Opposites Attract
Pairing: MEANIE (Mingyu x Wonwoo)
Rate: T (untuk saat ini, bisa aja naik he)
Genre: Romance, friendship, humor
Warning: YAOI, boy x boy, typos
.
Happy reading
.
.
.
Wonwoo melihat refleksinya di cermin sekali lagi. Setelah membasuh wajahnya, ia terlihat lebih baik. Ia berusaha memejamkan matanya, meyakinkan dirinya sendiri, jangan gugup, jangan gugup. Tunjukkan kemampuan terbaikmu, Jeon Wonwoo.
Walaupun yang terbayang ketika ia memejamkan matanya adalah smirk seorang Mingyu, tapi Wonwoo berusaha positive thinking, dan berdoa semoga Mingyu tidak seburuk yang ia pikirkan.
Wonwoo mengendap keluar dari toilet. Ia melihat sekeliling, dan tidak menemukan Mingyu di sekitarannya. Mungkin Mingyu benar sudah ke bioskop.
Wonwoo berjalan, dan ternyata ia menemukan bioskop tak jauh dari tempat toilet tadi. Bioskop itu terlihat ramai namun tidak penuh sesak.
Wonwoo masuk dan menemukan seorang pria tampan yang bersandar di dinding bioskop itu. Pria itu menyilangkan kedua lengannya sambil serius menatap jadwal-jadwal yang ada di bioskop. Ck, dengan pose bersandar dan kaki satu yang ditekuk begitu, padahal hanya pose biasa, tapi karena pria itu tampan dan stylish jadi ia sudah terlihat seperti model saja. Wonwoo juga merasa banyak beberapa pengunjung bioskop terutama wanita yang curi pandang ke pria tampan itu. Tentu saja, wajah dan gayanya sangat enak untuk dilihat. Dan sepertinya pria itu juga tak keberatan jadi pusat perhatian.
Pria tadi menoleh ke arah Wonwoo yang masih mematung dekat pintu masuk, ia kemudian tersenyum hingga menunjukan taring lucunya. Mingyu terlihat bahagia dan segera menghampiri Wonwoo.
"Ya, Wonu kenapa kau berdiri saja disitu? Apa kau sudah selesai dengan urusanmu di toilet?"
Wonwoo mencoba tersenyum ramah, "Sudah. Maaf membuatmu menunggu."
"Hmm kalau untukmu aku tak keberatan menunggu selama apapun kok, hehe."
Mingyu tertawa bahagia sambil mengelus kepala Wonwoo, bertingkah seolah mereka sangat akrab untuk hal seperti ini. Wonwoo mulai gugup lagi kan, ia melihat banyak mata wanita yang langsung tertuju sinis padanya. Wonwoo itu tak suka jadi pusat perhatian, ia lebih memilih menjadi biasa saja dan tatapan orang yang mengabaikannya. Akrab dengan Mingyu di depan umum seperti ini, kini Wonwoo merasa dirinya jadi tontonan oleh sekelilingnya.
"Eh, Mingyu, apa kau sudah lihat jadwal filmnya?" Wonwoo bertanya, mengalihkan perhatiannya dari tatapan sekitar. Ia juga berusaha tidak mementingkan judge orang sekitar padanya.
Mingyu memiringkan kepalanya, "Yaa.. sudah. Ada beberapa film menarik, kau suka yang mana?"
"Eh? Hmm coba aku cek,"
Wonwoo berjalan ke depan dan melihat beberapa poster film yang dipajang untuk hari ini. Ada bermacam genre, mulai dari action, romance, drama, sampai horror. Mata Wonwoo berkilat begitu melihat film action, ia suka film action karena adegan pertarungan dan perkelahian menurutnya itu paling seru.
"Bagaimana kalau kita nonton action saja Gyu? Keliatannya seru!"
Wonwoo menarik-narik lengan baju Mingyu, dengan tatapannya yang berbinar dan semangat seperti anak kucing, seolah meminta Mingyu untuk mengiyakan semua permintaannya.
"Wah kau suka film action ya?"
Wonwoo mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi, sayang.. aku sudah terlanjur memesan tiket ini,"
Mingyu mengeluarkan dompetnya, dan menunjukkan dua lembar tiket bioskop ke arah Wonwoo. Wonwoo menatapnya, lalu mengambil satu dari tiket itu.
