Disclaimer:

Vocaloid yang bukan punya saya

Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya

Ceritanya punya saya, selalu


Warning:

OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, ancur, de el el


Bisa dibilang ini juga sequel-nya "Shiro-nyan", tapi beda pemeran.

Biarlah Rin dan Len menjalani kisah cinta mereka sendiri~

Sekarang Rey mau bikin kisah cinta lain

Supaya... yang bahagia gak cuma mereka

Sekaligus memenuhi request-nya Kagamine Laras~

Oh ya, Miku itu seharusnya XI-4, bukan XI-2 ^^ jadi mulai sekarang, Gumi ada di kelas XI-2 dan Miku, Lenka, dan Len ada di kelas XI-4, yaa x)

Selamat membaca! XD


Winner of My Heart

A KaitoxMiku story

by reynyah

Chapter II – Telepon Misterius


Sepuluh menit kemudian, datanglah Lenka, Neru, dan seorang gadis berambut hijau yang kuketahui sebagai Megpoid Gumi, cewek biasa-biasa aja yang datang dari XI-2. Heran, kenapa gak ada kandidat dari XI-1, ya?

"Lo jenius banget sih, Mik! Masa lo lupa kalo XI-1 isinya cowok semua?!" semprot Rin begitu aku mengutarakan kebingunganku.

Oh iya, ya...

Kami berlima duduk melingkar di karpet yang ada di pojok ruang OSIS, lalu mengobrol bersama. Megpoid Gumi itu ternyata baru masuk satu bulan yang lalu. Pantas aku gak pernah melihatnya waktu kelas sepuluh.

"Aku Kagami Rin, murid XI-3," jelas Rin sopan.

"Pacar Kagamine Len-san?" tanya Lenka dengan wajah datar. Sumpah, cewek ini pasti memenangkan kontes cewek dengan wajah paling poker sedunia.

Wajah Rin memerah. "I-iya."

"Oh," balas Lenka, lagi-lagi dengan wajah datar. "Kamine Lenka, XI-4."

"Hatsune Miku, XI-4," lanjutku. "Teman sebangku Lenka, loh!" seruku gembira sambil memeluk lengan Lenka. Lenka hanya tersenyum singkat sebelum memasang wajah datar nan imutnya lagi. "Terus... elo, Ner!"

Neru mengangguk. "Akita Neru dari kelas XI-3," ucapnya memperkenalkan diri. "Teman sebangku Rin-chan tapi gak bisa sepintar Rin-chan," lanjutnya sambil memasang cengiran kecil. "Terus... kamu yang rambut ijo?"

Gumi tersenyum sopan. "Megpoid Gumi, kelas XI-2. Aku baru masuk SMA Voca ini sebulan lalu. Dulu, aku murid SMA Loid."

"SMA Loid?" Aku membelalakkan mataku lalu merangkak mendekati Gumi. "Jadi lo udah tau kelemahan atau kekuatan atau apapun soal perlombaan ini, kan? Lo tau orang-orang andalan mereka buat lomba ini, kan?"

Gumi mengangkat kedua bahunya. "Sedikit, aku gak begitu terlibat kalo ada lomba ini."

"Jadi? Kamu bisa kasih kita bocoran?" desakku. "Kita gak boleh bikin SMA Voca malu cuma gara-gara lomba beginian, Megpoid-san!"

"Gumi, jangan Megpoid," ujarnya membenarkan. "Oke, jadi gini..."


EMPAT HARI KEMUDIAN~~~


RIN, NERU, LENKA, GUMIII~

KUMPUL DI RUMAH GUE HARI INI JAM 12 SIANG EAAAA~

~MIKU

.

Dengan dikirimnya SMS itu, berarti tugasku mengabari mereka udah beres. Berarti, aku hanya perlu menunggu mereka datang jam 12 siang nanti. Sekarang ini masih... jam 9 pagi. Ah, aku bisa santai dulu~ mungkin sebaiknya aku tidur kecantikan. Hohoho.

"MIKU-CHAN! BANGUUUUUUUUUN!"

Sejurus kemudian seember air mengalir deras di atas kepalaku, rambutku, badanku, dan tak lupa futon-ku. Detik itu juga aku segera bangun dan megap-megap mencari oksigen. Siapa yang berani nyari mati, hah?! Mengganggu tidur kecantikan Hatsune Miku saja!

"MIKUO-NIICHAN!" seruku sebal. "NIICHAN JAHAT!"

"Kamu janjian jam 12 tapi jam 11 masih ngiler!" ejek Hatsune Mikuo, kakak cowokku yang super duper menyebalkan. "Mandi sana! Sekalian jemur itu futon!"

Aku mendengus. "Niichan yang bikin basah, kan? Kenapa harus aku yang jemur?"

"Siapa suruh kamu tidur lagi!" semprot Niichan. "Anak gadis kok, bangunnya siang? Udah sana cepetan mandi!"

"Futon-nya gimana?"

"Biar aku! Dasar berisik!" balas Niichan sambil menarikku menjauh dari futon-ku. "Cepet mandi! Jangan malah melong di situ!"

