Title: My Love for You (sequel of A Gift to You)

Author: Besajoy

Disclaimer: The casts belong to God and this story is mine.

Genre: Romance, Friendship, AU, a bit family LOL

Rating: T

Cast:

- Main Cast: Cho Kyuhyun, Lee Sungmin.

- Supported Cast: Find by yourself.

Summary: Ketika Kyuhyun menyesali perbuatannya yang telah membuat sahabatnya sendiri menderita walaupun secara tidak sengaja, mampukah ia meraih kesempatan untuk bisa memperbaiki kesalahannya itu?

Warning: GS a.k.a Gender Switch. This changes uke's gender to girl.

If you don't like genderswitch fanfiction, go away. Thank you.

Clue: jangan mikir kejauhan, alurnya sederhana kok. Cuma emang dasar authornya aja yang gak bisa bikin FF pendek.

Alurnya pake alur maju mundur cantik yah jadi bacanya mesti diperhatiin baik-baik

Dan authornya baper gara-gara nulis FF ginian, jadi maklumin yah kalau bahasanya lebay dan menjijikkan.

—o0o—

Sebuah mobil sport hitam berhenti di depan gerbang pintu masuk sebuah Sekolah Menengah Atas yang berpagar besi dengan dicat warna coklat itu. Sang sopir menatap tulisan banner yang terpasang di bagian atas gerbang pagar itu. "Welcome to the reunion of 37th generation." Setelah ia membunyikan klakson mobil yang membuat gerbang pagar terbuka, ia beserta mobilnya pun memasuki kawasan lingkungan sekolah.

Sang sopir mobil membuka jendela dan mengambil sebuah amplop dari laci mobil. "Hai Kangin. Jadi satpam dadakan kau rupanya," sapa ia kepada salah seorang teman seangkatannya semasa dia bersekolah di tempat ini dengan menyelipkan sebuah candaan. Ia kemudian menyerahkan amplop yang ia ambil pada teman yang ternyata bernama Kangin itu.

"Hai pak bos. Aku tidak menyangka kau akan datang," balas Kangin seraya mengambil amplop. Ia lalu merobek amplop dengan cepat dan mengeluarkan isinya. Sebuah undangan reuni yang sebelumnya disebar lewat e-mail kepada seluruh siswa seangkatan, yang memang diharuskan untuk dicetak supaya bisa diserahkan saat reuni nanti. "Bersenang-senanglah di dalam, Kyuhyun."

"Kau tidak ikut ke dalam?" tanya sang sopir yang ternyata merupakan direktur besar, Kyuhyun.

"Nanti saat acara sudah berjalan setengah jam kemudian, baru aku akan masuk," jawab Kangin. "Masuk sana."

"Terima kasih, pak satpam," balas Kyuhyun seraya menutup kembali jendela mobil. Ia sempat mendengar Kangin berteriak "Hei!" namun ia tak begitu peduli dengan itu. Yang penting sekarang ia harus segera memakirkan mobilnya ini.

Usai menempatkan mobil pada salah satu area parkir dan meletakkannya di sana, Kyuhyun lantas berjalan keluar menuju aula sekolah, tempat di mana reuni angkatan diadakan. Namun sebelum itu, ia berniat untuk berkeliling terlebih dahulu.

Kyuhyun memandangi gedung Sekolah Menengah Atas tempat ia dulu bersekolah dari atas sampai bawah. Entah mengapa hanya perasaannya saja atau memang gedung ini didandan menjadi tampak lebih elite. Namun persetan dengan penampilan, yang jelas fakta yang menurut ia penting dari sekolah ini adalah—di sinilah kenangan antara dirinya dan Sungmin terukir paling indah dibandingkan dengan masa-masa lainnya.

o

o

Start again from the beginning…

o

o

Masa-masa ketika awal memasuki sebuah ekstrakurikuler pada masa orientasi sekolah memang masa-masa di mana gairah masih membumbung tinggi, termasuk Kyuhyun yang sedang duduk anteng dengan wajah cerahnya menyambut ekstrakurikuler yang baru akan ia jalani, yaitu Karya Ilmiah Remaja.