"Film apa ini Gyu..?"
Mingyu menahan senyum kemenangannya, ia berusaha bersikap biasa saja saat berbicara. "Itu film horror, aku ingin menontonnya. Karena aku takut antriannya tadi semakin panjang jadi aku langsung membelinya. Apa kau takut, Wonu-ya..?"
Wonwoo menatap Mingyu dengan mata sipitnya yang melebar. Apa? Horror? Oh tidak. Wonwoo tidak suka film horror, dia anti dengan setan, hantu, dan darah-darah. Baginya tidak ada esensinya menonton film horror, hanya bikin orang parno dan tidak bisa tidur saja.
"Kau yakin kita akan menontonnya…?"
Wonwoo bertanya dengan wajahnya yang memelas, semangatnya tadi hilang sudah. Mingyu berteriak dalam hati, sepertinya rencananya akan berjalan lancar.
"Iya, aku sudah memesannya. Apa kau justru ingin menonton film lain, hm?"
Wonwoo merasa tak enak kepada Mingyu. Mingyu sudah terlanjur membelinya dan sepertinya ia ingin menonton film itu, jadi Wonwoo lebih baik mengikuti Mingyu saja. Terakhir ia nonton film horror ketika masih sd dan ia tak pernah mau menonton film setan lagi karena ia langsung menangis dan jadi tak bisa tidur sendiri, selama seminggu ia harus tidur ditemani Ibunya. Oleh karena itu ketika besar Wonwoo tak pernah mau mencoba lagi menonton film sejenis itu karena menurutnya film seperti itu tidak ada moralnya sama sekali.
Tapi sekarang Wonwoo sudah dewasa, dan sepertinya Wonwoo juga harus belajar mengendalikan dirinya agar tak takutan lagi. Jadi Wonwoo menyetujui saja ajakan Mingyu.
"Baiklah tak apa-apa, aku hanya tak terbiasa menonton horror. Jam berapa filmnya dimulai?"
"Lima belas menit lagi dimulai, lebih baik kita masuk saja ke dalam."
Mingyu kembali menggandeng Wonwoo untuk segera masuk ke studio bioskop. Di dalam studio bioskop itu tidak cukup ramai, hanya kursi dari paling atas sampai tengah yang terisi. Mingyu menaikki tangga bioskop dan menuntun Wonwoo di belakangnya.
Mereka sampai di seat paling belakang, dan Mingyu menuntun Wonwoo untuk duduk di kursi mereka. Paling belakang. Dan paling pojok.
"Eh, ini kursi kita Gyu?" tanya Wonwoo ketika ia sudah duduk. Wonwoo berada paling ujung dekat dinding, sedangkan Mingyu di sebelahnya.
"Iya, posisi yang menguntungkan, kan?" Mingyu tersenyum mesem ke Wonwoo sambil memainkan alisnya. Ia memangku dagunya dengan tangannya, menatap Wonwoo dengan matanya yang sayu sambil menggigit bibirnya.
"Tapi, disini filmnya tidak kelihatan jelas."
Wonwoo menjelaskan dengan muka datar dan innocent. Mingyu melebarkan matanya, lalu ia terkekeh kecil. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke Wonwoo dan berbisik di telinga Wonwoo.
"Memang kau tidak takut? Aku tak yakin kau berani menontonnya."
Mingyu tersenyum jahil dengan wajah tampannya, Wonwoo malu. Duh, sepertinya ia cupu sekali di depan Mingyu, masa pria dewasa sepertinya tidak bisa nonton horror!? Wonwoo mengangkat bahunya, dan tidak mengindahkan perkataan Mingyu.
"Aku berani kok."
Wonwoo mengangkat dagunya, dan menatap Mingyu dengan tatapan jantannya. Mingyu kembali tertawa dengan manis sambil menyenderkan kepalanya ke kursi. Matanya melirik Wonwoo dengan tatapan menggodanya.
"Tenang saja, ada aku disini. Kalau kau takut, kau boleh… ya kau tahu, memelukku mungkin? Aku tak keberatan."