Aku mengangguk lalu bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Uuh... dasar Niichan. Tidak bisa melihat orang lain senang saja! Untung dia sudah tidak bersekolah di SMA Voca. Kalau iya? Bisa-bisa aku jadi "kelinci percobaan"-nya setiap hari. Huft...

Selesai mandi, aku mengambil koleksi sepatu yang jarak kupakai dan menaruhnya di ruang kosong tempat latihan menari. Kaachan punya sanggar tari dan biasanya tutup pada hari libur. Lagi pula, saat ini Kaachan sedang pergi ke Kagoshima dengan Touchan. Yosh, aku bisa memakai ruangan ini sesuka hati.

"NIICHAN!" seruku dari ruang tari. "KALAU TEMAN-TEMANKU DATANG TERIAK, YA!"

"IYA!"

Baguslah, dengan begitu tugasku hanya tinggal menunggu mereka. Aku duduk di pinggir ruangan lalu membuka lipatan baju-baju karya Kaachan yang disimpan di lemari ruang tari. Aku sudah minta izin pada Kaachan untuk meminjam baju ini beberapa hari yang lalu dan beliau setuju. Jadi, aku dan keempat kandidat lain dari SMA Voca akan memakai baju-baju karya alias design Kaachan.

"MIKU-CHAN! TEMEN-TEMENMU!"

"IYA!" balasku sebelum berlari menuju pintu depan. Ups, Niichan benar. Sudah ada motor Len dan mobil Neru di sana. Aku keluar dari rumah dan melihat Rin turun dari motor Len, sedangkan tiga gadis yang lain, yakni Neru, Lenka, dan Gumi, turun dari mobil Neru. Neru, Lenka, dan Gumi bergegas masuk ke dalam rumahku sedangkan Rin mengucapkan salam perpisahan dulu kepada pacar tercintanya.

"Duh, yang lagi dimabuk cinta," sindirku sambil menyodokkan sikuku ke lengan Rin. Yang disindir hanya tertawa ringan.

"Kenapa, Mik?" tanya Neru. "Kenapa nyuruh ngumpul maksudnya."

Seketika aku dan ketiga kandidat yang lainnya—kecuali Lenka yang selalu memasang wajah poker-nya—langsung sweatdrop di tempat. "Neruuuuuu~ jelas-jelas lo gue undang ke sini buat latihan lombaaa! Kenapa lo lemot terus, sih? Otak lo harus di-upgrade dikit deh, kayaknya!"

Neru terkikik sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sori, Mik. Gue kan, emang gini."

Aku mengibaskan tangan kananku. "Ya udah, langsung ke ruang latihan aja, yuk!"

Aku menunjuk sebuah pintu dan membiarkan keempat temanku masuk lebih dulu. Ketika aku hendak masuk, Niichan mencegatku. "Miku-chan, sini dulu."

Aku merenggut sebal. "Apa?!" tanyaku galak.

"Heh, dasar sensi," ejek Niichan. "Temen-temenmu cantik-cantik, ya. Ada yang jomblo gak?"

Aku melotot. "Setauku semua jomblo kecuali Rin."

"Rin?"

"Yang pake pita kelinci itu, looh."

"Ooh," balas Niichan sambil manggut-manggut. "Salah satunya boleh buat Niichan?"

Mataku tambah melotot. Aku memukuli Niichan sambil berkata, "Gak boleh! Niichan jelek! Niichan cari aja pacar yang udah kuliah! Pedopil! Niichan pedo! Temen-temenku gak boleh buat Niichan!"

Niichan tertawa-tawa. "Dasar geer, aku cuma bercanda," balas Niichan sambil menahan tanganku. "Temen-temenmu emang cantik, tapi aku gak berniat sama salah satunya, kok. Santai aja, Miku-chan."

Aku mendengus. "Pokoknya, Niichan harus jauh-jauh dari ruangan ini! Hush, hush, sana pergi! Cari kerjaan aja, jangan gangguin anak orang!" ujarku sebal sambil masuk ke dalam ruang tari dan menutup pintunya.

"Kenapa, Mik?" tanya Rin bingung. "Berantem sama Oniisan lo?"

"Gak usah dibahas deh, makhluk gak penting itu," ujarku sebal. "Oh ya, lo pada bawa sepatu sama baju buat latihan? Atau seenggaknya lo pada udah punya?"

Keempat temanku itu kompak menggeleng. Haduuuh... dasar buta gaya.

"Oke, gue udah punya feeling kayak gitu, makanya gue udah siapin buat lo-lo pada," ujarku sambil menarik belasan kotak sepatu yang sudah kusiapkan sebelumnya. "Ini sepatu gue, ukurannya beda-beda dan lo boleh cari sepatu yang ukurannya pas buat lo. Tapi sori aja, semuanya high heels. Gue gak punya wedges atau flat shoes, kecuali sendal jepit, sepatu boots gue, dan sepatu sekolah."
(Jadikan ini rahasia ya, Miku punya sendal jepit!)

