Cerita Cinta Rose Weasley

Disclaimer: JK Rowling

TerLuka

Rose memandang catatan Sejarah Sihirnya dan beberapa buku referensi yang bertebaran di meja dengan penuh perhatian. Waktu menunjukkan pukul 10 malam dan perpustaan sudah hampir kosong, hanya beberapa anak Ravenclaw kelas tujuh yang masih duduk menekuni PR atau apapun yang mereka kerjakan.

Rose mengingat kembali apa yang telah diperdebatkannya dengan Al dan Francy saat makan malam. Apakah dia bodoh karena menyukai Scorpius? Rose memang merasa dirinya bodoh. Kata orang, orang jadi bodoh karena cinta. Yah ungkapan itu benar dan cocok sekali untuk Rose saat ini.

Selama ini dia telah berhasil merahasiakan hal ini dari orang dewasa dalam keluarga, khususnya, Papa dan Mamanya. Papanya, Ronald Weasley adalah Auror terlatih yang bekerja di Kementrian Sihir. Papa sangat menyayanginya, namun dia pasti akan marah besar kalau sampai mengetahui bahwa Rose menyukai Scorpius Malfoy, anak Draco Malfoy, musuh bebuyutannya dulu dan cowok yang harus Rose hindari dan kalahkan dalam setiap pelajaran. Mamanya adalah Hermione Weasley bekerja pada Depertemen Hukum Sihir di Kementrian. Mama adalah wanita cerdas yang sangat bijaksana. Rose diam-diam curiga bahwa mama mengetahui perasaan khususnya pada Scorpius, karena setiap kali nama Malfoy disebutkan saat makan malam atau saat berkumpul bersama, pasti mama akan memandang kearahnya.

Rose tahu sebagai anak dari dua Golden Trio, dua pahlawan besar yang berhasil menyelamatkan dunia sihir dari masa kelam Voldemort, kehidupan Rose menjadi sorotan publik. Tiap minggu berita tentang keluarganya selalu dimunculkan di halaman depan Witch Weekly, majalah mingguan gosip penyihir. Musim panas ini, berita tentang James Potter, sepupunya, yang sedang bersantai di pantai di Perancis Selatan, dengan pacar barunya seorang cewek pirang, menjadi berita utama Witch Weekly. Artikel yang berjudul James Potter: Playboy Tulen, menceritakan kisah playboy James yang dibuat-buat dan beberapa komentar pedas dari mantan-mantan pacarnya. Artikel ini menyebabkan kemarahan besar dalam keluarga. Uncle Harry dan Aunt Ginny yang selama ini berfikir bahwa James sedang di Irlandia, sedang mengikuti training untuk Tryout Quidditch musim mendatang; marah besar. Mereka mengadakan pertemuan keluarga di The Burrow dan mengancam akan mengeluarkan James dari daftar ahli waris kalau James tidak kembali ke Irlandia segera. Setelah gerutuan dari Uncle Harry; beberapa nasihat dari Grandma dan Grandpa; anggukan setuju dari Uncle Bill, Uncle percy, Uncle George dan Papa; air mata dari aunt Ginny dan Mama; anggukan sabar dari aunt Fleur, aunt Audrey dan aunt Angelina; serta cekikikan dari kami, Al, Lily, Fred, Roxanne, Louise, Hugo dan aku; dan juga gerutuan dari Victoire, Molly, Lucy dan Dominique; malam itu juga James berangkat kembali ke Irlandia dengan portkey.

Minggu lalu artikel yang muncul di Witch Weekly adalah tentang Hugo dan Lily. Artikel Hubungan Tidak Sehat Hugo Weasley dan Lily Potter, disertai foto-foto Hugo dan Lily yang sedang berpelukan dan bergandengan tangan, menyebabkan Uncle Harry dan Papa marah, mereka mengancam akan menyirim serombongan auror untuk membakar kantor Witch Weekly dan menuntut editornya. Ancamannya berhasil karena editornya mengirim surat permintaan maaf pada keluarga kami. Menurut Rose, artikel itu sungguh keterlaluan, namun Hugo dan Lily mengganggapnya sebagai lelucon dan tidak terpengaruh oleh pandangan aneh anak-anak lain dalam kastil. Rose selama ini curiga bahwa Caroline Ferrars, penulis artikel tersebut, memiliki mata-mata di Hogwarts yang memantau setiap gerakan mereka, karena foto-foto yang dipajang Witch Weekly merupakan foto-foto terbaru mereka dan bersettingkan Hogwarts.

