Disc:

Naruto © Masashi Kishimoto

Hyperdimension Neptunia © Mikage Baku

.

.

.

Cerita ini terinspirasi dari lagu "BELIEVE" yang dinyanyikan oleh "Arashi"

Start: Sabtu, 25 Juni 2016

.

.

.

GODDESS HEART

By Hikasya

.

.

.

Chapter 2. Bertemu dengan Nepgear

.

.

.

Di Planeptune, di sebuah dunia yang aneh. Tempat Naruto terdampar saat ini. Dipenuhi dengan berbagai gedung tinggi berdesain futuristik dan memiliki teknologi yang sangat maju. Para penduduknya tinggal di gedung-gedung tinggi itu. Suasananya sangat ramai dan bising ketika Naruto diajak oleh Neptune pergi ke suatu tempat yang ada di pusat kota tersebut.

WAS! WES! WOS!

Jalanan raya yang ramai dipenuhi kendaraan-kendaraan futuristik yang berjalan mondar-mandir. Meninggalkan suara halus yang bercampur dengan suara orang-orang yang berjalan hilir-mudik di trotoar. Tampak juga beberapa robot yang lewat di keramaian manusia itu. Sungguh berisik sekali.

Juga terlihat kendaraan-kendaraan yang bisa terbang di atas gedung-gedung menjulang tinggi itu. Hilir-mudik tanpa ada hentinya sama sekali.

Di antara manusia dan robot yang berjalan di trotoar itu, tampak Naruto dan Neptune berjalan beriringan. Semua orang yang lewat, melihat ke arah Naruto dengan aneh. Bertanya-tanya dengan penuh rasa penasaran karena penampilan Naruto sangat berbeda dari mereka.

Sebaliknya Naruto memperhatikan keadaan orang-orang yang berpakaian futuristik. Mengedarkan pandangannya ke semua sudut kota dengan tampang yang sangat bengong. Sebab dia adalah seorang ninja yang terdampar di sebuah kota besar berteknologi canggih seperti kehidupan di masa depan.

Ya, ini memang masa depan. Tepatnya tahun 2199.

Celingak-celinguk yang tidak jelas, bocah berambut pirang itu terus mengikuti langkah Neptune sampai ke sebuah rumah berbentuk kubah yang terletak tepat di pusat kota. Rumah itu cukup berdekatan dengan gedung-gedung tinggi itu. Berdesain futuristik dan terbuat dari bahan besi yang sangat kuat.

Itulah rumah Neptune, yang berperan sebagai "Goddess" yang menjaga dan memimpin kota Planeptune.

Dia menyambut Naruto sebagai tamu yang terhormat. Lalu dia akan menjelaskan lebih detail lagi tentang kehidupan di zaman ini.

SYUUUUIIING!

Pintu terbuka secara otomatis saat Neptune yang duluan masuk dan disusul oleh Naruto dari belakang. Naruto terbengong-bengong seperti orang bodoh karena baru pertama kali melihat pintu bisa bergerak sendiri tanpa menyentuhnya sama sekali.

"Hei!"

Gadis berambut ungu itu menghentikan langkahnya saat Naruto memanggilnya. Dia pun menoleh.

"Apa sih?"

Naruto menunjuk ke arah pintu masuk yang sudah tertutup secara otomatis.

"Kenapa pintu itu bisa terbuka dan menutup sendiri? Apa yang terjadi sebenarnya?"

Lantas Neptune menghembuskan napasnya sebentar.

"Ya, pintu itu bisa terbuka dan menutup sendiri karena ada teknologi canggih yang menggerakkannya."

"Oh," Naruto manggut-manggut tanda mengerti."Terus teknologi canggih itu apa?"

Kali ini Neptune menepuk jidatnya. Merasakan repotnya jika menjelaskan sesuatu pada orang asing yang tiba-tiba muncul dari langit itu. Dia pun mulai membuka suaranya sampai ...

"Teknologi canggih itu adalah suatu mesin yang diciptakan manusia untuk meringankan semua pekerjaan dan kehidupan manusia itu sendiri. Contohnya komputer virtual digital ini. Salah satu teknologi canggih di tahun ini."

Tiba-tiba ada yang menyahut pertanyaan Naruto itu. Hingga membuat mereka menoleh ke arah asal suara.

JREEEENG!

