Sakura turun dari mobil milik Sasuke dengan wajah ditekuk. Dia masih kesal karena tidak diperbolehkan untuk ikut ke pantai dan tidak boleh pergi jika tidak bersama Sasuke. Benar-benar menyebalkan!

Mengabaikan Sasuke yang berjalan di belakangnya dan mengikuti sampai ke kelasnya, Sakura berjalan dengan acuh tak acuh. Dia segera mendudukan diri di sebelah Ino ketika sampai di kelas.

"Inooooo! Aku bencccii!" Sakura langsung menuangkan apa yang menjadi kesedihannya.

"Apa yang terjadi? Jangan bilang kamu tidak mendapat izin untuk pergi ke pantai besok," tebak Ino.

"Benar sekali." Sakura menangkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya, "Sasuke-nii harus ikut jika tidak, maka aku tidak boleh pergi."

"Bagaimana kalau kabur saja dari kamarmu, Sakura?" usul Ino memandang sahabatnya.

"Itu usul yang gila! Aku tidak mau!" Sakura menggelengkan kepalanya.

Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika dia nekat kabur hanya untuk ikut ke pantai bersama Ino. Bisa-bisa dia dicincang oleh kakeknya. Diam-diam begitu, kakeknya termasuk orang yang sangat sadis.

"Sepertinya aku akan membiarkan Sasuke-nii ikut bersama kita."

Hei! Kamu tidak tahu jika nyawamu terancam jika berdekatan dengan Sabaku Gaara.

My Lovely Cute Imouto

.

.

Sasuke Uchiha, Sakura Haruno

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

©Aomine Sakura

.

.

Dilarangg COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!

Don't Like Don't Read!

Selamat membaca!

oOo My Lovely Cute Imouto oOo

Itachi tidak bisa menahan senyumnya ketika Sakura masuk ke dalam rumah dengan wajah bersungut-sungut. Adiknya yang manja itu memang menggemaskan.

"Sudahlah, kenapa wajahmu masih ditekuk seperti itu." Itachi tersenyum ketika Sakura duduk di sampingnya.

"Aku masih sebal! Kalian tega padaku!" rutuk Sakura.

"Kami bukannya tega padamu, lebih tega lagi jika membiarkan sesuatu terjadi padamu." Itachi mengacak lembut rambut Sakura, "Aku membelikanmu boneka panda."

Sakura menerima boneka panda yang diberikan Itachi dan memeluknya. Wajahnya masih ditekuk dan membuatnya terlihat menggemaskan.

"Huh! Kalian menyebalkan!"

.

.

Sakura duduk di dalam mobil sport milik Sasuke dengan wajah yang ditekuk dengan kesal. Sebelum berangkat ke pantai, dia harus berdebat dengan alot tentang pemakaian bikini saat di pantai. Untuk gadis seumurannya, tentu saja dia ingin memakai bikini yang menunjukkan lekuk tubuh indahnya. Untuk apa memiliki tubuh yang bagus jika tidak di pertontonkan.

Mereka masih belum sama-sama mengalah dengan pendapat mereka masing-masing. Sasuke yang melarang penggunaan bikini dan Sakura yang sangat ingin memakai bikini.

Mereka sampai di pantai dan menemukan Sai dan Ino serta Gaara. Mereka tidak sendiri, ternyata banyak teman-teman nii-channya juga yang datang. sial! Ini pasti ulah kakaknya yang menyebalkan itu dengan membawa teman-temannya ke pantai.

"Yo! Teme!" Naruto tersenyum lima jari sembari merangkul pacarnya, Hinata.

Tidak hanya Hinata dan Naruto saja yang datang. Bahkan teman kakaknya yang pemalas seperti Shikamaru dan si gemuk Chouji juga datang. Gzzz.. kakak pantat ayamnya itu sungguh menyebalkan.

Padahal, dia kan sudah lama naksir dengan Gaara yang notabene menjadi atlit panahan itu. Kakaknya memang terlalu over protective, dia selalu gagal jika melakukan pendekatan dengan cowok lain. Memangnya kakaknya mau dirinya menjadi perawan tua apa!