Wonwoo terdiam lalu menundukkan kepalanya, ia sedikit bergeser menjauh. Walau tak berguna juga, karena seatnya dan Mingyu memang sebelahan. Sambil menundukkan kepalanya Wonwoo memainkan jarinya, gugupnya mulai lagi kalau Mingyu menawarkan dengan nada semanis itu. Ada rasa menggelitik di perutnya.
Tak terasa lampu bioskop sudah dimatikan, dan layar di depan bersinar terang. Tanda filmnya akan segera dimulai. Wonwoo merasa beruntung studio sudah gelap karena Mingyu tak akan bisa melihat wajah merahnya sekarang.
Film itu mulai dengan peringatan untuk 17 tahun ke atas. Wonwoo mengernyitkan dahinya, mungkin hantunya sangat menyeramkan, dan mungkin hanya orang dewasa yang pantas menonton adegan hantu atau darah-darahan itu. Tapi dalam hati Wonwoo membenarkan, karena dia kapok sekali menonton film horror ketika dia masih sd.
Ketika awal film dimulai, hanya adegan biasa. Bercerita dengan seorang pria dan wanita yang tinggal serumah. Mereka masih cukup muda, dan sudah bertunangan. Di awal cerita digambarkan bagaimana kemesraan kedua pasangan itu, baru tiba-tiba muncul adegan mistis di rumah mereka.
Wonwoo merasa darahnya tercekat begitu adegan-adegan seram dimulai.
Sedangkan Mingyu, menatap bosan sedari tadi. Cerita ini entah kenapa begitu klise dan adegan-adegan itu sih menurutnya tak menyeramkan sekali. Tapi orang-orang sekelilingnya di bioskop selalu berteriak ketika ada adegan dan musik seram muncul.
Mingyu menengok ke samping, ia berharap Wonwoo ketakutan sambil menutup matanya atau menangis, atau apalah, supaya Mingyu bisa memeluk untuk menenangkannya. Ya, itu rencana Mingyu sebenarnya nonton horror, supaya ia bisa cari-cari kesempatan memeluk pemuda manis itu. Bonus bila bisa melakukan lebih atau menyentuh tempat lain, karena posisi menguntungkan mereka yang di pojok.
Tapi begitu ia menoleh, ia malah mendapati wajah tegang Wonwoo yang sudah putih pucat. Namun tatapannya lurus ke arah layar bioskop, tak berkedip, dan Mingyu merasa Wonwoo sudah menjadi patung sepenuhnya.
Entah kenapa Mingyu jadi menahan ketawa. Ekspresi Wonwoo sungguh lucu, dari wajahnya memang terlihat ia ketakutan namun ia tak seperti orang-orang kebanyakan yang menutup matanya, atau menyembunyikan kepalanya di pundak kekasihnya. Justru Wonwoo dengan sok berani menonton semuanya, tidak berteriak sama sekali, namun lihatlah tubuh tegangnya itu.
Wonwoo bahkan menggenggam erat pegangan kursinya, matanya melotot lebar begitu setan itu muncul dalam wujud aslinya. Lalu Wonwoo berkedip beberapa kali, ia menghirup nafas banyak-banyak untuk menenangkan dirinya sendiri.
Mingyu yang ada niat-niat mesum kepada Wonwoo, jadi tak tega dan malah asyik sendiri menonton ekspresi Wonwoo. Ia menangkup pipinya dengan tangannya, kepalanya sudah menoleh penuh ke Wonwoo di sampingnya. Mingyu tak menghiraukan film itu lagi, menurutnya lebih asyik melihat wajah tegang lucu Wonwoo. Wajahnya jadi terlihat lucu seperti anak kecil.
Saat asyik-asyik mengamati (tentu Wonwoo tak sadar, karena sepertinya ia fokus sekali menonton filmnya), tiba-tiba scene langsung berganti dan muncul desahan-desahan aneh. Mingyu melebarkan matanya dan langsung menoleh cepat ke layar bioskop.
Mingyu merasa rahangnya akan jatuh melihat tiba-tiba adegan berubah seratus delapan puluh derajat. Adegan itu berada dalam kamar tidur, dan pemeran utama pria sedang bercinta dengan seorang wanita yang berada diatasnya.
