Title: RITE OF SPRING: TURNING POINT

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter (Two Chapters)

Rating: M

Genre: Adventure, Romance

Warnings: (saat ini belum ada)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

RITE OF SPRING: TURNING POINT

2

Sakura terus berlari hingga kulitnya nampak berkilau dan tetesan-tetesan asin menginvasi matanya. Titik-titik keringat adalah bukti nyata betapa dirinya telah berolahraga lebih keras dibanding hari-hari sebelumnya. Sakura melirik langit hitam yang membentang di atas stadium, menarik satu pelajaran hidup dari berlari, bahwa satu hal kecil maupun rumit, bergantung pada satu langkah. Jika memandang pada betapa jauhnya garis akhir, kemungkinan besar kau tidak akan pernah memulai. Namun jika kau hanya fokus berlari, maka ada kesempatan besar kau akan selesai.

Langkah Sakura melambat saat menyadari apa yang baru saja terlintas di pikirannya. Keringat mengalir turun di wajahnya seperti kelembutan hujan di musim panas, menetes bersamaan dengan setiap tarikan napasnya. Kaos longgar berwarna hijau muda melengket di punggungnya, membentuk sebuah peta dari tanah asing yang tak tercetak di atlas manapun. Saat dia benar-benar berhenti berlari, keringat mulai menyejukkan kulitnya, dan angin malam membuatnya gemetar.

Jika memandang pada betapa jauhnya garis akhir, kemungkinan besar kau tidak akan pernah memulai. Namun jika kau hanya fokus berlari, maka ada kesempatan besar kau akan selesai.

Dia terus memainkan kalimat-kalimat itu di dalam kepala membuat kedalaman lautan benaknya bersuara. Kata-kata yang memiliki arti sama dengan kalimat terakhir Kakashi. Sakura mengerang pelan dengan mata terpejam. Kenapa aku baru menyadarinya? Apakah kehidupannya yang sekarang sedemikian menjemukan hingga dirinya selalu berada dalam fase penyangkalan bahwa dia sedang bosan? Petunjuk-petunjuk itu sudah ada di sana, hanya saja dalam skala kecil. Human. Sakura mendengus. Manusia hanya akan sadar jika diperlihatkan sesuatu yang besar. Dengan kesadaran kolektif, pura-pura tak sadar atau memang benar-benar tak tahu, mengabaikan sesuatu yang kecil dan sederhana hanya karena selalu memandang pada betapa jauhnya garis akhir. Sakura, pada akhirnya, menertawai dirinya sendiri.

"Sakuraaaa!"

Mungkin karena melihat Sakura mematung di tengah arena berlari tanpa sampai di garis akhir, gadis lavender yang berdiri di pinggir arena berseru sambil melambaikan tangan yang memegang stopwatch.

"Kenapa kau berhenti? Are you alright?"

Sakura menoleh pada Hinata, tersenyum manis dengan pipi bulat merekah bagai apel ranum. Sakura mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda untuk melanjutkan olahraganya malam itu. Tampak Hinata dengan senang hati menekan kembali tombol stopwatch. Sakura, dengan rambut merah muda dikuncir ekor kuda, kembali berlari menuju garis akhir. Nike yang dipakainya malam itu akan membawanya pada satu kemenangan kecil.

15 menit kemudian kedua mahasiswi Oxford itu berjalan beriringan di lantai paving menjauhi stadium. Sakura, kali ini dengan hoodie menutupi rambut merah mudanya, telah benar-benar menghabiskan air di botol minumannya lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan bersama dengan Hinata yang membuka percakapan.

"Kau benar-benar akan ke Skotlandia?"

"Yup," jawab Sakura mantap.

"Kapan?"

"Akhir pekan ini."

"Tak ke Bibury lagi?"

Sakura menggeleng. "Aku butuh suasana baru."

"Jadi kau benar-benar sedang jenuh, ya?" Hinata menoleh pada sahabatnya, memandang dengan senyuman. "Atau kau butuh pacar agar hidupmu tidak membosankan."

"Yang benar saja, Hinata." Sakura memutar kedua bola matanya lalu tertawa. "Jika hidupku membosankan, aku akan meng-upload video nangis bombay sambil mengutuk kehidupanku ke sosial media."

Keduanya tertawa sembari sesekali menyapa mahasiswa-mahasiswa yang mereka kenal saat berpapasan.

"Kau tahu, Hinata, bahwa otak kita memiliki kecerdasan yang sama dengan orang-orang Yunani kuno tapi kita malah membiarkannya menyatu dengan sampah. Setiap pembicaraan atau perdebatan yang kudapat selalu itu-itu saja—rasa takut, terorisme, uang, embargo. Jika otak adalah komputer, maka pikiran kita adalah sistem operasi yang dibangun oleh keluarga dan lingkungan. Kurasa sistem operasiku berbeda dari orang lain. Bagaimana mungkin aku mengobrol tentang gaya rambut, manicure, dan artis? Menjadi seorang idealis bukanlah hal yang buruk, bahkan bisa menjadi sesuatu yang menyelamatkan kita."

Sakura berhenti berjalan saat menyadari Hinata tak ada di sisinya. Dia berbalik dan menemukan gadis lavender itu berdiri tak jauh di belakangnya, dengan mata indigo membulat di wajahnya yang mungil.

"Lagi-lagi kau menakutiku, Sakura. Mungkin kau benar-benar butuh pacar. Oh, tidak. Mungkin kau harus sesekali bercinta."

