This is Home
.
.
.
A SasuSaku fic.
by ceruleanday
.
Disclaimer : Kishimoto Masashi
All Naruto properties belong to Kishimoto Masashi. I'm just an imaginary girl in wonderland who borrows his masterpiece.
AU, Historical Moment in Japan, Request fic from mysticahime. (Hope you like it. ^^)
(Second Page)
Aku terdiam di salah satu sudut meja makan gedung sekolahku. Kukunyah perlahan nori sembari masih menggerak-gerakkan bola mataku tepat di hadapan sebuah buku yang berisi tentang tata bahasa Rusia. Ah. Entah kenapa gara-gara saudari baru kami, aku jadi terobsesi akan negara pecahan Uni Sovyet itu. Hampir saja aku mendaratkan sumpitku bukan pada mangkuk nasi, melainkan pada gelas keramik yang berisi midori ocha .
Aku memekik frustasi. Kurasa, aku sudah sinting sekarang. Sangat-sangat sinting…
Jarak antara meja makan anak laki-laki dan perempuan lumayan jauh. Tetapi, entah kenapa aku merasa sedang diperhatikan dari arah sana—sedikit jauh tapi aku benar-benar yakin ada seseorang yang sedari tadi terus memancangkan matanya ke arahku. Dan benar saja.
Sekelompok anak perempuan berusia dua belas atau mungkin tiga belas tahun tengah terkikik ke arahku. Menyebalkan, pikirku.
Segera saja kulahap semua nasi dalam mangkukku dan meneguk sekali midori ocha milikku. Kuraih tas bututku dan meninggalkan ruangan sarapan di gedung tua ini. Sebelumnya, aku sempat melirik sekilas ke arah anak-anak perempuan itu. Sepintas, aku merasa menangkap sebuah boneka panda atau beruang yang sedang dipeluk erat oleh salah satu anak perempuan itu. Tapi, karena kesal, sesegera mungkin aku berjalan menuju lantai dua—perpustakaan.
"Maaf Uchiha-san, hari ini perpustakaan kami tutup."
Sebuah suara nenek-nenek tua yang kutahu adalah Homura-sama—sang guru sejarah paling membosankan di dunia ini menepuk pundakku. Rupanya benar katanya. Pintu kayu perpustakaan tertutup erat dan terkunci.
"Kenapa?" tanyaku menilik sambril memperhatikan betapa banyaknya kerutan terbentuk di wajah tuanya.
"Sejak kemarin hingga tanggal sembilan, semua guru dan penjaga ruangan harus ke Hiroshima dan Nagasaki. Upacara penghormatan tragedi sepuluh tahun yang lalu sedang diadakan di sana saat ini. Sarutobi-sama baru saja berangkat pagi ini menuju Hiroshima. Jadi, untuk sementara, yahh karena tak ada yang bersedia mengawasi ruangan ini, maka perpustakaan kami tutup. Seharusnya kau mengingat hal itu kan?"
Ah iya. Bisa-bisanya aku lupa. Kemarin kan aku lebih banyak menghabiskan waktuku di loteng sekolah. Tapi… anehnya, kenapa si guru 'beruban' itu malah muncul di loteng? Dasar dia itu.
"Baiklah. Saya rasa, saya akan mencari tempat lain untuk membaca."
Segera, aku pun meninggalkan koridor luas itu. Namun, lagi-lagi… aku merasa seperti sedang diawasi. Kutingkatkan kewaspadaanku dan berjalan perlahan. Sebentar aku berhenti dan berusaha mendengarkan bunyi ketukan sepatu dari arah belakangku. Aku menoleh, tak mendapati siapapun. Maka, aku pun kembali melangkah. Berhenti. Lagi. Hingga…
Triingg…
Bunyi sesuatu yang terjatuh membuat sebuah langkah sepatu karet terdengar di sepanjang koridor sepi itu. Kubiarkan saja sampai si pemilik sepatu itu memperlihatkan wujudnya. Benar-benar ada stalker di panti ini. Aku melihat ada pertigaan, maka kupilih tuk melangkah ke percabangan kiri. Ekor mataku menangkap seseorang yang seperti berusaha menyembunyikan dirinya dari pengelihatanku. Percuma saja, kataku.