Pertemuan pertama baru saja dimulai. Kyuhyun terperanjat begitu mengetahui bahwa ternyata banyak juga yang datang ke ruangan ini. Bahkan barisan keempat tempat ia duduk sekarang sudah hampir terisi penuh, tinggal bangku di sebelahnya saja yang masih kosong. Padahal ketika ia datang barisan masih terisi setengahnya.

Ketika kakak-kakak KIR sedang menjelaskan tentang pengenalan identitas ekskul, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Kedua mata Kyuhyun membelalak saat tahu siapa yang datang. Sungmin, yang dari SD sampai SMP satu sekolah dengannya, kini satu sekolah lagi di SMA ini. Hebat.

Lebih hebatnya lagi Sungmin langsung berjalan ke arahnya begitu ia masuk. Mungkin karena matanya langsung hijau melihat bangku kosong yang tersedia. Namun tubuh mungilnya terhenti ketika kedua mata foxy-nya bertubrukan dengan mata onyx milik Kyuhyun. Ia tampak ragu untuk duduk di sebelahnya. Hati Kyuhyun diam-diam mulai tertawa.

Kedua matanya terus mengawasi pergerakan Sungmin. Ia sempat melihat gadis itu berdialog jarak jauh dengan dua orang gadis lain yang merupakan temannya di depan sana. Sepertinya Sungmin ingin duduk dengan mereka. Namun jaraknya cukup jauh dan tidak ada tempat lagi untuk ia duduk.

"Untuk apa kau berdiri di situ? Duduk sini," Kyuhyun mencoba memberi perintah dengan nada yang ia usahakan sebisa mungkin hanya sampai terdengar di telinga Sungmin saja. Ia gemas sekali melihat gadis itu tampak seperti orang kebingungan.

Sungmin melempar pandangan kembali ke arahnya. Ia tampak bergeming sebentar sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sebelahnya.

"Tadi sudah menjelaskan apa saja?" tanya Sungmin pada Kyuhyun. Mudah sekali bagi Kyuhyun untuk bisa membaca kecanggungannya. Lucu sekali.

"Baru penjelasan mengenai KIR itu apa, berdiri sejak kapan, sudah," jawab Kyuhyun santai.

Namun meski Kyuhyun sudah berusaha untuk mencairkan kecanggungannya, usaha ia tidaklah berhasil. Sungmin tidak angkat bicara lagi padanya sampai pertemuan selesai.

o

o

End.

o

o

Mengingat masa ketika mereka pertama kali bertemu di tempat ini mengundangnya untuk senyum-senyum sendiri. Gedung ini benar-benar membantu untuk mendekatkan mereka kembali setelah hubungan pertemanan mereka yang sudah tak pantas lagi disebut sebagai pertemanan karena jauhnya yang bagaikan komet dengan matahari semasa SMP.

Kedua matanya jadi tergerak untuk memandangi ruangan tempat di mana mereka pertama kali bertemu, yang terletak pada lantai dua serong kanan dari ia. Ruang kelas yang kadangkala memang menjadi tempat pertemuan ekskul. Ia penasaran bagaimana Sungmin mengingat masa di mana mereka pertama kali bertemu di sana—karena pasti Sungmin mengingatnya, ia yakin itu. Apalagi pada saat itu Sungmin dalam keadaan terlambat dan datang sendirian, ditambah lagi ia harus duduk di sebelahnya yang kala itu sedang renggang sekali hubungan antara mereka berdua. Ia pun menyadari bahwa di masa Sekolah Menengah Pertama baik dirinya maupun Sungmin sama-sama bergelut dalam dunia masing-masing dengan kepribadian yang saling bertolak belakang, sehingga walaupun mereka satu sekolah tetapi mereka tidak dekat, justru semakin jauh. Tidak ada kenangan manis di sana. Wajar saja jika gadis itu canggung sekali ketika mereka bertemu kembali di SMA.

Tangan kanan Kyuhyun membuka tempat ponsel hitam yang menggantung pada ikat pinggang celananya dan mengambil sebuah iPhone abu-abu yang ada di dalamnya. Jemarinya menyentuh layar touchscreen dan membuka aplikasi kamera yang ada di sana. Ia pun tergerak untuk memotret pemandangan sekolahnya yang terpampang di depan matanya agar dirinya tidak terlalu terlihat konyol saat ini—berdiri mematung dengan tatapan yang kosong seperti kerasukan setan.

