Sixth Sense

Disclaimer:

Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujimaki

Sixth Sense by Aoko Himawari


CHAPTER 1

"Ryouka-chaaaannn!" Sosok perempuan bertubuh jangkung dengan surai blonde menengok ke arah datangnya suara cempreng dan keras yang datang dari belakang tubuhnya. Dengan manik kuning madu-nya, ia dapat melihat si pemilik rambut pink menghampirinya dengan berlari lalu memeluk kencang perempuan bersurai blonde itu.

"Momoicchi!" Tak kalah kencang, perempuan bersurai blonde itu juga berteriak kencang. Kedua tangan putihnya ia arahkan untuk memeluk tubuh perempuan yang lain juga.

"Akashi-kun memanggilmu ke gym. Ada apa, ya?" si perempuan bersurai pink yang biasa dipanggil Momoi itu melepaskan kedua tangan putihnya dari tubuh perempuan yang tadi ia peluk erat.

"Akashicchi memanggilku? Ta-tapi aku harus mengumpulkan tugas dulu 'ssu." Perempuan bersurai blonde bernama Kise Ryouka juga melepaskan pelukannya. Ia harus mengumpulkan tugas penting terlebih dahulu, namun ia tak memiliki dan tak akan pernah memiliki niat untuk tidak datang ke gym sekarang juga. Tak lain, tak bukan, karena perintah kapten tim Teikou yang bersurai merah itu harus ditepati sekarang juga, atau itu berarti ia sudah tak menyayangi nyawanya lagi.

"Eh?! Bagaimana, ya? Umm–" Momoi berpikir keras, memikirkan cara agar teman kuningnya ini terhindar dari 'amukan' sang kapten. "Ah! Bagaimana kalau aku yang mengumpulkan tugasmu dan kau pergi ke gym?"

"Baiklah. Terima kasih, ya 'ssu." Ryouka memberikan selembar kertas yang sejak tadi dipegangnya kepada Momoi. Ia melambaikan tangannya ke arah Momoi, lalu berlari ke gym setelah Momoi juga melambaikan tangan kepadanya. Sesampainya di gym, Ryouka melihat anggota first string Teikou sudah memulai latihan mereka. Dari pintu gym, melihat keseluruhan isinya, Ryouka berteriak memanggil nama sang kapten dengan cemprengnya. "Akashicchi!"

Latihan berhenti. Semua menatap sosok Ryouka yang dengan senyum tak berdosa-nya, berdiri melambaikan tangannya. Akashi, dengan wajah datarnya, menghampiri sosok Ryouka di pintu gym setelah memberitahukan kepada 5 orang dengan surai berbeda-beda untuk melanjutkan latihan.

"Apakah membutuhkan waktu lama untuk datang?" Dengan intonasi yang arogan dan berisi dominasi yang kuat, Akashi mengeluarkan suaranya, menatap manik kuning madu di hadapannya dengan tajam. Si pemilik kuning madu mengalihkan tatapan matanya.

"Ti–tidak, Akashicchi." Ia tersenyum gugup, penuh ketakutan bahwa beberapa menit, tidak, beberapa detik lagi sang kapten akan meluncurkan gunting tepat di dahinya.

"Lalu mengapa kau membutuhkan waktu begitu lama? Dan, Ryouka," Akashi menghentikan ucapannya sambil menekankan pada kata-kata 'Ryouka', membuat bulu kuduk sang pemilik nama berdiri, "tatap mataku, saat berbicara denganku." Dengan penuh dominasi, perintah, dan bersifat ancaman untuk sang perempuan, Akashi melanjutkan. Mau tak mau, suka tak suka, hal ini membuat sang perempuan menatap manik merah sang Akashi Seijuurou.

"Ta-tadi aku mau mengumpulkan tugas dulu 'ssu. Ja-jadi, apa yang membuat Akashicchi memanggilku 'ssu?" Tanya sang perempuan, mecoba mengalihkan pembicaraan.

"Apa kau sudah membuat rencana untuk pertandingan ke depan?" Bukan, itu bukan pertanyaan. Itu adalah perintah yang harus dijawab dengan sebuah jawaban 'ya'.