Kurasa tidak ada salahnya bila membiarkannya mengikutiku terus hingga tiba saatnya ia akan muncul sendiri di hadapanku. Lagipula, hari ini aku sedang tidak ingin melakukan apapun selain membaca. Loteng gedung sekolah akan menjadi pelarianku setelahnya.
Hari berikutnya, tak hanya di pagi harinya, siang maupun malam harinya, aku merasa terus dikuntit oleh orang ini. Sedikit kesal, tidak. Lebih tepatnya, sangat kesal! Dari ruangan kelas, bisa kulihat bayangannya terlihat tengah duduk berjongkok di ujung pintu kelasku. Tak hanya itu. Selama aku membaca buku di taman gedung yang dihiasi oleh kolam ikan yang besar, samar-samar orang itu sedang bersembunyi di balik pohon akasia besar. Sigh… Rasa-rasanya, aku ini seperti penjahat yang sedang dibuntuti oleh polisi intel.
Dua hari setelahnya tak ada perubahan. Tiga. Empat hari. Hingga para guru dan pengasuh kembali lagi ke panti. Kunjungan singkat mereka ke Hiroshima dan Nagasaki telah selesai. Rombongan orang-orang tua—bahkan aku yakin Kakashi tak ada diantara mereka—berjalan pelan memasuki pintu-pintu raksasa gedung utama. Aku yang baru saja menuruni undakan terakhir tangga lantai dua masih bisa menangkap pemandangan tahunan itu. Ah, kurasa aku salah. Kakashi ternyata ada diantara mereka. Setidaknya, sikap sepeleku pada guru satu ini berkurang satu.
Sebuah tepukan mengagetkanku. Lagi-lagi si Uzumaki. Dengan cengiran lebarnya itu, ia seakan tak pernah merasa takut ataupun sedih dengan hidupnya. Maksudku, kami semua yang tinggal dip anti ini adalah anak-anak yang sangat-sangat-kurang beruntung. Keluarga kami telah tiada.
"Hei, lama-lama kau bisa mengkerut seperti pak kepala sekolah kalau kau terus memelototi buku-buku usang itu. Mau main petak umpet tidak? Kali ini, kita akan menantang anak-anak sekolah dasar itu siapa yang paling pintar sembunyi! Haha!"
Permainan konyol yang kekanakan. "Kau mau menantang ada sekolah dasar yang usianya tujuh tahun di bawahmu? Sungguh, kau bahkan tak melihat sikon, Naruto." tambah, kau bahkan terlihat begitu konyol.
"Heii, heii, maksudku… Ini hanya masalah hiburan, Sasuke. Hiburan. Tertawalah sebelum pada akhirnya satu per satu dari kita akan meninggalkan tempat ini. Iya kan?"
Meski dia bodoh, kurasa dia benar. Bahasanya memang sederhana, tetapi entah kenapa sangat filosofis menurutku. "Hh, baiklah. Asal bukan aku yang menghitung saja."
"Haha. Kita lihat lewat undian saja. Ayo!"
Aku berlari. Bersembunyi. Menghitung. Dan kembali bersembunyi.
Entah kenapa, dengan berlari bebas seperti ini, aku seperti kembali ke sebuah tempat yang kusebut sebagai rumah. Ya, rumah. Sebuah rumah di mana di dalamnya terdapat ayah, ibu, aniki…
Tapi, yang lebih penting ialah hari ini, aku tidak dikuntit lagi. Haruskah aku berterima kasih padamu, Naruto?
.
.
This is home.
Now I'm finding where I belong.
Where I belong.
