YOUNG PARENTS
A P4 fanfic
By: Ryuamakusa4eva
Summary: semenjak saat 'itu', Naoto merasa tidak enak badan...apa yang sebenarnya terjadi dengan Naoto? SouNao. WARNING: agak ecchi di prologue...XP
Disclaimer: ...kalo Persona 4 punya gua, udah pasti Souji x Naoto itu canon pairing kayak Minato x Aigis! XDDD
A/N: hanya mau bilang kalo fic ini tidak AU, dan mengikuti alur cerita di gamenya...-gaje-
"...Naoto? kau terlihat lemas...sakit ya?" tanya seorang kakek tua yang sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah novel misteri.
Perempuan detektif itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan, dia lalu menjulurkan tangannya, memberikan sebuah buku kepada sang kakek. "ini kek, aku sudah selesai membacanya...dan jangan khawatir soal aku, aku tidak apa-apa kok...aku hanya capek."
Kakeknya itu lalu mengambil bukunya dari tangan Naoto, ia letakkan buku itu di pangkuannya. Sang kakek menghela nafasnya lalu tersenyum.
"ya sudah kalau begitu...istirahatlah nak...lagipula sekarang sudah malam..." katanya sambil mengelus kepala Naoto yang pada saat itu tidak memakai topinya, dengan lembut, pipi sang perempuan detektif itu sedikit memerah.
Dia memang sebenarnya sangat suka saat Kakeknya perhatian kepadanya, terutama saat mengelus kepalanya, dia serasa memiliki seorang ayah...
Ya, bagi Naoto, Kakeknya itu sudah seperti ayahnya sendiri.
Perempuan itu tidak bisa menahan rasa senangnya saat Kakeknya sangat memperhatikan dia, Naoto pun tersenyum riang, "baiklah...selamat malam kakek!" katanya sambil membungkuk, lalu berjalan keluar ruangan kerja Kakeknya itu.
Kakeknya tersenyum "anak itu...sekarang dia sudah menjadi seorang gadis yang lugu." gumam sang Kakek sebelum kembali membaca novel yang ia pegang, ia sedikit tertawa kecil mengingat kelakuan cucunya yang sekarang benar-benar berbeda dari Naoto Shirogane yang belum bertemu seorang Souji Seta.
...Ternyata sang Kakek tahu bahwa Naoto mempunyai seorang kekasih yang benar-benar mencintainya.
"aku bahagia untukmu, nak Naoto..."
RRRRRRRR...
"ah, handphoneku..." gumam Naoto sebelum ia merogoh kantongnya untuk meraih handphonenya.
Dia melihat ke arah layar handphonenya 'oh, dari Rise-san...' pikirnya, lalu ia tekan tombol berwarna hijau itu dan mendekatkan handphonenya ke telinganya.
"Naoto disini...ada apa Rise-san?"
"Naoto-kun! Yosuke-senpai mengajak kita untuk piknik di dunia TV besok, kamu mau ikut tidak?"
Sang perempuan detektif itu menaikkan satu alisnya. "piknik?" tanyanya
"iya! mumpung kita masih liburan!"
Naoto menggaruk kepalanya, agak bingung mau membalas apa, sebenarnya dia berencana untuk beristirahat total besok, karena keadaannya sedikit tidak fit, dan keadaan ini tidak bagus, karena dia ada beberapa pekerjaan detektif yang harus dikerjakan.
Tapi...piknik terdengar bagus.
Dia menghela nafas 'tapi...tidak ada Senpai...pasti akan terasa sangat hampa...' pikirnya, sambil melihat ke arah lantai, raut wajahnya menunjukan bahwa dia masih sangat sedih atas kepergian kekasihnya.
Souji baru saja pergi beberapa jam yang lalu, namun perempuan detektif ini sudah merasa tidak sanggup untuk hidup tanpanya.
"Naoto-kun...?"
Sang perempuan itu langsung tersadar dari pikirannya "ah, uhm...boleh, besok aku ikut...pukul berapa kita berkumpul?"
"katanya sih, jam 7 pagi, sebelum Junes buka...dia bilang kalau agak siang pas Junes buka, nggak bisa...bagian Elektronik mau ada sale besar-besaran katanya." kata idola remaja itu sambil menghela nafas
Naoto mengedipkan matanya "pagi sekali...ya, baiklah...apa ada lagi yang ingin disampaikan Rise-san?"
"kamu beruntung Naoto-kun." katanya, nada suaranya terdengar sedikit sedih.
"a-apa..?"
"eh...ti-tidak...tidak ada apa-apa! s-sudah ya? malam Naoto-kun!"
"selamat ma-" belum selesai mengucapkan selamat malam, Rise sudah menutup teleponnya. "-lam..."
