di angkatan kita" lanjutnya lagi.

.

.

.

Rangking satu ya….. di mataku itu hanya sebuah nomer.

.

.

.

*kruyuk*

"AAH" aku berteriak, berusaha menyembunyikan suara tadi.

"Haru… buruan gih pergi ke kantin, suara perutmu membuat kita ,menjadi pusat perhatian" ucap Riko setengah berbisik. "Oh iya, aku nitip susu ya!"

"bilang saja kamu malas jalan!" ucapku ketika berada di ujung kelas.

Perjalanan dari kelas menuju kantin itu sangan memalaskan. Coba bayangin deh, kamu harus turun 3 lantai dan jalan ke gedung lain hanya untuk mencari makanan yang bisa dibilang rasanya 'biasa' banget.

Tapi daripada mati kelparan mendingan jalan aja deh. Aku nyesal hari ini nggak membawa bekal.

"Haruna"

Aku terdiam sebentar. Suara baritone yang khas itu memanggil namaku. Namun aku tetap saja melangkah maju seperti suara yang memanggilku tadi itu hanya angin yang bertiup.

Dan itu membuat si pemilik suara kesal.

"Tch. Haruna" ucap sang pemilik suara sedikit kesal "kalau kamu nggak menengok ke sini-"

"APA baka-niki (baka aniki) ?" aku menengok ke arahnya. Seperti biasa, tanpa ekspesi di wajahnya.

"Aku dengar kamu tertidur di kelas saat pelajaran berlangsung" ucapnya seraya mendekat kearah ku.

Huh? Memdengar? Sejak kapan aku menjadi bahan gossip? Belum lagi hal yang dibicarakan nggak menarik amat.

Aku menelan ludah, matanya yang berwarna-warni itu menatapku tajam. Entah kenapa banyak orang yang mengatakan kalau warna matanya indah .Tetapi, menurut ku warna matanya itu aneh. Heterochromatic eyes.

"Siapa yang ngomong begitu?" aku balik bertanya kepadanya. Tanpa menyebutkan jawaban yang sebenarnya.

Baka-niki terdiam, dan dalam hitungan detik ujung mulutnya sudah terangkat keatas. "Ada…..".Kini dia menatapku tajam lagi, "kamu tertidur di kelas atau tidak?".

"Iya" tanpa sadar mulutku mengucapkan jawabannya.

"Kamu tau apa yang akan terjadi jika kamu mencoreng nama baikku kan?"

"…"

"Haruna Akashi!" dia memanggil ku lagi. Dan jika baka-niki memanggilku dengan sebutan ini berarti dia sudah mulai geram.

"tau ah! Aku mau ke kelas" aku langsung memtuar arah jalanku dan berjalan agak cepat. "Oh iya…." Aku berhenti sebentar, dan menengok kearahnya. "Haru memang tidur saat pelajaran, tapi itu nggak membuat kak AKASHI meninggal kan?" tanyaku. Pergi menjauh.

Ketika sampai di kelas aku mengumpat kepada diriku sendiri karena lupa membeli makanan. Salah, seharusnya aku mengumpat si kepala merah itu!.

xoxoxoxoxoxo

THX udah ngebaca FF pertama ku ini / aku masih kurang ngerti tentang menggunakan website ini dengan pro, jadi harap maklum ya!

NB : Incest? Stay tuned! (Deeranyan nggak percaya bakal ngetik begituan)