Yeah, this is home, I've been searching for a place of my own.
Now I've found it.
Maybe this is home.
Yeah, this is home
Rutinitasku tidak berubah sehari-harinya. Masih saja aku lebih suka berkutat dengan buku-buku tebal sembari mengambil bibit jagung tuk kusebarkan di sekitarku. Burung-burung liar mendekat dan mulai mematuk-matukkan paruh mereka ke bibit-bibit jagung itu. Suara kepakan sayapnya membuatku mendesah—sadar bahwa apa yang telah kulakukan selama ini adalah sebuah kebosanan yang pasti.
Surat itu. Surat yang diberikan oleh Sarutobi-sama padaku seminggu yang lalu belum lagi kusentuh. Aku hanya perlu membacanya sekali dan bisa kutebak arah pembicaraan yang tertulis dalam perkamen itu.
Wajib Militer.
Entah apa maksud dan tujuan beliau memberikan surat rekomendasi itu padaku, padahal aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia militer macam begitu. Lagi, aku berpikir akan apa yang harus kukatakan padanya esok hari. Esok adalah hari di mana ia meminta jawabanku, tapi aku bahkan belum memutuskan apapun.
Suara semak-semak rerumputan mengalihkan arah pandangku. Aku menoleh, melihat sepertinya ada sesuatu atau mungkin seseorang yang bersembunyi di balik sana. Perlahan aku mendekat, menjaga kemungkinan adanya serangan tiba-tiba dari arah tanaman-tanaman pendek itu. Aku pun segera memancangkan mataku dan…
Suara tapak sepatu yang sedang berlari menjauh.
Aku yakin, ada seseorang yang sedari tadi terus saja mengawasiku. Melihat sekitar, sebuah potongan kertas nampak seperti sebuah bukti yang bisa memberatkan pelaku stalking itu. Kuraih potongan kertas itu dan betapa terkejutnya aku. Potongan kertas itu adalah sebuah foto. Foto tua hitam putih yang memperlihatkan wujud seorang anak lelaki berambut hitam pendek yang wajahnya sangat mirip dengan wajahku.
Apa?
Langkah itu telah menghilang. Larinya cepat juga. Tapi, aku masih tak percaya dengan sosok anak lelaki dalam foto tua itu. Pakaiannya nampak seperti pakaian seragam prajurit militer yang berpangkat rendah. Namun, senyum ramah yang diperlihatkannya sungguh terlihat seperti bukan diriku. Selama hidupku, belum pernah aku tersenyum model demikian.
Dari balik foto tua itu terdapat sebuah tulisan. "Sai. 1952. Hm…"
Aku pun mulai tersadar dengan tujuan tersembunyi yang ada di pikiran stalker itu. Ya.
"Hai. Namamu Sakura, kan? Kenapa kamu tak bicara-bicara sejak tadi?"
Hening.
"Hei Ino, kenapa kau bicara sendiri? Kau seperti orang sinting."
"Diam kau, Kiba. Aku sedang berusaha ramah nih."
"Ck, tentang saudari baru kita yang itu? kuberitahu ya, dia itu hanya paham bahasa Rusia. Kau harus bicara dengan bahasa itu kalau mau mendapatkan respon darinya."
"Tsk, mendokusei. Di sekolah kita kan tidak diajari bahasa itu."
"Heii, masa' begitu sih? Yang tahu bahasa itu kan cuma kepala sekolah! Masa' aku harus tanya ke beliau?"
"Kau lupa satu lagi, Ino."
"Apa?"
Beberapa pasang mata terpancang ke arahku yang baru saja tiba di ruangan makan malam. Aku mengambil kursi tepat di samping seorang pemuda berkucir yang suka sekali menguap—bukannya aku ingin sok bersahabat atau bagaimana sebab semua kursi sudah penuh kecuali di sebelah Naruto, tidak, aku tidak mau duduk berdampingan dengannya, dan juga di samping Shikamaru.