"Jangan merengut kesal seperti itu," ucap Sasuke tersenyum.

"Huh! Nii-chan menyebalkan! Kenapa nii-chan juga mengajak mereka?!" Sakura menunjuk teman-teman kakaknya itu.

"Memangnya kenapa?" Sasuke mengangkat bahunya acuh tak acuh, "Bukankah semakin ramai akan semakin asik."

Sakura semakin merengut kesal mendengar jawaban kakaknya yang terkesan asal-asalan itu.

"Baiklah. Kamu boleh memakai bikini." Sakura memandang kearah kakaknya dengan pandangan tidak percaya.

"Benarkah?" tanya Sakura antusias.

"Hn."

"Yatta!" Sakura segera menghampiri Ino untuk berganti pakaian.

Sasuke menyeringai tipis. Tentu saja dia juga ingin menikmati tubuh indah milik adiknya itu.

.

.

Sasuke hanya duduk di pinggir pantai dengan kaos dan celana pantainya. Onyxnya menatap Sakura yang sedang bermain air bersama Ino dan juga Sai. Onyxnya semakin memicing tidak suka ketika Gaara mendekati adiknya itu.

Sakura terlihat begitu bersemangat ketika Gaara mengajaknya berbicara. Bahkan tak jarang, Gaara memandang dua buah gunung yang berukuran sedang tapi kencang milik adiknya itu, ini tidak bisa dibiarkan.

"Sakura."

Sakura dan Gaara yang sedang bebincang menolehkan kepalanya ketika Sasuke mendekat. Sakura terheran-heran ketika kakaknya itu melepaskan kaosnya dan memakaikannya padanya.

"Nii-chan, apa-apaan ini!" protes Sakura.

"Hn. Tubuhmu terlalu indah untuk dipertontonkan kepada serangga merah itu."

Sakura merengut kesal, tentu saja yang dimaksud kakaknya adalah Gaara.

"Mou! Nii-chan, jangan menghina teman sendiri!" Sakura memandang kakaknya dengan pandangan tidak suka.

"Hn." Sasuke memandang Gaara sebelum memandang Sakura.

Sakura merengut kesal dan berjalan menjauh. Kenapa sih kakaknya itu selalu over protective padanya?! Tidak bisakah kakaknya itu tidak bersikap seperti itu? Sungguh menyebalkan!

"Hn. Kamu tidak akan bisa mendapatkan Sakura, jika itu yang ingin kamu tahu."

Gaara memandang Sasuke dengan iris jadenya.

"Hn. Aku tidak menyangka, jika seorang Uchiha Sasuke adalah psikopat gila yang menyukai adiknya sendiri."

"Dan aku akan menjadikanmu korbanku jika berani mendekati Sakura." Sasuke kemudian berjalan menjauhi Gaara.

Gaara tersenyum tipis.

"Kita lihat, apakah aku akan menyerah begitu saja?"

Sai dan Ino yang memandang perdebatan antara Sasuke dan Gaara dari kejauhan hanya bisa berpandangan. Ino memandang Sai dan meringis aneh.

"Kenapa aku merasa jika Sasuke-nii menyukai Sakura, Sai-kun?" tanya Ino memandang kekasihnya itu.

Sai tidak menjawab. Mana mungkin dia mengatakan jika dia mengetahui tentang kelainan sahabatnya itu.

"Aku tidak tahu, Ino."

.

.

Acara berakhir pukul sembilan malam setelah Chouji menghabiskan persediaan daging yakiniku mereka dalam sekali lahap. Sasuke tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat Sakura tertidur di sampingnya sembari memeluk boneka panda pemberian Itachi. Dia mendaratkan kecupan di bibir adiknya itu.

"Andaikan kamu tahu, aku sungguh mencintaimu."

Sasuke tersenyum dan menggendong adiknya keluar dari mobilnya. Mikoto menyambut keduanya dengan senyuman keibuan di wajahnya.