Sekolahnya yang pernah menjadi tempatnya untuk menuntut ilmu ini berhasil diabadikan olehnya, termasuk ruangan yang tadi ia tatap. Kembali ia tatap ruangan itu usai membidik foto. Tanpa sadar ia menyungging sedikit senyum. Meski pertemuan pertama mereka di sana agak kurang mengenakkan, namun ruangan itu pun menjadi tempat bagi mereka untuk memulai kembali untuk merajut hubungan pertemanan mereka yang hampir sempat putus.

o

o

After long time separated…

o

o

Kelopak mata kiri dan kanan Kyuhyun sedikit membuka ketika mengetahui bahwa orang yang akan menjadi partner-nya dalam proyek ekskul kali ini adalah Sungmin, setelah dipilih secara acak oleh kakak-kakak senior. Memang ketentuan dalam proyek kali ini adalah satu kelompok hanya berjumlah tiga orang, dengan satu orang yang diisi oleh kakak pendamping mereka. Kali ini ia tidak duduk sendiri, melainkan bersama salah seorang teman ekskul yang berjenis kelamin sama dengan dirinya, di barisan tengah-tengah.

"Wah, kau sekelompok dengan seorang perempuan, Kyu! Kau menang banyak!" ucap teman yang saat ini sedang duduk bersebelahan dengannya itu, seraya melihat ke arah papan tulis.

"Jangan berlebihan, Kangin. Dia itu memang satu sekolah denganku dari SD, SMP, bahkan sampai sekarang," balas Kyuhyun jengah. Menang banyak apanya, berlebihan sekali temannya itu menurutnya.

"Jadi dia itu teman lamamu? Bagus kalau begitu," ucap Kangin santai. "Hm," Kyuhyun hanya menanggapi dengan dehaman singkat. Ia terlalu malas untuk membahas hal itu. Temannya itu tidak tahu saja betapa jauhnya mereka sekarang.

Setelah sang kakak senior menyuruh mereka untuk duduk bersama partner mereka yang sudah ditentukan, para junior pun menurut. Kyuhyun merasa sedikit bersyukur karena ia sekelompok dengan orang yang sudah ia kenal, sehingga dengan cepat sang partner sudah menghampirinya, dan ia tidak perlu repot-repot mencari di mana sang partner berada dengan bantuan name tag yang memang disuruh dipakai saat ini.

"Hai," sapa Sungmin dengan sedikit senyuman ketika ia sudah berdiri di meja barisan Kyuhyun.

"Duduk," titah Kyuhyun seraya menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Sungmin pun mengangguk seolah memberi jawaban iya, lalu ia pun duduk di sana tanpa pikir panjang.

Ketika kakak senior ekskul menjelaskan lama periode proyek ini berjalan dan bagaimana jalannya proses proyek yang seharusnya serta bagaimana keuntungan apabila proyek ini berhasil, para junior pun memperhatikan dan mencatat dengan saksama, termasuk Kyuhyun meski mencatat dengan menggunakan ponsel dan Sungmin dengan menggunakan buku.

"Jadi, bagaimana?" tanya Sungmin seraya menolehkan kepalanya ke arah Kyuhyun dengan muka datar.

"Terserah," jawab Kyuhyun dengan acuh tak acuh. Sesungguhnya ia terlalu malas untuk berpikir keras mengenai proyek ekskul sekarang.

"Aku sempat terpikir suatu hal mengenai ide yang akan kita realisasikan dalam proyek ini tadi," ujar Sungmin yang tak mengubah ekspresinya.

