Suara erotis menggema ke seluruh penjuru ruang kantor yang berada di lantai sebelas sebuah publishing house ternama di Seoul.

Ada lima orang pria disana. Empat diantara nya adalah dominan. Sementara si Manis yang prostatnya tengah dihantam dengan posisi ia berada di pangkuan salah seorang pria bertubuh jangkung, adalah seorang submissive yang kelewat taat dianiaya hingga tubuhnya remuk.

Tubuhnya terlonjak pasrah. Punggungnya bersentuhan dengan dada bidang berbalut kemeja berwarna biru gelap milik si dominan. Tubuhnya penuh bercak merah. Baik itu bekas kissmark, tamparan, bahkan cambukan sabuk.

Tetapi si manis tetap patuh. Mengangkangkan kaki kurus nya agar tiga pemuda lain yang kejantanannya mengeras, puas menyaksikan bagaimana sebuah lubang senggama digagahi oleh penis besar nan berurat. Lubang senggama berwarna merah muda yang basah oleh air mani, Nampak seperti sebuah cheesecake dengan lelehan susu kental manis berperisa vanilla yang kelihatan nikmat jika disantap bersama bukan?

"euh...! Op–Oppah!"

Tubuh lansing nan berisi itu mengejang. Bergetar. Sementara dua buah penis, baik itu milik si submissive maupun si dominan menghamburkan cairan seks dengan begitu deras. Si manis melenguh merasakan perutnya yang kembung kembali di penuhi oleh susu vanilla. Kepalanya bergerak, mencari wajah tampan si dominan, meminta ciuman.

Didalam otak si manis hanya ada sebuah kata yang terus menggema

"penis"

Berulang ulang memenuhi otaknya yang rusak. Menggeser rasionalitas. Menghapus kesadaran manusia waras.

Maka Guanlin dengan senang hati menyambut bibir ranum Jihoon dengan sebuah ciuman panas yang penuh lumatan, gairah dan saliva. Meremas remas tubuh berlemak milik Jihoon yang justru membuatnya menggemaskan serta empuk seperti sebuah plushie yang nyaman dipeluk ketika mereka sedang berhubungan seks seperti sekarang. Mengirimkan rangsangan nikmat bagi Jihoon yang selalu merasakan panas dimanapun ia disentuh.

Jihoon mengerang pelan ketika Guanlin dengan sengaja menghentakkan penisnya dalam dalam. Sengaja. Agar cairan itu semakin memenuhi perut Jihoon. Kalau perlu, jika editor novel nan manis ini memiliki rahim –sampai rahimnya penuh untuk diisi sperma, hamil entah anak siapa, kemudian melahirkan banyak anak sekaligus.

Sounds creepy? But –this sadistic Guanlin loves it.

"eumhh..." Itu Jihoon. Merengek manja ketika Guanlin meremas remas pinggang serta menekan perutnya. Lidah si manis terjulur. Saling menjilat dengan lidah Guanlin diluar mulut. Guanlin menghisap lidah Jihoon sesaat, sebelum ia mengobrak abrik mulut Jihoon yang terbuka hingga air liur Jihoon menghambur dan membasahi dagu serta leher si manis.

Iya. Jihoon sudah sejalang itu sampai tidak peduli akan basah menggelikan menyapa tubuh sensitifnya tatkala saliva yang ia bagi dengan Guanlin mengalir jatuh ke dada dan perut yang kini nampak menggembung seperti wanita hamil bebebapa bulan.

Suara kecupan keras mengakhiri cumbuan kedua manusia yang berkabut hasrat. Guanlin lagi lagi menghentak lubang Jihoon, menghasilkan pekikan lucu dari si submissive yang diikuti oleh tawa pria pria lain yang kejantanannya sudah mengacung tegak nan keras.

Guanlin menyeringai puas. Ia mengecup sekilas bilah bibir Jihoon yang kembali menjulurkan lidah. Merindukan rasa becek tatkala bergulat lidah dengan si dominan

"eung..."

Guanlin tertawa mendengar suara rengekan yang tak ingat usia itu. tapi tak apa. Toh, di usianya yang sudah menginjak kepala dua, Jihoon tetap menggemaskan seperti bocah sekolah menengah

"sudah Jihoon. Daddy lapar"

Jihoon terkikik lucu. Terlihat bodoh dan dungu. Karena memang –

-Diotak park Jihoon hanya ada penis, sperma, dan pria pria yang dengan senang hati menggagahi dirinya dengan hina.