Tampak seorang gadis berambut ungu panjang. Bermata ungu. Ada klip bentuk salib ungu yang terpasang di sisi kiri rambutnya. Berpakaian serba futuristik serba putih dan ungu. Memegang sebuah komputer sebesar kartu remi. Berumur sekitar 14 tahun. Dia adalah ...

"Nepgear!" seru Neptune yang tertawa senang."Kamu baru pulang dari sekolah ya?"

Gadis berambut ungu yang mirip dengan Neptune, hanya menganggukkan kepalanya pelan.

"Iya. Aku baru saja pulang."

"Syukurlah kalau gitu."

"Memangnya kenapa?"

"Ah, nggak. Aku cuma mau minta tolong sama kamu."

"Minta tolong apa?"

"Tolong temani orang asing ini. Belikan dia pakaian yang sesuai dengan zaman ini. Aku merasa pusing sekarang dan ingin beristirahat di kamarku."

"Ah, baiklah."

TAP! TAP! TAP!

Maka sang Goddess pergi meninggalkan mereka di ruangan yang luas ini. Ruangan yang bisa dibilang ruang tamu yang bersatu dengan ruang keluarga. Dindingnya berwarna silver. Lantainya berwarna putih bening bagaikan kaca. Terdapat beberapa jendela berbentuk bulat yang tersebar di sepanjang dinding. Lampu-lampu berdesain futuristik terpasang rapi di langit-langit atap. Perabotan yang mengisi ruangan itu hanya berupa tiga sofa, meja besi, televisi virtual digital, lemari dan sebagainya.

Neptune menghilang saat masuk ke dalam sebuah ruangan lain yang tidak berpintu. Itulah lorong menuju dapur. Di dua sisi lorong itu, terdapat empat pintu kamar. Salah satu kamar itu dimasuki oleh Neptune, ditandai dengan namanya sendiri yaitu "Neptune."

Mereka pun terdiam sambil memandangi kepergian Neptune. Lalu mereka saling menatap antara satu sama lainnya.

"Ano, kau itu siapa ya?" tanya Naruto yang sangat penasaran.

"Aku Nepgear. Adiknya Neptune," jawab Nepgear dengan senyumannya yang ramah.

"Eh? Kau adiknya Neptune?"

"Iya. Kok kau kaget gitu?"

"Aku kira kau kakaknya Neptune. Soalnya kau terlihat lebih dewasa darinya."

"Oh ... Hehehe ...," Nepgear tertawa kecil."Banyak yang ngira gitu sih. Soalnya kakakku itu memang kekanak-kanakan sekali. Nggak ada dewasanya. Padahal dia adalah Goddess yang memimpin kota Planeptune ini."

Naruto pun semakin bengong saja dan semakin bingung mendengarnya.

"Memang kuakui dia memang kekanak-kanakan. Dia juga berprasangka buruk sama aku."

"Memangnya kau melakukan apa?"

"Aku cuma menanyakan tentang Goddess Heart itu."

DEG!

Nepgear kaget mendengarnya. Bahkan jantungnya juga ikut kaget.

"Eh? Goddess Heart? Kenapa kau menanyakan itu? Siapa kau sebenarnya?"

Gadis itu menatap Naruto dengan tajam. Wajahnya memerah padam karena marah.

Dengan tenang, Naruto menjawabnya.

"Namaku Uzumaki Naruto. Aku seorang ninja yang berasal dari desa Konoha. Aku mempunyai misi bersama kelompokku untuk mencari empat Goddess Heart yang hilang atas permintaan seseorang. Tapi, saat aku dan kelompokku berpencar ke salah satu lorong di sebuah goa, aku menginjak sesuatu yang aneh. Seketika ada sinar keunguan yang menerjangku begitu cepat. Aku nggak tahu apa yang terjadi. Tahu-tahu aku terjatuh dari langit, berada di dunia asing yang nggak aku pahami ini, ketemu kakakmu itu dan kakakmu mengajakku ke sini. Sungguh, aku ini bukan orang jahat. Aku ini orang baik yang ingin mendapatkan empat Goddess Heart itu untuk niat yang baik juga. Percayalah padaku, Nepgear!"

Mendengar penjelasan Naruto yang panjang lebar, Nepgear pun terdiam. Dia menatap kedua mata saffir biru yang ada di hadapannya ini dengan seksama.

Hening sejenak selama satu menit.

Lalu suara Nepgear terdengar nyaring dan memecahkan suasana hening itu.

"Ya, aku mengerti. Bisa kulihat kau itu memang orang baik. Aku percaya kok."