"Sakura ketiduran?" tanya Mikoto dengan lembut.

"Hn. Dia mungkin kelelahan."

Mikoto tersenyum dan memandang wajah damai Sakura saat tertidur.

"Lihat itu, dia begitu menggemaskan saat tidur," ucap Mikoto dengan senyuman di wajahnya.

"Hn." Sasuke tersenyum tipis, "Aku akan membawa Sakura ke kamarnya. Ngomong-ngomong, kemana Itachi-nii dan yang lainnya?"

"Mereka masih di kantor, mengurus tetek bengek perusahaaan atau apalah itu." Mikoto segera mengusir Sasuke, "Cepat bawa adikmu ke dalam kamarnya."

Sasuke segera membawa Sakura menuju kamar adiknya itu. Kamar yang luas dengan fasilitas lengkap dan di dominasi warna pink, warna kesukaan adiknya itu. Meletakan adiknya dengan hati-hati, Sasuke mencium dahi Sakura dengan lembut.

Andaikan Sakura tidak dilahirkan sebagai adiknya.

Sasuke tersenyum tipis dan keluar dari kamar adiknya itu. Setelah ini, ada yang harus dia lakukan di kamarnya.

.

.

"Ssshh.. Sakuraaahh.."

Sasuke mengerang ketika tangannya maju mundur pada batangnya yang sudah menegang dan membesar itu. Memejamkan matanya, Sasuke membayangkan fantasi terliarnya. Bagaimana jika mulut sempit milik adiknya itu yang memanjakan batang kejantanannya. Mengemutnya, bahkan menghisapnya dengan kencang.

"Ougghh.. Sakuraaahh.."

Sasuke semakin mempercepat kocokan pada batang kejantanannya itu. Dalam bayangannya itu, Sakura sedang menduduki kejantanannya dan mendesah dengan hebat. Dia bisa membayangkan Sakura kesusahan menaik turunkan tubuhnya, apalagi dengan kewanitaan adiknya yang begitu sempit dan memanjakan miliknya itu.

"Nii-chan.. ohhh.. nii-chaaahhnn.. oughh.."

"Yeaaahh.. Sakuraaahh.. seperti itu.. ssshh.."

"Be-besaarrhh sekali nii-chaaannhh.. ohhh.. ini nikmat..."

"Sebentar lagiihh.. sebentar lagiiihh.."

Dia bisa membayangkan Sakura menaik turunkan tubuhnya dengan susah payah. Bagaimana payudara sekal gadis itu bergoyang-goyang dan kewanitaan yang meremas kejantanannya dengan erat. Sungguh surga dunia yang menyenangkan.

Sasuke semakin meracau tidak jelas hingga akhirnya air maninya muncrat dan membasahi tangannya. Deru nafasnya terdengar tidak beraturan dengan kejantannya yang telah melemas dan dipenuhi oleh spermanya. Dia harus membersihkan kekacauan ini secepat mungkin, sebelum ada yang masuk ke dalam kamarnya dan menemukannya dalam kondisi seperti ini.

oOo My Lovely Cute Imouto oOo

Sakura membuka matanya ketika cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamarnya. Dia masih mengenakan pakaiannya semalam dan masih memeluk boneka pandanya. Pasti kakak pantat ayamnya itu yang membawanya ke kamarnya.

Mengikat rambutnya, Sakura berniat untuk mandi sebelum berangkat sekolah, namun ponselnya yang bergetar menarik perhatiannya. Satu tangannya membuka pesan yang masuk dan sebuah senyum terukir di bibirnya.

Hn, Sakura. Aku ingin bertemu denganmu sebelum bel masuk berbunyi. Temui aku di atap sekolah. Sampai ketemu nanti –Sabaku Gaara

Ingin rasanya Sakura berteriak dengan girang, namun itu malah akan menarik perhatian keluarganya. Dia harus bersiap dan berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya.

.

