Meet Again Sequel IOHaH
Author : NiniSoo1288
Main Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Warning : GS (Genderswitch)
Note : Ini ff squel dari ff ku yang I Only Had a Heart
-DI HARAPKAN BACA FF YANG SEBELUMNYA, UNTUK KEMBALI MENGINGAT CERITANYA-
IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. Thank You
Sorry for Typos
Happy Reading~~
oOo-oOo-oOo
"Masih pantaskah aku berharap untuk bisa kembali kepadamu?" –Jongin-
oOo-oOo-oOo
Kyungsoo mencuci wajahnya dengan kasar di washtafel, berkali-kali dia menghembuskan nafasnya. Dan sudah kesekian kalinya dia menepuk pipinya dengan keras membuat sahabatnya, Cassandra mengerutkan keningnya.
"Kau sudah tidak bisa lagi berbohong dengan ku Kyungsoo? Kau pernah punya hubungan dengan Tuan Kim?"
Menundukan wajahnya Kyungsoo berucap lirih. "Ya"
"Suatu hubungan yang cukup serius?"
"Sangat serius sehingga terasa begitu menyakitkan untuk di kenang"
"Sepasang kekasih? Atau mantan Suami?"
"Hanya sepasang kekasih. Cassandra aku mohon padamu, jangan katakan semua ini kepada orang tua ku"
"Maksudmu?"
"Aku hanya tidak ingin mereka khawatir. Aku ingin mencoba semaksimal mungkin untuk perusahaan ayah"
"Apa yang kau maksud, dengan tahu nya ayah mu bisa saja kerja sama ini di batalkan?"
Kyungsoo menganggukan kepalanya. "Aku tidak ingin ini terjadi lagi, sudah banyak yang membatalkan kerja sama karena kelalaian ku. Maka aku akan memanfaatkan nya untuk ini"
Cassandra memegang bahu Kyungsoo. "Kau yakin? Dengan hubungan masa lalu kalian? Apa kau sanggup?"
Kyungsoo menganggukan kepalanya mantap, walau di hatinya masih ada keraguan setidaknya dia harus meyakinkan sahabatnya.
oOo-oOo-oOo
Kyungsoo sedang berjalan di koridor perusahaannya, hari ini dia ada rapat dengan Jongin terkait soal kerja sama yang mereka lakukan. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti melihat seorang anak kecil yang sedang merengek sambil memegang kaki seorang pria.
"Appa aku ingin pulang. Aku ingin bersama halmeoni saja. Appa ayo pulang ke Korea" rengek seorang anak kecil dengan bahasa Korea nya sambil berderai air mata.
"Taeoh appa sibuk, jangan ganggu appa. Jika sudah selesai appa akan menuruti kemauan mu. Jadi pulanglah ke hotel bersama Bibi Kang" jawab pria yang ternyata adalah Jongin.
"Aku tidak mau bersama bibi, aku ingin ikut appa saja"
"Appa harus menghadiri rapat sayang, kali ini saja tolong mengerti" tanpa ingin mendengar rengekan anak kecil itu lagi Jongin pergi.
Tetapi anak kecil yang di kenal bernama Taeoh mengejarnya dan memegang kakinya erat. Tangisan Taeoh semakin keras membuat orang yang berada di koridor sontak melihat ke arah mereka. Dengan menghembuskan nafasnya kasar dia berjalan mendekati dua pria yang berbeda usia tersebut.
Kyungsoo berjongkok di depan Taeoh dan membuat Jongin membelalakan matanya kaget. Kyungsoo tersenyum ramah. "Hai adik kecil. Boleh aku tahu siapa namamu?"
Dengan senggukannya sehabis menangis Taeoh menjawab. "Kim Taeoh"
Kyungsoo tersenyum lagi. "Baik, aku akan memanggilmu Taeoh. Kamu anak dari Tuan Kim Jongin?"
Taeoh mengangguk kecil.
Lagi-lagi Kyungsoo tersenyum walau kali ini senyum yang di tunjukan adalah senyum kepahitan. Taeoh adalah anak Jongin dengan Krystal. "Kalau aku boleh tanya kenapa kamu menangis?"
Taeoh yang awalnya masih memeluk kaki Jongin, sekarang melepaskan kaki Jongin dan menghadap sepenuhnya kepada Kyungsoo. "Aku ingin ikut appa tapi tidak boleh, aku tidak mau bersama bibi Kang lebih baik aku pulang ke Korea disana ada nenek"
Kyungsoo tersenyum, sunnguh dia merasa sangat gemas dengan Taeoh. "Hm, ini perusahaan ku bisa saja aku meperbolehkan mu ikut tapi harus ada satu syarat"
"Apa?" Taeoh merasa tertarik atas tawaran Kyungsoo.
"Kamu tidak boleh berisik dan menangis jika sudah berada di sebuah ruangan nanti. Kamu harus tenang dan tidak boleh mengganggu"
"Apa aku boleh bermain game?"
"Boleh, tapi tidak boleh berisik"
"Aku tidak pernah berisik jika bermain game"
"Baiklah, kalau begitu kau boleh ikut. Perkenalkan aku Do Kyungsoo. Kau boleh memanggil ku bibi Do jika kau mau"
"Bagaimana jika noona?"
"Kyungsoo Noona?" Tanya balik Kyungsoo dengan senang karena masih ada yang mau memanggilnya Noona di umur nya yang sekarang.
Taeoh menganggukan kepalanya.
"Tentu saja kau boleh memanggil ku Noona"
Taeoh memainkan ujung bajunya sambil menatap Kyungsoo dengan tatapan memohon. Dan itu membuat Kyungsoo sangat gemas, karena dia terlihat seperti anjing kecil. "Noona. Aku ingin di gendong"
"Taeoh jangan keterlaluan. Biar appa yang menggendong mu" Jongin yang sedari tadi diam akhirnya menginterupsi pembicaraan diantara mereka berdua.
"Tidak apa-apa Tuan Kim" Kyungsoo tersenyum menanggapi, dan itu membuat Jongin terpaku. Entah sudah keberapa kalinya dia merasa terjatuh atas pesona Kyungsoo. "Ayo Taeoh" Kyungsoo merentangkan tangannya menyambut Taeoh, dengan senang hati Taeoh memeluk leher Kyungsoo. Kyungsoo berdiri sambil menggendong Taeoh dengan kedua lengannya.
Disepanjang jalan menuju ruang rapat, Kyungsoo harus mendengar Taeoh yang tak hentinya berceloteh, memuji Kyungsoo cantik, Kyungsoo baik atau berceloteh menceritakan Nenek dan Kakek nya. Tapi yang lebih membingungkan, Taeoh tidak pernah menceritakan tentang Ibunya. Hanya saja Kyungsoo merasa tidak berhak untuk menanyakan masalah pribadi keluarga mereka.
oOo-oOo-oOo
.
"Anak yang tadi pagi kau bawa keruang rapat bukankah anaknya Kim Jongin?" Tanya Cassandra sambil menatap Kyungsoo intens.
Mereka sedang berada di restoran tapi sedari tadi yang makan hanya Cassandra, dan Kyungsoo hanya berdiam dengan tangan yang aktif mengaduk makanannya tanpa berniat untuk memakannya.