"Ya sudah. Simpan saja dulu. Nanti didiskusikan kalau nanti sudah kumpul dengan kakak pembimbing kita," balas Kyuhyun dengan tak kalah datar. Sungmin hanya mengangguk kecil dan kembali tersenyum sedikit.

o

o

End.

o

o

Pandangannya meluncur ke lantai bawah, di bawah ruang kelas tadi. Lab biologi, tempat yang lebih sering dipakai untuk pertemuan ekskul karena di sana banyak alat yang bisa dipakai. Di sana pula ia menyusun proyek ekskulnya bersama Sungmin, membangun dan merealisasikan ide bersama-sama dengan dibantu oleh kakak senior pendamping. Masih tergambar jelas di otaknya bagaimana serunya perdebatan mereka, bagaimana kerasnya mereka menyatukan pikiran, dan bagaimana mereka pontang-panting mempersiapkan semuanya hingga terealisasi, dan bagaimana senyum ceria terpatri di wajah mereka berdua bersama kakak pendamping ketika semuanya sudah selesai sesuai rencana. Bagaimana mereka mulai dekat lagi tanpa mereka sadari.

Pandangannya kembali meluncur pada ruang kelas di atas itu. Ketika ia dan Sungmin mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka di hadapan seluruh anggota ekskul serta para alumni, bagaimana tegangnya mereka, bagaimana puasnya mereka ketika presentasi mereka diapresiasi dengan meriah oleh banyak anggota. Ketika karya mereka berdua berhasil terpilih untuk dilombakan dalam ajang lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat nasional. Ketika mereka berdua mengetahui bahwa ternyata mereka berhasil mengharumkan nama sekolah dengan prestasi yang sangat membanggakan, setelah dikabari oleh kakak senior mereka di tempat itu. Semua masih tergambar di kepalanya hingga saat ini.

o

o

When we reached our success together…

o

o

Dua kaki Kyuhyun melangkah ke dalam ruang kelas yang menjadi tempat pertemuan ekskul diikuti oleh seorang teman lelakinya di belakang. Usai berjalan sampai ke barisan pertama tempat duduk, mereka pun berpisah. "Kyu, aku duduk di sana, ya!" ujar teman lelaki itu kepada salah seorang yang lain yaitu Kyuhyun.

"Oke," Kyuhyun pun mempersilakan temannya itu untuk pergi ke kelompok proyek dia, dan ia pun pergi ke tempat di mana partner-nya itu duduk. Rupanya sang partner sedang meringkuk di pojok barisan ketiga sendirian.

"Hai, nona. Sendirian saja," sapa Kyuhyun seraya duduk di samping sang partner. Orang yang disapanya itu hanya mengangguk seraya tersenyum kecut.

"Hei, kau kenapa, Sungmin? Sakit?" tanya Kyuhyun yang menatap wajah Sungmin—partner-nya—yang lebih muram dari pada biasanya.

"Tidak," jawab Sungmin dengan singkat, sembari menatap ke arah depan kelas.

"Lalu?" tanya Kyuhyun lagi, berusaha untuk mengorek dari penyebab muramnya air muka Sungmin hari ini. Namun Sungmin hanya bergeming. Membuat Kyuhyun yang melihatnya semakin gemas. Ia pun menggeser posisi tempat duduknya sedikit agar bisa mendekat ke arah Sungmin. "Kau gugup?" terka ia pada akhirnya, yang berbisik di telinga Sungmin.

Gadis kecil di sebelah Kyuhyun itu tampak tertunduk, kemudian menghembuskan napas panjang. "Begitulah," selorohnya.

"Berdoa saja yang terbaik," ujar Kyuhyun seraya melembutkan suaranya. Ia pun menatap Sungmin dengan intens. "Kita sudah berusaha yang terbaik sampai sejauh ini. Kita sudah bisa maju sampai ke tingkat nasional itu pun sudah merupakan pencapaian yang bagus. Jadi kalau pun kita ternyata tidak menang, setidaknya kita sudah berusaha yang terbaik."

"Aku juga berusaha untuk berpikir demikian," ucap Sungmin dengan nada yang begitu lirih. "Tapi justru itu… Justru karena mengingat kita yang sudah bersusah payah untuk melakukan ini semua, aku…," ia tampak tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya karena ia lebih memilih untuk menutup mulut—mungkin menahan tangis.

Kyuhyun yang memahami bagaimana rasanya menjadi Sungmin tak sanggup untuk menahan tangannya untuk mengelus kepala Sungmin. "Tenang. Aku pun merasakan demikian, tapi aku yakin Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kita. Berdoa saja semoga yang terbaik adalah kita mendapatkan juara tingkat nasional," ucapnya masih dengan intonasi yang sama.