Sasuke menaikan satu alisnya ketika menemukan Sakura sudah siap dengan seragamnya. Rambut pink adiknya itu bahkan diikat keatas dan memperlihatkan leher jenjang putih miliknya. Dia bisa membayangkan lidahnya akan menjelajahi leher putih itu dan menghisapnya dengan gemas. Sial! Membayangkan seperti itu saja sudah membuat miliknya ereksi!

"Ohayou!" sapa Sakura dengan ceria.

"Hmm.. tumben sekali kamu berdandan sangat cantik pagi ini," goda Itachi.

"Mou! Kaa-chan! Itachi-nii menggodaku!" adu Sakura.

"Manjamu tidak berkurang, Sakura." Itachi semakin gencar menggoda adik bungsunya itu.

Bagi keluarga Uchiha, menggoda putri bungsu pasangan Fugaku dan Mikoto itu merupakan kesenangan bagi mereka sendiri.

.

Sakura membiarkan Sasuke mengantarnya hingga kelasnya. Meletakan tasnya, Sakura mencoba mengintip keluar kelasnya.

"Apa yang kamu lakukan, Sakura?"

Sakura mengusap dadanya ketika mendengar suara milik Ino. Sahabat pirangnya itu mengagetkannya saja.

"Ssstt.. diamlah, Ino!"

"Apa yang kamu lakukan?" Ino masih tidak mengerti dengan tindakan sahabatnya itu.

"Gaara-nii mengajakku ketemuan diatap sekolah. Aku ingin menemuinya, tapi tidak ketahuan Sasuke-nii," ucap Sakura masih celingak-celinguk.

"Benarkah? Aku boleh ikut?" tanya Ino penuh harap.

"Tidak! Kamu di kelas saja, nanti kalau Sasuke-nii datang mencariku, kamu bisa memberi alasan. Bukankah kamu itu pintar beralasan." Sakura tersenyum menatap Ino.

"Huh! Tetapi nanti malam aku akan datang ke rumahmu dan traktir aku es krim!" Ino menatap Sakura dengan pandangan menyeramkan.

"Beres! Sebaiknya aku segera ke atap sekolah. Jaa- Ino!" Sakura segera keluar kelasnya dan menuju atap sekolahnya.

Sasuke yang sedang memandang layar ponselnya mengerutkan keningnya. Tentu saja dia sedang memata-matai adiknya itu melewati ponselnya yang kini menayangkan adiknya yang berjalan tergesa-gesa menuju atap sekolah.

Pasti ada seseorang yang sedang ditemui oleh adiknya itu.

.

.

"Gaara-nii?" Sakura segera menghampiri Gaara dengan senyum menawan di wajahnya.

"Kamu sudah datang, Sakura." Gaara menghampiri Sakura.

"Apa ada yang ingin dibicarakan?" Sakura bertanya dengan malu-malu.

Gaara tidak menjawab, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura dan melumat bibir merah menggoda itu.

Sasuke hanya bisa menggeram rendah ketika melihat bagaimana Gaara mencium Sakura dan adiknya juga menikmati ciuman itu.

oOo My Lovely Cute Imouto oOo

Sakura keluar dari kelasnya dan langsung menuju parkiran. Bel tanda pelajaran berakhir baru saja di bunyikan dan dia langsung menuju parkiran dimana kakaknya biasanya menunggu. Namun, dia tidak menemukan kakaknya. Kemana kakak pantat ayamnya itu pergi?

Memainkan ponselnya, Sasuke muncul tak berapa lama kemudian. Sakura memandng luka goresan di tangan kakaknya, juga noda darah di lengan seragam kakaknya itu.

"Nii-chan? Apa yang terjadi? Kenapa dengan tanganmu?" tanya Sakura dengan khawatir.

"Hn. Tidak apa-apa, sebaiknya kita segera pulang."

Sakura masih ingin protes dan bertanya, namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Tanpa Sakura tahu, Gaara sedang terbaring dengan luka lebam di seluruh tubuhnya tepat di atap sekolah.

.

