Diary : Dosen vs Mahasiswi

.

.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura

.

.

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

Diadaptasi dari Webtoon : My Prewedding dan Pasutri Gaje (Juga garagara dosen ganteng jomblo :3)

.

.

.

DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!

Selamat Membaca!

"Tadaima."

"Natsuki! Jangan menakali adikmu, dasar anak nakal."

"Lihatlah ini, Natsumi sangat menggemaskan. Siapa cucu nenek yang paling cantik?"

Sakura mendesah panjang dan meletakan sepatunya di rak yang ada di balik pintu. Kediamannya sangat ramai dan dia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang seperti ini. Dia memiliki kakak laki-laki bernama Sasori yang sekarang sudah menikah dan memiliki dua anak dan tinggal bersama juga. Ayah dan ibunya adalah pekerja biasa sedangkan kakaknya membuka sebuah kedai.

"Sakura-chan sudah pulang?" Yugao selaku kakak ipar tersenyum. "Mau membantu kakak membuat makan malam?"

"Iya, tapi aku mandi dan ganti baju dulu."

Sakura melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dulunya kamarnya ada di bawah, tetapi kemudian kakaknya membuatkan kamar yang ada di lantai dua agar dia tidak terganggu.

Masuk ke dalam kamarnya, Sakura memandang kamarnya yang bernuansa pink. Sebagai anak bungsu, dulunya dia memang di manjakan. Tetapi pada masa kecilnya hingga sekolah menengah pertama, dia adalah anak yang tomboy dan sangat sulit diatur.

Merebahkan dirinya diatas ranjang, Sakura memejamkan matanya dan menyentuh bibirnya. Rasanya ciuman itu masih terasa, bagaimana bibir Sasuke melumat bibirnya dengan mesra dan membuat degub jantungnya tak beraturan. Dia menutup wajahnya dengan bantal, dia yakin wajahnya pasti memerah sekarang.

Bagaimana bisa dia jatuh Cinta begitu saja pada dosennya itu? Ugh, dia berhasil meluluhkan hatinya dalam hitungan menit.

"Sakura, sudah selesai mandinya?" Mebuki membuka pintu kamar putrinya sembari menggendong Natsumi, Putri kedua dari kakaknya.

"Ah, aku belum mandi." Sakura mendudukan dirinya.

"Jika begitu cepatlah dan bantu Yugao-chan memasak makan malam."

.

.

.

Sasuke mengusap rambutnya yang basah dengan handuk dan mendudukan dirinya di ranjangnya. Semburat tipis terlihat di wajahnya. Bagaimana bisa dia menyerang Sakura begitu saja? Salahkan Sakura karena gadis itu terlalu cantik.

Memakai pakaian rumahannya, Sasuke mengambil beberapa nilai mahasiswanya dan mulai memasukannya ke daftar nilai agar bisa segera dijumlah dengan semua total nilai yang masuk. Pekerjaannya menjadi dosen membuatnya menguras waktunya.

Terakhir dia menjalin tali Asmara, hubungannya kandas di tengah jalan. Ada banyak alasan mengapa hubungan percintaannya bisa kandas begitu saja. Dan entah mengapa, saat melihat Sakura untuk pertama kalinya dia langsung jatuh Cinta dan hatinya berkata jika dia adalah jodohnya.

"Sasuke." Mikoto selaku ibundanya membuka pintu kamarnya. "Itachi-kun pulang dari Korea."

.

.

Namanya adalah Uchiha Sasuke, Putra bungsu seorang pengusaha kaya. Dia memiliki seorang kakak bernama Uchiha Itachi yang kini sudah berkeluarga dan memutuskan untuk mengurus cabang perusahaan Uchiha yang ada di Korea.

Sedari kecil, ayahnya sudah mendidik dan menawarkannya menjadi penerus Uchiha corp, tetapi entah mengapa dia sama sekali tidak berminat. Dia lebih suka menjadi dosen dan membagikan ilmu yang dia miliki daripada berkutat dengan urusan perusahaan.

