| Slow Dance |

Disclaimer : all characters that's Masashi Kisimoto own

Genre : romance/drama

Rate : Mature

Bab I

| PEGUSIRAN |

Maafkan untuk segala bentuk typo ataupun kesalahan lainnya.

Saya akan sangat senang dan mengghargai jika kalian berkenan memfollow, mereview dan memvote jika kalian menikmati setiap cerita yang saya tulis.

Terima kasih..

SELAMAT MEMBACA

SLOW DANCE

HEXE & ICHIMACCHAN_

"Sabaku Gaara, Hyuuga Hinata, Uchiha Sasuke. Tiga nama yang telah disebutkan, harus meninggalkan rumah."

Aah, akhirnya terjadi juga.

Pemilik ketiga nama tersebut hanya terdiam. Anak-anak yang duduk berkumpul di sisi lain turut menatapi mereka, sibuk dengan pemikiran masing-masing ataupun sekedar merasa lega, bahwa nama mereka bukanlah nama yang terucap dari bibir sister nenek Chiyo.

Sabaku Gaara atau sang Owl dengan sigap menggenggam tangan Hinata, gadis yang dipanggil Hicchan itu melirik lewat sudut matanya kemudian menggigit bibir. Sasuke sang Ouji mengepalkan tangannya geram, amarahnya begitu dahsyat meledak namun ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Pengusiran dari panti asuhan bukanlah yang pertama kali. Sukarnya bala bantuan juga semakin bertambahnya anak-anak yang terlantar membuat rumah ini menjadi kian sesak, banyak sister yang mengundurkan diri sebagai sukarelawan karena mereka sadar betul, poros kehidupan sebagai pengurus anak-anak tanpa imbalan tidak akan pernah menginjak kata maju. Menyisakan nenek Chiyo dan sister Anko, yang begitu enggan menatap mata tiga anak yang kini harus meninggalkan rumah.

Sister Anko menambahkan dengan lebih jelas.

"Keputusan ini didapat setelah kami melakukan perundingan selama satu minggu lebih. Kami merasa bahwa kalian telah cukup dewasa untuk bisa hidup dan meninggalkan rumah. Kami akan memberi kalian bekal untuk bisa bertahan, doa kami selalu bersama kalian."

Owl ingin sekali menimpali : 'cukup dewasa untuk tiga anak berusia 15 tahun? Bagaimana dengan Sasori yang bahkan sudah menginjak kepala dua?' –namun tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, si merah tetap sabar dan menghela napas karena ini memang sudah jalannya. Lewat sudut mata ia melirikpada Hicchan, merasa cukup tenang karena gadis itu bisa menahan tangis sedihnya.

Ouji maju satu langkah dan berdiri dengan yakin.

"Baiklah. Kami akan keluar dari sini. Terima kasih atas semua yang telah sister berikan kepada kami. Selamat tinggal."

.

.

.

Bekal yang dimaksud telah terbungkus rapi dalam tiga tas punggung yang berbeda.

Nenek Chiyo memeluk mereka dengan derai air mata sebelum ketiganya benar-benar pergi dari rumah tersebut. Wanita paruh baya itu banyak berpesan, menitipkan Hinata pada dua laki-laki yang kini bertanggung jawab atas hidup mereka, mengatakan bahwa selama mereka menjadi satu, mereka akan baik-baik saja.

Tanpa perlu diberitahu pun mereka sudah mengerti. Karena itulah, baik Owl, Hicchan, maupun Ouji, tidak terlalu mengindahkan petuah nenek Chiyo. Tiga tas punggung yang akan menjadi bekal mereka terlihat kempes dan tidak terlalu berisi.

Tas pertama berisi roti dan beberapa makanan ringan. Tas kedua berisikan pakaian untuk mereka bertiga yang jumlahnya tidak lebih dari 6 pasang, dan tas ketiga, tas yang paling kecil berisikan peralatan mandi, juga beberapa uang untuk mereka ke depannya.

Sebelum benar-benar pergi, Ouji dan Owl melakukan pertarungan gunting-batu-kertas untuk menentukan siapa diantara mereka yang akan memikul tas paling berat. Gaara menghela napas keras ketika dirinya dinyatakan kalah, dengan sedikit berat hati ia menarik tas berisikan pakaian kemudian mencoba memposisikan tas tersebut di punggungnya senyaman mungkin. Hinata yang terlihat khawatir menawarkan bahu untuk berbagi beban, namun senyum tipis Owl dan usapan lembut di kepala menjadi jawaban.