Inuzuka, Yamanaka dan Nara. Mereka bertiga memelototiku sesaat seolah-olah aku ini penjahat atau apa. Jelas saja, pasti mereka sedang membicarakan sebuah topik yang mungkin menyangkut diriku.
"Hei, hei, Sasuke-kun. Minggu lalu, waktu Sakura-chan diperkenalkan ke kita, kau bisa mengenal bahasa yang digunakannya waktu menjawab pertanyaanku kan?" cerocos gadis pirang panjang ini.
"Hn."
"Ehh, bisa tidak kau… kau… kau mengatakan sesuatu, maksudku, aku ingin sekali berbicara dengannya tapi… dia itu sepertinya memang benar-benar tak paham dengan apapun yang kukatakan. Kurasa, dia hanya mengerti bahasa rusia. Eh, iya bukan?"
"Lalu?" tanyaku menilik. Sepertinya aku sudah bisa menebak isi kepalanya saat ini.
"Maukah kau tuk jadi—"
"Tidak." jawabku tegas. "Bahasa rusiaku belum sepenuhnya bagus, Ino. Yang waktu itu karena aku merasa pernah membacanya saja di buku."
"Bohong." tukasnya seketika. "Kau bohong kalau kau tidak tahu kan. Kau pasti bohong."
Aku memutar bola mataku. Sungguh aku benar-benar tidak paham lebih banyak lagi. "Kalau kau mau, kau bisa meminjam buku dari perpustakaan untuk mempelajari bahasanya lebih banyak lagi. Atau kau bisa langsung berguru pada kepala sekolah."
Bisa kutebak, ia sedang memonyongkan bibirnya ke arahku. "Sasuke-kun pelit."
"Hn, terserah."
Saat berikutnya, kami tenggelam dengan urusan kami masing-masing. Aku masih berkonsentrasi dengan makan malamku, sedangkan di samping kiri dan kananku tengah bercakap-cakap dengan yang lainnya. Malam ini sepertinya para guru sedang tidak ikut makan bersama kami semua, hanya ada para pengasuh dan kami saja di ruangan ini.
Lagi. Aku merasa seperti sedang diperhatikan entah dari mana. Setelah melahap habis seluruh makan malamku, aku pun berdiri dari kursiku dan melengang menuju balkon. Di sana, udaranya pasti lebih sejuk dan suara hiruk pikuk teredam sempurna oleh sang angin malam. Tanda-tanda musim gugur sebentar lagi akan tiba. Hal itu bisa kurasakan melalui udara yang kuhirup.
Aku menoleh sebentar dan mengamati sekitarku. Rupanya, di balkon pun tidak merubah apapun. Aku masih merasa diawasi. Maka, aku pun memutuskun tuk menuju taman kolam ikan dan berkhayal sembari menatap langit malam yang tenang.
Langkahku pelan seolah-olah aku adalah seorang pengunjung sebuah museum prasejarah yang sangat menikmati nuansa historis di gedung tua ini. Dinginnya malam rupanya tidak terlalu membuatku menggigil. Aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Ya. Seperti kembali di saat-saat di mana kejadian sepuluh tahun yang lalu terjadi.
Bebatuan di sekitar kolam ikan itu menjadi tumpuanku tuk terduduk. Kuraih kembali selembar foto yang terjatuh dari seseorang yang terus saja menguntitku belakangan ini dari balik saku celanaku. Aku yakin, malam ini, si penguntit itu akan muncul sendiri di hadapanku.
"Aaa!"
Sebuah teriakan membuatku tersadar dari pemikiranku sendiri. Di sana, meski tertutupi oleh keremangan cahaya obor, aku bisa melihat sebuah sosok yang aku yakini sebagai seseorang yang terus saja mengawasiku ke mana saja akhir-akhir ini. Ia berteriak lagi, seperti sedang berusaha mengusir sesuatu dari kepalanya. Aku berbalik dan mendekatinya dari balik dinding bata dari arah sana. Sepertinya kerumunan kelelawar buah tengah mengganggunya. Aku berusaha menahan tawa karenanya.