Jihoon mengerling pada tiga pemuda horny yang kini menggeram. Nyaris menyerbu dirinya yang masih terkulai dalam rengkuhan tangan kurus Guanlin.

Jihoon mengejang. Membelai tubuhnya sendiri ketika rangsangan dari pheromone Guanlin masih terasa. Seolah paham kalau masih ada penis lain yang harus ia puaskan, Jihoon mengangkat tubuhnya sedikit dengan wajah penasaran. Mematai dengan manik indahnya yang bening tatkala penis besar Guanlin yang sudah lemas keluar dari lubang anusnya yang basah, lecet, dan berlumur sperma.

"ah! Ihihi..."

Ia tertawa senang. Membaringkan tubuhnya diatas tubuh Guanlin yang dengan senang hati merengkuh pinggang si manis sembari menggigiti leher penuh noda si manis. Jalang bersurai perak itu bahkan sengaja melebarkan kedua paha sembari mengangkat pinggul. Memberikan pemandangan bak aktor film biru profesional.

Tanpa malu menunjukkan sperma yang berdesakan ingin keluar dari dalam lubang surganya yang kini tak berbeda dari vagina perempuan. Sperma itu benar benar mengalir. Seperti sebuah fla diatas pudding berperisa stroberi yang manis dan legit.

Jihoon adalah stroberi nya.

Sementara semen itu –adalah topping paling mahal yang tidak akan bisa ditemukan di toko toko karena hanya dimiliki oleh testis para pria.


Jihoon | Daniel | Woojin | Guanlin | Jinyoung | Hyunjin | Minhyun

Harem! Jihoon and Jinyoung | Gangbang fanfiction | hard sex | sexual harassement

I don't take any profit with this chara | childern, plese stay away

Presented; ma beloved reader after a bit hiatus caused by school TT


Do not plagiarize or remake!


Jinyoung menundukkan kepala. Jemari kurus pemuda manis itu meremas kain celana berwarna abu abu seragam sekolah nya yang perlahan kusut. Jinyoung menolak ajakan Jaemin dan Haechan yang mengajaknya untuk makan di kantin. Berkata ia tidak lapar padahal perutnya meraung minta diisi, sebab tadi pagi ia bangun kesiangan dan terburu buru berangkat ke sekolah.

Hyung nya juga sedang tidak bisa diharapkan karena tadi pagi ketika hendak mandi di kamar mandi utama. Jinyoung yang separuh sadar dan tidak sadar membuka pintu kamar mandi tergesa dan mendapati kakak nya itu tengah dipepetkan ke dinding kaca tempat shower. Desahan Jihoon teredam oleh celana dalam nya sendiri, pantas ia tidak dengar. Tetapi pergerakan Woojin yang kelewat cepat dan tidak manusiawi. Serta Jihoon yang mencakar cakar dinding kaca sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan pada Jinyoung kalau pergumulan mereka panas seperti biasa.

Tolong garis bawahi kata seperti biasa.

Jinyoung mencakar meja pelan. Kepalanya tertelungkup diatas meja. Diantara kedua lipatan tangannya. Berusaha menyembunyikan wajah bernafsunya yang merah merona dari publik. Pun memberikan tempat sandaran untuk kepalanya yang pusing dan berat karena terlalu banyak menerima stimulus dari pusat ereksinya yang ditusuk oleh urethral sounding. Juga prostatnya yang dihajar dengan vibrator panjang yang entah bagaimanabisa masuk seluruhnya kedalam lubang senggamanya yang sempit. Sensasi penuh dosa ini sukses membuat tubuhnya terlonjak beberapa kali seperti orang kejang kejang.

Jinyoung pening. Terlalu banyak rasa menakjubkan namun berlumuran akan dosa yang membuatnya mau tidak mau harus menggigit bibir agar tidak menyuarakan desahan laknat.

Benda itu terus bergetar dan menusuk dengan gerakan yang konstan. Suasana kelas yang mulai sepi –karena teman temannya kebanyakan pergi ke kantin- membuat ia dengan reflek bersandar penuh pada tembok yang dingin –Jinyoung duduk di bangku kedua paling pojok yang bersisian langsung dengan dinding kelas-. Pemuda bersurai madu itu Beberapa kali mengantukkan kepala ke meja dengan tidak sengaja ketika titik manis nya ditekan.