Tidak mendapat tanggapan dari orang yang berada di depannya, Cassandra pun pindah duduk disamping Kyungsoo dan menepuk bahu Kyungsoo keras. Dengan wajah yang bingung Kyungsoo menatap Cassandra. "Aku sedang berbicara denganmu" ujar Cassandra sambil kembali ke kursi sebelumnya.
"Ah, maaf aku sedang tidak fokus"
"Semenjak bertemu dengan Jongin kau jadi lebih sering melamun. Tadi aku bertanya padamu, anak yang kau bawa keruang rapat, itu anak Jongin kan?"
Kyungsoo mengangguk sambil tangannya meraih gelas berisi air yang berada di depannya.
"Apa kau ingin kembali dengannya?"
Kyungsoo menatap Cassandra dengan matanya yang membulat. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya ingin menenangkannya. Sungguh, tidak ada maksud lain dari apa yang aku lakukan tadi pagi"
Cassandra menggenggam tangan Kyungsoo erat. "Mungkin kau memang berniat seperti itu. Tapi kau tidak tahu presepsi apa yang bersarang di pikiran Jongin"
"Lalu apa aku harus diam saja melihat seorang anak berumur 4 tahun menangis dengan kencang sambil memeluk kaki ayahnya?"
"Bukan seperti itu Kyungsoo, biarlah itu menjadi urusan Jongin. Cobalah untuk tidak ikut campur kembali. Bukankah kau ingin melupakannya? Maka coba buat dirimu menjauh dari dia"
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Kyungsoo. "Aku juga ingin seperti itu Sandra, tapi sungguh hati ini kadang tidak singkron dengan otakku"
"Aku paham apa yang sedang kau rasakan. Jadi, apakah kita harus membatalkan kerja sama ini? Aku hanya tidak ingin melihat mu seperti ini terus Kyungsoo"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku akan mencoba untuk tidak terlalu dekat dengannya"
oOo-oOo-oOo
.
Mungkin untuk kali ini Kyungsoo membenarkan apa yang di katakan sahabatnya Cassandra tentang dirinya yang ikut andil dalam menenangkan Taeoh seminggu yang lalu. Dan sekarang dia tidak bisa lagi mencoba menghindar kepada Jongin, tentu saja faktornya karena Taeoh. Sudah seminggu anak itu selalu saja datang ke kantor nya hanya untuk bertemu atau makan siang bersama. Kyungsoo tidak bisa menyalahkan Jongin, soal kenapa tidak melarang anaknya untuk tidak terus bertemu Kyungsoo. Karena Kyungsoo paham Taeoh memiliki sifat keras kepala dan Kyungsoo memaklumi Taeoh karena dia hanya anak kecil yang kemauannya harus dituruti.
Sekarang dia sedang meletakan kepalanya di meja kerjanya. Baru saja Jongin menelponnya dan mengatakan kalau Taeoh ingin bertemu dengannya. Dan Kyungsoo sadar dalam nada suara Jongin yang seperti merasa bersalah karena tidak bisa mencegah anaknya. Sungguh Kyungsoo sangat lelah, bukan lelah karena pekerjaan nya tapi lelah karena harus mengontrol hatinya agar tidak jatuh kepada Jongin untuk kedua kalinya.
Memukul kepalanya sendiri Kyungsoo bergumam. "Sadarlah, dia sudah mempunyai istri. Apa kau berniat untuk merusak kebahagiaan mereka?" Kyungsoo menghela nafas lelah nya. Menjadi seorang antagonis tidak pernah terpikirkan di dalam hidupnya, dan Kyungsoo pun tidak menginginkan itu.
Pintu ruangan Kyungsoo di ketuk, dan muncul lah Cassandra dengan tatapan matanya yang tajam. Kyungsoo sudah hapal pasti sebentar lagi sahabatnya itu akan memarahinya. "Sudah ku katakan untuk tidak mencampuri urusan seorang Kim Brengsek Jongin lagi, Kyungsoo!"
Kyungsoo mendesah sambil mengangkat kepalanya dari meja kerjanya. "Aku tahu, dan aku merasa menyesal sekarang"
Cassandra berdecih. "Menyesal sekarang? Kemarin kemana saja? Sekarang anak itu sudah ada di depan bersama dengan ayah brengsek nya"
Hey, Kyungsoo heran dengan sahabatnya ini. Sebenarnya siapa yang di sakiti? Kyungsoo atau Cassandra? Kenapa justru yang memendam kebencian itu justru Cassandra. Bahkan Kyungsoo tidak pernah mengatakan Jongin dengan sebutan 'Brengsek', tapi Cassandra dalam satu waktu sudah dua kali mengatakan Jongin 'Brengsek'.
"Baiklah, biarkan dia masuk"
"Kau yakin? Aku bisa beralasan jika kau sangat sibuk dan tidak bisa ditemui, bagaimana?"
"Dan berakhir dengan Taeoh diam di depan gedung kantor hingga malam menjelang untuk menunggu ku selesai bekerja?" Tanya Kyungsoo sarkastik. Ini memang sudah pernah terjadi, hari itu Kyungsoo sungguh sangat sibuk untuk menyelesaikan pekerjaannya dan akhirnya dia tidak bisa bertemu Taeoh. Dan siapa sangka ternyata Taeoh menunggu nya di depan gedung kantornya dengan muka yang sudah memucat karena udara dingin ditemani seorang perempuan yang sering disebut Taeoh 'Bibi Kang', untung saja Taeoh tidak sampai terjatuh sakit.
"Lalu sampai kapan kau mau terus seperti ini?"
"Biarlah ini berjalan sebagaimana semestinya. Aku tidak bisa menghindar, itu akan semakin terlihat seperti orang yang pengecut"
Cassandra menghela nafasnya. "Baiklah, biar ku panggil anak itu" setelah itu Cassandra keluar dan di gantikan Taeoh dengan Jongin yang masuk kedalam ruangannya.
Kyungsoo tersenyum manis menyambut Taeoh sambil berjalan kearah anak itu dan berlutut di depannya. "Hai Taeoh bagaimana kabar mu untuk hari ini?"
"Aku baik, bagaimana dengan noona?"
"Aku juga baik. Ada apa Taeoh ingin bertemu denganku?" Tanya Kyungsoo masih dengan menatap wajah Taeoh yang sialnya sangat mirip dengan Jongin. Sedari tadi Kyungsoo mencoba untuk tidak menatap Jongin yang sedang menatapnya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan noona. Apa noona sangat sibuk?"
"Tidak, aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku. Kita bisa bermain hari ini" ujar Kyungsoo dengan masih menunjukan senyum terbaiknya.
Taeoh menolehkan kepalanya ke belakang, menatap ayah nya. "Appa boleh kembali bekerja. Nanti appa bisa jemput aku disini"
"Baiklah, jangan nakal dan menyusahkan Nona Do ya" ujar Jongin sambil mengacak rambut anaknya.
Setelah lama berlutut, Kyungsoo memutuskan untuk berdiri dan menatap Jongin yang juga sedang menatapnya. Pandangan mereka terkunci, Kyungsoo bisa melihat tatapan yang sarat akan kerinduan yang mendalam itu dari mata Jongin. Dengan cepat dia memutuskan pandangnnya, tidak ingin lagi terjatuh dalam tatapan mata itu.