Mingyu merasa kebingungan, perasaan tadi pemeran utama pria dan kekasihnya itu sedang takut-takutnya karena adegan mistis disekitar mereka. Tapi tiba-tiba adegannya berubah menjadi adegan porno seperti ini!? Lihat betapa vulgar adegan itu, mereka berdua telanjang di atas ranjang dengan badan yang saling menyatu, dan desah-desahan vulgar memenuhi bioskop ini.
Mingyu menyipitkan matanya, wanita itu bukan kekasih pria utama itu… tapi wajahnya mirip setan perempuan yang sedari tadi mengganggu mereka. Aaa, Mingyu mengerti sekarang, wanita itu sejujurnya hantu yang berwujud manusia wanita cantik nan seksi sekarang. Begini-begini Mingyu masih ingat wajah pemainnya. Mingyu mengernyitkan alisnya, untuk apa setan wanita itu bercinta dengan pemeran utama prianya? Apa mungkin setannya itu mantan kekasih pria itu yang dendam, dan berniat membuat kekasih perempuannya cemburu hingga mereka putus? Well itu analisis Mingyu.
Mingyu heran saja, ada saja adegan vulgar seperti ini. Mana durasinya cukup lama, tak dapat dipungkiri Mingyu terangsang juga melihat adegan bercintanya. Ini sih sama seperti menonton porno, Mingyu merasa lebih semangat melihat adegan ini daripada melihat adegan seram buatan yang tadi.
Ia melihat ke sebelahnya dan melihat pasangan kekasih sedang saling mencumbu. Duh, mungkin mereka tidak tahan juga melihat adegan tak senonoh itu, jadi main samber aja asal ada pacar.
AH! Mingyu baru ingat. Wonwoo.
Mingyu memejamkan matanya sambil terkekeh kecil, kini aura gelap mulai menyelimutinya. Sepertinya ia pas sekali memilih film dan sedang beruntung, ia yakin ia bisa memanfaatkan situasi ini. Mingyu itu sudah pro.
Mingyu melirik lagi ke Wonwoo.
Ekspresi Wonwoo sudah berubah. Sangat berbeda dengan tadi. Mingyu bisa melihat bagaimana kini pipi putihnya memerah sampai telinganya, sesekali Wonwoo juga menunduk ke lantai, dan tangannya kini meremas erat bagian celananya. Terlihat sekali Wonwoo gelisah begitu desah-desahan vulgar itu kembali terdengar. Ia begitu tak tenang di kursinya dan menggeliatkan kakinya.
"Hey, hey, kenapa hm? Apa kau sedang terangsang karena mereka?"
Mingyu bertanya dengan suara baritone nya, ia mengangkat dagu Wonwoo dengan jarinya agar Wonwoo menatap penuh kepada Mingyu.
Wonwoo sangat malu sekarang. Apa pula adegan itu tiba-tiba muncul!? Wonwoo itu belum pernah menonton porno sama sekali di hidupnya. Ia saja tak tertarik dengan wanita, jadi ia juga malas menonton adegan vulgar seperti itu. Paling-paling ia pernah dipaksa menonton bersama dengan teman-temannya, tapi Wonwoo keburu malu menonton adegan itu dan tak pernah menontonnya sampai adegan inti dan sevulgar sekarang.
Ditambah seorang Mingyu di sampingnya, yang kini menatapnya intens dengan tatapan khasnya. Seolah Wonwoo terhipnotis, dan Wonwoo merasa badannya panas sekarang. Desahan itu merangsang tubuhnya, ia terjebak sendiri dalam wajah Mingyu yang semakin mempesona bila dari dekat.
Ia tidak berniat menghindar lagi. Karena kini tubuhnya lebih bereaksi daripada akal sehatnya. Mingyu menatapnya dengan sangat dalam, dan kini ia melihat mata Mingyu turun untuk melirik bibir Wonwoo yang terbuka. Seolah memberi peringatan.
Wonwoo justru semakin panas, ia ikut melihat bibir Mingyu yang begitu seduktif. Tak terasa jarak diantara mereka semakin menipis, Mingyu memajukan wajahnya perlahan dan Wonwoo tak berniat menghindar sama sekali. Mingyu memiringkan kepalanya dan hidung mereka sudah bersentuhan, tinggal beberapa cm lagi untuk belah bibir itu bertemu.