Terlihat Sungmin yang mengangguk kecil setelahnya. "Amen," ucapnya singkat. Ia pun menoleh ke arah Kyuhyun. Tatapan mereka bertemu. "Terima kasih, Kyu. Terima kasih sudah membantuku selama ini," lanjutnya seraya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.

"Sama-sama," balas Kyuhyun seraya membalas senyum Sungmin dengan tulus. Mereka berdua lantas mengalihkan pandangan mereka ke depan kelas untuk menyimak pembicaraan yang diangkat oleh kakak-kakak senior KIR mereka.

"Mengenai lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat nasional yang diikuti oleh kelompok Kyuhyun dan Sungmin dengan kakak pembimbing mereka yaitu kak Leeteuk, saya sudah mendapatkan kabar," ucap sang juru bicara pertemuan ekskul kali ini. Sengaja digantung lebih dulu supaya memunculkan rasa penasaran bagi yang mendengarnya. Ternyata berhasil. Dua orang yang namanya disebut tadi apalagi. "Dan kabarnya adalah…," lanjutnya seraya mengedarkan mata ke seluruh penjuru ruang kelas dan memasang raut wajah serius. Kyuhyun bisa merasakan bahwa kegugupannya kian besar seiring dengan rasa penasaran yang semakin menguar pula. Ia pun yakin bahwa perempuan di sampingnya merasakan hal yang sama.

"Kalian menang juara pertama tingkat nasional! Selamat untuk kalian!" seru sang juru bicara dengan semangat. Dalam sekejap sorakan riuh serta tepuk tangan dari para anggota ekstrakurikuler yang mendengarnya membahana di dalam ruangan tersebut. Sementara itu Kyuhyun langsung memasang ekspresi terkejut dan tersenyum lepas.

"Kyuhyun! Kita menang! Huhuhu," Sungmin langsung membekap mulut dengan tangan kanannya dan tangis harunya langsung pecah. Sementara tangan kirinya langsung menggenggam erat tangan kiri Kyuhyun, seolah menularkan rasa bahagia pada pemuda itu.

"Iya. Simpan dulu air matamu. Yuk sekarang kita maju dan terima hadiahnya," ujar Kyuhyun seraya mengeringkan kedua mata Sungmin yang basah dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya membalas genggaman tangan Sungmin dengan tak kalah erat.

o

o

o

o

Rasanya terharu sendiri mengingat hal itu dalam otak Kyuhyun.

Hasrat Kyuhyun untuk melihat piala yang mereka raih atas kemenangan lomba itu mendadak membuncah. Ia pun melangkahkan kaki ke lemari piala yang ada di depan ruang audio visual sekolah yang terletak pada tiga blok dari tempat ia berdiri tadi. Dengan mudah ia bisa menemukan piala mereka di sana. Masih tampak mengkilap dan tersimpan dengan rapi dan utuh, tidak ada kecacatan. Ia tidak menyangka dulu ia pernah mendapatkan piala besar tingkat nasional itu, bersama wanita yang dicintainya lagi.

o

o

Flashback again…

o

o

Setelah air mata Sungmin berhasil terhapus dengan baik oleh Kyuhyun, mereka berdua beranjak dari tempat duduk mereka dan segera maju ke depan kelas bersama-sama. "Berhubung kalian pulang lebih dulu bersama Ibu Pembina ekskul sebelum pengumuman pemenang, jadi yang mengambil adalah kakak pembimbing kalian," ucap sang juru bicara acara selama perjalanan mereka ke depan kelas.

Setelah mereka berdua berdiri di hadapan para anggota ekskul yang lain, seorang wanita berambut coklat lurus sebahu dengan menggunakan seragam sekolah mendekati mereka sembari membawa piagam penghargaan, diikuti oleh sang juru bicara yang membantu membawakan piala dan medali. "Ini dia piagamnya. Selamat ya untuk kalian," ucap wanita tersebut seraya menyerahkan piagam kepada yang berhak.