Senyuman ramah pun terukir kembali di wajah adik Neptune itu. Wajahnya berbinar-binar begitu.

Membuat hati Naruto lega mendengarnya karena ada satu orang yang percaya padanya. Untuk saat ini, dia akan mencoba beradaptasi dengan lingkungan asing yang kini dia alami.

"Syukurlah kau mau mempercayaiku. Terima kasih, Nepgear."

"Ya, sama-sama."

SET!

Tangan Nepgear terulur ke arah Naruto. Naruto mengangkat salah satu alisnya ke atas.

"Ayo, kita berteman! Apa kau mau menjadi temanku, Uzumaki Naruto?"

Dengan cepat, Naruto menyambut uluran tangan gadis itu. Dia menunjukkan senyumannya yang manis.

"Ya, aku mau menjadi temanmu."

"Hehehe ... Aku senang. Mulai sekarang kita akan menjadi teman yang baik ya."

"Hm."

Naruto mengangguk dengan cepat. Masih tersenyum dengan hati yang begitu damai. Begitu juga dengan Nepgear.

Hari ini mereka menjadi teman. Langkah awal untuk memulai kehidupan baru di masa depan ini. Tentunya juga menjalani misi itu.

.

.

.

BRUK!

Neptune menjatuhkan dirinya begitu saja di atas ranjang kapsul yang terasa empuk dan dingin. Dia terbaring dalam posisi terlentang. Matanya menerawang jauh ke sana. Menembus langit-langit atap yang berwarna putih dan berdesain futuristik. Entah apa yang dipikirkannya sehingga mengganggunya saat ini.

"Apa yang terjadi denganku? Aku tiba-tiba terbangun saat di rumah sakit, entah apa yang menimpaku sehingga aku mendapatkan luka-luka. Aku nggak bisa mengingatnya dengan jelas," gumamnya pada dirinya sendiri.

Mencoba untuk menutup mata agar bisa tertidur. Dia pun melakukannya. Terasa otaknya berputar-putar seraya memegang bagian atas dada kirinya.

Ada sesuatu yang bersemayam di dalam jantung yang masih berdetak dengan normal. Sesuatu yang berbentuk hati berwarna ungu. Berkedip-kedip dengan sinar keunguannya yang indah.

Benda apa itu? Adakah yang tahu?

Baiklah, akan diberitahu bahwa benda yang bersemayam di dalam jantung gadis itu adalah Purple Heart. Purple Heart adalah sejenis Goddess Heart yang dapat mengubah Neptune menjadi seorang Goddess berkekuatan hebat. Sosok sebenarnya Goddess yang menjaga kota Planeptune ini. Nama perubahannya adalah Purple Goddess atau Dewi Ungu.

Tentu saja, Neptune bukan gadis biasa-biasa saja. Dia adalah gadis cyborg yang dioperasi oleh seorang ilmuwan berotak cerdas untuk dijadikan Goddess pemimpin kota Planeptune. Ilmuwan itu memasukkan Purple Heart itu ke dalam jantungnya dan memberikannya sebuah kekuatan super sebagai Goddess. Hal ini dilakukan atas dasar keinginannya sendiri saat ditunjuk menjadi pemimpin baru buat kota Planeptune ini. Menggantikan posisi ibunya yang sudah meninggal dunia karena perang antar Goddess. Sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia karena tertimpa longsor salju saat mengunjungi kota Lowe.

Kini dia tinggal berdua dengan adiknya. Mereka sama-sama menjadi anak yatim piatu. Mereka saling menyayangi antara satu sama lainnya. Tidak pernah bertengkar dan selalu membantu dalam membersihkan rumah. Mereka tidak membutuhkan jasa robot untuk meringankan pekerjaan rumah tangga mereka. Tapi, mereka menggunakan tenaga sendiri untuk bekerja dalam mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Walaupun begitu sulit, mereka tetap menikmatinya dengan perasaan senang.

Biarpun dia menjalani tugas berat sebagai pemimpin kota ini, dia juga seorang pelajar. Dia masih duduk di bangku SMA. Tapi, kadangkala dia harus selalu siap siaga untuk melindungi kota jika ada serangan dari Goddess-Goddess lain. Tidak hanya itu, dia juga sering ditantang adu kekuatan oleh Goddess-Goddess lain. Sering juga dia mengalami kekalahan hingga menjadi amnesia selama beberapa minggu ke depannya.