.

Ino datang ke rumahnya pukul tujuh malam tepat. Setelah menyapa seluruh keluarga Uchiha, Ino segera masuk ke dalam kamar milik Sakura.

"Hei, forehead!" sapa Ino mendudukan dirinya di samping Sakura yang sedang memakan cemilannya.

"Hn."

"Kenapa kamu jadi seperti kakakmu itu!" gerutu Ino, "Ceritakan apa yang di lakukan Gaara senpai di atap sekolah, Sakura!"

"Gaara-nii menciumku tepat di bibir, dan kamu tahu apa artinya itu bukan?" tanya Sakura memandang Ino.

"Lalu, kenapa wajahmu terlihat tidak bahagia seperti itu?" Ino memandang sahabatnya dengan pandangan heran.

"Tentu saja, Gaara-nii tidak menghubungiku lagi semenjak pulang sekolah. Lalu, aku melihat tangan Sasuke-nii yang terluka, juga noda darah di baju Sasuke-nii."

Ino terdiam, mencoba mencerna apa yang terjadi pada sahabatnya itu.

"Sakura, aku rasa Sasuke-nii mencintaimu."

"Hah?" Sakura memandang sahabatnya itu kemudian tertawa terbahak-bahak, "Itu tidak mungkin, Ino. Dia kakakku dan tidak mungkin mencintaiku."

"Tetapi, sikap Sasuke-nii yang protective itu kelewat batas. Kamu ingat tidak, Sasori senpai yang saat itu mendekatimu bahkan tidak mau menemuimu lagi. Pasti Sasuke-nii melakukan sesuatu dan ini juga terjadi pada Gaara-senpai."

"Sasuke-nii tidak mungkin melakukan itu, Ino." Sakura masih tidak mempercayai apa yang dikatakan sahabatnya itu.

"Lihat saja, pasti terjadi sesuatu pada Gaara-senpai."

Sakura menarik nafas panjang.

"Semoga saja tidak."

.

.

Sasuke membalut tangannya dengan perban. Dia masih belum puas setelah menghajar Gaara hingga babak belur. Pemuda panda itu sudah mengambil ciuman adiknya dan dia tidak bisa membiarkan hal itu. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya ketika mengingat Gaara yang mencium bibir adiknya dan juga Sakura yang menyambut bibir Gaara.

Sial!

.

.

.

.

.

.

.

.

-bersambung-

Balasan review :

Azizaanr : sudah di updet..

mc-kyan : emang sengaja di bikin gitu, karena dia cucu perempuan satu-satunya dan kesayangan kakek madara juga.

: bahkan Authornya juga mau :3

Bandung girl : sudah d updet..

Ryuhara Shanchi : hehehe.. mungkin bisa di pertimbangkan..

Pinktomato : sudah..

Hanazono Yuri : sudah di updet.

Kimi ranaomi : sudah..

Misakiken : sudah di updet.. makasih :D

Leedidah : sudah di updet..

Guest : bisa jadi XD

Ikalutfi97 : di tunggu aja endingnya ya :D

Jey Sakura : yup :)

Septemberstep : Hahaha.. sudah di updet..

IndahP : nggak janji bisa kilat ya :3

Guest : nggak janji bisa di updet kilat :3

Delova : okeeeee.. makasiihhhh.. udah di updet lhooo..

Yoktf : nggak janji ya :D

Respitasari : sudah di updet..

: nggak tau deh bakal sengit atau nggak :3

Cherish Vi : hahahaha..

Locot : sudah di apdet..

Juju : emang sengaja di bikin begitu XD kalo masalah sinetron mah nggak tau.. tp semoga nggak sinetron banget lah XD

Niwa-chann : sudah di updet.. :D

EmikoRyuuzaki-chan : udah ada lemonnya dikit, tapi nggak asem :D

Hoho.. sekian balasn review dari Author.. maap kalo ada yang kelewatan atau salah tulis nama :D

Sampai ketemu di chap selanjutnya!

-Aomine Sakura-