Jinyoung sibuk meratapi bagian selatan tubuhnya yang disumbat urethral sounding. Memberikan nikmat sekaligus sakit serta lega di saat yang bersamaan.

Nikmat karena besi pipih itu turut bergetar dan membuatnya jantungan.

Sakit karena, well –laki laki mana yang tidak akan kesakitan jika lubang penisnya disumbat oleh besi pipih yang bergetar karena sejatinya lubang kecil itu diciptakan Tuhan untuk mengeluarkan, bukan untuk diisi. Jadi tetap saja rasa menyakitkan itu ada sekalipun beberapa kali tersamarkan oleh rasa nikmat.

Kemudian, lega. Karena dengan begitu ia tak perlu mati matian menahan diri agar tak mengeluarkan sperma dan membuat ada noda basah tercetak di celana seragamnya.

"hah!? Uh...-kh"

Jinyoung terlonjak.

Tiba tiba saja tempo getaran di penis karet yang mengisi lubang anusnya bertambah. Jinyoung mencakar meja kayu pelan. Tungkai kakinya yang kurus bergetar. Manik si manis basah oleh air mata lantaran nikmat tak tertahankan. Dinding anusnya diaduk. Bagian dalamnya pula. Cairan lotion bening yang berguna untuk membuatnya licin justru terasa becek. Rasa basah dan geli dari cairan kental itu memberikan afeksi lain bagi tubuh Jinyoung yang sudah merasakan prostatnya ditumbuk sejak bangun tidur. Sejak Hyunjin yang tadi malam menemaninya belajar, hingga berakhir mereka tidur satu ranjang

–memasukkan benda benda aneh tatkala ia bahkan masih terlelap


Tadi pagi


Jinyoung mengernyit.

Ada rasa yang aneh.

Lubang senggamanya terasa penuh dan basah. Ada suara decitan ranjang dan siulan terpukau dari seorang pria yang ia kenali sebagai suara pacarnya. Hwang Hyunjin.

Manik bulatnya yang serupa milik Jihoon mengerjap.

Namun belum sempat kesadarannya terkumpul, kepala kecilnya terbanting kekasur.

Bagaimana tidak. Prostatnya ditekan. Lama. Dengan sengaja.

Seketika manik mata Jinyoung basah. Jemari kurusnya bergerak mencakar apapun. Seprai. Batal. Bahkan ia menjambak rambutnya sendiri.

"H – Hyunjin!" Jinyoung meraung dengan suara serak.

Ia berusaha membuka mata. Berusaha pula memfokuskan pandangan pada apa yang terjadi dibawah sana, pada lubang anusnya yang dapat ia rasa ditusuk oleh sebuah benda tumpul berbahan karet dengan ukuran yang tak biasa.

Lagi lagi ia dengar suara siulan. Tapi itu tak cukup untuk membuat fokusnya teralihkan dari sebuah sybian machine yang bergerak statis dengan tempo lambat, namun dengan tenaga sodokan yang sanggup membuat kewarasan Jinyoung sebagai remaja manusia yang berakal porak poranda.

Tergantikan oleh birahi serupa pelacur yang sedetik meminta lebih, sedetik memohon ampun, sedetik berkata ingin lagi, kemudian sedetik meminta agar ia dibunuh karena tak sanggup merasakan kenikmatan penuh dosa ini.

"Hyunjin! Hyunjin! Hiks!"

Jinyoung tidak terfikirkan apapun. Ia baru bangun tidur. Kesadarannya masih setengah setengah dan hal pertama yang menyambutnya ketika ia dipaksa membuka mata adalah penis karet yang tengah meluluh lantahkan lubang anusnya yang kian melebar –barangkali sudah jadi elastis juga- karena terlalu sering diisi hingga ia bisa gila kapan saja. Jadi mulut Jinyoung merapalkan nama Hyunjin berkali kali. Mengabaikan tenggorokannya yang sakit karena dipaksa berteriak ketika bangun tidur.

"morning Jinyoungie"

Jinyoung merasakan sebuah kecupan lembut di kening.

Persetan.

Itu tidak berguna! Apa pacarnya tidak melihat ia sedang digagahi penis karet sekarang?

Oh Jinyoung yang malang.