Wonwoo menutup matanya perlahan, pasrah akan apa yang dilakukan Mingyu. Tubuhnya telah hilang kendali karena rangsangan sialan itu.
Saat nafas mereka sudah bertemu, dan detik-detik serasa terhenti.
Tiba-tiba teriakan nyaring merusak momen mereka begitu saja.
Wonwoo terlonjak kaget, ia seolah tertarik ke alam sadarnya kembali. Ia terkejut menyadari apa yang akan ia lakukan dengan Mingyu. Ciuman!?
Wonwoo melihat ternyata adegan vulgar tadi sudah berhenti dan wanita cantik nan seksi itu sudah berubah menjadi setan lagi. Dan buruknya benar kekasih pemeran utamanya itu menangkapnya berselingkuh, hingga kini mereka malah bermusuhan dan sang wanita melempar beberapa barang ke si pria dengan brutal, sedangkan setan tadi terkikik dengan wajah seramnya karena rencananya berhasil.
Wonwoo teringat dengan tadi ia yang begitu tak tahu malu ingin berciuman dengan Mingyu.
Kini rangsangan tubuhnya telah sirna semua karena teriakan kencang penonton bioskop. Ia juga sudah kembali normal dan tak merasakan panas lagi.
Kini pikirannya telah buyar. Wonwoo tak bisa fokus lagi menonton film, ia lebih memilih menunduk malu. Namun, dalam tundukannya, entah kenapa Wonwoo tersenyum. Ia tersenyum manis mengingat betapa tampannya wajah Mingyu dari dekat…
Mingyu sendiri hanya menutupi mulutnya dengan tangannya, alisnya menukik tajam karena kesal. Tadi itu sangat nanggung! Padahal kesempatan dan kondisi sudah mendukung. Wonwoo sudah pasrah ingin diapakan saja, dan tinggal beberapa detik lagi Mingyu akan merasakan bibir lembut Wonwoo.
Mingyu menarik kata-katanya. Ia jadi benci dengan film ini. Juga penonton di dalamnya.
.
.
Film telah selesai.
Begitu keluar dari bioskop, Mingyu langsung pamit untuk ke toilet sebentar. Dan Wonwoo disuruh untuk duduk menunggunya.
Wonwoo menurut. Mungkin Mingyu sedari tadi menahan pipis jadi Mingyu begitu buru-buru ke toilet, pikir Wonwoo.
Kini pikiran Wonwoo melayang lagi ke kejadian tadi. Oh astaga, betapa malunya Jeon Wonwoo, tapi tak dapat dipungkiri sebenarnya yang tadi membuat Wonwoo senang. Ya, ia senang, ia tidak membencinya. Justru Wonwoo berharap tidak ada yang merusak momen mereka, agar bibir mereka benar-benar bisa saling bersentuhan—duh apa yang Wonwoo pikirkan!? Ia menggelengkan kepalanya sendiri, berusaha mengusir halusinasi liarnya.
Mingyu sendiri, di dalam toilet ia hanya berdiam sebentar sambil bersandar pada pintu bilik toilet. Ia kesal sendiri, tadi ia sudah dekat sekali mencium Wonwoo dan hampir berhasil, tapi ternyata takdir tidak menyetujuinya. Ia mengepalkan tangannya kuat dan berusaha menahan kesalnya dalam hati. Ia tak mau terlihat buruk dan kesal di depan Wonwoo, makanya ia ingin meredam hatinya dulu.
Wajah Wonwoo tadi itu… ugh, Mingyu tahu Wonwoo itu masih polos dan innocent, dan Mingyu memang berencana untuk berbuat yang iya-iya ke Wonwoo. Tapi apa Wonwoo tak sadar, wajah merahnya yang sayu dari dekat itu membuat Mingyu gila? Mingyu bisa mengingat mata dan bulu mata itu, yang sayu dan seolah menghanyutkan Mingyu ke dalamnya. Bibir tipisnya yang merah terbuka, dan Mingyu merasa magnet yang begitu kuat ingin menyentuh bibir itu.
Mingyu mengusap wajahnya kasar. Ia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Kenapa jantung Mingyu berdebar keras?