Selama ini, Rose tidak pernah menjadi berita utama Witch Weekly. Namanya hanya sekali-kali disisipkan sebagai tambahan diakhir. Rose selalu berusaha menjaga sikap dan penampilannya di depan umum. Dia tentunya akan malu besar kalau sampai berita tentang dia menyukai Scorpius terpampang di halaman depan Witch Weekly, lebih parah lagi ayahnya akan membunuhnya atau mengirimnya ke Beauxbatons agar menjauh dari Scorpius.

Rose menghela nafas dan melanjutkan catatannya tentang raksasa-raksasa brutal yang menjadi pemimpin di setiap perang raksasa. Dia tidak melihat seseorang mendekatinya sampai kursi di depannya ditarik.

"Hari ini kan nggak da PR" kata Al, memandang buku-buku yang bertebaran.

"ku harus menyelesaikan catatanku." Kata Rose

"'Wuldraza, pahlawan yang paling terkenal di kalangan raksasa, membunuh 50 penyihir Agustus 1918' ..." Al membaca terbalik catatan Rose, "Binns tidak menyebutkan tentang hal ini di kelas."

"Tentu saja tidak, itu aku temukan di buku ini...," kata Rose, menunjuk sebuah buku bertulisan rapat yang terbuka di depannya.

"Nambah kerjaan aja." Kata Al sambil menyandarkan dirinya dengan nyaman di kursi.

Rose mengabaikannya dan kembali memeriksa buku-buku lain. Tidak ada ada yang berbicara selama beberapa saat, hanya terdengar bunyi kertas yang dibolak-balikkan oleh Rose.

"Maaf,ya!" kata Al tiba-tiba

Rose mengangkat alis, "Untuk apa?"

"Ku menghinamu tadi ... saat makan malam ... eh, tentang Malfoy."

"Oh itu,... lupakan saja!"

"Ayolah, Rosie, aku tahu kamu marah."

"Sudahlah, Al, ku nggak pa-pa." Kata Rose, "Ku sebenarnya dah berusaha untuk tidak menyukai dia ... untuk lupain dia, tapi ... aku nggak bisa"

Rose mengedipkan mata mencegah jatuhnya air mata.

"Aku mengerti..." kata Al sambil memegang tangan Rose, "Apapun yang terjadi aku bersamamu, Rosie. Dan aku akan bersedia banget kalau kamu menyuruhku menyihirnya... Hehehe"

Keduanya cekikikan dan tidak menyadari seseorang mendekati meja mereka.

"Weasley ... Potter!" kata Scorpius menatap mereka dengan tajam. "Kalau melihat tingakah kalian berdua, rasa-rasanya artikel Witch Weekly minggu lalu itu lebih pas untuk kalian berdua ... atau dalam keluarga kalian memang banyak hubungan incest."

"Tutup mulut, Malfoy!" bentak Al

Scorpius mengangkat alis, menatap Rose dan berjalan meninggalkan mereka.

Al menarik nafas perlahan, menenangkan diri.

"Ngomong-ngomong, bagaimana Lily dan Hugo?"tanya Rose berusaha mengalihkan pikiran Al dari Scorpius.

"Yah, mereka baik-baik saja," jawab Al, "Tampaknya mereka menikmati sorotan ini dan sama sekali tidak berpengaruh."

"kamu harus hati-hati, Al, bisa-bisa berikutnya kamu yang dijadikan berita si Ferrars."

"Nggak ada yang menarik tentang aku ..." kata Al, "Tapi kamu Rosie! Gimana kalau mata-mata si Ferrars sampai tahu bahwa menyukai Malfoy."

"Iya juga," kata Rose, sambil berfikir, "Aku sudah memikirkan itu, makanya aku mau kalian semua merahasiakannya."

"Kamu fikir apa yang kami lakukan selama enam tahun ini?"

"Iya... iya. Ku hanya mengingatkan saja."

Selama beberapa saat keduanya terdiam.

"Yuk, aku akan mengatarmu ke Ravenclaw!" kata Al kemudian

"Kamu duluan aja, masih ada yang ku harus selesaikan." Kata Rose.

Al mengangkat bahu dan berjalan keluar perpustakaan, meninggalkan Rose menekuni buku-bukunya.

Rose menghabiskan satu jam kemudian dengan mencari data-data lain tentang perang raksasa dan baru keluar setelah diusir dengan tidak terhormat oleh Miss Parker, penjaga perpustakaan, perempuan berwajah galak dengan mata hitam yang sanger.