Dia jauhkan handphonenya itu dari telinganya, dia tatap layar handphonenya dengan tatapan bingung. Perempuan detektif itu lalu meletakannya di meja kecil yang berada di sebelah tempat tidurnya sambil menghela nafas.
Lalu dia berjalan ke arah lemari bajunya untuk mengganti bajunya ke baju yang lebih nyaman untuk tidur.
KEESOKAN HARINYA
Cahaya mentari pagi memasuki kamar Naoto lewat celah gorden yang menggantung di jendela kamarnya. Cahaya itu sedikit mengenai mata perempuan yang masih tertidur pulas di kasurnya itu.
Dahi perempuan itu mengernyit, lalu pelan-pelan dia membuka matanya, saat cahaya mengenai matanya dengan tajam, dia menutup matanya dengan tangannya, dia pun bangun dan duduk di pinggiran kasur.
Sang perempuan detektif itu mengusap matanya yang masih sedikit berat untuk benar-benar dibuka sambil sedikit menguap.
Beberapa saat kemudian, dia merasa bahwa isi perutnya mencuat ke tenggorokkannya, dia pun menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi yang tersedia dikamarnya, dia muntahkan isi perutnya di wastafel.
Dengan nafas sedikit terengah-engah, dia putar keran airnya dan membersihkan mulutnya, setelah itu dia menyikat giginya.
'lagi-lagi...sebenarnya aku ini kenapa...?' pikirnya sambil menatap pantulannya yang ada di cermin, dia dapat melihat kalau mukanya sedikit pucat, dan raut wajahnya pun terlihat lemas.
Dia menghela nafasnya sambil memutar kembali kerannya untuk mematikannya, lalu dia ambil handuk kecil yang berada digantung di sebelahnya dan mengusap wajahnya dengan handuk itu.
Tepat pada saat itu juga dia ingat akan sesuatu. "...astaga!" dia berlari keluar dari kamar mandinya, matanya langsung terfokus kearah jam dinding yang ada dikamarnya, matanya terbelalak saat melihat jam berapa pada saat itu.
Jam 6:47...
"ya ampun!" dia lalu berlari ke lemari bajunya, dia ambil baju-bajunya dengan cepat lalu perempuan detektif itu berlari ke kamar mandi.
Sang perempuan detektif itu berlari keluar dari kamarnya dan pergi menuruni tangga, dia lalu melihat Kakeknya sedang duduk-duduk diruang tengah, menonton program berita sambil meneguk secangkir kopi.
Kakeknya itu sadar akan kehadiran cucunya itu, dia melihat kearah cucunya, lalu menaikan satu alisnya. "wah, pagi-pagi pada hari libur seperti ini kau terlihat terburu-buru...ada apa nak?"
"a-aku ada janji dengan teman-temanku, dan aku telat! Jadi, aku berangkat dulu ya kek!" katanya dengan nada panik, lalu berlari kearah pintu.
"hati-hati ya nak Naoto!" kata Kakeknya sambil tertawa kecil.
Naoto mengenakan sepatunya dengan cepat, lalu dia berdiri, dan berlari keluar.
JUNES, JAM 7:12
"Telat." adalah satu kata yang keluar dari mulut pemuda berambut coklat yang memiliki sebuah headphone yang menggantung di lehernya.
"ah...ma-maaf...kemarin aku sedikit kecapaian dan...aku bangun kesiangan..." jawab sang detektif perempuan itu dengan nafas yang terengah-engah dikarenakan telah berlari-lari dari rumahnya ke Junes.
pemuda berambut coklat itu memberikan tatapan bingung "tumben, tidak biasanya 'The Detective Prince' terlambat dan terlihat tidak rapi begini."
"e-eh...tidak rapi...?" lalu dia melirik kearah bajunya, memang, bajunya terlihat sedikit kusut, jaket birunya tidak terkancing, dasi talinya tidak terikat rapi, yang biasanya bajunya selalu dia masukkan dalam celananya sekarang bajunya mencuat keluar dari celananya, dan...
"wah Naoto-kun, kamu kalau nggak sisiran dan nggak pakai topi jadi terlihat seksi." kata sang idola remaja sambil sedikit tertawa, pipi perempuan detektif itu memerah.
"u-uhm..."
Perempuan berambut coklat dengan style rambut bob tertawa. "haha! Aku setuju dengan Rise-chan!"
"a-aku juga setuju dengan Rise..." kata pemuda yang memiliki raut wajah yang sangar, dan memiliki sebuah luka jahitan tepat disebelah alis kirinya. Pipi pemuda itu sedikit memerah melihat penampilan Naoto.
"Naoto-kun, bajumu biarkan begitu saja! Terus rambutmu juga...kamu terlihat keren loh seperti itu!" kata perempuan berambut hitam yang memakai bando berwarna merah.