Biasanya Mingyu itu dengan teman kencan sebelumnya, Mingyu lah yang membuat mereka berdebar-debar dengan sejuta pesona dan perlakuan manisnya. Mingyu belum pernah merasakan debaran seperti ini di dirinya sendiri terhadap teman kencan sebelumnya. Mereka tak pernah bisa membuat Mingyu bertahan lama, karena seorang Mingyu yang cepat bosan.
Mingyu tertawa dalam hati. Jeon Wonwoo ini.. benar-benar berbeda. Mingyu benar-benar ingin lebih dekat dengannya dan merasakan debaran itu lagi.
.
.
Mingyu keluar dengan wajah biasanya, ia memasang senyum menawannya begitu menghampiri Wonwoo. Wonwoo yang duduk manis sedari tadi langsung berdiri di hadapan Mingyu.
"Kau tak apa-apa, kan?" Wonwoo bertanya.
"Apa maksudmu?" Mingyu bertanya balik. Ia tak mengerti maksud pertanyaan Wonwoo.
"Maksudku, yang tadi, aku—ah sudahlah.."
Wonwoo menghentikan ucapannya sambil tersenyum tipis. Ah, untuk apa ia membahas kejadian tadi di bioskop? Mungkin saja Mingyu tak peduli lagi sekarang, atau tadi memang mereka berdua hanya terbawa suasana. Ya, terbawa suasana. Tak usah dipikirkan atau dilebih-lebihkan, Jeon Wonwoo.
"Maksudmu ciuman yang gagal tadi?"
Wonwoo terpaku. Aih, Mingyu ini frontal sekali. Wonwoo tak menjawab ia justru mengalihkan pandangannya ke samping, tak berani menatap mata Mingyu.
Wonwoo merasa ada tangan yang mengelus rambutnya lembut, setelah itu tangan tersebut merangkul pundaknya.
"Tenang saja, masih banyak kesempatan untuk kita melakukan itu."
Mingyu berbisik dengan sensual. Wonwoo merasa wajahnya langsung panas, dan entah kenapa mungkin saking malunya, ia refleks menyikut perut Mingyu.
"Aww—" Mingyu mengaduh sambil memegang perutnya. Memang tidak terlalu sakit sih, cuman kan lumayan kalau kena siku.
Wonwoo kaget juga melihat apa yang ia lakukan. Tapi tak apalah, lagipula tadi itu tak terlalu kencang kok. Wonwoo berbalik badan dari Mingyu.
"Jadi, sekarang kemana lagi?"
Mingyu mendengar Wonwoo bertanya. Mingyu melihat dari belakang telinga pemuda datar itu merah, ia kemudian tertawa lalu kembali menggenggam tangan Wonwoo.
"Emm, makan mungkin? Aku sudah cukup lapar. Selain itu kita bisa bercerita lebih dekat, Wonu-ya."
Mingyu melirik wajah Wonwoo dari samping. Wonwoo hanya mengangguk dengan alis tertukik dan merah menghiasi wajahnya.
.
.
Mereka duduk berhadapan di salah satu restoran Mall tersebut. Begitu sampai, pelayan menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan. Keduanya memesan steak dan Mingyu memesan ice cappuccino untuk minumannya sedangkan Wonwoo memilih milkshake strawberry.
Setelah tinggal mereka berdua lagi, Mingyu langsung menaikkan alisnya dan membuka percakapan dengan Wonwoo.
"Wonu, jadi bagaimana dengan kencan kita? Kau menikmatinya?" Mingyu bertanya dengan senyum sumringahnya.
"Umm.." Wonwoo memutar bola matanya, lalu ia menaikkan pundaknya.
"Yaa bisa dibilang begitu—aku cukup terkesan denganmu.. Aku harap kita bisa berlanjut menjadi teman dekat, Mingyu-ya."
"Teman?" Mingyu memiringkan kepalanya, "Lebih dari teman juga aku tak keberatan."
Wonwoo tersenyum malu-malu, "Ugh..iya maksudku kita bisa mulai dari berteman dahulu,"
Mingyu menahan senyum gembiranya, ia menunduk sebentar untuk menstabilkan ekspresi wajahnya.