"Ya, Akashicchi." Sesuai ekspetasi, dan karena seorang Akashi yang absolut, ia mendapatkan jawaban yang sudah ia harapkan dan sudah ia tahu. Akashi tetap mengatupkan bibirnya, mengetahui bahwa sang perempuan yang berperan sebagai manager, berdua dengan Momoi, akan melanjutkan kata-katanya. "Strategi ini sudah ku seleksi dari pengalaman kita tahun-tahun yang lalu, dan Momoicchi juga sudah mencari informasi-informasi untuk lawan kita selanjutnya di putaran pertama Inter-High tahun ini." Ryouka mengambil sebuah kertas yang dilipat empat di saku roknya, kemudian ia memberikan kertas itu pada Akashi. Tepat saat itu, gadis pemilik surai pink berlari ke arah mereka berdua.

"Akashi-kuunn!" Entah ia selalu bersifat seperti itu pada semua orang, Momoi dengan suara cemprengnya memanggil nama sang kapten seperti ia memanggil orang lain. Sama halnya juga, seperti ia biasa menyapa orang lain, sang gadis pemilik surai pink itu memeluk kapten Teikou dengan erat.

"Satsuki, lepaskan." Cukup dengan dua kata dari bibir dan tatapan tajam namun datar dari mata sang Akashi dapat membuat sang gadis bersurai pink terpaksa melepaskan pelukan eratnya sambil memajukan bibirnya.

"Mou, Akashi-kun–" Momoi baru saja akan mengeluarkan protesnya saat suara dingin Akashi memotong kalimatnya.

"Berniat menentangku, Satsuki?" Bukan pertanyaan, sekali lagi, meskipun nadanya bagi orang luat adalah pertanyaan. Namun, bagi mereka yang sudah mengenal Akashi 'cukup dekat', kalimat, bukan, kata-kata itu berarti ancaman.

"Ti-tentu saja tidak, Akashi-kun." Momoi mengeluarkan senyum gugupnya, lalu melihat sosok orang yang disukainya sedang berlatih, melakukan pass-pass terbaiknya dan berharap tidak akan mengecewakan dan tidak menjadi beban bagi orang lain, Momoi langsung memerintahkan kakinya untuk berlari sambil merentangkan kedua tangannya.

"Tetsu-kuuunnn!" Detik berikutnya, saat seorang pemain berambut baby blue ingin mendorong bola itu, membelokkan arah operan bola, ia sudah dipeluk erat oleh Momoi.

"A-aku tidak bisa bernafas Mo-Momoi-san." Sang pemain bersurai baby blue mengeluarkan suaranya. Momoi seperti tidak mendengarkan suara pemain bersurai baby blue itu yang tergolong cukup pelan. Ia masih terus bertahan memeluk passer Teikou itu dengan erat sampai Akashi memerintahkan ia untuk melepas pelukannya. Tentu saja dengan bibir cemberut khasnya ketika diperintah untuk berhenti memeluk sang passer, Kuroko Tetsuya.

Ryouka menghela nafas lega, melihat Akashi sudah memasuki gym dan mulai bergabung dengan yang lainnya. Sungguh menegangkan berada bersama seorang Akashi dalam waktu yang cukup lama, menurut Ryouka. Ryouka dan Momoi pergi menuju ke tempat dimana coach mereka berdiri dengan mata tajamnya, memperhatikan semua anggota first string menjalani latihan mereka yang seperti biasa, berat.

Cukup lama mereka berlatih, tak terasa matahari sudah hamper terbenam di ufuk barat, meninggalkan langit yang sekarang hanya diterangi sinar bulan dan bintang. Namun wujud awan gelap saat itu menutupi terang bintang dan bulan. Tampaknya akan turun hujan yang cukup deras malam ini. Lampu jalanan juga sudah menyala secara keseluruhan, saat starter first string, Generation of Miracles beserta manager mereka, Momoi dan Ryouka, tanpa sang kapten, Akashi, berjalan keluar sekolah. Seperti biasa, hari ini mereka pulang bersama dan datang hanya untuk sekedar mampir atau membeli snack di minimarket, terutama untuk salah satu pemain mereka yang bersurai ungu.

"Hei, Murasakibara, jangan habiskan uangmu untuk membeli barang tak berguna semacam snack, dan kita minggu depan ada training camp. Jaga makanmu itu nanodayo." Seorang pemuda bersurai hijau mengeluarkan komentarnya saat seorang pemuda lainnya membuka seungkus snack.