"ta-tapi..."
"Nao-chan jadi terlihat ganteng!" kata pemuda berambut pirang yang memiliki wajah bishounen, pipi perempuan detektif itu jadi semakin memerah.
Pemuda berambut coklat itu tertawa "sudahlah, jangan goda Naoto-kun terlalu jauh, nanti ditembak loh! Ayo kita ke dunia TV sekarang! Teddie, bawa keranjang pikniknya!" pemuda berambut pirang itu hanya menggerutu sambil mengangkat keranjang piknik yang terbilang cukup besar.
Lalu dengan satu persatu mereka memasuki TV besar yang berada di bagian Elektronik itu.
Tibalah mereka di dunia TV yang sekarang telah menjadi tempat yang sangat indah, seindah surga. Disinilah tempat kenangan-kenangan mereka berada, kenangan bertarung melawan shadow mereka, Adachi, dan Izanami...
Untuk Naoto, dia memiliki kenangan berkencan di dalam dunia TV.
Ya, perempuan detektif itu pernah berkencan dengan Souji di tempat ini, di 'Heaven' lebih tepatnya. Mereka tidak bisa berkencan di tempat terbuka.
Naoto tidak ingin hubungannya dengan kekasihnya itu diketahui oleh teman-temannya, lagipula, sebagian besar masyarakat masih belum mengetahui bahwa Naoto adalah seorang perempuan, dia tidak mau Souji di cap 'gay'.
Lagipula, dia adalah seorang detektif, yang harus terjun ke TKP, dan terkadang harus mengejar pelakunya, keadaan itu membuat semua yang berada didekatnya dalam bahaya.
Bagaimana kalau pelaku itu mengincar temannya, atau kekasihnya karena dendam?
Alasan inilah yang membuat Naoto Shirogane tertutup...ya, sebelum dia bertemu Souji dan teman-temannya.
Terkadang Naoto merasa bersalah, karena dia, mereka tidak bisa memiliki hubungan yang 'normal', mereka harus kencan sembunyi-sembunyi, harus menyembunyikan hubungan mereka, bahkan mereka tidak bisa berpegangan tangan di muka umum.
Tetapi, Souji tetap tersenyum kepadanya, dia tidak marah karena hubungan mereka tidak 'normal'.
Justru...Souji malah berkata kepadanya, "Aku mencintaimu apa adanya, kencan bukanlah hal yang penting, kamulah yang penting Naoto, berada disisimu sudah lebih dari cukup untukku."
Saat Souji berkata demikian, Naoto hampir meneteskan air mata, merasa tidak kuat akan kasih sayang yang kekasihnya berikan, kasih sayangnya itu sangat besar, sampai bisa menggerakan hati perempuan detektif itu.
Naoto tersenyum akan kenangan waktu itu, pipinya mulai memerah. Dia menghela nafasnya lalu hanya berjalan mengikuti teman-temannya, dengan senyum tersungging dibibirnya.
Lalu mereka berhenti berjalan, tempat piknik yang mereka pilih dekat dengan sungai, sungai yang memiliki air yang sangat bening, dengan bunga-bunga dan rumput hijau menghiasi sekitarnya. Teddie meletakkan keranjang pikniknya, lalu membuka keranjang itu, semuanya pun duduk di rerumputan hijau itu.
Mereka sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan yang ada didalam keranjang piknik itu. Namun pemuda berwajah sangar berkata dengan nada ragu-ragu, "...Yosuke-senpai, ini makanannya siapa yang buat?"
pemuda berambut coklat hanya tertawa "tenang! ini bukan buatan Chie, Yukiko, maupun Rise! Makanan ini bisa dikonsumsi kok, ini bukan Mystery Food X!"
Ketiga perempuan yang namanya baru saja disebut menatap kearah Yosuke dengan sangat tajam, sedangkan Naoto hanya tertawa kecil.
Lalu pemuda berambut pirang membuka keranjang piknik itu, memperlihatkan beberapa makanan ringan seperti sandwich, hamburger, takoyaki, dan beberapa makanan lainnya. Mereka melihat makanan-makanan itu dengan tatapan siap menyantapnya dengan cepat sampai habis.
...Terkecuali Naoto, hanya dengan melihat makanan-makanan itu, dia merasa isi perutnya siap mencuat ke tenggorokannya lagi, dia menutup mulutnya dan hanya memfokuskan matanya kearah lain, agar isi perutnya tidak benar-benar keluar lagi.
Disaat semuanya mulai menyantap makanannya, pemuda berwajah sangar menatap perempuan detektif itu dengan tatapan bingung. "loh, Naoto? nggak makan?"
Perempuan detektif itu mengelengkan kepalanya "aku...sedikit merasa tidak enak badan..." pemuda itu hanya menaikan satu alisnya, merasa bingung.
