STAGE #2: Pay It Forward
"Makalahmu bagus, Shino," puji Kakashi. "Aku suka hasil kerjamu."
"Terima kasih, Sensei, tapi itu bukan hasil kerjaku sendiri saja," ujar Shino rendah hati.
Kakashi tertawa. "Tapi kau bisa membuat Naruto melakukan bagiannya dengan baik."
"Sensei meremehkanku!" seru Naruto tiba-tiba. "Yang pemalas 'kan Shikamaru!"
Shikamaru yang sejak tadi tidur akhirnya mengangkat kepalanya. "Apa, sih, merepotkan saja." Ia menguap dan kembali menekuni kegiatan tidurnya.
Shino sudah terbiasa dengan kelakuan Shikamaru yang seperti itu. Kini Shino tidak lagi memandang Shikamaru dengan sebelah mata. Malah, sejak hari itu Shino sering menghabiskan istirahat siangnya bersama Shikamaru, walaupun hanya sekadar menemani Shikamaru tidur di atap.
Bel pergantian kelas berbunyi.
"Oke, pelajaran hari ini cukup sampai di sini," tukas Kakashi. "Terus terang saya bangga pada kalian semua; makalah kalian akan diarsipkan di perpustakaan sekolah."
Para murid bersorak puas hanya karena sebuah pujian.
"Selamat siang."
***
"Mau rokok?" Kiba menawarkan sebungkus rokok pada Shikamaru, sementara ia sendiri menyelipkan sebatang di antara bibirnya.
"Maaf, ya," ujar Shikamaru sambil membentuk tanda silang besar dengan kedua lengannya. "Aku sudah berhenti merokok."
Kiba menganga; rokoknya jatuh ke lantai kelas. "Serius?" tanyanya tidak percaya sambil memungut rokok itu, membuangnya, lalu mengambil yang baru.
Shikamaru nyengir. "Tentu saja."
Shino senang mendengar itu, namun hati kecilnya masih bertanya-tanya mengapa Shikamaru yang seorang perokok berat bisa memutuskan demikian.
"Wow," Kiba menatap Sikamaru takjub, "unbelievable." Ia menyulut rokoknya dan menghembuskan asapnya keluar jendela. "Sejak kapan?"
"Sejak kemarin."
"Kenapa?"
Shikamaru tampak berpikir, lalu dua detik kemudian ia hanya angkat bahu. "Entah."
"Menurutku," kata Kiba, "tak lama lagi kau akan kembali merokok."
Shikamaru angkat bahu lagi.
***
Shikamaru meletakkan tiga buah novel di meja. Salah satunya disodorkan pada Shino.
Pay It Forward, novel terjemahan karya Catherine Ryan Hyde.
"Novel lama," kata Shikamaru. "Tapi ceritanya bagus."
Shino memandangi cover belakangnya dan membaca sinopsis ceritanya. "Ini novel tebal, aku tak yakin bisa membacanya sampai habis."
Shikamaru menghela napas. "Ayolah, Shino, masa sih kau tak punya waktu sedikit pun untuk membaca sebuah novel?"
"Tapi minggu ini tugas kita banyak."
Shikamaru mengerang.
"Mungkin lain kali saja?" tawar Shino.
Shikamaru memandangi Shino. "Oke, lain kali," katanya. "Tapi janji, lho." Kemudian ia sendiri membaca novel lain.
***
Shino menyelipkan Pay It Forward di balik buku teks sejarahnya. Ia membuka halaman satu novel itu dan mulai membaca. Walaupun demikian, Shino tetap mampu mendengar penjelasan Sarutobi Asuma—guru Sejarah dengan julukan Gorila-sen yang terkenal killer—mengenai World Trade Organization.
"Selama kurang lebih 48 tahun, perdagangan multilateral diatur oleh General Agreement on Tariffs and Trade atau GATT," jelas Asuma. "Namun sejak Januari 1995, World Trade Organization atau WTO menjadi organisasi utama dalam perdagangan dunia yang mengatur dan memfasilitasi perdagangan internasional."