Lima tahun yang lalu, kakaknya menikah dengan seorang model cantik bernama Sabaku no Temari dan memiliki seorang anak perempuan bernama Uchiha Keyko. Gadis kecil berusia tiga tahun itu mewarisi rambut kuning milik ibunya dan mata hitam milik sang ayah. Dan Keyko adalah cucu kesayangan keluarga Uchiha.

Keluar dari kamarnya dia menuju meja makan. Disana ayahnya sedang bermain dengan Keyko dan ibunya yang sedang menyiapkan makanan bersama dengan kakak iparnya. Dia belum melihat kakaknya.

"Dimana Itachi-nii?" tanya Sasuke.

"Mencariku, Sasuke?"

Itachi muncul dengan pakaian rumahannya.

"Bagaimana dengan Korea?" tanya Sasuke.

"Seperti itu, tidak ada yang istimewa." Itachi tersenyum. "Keyko, senang bertemu dengan kakek?"

"Iya! Dengan nenek dan paman Sasuke juga!" Keyko tersenyum menggemaskan.

Sejenak, Sasuke memandangi Keyko yang tampak menggemaskan. Dia membayangkan bagaimana anaknya dan Sakura nanti. Pastilah sangat menyenangkan. Dia semakin tidak sabar untuk segera melamar Sakura.

Itachi melirik adiknya sebelum meneguk ochanya.

"Ada apa, Sasuke? Kenapa kamu memandangi Keyko seperti itu? Jangan bilang jika kamu berubah menjadi pedofil?"

"Pertanyaan macam apa itu?!" Sasuke merasa kesal dengan pertanyaan kakaknya. "Aku akan melamar seseorang saat weekend besok."

"Benarkah?" Itachi memandang adiknya dengan pandangan tidak percaya. "Syukurlah Sasuke. Baiklah, kita akan mempersiapkan semuanya!"

Sasuke merasa dia salah mengatakannya kepada kakaknya. Karena responnya begitu lebay.

.

.

Hanya suara ac yang terdengar selain suara kertas yang di bolak balikan. Sasuke meregangkan tubuhnya ketika dia selesai meneliti nilai mahasiswanya. Matanya memandang daftar nilai Sakura dan tersenyum tipis. Ternyata Sakura cukup pintar juga.

Sakura, ya. Entah mengapa saat ini dia merindukan gadisnya itu. Masih hangat dalam benaknya ketika dia mencium Sakura. Rasanya.. Umh.. Dia tidak bisa menjelaskannya.

Namun, dia seperti terbangun dalam mimpinya. Bagaimana jika Sakura menolaknya? Tidak. Tidak mungkin Sakura memutuskan untuk menolaknya karena dia main sosor, kan?

Sasuke menanamkan pada hatinya. Tenang, kau tampan Sasuke. Sudah pasti Sakura tidak akan menolakmu. Optimislah!

"Sasuke?"

Sasuke menolehkan kepalanya ketika pintu kamarnya diketuk. Itu suara kakaknya.

"Itachi-nii, ada apa?"

"Boleh aku masuk?" Itachi membuka pintu kamar adiknya. "Ada yang ingin aku tanyakan."

"Hn."

Itachi masuk ke kamar adiknya dan duduk di ranjang milik Sasuke. Dia memandang adiknya yang sedang duduk di kursi belajar.

"Jadi, siapa gadis yang akan kamu lamar? Tiba-tiba saja mengatakan akan melamar anak orang."

"Namanya Haruno Sakura dan dia adalah mahasiswiku."

"Mahasiswi?" tanya Itachi. "Seingatku kamu berpacaran dengan mahasiswimu dan hubunganmu kandas begitu saja."

"Ck, jangan samakan wanita jalang itu dengan Sakura."

Itachi mengangkat bahunya acuh. Sudah kepala dua tapi masih saja labil, Itachi jadi meragukan adiknya itu.

"Bukankah dia adiknya Sasori?"

Sasuke memandang kakaknya.

"Sasori?"

"Apa kamu tidak ingat? Dia sahabatku sedari sekolah menengah pertama. Jangan bilang kamu bahkan tidak tahu asal usul keluarganya."

"Aku tidak peduli dengan asal usulnya."

"Kau jangan gegabah, Sasuke." Itachi bangkit dari duduknya. "Pernikahan bukan hal yang bisa dimainkan sesuka hatimu. Jangan sampai kamu salah memilih dan malah melukai perasaannya."

"Aku tidak akan salah pilih, aku sungguh mencintainya."

Membuka pintu kamar adiknya, Itachi menarik napas panjang.

"Aku serahkan pilihanmu padamu, Sasuke. Jika itu sudah menjadi keputusanmu, kami sekeluarga akan mendukungmu."

oOo

Sakura sibuk menata meja makan ketika sebuah ciuman mampir di Puncak kepalanya.

"Nii-chan?!"

"Adikku yang cantik ini sudah pulang, bagaimana kuliahmu?" tanya Sasori.

"Um, lancar-lancar saja."

"Tou-chan!"

"Oh, Natsuki." Sasori menggendong putranya itu. "Dimana kaa-chan dan Nat-chan?"

"Kaa-chan sedang memandikan, Nat-chan."

"Begitu."

"Kau sudah pulang, Sasori. Nyahahaha.." Kizashi muncul. "Mebuki, Yugao-chan, ayo kemari dan kita makan."

Sakura tersenyum dan duduk di salah satu kursi. Dia benar-benar merasa hidup jika bersama dengan keluarganya.

.

.

"Ugh.."

Sakura meletakan kepalanya di atas meja dan menguap malas. Dia benar-benar sedang malas mengikuti kelas pagi. Dari pada berada di kelas, dia lebih suka tidur di rumahnya.

"Sakura." Ino melangkahkan kakinya masuk. "Bagaimana kemarin? Kamu jadi mengembalikan novel dari Sasuke sensei?"

Sakura menggelengkan kepalanya.

"Dia sukses membuatku ingin cepat-cepat menjadi istrinya."

"Hah?" Ino memandang sahabatnya. "Bagaimana bisa?"

"Dia menciumku."

"Apa?! Sasuke sensei menciummu?!"

"Sst!" Sakura melotot ketika mendengar betapa cetar membahananya suara milik Ino. Benar-benar sahabatnya ini memiliki suara yang mampu membuat telinga pecah.

"Suaramu terlalu keras." Sakura menatap sahabatnya kesal.

"Maaf, aku hanya terkejut saja." Ino menunjukan cengirannya. "Bagaimana ceritanya?"

"Ya aku berniat mengembalikan novelnya tetapi dia menolaknya. Dan entah bagaimana ceritanya dia langsung menciumku dengan ganas."

"Wow, sepertinya dia hot."

"Ino!" Sakura menghela napas panjang. "Sudahlah, aku lapar. Setelah ini temani aku ke kantin, ya."

"Aye aye, captain!"

.

.

"Jadi, bagaimana?" tanya Naruto.

Sasuke yang sedang makan menolehkan kepalanya.

"Apanya?"

"Kau benar-benar serius akan melamar Sakura?"

"Tentu saja. Aku benar-benar ingin menjadikan dia istriku."

Naruto mengusap belakang rambutnya.

"Asal kau tidak menyakitinya saja. Biar aku beritahu satu hal, Sasori-nii menderita sister complex, dia bisa membunuhmu jika kamu berani menyakitinya."

"Aku tidak akan menyakitinya, percayalah."

"Oi, Sasuke, ayo kita rapat."

Sakura dan Ino berjalan menuju kantin. Dia terkadang heran, kantin menjadi tempat yang lebih ramai daripada perpustakaan. Padahal ini bukanlah jam sarapan atau makan siang.

"Aa." Sasuke bangkit dari duduknya dan onyxnya memandang Sakura. Dia ingin menghampiri Sakura namun, dia harus mengikuti rapat.

Sedangkan Sakura merasa gugup ketika melihat Sasuke. Dia masih belum bisa melupakan ciuman itu dan merasa gugup ketika melihat calonnya itu. Takut-takut jika dia diserang lagi saat tidak siap.

"Oh, Sakura." Naruto menyapa adik sepupunya itu. "Padahal Sasuke tadi ada disini, kamu terlambat."

"Um iya." Sakura mendudukan dirinya di samping kakak sepupunya itu.

"Sakura mau makan apa?" tanya Ino.

"Um, Omurice saja."

Sakura melirik Naruto yang sedang sibuk memakan ramen ketiganya. Sebenarnya dia ingin menanyakan tentang Sasuke kepada kakak sepupunya itu. Karena Sasuke adalah sahabatnya.

"Ada apa, Sakura? Apa ada yang ingin kamu bicarakan dengan nii-chan?" Naruto melirik Sakura.

"Itu-" Sakura memberi jeda ketika Ino datang membawa sepiring omuricenya dan jus cherry kesukaannya. "Aku hanya ingin tahu tentang Sasuke sensei."

"Oh, itu." Naruto menyeruput kuah ramennya. "Apa ya, sebenarnya dia orang yang menyebalkan. Semasa sekolah dulu, dia sangat digandurngi wanita tetapi dia tidak pernah memperdulikannya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya sebenarnya, lalu tiba-tiba saja dia melamarmu."

Tidak menanggapi, Sakura mengaduk-aduk omuricenya.

"Apa Sasuke sensei menyukaiku karena aku berubah menjadi cantik?"

Naruto tidak langsung menjawab, dia mencoba memikirkan jawaban yang tepat untuk adik sepupunya itu.

"Aku rasa bukan karena itu. Tapi aku akui, kamu sangat cantik sekarang. Jika bukan karena ikatan darah, mungkin aku sudah menjadikanmu milikku."

Satu detik. Dua detik.

Bruuussshh!

Ramen yang sedang dimakan oleh Ino menyembur mengenai kepala Naruto. Bahkan sekarang rambut kuningnya penuh dengan ramen.

"Apa yang kau lakukan-ttebayou!" Naruto memandang Ino dengan kesal.

"Sensei yang apa-apaan! Sakura itu adekmu, sensei! Jangan seperti jomblo kurang belaian!" Ino balas melotot memandang dosennya itu.

"Hah? Kau ingin bertengkar denganku?!"

"Hahahahahhaha!"

Suara tawa terdengar begitu keras dan membuat Naruto maupun Ino menolehkan kepalanya. Mereka memandang Sakura dengan pandangan amarah milik mereka.

"Apa yang lucu?!" Naruto dan Ino bertanya bersamaan.

"Tidak ada apa-apa, hanya saja kalian lucu sekali. Aku jadi tidak bisa berhenti tertawa." Sakura mengusap sudut matanya yang berair. "Sudah, sudah, kalian lanjutkan saja bertengkarnya aku mau makan."

"Hah?!"

.

.

Sakura memandang wajahnya di cermin dan tersenyum. Entah mengapa ketika mendengar kakak sepupunya bercerita tentang calon suaminya membuatnya memantapkan hatinya agar segera mengatakan kepada keluarganya tentang niat baik Sasuke.

"Sakura, kamu pasti bisa!"

Menepuk wajahnya, Sakura mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri. Rasanya sangat gugup ketika akan mengatakan jika dia akan menikah.

Ponselnya yang dia letakan di atas kasur bergetar. Sakura mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk.