'tapi...kalau aku pikir-pikir lagi...jika aku tidak makan, aku akan merasa lebih lemas...lagipula, aku belum sarapan.' pikirnya sebelum akhirnya dia mengambil satu sandwich dan mulai menyantapnya perlahan.
Namun, setelah dia menelan semuanya, dia dapat merasakan bahwa makanannya mencuat kembali ke tenggorokannya, dengan cepat Naoto menutup mulutnya, dia berdiri dan berlari ke sungai yang dekat dengan mereka, lalu dia muntahkan kembali makanan yang baru masuk kedalam perutnya ke sungai itu.
Semuanya kaget akan kejadian itu, mereka semua langsung berdiri. Perempuan detektif itu melihat kearah mereka dengan raut muka yang pucat dan lemas.
Dan perlahan kesadarannya pun pudar.
"NAOTO-KUN!"
"...oto..." perempuan itu mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.
"Sou...ji...?" tanyanya dengan suara yang lemas, lalu perlahan, dia membuka matanya.
"Naoto...!" dan akhirnya perempuan detektif dapat melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya, dia adalah seorang pemuda berambut abu-abu.
"Sou...oh, Kanji-kun..." gumam perempuan detektif itu dengan pelan, dia letakkan telapak tangannya di keningnya sambil sedikit menggeram.
Lalu Naoto melihat perempuan berambut hitam dan berbando merah mendekatinya, dia menatap perempuan detektif itu dengan tatapan khawatir. "kamu tidak apa-apa Naoto-kun?" perempuan detektif itu hanya mengangguk pelan.
Perempuan detektif itu kemudian beranjak dari posisi berbaringnya dan duduk, dia terdiam dan melihat sekitarnya, dia akhirnya sadar sepenuhnya, ternyata saat ini dia berada dibawah sebuah pohon Sakura yang posisinya tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi.
Naoto memegang keningnya, memijatnya sedikit, saat ini dia benar-benar merasa sangat lemas. 'ada yang tidak beres denganku...aku harus check up nanti di rumah sakit'
"kamu yakin nggak apa-apa Naoto-kun? Mukamu pucat sekali loh..." kata perempuan berambut hitam itu sambil menepuk pundak Naoto dengan pelan.
"mungkin...aku harus ke rumah sakit...untuk check up..." jawab sang detektif perempuan itu sambil menghela nafas.
Pemuda berwajah sangar itu memberikan tatapan khawatir ke perempuan detektif. "kita antar ya?"
Naoto menggelengkan kepalanya dengan pelan. "aku akan pergi sendiri...kalian bersenang-senang saja..." katanya sambil berdiri, tangannya bertopang pada batang pohon Sakura itu.
"Kamu yakin Nao-chan?" tanya pemuda berambut pirang dengan nada suara khawatir, perempuan detektif itu hanya mengangguk kepadanya.
Naoto membungkuk kearah mereka sebelum akhirnya dia berjalan pergi menuju 3 TV yang merupakan jalan keluar dari dunia TV.
INABA MUNICIPAL HOSPITAL
"jadi...anda belakangan ini muntah-muntah, dan merasa lemas?" tanya dokter yang duduk di hadapan perempuan detektif itu, Naoto hanya mengangguk.
Dokter itu memberikan tatapan bingung ke perempuan detektif itu. "anda...perempuan?" raut wajah Naoto berubah kaget, namun dia mengangguk, pipinya mulai bersemu merah.
"mungkin perkiraan saya salah...jadi, anda saya cek dahulu." perempuan detektif itu memberikan tatapan bingung ke dokter itu.
Selang beberapa waktu, akhirnya check up pun selesai, perempuan detektif itu sedikit merasa bingung, karena pemeriksaannya tidak seperti biasanya...ini seperti...
"yah...selamat Naoto Shirogane, anda hamil."
Mata perempuan detektif itu terbelalak.
TO BE CONTINUED
chapter 1-nya pendek banget...akh! payah nih gua! -jedotin kepala ke tembok- ...dan emang dasar, bahasa indonesia gua abal (TToTT)
bahasanya menurut gua bagusan yang di prologue daripada yang disini...disini baku ama nggak baku nyampur! -jedotin kepala ke tembok lagi-
btw, saiia sangat menanti review, ide, kritik, dan saran anda! jangan nge-flame klo gak ngebangun ye? Truss! terima kasih banyak MelZzZ, HIkaRInoTsuBU, Shina Suzuki, Snow Jo dan Naomi ShiroGAJE buat reviewnya! XDD
DAN! tenang aja coy! Souji nongol di chap selanjutnya!
Note: klo reviewnya masih sedikit aja, saiia gak lanjut loh! MWAHAHAHAHA! -dilemparin sampah- ampooeeennn!