Jongin mengusap tengkuknya gugup. "Sebelumnya, saya minta maaf kepada anda soal Taeoh yang sedikit menyusahkan anda. Mungkin lain kali saya bisa mencegahnya, sekali lagi maafkan saya Nona Do dan terima kasih"
Kyungsoo tersenyum. "Iya Tuan Kim" setelah itu Jongin keluar dari ruangannya. Kyungsoo mendesah lega, satu ruangan bersama Jongin sama saja menyiksa hatinya. Mereka memang masih menggunakan bahasa formal ketika berbicara, dan itu juga sebagai peringatan bagi Kyungsoo kalau sekarang mereka hanya berstatus sebagai rekan kerja.
oOo-oOo-oOo
.
Kyungsoo masih termenung di kamarnya sambil memikirkan kembali percakapannya dengan Taeoh siang tadi. Dia masih sedikit bingung apa yang di maksud Taeoh dengan mengatakan, 'Aku tidak punya eomma, aku hanya punya appa'. Siang tadi Kyungsoo sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya terhadap keluarga Jongin. Dan keputusan untuk bertanya dengan Taeoh pun sudah bulat.
Akhirnya dia bertanya kepada anak kecil itu perihal soal ibunya yang Kyungsoo kenal bernama Krystal. Tapi ini di luar ekspetasi Kyungsoo, anak kecil itu menjawab demikian. Dan sekarang Kyungsoo pun sedang bertarung dengan pertanyaan pertanyaan lain yang bersarang di otaknya yang sedari tadi membuatnya tidak bisa tidur.
Apa Krystal meninggal setelah melahirkan Taeoh?
Apa Jongin dan Krystal bercerai disaat Taeoh masih sangat kecil, sehingga anak itu tidak mengenali ibunya?
Kyungsoo menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. "Ayolah itu bahkan bukan urusan ku, kenapa aku jadi kepikiran begini?" mengambil ponsel nya dan dengan cepat menghubungi seseorang.
Setelah sekian lama Kyungsoo menunggu telfon nya diangkat, akhirnya terdengar suara dari sambungannya.
"Ada apa?" terdengar suara Cassandra yang serak, pertanda dia sudah tertidur dan terganggu akan panggilan Kyungsoo.
"Sandra aku ingin meminta tolong kepadamu"
"Apa? Cepat katakan aku sangat mengantuk"
"Bisakah kau mencarikan profil Kim Jongin?"
"Maksudmu?" kali ini suara Cassandra terdengar lebih jelas. Mungkin sekarang dia sudah terduduk dengan kesadaran penuh setelah mendengar permintaan Kyungsoo.
"Aku hanya ingin tahu tentang istri nya Jongin"
"Hey, kenapa kau sekarang tertarik dengan kehidupannya? Untuk ini aku tidak mau. Dan jika kau membayar seseorang untuk melakukannya. Aku akan mengadukan hal ini kepada ayahmu agar kerja sama kita dengan Jongin di batalkan"
Kyungsoo tahu kalau sahabatnya ini tidak pernah main-main dalam ucapannya. Maka dari itu dia harus merelakan rasa penasarannya yang tak akan pernah terjawab. "Aku hanya bingung setelah Taeoh mengatakan kalau dia tidak mempunyai ibu"
"Lalu apa urusannya dengan mu kalau dia tidak punya ibu? Kau ingin menjadi ibunya?" Tanya Cassandra dengan suara datarnya.
"Yak! Bukan seperti itu, hanya saja aku merasa penasaran dan kasihan kepada Taeoh"
"Sekali lagi ku ingatkan padamu, itu bukan urusanmu. Dan dia bukan siapa-siapa mu lagi. Sekarang status kau dengan dia hanya sebatas rekan kerja tidak lebih. Jadi jangan pernah berfikir untuk bisa kembali kepadanya. Karena jika itu terjadi, aku lah orang pertama yang akan menentangnya"
"Aku mengerti, baiklah. Good Night" Kyungsoo mematikan sambungannya dan mendesah. Benar apa yang di katakan Cassandra kalau itu bukan lagi urusannya.
oOo-oOo-oOo
.
Kyungsoo keluar dari ruang rapat setelah melewati nya dengan sangat membosankan, tapi dia harus mengerjakan itu semua demi kerja sama nya dengan Jongin. Dia berniat untuk segera makan siang bersama sahabatnya. Saat berjalan di koridor kantornya Kyungsoo di kejutkan oleh keahadiran seseorang yang sangat Kyungsoo kenal. Matanya terbelalak menatap seorang pria yang sedang tersenyum di depannya.
Tanpa aba-aba lagi pria itu berlari dan menarik Kyungsoo kedalam pelukan hangatnya. "Aku sangat merindukanmu. Sungguh"
Kyungsoo masih dalam keadaan kagetnya sehingga dia tidak membalas pelukan dan ucapan pria itu.
Pria ini membenamkan kepalanya di ceruk leher Kyungsoo sambil mengirup dalam-dalam aroma Kyungsoo yang sangat dia rindukan.
"Sehun?" setelah beberapa menit Kyungsoo membuka mulutnya dan membalas pelukan pria yang di kenal bernama Sehun. "Sejak kapan kau kembali? Kenapa tidak memberi tahuku?"
Sehun melepaskan pelukannya. "Kejutan?"
Kyungsoo memukul lengan Sehun pelan. "Aku jadi tidak menjemputmu di bandara"
"Tidak apa-apa Soo, sungguh. Apa kau percaya jika aku mengatakan kalau kepulangan ku secara mendadak?"
"Tentu saja, bukan kah kau yang mengatakannya kalau kau akan pulang bulan besok?"
Sehun tertawa sambil menangkup wajah Kyungsoo dengan kedua tangannya. Mengusap pipi Kyungsoo yang merona dengan lembut. "Kau mau tahu alasan ku, kenapa kepulangku mendadak?"
"Apa?"
"Karena aku sudah sangat merindukanmu" Ucap Sehun sambil tersenyum manis kepada Kyungsoo.
Kyungsoo melepaskan tangan Sehun yang berada di pipinya. "Berhenti merayu Sehun"
"Kenapa? Aku suka saat pipimu merona, karena kau terlihat manis" Sehun berbisik di telinga Kyungsoo sambil mencium pipi Kyungsoo singkat.
Kyungsoo membelalak. "Yak! Sehun kita di tempat umum"
"Aku tahu"
"Ekhm" Cassandra yang sedari tadi hanya diam akhirnya membuka suaranya. "Kyungsoo perutku sudah lapar sekali"
Sehun tertawa dan Kyungsoo hanya tersenyum malu. "Hey Sandra kau tidak merindukanku?" Tanya Sehun sambil tersenyum menggoda.
"Jangan harap Tuan Sehun yang terhormat" Cassandra segera meraih tangan Kyungsoo dan menarik Kyungsoo pergi menjauh dari Sehun. Sedangkan Sehun hanya tertawa sambil berlari menyusul keduanya.
Tanpa mereka sadari, ternyata ada mata yang sedari tadi memandang mereka dengan tatapan sarat akan sakit. Dialah Kim Jongin.
oOo-oOo-oOo
.
Jongin berjalan memasuki apartemennya, dia berjalan menuju kamar dan melihat Taeoh yang sedang tertidur. Jongin menghampiri anaknya dan mencium keningnya lalu berlalu ke kamar mandi.