Melangkah menyusuri koridor di malam hari merupakan hal biasa bagi Rose, karena kegiatannya yang selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan sampai jauh malam mengharuskannya menyusuri koridor di malam hari. Kadang dia bertemu dengan para Prefect yang berpatroli di koridor dan beberapa membuat Ravenclaw kehilangan angka. Pada tahun kelimanya, saat lencana Prefect sedang dikirim ke tangan-tangan tertentu, Rose sangat berharap McGonagall mengangkatnya sebagai Prefect. Namun lencananya tidak pernah datang, bahkan orang yang kepintarannya rata-rata, seperti Scorpiuslah yang mendapat lencana. Sempat kecewa juga, lebih-lebih papa dan mama. Tetapi, setelah dipikir-pikir, Rose berpendapat bahwa McGonagall tidak melihat kepintaran sebagai syarat untuk menjadi Prefect, tapi melihat pada keberanian dan kepribadian. Rose senang karena McGonagall bisa melihat kepribadian yang baik dari Scorpius.

Rose melewati beberapa koridor lagi tanpa bertemu seorang Prefect pun. Harusnya mereka berpatroli di koridor ini juga kan? Pikir Rose, tapi syukurlah, mereka tidak punya kesempatan untuk mengurangi lima angka dari Ravenclaw.

Setelah beberapa saat, Rose mendengar suara aneh, suara seperti desahan nafas seseorang. Bukan hantu, fikir Rose, hantu tidak bernafas. Meneruskan langkah lagi dengan perlahan, Rose bertanya dalam hati, siapa lagi yang masih berkeliaran malam-malam begini? Tiba-tiba waktu seakan berhenti, nafasnya tertahan seperti dibekap oleh seseorang dan sesuatu yang tajam seperti ribuan pedang menusuknya dari segala arah dan air mata mengaburkan pandangannya, tapi pandangan itu telah terpatri dalam ingatannya. Scorpius sedang berciuman mesra dengan seorang gadis pirang. Mereka berimpitan bagaikan sepasang sendok di bawah sinar bulan yang masuk lewat jendela.

Rose mundur perlahan, bersandar pada tembok di sudut yang gelap. Air matanya terus mengalir memenuhi pipinya, kepalanya pening dan hatinya sakit. Hentikan, Rose, bukankah kamu sering melihat pemandangan seperti ini! Perintah Rose pada dirinya sendiri. Yah, Scorpius memang telah berciuman dengan banyak gadis, dan Rose sudah beberapa kali melihatnya. Tetapi, hal itu tidak membuatnya kebal oleh rasa sakit. Rasa sakit itu selalu ada dan semakin menyakitkan dengan berlalunya waktu.

Melangkah sekarang, Rose, dan kuatkan dirimu, perintah Rose pada dirinya. Menghapus air matanya, Rose melangkah menuju mereka; karena tidak ada jalan lain ke asrama Ravenclaw, harus melalui koridor ini.

"Oh...!" kata si Pirang, yang ternyata Eliza Parkinson, terkejut dan melepaskan diri dari Scorpius.

"Weasley...!" kata Scorpius

Rose tidak memandang mereka berdua, dia terus melangkah melewati mereka.

"kamu nggak mengutuknya seperti di kelas Sejarah Sihir tadi?" Rose mendengar Parkinson bertanya pada Scorpius, "Dia mengganggu kita, lo!"

"Malas ah, aku kan punya kegiatan lain yang lebih bermanfaat," jawab Scorpius, lalu menarik Parkinson ke pelukannya dan mulai saling berciuman lagi.

"Ngomong-ngomong, si Weasley itu nggak punya pacar,ya?" terdengar lagi suara Parkinson

"Entahlah,... Lesbian kali." Jawab Scorpius

"Hah? Lesbian? Yang benar?" tanya Parkinson

"Nggak tahu, ah... ngapain kita ngurusin si Weasley... Yuk, ke menara Astronomy. Kita nggak kan bertemu Prefect di sana."

Dan dari sudut gelap tempat Rose berdiri, dia melihat Scorpius menarik Parkinson menaiki tangga pualam.

Apa? Lesbian? Scorpius mengira dia Lesbian? Rose ingin berteriak sekeras-kerasnya pada malam, namun dia tidak ingin membangunkan seluruh kastil. Dia berlari dengan air mata berlinang menuju asrama Ravenclaw.

Review please!