"Mungkin itu karena aroma buah yang keluar dari tubuhmu." ucapku polos seakan tengah menikmati acara humor yang begitu lucu. Kedua tanganku yang tenggelam dalam saku celana bututku pun menolongnya dari serangan makhluk nocturnal itu. "Apa orang Eropa suka pengharum tubuh beraroma buah ya?"
Kurasa ia terkejut. Kedua mata hijaunya membulat lebar saat melihatku yang sudah begitu dekat dengannya. Dan lagi, ia berteriak, bukan karena si kelelawar itu tepatnya karena melihat wajahku.
"Kalau berteriak terus, nanti dikira aku ini benar-benar seorang penjahat."
Ia tiba-tiba menjadi kaku dan diam seperti paham dengan apa yang baru saja kukatakan. Tapi, ia malah membiarkan kelelawar-kelelawar itu semakin mengepak-ngepakkan sayapnya di atas kepalanya itu. Melihat wajahnya yang terus saja tertunduk itu, segera kutarik tangannya tuk menjauhi kegelapan menuju area yang lebih terang.
Tak ada satupun dari kami yang berbicara setelahnya. Hanya diam dan keheningan. Ingin sekali aku memarahinya atas apa yang sudah diperbuatnya seminggu penuh ini di sekitarku. Tapi, rasa-rasanya marah tak ada guna. Dilihat dari tingkahnya sepintas, dia hanyalah seorang gadis yang sedang kebingungan. Lagipula, selama ia mengutitku, ia tak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Err-maksudku, dia bahkan takkan menguntit hingga ke koridor kamar anak laki-laki. Sepertinya begitu.
"Ah."
Secara mengejutkan ia menaikkan wajahnya—menatapku sekilas dan kembali menunduk. "Go-gomen…"
Apa tadi dia bilang? Bukankah tadi itu, itu tadi… Itu kan! Dia bisa bahasa jepang. Jadi, yang waktu itu maksudnya apa?
Aku mengerutkan dahi sembari menyembunyikan kembali kedua tanganku ke dalam saku celana bututku yang sangat besar itu—seperti celana baggy kaum militer. Kutepuk-tepuk bebatuan hitam yang menjadi satu-satunya kursi empuk di tempat ini. Awalnya, ia tetap tak bergeming dari posisinya. Maka, kudiamkan hingga ia melangkah dengan inisiatifnya sendiri.
Sejenak, aku memandang ke arah langit hitam. Pekat dan gelap sekali. Hanya ada beberapa cahaya kosmik yang melintas. Lama aku terdiam dari pandanganku, seperti ada sedikit tumpuan yang kurasakan di sampingku. Ia telah memilih untuk terduduk di sana. Meskipun tipis, sebuah senyum terpatri di wajahku setelahnya.
"Jadi… kenapa waktu itu kamu menjawab pertanyaan Ino dengan bahasa Rusia?" tanyaku berusaha memecah keheningan yang tak menyenangkan ini.
"…"
"…"
"Me-Mereka pasti akan mengataiku aneh… Makanya… bila aku berbicara bahasa rusia, mereka mungkin akan menganggapku sebagai orang… orang asing…"
"Begitukah?"
Ia mengangguk sembari meremas rok gaun dirty-blond-nya. Aku menoleh sebentar sebelum akhirnya kembali menatap langit hitam. "Kamu bahkan tak mau menyapa kami. Ini sudah seminggu dan kamu tetap tak mau berteman dengan siapapun. Itu… itu tidak bagus, kamu tau."
Ia semakin meremas rok gaunnya sehingga bisa-bisa roknya itu robek. Ekor mataku mengikuti gerak tubuhnya. Ia seperti berusaha menahan nafas dan menghembuskannya banyak-banyak.
"Maaf… Dan juga… maafkan aku karena sudah menyusahkanmu. Mak-maksudku… dengan me-menguntitmu seminggu ini. Ma-maafkan aku!" serunya seraya menundukkan wajahnya dalam-dalam ke arahku.
"Naikkan wajahmu. Sudahlah, tak apa-apa. Meski aku tak paham benar apa maksud dari tindakanmu yang seperti itu, tetapi setidaknya… karna aku, kamu mau berbicara dengan salah satu dari kami."
Kata-kataku begitu puitis. Tidak. Sepertinya ingin sekali aku menelan kembali kata-kata yang tadi. "—yahh, meski harus dengan cara yang seperti ini." lanjutku kemudian.
Ia mulai menaikkan wajahnya dan menatapku sedikit-sedikit. Meski gelap dan tak terlihat jelas, tinta merah menyebar di ujung-ujung pembuluh darah di kedua pipinya yang putih. Hn. Tipikal wajah orang Eropa yang sering tinggal di daerah pegunungan tinggi. Kuamati baik-baik arah pandang mata emeraldnya. Ia pun grogi, begitu pula dengan aku. Masing-masing dari kami mulai membuang muka.
Kami terdiam. Lagi. Tak ada yang saling berucap, hanya ada suara sayup-sayup dedaunan dan kepakan sayap kelelawar buah.
"Ng…"
"Hn?"
"Mm…"
"…"
"Anoo…"
"Kalau ingin bicara, bicaralah."
Dia benar-benar suka memilih topik pembicaraan rupanya.
"Err—bolehkah aku menceritakan sesuatu padamu, ngg—"
"Sasuke." kataku melanjutkan.
"Sasuke. Mm, Sasuke- nii." katanya. Entah kenapa wajahnya begitu imut saat mengucapkan namaku. Hey! Sadarlah Sasuke!
"Bicaralah."
Ia terdiam sebentar sebelum memutuskan tuk mengambil nafas banyak-banyak. "Alasan mengapa aku mengikuti Sasuke-nii seminggu ini adalah karena… karena—"
—wajah Sasuke-nii sa-sangat mirip dengan wajah… dengan wajah big brother."
Bingo. Sesuai perkiraanku. Foto itu memang menjelaskan segalanya. Segera saja setelah ia mengatakan itu, aku menunjukkan foto yang kudapat siang tadi kepadanya. "Ini punyamu kan? Tadi siang terjatuh di sekitar semak-semak saat kamu menguntit—mengikutiku." Nyaris saja kusebut menguntit.
Ia mengambilnya dan menatap lekat-lekat ke arah foto usang itu. Wajahnya begitu merah seakan sedang menahan tangis atau apa. Gerakannya pun seperti tremor—bergetar tak pasti. Perlahan, ia mengusap mata sembabnya dengan punggung tangannya. "Big brother… Dia… Dia… Dia tewas tiga tahun yang lalu saat perang di Korea. Ia… satu-satunya keluarga yang dekat denganku. A-ayah dan ibu… Mereka… tak pernah di rumah. Dunia benar-benar tak adil padaku. Dunia seakan mengambil… mengambil… Dunia seakan mengambil keluargaku dan rumahku dengan seenaknya…"
Ia menangis. Meremas kuat foto dalam genggamannya. Air matanya yang bening tumpah begitu saja. Sebuah keanehan. Kami baru saja saling berbicara beberapa menit yang lalu. Namun, entah mengapa kami seperti adalah dua orang yang telah begitu dekat. Mungkin, yang dialaminya tak seperti yang kualami. Sepertinya, kehidupan gadis ini lebih menyedihkan dari yang kukira.
"Semenjak ayah bertugas sebagai salah satu duta perdamaian PBB, kami pun jarang bertemu. Ibu… Ibu pasti akan selalu bersama Ayah. Lalu, hanya ada big brother yang selalu menemaniku di rumah. Tapi… saat big brother memutuskan untuk menjadi prajurit militer, sedikit demi sedikit, aku pun merasa kesepian. Tak ada siapapun di rumah. Hingga pada akhirnya, ayah… dan ibu… Mereka meninggalkanku selamanya." ucapnya sembari menyembunyikan tangisnya dalam pelukan tubuhnya sendiri. "Dan… big brother pun menyusul mereka…"
"…"
Aku menoleh sebentar—menatap wajahnya yang berusaha tersenyum sendu ke arah kolam. Ikan-ikan tampaknya belum tertidur sebab sedikit-sedikit suara percikan air terdengar di antara kami. Kurasa, sebaiknya aku mendengar ia berbicara hingga selesai.
"Aku sangat sayang pada big brother. Dia yang selama ini yang telah membuatku tersenyum dan tertawa, namun kadang ia bisa membuatku kesal juga dan akhirnya aku menangis. Aku menangis bukan karena aku sebegitu kesalnya dengan perbuatan jahilnya padaku, tapi… aku menangis karena mungkin saja kejahilan yang diberikannya padaku di saat kapan saja adalah kejahilan terakhirnya. Ya. Aku selalu memikirkan hal itu. Selalu. Sebab… tragedi sepuluh tahun yang lalu sudah memberikan cukup banyak bukti."
Membicarakan masalah sepuluh tahun yang lalu itu seperti menarik kembali jarum-jarum tajam yang tertanam dalam jantungku. Rasanya mungkin akan sangat tidak menyenangkan. Aku pun hanya berdehem dan kembali memicingkan kedua mataku ke arah sebuah bintang jatuh di langit bima sakti sana. Kami terdiam lagi dan tetap terdiam.
"Ap-Apakah aku sudah mengganggu Sasuke-nii?"
Aku memutar kepala dan berusaha menebak makna tatapan mata yang ditunjukkannya padaku. "Hn."
"Eh? Be-benar ya kalau aku mengganggu?"
"…"
"Ngg?"
"Kamu… Apakah kamu benar-benar menyayangi big brother-mu itu?"
"I-iya. Aku sangat menyayanginya. Sejak lahir, ia-lah satu-satunya teman bermainku. Di luar rumah sangat berbahaya sehingga aku pun tak bisa ke mana-mana. Hanya ada big brother saja. Oh iya, suatu hari, ia pernah membawakanku kuncup bunga dandelion yang berusaha mekar di musim semi. Warnanya sangat indah, tetapi nyawa bunga itu tak lama. Berselang dua hari, tiba-tiba ia layu dan mati, padahal aku sudah berusaha merawatnya dan memasukkannya pada seember air dingin dari danau dekat rumah kami dahulu. Karenanya, aku pun menangis dan merengek pada big brother. Sempat, aku kesal dan tak mau bicara dengannya. Sungguh aku masih anak-anak sekali…"
"…tapi big brother berkata begini padaku, 'setiap benda yang bernyawa pasti merindukan rumahnya, tak terkecuali bunga itu. Tentu saja, dandelion itu merindukan tuk tetap berada di daratan liar—tempatnya ia dilahirkan, dibesarkan, dan bersama teman-temannya.'. Saat itu, aku masih tak paham dengan kata-katanya, tetapi… kurasa aku sudah bisa mengerti sekarang."
Ia tersenyum ke arahku. Kali ini, bukan senyum malu, ataupun senyum paksaan. Ia hanya tersenyum. Hanya tersenyum. Sebuah senyum simpul. Untukku…
"Di hari ia memutuskan tuk menjadi prajurit, ia hanya berkata bahwa ia ingin melindungiku dari ancaman apapun. Tapi… ternyata maksud ancaman itu sepertinya bukan ditujukan untukku, tetapi untuk semua orang—semua orang di dunia ini. Terkadang, aku berkilah akan pikiranku sendiri bahwa suatu hari, ia pasti akan pulang, pulang ke rumah kami. Namun… ia benar-benar pulang ke sana. Ke tempat di mana rumah kita yang sesungguhnya—"
—aku sedih, ya. Sangat sedih saat mendengar berita kematiannya. Semua anggota keluarga ibu di Nagasaki telah tiada. Semuanya sudah mati tak bersisa. Mereka meninggalkanku sendiri di sini tanpa siapapun. Hingga akhirnya, kepala sekolah Sarutobi menemukanku di kamp-kamp pengungsian Hokkaido."