"Oh iya, ngomong-ngomong, kau dekat dengan Jeonghan ya? Kau bekerja dengan kakakku juga?"
"Iya, aku bekerja di bagian editoring, umm kau tahu kan aku mengenalmu dari Jeonghan."
"Oh, ya, tentu saja, lain kali aku harus mentraktir Jeonghan sepertinya, aku harus berterima kasih padanya bisa dipertemukan olehmu."
Mingyu seperti biasa menopang dagunya, matanya menatap jenaka ke arah Wonwoo.
Ia berujar kembali, "Lain kali datanglah ke rumahku. Aku akan memasak special untukmu. Jeonghan itu penggila masakanku haha."
Wonwoo memainkan jarinya di atas meja, matanya berbinar cerah, "Ah—benarkah? Aku sangat ingin mencobanya, Mingyu!"
Mingyu mengangguk-angguk. Mingyu senang bila melihat Wonwoo semangat begini. Mata sipitnya bersinar cerah, dan senyumnya itu sangat manis. Sangat lebih baik dari wajah datarnya. Walau ia akui mau ekspresi apapun Wonwoo tetap tampan dan manis.
"Kau tahu—sebenarnya akhir-akhir ini aku agak stress karena tugas akhirku. Tapi terima kasih karenamu hari ini aku jadi tak terbeban lagi, Wonu-ya. Tingkahmu itu lucu sekali sih."
"Um?" Wonwoo mengerjapkan matanya. Oh, tugas akhir? Jadi Mingyu itu masih mahasiswa ya? Dan apa barusan Mingyu bilang, Wonwoo lucu? Ada juga orang-orang kesal dengan Wonwoo karena Wonwoo terlalu datar dan kaku, kenapa pula Mingyu bisa berpikir demikian. Mingyu memang beda dari yang lain.
"Jadi kau—masih kuliah ya, ahaha, maaf aku baru tahu," Wonwoo mengusap lehernya pelan. Mingyu itu lebih muda darinya tapi sepertinya Mingyu berpengalaman sekali, berbeda dengan Wonwoo yang begitu-gitu saja.
"Ya tak apa-apa, kan memang kita sekarang ingin kenalan lebih dekat." Mingyu mengedipkan matanya sekali lagi, mengirim tatapan menggodanya ke Wonwoo.
Lalu Wonwoo bersyukur, karena tiba-tiba pelayan mengantarkan makanan dan minuman mereka berdua ke mejanya. Ia mengalihkan perhatian ke steak yang terlihat lezat itu, lalu buru-buru menyesap sedikit milkshake nya.
"Kau tahu Wonu-ya—kau orang yang spesial di mataku. Aku tidak sedang menggombal, karena ini sungguhan. Kau berbeda dari orang yang sebelumnya ku temui. Kau membuatku penasaran—" Mingyu menggelengkan kepalanya kecil sambil tersenyum. "Aku harap kita bisa berlanjut."
Wonwoo menegakkan kepalanya, matanya mengerjap lucu menatap Mingyu. Kali ini Mingyu tersenyum begitu tulus, tidak ada lagi wajah jail dan mesumnya lagi. Wonwoo, sudah beberapa kali dalam sehari, terpesona oleh seorang Mingyu.
"Ayo dimakan!"
Mingyu berteriak dengan gembira, setelah itu ia mulai memotong-motong bagian steak dan dengan semangat menyantapnya. Wonwoo terpaku sebentar. Tapi kemudian ia tersenyum tipis dan mulai memotong steaknya dengan rona merah di pipinya.
.
.
Setelah makan di restoran tadi, mereka berdua berkeliling Mall untuk sekedar melihat-lihat dan mengunjungi beberapa toko. Wonwoo hanya mengikuti kemana Mingyu pergi, karena sedari tadi pria itu memang terus menuntun tangannya. Walaupun memang banyak yang memerhatikan mereka berdua, tapi Wonwoo belajar untuk cuek dan tak mengurusi orang lain. Ia disini untuk menikmati waktunya berdua bersama Mingyu.
Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan petang, Wonwoo mengajak untuk pulang karena ia sudah bosan. Mingyu pun meyetujuinya, dan setelah menanyakan Wonwoo pulang naik apa (Wonwoo menjawab taksi) Mingyu langsung memaksa untuk mengantar Wonwoo sampai ke rumah.