Hari ini, dia tidak ingat sama sekali tentang apa yang terjadi padanya. Dia tidak ingat jika dia habis bertarung dengan Black Goddess yang bernama Noire, penjaga kota Lastation yang memegang Black Heart. Lalu mengalami kekalahan hingga Noire membuatnya menjadi lupa tentang kejadian di masa lalu. Setelah itu, Noire meninggalkannya begitu saja di area perbatasan antara Planeptune dan Lastation.

Awalnya Neptune baru saja pulang sekolah, merasakan adanya energi negatif yang dipancarkan dari Black Heart yang dipegang Noire. Memancingnya untuk datang ke area perbatasan antara Planeptune dan Lastation. Di sanalah, Noire menyerangnya secara langsung. Dia pun membalas serangan Noire. Mereka berubah wujud menjadi Goddess lewat perantara Goddess Heart masing-masing. Bertempur habis-habisan. Sampai pada akhirnya Neptune kalah dan mengalami amnesia jangka pendek akibat perbuatan Noire. Noire begitu senang bisa mengalahkan Goddess Planeptune itu. Langsung pulang begitu saja ke Lastation.

Begitulah yang terjadi pada Neptune sekarang. Dia merasakan lelah, pusing dan sakit. Saatnya untuk beristirahat sejenak untuk memulihkan energi dan tenaganya.

SYUUIIING!

Pintu kamar Neptune terbuka secara otomatis yang tidak terkunci dengan kode akses. Masuklah seseorang yang berjalan ke dalamnya.

Rupanya Nepgear. Dia datang untuk menengok keadaan kakaknya.

"Kak Neptune, apa kakak sudah tidur?" tanya Nepgear yang menghentikan langkahnya di samping ranjang yang ditempati kakaknya.

Kakaknya tidak menjawab. Dia terbaring terlentang dengan meninggalkan dengkuran halus. Sepertinya dia sudah tertidur.

Seketika Nepgear bengong melihat kakaknya. Lalu dihelakannya napas leganya.

"Haaaah ... Sepertinya kak Neptune sangat lelah. Biarlah ...," Nepgear berbalik pergi menuju ke pintu kamar."Padahal aku bermaksud ingin kasih tahu kalau makan siang sudah siap. Tapi, dia malah tertidur. Ya, sudahlah. Aku nggak akan mengganggunya."

Dengan langkah yang pelan, sang adik keluar dari kamar kakaknya yang bernuansa putih dan jingga. Bersamaan pintu bergerak otomatis lagi.

SYUUUUING!

Tinggallah Purple Goddess yang sedang terlelap di siang hari bolong begini, tepatnya pada pukul 1 siang.

.

.

.

"Hm, mana kakakmu?" tanya Naruto yang sedang duduk di kursi berdesain futuristik, tepatnya di dekat meja makan. Dia duduk berhadapan dengan Nepgear.

Nepgear menjawabnya dengan nada yang lembut.

"Kakak sedang tidur. Sepertinya dia sangat lelah sekarang."

"Oh," Naruto manggut-manggut saat memperhatikan beberapa makanan yang sudah terhidang di atas meja tersebut."Memangnya kalian berdua yang tinggal di rumah ini?"

Gadis itu mengangguk pelan dengan raut wajah yang suram. Kedua mata ungunya meredup.

"Iya. Orang tua kami sudah meninggal dunia saat kami masih kecil dulu."

DEG!

Laki-laki ninja itu kaget sekali mendengarnya. Kedua matanya sedikit membulat. Seketika dia berwajah kusut.

"Maaf, aku nggak tahu soal itu."

"Nggak apa. Kau nggak perlu minta maaf begitu. Aku maklum kok."

Kemudian Nepgear menunjukkan senyumnya pada Naruto. Tapi, Naruto masih memandangnya dengan wajah yang kusut.

"Aku juga. Orang tuaku sudah meninggal saat aku baru saja dilahirkan. Sekarang aku tinggal sendirian. Nggak punya saudara ataupun keluarga. Aku yatim piatu. Sama seperti kalian."

Mendengar itu, Nepgear menghentikan senyumannya. Dia pun berwajah kusut.

"Eh? Maaf. Aku juga turut prihatin mendengarnya, Naruto."

"Nggak apa-apa kok. Kau nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa, kan? Seperti yang kau bilang tadi."

Giliran Naruto yang tersenyum. Sebaliknya giliran Nepgear yang berwajah kusut.