Ouji merasa tidak terima.

"Biar aku saja yang membawa tasnya, Owl."

Ketika mereka beristirahat di sebuah taman dekat pusat kota, Sasuke menawarkan diri dengan wajah angkuhnya. Gaara yang tengah menggenggam botol air mineral menatapnya datar, sementara Hinata cukup tertawa kecil seraya memijat bahu Gaara yang memang paling banyak membawa beban.

"Bilang saja kau cemburu, Ouji."

Tendangan ringan dilayangkan Sasuke pada kaki Gaara. Mereka tertawa untuk beberapa saat, mengabaikan tatapan heran dari beberapa pengunjung taman disana. Suara lembut Hinata memecah tawa.

"Dimana kita akan tidur, Owl, Ouji?"

Kedua remaja itu diam seketika. Mereka bertiga meninggalkan rumah tanpa persiapan yang berarti, hanya berbekal tiga tas dan beberapa lembar uang untuk menyokong kebutuhan.

Hal itu tidak sempat terpikir oleh Owl maupun Ouji.

Karena sangat tidak memungkinkan jika mereka menyewa sebuah apato dengan uang yang diberikan sister Chiyo yang tidak seberapa. Lembaran uang itu hanya bisa digunakan untuk menyewa sebuah kamar penginapan selama tiga hari. Itupun kamar yang harganya paling rendah.

Mereka tidak akan tidur di sebuah penginapan.

"Kita pikirkan itu nanti, yang harus kita lakukan adalah mencari pekerjaan."

Hicchan tampak menggigit bibirnya, perkataan Ouji membuat dirinya resah.

Mancari pekerjaan? Pekerjaan apa yang akan mereka dapat di usia mereka yang baru menginjak usia lima belas tahun? Menempuh sekolah menengah atas saja tidak, pekerjaan macam apa yang akan didapat hanya dengan mengandalkan selembar tanda kelulusan yang tingkat pendidikannya belum seberapa?

Ini adalah tantangan pertama yang harus mereka hadapi setelah keluar dari rumah tempat mereka bernaung selama kurang lebih tujuh tahun.

"Dan pekerjaan apa yang akan kita dapat, Ouji?"

Ouji tampak mengerutkan kedua alisnya, "Menurutmu?" Ouji malah balik bertanya.

"Bagaimana jika kau menjadi seorang penghibur? Manfaatkanlah wajah porselen yang dititipkan padamu."

Satu tendangan kembali melayang, membuat Owl meringis merasakan tulang keringnya yang ngilu.

"Aku rasa itu adalah ide yang bagus. Tidakkah kau setuju, Ouji?" Hicchan menambahkan sambil tertawa, tanpa melepaskan pijatannya pada bahu Owl.

Ouji memutar bola matanya bosan, mereka berdua sama saja.

Langit mulai menggelap, ini adalah hari keenam dimana ketiga remaja itu kembali beristirahat di trotoar untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah selama perjalanan mencari pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain.

Dan hasilnya nihil.

Tidak ada satupun tempat yang mau menerima mereka, bahkan untuk sekedar menjadi tukang cuci saja sangat sulit.

Hicchan yang kelelahan menyenderkan punggungnya di pintu toko yang sudah tutup, beberapa bulir keringat membasahi leher dan rambutnya yang di kuncir kuda. Owl yang melihat keadaan Hicchan lekas kembali berdiri, berniat untuk membeli satu botol air mineral, karena minuman yang ada dalam perbekalan mereka sudah habis dan persediaan uang mereka juga sudah menipis.

"Owl, kau mau kemana?" suara lirih nan serak itu mengalihkan sang Owl.

"Kau pasti kelelahan, Hicchan. Aku akan membeli air minum sebentar."

Rasa cemas mulai merayapi hati Hicchan. Ini adalah minggu malam, dan salah satu dari mereka tidak boleh berpisah. Ouji juga ikut berdiri seraya menepukkan telapak tangannya pada samping celana.

"Hicchan, kau tunggulah disini sebentar. Aku ingin mencoba peruntunganku sekali lagi."

Delikan tajam dilayangkan Owl pada sumber suara, Ouji yang menerima delikan itu hanya mendengus dan mencoba menjelaskan.

"Malam belum begitu larut, lagipula banyak orang yang berlalu lalang dan Hicchan pasti baik-baik saja jika kita tinggalkan disini sebentar. Bukankah begitu, Hicchan?"

Hicchan yang tidak ingin menjadi beban dan penghalang hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dengan lemah, memberikan isyarat jika dirinya baik-baik saja jika mereka tinggal untuk beberapa saat.

Owl tampak ragu, namun dirinya juga tidak mungkin menunggu sementara kondisi Hicchan sudah seperti ikan yang membutuhkan air. Jika dirinya menyuruh Ouji untuk membeli air mineral itu, maka persediaan uang untuk makan besok hanya akan tersisa untuk satu orang saja.

Dan Owl tidak akan membiarkan hal itu.

"Baiklah."

Dan mereka memutuskan untuk meninggalkan Hicchan.

.

.

.

Sepasang jade itu mengawasi sebuah minimarket 24 jam yang hanya dikunjungi beberapa pembeli. Sepertinya apa yang ingin dia lakukan akan terlewati dengan mudah, dengan hodie jaket yang dikuplukan, Owl mulai memasuki minimarket itu.

Suara ting dari pintu otomatis yang terbuka membuat kasir minimarket menoleh kepada Gaara, dengan sapaan hangat kasir itu menyambut Gaara, membuat si merah itu merasa sedikit menyesal dan bersalah karena niatnya datang kemari adalah untuk mencuri sebotol air mineral.

Dengan langkah berat, Gaara melanjutkan niatnya dan lekas menghampiri lemari pendingin tempat berjejernya berbagai jenis minuman. Tidak ada gerakan yang berarti setelah Gaara berdiri di depan lemari pendingin.

Gaara melirikan matanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian, memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya. Setelah merasa situasinya aman, dengan santai Gaara mengambil satu botol air dan langsung memasukannya ke saku jaketnya dan memasukan kedua tangannya untuk memegang dan menutupi botol itu agar tidak terlihat dari samping.

Gaara kembali, melangkahkan kaki dan menghampiri meja kasir, dirinya harus berbasa-basi agar tidak terlihat mencurigakan. Meski perasaannya sedikit cemas karena salah satu pembeli yang berada tidak jauh dari dirinya terus memandang ke arah saku jaketnya.

"Maaf, apa disini ada kondom X?"

Si penjaga kasir berkedip dua kali, dengan gerakan kaku si kasir mencari barang yang sebenarnya tidak Gaara pesan, "Sepertinya barang yang anda cari tidak ada, tuan."

Helaan napas berat terdengar, Gaara merasa lega.

"Oh, baiklah."

Si kasir tampak tersenyum, membungkukkan sedikit badannya, "Terima kasih telah berkunjung."

Namun ketika Gaara berbalik, satu teriakan terdengar dan sontak saja membuat dirinya berlari seketika.

"Ada minuman di dalam saku jaketnya, dia seorang pencuri!" suara itu terderngar dari pengunjung yang terus memperhatikan Gaara sewaktu di meja kasir.

"Sial!" satu umpatan terdengar, Gaara berlari keluar minimarket, merutuk dalam hati jika dirinya harus lebih hati-hati dan lebih handal untuk aksi mencurinya di lain waktu. Gaara terus berlari, dua orang pria dewasa terus mengejarnya sambil meneriakinya.

Namun setelah beberapa saat, kedua pria itu tidak lagi terlihat mengejar. Gaara mendudukan dirinya di trotoar, meraup oksigen sebanyak-banyaknya kedalam paru-paru.

"Sial sial sial!"

Kegagalan ini, tidak boleh terulang lagi.

.

.

.

Hinata memeluk kedua lututnya, menunggu dengan perasan resah dan cemas. Owl dan Ouji belum juga kembali. Ketiga tas yang mereka bawa berjejer rapi disamping tubuhnya, ini adalah minggu malam dan sekarang mereka tidak bersama.

Hinata memikirkan bagaimana caranya untuk merayakan minggu malam yang sudah menjadi tradisi mereka selama tujuh tahun? sementara keadaannya sekarang sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu.