Bunyi air yang dipercikkan oleh sirip-sirip ikan itu menggantikan suaranya. Lalu, kami terdiam lagi. Untuk sementara waktu…
"Ma-maafkan aku yang terlalu cengeng ini, Sasuke-nii. Tidak semestinya aku menceritakan hal ini. A-aku benar-benar minta maaf karena sudah… membuatmu—"
"Kamu adalah saudari kami, Sakura. Sudah sewajarnya jika seorang kakak mendengarkan keluhan dan cerita sang adik." potongku sembari tersenyum. Sebuah senyum persaudaraan. Sebuah senyum persahabatan.
Ia membulatkan mata hijaunya yang cemerlang. Sedikit demi sedikit bulir-bulir permata bening terjatuh dari ujung-ujungnya. Ia menangis.
"Sekarang, sudah bisa bicara kan? Bagaimana rasanya akhirnya bisa meluapkan sesuatu yang sebelumnya selalu tersembunyi di dalam hati, hm?"
Aku bertanya sembari menepuk-nepuk pelan ubun-ubun kepalanya. Ia menundukkan wajahnya dan menampik semua airmata itu dengan punggung tangannya.
"I-iya… Terima kasih. Terima kasih banyak, Sasuke-nii. Terima kasih banyak, kakak…"
Ia kembali menumpahkan butiran-butiran diamond terang itu. Sambil menarik lengan kemeja kusutku yang sudah belel, ia menangis. Menangis layaknya seorang anak kecil yang kehilangan mainannya. Aku pun hanya bisa menatap sendu ke arahnya sembari merengkuhnya dalam pelukan hangat seorang kakak pada adiknya.
"Aku ingin pulang, kak… aku ingin pulang ke rumahku… bersama ayah… ibu… dan juga—
—big brother."
"Hn. Kamu pasti akan pulang. Aku yakin itu…"
Malam ini, sebuah keputusan terbesar dalam hidupku akan menjadi langkah besarku menuju hari esok. Aku tahu mungkin terdengar konyol, tetapi setidaknya, aku bisa membantunya tuk menutup lobang luka di dasar relung hatinya yang paling dalam. Kami, anak-anak, meski tak paham dengan permasalahan dunia, tetapi kami masih punya hati dan pikiran tuk menjawab. Sebab, kami selalu yakin bahwa Tuhan akan berada di dekat kami. Bila kami mati pun, maka rumah-rumah Tuhan akan dengan senang hati menerima keberadaan kami…
"Aku tak ingin kehilangan siapapun lagi di masa depan hanya karena perang ini. Aku benar-benar tak mau, kak…"
.
.
And now after all my searching.
After all my questions.
I'm gonna call it home.
I got a brand new mindset.
I can finally see the sunset.
I'm gonna call it home
A/N :
Ini dia chap. 2! *tebar seribu bunga* XD
Yosh, udah mulai ada tuh komunikasi antara Sasuke dan Sakura. Setidaknya, mereka udah saling mengerti sih. Hihi.
Maaf bila dalam fic ini ada mistypo, ketidaksinkronan cerita dan judul, terlalu aneh, dan yang lainnya. Saya hanyalah manusia biasa.
Thanks a lot to all reviewers, silent readers, and all of you. ^^
This is Home © The Chronicles of Narnia : Prince Caspian OST
Sung by Andy Dood and Switchfoot
Yang terakhir, boleh minta review?