Sebelum mereka sempat memilih sepatu, aku berjalan ke arah lemari pakaian ruang tari. Aku membuka pintu lemari tersebut lalu menunjukkan puluhan baju karya Kaachan. "Dan baju yang ada di dalam lemari ini baju buatan Kaachan gue. Yang jelas, gue sendiri belum pernah pake. Bisa dibilang ini baju baru buat kita semua. Sesuai dengan syarat lomba itu, kan?"

Semua mengangguk kompak. "Terus, sekarang kita milih baju atau sepatu, sih?" tanya Neru yang seperti biasa, lemot minta ampun. "Lo jelasinnya cepet amat, Mik. Gue jadi bingung, kan."

Akhirnya aku harus menggaruk kepalaku yang gak gatal. "Itu sih, terserah elo."

"Mending sepatu dulu," usul Gumi yang sejak tiba di sini belum buka suara. "Lombanya masih lama, yang paling penting itu kita harus latihan jalan dulu. Kalau soal baju sih, bisa disesuaikan dua atau satu minggu sebelum lomba."

"Setuju," ucapku dan Rin bersamaan. "Kalo gitu, lo boleh langsung pilih sepatunya. Gue udah pisahin pilihan gue. Itu, yang warna biru muda."

Lenka melotot melihat sepatu itu. Dia mengambil sepatu itu lalu bertanya dengan nada datar seperti biasa, "Berapa tingginya?" tanyanya, sekaligus kalimat pertamanya sejak tiba di rumahku.

"Itu? 15 senti," jawabku santai.

"MIKU!" seru Rin kaget. "Gue aja gak pernah make yang lima senti!"

"Sama," sahut Lenka datar.

Aku mendesah. "Neru? Gumi? Kalian gimana?"

"Gue pernah kalo lima senti," jawab Neru sambil terkikik. "Rekor gue cuma tujuh senti."

"Sepuluh senti masih bukan masalah," jawab Gumi sopan. "Aku dilatih untuk selalu pakai heels ke pesta. Jadi, santai aja, Hatsune-san."

"Miku," ralatku cepat. "Jangan Hatsune, nanti Niichan geer." Aku diam sejenak. "Ya udah, Neru bisa pake yang tujuh senti, gue punya. Buat Lenka sama Rin, kalian terpaksa harus belajar yang tujuh atau delapan senti karena heels gue yang paling pendek yaa, segitu."

Lenka dan Rin langsung mendesah sedih. Neru hanya terkekeh gak jelas sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya gak pernah gatal (atau jangan-jangan dia kutuan, ya?). Gumi tersenyum kecil sambil kembali memilih sepatu. Tiba-tiba, dia mengeluarkan penggaris dari dalam tasnya lalu mengukur heels-ku dengan penggaris itu. "Kamine-san, Kagami-san, ini ada yang enam senti," ucapnya sambil memberikan heels itu pada kedua makhluk yang tadi dia sebut. "Tapi cuma ada satu."

"Buat Kagami-san aja," ucap Lenka. "Dia lebih tinggi dari aku, sih."

"Terus kenapa?" tanya Rin pada Lenka dengan wajah bingung. "Kamine-san juga boleh pake."

Lenka menggeleng. "Kagami-san aja."

"Kamu aja."

"Jangan, Kagami-san."

"Kamu aja."

"Jangan."

Mereka terus berdebat sampai akhirnya Gumi memutuskan untuk tidak jadi memberikan heels enam senti itu pada dua bocah tadi.


"Makasih buat latihannya ya, Miku-san," ucap Gumi setelah semua orang pulang dan hanya dia yang tersisa. "Jujur, ini pertama kalinya aku latihan fashion show."

"Oh ya?" tanyaku sambil memiringkan kepalaku. "Sama dong, aku juga pertama kali. Tapi aku udah tau dasar-dasarnya sedikit."

"Miku-san hebat," puji Gumi. Dari mukanya, aku tahu banget dia tulus bilang itu. "Kamu dengan gak pernah belajar aja bisa kayak gini, apa lagi kalau belajar? Miku-san bisa jadi model internasional."

Aku tertawa-tawa narsis (walau agak dimanis-manisin juga, jaga imej dong). "Ah, bisa aja kamu," ucapku sambil mengibaskan tangan.

"WHO LIVES IN THE PINEAPPLE UNDER THE SEA? SPONGEB—"

"Eh, HP aku bunyi," ujarku sambil cengengesan malu. "Ditinggal bentar ya, Gumi."

Gumi mengangguk lalu mengambil HP-nya dan sibuk mengetik. Sementara itu, aku sibuk berpikir, nomor yang menelepon aku ini gak aku kenal. Akhirnya tanpa mikir lebih panjang lagi, aku menerima telepon itu dan berkata, "Moshimoshi?"

"Apa ini nomor Hatsune Miku-san?"

"Iya," jawabku pelan. "Ini siapa?"


Bersambung...


Aduh, kenapa di chapter ini adegan Kaito sama Mikunya dikit banget, ya? Padahal kan, mereka tujuan utama ceritanya...

Yosh! Chapter berikutnya bakal banyak! Rey janji!

Review? x)