Disclaimer: Ansatsu Kyoushitsu/Assassination Classroom and all of it's characters belong to Yusei Matsui

"Ketika sebuah pembalasan dilampiaskan ke orang terkasihmu, apa yang akan kau lakukan?"


Sweet Revenge: Perlawanan

Ketua kelas 3-A itu masih duduk diam di kelasnya, tangannya sibuk mencoret-coret kertas dengan rumus rumit yang mungkin belum dipahami anak-anak SMP seusianya. Gakushuu menghela nafas kesal, ia bertekad akan menghafalkan seluruh rumus ini dan akan menyelesaikan soal terumit yang diberikan ayahnya dalam hitungan detik.

"Akhirnya ini yang terakhir!" tanpa ia sadari, bibirnya membentuk sebuah senyum puas. "Lihat saja Pak Tua! Aku akan membuatmu mengakui keburukan sistemmu!" senyum puas itu digantikan senyum berbisa, persis dengan senyum ayahnya.

Gakushuu melirik jam tangannya, "Sudah jam setengah sembilan malam. Aku harus cepat pulang, semakin cepat aku mengerjakan soal-soal itu, semakin cepat aku bisa tidur!" tangannya dengan cekatan merapikan buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan dan memasukkannya ke dalam tas.

Sekolah sudah sepi. Suara langkah kaki Gakushuu memenuhi koridor SMP Kunugigaoka. Ia tidak takut hantu, tentu saja. Orang rasional seperti Gakushuu mana mungkin percaya akan hantu! Matanya melirik kelas-kelas yang ia lewati. "Ah, baru kali ini aku memperhatikan kelas-kelas saat malam. Biasanya kalau urusan lembur OSIS sudah selesai aku langsung pulang begitu saja," gumamnya pada diri sendiri. Sekilas ia bisa melihat kelas itu dipenuhi anak-anak dan seorang guru yang sedang mengajar.

Matanya mengerjap dan bayangan itu hilang. Ia mendengus, ia melihat bayangan ayahnya mengajar seperti beberapa hari lalu sebelum kelas 3-A menempuh ujian akhir. Perutnya tiba-tiba berbunyi, mengagetkan si empunya perut. "Sial. Masa bodo dengan perutku, aku harus cepat pulang," gumamnya lagi, mempercepat langkahnya. Gakushuu sudah sering menahan lapar saat lembur mengerjakan tugas OSIS, jadi ia sudah terbiasa.

Ia melihat penjaga sekolah yang dia mintai kunci tadi. Penjaga sekolah itu sangat ramah dan hormat padanya, pasti karena dia anak kepala sekolah, pikir Gakushuu. Walaupun begitu, Gakushuu juga menghormatinya karena penjaga itu lebih tua darinya, sebuah nilai yang diajarkan ibunya dulu.

"Asano-kun! Sudah selesai belajarnya?" sapa penjaga yang berjaga di depan SMP Kunugigaoka.

"Ya. Arigatou atas kuncinya," Gakushuu mengembalikan kunci kelas 3-A ke penjaga itu.

"Ah, ya. Sebenarnya ada apa Asano-kun sampai belajar malam-malam begini? Bukankah ujian akhir sudah selesai?" tanya penjaga.

Gakushuu tersenyum penuh rahasia. "Sekedar mempersiapkan diri untuk SMA nanti, bukan masalah besar."

Penjaga itu berdecak kagum, "Wah, Asano-kun memang hebat ya! Memikirkan masa depan dari jauh-jauh hari!"

"Begitulah. Baiklah, saya harus segera pulang. Arigatou gozaimasu," ujar Gakushuu lalu menunduk hormat.

"Sama-sama! Hati-hati di jalan!"

"Terima kasih. Mata ashita!"

Tumben jalan udah sepi, pikir Gakushuu. Hanya beberapa mobil yang masih melintas. Tiba-tiba ia merinding mengingat cerita teman-teman sekelasnya tentang seorang stalker yang berkeliaran di sekitar lingkungan Kunugigaoka. Begitu juga dengan rumor seorang pria kuning dengan tawa "nurufufufu" nya yang sering terdengar di dekat toko makanan manis. Gakushuu menggeleng-gelengkan kepala oranyenya, "Ada-ada saja orang-orang itu! Seolah tidak punya kerjaan yang berarti," ia berdecak sombong.

"Hidupnya pasti sangat menyedihkan," Gakushuu bergumam lagi lalu nyengir meremehkan.

Tapi matanya menangkap sebuah gerakan di sebuah gang yang baru saja dilewatinya. "Sial! Kenapa aku jadi parnoan begini?!" gerutunya, mempercepat langkah.

Si Pangeran Lipan memutuskan untuk naik kereta dari pada harus berjalan kaki. Memang rutenya lebih jauh kalau naik kereta, setidaknya dia merasa aman.

Di kereta, Gakushuu kembali membuka buku catatannya, melanjutkan soal-soal yang belum ia kerjakan tadi. Setelah mengetahui rumusnya, ternyata soal-soal itu tidak serumit yang ia bayangkan saat pertama melihatnya.

"Sial! Sial! Aku lupa sebentar lagi kereta ini bakal berhenti di stasiun tujuanku!" Gakushuu memasukkan bukunya dengan panik sambil mengumpat.