Setelah membersihkan tubuhnya Jongin berbaring di samping Taeoh dengan lengan yang di jadikan sebagai bentalan kepalanya. Merasa terganggu Taeoh terbangun dan melihat ayahnya sedang menatap langit-langit dengan tatapan yang kosong. Taeoh mendekat dan memeluk ayahnya. Jongin menoleh dan tersenyum sambil membalas pelukan anaknya.
"Appa besok aku ingin bertemu dengan Kyungsoo noona ya?"
"Tidak sayang. Mulai sekarang kau tidak boleh bertemu dengannya lagi"
"Kenapa? Aku rindu dengan Kyungsoo noona"
"Kau tidak boleh bergantung kepada orang lain Taeoh. Dia hanya rekan kerja appa, kau tidak boleh terlalu dekat dengannya"
Mendengar jawaban seperti itu dari ayahnya membuat Taeoh kecewa lalu melepaskan pelukannya dan membalikan badannya memunggungi Jongin.
"Taeoh tolong jangan seperti ini. Kau tahu? Kau membuat appa pusing"
"Aku tidak punya eomma, dan aku mendapatkan kasih sayang dari Kyungsoo noona sama seperti teman-teman ku dapatkan dari eomma nya"
Jongin terdiam mendengar jawaban dari anaknya, sungguh dia tidak bermaksud membuat anaknya sedih. Dan dia juga tidak menyangka kalau Taeoh berpikir seperti itu. "Tapi Taeoh sudah membuatnya tidak nyaman. Jika kau terus menemui Kyungsoo di jam kerjanya, maka kau akan membuat pekerjaan Kyungsoo terbengkalai"
"Maka dari itu aku sudah mengatakan kepada appa, untuk membawa Kyungsoo noona saat pulang kerja sekalian makan malam bersama"
"Tidak semudah itu sayang, Kyungsoo punya kekasih itu akan membuat kekasih Kyungsoo merasa tidak nyaman"
"Appa selalu saja beralasan"
"Appa tidak beralasan itu memang benar"
"Kalau begitu aku ingin bertemu eomma"
Jongin menghela nafasnya kasar. "Sudah malam, kau harus tidur Taeoh"
Setelah itu tidak ada percakapan diantara mereka, Taeoh memang sudah kembali tidur tapi tidak dengan Jongin. Dia memikirkan kembali perkataan anaknya, pertanyaan terlintas di pikiran Jongin.
Apa selama ini Taeoh tidak merasa bahagia?
Jongin sangat paham walaupun dia melimpahkan seluruh kasih sayang nya selama ini kepada Taeoh tapi dia tidak bisa menggantikan kasih sayang dari seorang ibu. Dan itu membuat Jongin tidak bisa tidur malam ini.
oOo-oOo-oOo
.
"Appa kau yakin?" sudah kesekian kalinya Kyungsoo bertanya kepada ayahnya soal keputusan ayahnya untuk kembali bekerja memimpin perusahaannya.
"Sangat yakin Kyungsoo"
"Appa, Kyungsoo janji akan bekerja dengan baik agar kerja sama ini berjalan dengan lancar. Appa tidak perlu kembali bekerja, percayalah padaku appa, aku bisa memimpin perusahaan appa"
"Kau memang sudah bekerja sangat baik sayang, appa tidak bermasalah dalam kualitas pekerjaanmu. Karena appa yakin anak appa ini sangat pintar"
"Lalu apa yang membuat appa memutuskan untuk kembali bekerja?"
"Appa hanya ingin memberikan liburan untuk mu, appa yakin pasti kau sangat pusing memikirkan perusahaan. Ada baiknya kau liburan, pergilah bersama Sehun"
"Tidak, aku merasa tidak seperti itu appa. Aku sangat menikmati pekerjaan ku. Pasti ada alasan lain kan? Katakan pada ku appa"
"Kerja sama yang kau jalin bersama dengan Kim Jongin kan?"
Kyungsoo menghembuskan nafasnya, dia sudah berfikir pasti akan mengarah kesitu. Tidak mungkin ayahnya sangat bersikeras untuk ingin kembali bekerja, karena Kyungsoo tahu ayahnya harus banyak istirahat di umurnya yang sudah menua. "Appa aku yakinkan kepadamu. Jika aku baik-baik saja, soal masa lalu aku dengannya itu sudah berlalu dan aku tidak akan menyangkut pautkan itu kepada pekerjaan ku. Percayalah pada ku appa"
"Ini bukan masalah pekerjaan Kyungsoo, sungguh appa tidak berpikir seperti itu. Appa hanya khawatir kau akan merasa bersedih dan mengingat nya lagi. Appa tidak ingin jika dia kembali merebut mu lagi dari appa dan eomma. Karena appa tidak akan main-main jika dia sampai mengambil mu kembali"
Kyungsoo tersenyum lalu memeluk ayahnya. "Appa tenang saja aku sudah menjadi Kyungsoo yang kuat sekarang. Jadi appa tidak perlu lagi khawatir soal itu"
oOo-oOo-oOo
.
Setelah melewati berbagai rangkaian untuk kerja sama mereka, akhirnya hari ini mereka harus bernafas lega karena kerja sama yang mereka jalin berjalan dengan lancar. Maka dari itu, Kyungsoo mengajak para karyawan yang bersangkutan untuk mengadakan pesta malam ini. Dan untuk menghormati Jongin, dia juga mengajak Jongin untuk bergabung kedalam acara ini. Tanpa ragu, Jongin menyetujui ajakan Kyungsoo.
Dan disinilah mereka sekarang, merayakan keberhasilan ini dengan makan-makan. Kyungsoo dari awal memang tidak berniat untuk minum minuman yang beralkohol, karena dia sadar, dia sangat tidak bisa toleransi terhadap alkohol. Tetapi sahabatnya Cassandra sudah hampir tidak sadar kan diri, karena sedari tadi sahabatnya itu tidak berhenti untuk meminum wine.
Kyungsoo menghembuskan nafasnya, dia mengedarkan pandangannya melihat sebagian karyawan nya dengan kondisi sama mengenaskannya seperti Cassandra. Tapi tiba-tiba saja pandangan matanya terhenti pada Jongin yang masih minum wine padahal kondisi pria itu juga sudah sangat berantakan.
Dengan cepat Kyungsoo berjalan menghampiri Jongin dan merebut gelas berisi wine yang ingin kembali di teguk pria itu.
Jongin menolehkan kepalanya menatap Kyungsoo dengan pandangan sayu karena mabuk. Jongin tersenyum lalu sebelah tangannya menangkup wajah Kyungsoo.
Menghembuskan nafasnya, Kyungsoo berdiri lalu mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi seseorang. Kyungsoo menghubungi Sehun untuk segera membawa Cassandra pulang, sementara dia harus membawa Jongin pergi dari sini.
Dengan susah payah, akhirnya Kyungsoo bisa memasukan Jongin ke dalam mobil nya. Menghembuskan nafas kasar dia segera berjalan ke kursi kemudi untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.
Kyungsoo tidak tahu dimana Jongin tinggal selama ini di Paris. Maka dari itu dia lebih memilih membawa Jongin pulang ke apartemen pribadi nya. Dia tahu, ini mungkin tindakan yang salah dan jika Cassandra tahu akan hal ini. Mungkin Kyungsoo akan mendapat kan sebuah ocehan panjang dari sahabatnya itu.