'Bukankah berkali kali kau disetubuhi mesin seks juga karena kekasihmu yang dungu ini?' -Hyunjin berbisik dalam hati.

bosan dengan reaksi Jinyoung yang hanya nampak kesetanan ketika prostatnya ditumbuk. Hyunjin menimang remote kontrol di tangan. Meletakkan telunjuk di dagu dan nampak berfikir. Sebelum menjentikkan jari dengan wajah cerah dan berbisik bahagia pada Jinyoung.

"ide bagus Jinyoungie!" Jinyoung tidak membalas. Ia meringis. Dasar gila. Jinyoung bahkan tidak mengatakan apapun selain merapalkan nama Hyunjin sejak tadi "kita harus menambah kecepatannya agar mengetahui apa yang akan terjadi padamu kan? Cerdas!"

Tak lama suara becek akibat pelumas kental nan licin yang tadi Hyunjin masukkan kedalam lubang Jinyoung, menggema dengan irama yang menjadi semakin cepat. Diiringi oleh suara pertemuan kulit dan karet yang bertabrakan.

Jinyoung jantungan.

Tapi si bungsu Park tidak sempat berteriak meminta berhenti.

"UHMPH!? HMPH? UHHMPHH!"

Karena mulutnya disumpal oleh penis Hyunjin yang tahu tahu sudah mengangkang diatas kepalanya dan memaksa Jinyoung melahap penisnya secara tiba tiba.

Jinyoung pusing. Aroma penis yang satu bulan terakhir menjadi makanan pokoknya tak juga membuat ia terbiasa. Amis cairan pre-cum membuatnya merasa mual. Tapi semua rasa jijik itu dibuyarkan oleh kenikmatan berlebih tatkala prostatnya ditumbuk keras dalam waktu singkat. Jika satu detik dua tumbukan, cih

maka bisa kalian bayangkan sudah sesinting apa Jinyoung sekarang?

Jinyoung terkulai lemas dengan tubuh bergetar acap kali prostatnya dihajar. Berusah menelan penis Hyunjin dengan benak setengah sadar. Menjilati ereksi kekasihnya dengan wajah merona dan tatapan penuh damba bak pemabuk jalanan.

Bagus Hwang Hyunjin

Di pagi hari pun kekasihmu yang sejatinya adalah korban pelecehan seksual sudah kau buat gila.

Apa nanti akan kau jual pula ia pada para lelaki dengan perut tambun, namun berkantong tebal?

Seperti apa yang terjadi pada kakaknya?

"HYUNJIN! HAH! CO –COME! NAH! COME COME COME!"

Jinyoung menjerit nyaring dengan suara yang erotis dan mulut penuh bercak sperma bekas cum Hyunjin.

Tubuhnya melengkung ke atas. Kakinya reflek mengangkang lebar. Perutnya terasa diaduk ketika tak lama kemudian susu vanilla kental dengan aroma seks menyembur keluar dari penis kecilnya yang memerah menyedihkan.

Nafas Jinyoung sudah putus putus seperti orang yang asma nya sudah kronis. Tersendat sendat menyedihkan, namun Hyunjin yang tak mengenal iba justru mencabut penis karet yang mengisi lubang Jinyoung begitu saja.

Mengganti barang laknat itu dengan sebuah selang berukuran kecil.

Kekasih yang Jinyoung cintai itu mengulas seringai bak orang sakit jiwa.

Serupa dengan lima pria lain yang setiap hari bergantian menggagahi kakaknya.

"ah, seharusnya aku mengiyakan ajakan Daniel Hyung sejak lama"

Kemudian Jinyoung berjengit kaget. Merasakan ada cairan yang menyembur kedalam anusnya lewat selang tipis tersebut. Susah payah Jihoon menyeret tubuhnya untuk sedikit bangkit, supaya dapat melihat sesungguhnya ia diisi dengan apa.

Dan setelahnya ia hanya bisa menahan nafas.

Kau bercanda?

Hyunjin yang melihat Jinyoung nampak terpaku tatkala mendapati galon berisi cairan bening- yang entah kenapa tidak bisa dipercaya jika itu adalah air- hanya menatap Jinyoung datar, melangkah mendekati ranjang tempat Jinyoung berbaring, lalu mencengkram jemari kurus Jinyoung yang hendak mengeluarkan selang tipis tersebut dari dalam anusnya.

Plak!

Hyunjin menampar jemari kurus itu dengan kasar. Kemudian ia menarik sepasang tungkai kaki tersebut untuk merapat pada sybian machine yang tengah mengalirkan lotion ke dalam tubuh Jinyoung.