Uzumaki Naruto : kau pasti bisa mengatakannya, Sakura-chan! Nii-chan akan mendoakan dan mendukungmu-ttebayou!

Sakura tidak bisa menahan senyumnya. Dia yakin dia bisa mengatakan kepada keluarganya.

"Sakura, ayo makan malam."

Berjalan keluar kamarnya, ternyata seluruh keluarganya sudah berkumpul. Kakaknya tersenyum memandangnya.

"Kenapa lama sekali turunnya?" tanya Sasori.

"Ah, tidak apa-apa."

Mendudukan dirinya di samping ibunya, Sakura meneguk ludahnya. Mungkin dia harus mengatakannya sekarang juga.

"Ano.. Ada yang ingin aku katakan." Sakura buka suara.

Dia menjadi salah tingkah ketika suasana menjadi hening. Rasa gugup mulai menyelimutinya.

"Nyahahaha.. Kenapa kalian terdiam, memang apa yang ingin kamu bicarakan, Sakura-chan?"

"Itu.. Sebenarnya.. Calon suamiku akan datang melamarku hari minggu besok."

Seketika keheningan menyelimuti kediaman Haruno. Sakura merasa salah bicara ketika semua pasang mata memandang kearahnya. Kemudian ayahnya tertawa paling keras.

"Nyahahahha.. Boleh, boleh, bagaimana, Mebuki? Bukankah Putri kita ini sudah dewasa?" tanya Kizashi.

Sakura tersenyum lega. Sepertinya semuanya baik-baik saja.

"Apa memang benar, Sakura? Bukannya kamu jomblo dari lahir? Kenapa tiba-tiba ada yang mau melamarmu?"

"Mou, kaa-san! Berhenti mengejekku! Aku sudah dewasa!"

Yugao tertawa. Dia ikut bahagia dengan kebahagiaan adik iparnya.

"Syukurlah, Sakura."

Sedangkan Sasori tidak bereaksi. Dia meneguk Ochanya dan hanya memandangi Sakura.

.

.

.

Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam dan Sakura tak henti-hentinya tersenyum. Dia tidak menyangka jika keluarganya dengan mudahnya menerima jika dia akan menikah. Rasanya bahagia sekali.

Dia sudah tidak sabar menanti lamarannya hari minggu besok.

"Sakura, boleh kakak masuk?"

Sakura memandang pintu kamarnya yang diketuk. Itu suara kakak iparnya.

"Yugao-nee."

Yugao membuka pintu kamar adik iparnya itu dan tersenyum. Dia mengambil kursi belajar Sakura dan duduk.

"Jadi, siapakah gerangan pangeran yang akan melamar adikku yang cantik ini?"

"Mou, nee-chan."

Sakura selalu menyukai Yugao. Karena dia tidak memiliki kakak perempuan, maka dia menganggap Yugao sebagai kakak perempuan idamannya. Tak heran jika dia dan Yugao menjadi sangat akrab dan lengket. Terkadang mereka saling berbagi rahasia kecil.

"Namanya Uchiha Sasuke dan dia dosenku."

"Whoah.. Apakah dia tampan?" tanya Yugao.

"Um, ya seperti itulah." Sakura memegang wajahnya yang memerah. "Kami bahkan sudah berciuman."

"Wow, wow, wow, dia ganas juga rupanya." Yugao mengerling nakal.

"Mou, nee-chan! Berhentilah menggodaku!"

Yugao tidak bisa menahan tawanya. Dia menyukai moment dimana dia bisa menggoda Sakura sesuka hatinya.

"Aku ikut senang, Sakura," ucap Yugao. "Apapun pilihanmu, jika kamu yakin itu yang terbaik, nee-san akan mendukungmu."

Sakura mengusap air mata di sudut matanya.

"Arigatou, nee-san."