Shino sudah pernah membaca buku tentang WTO; sampai sekarang, ia masih ingat apa tujuan dan fungsi utama WTO.
"Ada yang tahu apa tujuan dan fungsi utama WTO?" tanya Asuma sambil menebarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas.
Hening.
Dengan ragu, Shino menurunkan buku dan mengangkat tangannya.
Asuma menggeleng. "Kau sudah sering menjawab pertanyaan-pertanyaanku, Aburame. Biarkan anak lain yang menjawab pertanyaan kali ini," katanya. Ia kembali memandang berkeliling. Akhirnya matanya berhenti pada Uchiha Sasuke, peringkat pertama kelas XII-B yang hampir tidak pernah bersuara. "Silakan, Uchiha."
Mata seluruh isi kelas tertuju pada Sasuke.
Sasuke memasang tampang ogah-ogahan. "Tujuan utama WTO," ujarnya datar, "adalah untuk menciptakan persaingan sehat di bidang perdagangan internasional bagi para anggotanya. Sedangkan fungsi utamanya yaitu sebagai forum bagi para anggotanya untuk melakukan perundingan perdagangan, serta mengadministrasikan semua hasil perundingan dan peraturan perdagangan internasional."
"Jawaban yang sangat baik, Uchiha," tukas Asuma. "Namun kau takkan mendapat nilai A untuk kelakuanmu yang tidak disiplin itu; seharusnya kau menjawab pertanyaanku sambil berdiri, dan bukannya bermalas-malasan di bangkumu itu. Mengerti?"
Sasuke mendengus. "Mengerti, Sensei."
Shino kembali menekuni novelnya.
"Jumlah Negara anggota WTO saat ini mencapai 143 Negara, ditambah 31 Negara yang sedang dalam proses perundingan untuk dipertimbangkan sebagai anggota WTO," Asuma meneruskan penjelasannya. "Badan tertinggi dalam struktur WTO adalah Ministerial Conference, kemudian General Council yang membawahi lima badan." Lalu seperti sebelumnya, ia kembali mencari mangsa yang sedang bernasib sial.
Shikamaru.
"Nara Shikamaru," panggil Asuma, nyaris berseru.
Kali ini, mata seluruh kelas tertuju pada Shikamaru.
Jantung Shino nyaris terlontar dari dadanya. Ia merasakan firasat buruk dan segera meletakkan novelnya di meja.
Shikamaru sendiri masih terlelap. Wajahnya dibenamkan di antara kedua lengannya yang terlipat di atas meja. Terdengar dengkuran samar.
Asuma bergegas menghampiri bangku Shikamaru sambil membawa penggaris kayu sepanjang satu meter.
"Shikamaru, bangun!" bisik Naruto.
Kiba melemparkan sebungkus permen ke arah Shikamaru, namun sayangnya lemparannya melenceng dan mendarat di meja Akimichi Chouji, si tukang makan yang duduk di sebelah Shikamaru.
Chouji malah memungut permen itu dan memasukkannya ke dalam saku seragam. "Trims, Kiba," katanya sambil menyeringai.
"Sial," umpat Kiba pelan. Lalu pada Shikamaru, "Bangun, bodoh!"
"Aduh, Shikamaru, bangun, dong," rengek Naruto. Ia mengguncang bangku Shikamaru, namun tidak berhasil membangunkan pemalas itu.
Asuma sudah hampir sampai di bangku Shikamaru. Penggaris kayunya teracung tinggi.
Shino gelisah di bangkunya. Jantungnya berdetak keras sekali.
"Bakamaru!" seru Naruto.
"Bangun!" seru Kiba.
Terlambat. Asuma sudah berdiri menjulang di hadapan Shikamaru. Dengan satu gerakan cepat, ia memukulkan penggaris kayunya ke kepala Shikamaru.
Shino terkesiap.
Shikamaru bangun dari tidurnya, mengangkat wajah untuk menunjukkan kerutan-di-dahi-tanda-bahwa-ia-benci-tidurnya-diganggu pada Asuma, lalu menguap.