"Hinata!" seru Sakura sambil menghentak sepatu Nike-nya ke permukaan paving. Sakura suka berbincang dengan Hinata. Gadis itu bahkan lebih mengenal dirinya dibanding siapapun di dunia ini namun kadang dia masih berpikir di dalam tembok.

"Sakura!" Hinata mendekati teman sekamarnya, menggandeng tangannya. "Ini bukan dirimu! You're a regular girl. I think you've been working too hard. Ayo, kita minum kopi. Kau tidak bisa memecahkan masalah yang ada di dunia ini, kau tahu, itu terlalu berat untuk satu orang."

Sakura kembali tertawa namun kali ini tawanya sangat lebar membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya menoleh. Sakura melepaskan tangannya dari Hinata lalu merentangkannya ke samping seolah mencoba untuk terbang. "Oh, honey, aku tidak ingin mencoba memecahkan masalah dunia. Keinginanku sederhana, kok."

"Hm? Dan apa itu?" Hinata terkekeh melihat tingkah sahabatnya.

"Don't they say that none of us will leave this world alive?" Sakura menatap Hinata dengan sepasang alexandrite yang kini berubah kemerahan di bawah lampu temaram. Sekujur tubuh Hinata bergetar saat melihatnya. Warna mata itu memancarkan semangat, menembus memasuki jiwa, mengalir di darah gadis si pemilik rambut merah muda. "Aku bukan seorang penganut nihilis yang menganggap hidup manusia di dunia tidak memiliki tujuan. Kurasa mulai sekarang aku adalah seorang idealis atau seseorang yang ingin memiliki eksistensi. Aku berniat untuk meninggalkan jejak kaki terbesar dan terindah yang aku bisa."

Kini Sakura menatap lurus ke depan. Atap gedung asrama mereka kini sudah tampak, berdiri kokoh dan angkuh layaknya bangunan di abad ke 18 tapi dengan sistem operasi yang jauh lebih modern. Ada sesuatu yang menggelitik mengalir di setiap nadinya saat ini, kau tahu, seperti perasaan yang menyebar dari otak dan mengalir deras menuju jari dan telapak kakimu. Sakura butuh sesuatu yang baru, getaran dari sebuah ketidaktahuan, pencarian akan jawaban-jawaban yang telah menekan batas pikirnya. Salahkan Kakashi Hatake dan kata-katanya yang penuh filosofis, yang telah mencuci otaknya hingga mengganggu tidurnya. Salahkan daya tarik pria itu dengan senyum nakalnya dan kilatan penuh rahasia di mata abu-abunya.

"Itu indah sekali, Sakura, membuatku kehabisan kata-kata. Dan… um… apakah jejak milikku bisa berada di sebelah milikmu?"

Sakura menengadah pada langit malam di atas mereka. Konstelasi tersusun sesuai giliran tiap tahunnya, bintang-bintang yang kehadirannya sudah ada sejak jutaan tahun lalu. Malam ini bagai lukisan Van Gogh yang begitu brilian, menyisakan jejak yang begitu fantastis. Hanya menatap kanvas langit hitam biru gelap, keraguannya sirna seketika. Ini baru langit di kota London. Bagaimana dengan langit di tempat-tempat yang belum diketahuinya?

Sakura lalu menampilkan gigi-geliginya yang tersusun rapi. "Tentu saja, my dear Hinata Hyuuga!"

Tiga hari kemudian, Sakura duduk sendirian di tepi arena lari, merasakan tetes-tetes air menyentuh kulitnya, diikuti yang lainnya lalu yang lainnya, tapi dia tak kunjung beranjak. Dia justru menyilangkan kedua kakinya ke depan, bertumpu pada kedua telapak tangan yang diletakkannya di belakang lalu mengamati sisa-sisa konstelasi yang tak tertutup awan. Kini tubuhnya berubah seperti air mancur dengan tetesan air yang datang bertubi-tubi, membuat kelopaknya menjadi berat. Sakura menutup kedua matanya, desahan melewati bibirnya yang terbuka.

Sore tadi, Hinata Hyuuga mengucap selamat tinggal pada Sakura. Dia kembali ke Jepang setelah menerima telepon dari keluarganya yang memberitahu jika ayahnya mendapat serangan jantung. Pipi Hinata basah oleh air, matanya berkaca-kaca saat memeluk Sakura di bandara. Kapan Hinata akan kembali, gadis itu tak memberi kepastian. Sebagai penerus klan Hyuuga yang memegang kendali ekonomi setengah negara Jepang… Sakura menggeleng pelan. Every person has their own story. Hidup, Mati. Sehat, Sakit. Kaya, Miskin. Gila, Waras. Kebahagiaan, Kesedihan.

Jadi di penghujung malam hari itu, Sakura membuat pilihan, menyambutnya seperti seorang teman baru.

::::

TBC

::::

TBC? Yup. Saya salah prediksi, pals. Saya pikir bisa menyelesaikannya dalam dua chapter. Ternyata nggak. Mungkin karena saya ngetik hingga pukul empat pagi bersama tiga cangkir kopi hitam #yawn# membuat otak saya bekerja seperempat saja. Sekedar hint: Di chapter tiga Sakura akan bertemu dengan Kakashi. Kapan dan di mana, stay with me #bow# Dan saya mengedit bagian akhir fic ini. Maklum, tadi otak saya sedikit korslet.

Semoga kalian menikmati chapter ini dan maaf jika saya belum menjawab review yang masuk. Tapi secara keseluruhan terima kasih untuk reaksi yang nggak terduga dari setiap review. Saya sangat menghargainya. Silakan tinggalkan review kembali dan thanks juga untuk yang sudah fav/ foll.

Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions