OHAYOU GOZAIMASU, KONNICHIWA, KONBANWA MINNA-SAN!
Seperti kata Ney, berhubung ff ini sebenernya sudah tamat di hp Ney. Jadi Ney tinggal curi-curi waktu buat ngepublish aja di . Ini dia chapter pertamanya. Nggak lebih panjang dari prologue-nya juga,hahaha.
Happy Reading Minna~
.
.
.
Subordinate Prince
Based from Subordinate Prince by Ayano Saijo
Story by Neiyha
Disclamer Masashi Kishimoto-jii
Genre : Romance and Humour(?)
Warning: AU, TYPO, OOC, and many more.
Bandung—20 Oktober 2012
.
.
.
Hinata memutar matanya bosan. Padahal Hinata sengaja berangkat saat matahari masih enggan terbangun dari tidurnya. Tapi tetap saja bertemu dengan iblis itu. Sebenarnya kapan sih jadwal pasti iblis ini muncul dan menghilang. Sungguh, seandainya ada orang yang memilikinya Hinata rela menukar satu hari uang makanan untuk mendapatkan informasi akurat itu.
Berusaha acuh, Hinata merogoh kantong mantelnya. Tangannya berusaha menggapai-gapai saputangan yang sempat dijejalkannya kedalam. Setelah kulitnya merasakan tekstur kasar saputangan murahnya, segera saja Hinata keluarkan saputangan yang sudah kusut itu untuk membersihkan mantelnya dari cipratan noda.
"Apa kau mendengarku? Hey, orang miskin!" Suara khas baritone mulai memecah keheningan pagi. Mungkin bagi wanita lain, suara yang terkesan berat dan sexy itu dapat membuatnya meleleh seketika, tapi tidak dengan Hinata. Hinata sudah cukup muak dengan hanya mendengarnya saja. Bagaimana tidak? Sekali dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan, 365 hari setahun tidak lupa dikalikan dengan 13 tahun kehidupan Hinata suara itu selalu sukses menghancurkan mood Hinata dalam sekejap.
"Ck, tak kusangka kau mendadak tuli begini." Sasuke berdecak kesal karena tidak mendapat respon dari Hinata. Nah, sekarang kalian tahukan kenapa Hinata sangat membenci suara Sasuke, karena apa yang Hinata dengar selalu berupa kalimat berkonotasi negatif. Tidak ada satupun kata pujian yang pernah mampir ke gendang telinga Hinata dari semua kata-kata yang terucap dari bibir Sasuke.
"Selamat pagi, Tuan Muda Uchiha." Akhirnya Hinata angkat bicara walaupun yang akhirnya keluar hanyalah kata-kata berupa sindiran halus kepada sosok pria dihadapannya, "Ada yang bisa kubantu?" Berusaha sopan Hinata masih terus mempertahankan nada kalemnya walau pandangannya mulai tidak fokus dan beralih pada bidang kosong disebelah Sasuke.
"Apa begitu caramu berbicara dengan orang lain? Keh, tidak sopan." Hinata yang awalnya acuh menengok dengan cepat ke arah Sasuke, matanya menyipit, maaf? Dia tidak salah dengarkan?
"Maksudmu?" Dengan nada menuntut Hinata mencoba bertanya pada Sasuke.
"Hn, itu tidak penting. Kudengar kau sedang terlilit hutang. Ada uang yang ingin kubuang kau mau?" Bukannya menjawab Sasuke malah mengalihkan topik seadanya. Topik yang membuat kuping Hinata memerah setelah mendengarnya.
"Maaf aku tidak butuh." Tolak Hinata halus berusaha meredam amarahnya. Kaki-kakinya mulai kembali melangkah melewati Sasuke. Tapi gerakannya terhenti saat tangan Sasuke mencengkram erat pergelangan tangan kanannya.
"Cukup dengan menjadi budak di Istanaku dan hutangmu akan kubayar lunas." Tawar Sasuke kepada Hinata sekali lagi.
"Aku tak sudi!" Tanpa banyak berpikir Hinata langsung menolaknya. Lebih baik Hinata menjual dirinya pada setan daripada berhubungan dengan iblis pria ini. Ok, itu sama saja. Tapi-tapi-tapi-
"Keras kepala!"
"Kau yang-" Tak tahu siapa yang memulai, kedua tangan Hinata sudah berada dalam cengkraman Sasuke. Wajah keduanya beradu dengan jarak yang tiba-tiba menisbi. Mata pearl Hinata membelalak ketika menyadari iris hitam milik Sasuke tepat mengunci mata bulannya.
"Apa pantas seorang pria bertindak kasar terhadap wanita?" Terdengar suara teriakan yang jauh dari ujung jalan.
Sasuke dan Hinata yang saat itu masih berkutat segera menengokan kepalanya untuk melihat siapa yang sudah menginterupsi perkelahian mereka. Muka Hinata memerah ketika mendapati seorang pria berambut blonde dengan kulit tan yang terbalut mantel biru berlari menghampiri mereka. Dengan sekali hentakan, pria tersebut membebaskan Hinata dari cengkraman Sasuke.
"Apa yang kau-" Sasuke yang hendak protes dikejutkan dengan reaksi Hinata yang tiba-tiba menarik tangan pria tersebut dan berlari menjauhi tempat Sasuke berdiri. "Ck- Sial!" Sasuke mengumpat dengan tangan terkepal. Kilatan amarah terlukis dengan jelas di mata onyx-nya mendapati Hinata yang masih terus mengenggam tangan pria itu dan memperlihatkan punggungnya yang semakin hilang dalam jangkauan matanya.
.
.
.
"A-arigatou, Naruto-senpai." Hinata membungkuk untuk memperlihatkan rasa terima kasihnya. Titik-titik merah masih setia menempel pada pipinya, udara yang semula dingin berubah panas. Sebenarnya dalam hati Hinata berteriak girang karena hari ini seorang pangeran-minus baju kerajaan dan kuda putihnya-datang disaat 'bahaya' sedang mengancam Hinata.
"Sama-sama. Daijobu-ka?" Tanya Naruto terlihat simpatik mendapati noda tanah yang menempel dan mulai mengering pada mantel Hinata.
"Ha-hai'." Jawab Hinata cepat sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Gugup yang menderanya membuatnya sedikit tergagap saat berbicara dengan pangeran pujaannya. Sambil terus menundukan kepalanya, Hinata mulai memainkan benang-benang yang mencuat dari mantelnya.
"Syukurlah kau tidak apa-apa, Hinata."
Hinata terperangah. Oh, ternyata seniornya ini masih mengingat namanya. Hinata kira, seniornya yang terkenal sebagai moodboster ditempat kerjanya ini tak mengenal namanya. Rasa senang semakin membuncah dalam hati Hinata takkala menyadari bahwa nama yang dipanggil oleh seniornya tersebut adalah nama kecilnya.
"Kalau dia macam-macam bilang saja padaku, ya?"
Bagai terkena mantra Hinata hanya bisa mengangguk dengan muka yang makin merah padam. Tubuhnya semakin bergetar saat merasakan tangan-tangan kekar Naruto mulai mengusap-usap rambutnya. Dan detik berikutnya hanya terdengar suara Naruto yang panik karena tiba-tiba Hinata
.
.
.
-pingsan.
.
.
.
Thanks for reading :)
Sudah bisa menebakah jalan ceritanya kemana?
Sasuke bukan iblis dalam konteks yang sebenarnya ya :o
Jadi nggak akan ada kaitannya sama nilai spiritual sama sekali
Last
Mind to RnR?