Asuma berusaha meredam amarahnya; ia harus tetap cool. "Kau berani tidur di tengah pelajaranku, Nara."
"Yah," desah Shikamaru. "Apa boleh buat, aku mengantuk."
Mendengar jawaban macam itu, Asuma semakin emosional.
"Memangnya kenapa, sih, kalau aku tidur di tengah pelajaran sejarah? Kurasa semua anak setuju, pelajaran ini amat sangat membosankan." Shikamaru memberi penekanan pada frase "amat sangat". "Iya, 'kan, teman-teman?"
Seluruh kelas bergeming.
"Tuh 'kan, tak ada yang menyanggah. Kubilang juga apa, pelajaran sejarah memang amat sangat membosankan."
Asuma berdeham untuk menyusun kekacauan dalam kepalanya. "Kalau begitu, aku akan memberimu pertanyaan, supaya kau tidak bosan."
Shino menelan ludah.
Tidak mungkin Shikamaru mampu menjawab, apa pun pertanyaannya.
Shikamaru menatap Asuma dengan mata mengantuk. "Hmm?"
"Sebutkan kelima badan WTO di bawah General Council, Nara."
Shikamaru masih tampak mengantuk.
Shino segera memutar pikirannya. Ia merasa pernah membaca tentang kelima badan WTO. Ia berjuang memeras otak untuk mendapatkan jawaban itu untuk Shikamaru.
Satu, Council for Trade in Goods… Dua, Council for Trade in Services… Tiga, Council for Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights… Empat, Dispute Settlement Body… Lima, Trade Policy Review Body…
Tepat! Shino berhasil mengingat kelimanya. Ia segera bangkit dan mengacungkan tangan. "Saya tahu jawabannya, Sensei."
"Tidak perlu," ujar Asuma dengan suara dalam tanpa melepaskan pandangannya dari Shikamaru. "Aku bertanya pada bajingan ini. Ayo, aku belum mendengar apa pun darimu, Nara."
Shino semakin gelisah; Asuma tidak pernah main-main. "Saya mohon, Sensei, biarkan saya yang menjawab—"
"Kau tidak perlu melindungi bajingan ini, Aburame!"
Shino tidak peduli, ia mulai menyebutkan kelima badan WTO tersebut, "Yang pertama yaitu Council for Trade in Goods, yang menangani masalah perdagangan barang dan masih memiliki beberapa badan lagi di bawahnya. Kemudian ada Council for Trade in Services yang—"
Asuma melemparkan penggaris kayunya sekuat tenaga ke arah Shino, namun Kiba segera melesat dari bangkunya dan berhasil menangkis lemparan Asuma dengan lengannya. Penggaris itu jatuh ke lantai dengan suara keras. Seluruh isi kelas terkejut; tidak terkecuali Asuma sendiri, yang baru saja menyadari perbuatannya.
Kiba menatap marah pada Asuma.
Shino hanya terpaku menatap penggaris kayu yang tergeletak di lantai dengan ngeri.
Shikamaru bangkit dari tempat duduknya sambil menggebrak meja. "Sensei tidak perlu melakukan perbuatan macam itu! Kau ini guru, 'kan?" geram Shikamaru.
"Yeah, dan kau ini murid, 'kan, Nara?" balas Asuma, tak kalah geramnya. "Seorang murid tidak seharusnya menggurui seorang guru. Seorang murid itu sudah seharusnya menjawab pertanyaan gurunya."
"Jadi," tukas Shikamaru datar, "Sensei masih menginginkan jawaban dari bajingan ini?"
Asuma tidak menjawab.
"Biarkan bajingan ini mengakui satu hal." Shikamaru menatap kecut pada guru itu. "Bajingan ini tidak tahu jawabannya; bajingan ini tidak tahu apa-apa. Puas?"
"Kalau begitu, aku juga tidak mau tahu dengan nilaimu," ancam Asuma. "Nara Shikamaru, kau tidak lulus pelajaranku."