Setelah sampai di gedung apartemennya, dia meminta bantuan kepada penjaga apartemennya untuk membawa Jongin yang sedang mabuk, karena sungguh dia tidak bisa membawa Jongin yang mabuk hingga lantai 7, lantai dimana apartemen nya berada.
Setelah meletakan Jongin di kasur nya, Kyungsoo mengucapkan banyak terima kasih kepada penjaga yang sudah membantunya. Kyungsoo pergi keluar kamar untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
Setelah beberapa menit, Kyungsoo keluar dari kamar mandi dan kembali menghampiri Jongin yang berada di dalam kamarnya. Kyungsoo terlonjak kaget saat melihat Jongin yang sudah mendudukan tubuhnya di kasur.
Dengan perlahan dia berjalan menghampiri Jongin. "Jongin" panggil nya dengan suara lirih.
Jongin menoleh menatap Kyungsoo, dan tersenyum. "Sayang, kemarilah"
Kyungsoo membelalakan matanya, apa tadi dia tidak salah dengar? Jongin memanggil nya sayang? Kenapa? Bukankah mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa? Atau jangan-jangan Jongin menganggap jika dia Krystal. Bisa saja kan, mengingat kondisi Jongin yang sekarang sedang mabuk.
Melihat Kyungsoo yang hanya terdiam, Jongin kembali memanggil Kyungsoo. "Kyungsoo kenapa kau diam disitu? Kemarilah"
Kyungsoo tersadar dari lamunannya atas panggilan Jongin yang menyebutkan namanya, jadi benar Jongin memanggilnya bukan karena dia menganggap Kyungsoo adalah Krystal.
Dengan perlahan Kyungsoo berjalan menghampiri Jongin, dan duduk berhadapan dengan Jongin. Namun Kyungsoo lagi-lagi membelalakan matanya saat Jongin menangkup kedua sisi wajah nya dengan kedua telapak tangan pria itu. Bahkan kini Jongin sudah mengusap pipi Kyungsoo dengan lembut. Dan jangan lupakan tatapan lembut yang Jongin berikan untuknya.
Kyungsoo bingung, kenapa Jongin melakukan ini? Apa maksud Jongin melakukan ini? Biasanya, apa yang dilakukan orang yang sedang mabuk itu lebih jujur di banding saat dia tersadar.
Tapi semua lamunan Kyungsoo buyar, saat Jongin menempelkan kedua belah bibir nya diatas kedua belah bibir Kyungsoo.
Kyungsoo membelalakan matanya, menatap Jongin yang sekarang sudah menutup kedua matanya. Saat Kyungsoo ingin mendorong Jongin menjauh, namun pria itu sudah lebih dulu menahan tengkuk nya dan mulai melumat bibir nya dengan lembut.
Jongin melumat bibir atas dan bawah Kyungsoo secara bergantian, awalnya Kyungsoo hanya diam tidak membalas. Namun semakin lama ciuman Jongin semakin menuntut, membuat Kyungsoo terlena dan mulai membalas lumatan Jongin.
Jongin menggigit bibir Kyungsoo pelan, membuat Kyungsoo membuka kedua belah bibir nya dan di manfaatkan oleh Jongin untuk segera melesakan lidah nya kedalam rongga mulut Kyungsoo. Mencari keberadan lidah Kyungsoo, setelah menemukannya Jongin segera melilitkan lidah nya dengan lidah Kyungsoo.
"Hnghh" Kyungsoo mencoba untuk mendorong tubuh Jongin. Ini salah, semua ini sangat salah.
Jongin melepaskan tautan bibir mereka, dan kini bibir nya beralih mengecup leher Kyungsoo dengan sensual. Menjilatnya, lalu mengingitnya memberikan tanda kemerahan di leher Kyungsoo.
Kyungsoo kembali mendorong tubuh Jongin dengan kekuatan penuh, dan kini tubuh mereka berjarak atas dorongan yang Kyungsoo lakukan. Nafas Kyungsoo terengah lalu menatap Jongin. "Jongin apa yang kau lakukan?"
Jongin kembali mendekat ke arah Kyungsoo dan lagi-lagi menangkup wajah Kyungsoo dengan kedua telapak tangannya. "Kyungsoo, aku mencintai mu. Aku sangat mencintaimu"
Kyungsoo membelalakan matanya saat melihat air mata yang jatuh menuruni pipi Jongin. Kyungsoo balik menangkup wajah Jongin dan menghapus air mata pria itu. "Jongin ini semua salah. Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun"
Air mata Jongin semakin deras mengaliri pipi nya. "Aku mencintai mu Kyungsoo, jangan tinggalkan aku"
"Justru kau yang pergi meninggalkan ku Jongin, kenapa kau berkata seolah-olah aku yang jahat disini?" Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan tidak percaya nya.
Jongin mengecup bibir Kyungsoo. "Ayo kita mulai semuanya dari awal lagi Kyungsoo. Aku mencintaimu" Jongin kembali mengecup bibir Kyungsoo berulang ulang, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kyungsoo.
Kyungsoo mengembuskan nafas nya saat merasakan hembusan teratur nafas Jongin di lehernya. Dengan lembut dia membaringkan tubuh Jongin di kasurnya lalu menyelimutinya dan segera pergi dari kamarnya. Mungkin untuk malam ini dia harus tidur di sofa, karena dia tidak mungkin membiarkan Jongin yang tidur di sofa.
oOo-oOo-oOo
.
Jongin mengerang saat merasakan kepalanya yang sangat sakit. Dengan cepat dia mengedarkan pandangannya, dan dia mendapati kalau ini bukanlah kamar hotel yang selama ini dia tempati. Dengan cepat Jongin berdiri dan keluar dari kamar, namun langkah nya terhenti saat mencium harum masakan yang membuat perut nya berbunyi.
Dengan perlahan dia berjalan ke arah dapur, dan mendapati seorang gadis yang sedang memunggungi nya. Seketika mata nya membulat saat mengetahui siapa pemilik tubuh mungil itu.
Kyungsoo yang sudah selesai dengan masakannya, segera membalikan tubuhnya berniat untuk membangunkan Jongin. Namun dia terkejut saat melihat Jongin sudah berdiri mematung di dekat meja makan. Dengan tersenyum, Kyungsoo membawa masakannya ke meja makan dan meletakannya disana.
"Kau sudah bangun? Duduklah aku memasakan mu Bibimbap dan ayam madu. Tapi, aku tidak cukup yakin dengan rasanya, karena sudah lama sekali aku tidak memasaknya"
Jongin berjalan mendekat dan duduk di depan Kyungsoo.
"Apa kepala mu masih sakit?"
Jongin menggelengkan kepalanya. "Sudah lebih baik"
"Ah tidak apa kan kita berbicara informal jika di luar kantor?"
Jongin tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Tentu saja"
"Baiklah, selamat makan. Jika tidak enak katakan saja, aku akan mengganti nya dengan makanan lain"
Jongin menganggukan kepalanya lalu mulai memakan makanan yang tersaji di depannya. Dan rasanya masih sama seperti 5 tahun yang lalu, masakan Kyungsoo memang yang paling terbaik. Sungguh, dia sangat merindukan masakan Kyungsoo. Dan dia sangat bahagia saat ini, bisa kembali mencicipi nya.