Jinyoung mulai merasa tidak nyaman. Perutnya mulai terasa kembung tanpa alasan yang jelas.

"Hyunjinie itu apa!? Berhenti!" Jinyoung memekik takut.

Sementara Hyunjin hanya mematai bagaimana isi galon itu perlahan lahan semakin menyusut-

"Aaaak! Hyunjinie! Hyunjinie! Hyunjinie!" racau Jinyoung sembari mencengkram erat lengan Hyunjin yang menahan tangannya agar tidak bergerak sembarangan.

"PENUH! SUDAH! GOH!"

"ah. Ok. Sudah"

Hyunjin mencabut selang tipis itu sembari mengulas senyum manis. Acuh dengan Jinyoung yang sudah terkapar diatas tempat tidur dan nyaris tidak bisa bernafas karena cairan yang tidak ia ketahui apa itu rasanya seperti memenuhi rongga tenggorokannya.

Jinyoung ingin muntah.

Dan perlakuan Hyunjin selanjutnya benar benar membuat Jinyoung berharap ia mati saja dari jauh jauh hari, agar tak usah pernah menjalin kasih dengan pemuda bermarga Hwang ini.

"Hyunjinie... hiks... ukh!"

"sst... tenang Jinyoungie. Tenang"

Hyunjin memasang buttplug di anus Jinyoung. Menyumbat cairan kental nan bening itu didalam perut si manis kemudian menggendong tubuh Jinyoung seperti bayi koala.

"UWAH! Hyun- hiks... Hyunjinie..."

Hyunjin membawa Jinyoung ke ruang tengah. Dimana Jihoon tengah terbatuk batuk, dengan Minhyun yang menyodok lubang Jihoon dengan beringas. Memperdengarkan suara becek dan suara khas manusia yang tengah bercinta menggemas keras ke penjuru ruangan.

"ah! Ahn~ umm... AYAH! uhh... ahaha... ah~ uhm janga –ke... keras!"

"ah –ah –ah!"

Jinyoung memejamkan matanya erat. menggelengkan kepalanya kuat kuat. Ia tidak pernah terbiasa jika dipaksa menyaksikan kakaknya diperkosa beramai ramai seperti sekarang.

Jinyoung dapat menyaksikan tubuh Jihoon dibalikkan, dan dipaksa untuk merengkuh tubuh besar Minhyun yang tak berniat mengeluarkan kejantanannya dari dalam lubang senggama Jihoon sekalipun berniat untuk mengganti posisi. Samar samar ia melihat cairan putih merembes dari luban senggama Jihoon yang melonggar sesaat ketika Minhyun menarik penisnya hingga ujung kepala, sebelum menghentaknya dalam dalam.

"AYAH! DALAM!"

Cairan sperma itu berceceran. Semakin Minhyun menggempur kakaknya, semakin air mani itu terciprat. Becek yang terdengar semakin keras. Minhyun membawa tubuhnya berdiri dan membuat tubuh Jihoon terlonjak lucu nan erotis.

Jinyoung bisa melihat kakaknya kepayahan. Kepala Jihoon beberapa kali terbanting ke belakang lantaran tak sanggup menahan nikmat yang mendera. Ia menggigil ketika Woojin berdiri di belakang kakak nya dan membawa kakak kandung nya untuk bergulat lidah.

"umph...-cup, mwah! Ah –ah ah! Master..."

Woojin nampak menghimpit tubuh Jihoon dengan tubuhnya sendiri. Sementara Minhyun menghentikan pergerakannya. Turut membantu Woojin untuk mengangkat tubuh Jihoon. Si manis yang paham pun menumpukan kedua tangannya di bahu Minhyun. Mengeratkan rengkuhan kaki nya pada pinggang si dominan, dan menjerit tertahan dengan mata yang terbalik tatkala analnya kembali diterobos oleh satu penis lain yang sama besarnya.

"uhh... uhh..."

Jinyoung masih dapat mendengar desahan Jihoon yang lirih dan terbata bata. Sepertinya kakaknya sudah mulai kehabisan tenaga menghadapi pria pria bernafsu abadi tanpa henti semenjak pekerjaannya yang sesungguhnya diketahui oleh Jinyoung. Toh, ternyata Guanlin yang tengah melumuri dildo besar berwarna hitam dengan lotion di salah satu sofa di ruang tengah rumah mereka itu dapat bekerja sebagai editor tunggal Daniel.