"Jangan bahas itu lagi. Sebaiknya kita makan saja. Sepertinya aku sudah lapar sekali. Hehehe ...," lanjut Naruto yang menyengir lebar dengan wajah yang berseri-seri."Semua makanan ini, kau yang masak ya?"

Gadis itu mengangguk pelan.

"Ya, aku yang masak."

"Tapi, kenapa bisa secepat itu, kau bisa buat makanan sebanyak ini hanya dalam waktu 10 menit saja? Aku nggak ngerti sama sekali."

Senyuman manis terukir kembali di wajah adik Neptune itu.

"Ya, dengan teknologi canggih yang bernama Faster Microwave, aku bisa memasak semua jenis makanan hanya dalam satu menit saja. Canggih, bukan?"

Laki-laki ninja itu benar-benar melongo habis. Wajahnya seperti orang bodoh begitu. Otaknya belum bisa berkoneksi dengan dunia di tahun 2199 ini.

"Aku belum ngerti sama sekali dengan apa yang terjadi di sini. Sebenarnya dunia apa ini?"

"Ng ... Maksudmu?"

"Aku ini berasal dari desa ninja yang bernama Konoha. Apa kau pernah mendengarnya?"

Kening Nepgear berkerut. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Naruto.

"Konoha. Aku nggak pernah dengar nama itu. Desa? Di sini cuma ada empat kota. Planeptune, Lowe, Lastation, dan Leanbox. Empat kota itu dijaga sama empat Goddess yang memegang Goddess Heart. Kakakku juga termasuk dalam empat Goddess itu."

Naruto benar-benar semakin linglung. Dia belum mengerti sama sekali.

"Aku belum mengerti. Bisa kau menjelaskan semuanya padaku? Aku benar-benar terdampar di dunia asing ini. Terus aku berpisah dengan teman-temanku. Aku nggak tahu mereka ada di mana sekarang. Pasti mereka mengalami hal yang sama denganku."

"Oh begitu. Baiklah, aku akan menjelaskannya satu persatu," kata Nepgear yang menunjukkan senyum ramahnya lagi."Dunia ini bernama Gamindustri. Dunia serba canggih dan dipenuhi dengan teknologi-teknologi masa depan. Sekarang kau berada di zaman abad 22 yang akan memasuki abad 23. Zaman mesin pertama. Sekarang kita berada di ujung abad 22, tepatnya kita berada di tahun 2199. Kau sudah terdampar di masa depan, Naruto."

Sungguh, penjelasan Nepgear ini membuat mulut Naruto ternganga lebar. Kedua matanya membulat sempurna. Kaget setengah mati.

"A-APA AKU BERADA DI TAHUN 2199!? DI MASA DEPAN?!" teriak Naruto sekencang-kencangnya di ruang makan itu."AKU NGGAK NGERTI! KENAPA BISA JADI BEGINI!?"

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

BALASAN REVIEW:

zero: terima kasih atas reviewnya.

cello: terima kasih ya.

PainLucifer: hm ... Naruto x harem? Liat dulu deh.

ichifell: ini udah next.

enZans: oke, ini udah lanjut kok.

joanjoanleonar: terima kasih banyak atas reviewnya. Maaf, telat update.

Dark Army: terima kasih.

rohimbae88: udah next nih.

Supreme Evil King: oke. Ini udah lanjut. Maaf lama.

xxx: oke. Nih lanjut.

Yasaka Nazuka: terima kasih. Maaf, lama.

.

.

.

A/N:

Hai, ketemu lagi di chapter 2 ini!

Maaf, jika saya terlalu lama mengupdate kelanjutan cerita "Goddess Heart" ini. Soalnya idenya nggak ada terus. Padahal ada niatan mau lanjut. Terus ditunda dulu, fokus buat kelanjutan fic lain. Jadi, nggak terasa waktu penundaan udah nyampe 9 bulan. Aaaah, maaf banget ya 0_0

Jadi, idenya udah ada nih. Makanya saya bisa lanjutin lagi. Jadi, beginilah cerita kelanjutannya. Malah berujung dengan adanya unsur scifi. Hehehe ...

Oke, terima kasih banyak yang udah mereview fic ini dan terima kasih buat reader misterius yang nuntut fic ini dilanjutkan.

Hanya segini saja saya tuliskan untuk chapter 2 ini. Kalau ada waktu dan ide lagi, bakal saya lanjutin secepatnya.

Sampai jumpa lagi di chapter 3 ya! Jangan lupa review lagi! ^^

Finish: Sabtu, 25 Juni 2016