Mereka tidak tahu, jika seseorang mendengarkan percakapan mereka.

oOo

Suara hembusan napas terdengar di sebuah kamar. Sasuke memandang dirinya di cermin yang mengenakan sebuah kemeja dengan setelan jas hitam. Pagi ini dia akan melamar Sakura dan entah mengapa rasanya sangat gugup.

Rasanya dulu saat dia melihat kakaknya melamar Sabaku no Temari, tidak seperti ini. Kakaknya sangat tenang dan bicaranya sangat lancar. Dia tidak yakin dapat berbicara lancar nantinya.

"Sasuke, apa kamu sudah siap?" Itachi masuk ke dalam kamar adiknya.

"Hn."

"Tidak usah gugup, buatlah dirimu sesantai mungkin." Itachi menepuk bahu adiknya. "Ayo kita segera keluar, kamu tidak mau kita terlambat, bukan?"

Menarik napas panjang, Sasuke mencoba menormalkan detak jantungnya. Biar bagaimanapun, dia akan melamar calon istrinya di depan kedua orang tuanya dan tidak mungkin dia tidak bisa gugup.

"Lihat ini, Keyko tampak cantik bukan?"

Itachi yang muncul tersenyum ketika ibunya sedang menggendong Keyko. Putrinya itu tampak cantik dengan balutan dress berwarna biru.

"Dimana kaa-sanmu?"

"Di kamal."

Tak berapa lama Temari muncul dengan gaun miliknya. Ketika melihat betapa cantik istrinya, Itachi bahkan tidak berkedip ketika melihat betapa cantiknya istrinya.

"Itachi-kun, ada apa?" tanya Temari bingung.

"Mungkin Keyko membutuhkan adik."

Temari tidak bisa menahan rona merah di pipinya sedangkan Sasuke berdecak kesal.

"Dasar aniki mesum."

.

.

"Kira-kira bagaimana ya wajah dari calon suami Sakura?" tanya Mebuki.

"Nyahahaha.. Bukankah Sakura sudah bilang jika calon suaminya itu sangat tampan?"

"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon menantu kita."

Yugao hanya bisa tersenyum ketika mendengar percakapan mertuanya. Dia sedang sibuk menata meja makan untuk jamuan besar hari ini. Sedangkan suaminya sedang sibuk menjaga kedua buah hatinya.

Suara mobil terdengar berhenti di pelataran rumah mereka. Yugao tersenyum.

"Sepertinya mereka sudah datang."

"Permisi."

Benar saja, Mebuki dan Kizashi segera menuju ruang tamu. Di depan pintu rumah mereka, sudah datang rombongan keluarga.

"Permisi, apa benar ini kediaman Haruno?" Fugaku buka suara.

"Ah, iya benar. Silahkan masuk."

Sasuke memandang sekelilingnya. Ini pertama kalinya dia datang ke kediaman Haruno. Sebelumnya dia tidak tahu menahu tentang keluarga calon istrinya ini. Dia bahkan baru tahu dari kakaknya jika kakaknya Sakura adalah sahabat kakaknya. Ternyata dunia ini sempit sekali.

"Oh, Sasori!"

Menolehkan kepalanya, Sasuke bisa melihat seorang pria berambut merah sedang menggendong gadis kecil berambut pirang.

"Itachi, lama tidak berjumpa." Sasori menyapa sahabat lamanya.

Fugaku sedikit berdeham guna memulai maksud kedatangannya.

"Kami kemari ingin melamar Putri anda Haruno Sakura untuk menjadi pendamping Putra kami, Uchiha Sasuke."

"Nyahahaha.. Putra anda tampan sekali, Uchiha-san." Kizashi menatap Sasuke.

"Terima Kasih."

"Jadi, dimana Sakura-chan ini?" tanya Mikoto. "Sasuke beberapa hari ini suka sekali menceritakan tentang Sakura-chan. Pastilah dia cantik sekali seperti ibunya."

"Anda terlalu melebihkan."