Mereka memperkerjakan Jihoon hanya sebagai alibi.

Selama ini Jihoon tak ubahnya mainan seks.

Jinyoung menyaksikan sendiri kakaknya digagahi terus menerus. Nyaris tanpa istirahat. Pernah sekali Daniel itu datang membawa kawan rekan kerjanya sesama penulis, dan Jinyoung menghabiskan malamnya dengan menangis. Daniel dan kawan kawannya yang jumlahny tak berani Jinyoung hitung menyetubuhi Jihoon dengan berbagai mainan seks sembari menjelajahi ruangan yang ada di rumah mereka. Ketika ia terbangun pun group sexitu tak juga usai.


Jinyoung membeku di depan pintu ketika mendapati siapa tamu yang tadi Jihoon bilang akan datang berkunjung.

Jauh didalam hatinya ia berharap jika kehadiran Daniel di rumah mereka malam ini murni hanya untuk membicarakan pekerjaan.

Manik sewarna madu miliknya mengerling pada tujuh orang pemuda lain yang berdiri di belakang Daniel yang tengah mengulas senyum terbaiknya pada Jinyoung.

"malam Jinyoungie"

Tubuh Jinyoung bergetar gugup

"ma –malam Daniel Hyung"

Tetapi harapan hanya sebatas harapan. Ketika tamu tamu tersebut dijamu untuk makan malam bersama, Jinyoung mendapati Jihoon yang menghilang. Tapi bodohnya ia adalah tidak memperhatikan kalau dua orang tamu lain yang tadi turut datang bersama Daniel juga tidak ada.

Jinyoung berjalan kesana kemari untuk mencari Hyungnya dan malah mendapati Jihoon, dengan tubuh telanjang, berada di lorong yang menghubungkan dapur dan ruang tamu. Tengah mati matian menahan suaranya sementara ia dipaksa berdiri sembari digagahi dari belakang oleh pria yang Jinyoung ketahui bernama Park Jimin. Sementara pria bertubuh kekar yang bernama Jeon Jungkook menghisap ganas penis kakaknya.

Jihoon hanya bisa terengah engah dan berpegangan erat pada lengan berotot Jimin. Wajahnya yang memerah dan basah oleh air mata mendongak ke atas. Ketara sekali kalau Jihoon berusaha menyangkal ikmat yang ia rasakan.

'bagaimana Jihoonie?'

'uh uh...'

Kemudian Jinyoung memalingkan muka tatkala Jungkook beranjak untuk bangkit dari posisinya dan turut melesakkan penis besarnya kedalam lubang senggama Jihoon yang seketika menjerit kesakitan.

Malam harinya, pukul sembilan. Jinyoung berniat untuk membuat secangkir kopi sebagai teman belajar. tetapi begitu sampai di dapur ia menyesal memiliki niat demikian.

"Da –daddy... no more... please! Ukh!"

Hyungnya terkapar diatas meja makan yang basah oleh sperma, sementara Daniel yang sepertinya begitu menyukai filling tengah memasukkan sebotol beer kedalam anal Jihoon.

Esok paginya, Jinyoung sedikit bersyukur ketika ia terbangun lebih siang dari biasanya. Ia beranggapan kalau kegiatan pria pria dengan nafsu berlebihan itu sudah usai. Tetapi ketika membuka pintu kamar, lagi lagi ia mematung.

Kamar Jinyoung dan Jihoon memang berhadapan. Dan bisa kalian bayangkan? Pagi hari ia menemukan Hyung nya tengah dipaksa mengangkang menghadap ke pintu kamar Jinyoung dengan tubuh yang penuh dengan sperma yang sudah mengering maupun yang sudah basah.

"G –Good Mor hah! Ahhhhhnnnn! JINYOUNGIEEE"

Sperma berceceran dimana mana. Jinyoung masih ingat dengan jelas anal Jihoon diisi dengan dua buah dildo dengan diameter sepuluh sentimeter yang bergetar keras. Dan bagian dada kakaknya dipasangi nipple sucker.

Terlebih wajah penuh ekstasi kakaknya yang kemudian hanya mampu menatap sayu dirinya sebelum terkapar pingsan dan diseret kedalam kamar untuk digagahi didalam kamar mandi.


Sungguh.

Jihoon tak ubahnya jalang yang lubangnya selalu terisi.

Ia pun kini serupa. Meski masih hanya terbatas jalang Hwang Hyunjin yang membawa dirinya untuk berdiri.