"Sudahlah, Midorimacchi. Percuma menasehati titan itu tentang snack-snack itu. Tidak akan dia dengar 'ssu." Ucap seorang berambut blonde pendek, Ryouta. Pemuda yang ia panggil Midorima menengok ke arah pemuda itu.

"Ya, sama dengan sulitnya menasehatimu untuk mengorbankan sesi tanda tanganmu demi latihan." Midorima berkata sinis sambil menggenggam erat sebuah penghapus berbentuk kelinci di tangan yang ia perban, lucky item Cancer menurut Oha-Asa untuk hari ini.

"E-eh?!" Ryouta memekik. Murasakibara mendelikkan matanya ke arah pemuda bersurai blonde itu.

"Suaramu berisik, Kise-chin." Gumamnya pelan.

"EH?!" Lagi, lagi, Ryouta memekik keras. Sekejap, kepalanya dihantam oleh sebuah benda yang dipegang oleh seorang pemuda yang dari tadi tidak mengeluarkan suaranya. Ia menguap.

"Aku setuju pada Murasakibara. Kau berisik, Kise." Pemuda berkulit hitam yang pernah dikenalkannya pada Ryouka 6 tahun yang lalu mengeluarkan pernyataannya juga. Dan detik berikutnya, Ryouta menunduk, depresi. Entah mengapa, selalu ia yang berada di pihak salah. Ryouka tersenyum lalu menepuk punggung kembarannya.

"Sabar, ya 'ssu." Ia menahan tawaannya. Melihat itu, sang pemuda bersurai blonde itu menatap ke manik kuning madu perempuan yang bersurai sama, hanya berbeda di panjangnya saja.

"Kata-kata 'sabar, ya 'ssu'," Ryouta mengikuti cara berbicara Ryouka, "tidak membantuku sama sekali sepertinya, Ryoukacchi." Lagi-lagi ia memajukan bibirnya. Mereka bertujuh berjalan pelan sambil berbicara tentang berbagai macam hal, kemudian berhenti di sebuah perempatan jalan, berniat menyebrangi jalanan. Terlihat waktu untuk lampu merah bagi kendaraan sudah hampir habis, membuat mereka memutuskan untuk segera menyebrang.

Saat itu, Ryouka hendak mengambil sesuatu dari tasnya, namun sesuatu yang ia cari itu terjatuh, tergelincir dari tangannya lalu bergulir pelan ke jalan beraspal abu-abu yang berhiaskan sebuah zebra cross bagi para penyebrang jalan.

Sebuah pilihan yang salah untuk mengejar benda itu, sementara keenam temannya berjalan di depannya tanpa menyadari ia tertinggal di bagian seberang jalan yang lain. Sebuah pilihan yang salah untuk mengejar benda itu, sementara lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau bagi pengendara mobil, dan berubah menjadi merah bagi pejalan kaki, sementara ia masih berada di tengah jalan beraspal itu.

Dan, sebuah pilihan yang sama sekali salah untuk mengambil benda itu, tersenyum lega bahwa benda itu sudah berada dalam genggaman tangannya. Ia tak mengetahuinya, bahwa ketika ia menggerakkan lehernya untuk menengok ke kanan, ia melihat cahaya yang sangat terang. Dan tak ada satupun yang mengetahuinya, kecuali Tuhan, bahwa hanya karena benda itu, suara klakson mobil berhasil membuat semua telinga berdenging, cipratan likuid berwarna merah menghiasi jalan beraspal yang tadinya hanya berwarna abu-abu dan putih.

Tak ada yang mengetahuinya, kecuali Ia yang di atas, bahwa hanya karena benda itu, seorang gadis terpaksa–mau tak mau, suka tak suka–menganggung sebuah 'beban' yang sudah ditanggung oleh seorang pemuda selama 14 tahun. Tak ada yang mengetahuinya, sekali lagi kecuali Ia yang di atas, bahwa mulai hari ini kehidupan seorang gadis telah berubah.


To Be Continued


A/N:
Oke, gimana chapter 1? Udah cukup bikin penasaran? Semoga udah, ya
Spoiler : baru bakal masuk masalah di chapter 2
udah, itu aja spoiler nya, tapi author bakal hiatus dulu, ga update selama lima hari mulai tanggal 10 Maret
Semoga masih tetep bisa nulis, walaupun ga update, doain aja

Last but not least, author menghargai silent reader, tapi author lebih menghargai lagi reviewer, jadi review ya, author akan terima berupa saran, kritik, pujian juga :)