"Persetan," gumam Shikamaru.
Shino akhirnya bisa bersuara. "Shikamaru, sudah! Hentikan—"
"Asal kau tahu, ya, Gorila-sen," sela Shikamaru tanpa menghiraukan Shino. "Aku sendiri tidak sudi mengikuti pelajaranmu. Merepotkan."
Amarah Asuma memuncak, namun ia tetap berusaha tampak cool. "Keluar," perintahnya.
"Dengan senang hati," ujar Shikamaru. Ia segera bangkit dan beranjak meninggalkan kelas. Mata seluruh isi kelas mengikutinya hingga ia menghilang di balik pintu.
Shino duduk kembali dan menatap Pay It Forward yang tergeletak di mejanya dengan sedih. Ia masih belum berhasil membaca novel itu satu halaman pun.
***
"Kau tidak seharusnya berbuat seperti itu, Shikamaru," kata Yuuhi Kurenai, salah satu staf bimbingan konseling Konohagakure Gakuen, yang juga tunangan Asuma. "Kau sendiri tahu, 'kan, Asuma-san itu guru yang bagaimana."
"Aaah, aku bosan!" seru Shikamaru jengkel. Ia menaikkan kakinya ke atas meja. "Kalau ia memang guru, seharusnya ia juga mempelajari karakter murid-muridnya, dong. Aku memang seperti ini, terserah dia mau terima atau tidak."
"Tidak bisa begitu," tukas Kurenai. Sambil merapikan kertas-kertas di mejanya, ia menyodorkan secangkir teh pada Shikamaru. "Mau teh, Shikamaru?"
Shikamaru menggerakkan kakinya. "Letakkan saja di situ."
Shino tercengang melihat kelakuan Shikamaru yang sangat tidak sopan.
Kurenai melihat ekspresi di wajah Shino. "Tak usah heran, Aburame, aku sudah terbiasa dengan sikap Shikamaru yang seperti ini, kok."
Berbeda dengan Asuma yang keras kepala dan keras hati, Kurenai jauh lebih pengertian terhadap murid-muridnya. Apalagi mengingat Shikamaru adalah anak bermasalah yang sering menghadap para staf bimbingan konseling.
Tadi siang, seusai pelajaran sejarah, Shino segera keluar untuk mencari Shikamaru, namun ia tak menemukan anak itu. Kemudian Kiba memberitahunya, bahwa Shikamaru sering pergi ke ruang bimbingan konseling di waktu senggang untuk sekadar nongkrong atau menyapa para staf. Maka Shino segera menyusul ke sana, dan menemukan Kurenai sedang mendengarkan omelan Shikamaru perihal Asuma.
"Kau sudah baca Pay It Forward, Shino?" tanya Shikamaru.
"Belum," jawab Shino. "Tapi aku akan segera membacanya, kok. Maaf," ia segera menambahkan setelah melihat ekspresi sedih di wajah Shikamaru.
Shikamaru tampak cerah kembali. "Secepatnya, ya," katanya.
***
Shino menyelesaikan tugas matematikanya, lalu melihat jam digital pada handphone-nya. Pukul dua puluh dua, saatnya tidur. Ia pun merapikan mejanya dan menuju kamar mandi.
Lima menit kemudian Shino menyelinap ke bawah selimut tebalnya. Ia baru saja akan mematikan lampu meja di samping ranjang ketika matanya menangkap Pay It Forward yang tergeletak di dekat tasnya.
Shino menyingkirkan selimutnya, bangkit dari ranjang, berjalan menghampiri meja tulisnya, meraih Pay It Forward, mengambil kacamata, dan mendekatkan novel itu ke wajahnya.
"When someone does you a big favor, don't pay it back…"
Tagline yang aneh, benak Shino. Namun rasa penasarannya justru terpicu kalimat itu.
Satu bab saja takkan makan banyak waktu.
Shino memutuskan akan menunda tidurnya untuk membaca satu bab saja.