"Hyunjinie... jangan- hiks..."

Perut Jinyoung yang menggembung seperti orang hamil diabaikan oleh Hyunjin. Pemuda tampan itu mencabut butt plug yang menyumbat anal Jinyoung, -

"Hyunjinie! Hyunjinie! Hyunjinieeee!"

-lalu ia segera melesakkan penis beruratnya kedalam anal Jinyoung yang berisi cairan lotion bening.

"apa Jinyoungie... ukh" Hyunjin menggeram sembari memeluk tubuh Jinyoung dari belakang dan mulai menggerakkan penisnya didalam anal Jinyoung. Membiarkan cairan itu berhamburan keluar ketika ia menarik penisnya keluar sebelum menyodokkannya kedalam. Jinyoung yang meraskan mual serta nikmat akibat prostat yang dihentak dengan sensasi kenyal yang menyenangkan, berusaha memberontak dengan tenaganya yang tak seberapa. Namun gagal ketika Hyunjin sengaja menekan perutnya yang menggembung seperti orang hamil.

"ho-hoek! Ukh... huh..."

Splurt...

Cairan itu banjir. Menguar. Mengalir dari sela sela penis Hyunjin di lubang senggama Jinyoung tatkala pemuda tampan itu mempenetrasi si manis bersurai madu yang baru mencapai usia legal di kemarin hari. Serupa dengan dirinya.

"uh –Jinyoungie! Kenapa kau.. –ukh! Ah... sempit"

Geraman Hyunjin di telinga Jinyoung membuat si bungsu Park makin berkunang kunang.

Mual yang ia rasakan tak tanggung tanggung. Isi perutnya bak diaduk oleh mixer. Cairan lotion didalam tubuhnya memberinya perasaan seperti baru saja menelan lendir cairan lubrikasi yang biasanya dihasilkan wanita. Namun sensasi aneh yang ganjil ketika prostatnya ditekan, dan dihantam dengan lotion yang memenuhi liang senggamanya it membuat Jinyoung mabuk. Jinyoun merasakan kenyal yang aneh. Padahal sebelumnya ia sendiri pun tak pernah bisa menemukan prostatnya sendiri ketika diperintah untuk melakukan masturbasi dihadapan Hyunjin.

Manik cokelat Jinyoung berkaca kaca. Ia mual sekali.

"H-Hyunjinie... sudah... to –tolong –ah –ah –uhm..."

Kaki Jinyoung melemas seperti agar agar. Ia nyaris terjatuh jika saja pegangan Hyunjin pada perut dan lengannya tidak semakin erat.

Berimbas pada rasa mual, nikmat dan becek yang ia rasakan. Berputar putar memenuhi otaknya yang berusaha untuk tetap waras.

"humm... uhm...! h! Hah! Hah!"

Jinyoung mendongakkan kepala. Surai cokelat madunya turut bergerak tatkala ia menggelengkan kepala secara random.

"IH! HAH! Hyunjin –ieh..."

Hyunjin teramat menyukainya.

Ekspresi Jinyoung yang hilang akal ketika ia gagahi lubang senggamanya. Ia mencuri lihat ke bagian anal Jinyoung yang tengah ia setubuhi dan mengulas seringai senang. Mendapati bagain tubuh paling intim milik Jinyoung itu becek. Para aktris wanita di film biru yang terus menerus mengeluarkan cairan lubrikasinya sewaktu vaginanya disodok oleh penis penis besar yang sarat akan nafsu. Raut penuh ekstasi Jinyoung menciptakan candu bagi Hyunjin. Manik hitamnya terkesima mendapati lubang Jinyoung yang banjir oleh cairan lotion.

Tentu saja vagina perempuan tidak akan mampu mengeluarkann cairan sedemikian banyak. Kecuali jika ia diransang dengan aphrosidiac.

Tetapi Jinyoung dapat ia rubah menjadi wanita jalang hanya dengan memnuhi lubang surga si bungsu Park dengan lotion kental yang kemarin dipesan oleh nya dan para Tuan yang lain.

"omo, apa yang kau lakukan pada anak ini Hyunjin?

Itu Guanlin. Pemuda yang bertelanjang dada itu memiringkan kepalanya, menatap Jinyoung yang tengah digagahi dengan posisi berdiri sembari membungkuk, dengan kedua tangan yang dikekang oleh Hyunjin, menatap penuh minat pada cairan yang tertumpah ruah tatkala Hyunjin menghentak penis besar nya dengan tenaga yang tak main main.

Hyunjin menggeram pelan ketika merasakan lubang senggama Jinyoung terasa menjepitnya didalam sana.

"basah... huh- apa jangan jangan kau adalah perempuan Jinyoungie? Ukh... jinjja... basah sekali..."

Hyunjin menyeringai senang. Meningkatkan tempo hantamannya pada prostat Jinyoung yang kini hanya bisa mendesah putus putus.

Guanlin tertawa kecil mendapati raut candu yang diulas oleh Hyunjin, serta kernyitan di wajah merah merona dan berpeluh milik Jinyoung. Tanpa aba aba, Guanlin melangkah mendekat dan mencengkram rahang Jinyoung.

"umhhp! Umh... umh koh!"

Memaksa si bungsu Park melahap kejantanannya yang mengeras ketika mendapati pemandangan luar biasa erotis yang membuatnya tak mampu menahan diri.

"oh yea... suck it! Come one –oh! Shit! Bitch! It's Good" Guanlin menggeram senang. Menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan Jinyoung yang tubunya terhentak hentak oleh Guanlin. Menggagahi mulut Jinyoung yang menegang di tempat dengan manik mata yang membulat samar sebelum kembali berubah menjadi sayu.

Jinyoung terlena oleh bagaimana cairan lotion di bagian lubang senggama nya itu memberi sensasi basah, dan menyenangkan seperti ketika ia menuangkan sabun cair di tubuh kurusnya. Jinyoung menghisap penis Guanlin seperti kucing yang sedang menyusu.

"ukh! Goh! Hoh!"

Jinyoung tersedak. Guanlin beberapa kali sengaja menekan penisnya dalam dalam di mulut Jinyoung. Sementara tangan besar Hyunjin kini sudah melingkar erat dibagian pinggangnya yang kecil. Memberi tekanan yang lebih besar pada perutnya. Memasa cairan lotion itu untuk keluar semua. Membanjiri lubang senggama Jinyoung yang seolah benar benar memproduksi cairan lubrikasi alami ba wanita.

Tubuh Jinyoung bergetar hebat ketika merasakan Hyunjin menghentakkan penisnya begitu dalam. Kaki kiri Jinyoung juga sudah diangkat sehingga posis Jinyoung berdiri dengan satu kaki sementara tubuhnya agak menyamping.

Hentakan di kedua lubangnya membuat Jinyoung pusing. Suara geraman kedua dominan dan suara becek yang berasal dari bagian selatan tubuhnya memunculkan rona manis di pipi tembam Jinyoung. Tanpa sadar Jinyoung menyempitkan lubangnya ketika tiba tibat Hyunjin menekan prostatnya kuat. Menyemburkan sperma disana. Mengirim sengatan listrik pada Jinyoung yang tubuhnya semakin bergetar hebat. Merasakan protatnya yang sensitif dan kenyal di tembak oleh cairan sperma.

"fuck..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Hayatinya sibuk di RL

Maapkeun :)

Btw, tadinya aku mau amuk amukan aja di chapter dua ini /or anggep aja part 2 nya. Cuman sesuatu terjadi di RL dan kind of fucked me up. Teruntuk Kak Xia dan segala ekspetasinya ttg siblings /dia jatuh cinta sam ff ini hohohoo/ maafkan aku karena malah mempublish nya sedikit begini. Padahal aku udah janji sama diri aku sendiri buat ngga akan mempublish cerita apapun sebelum sampai 10k+ dan sudah melalui tahap editing. Tapi yea,... maafkan aku yang jarang apdet dan menghilang sampai ratusan tahun ini. kuterima hujatan kalian di kolom komentar dengan dada selapang stadion gelora bungkarno :)

Part 3 nya menyusul ntah kapan :)

And Good news buat kalian para pecinta yadong /G /aing sendiri maksudnya /G. Works ini MUNGKIN bakal aku jadiin semacam sex diary of the siblings gitu. Kalau yang mau lebih enak dan sudah tertata ini itu nya bisa dilihat di ffn :) soalnya kalau di wattpad aku publish nya di wanna one oneshoot collection sih :)

So thats all

/kapan aku bertaubat?

Sekian

/edisi hendak menghilang dari dunia per ff an sampai RL normal kembali :3


Salam penuh cinta dari Istrinya Damian Wayne

-shouharaku