Kini Wonwoo berada di samping Mingyu yang sedang mengemudikan setir mobil. Mobil Mingyu adalah mobil sport yang bisa dibilang cukup mahal harganya. Begitu Mingyu bilang mobil itu adalah mobil pribadinya sendiri, Wonwoo pun tercengang, berarti keluarga Mingyu dan Seungcheol itu sangat kaya.
Selama di mobil, Mingyu menyalakan musik dan terkadang ia menyetir sambil bersenandung atau mengangguk-anggukan kepalanya sesuai irama. Wonwoo di sebelahnya hanya terdiam, menikmati pemandangan di jendela. Sesekali Mingyu mengajaknya berbicara dan akan dibalas oleh Wonwoo.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, kini mereka sampai di depan apartemen yang cukup besar namun sederhana.
"Jadi disini tempat tinggalmu, Wonu-ya?" Mingyu melirik ke apartemen itu. Cukup bersahabat, dan lingkungannya asri.
"Iya, disini. Berkunjunglah kapan-kapan jika kau mau, Mingyu." Wonwoo tersenyum tipis dan mengeluarkan nada ramahnya. Mingyu pun terbelalak setelahnya tersenyum lebar.
"Tentu! Suatu saat aku akan main kesini. Asal kau tidak mengusirku, haha."
"Tentu saja tidak, aku tak sejahat itu, Mingyu-ya," 'asal Mingyu tidak melakukan hal-hal aneh di rumahnya sih..' duh hal aneh apa maksudmu Wonwoo.
"Kalau begitu, aku pamit dulu ya. Terima kasih banyak untuk hari ini. Ini.. sangat berkesan bagiku. Ini adalah kencan pertamaku yang sangat spesial. Terima kasih juga atas tumpangannya."
Wonwoo menundukkan kepalanya sopan ke Mingyu. Mingyu pun tersenyum dan memajukan wajahnya. Kini ia berjarak dekat dengan wajah Wonwoo.
"Terima kasih juga," cup. "Wonwoo."
Mingyu mencuri ciuman di pipi Wonwoo. Wonwoo pun mematung dan menatap Mingyu yang kini menampilkan seringaian khasnya.
"Setidaknya hari ini tidak sia-sia, aku bisa mencium pipimu yang merah merona itu. Kita tunggu babak selanjutnya, oke?"
Wonwoo memegang pipinya yang dikecup Mingyu. Ia merah sempurna. Baru segini saja Wonwoo sudah ingin melayang rasanya.
Sepertinya, memang tak ada yang bisa menolak pesona seorang Mingyu, bahkan bagi Wonwoo sekalipun.
.
TBC
.
Thank you for the reviews:
alwaysmeanie, Itsmevv, Jeonwonyet, clingUrip, DevilPrince, Nyanyanyanya, 17MissCarat, mingyu, BooNhy, sempol, Arlequeen Kim, wanUKISS, phillip. michael, sugaring21, Tikha Semuel RyeoLhyun, Wonu nikah yuk, meigisaputra45, Firdha858, wonnderella, seira minkyu, Ribyull0417, HelloItsAYP, angelphanie, svtlovers
Terima kasih yang udah komen di review, I really appreciate it. Apalagi kalo yang panjang-panjang gitu tambah bikin seneng banget loh hehehe. Aku senyum sendiri baca reviewnya :')
Buat Nyanyanyanya, itu udah aku bikinin Wonu merah2, masih kurang gak? xD
Akupun bingung napa Wonu diakhir jadi so' manis gitu .-. Mungkin gara2 Mingyu terlalu modus dan tampan(?). Semoga Wonu yg tsundere bisa kembali ya .-.
Sejujurnya, aku rada kecewa. Kenapa tu? Abisnya yang review tuh gak nyampe setengah yang follows. Dan fav.
I really appreciate it if u read this story… but leave a comment for me before you leave this page? Its not very hard. Review from readers is the one that motivate the author.
Ya, intinya, kalau makin banyak review dan sidersnya berkurang, aku makin semangat lanjutinnya.
Tapi kalau gitu-gitu aja, makin lama updatenya. (Sediihh~~~ but i'm serious tho..)
