*author's note-nya apa ya? Ah, whatever… Maaf error XP*
Satu bulan kemudian.
"Ayah, SMA Teitan akan mengadakan pemilihan Miss Teitan!" seru Ran malam itu pada Kogoro. Kogoro yang sibuk dengan korannya hanya mendelik sedikit. "Memangnya kenapa?"
"Aku ikut pencalonannya" sahut Ran pendek. Conan yang sedang asyik dengan tugas SD-nya hanya tersenyum sinis.
"Dan ayah harus datang ke malam pemilihannya!" teriak Ran. "Ini undangannya" Ran menyodorkan dua lembar tiket kepada Kogoro. "Satu untuk Conan, dan satu untuk ayah…"
"Ran.. Kau memang tak pernah berubah" batin Conan. "Masih enerjik, seperti dulu…"
Kogoro meletakkan tiket itu di meja. "Untuk apa?" tanya Kogoro pada Ran, yang tengah sibuk menyiapkan beberapa hal untuk kampanyenya. "Buang-buang tenaga saja"
"Ah, ayah, aku kan hanya ingin mengikuti jejak Ibu… Ibu dan Tante kan pernah mengikuti Miss Teitan, meskipun hasilnya seri… Dan aku tahu siapa yang membuatnya seri…" jawab Ran sedikit sinis. Kogoro yang merasa tersindir, segera menutup pembicaraan.
"Ah, kau, diamlah!" Kogoro pura-pura marah. Conan tertawa pelan, namun tawanya tak terdengar oleh mereka berdua. Kemudian Conan memutuskan untuk sedikit terlibat.
"Nah, kak Ran, siapa yang menjadi saingan kakak?" tanya Conan.
"Ada kak Sonoko. Itu, sahabat kakak yang sering datang ke sini…" Ran menjawab sambil tersenyum. "Tapi biarpun kita bersaing dalam pemilihan, kita tetap berteman baik, kok…" ujarnya sambil mengedipkan mata. Conan hanya tersenyum melihatnya.
"Memangnya kapan malam penobatan Miss Teitan itu, kak?" tanya Conan.
"Sabtu ini. Kau dan Ayah datang, ya? Tapi jangan bikin ulah!" jawab Ran. "Awas kau kalau bikin ulah!" Ran mengancam Conan dengan karatenya. "Tak akan kuampuni!"
"Ah, ah, iya kak Ran, nanti aku takkan bikin ulah!" sahut Conan sambil tertawa. Sejenak kemudian, Ran kembali masuk kamarnya, dan melihat jam.
"Tiba-tiba saja aku rindu masa SMA" pikir Conan. "Sonoko… Seperti apa ya dia kalau jadi Miss Teitan?" pikirannya mulai melayang tak jelas. Pikirannya itu kemudian dipotong oleh suara lembut Ran yang menyuruhnya tidur sambil menggosok kepalanya.
"Nah, Conan, tidurlah. Sekarang sudah jam 9 malam!" ujar Ran. Conan hanya bisa menurut, sambil tersenyum tak jelas.
Keesokan harinya, selepas sekolah, Ai mengajaknya pergi ke rumah Profesor Agasa. "Aku akan memberitahumu soal titipan berbahaya dari Black Organization itu" ujarnya singkat.
Seperti biasa, Conan dibuat kebingungan dengan ajakan Ai. Namun ia akhirnya menyanggupinya. Terlebih dulu, mereka melepas lencana Detektif Cilik mereka, takut langkah mereka terlacak oleh Ayumi dan kawan-kawannya, yang tak akan paham masalah sebenarnya.
Setibanya di rumah Profesor Agasa, Profesor Agasa langsung menyambut mereka berdua dengan ramah. "Nah, silakan duduk… "
Setelah beberapa saat, Conan memberanikan diri bertanya pada professor Agasa. "Profesor, ada apa sebenarnya? Apakah isi titipan dari Black Organization itu?"
Profesor Agasa dan Ai menghela nafas panjang, dan saling menunjuk. "Profesor saja" ujar Ai.
"Ah, tidak, kau saja yang menjelaskannya" jawab sang professor. Ulah saling tunjuk mereka berdua semakin membuat bingung Conan.
"Ada apa sebenarnya?"
Setelah Conan mengulang pertanyaannya, barulah Ai membuka suara. "Kami telah menemukan penawar untuk racun APTX4869 yang ada dalam tubuhmu"
Mendengar separuh pernyataan dari Ai itu, Conan segera berubah menjadi antusias. "Benarkah?"
"Tapi ada kondisi yang memaksaku menyempurnakannya, dan gagal" Ai segera menghela nafas panjang. "Maafkan aku"
"Ga.. Gagal?"
Ai menarik nafas kembali, sambil mencari kata-kata yang cocok untuk menjelaskan semua hasil penelitiannya dengan professor Agasa pada Conan.
"Racun itu hanya dapat dipulihkan tiga kali saja. Karena aku mencoba prototip pemulihan racunku dua kali kepadamu, maka kali ini adalah yang terakhir. Prototip dari Black Organization ini seharusnya berhasil memulihkanmu secara permanen, tapi ada molekul yang gagal terbentuk saat penyempurnaannya…"
Conan semakin tak mengerti dengan perkataan Ai, kemudian menggebrak meja. "Jadi kesimpulannya?"
Mata Ai berkaca-kaca saat menerangkan hal ini. "Jika kau menggunakan penawar ini, penawar ini akan mengembalikanmu ke tubuh aslimu selama paling lama delapan jam. Namun setelah efek obat itu habis, kau akan kolaps dan meninggal dunia". Ai kemudian menyerahkan botol kecil berisi cairan pemulih itu kepada Conan.
Profesor Agasa kemudian berpesan kepada Conan. "Jika kau akan menggunakan prototip ini, pilihlah waktu dan tempat yang cocok, karena waktu itu akan menjadi waktu-waktu terakhir hidupmu. Maaf, hanya ini yang bisa kami lakukan…"
Conan menerima botol berisi cairan pemulih itu kemudian segera berpamitan kepada Ai dan Professor Agasa. "Terima kasih untuk usaha kalian. Aku berjanji akan menggunakannya hanya pada saat yang sangat penting"
Profesor Agasa dan Ai kemudian melepas Conan. "Jaga dirimu".