"Apa rasa nya aneh?" Tanya Kyungsoo takut-takut sambil menatap Jongin.
Jongin dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Ini sangat lezat"
Kyungsoo tersenyum. "Terima kasih"
"Justru aku yang terima kasih karena kau sudah mau menolong ku dan memasakan ku ini"
"Tidak masalah, aku juga merindukan makanan Korea"
Butuh beberapa menit untuk menghabiskan makanan nya, dan kini Jongin sedang memandang Kyungsoo yang masih menyantap makanannya. "Kyungsoo, bolehkah aku mengatakan sesuatu?"
Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menatap Jongin, lalu menganggukan kepalanya. "Katakan lah"
"Maukah kau kembali kepada ku?"
Seketika Kyungsoo tersedak oleh makanan yang sedang di makannya. Dengan cepat dia menyambar segelas air yang ada di depannya, dan meneguk nya habis. Setelah itu dia menatap Jongin tidak percaya. "Jongin jangan bercanda"
"Aku tidak bercanda Kyungsoo, ayo kita memulai semuanya dari awal lagi"
"Jongin, aku tidak ingin sakit untuk kedua kalinya"
"Aku berjanji pada mu jika aku tidak akan menyakitimu lagi"
"Bagaimana bisa kau berjanji seperti itu, sedangkan sekarang kau sudah mempunyai orang lain Jongin? Kau mempunyai istri di rumah, apa kau tidak kasihan dengan Krystal?"
"Aku sudah bercerai dengannya Kyungsoo. Aku membuat kesalahan lagi untuk kedua kalinya, tapi aku tidak menyesalinya untuk yang kedua"
"Kalian bercerai? Kenapa?"
"Karena aku masih mencintai mu Kyungsoo. Aku bodoh, sungguh aku sangat menyesal saat tahu dimana hari itu kau pergi meninggalkan ku. Aku merasa separuh hidup ku hilang, aku kehilangan arah, aku merasa tersesat Kyungsoo. Dan aku sadar, jika sebenarnya hati ku masih milik mu bukan milik Krystal"
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, disaat kau sudah menjalin suatu hubungan yang sangat lama dengan nya" intonasi suara Kyungsoo meninggi. Dia tidak habis pikir dengan apa yang Jongin ucapkan.
"Aku tahu, tapi sekarang aku mengetahui nya bahwa rasa yang aku miliki untuk Krystal, hanyalah rasa pelampiasan. Karena saat itu, kau terlalu sibuk dengan pembuatan novel mu. Aku juga berpikir ini tidak akan berdampak buruk pada hubungan kita, tapi semua di luar kendali ku. Saat itu aku mabuk, dan aku tidak tahu apa-apa lagi selain aku terbangun dengan Krystal yang berada di samping ku dalam keadaan tanpa busana"
Kyungsoo menangis. "Tolong jangan bicarakan ini lagi, aku tidak ingin mengingat masa lalu"
Jongin menggenggam tangan Kyungsoo. "Saat aku menikahi Krystal, setelah nya aku berkunjung ke apartemen lagi. Tapi saat itu aku harus benar-benar menerima kenyataan jika kau sudah pergi meninggalkan ku"
"Untuk apa aku bertahan, jika kau sendiri yang memilih untuk mengakhiri hubungan kita"
"Aku tahu Kyungsoo, disaat itu aku sedang kalut. Tiba-tiba Krystal mengatakan jika dia hamil dan meminta pertanggung jawaban ku. Maka dari itu, tanpa berpikir kesekian kalinya aku berbicara seperti itu, dan aku sangat menyesalinya"
"Dan sekarang semua sudah berakhir Jongin, sekalipun saat itu kau tidak mengatakan untuk mengakhiri hubungan kita, mungkin aku tetap akan pergi. Karena aku tidak ingin terlihat bodoh, untuk tetap tinggal saat seseorang yang kau cintai sudah memiliki pendamping hidup yang sesungguhnya"
"Setelah kepergian mu, aku terpuruk, aku merasa kehilangan jiwa ku. Aku tidak memperdulikan siapapun, selain bekerja untuk menghilangkan rasa penyesalan di dalam diri ku. Aku tahu ini salah, disaat itu Krystal sangat membutuhkan ku apalagi disaat-saat masa kehamilannya. Tapi aku tidak bisa Kyungsoo, setiap aku melihat Krystal rasa bersalah dan menyesal dalam diri ku kepada mu selalu hadir. Maka dari itu setelah Taeoh lahir, kami memutuskan untuk bercerai"
"Dan sekarang kau meminta ku untuk kembali padamu? Semua sudah berubah Jongin. Semua tidak lagi sama seperti dulu"
"Apa karena pria bernama Sehun? Kau sudah punya Sehun?"
Kyungsoo menghembuskan nafasnya, masih dengan air mata yang mengalir deras menuruni pipinya. Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Sehun adalah adik angkat ku. Kami tidak memiliki hubungan lebih selain kakak dan adik"
Jongin tahu ini jahat, tapi entah dia merasa lega medengar jawaban Kyungsoo. "Maka kembali lah padaku Kyungsoo, dan aku berjanji untuk tidak kembali menyakiti mu"
Hati Kyungsoo ingin berteriak 'Iya' tapi Kyungsoo tidak ingin mengutamakan hati untuk kali ini. "Bagaimana bisa kau berjanji disaat janji terdahulu saja kau tidak bisa menepatinya. Kau ingat apa yang kau janjikan pada ku saat itu? Kau ingin menikahi ku disaat aku bersedia ikut dengan mu ke Korea. Lalu nyatanya apa?"
Jongin meneteskan air matanya. "Aku tahu, maka dari itu beri aku kesempatan untuk menepatinya sekarang. Jika kau bersedia untuk kembali kepada ku, maka hari ini aku ingin menemui orang tua mu untuk melamar mu"
Kyungsoo terdiam sambil menundukan kepalanya.
"Ku mohon Kyungsoo, kembalilah pada ku. Kau jangan khawatir untuk masalah Taeoh, justru dia sangat menyayangi mu. Dan dia pasti sangat bahagia jika kau akan menjadi ibu nya"
Kyungsoo mengangkat kepalanya. "Aku tidak yakin jika kau akan mendapat penerimaan dari orang tua ku. Mereka sangat membenci mu"
"Aku akan melakukan apapun agar orang tua mu mengizinkan ku untuk menikahi mu"
"Jongin, dapatkah aku percaya lagi kepada mu untuk kali ini?" Kyungsoo menyerah, akal sehat dan hatinya tidak sejalan. Dan dia lebih memilih untuk mengedepankan kata hatinya.
Jongin mengangguk mantap. "Ya Kyungsoo percayalah pada ku, untuk kali ini aku benar-benar berjanji untuk membahagia kan mu. Aku sudah cukup sadar, bagaimana sakit nya kehilangan dirimu"
Kyungsoo tersenyum dengan air mata yang masih mengalir deras. "Ya, aku mau Jongin"
Dengan hati yang bahagia Jongin menarik Kyungsoo kedalam pelukan hangatnya. Menciumi pucuk kepala Kyungsoo dengan sayang. "Terima kasih Kyungsoo, aku akan menjaga kepercayaan mu"
Jongin melepaskan pelukannya, lalu beralih menangkup kedua pipi Kyungsoo dan menempelkan bibir nya dengan bibir Kyungsoo.
oOo-oOo-oOo
.