Tak berapa lama Yugao muncul bersama dengan Sakura. Sasuke bisa merasakan darahnya berdesir ketika melihat Sakura yang tampak cantik dengan balutan gaun berwarna biru. Rambutnya yang biasa diikat atau tergerai kini dikepang bak Putri istana.

"Lihatlah itu, Fugaku-kun. Calon menantu kita cantik sekali." Mikoto tersenyum lebar.

Sasuke seperti terhisap kedalam aura yang dipancarkan oleh Sakura. Dia bahkan lupa rasanya bernapas.

"Selera adikmu Bagus sekali." Temari berbisik di telinga Itachi.

"Tentu saja, selera kakaknya saja cantik sekali," balas Itachi.

"Gombal!"

Sakura tersenyum malu-malu dan duduk di samping Sasuke. Rasanya dia ingin pingsan ketika duduk di samping calon suaminya.

"Sakura, kamu sangat cantik."

Gadis bermarga Haruno itu tidak bisa menahan wajahnya yang merona merah.

"Jadi, Kizashi-san. Niat kami datang untuk melamar Putri anda, Haruno Sakura." Fugaku menyampaikan sekali lagi maksud kedatangannya. "Bagaimana, Kizashi-san dan Mebuki-san? Apakah kalian setuju? Mungkin ini terlalu mendadak dan keduanya juga belum mengenal lebih jauh."

"Aku tidak setuju."

Sebuah suara menginterupsi. Sakura melotot dengan wajah pucat ketika mendengar perkataan yang terlontar. Matanya menatap kakaknya yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Aku tidak setuju jika adikku menikah dengannya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Special thanks to :

Miku1415,Ai-chan,Dewiii,Yume Miku,Jane,Hitsugayawaifu,AfisauchiharunoSS,Zehakazama,Baby poni,rapappa,Arniasuprapti,Arisa ezakiya,Kenma plisetzky,Masaki,Riii-ka,Sarahachi,Frizca A,Guest (7),Chanhunwife,Rahma Hime ,Cherry,Guest (6),3' Firza ,Respitasari,Guest (5),D Cherry,KujyoNozara ,Sasusakublossoms,Donat bunder,ChanbaekSaranghaeHeni, dark blue and pink cherry,Kazama Sakura,Ice,Fuyumi Saki,wowwoh-geegee,V,candy,Jeyhwasukasasu23,Chinth,Nana,matarinegan,VolumeKubus13,Nurulita as Lita-san,AdeliaAdimas,Guest (4), CEKBIOAURORAN,lightflower22, sitilafifah989, Thasya Rafika Winata, Guest (3), uchiharuno phorepeerr, Guest (2),15Hayashi Hana-chan, fujiwaraa, dewiehyeokjaehw, ohshyn76,YuwicanGuest (1), Laifa, Queenkyelie

Ada yang namanya belum ketulis atau salah? :'D

Q & A!

Q : apakah bakal sampe ke my Prewedding?

A : kalau itu belum bisa dipastikan.. Hehehe..

Q : apakah alur akan sama?

A : alur sama tapi mungkin akan dirombak sedikit menurut imajinasi *gayaspongebob*

Q : kok di summary Sakura jomblo dari lahir tapi pernah punya pacar?

A : nanti akan dijelaskan :'D

Q : gimana nasib Gaara?

A : dia sudah disediakan peran, tenang saja.

Q : matkul bakteriologi itu ada ya?

A : kalo di mata kuliah Saku ada, Patofisiologi ada, anatomi fisiologi ada, mungkin untuk matkul virulogi, parasitologi ada di semester besok.

Oke! Maafkan atas keterlambatan ini karena Saku sedang sakit dan juga UAS.. :"

Oke, semoga reader suka dan silahkan tinggalkan review yang banyak! Jangan lupa review cerita Saku yang lain ya!

Sampai ketemu di chap depan!

-Aomine Sakura-