Hampir saja dia tersandung kakinya sendiri ketika berlari menuju pintu keluar kereta. Bodoh, seorang Asano Gakushuu nyaris terjatuh gara-gara kakinya sendiri! Apa yang akan ayahnya katakan?

Dari stasiun, Gakushuu tinggal berjalan beberapa blok menuju rumahnya. Sekarang sudah jam 9 malam. Jalanan mulai sepi. Lagi-lagi ujung mata Gakushuu menangkap gerakan misterius dari sebuah gang. Selain itu dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang.

"Aku harus berputar ke belakang. Siapa pun itu akan kuhajar! Berani-beraninya mengikutiku dari tadi!" gerutunya, tangannya sudah mengepal.

Begitu Gakushuu berputar, dilihatnya seorang pria dengan tubuh raksasa-entah lebih tinggi atau sama tingginya dengan ayahnya-, otot-otot orang itu menyembul di balik kaos hitamnya. Belum sempat Gakushuu memukulkan tinjunya, telinganya dipukul oleh orang asing itu.

Rasanya lebih pusing dari pada dipukul ayahnya. Ia sudah sering menerima pukulan dari ayahnya, namun ayahnya tidak pernah memukul telinganya atau bahkan kepalanya, tidak seperti orang asing ini.

"Oh, benar! Ternyata ini anak kepala sekolah keparat itu!" Gakushuu bisa melihat mata orang itu berkerut karena senyumnya walaupun mulut dan hidungnya ditutupi kain.

"Kau..," geram Gakushuu, mencoba berdiri. "Apa masalahmu?! Jika kau punya masalah dengan ayahku, selesaikanlah dengannya! Dasar pengecut!"

Tawa mengerikan itu seakan bergema di telinga Gakushuu."Anak sok, sama seperti ayahnya! Kita lihat apa yang akan ayahmu lakukan sekarang!"

DUAK..!

Tinju Gakushuu berhasil mengenai wajah orang itu. Tangannya dengan gesit membuka kain penutup wajahnya. Ia tercengang. Sebelumnya ia pernah melihat wajah ini di salah satu berkas di kantor ayahnya.

"Beraninya kau, anak nakal! Seorang anak yang kurang ajar harus merasakan akibat perbuatannya!" seru orang itu, menekan sebuah kaleng, dan udara dipenuhi oleh asap dengan bau yang menyengat.

Gakushuu terbatuk, tangannya mengibas asap itu supaya jangan lagi terhirup oleh hidungnya. Bau itu adalah bau menyengat paling memuakkan yang pernah Gakushuu hirup. Lebih memuakkan dari parfum ibunya dulu dan lebih memuakkan dari bau pengharum ruangan ruang kerja ayahnya.

Asap itu mengepungnya selama setengah menit. Segala usahanya menyingkirkan asap itu sia-sia, karena sepertinya asap itu terus menyerangnya. Sebenarnya kaleng apa yang dibawa orang asing itu?!

Gakushuu berusaha merangkak keluar dari kepungan asap itu, menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya. Seharusnya dia makan malam dulu, kalau saja sebelum pulang tadi ia berhenti di restoran udon dekat sekolahnya, mungkin nasibnya tidak akan sesengsara ini. Kepalanya membentur sesuatu. Kaki orang gila itu. "Hehehe, mau pergi kemana Asano-kun? Mau pergi mengadu ke ayahmu, eh?" ledeknya, kakinya menendang kepala Gakushuu hingga si rambut oranye itu terpelanting ke belakang, mendarat di punggungnya.

Ia merasa nafasnya ditarik keluar dari tubuhnya. Punggungnya sakit sekali, Gakushuu berdoa agar punggungnya tidak patah. Rasa panik mulai menguasai kepala jeniusnya itu, membuatnya mulai berpikir yang aneh-aneh. Lama-lama dadanya terasa sesak. Ia butuh udara, udara segar. Pertahanan dirinya seakan runtuh bersamaan dengan jatuhnya tubuhnya ke jalanan yang dingin. Matanya mengerjap-ngerjap, berusaha menjernihkan pandangannya saat asap itu memudar.

Orang asing itu menyeretnya. Gakushuu tidak bisa berontak, seluruh tubuhnya rasanya lemas. Yang ia inginkan sekarang ini hanyalah tidur. "Aku ingin tidur. Tapi kalau aku tidur, mana bisa aku tahu kemana orang gila ini mau membawaku?" hati kecilnya merasa khawatir. Kemana orang-orang? Kenapa tidak ada yang melihat Gakushuu diseret orang asing? Kemana penjaga rumahnya? Mereka harusnya khawatir kalau jam segini Gakushuu belum pulang. Apa ayahnya tidak mencarinya? Pasti dia kesal sudah menunggu lama, bayangan ayahnya yang kesal membuat Gakushuu nyengir sinis. Bisa-bisanya bocah itu nyengir sinis disuasana genting seperti itu!

"Persetanlah aku mau dibunuh atau apa. Aku lelah, aku mau tidur," pikir Gakushuu sebelum memejamkan matanya.

Pojoknya Author: Nurufufufu terima kasih udah dibaca! Maafkan kesalahan EYD atau OOC nya wuahahaha! Masih dinantikan reviewnya! Boleh loh kritik dan saran :3. Tapi kalau kritik, usahakan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik ya, soalnya hati author terlalu lembut/plakk :v