Jongin dan Kyungsoo berjalan memasuki kediaman rumah orang tua Kyungsoo. Saat sudah sampai di pintu masuk Jongin harus menerima hadiah pukulan dari Sehun yang telak mengenai pipinya.
"Brengsek, kau bawa kemana Kyungsoo" teriak Sehun marah.
Kyungsoo menahan tangan Sehun yang kembali ingin memukul Jongin yang sudah tersungkur di lantai. "Sehun cukup"
"Apa yang sudah dia lakukan pada mu Kyungsoo?" Sehun menangkup pipi Kyungsoo dan menatap Kyungsoo khawatir.
"Aku baik-baik saja Sehun. Justru aku yang membawa Jongin tadi malam"
"Kyungsoo" panggil Cassandra yang berlari dari dalam rumah dan diikuti langkah kaki lainnya, itu adalah kedua orang tua Kyungsoo.
Cassandra menatap Kyungsoo, dan mencoba meneliti jika sahabat nya itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja"
"Kyungsoo kenapa kau membawanya kemari?" itu suara dari Tuan Do yang sangat dingin.
"Appa ada yang ingin Jongin sampaikan, maka dari itu lebih baik kita harus duduk terlebih dahulu"
Mereka semua pergi keruang depan yang terdapat sofa. Lalu segera mendudukan tubuh mereka masing-masing. Kyungsoo duduk di sebelah Jongin, untuk menyemangati pria itu. Dia tahu, Jongin sangat gugup.
Kini mereka semua kembali melihat ke arah Jongin. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Sehun sarkas.
Jongin menghembuskan nafasnya lalu menatap kedua orang tua Kyungsoo dan duduk di depannya. "Paman, bibi sebelum nya maaf jika dahulu saya sudah membuat kekacauan di keluarga ini. Tapi kedatangan saya hari ini, ingin meminta izin kepada kalian untuk menikahi anak kalian Kyungsoo"
Sehun bangun dari duduknya, dan dengan cepat mencengkram kerah kemeja Jongin. "Apa yang sedang kau bicarakan bajingan" umpat Sehun marah.
Kyungsoo mencoba melepaskan genggaman tangan Sehun di kemeja Jongin. "Sehun tenanglah, biarkan Jongin menyelesaikan pembicaraannya"
Awalnya Sehun tidak bergeming, namun dengan sedikit bantuan dari Cassandra akhirnya Sehun mau melepaskan cengkramannya.
Jongin kembali memusatkan perhatiannya kepada kedua orang tua yang ada di depannya. "Untuk kali ini saya berjanji akan membahagiakan Kyungsoo dan tidak akan menyakitinya lagi"
Sehun berdecih. "Berhenti membual brengsek"
Melihat keterdiaman kedua orang tuanya, membuat Kyungsoo berinsiatif untuk membantu Jongin. "Appa, eomma izinkan aku bersama dengannya lagi. Untuk kali ini percayalah pada nya jika dia tidak lagi menyakitiku, atau jika dia kembali menyakitiku kalian boleh melakukan apa saja kepadanya, aku akan menerima itu"
Jongin menelan ludahnya bulat-bulat mendengar ucapan Kyungsoo.
"Cassandra bawa Kyungsoo masuk ke kamarnya, dan Sehun bawa pria ini pergi dari hadapan ku" ujar Tuan Do mutlak tidak terbantah.
Kyungsoo membelalakan matanya. "Appa" teriak Kyungsoo saat tubuhnya sudah di tarik oleh Cassandra menjauhi Jongin. "Appa kau tidak bisa melakukan ini, appa biarkan aku bersamanya, aku masih mencintainya appa" teriak Kyungsoo, sambil mencoba memberontak atas pegangan sahabatnya yang sialnya sangat kuat. "Lepaskan aku"
Sedangkan Sehun kini sudah menyeret tubuh Jongin keluar dari rumah Kyungsoo.
Kyungsoo di kurung di dalam kamar nya, dan dia hanya terus menangis memikirkan hubungannya dengan Jongin. Bahkan dia tidak dibiarkan untuk memegang ponsel nya.
oOo-oOo-oOo
.
Sudah dua hari Kyungsoo terkurung dalam kamarnya, 3 kali dalam sehari maid membuka pintu kamarnya hanya untuk memberi nya makan. Tapi Kyungsoo tidak memakan apapun yang di bawakan maid untuknya.
Kyungsoo tidak bisa tenang memikirkan Jongin, dia takut ayahnya melakukan sesuatu hal kepada Jongin. Mengingat ini bukanlah Korea, pasti Jongin tidak membawa banyak bodyguard.
Kyungsoo kembali menangis memikirkan keadaan Jongin dan juga Taeoh. Tiba-tiba saja dia mendengar pintunya terbuka dan menampakan Cassandra dengan Sehun yang berjalan masuk.
Cassandra menghembuskan nafas nya menghampiri Kyungsoo yang sedang menangis dengan menyembunyikan kepalanya dia kedua lututnya yang tertekuk. "Kyungsoo makanlah, sampai kapan kau ingin seperti ini terus?"
"Sampai orang tua ku mengizinkan ku untuk bersama Jongin"
"Kenapa kau bertingkah seperti anak kecil Kyungsoo" itu suara Sehun yang berkata dengan dingin.
"Kau tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini Sehun" teriak Kyungsoo frustasi.
"Kau juga tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan kepadamu" teriak balik Sehun.
"Sehun" Cassandra mencoba menengahi.
"Apa kau tahu? Apa kau pernah menatap ku sekali saja sebagai seorang pria? Bukan, sebagai adik angkat mu"
Kyungsoo menatap Sehun dengan berlinang air mata. "Apa yang sedang kau bicarakan"
"Kau bahkan tidak tahu, jika selama ini aku mencintaimu sebagai seorang wanita bukan sebagai kakak angkat ku"
"Sehun" panggil Cassandra, mencoba menenangkan Sehun.
Mata Kyungsoo membelalak. "Jangan bercanda Do Sehun"
"Tolong jangan panggil aku dengan marga itu. Karena itu membuat ku sakit" Sehun menghembuskan nafas nya dan menatap Kyungsoo. "Aku mencintai mu Kyungsoo, sejak saat pertemuan pertama kita disaat kau pulang dari Korea, aku sudah merasakan rasa ini. Tapi, kau tidak pernah tahu akan hal itu kan?"
"Maaf Sehun, tapi aku hanya menganggap mu sebagai adik ku. Tidak lebih dari itu"
"Aku tahu, aku sudah sangat tahu. Aku juga tidak memaksa mu untuk membalas perasaan ku, tapi aku mohon Kyungsoo jangan kembali padanya. Aku tidak ingin melihat mu terluka untuk kedua kalinya. Itu sangat menyakitiku, disini aku sangat mencintaimu, tapi dengan tega dia menyakitimu"
"Dia tidak akan pernah menyakitiku lagi Sehun, maka dari itu aku menerima nya kembali"
"Bagaimana kau tahu jika dia tidak akan menyakitimu lagi?"
"Dia sudah berjanji untuk segera menikahi ku. Dan aku percaya kepada nya, aku sangat mencintainya, Sehun"
Sehun menghapus air yang jatuh dari matanya, lalu berbalik pergi keluar dari kamar Kyungsoo.
Kyungsoo kembali menangis, sedangkan Cassandra hanya menghembuskan nafasnya. "Ini yang aku takutkan akan terjadi Kyungsoo. Dan sekarang semua sudah terjadi, aku tidak bisa lagi mencegahnya"
Kyungsoo menggenggam tangan sahabatnya itu. "Sandra bantu aku, bantu aku untuk menyakinkan kepada orang tua ku"
"Berjanji dahulu kepadaku, jika kau tidak akan lagi sakit dan menangis"
"Ya, aku berjanji. Dia juga berjanji untuk tidak menyakiti ku lagi"
Cassandra menghapus air mata yang mengalir di pipi Kyungsoo dan menganggukan kepalanya. "Akan aku coba bicarakan dengan ibu mu"
"Terima kasih Sandra" Kyungsoo memeluk sahabatnya dengan sangat erat.
oOo-oOo-oOo
.
Malam harinya disaat Kyungsoo sedang melamun memandang langit malam melalui jendela kamarnya, pintu kamarnya terbuka dan menampakan ibunya yang berjalan kearah nya.
"Soo-ya" panggil Nyonya Do pelan.
Kyungsoo tetap terdiam, tidak mengalihkan pandangannya.
"Eomma akan bertanya kepada mu. Apa kau mencinta nya?"
Kini Kyungsoo menolehkan kepalanya dan menatap ibunya. Dengan mantap Kyungsoo menganggukan kepalanya. "Ya eomma"
"Apa kau akan bahagia jika bersamanya?"
"Ya"
"Berjanji pada eomma untuk tidak lagi menangis"
"Aku berjanji"
Nyonya Do tersenyum lalu memberikan ponsel Kyungsoo yang berada di genggamannya. "Hubungilah dia, katakan padanya untuk segera menikahi mu"
"Bagaimana dengan appa?"
"Appa mu sudah mengizinkannya"
Kyungsoo berhambur memeluk ibunya, dan mengucapkan banyak ucapan terima kasih kepada orang yang sudah berjasa melahirkan nya.
oOo-oOo-oOo
.
Setelah malam itu, disaat orang tuanya merestui hubungan mereka. Kyungsoo menghubungi Jongin, lalu membicarakan soal perihal pernikahan mereka.
Dan disinilah mereka sekarang di sebuah gereja yang ada di Paris untuk melangsungkan pernikahan mereka.
Sedari tadi senyuman tak pernah luntur dari wajah nya. dia senang sekaligus gugup, karena hari ini dia harus mengikrarkan janji suci pernikahan bersama dengan orang yang dulu menyakitinya. Namun dia juga sedih, karena Sehun sudah kembali ke Korea. Dia hanya mendoakan Kyungsoo untuk selalu bahagia, dan tidak lupa juga ancaman untuk Jongin jika dia berani menyakiti Kyungsoo lagi.
Sebenarnya Kyungsoo sangat merasa bersalah kepada orang yang sudah dia anggap adiknya itu, tapi berkali-kali Sehun mencoba meyakinkan nya untuk tidak memikirkan soal itu. Dan dia juga berjanji kepada Kyungsoo untuk segera menemukan pendamping hidupnya.
Tiba-tiba saja merasakan kakinya yang di peluk oleh seseorang, menundukan kepalanya Kyungsoo mendapati Taeoh dengan setelan jas nya yang terlihat imut dimata Kyungsoo. Tersenyum, Kyungsoo berjongkok menyamai tinggi tubuhnya dengan tinggi tubuh Taeoh.
"Wah, noona sangat cantik"
"Ey, sebentar lagi kau tidak boleh memanggilnya noona, kau harus memanggil nya eomma. Mengerti anak kecil" itu Cassandra dengan bahasa Prancisnya membuat Taeoh hanya mengerutkan kening bingung.
"Noona, apa yang sedang dia bicarakan?" Tanya Taeoh kepada Kyungsoo yang hanya terkekeh.
"Dia bilang, sebentar lagi kau tidak boleh memanggil ku noona, tapi harus memanggil ku eomma"
"Eomma?"
Kyungsoo menganggukan kepalanya.
"Aku senang sekarang aku punya eomma, nanti aku akan memamerkan nya kepada teman-teman ku jika aku memliki eomma yang sangat cantik"
Kyungsoo hanya terkekeh dan mengusap rambut Taeoh lembut.
Tak lama Tuan Do datang menginterupsi pembicaraan mereka. "Kyungsoo sudah saatnya kau keluar"
Kyungsoo menatap ayahnya dan menganggukan kepalanya. Lalu berjalan menghampiri ayahnya. Sedangkan Taeoh sudah kembali di bawa Cassandra untuk keluar bergabung dengan undangan yang lain.
Kyungsoo berjalan diatas altar dengan menggendeng lengan ayahnya, berkali-kali dia mencengkran lengan ayahnya karena gugup, sedangkan ayahnya terus mengusap tangannya mencoba menenangkan.
Saat sudah sampai di depan Jongin, Kyungsoo harus meti-matian menahan rasa kagumnya. Karena, sumpah demi Tuhan Jongin sangat tampan dengan balutan tuxedo yang dia kenakan.
Mereka menghadap pendeta untuk segera mengucapkan janji suci pernikahan. Kyungsoo tidak mendengar apa yang di katakana sang pendeta, karena yang dia tahu. Dia tersadar dari lamunannya, saat Jongin menggenggam tangannya lebih erat sambil menatapnya. Maka dengan cepat Kyungsoo mengatakan "Saya Bersedia"
Dan setelahnya pendeta mengucapkan berbagai macam doa untuk kelancaran hubungan pernikahan mereka. Dan setelah itu mereka di persilahkan untuk memasangkan cincin ke jari mereka masing-masing.
Setelah Jongin memasangkan cincin ke jari manis Kyungsoo dan Kyungsoo pun melakukan hal yang sama. Kini mereka di persilahkan untuk mencium pasangannya.
Jongin menangkup wajah Kyungsoo dan menatap Kyungsoo tepat ke manik mata bulat milik gadis yang sudah menyandang status sebagai istrinya. "Aku sangat mencintai mu Kyungsoo"
Kyungsoo tersenyum. "Aku juga sangat mencintaimu Jongin"
Setelahnya Jongin menempelkan kedua belah bibir mereka, melumat bibir atas dan bawah Kyungsoo bergantian, Kyungsoo pun membalas lumatan milik suaminya. Suara riuh tepuk tangan, tidak menghentikan sesi ciuman mereka.
The End……
Maka dengan ini aku ucapkan selesai, akhirnya bisa nyelesaiin sequel nya. Yah, walaupun emang ngaret banget dan udah banyak yang lupa sama ceritanya. Aku paham koq, abisnya otak ku mentok.
Maaf ya, kalo endingnya terkesan memaksakan, aku sudah pusing guys. Dan ini pun word nya udah panjang banget, aku takut kalian bosan bacanya. Hueee
Dan ternyata di banding nerusin ff ku yang Depression. Aku lebih dulu dapet ide dengan sequel ini. Muehehehehe, otak ku emang kadang kaya gitu. Maaf, ya dan tolong di maklumi.
Sampai jumpa di ff ku selanjutnya, dan di ff ku yang lain.
Terima Kasih
NiniSoo1288