Tidak ada ruangan, tidak ada nyanyian, juga tidak ada minuman. Hinata tidak ingin jika dirinya melewati minggu malam ini tanpa perayaan sesuai dengan janji yang mereka buat.

Perayaan harus tetap dilakukan.

Namun bagaimana caranya? Hinata juga menyadari jika uang yang mereka miliki sudah sangat menipis dan sangat tidak mungkin jika uang itu dibelikan tiga kaleng minuman hanya untuk merayakan minggu malam mereka.

Air mata mulai muncul di pelupuk mata amethystnya, sampai Hinata tidak menyadari kedatangan empat pemuda tinggi dan terlihat urakan itu mendekat padanya. Dengan gerakan cepat, kedua pemuda itu mengambil ketiga tas dan langsung berlari. Sementara kedua pemuda yang lain menangkap tubuh Hinata dan berusaha menyeretnya ke sebuah gang sempit tak jauh dari sana.

"Tidak! Siapa kalian?! Lepaskan aku!"

Hinata menjerit, namun tak lama kemudian mulutnya sudah ditutup oleh telapak tangan si pemuda. Tubuh Hinata terseret, air mata sudah membahasi pipi dan telapak tangan yang membekap mulutnya.

Perasaannya kacau dengan perasaan takut dan cemas yang meluap-luap. Napasnya terengah, air mata terus mengalir keluar tanpa henti. Hinata terus memanggil nama Owl dan Ouji dalam hatinya sambil menjerit pilu.

Hinata merasakan tubuhnya tersungkur, beberapa detik kemudian kedua pemuda yang menyeretnya berlarian meninggalkan dirinya. Hinata tidak tahu apa yang terjadi, detik berikutnya dirinya menangis dengan kencang. Tubuh Hinata beregetar dengan hebat, Hinata menjambak rambutnya sendiri sambil menangis, membuat sosok wanita berambut pirang panjang yang berdiri tidak jauh darinya itu terheran.

"Hey gadis muda, kau sudah aman sekarang."

Si wanita berdada besar itu berjongkok, berusaha menggapai tubuh Hinata yang bergetar hebat. Namun Hinata menepis kasar uluran tangan wanita itu, Hinata kembali histeris dan semakin tidak terkendali.

Tsunade, wanita itu merogoh ponsel dari saku celana hijaunya. Menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk datang ke tempat dimana mereka berada sekarang. Di detik selanjutnya, tubuh Hinata sudah ambruk, tidak sadarkan diri.

"Gadis yang malang."

.

.

.

Gaara menjatuhkan botol minuman hasil curiannya kala dirinya tidak mendapati keberadaan Hinata ditempat mereka meninggalkan gadis itu sendirian. Kedua manik jadenya berkeliling, mencoba mencari sosok Hinata.. Ketiga tas itu juga ikut menghilang.

Tak lama, Sasuke kembali dan berekasi sama seperti yang Gaara lakukan.

"Dimana Hicchan, Owl?"

Suara Sasuke terdengar penuh tekanan, kedua rahang pemuda itu mulai mengeras. Gaara hanya terdiam dan tampak kebingungan, "Owl! Dimana Hicchan?!" satu tarikan pada kerah jaket Gaara membuat si merah membusung.

"Aku tidak tahu."

Gigi-gigi Sasuke bergemeletuk, tubuh Gaara terhuyung kebelakang setelah Sasuke melepaskan tarikan pada kerahnya.

"Ini semua salahmu, Owl! Mengapa kau tidak kembali lebih awal?! Kau hanya membeli air bukan?!"

"Mengapa kau menyalahkanku, Ouji?! Kau juga sama saja!"

Kedua pemuda yang sudah menjadi satu darah itu bersiap melayangkan tinjunya masing-masing, hingga-

"Apakah kalian Owl dan Ouji? Teman kalian Hicchan sedang menunggu di tempat nyonya Tsunade."

Kedua kepalan tangan itu melayang di udara, Gaara dan Sasuke menolehkan kepala pada seorang pria yang kini berdiri tak jauh dari mereka berdiri. Perlahan, rasa khawatir dan cemas mulai menguap,

Hicchan, gadis itu dalam keadaan aman.

Mungkin.

BERSAMBUNG