"Terima kasih, kak Leeteuk," ucap Kyuhyun sembari mengambil piagam penghargaan dari orang yang merupakan kakak pembimbing mereka dengan senyum. Sungmin ikut memegang piagam itu dan mereka berdua melakukan foto bersama dua kali, dengan satu kali setelahnya bersama Leeteuk. Setelah itu Leeteuk meletakkan piagam itu di atas meja guru untuk sementara. Sang juru bicara menyerahkan medali pada Leeteuk yang kemudian dikalungkan pada Sungmin oleh ia. Piala pun diserahkan pula setelahnya kembali kepada Leeteuk dan diserahkan kembali pada Kyuhyun. Mereka berdua kembali berfoto bersama dengan posisi yang sama sebanyak dua kali pula dengan satu kali setelahnya bersama Leeteuk. Setelah itu piagam kembali diambil dan diserahkan kepada mereka berdua oleh Leeteuk. Dengan susah payah mereka mengatur posisi supaya piagam, medali, serta piala bisa kelihatan semua. Mereka berdua pun kembali mengambil sesi foto sebanyak dua kali juga dengan satu kali setelahnya lagi-lagi bersama Leeteuk.

"Sayang sekali Ibu Pembina kita tidak bisa hadir di tengah-tengah kita sekarang dan menyaksikan murid-murid ini menerima hadiah mereka atas kemenangan mereka pada ajang tingkat nasional. Namun beliau tetap bisa melihatnya lewat foto-foto mereka yang nanti akan diberikan kepada beliau," ucap sang juru bicara acara setelah sang pemenang melakukan sesi foto bersama. Setelah hadiah-hadiah itu diambil alih sementara oleh kakak-kakak senior ekskul, ia kembali angkat bicara. "Bagaimana perasaan kalian ketika mengetahui bahwa kalian mendapatkan sebuah prestasi yang membanggakan yaitu memenangkan lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat nasional ini?" tanyanya di hadapan sang pemenang.

"Kau yang bicara," suruh Kyuhyun dengan nada pelan agar hanya Sungmin di sebelahnya saja yang mendengar. Sungmin pun mengangguk kecil.

"Yang jelas kami senang sekali bisa memenangkannya. Kami benar-benar tidak menyangka kalau ternyata usaha kami bisa membuahkan hasil sebesar ini. Terima kasih untuk semuanya, kepada Ibu Pembina yang tidak dapat hadir namun kami tetap berterima kasih kepada beliau yang telah membina ekskul ini dengan baik. Juga kepada kakak semua yang telah membimbing kami semua sebagai adik kakak dengan baik sehingga kami bisa merasakan manfaat dari mengikuti kegiatan ekskul ini, salah satunya ialah mengetahui tentang penelitian karya ilmiah dan bagaimana cara membuat dan merealisasikan karya ilmiah tersebut sehingga bisa bermanfaat, dan salah satu manfaatnya ialah bisa menang dalam lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat nasional ini dan bisa mengharumkan nama sekolah juga. Terima kasih juga kepada teman-teman yang telah memberi semangat pada kami sehingga kami bisa lebih terdorong untuk melakukan proyek ilmiah kami ini. Dari pengalaman ini kami mendapatkan pengalaman yang berharga bahwa we should be ready to fight if we want to reach our success. Thank you," tutur Sungmin yang dihadiahi oleh tepuk tangan sekali lagi oleh para penonton yang menyaksikan, termasuk orang di samping Sungmin sendiri.

"Untuk Kyuhyun, apakah Anda ingin memberikan tanggapan?" tanya sang juru bicara kepada Kyuhyun.

"Ya… Sama lah pokoknya. Ya… Itu," jawab Kyuhyun dengan menggerakan tangan kanannya menunjuk Sungmin. Mimik muka serta gerak-gerik matanya yang terkesan konyol membuat teman-teman seangkatan tertawa, bahkan Sungmin yang ada di sebelahnya sampai memukul lengannya.

"Itu apa, Kyuhyun?" tanya sang juru bicara yang juga sudah menahan tawa melihat adik kelasnya itu bertingkah konyol.

"Ya… Itu," bahkan ketika Kyuhyun menjawab dengan gaya yang sama, orang-orang yang tertawa bahkan lebih banyak jumlahnya, termasuk sang juru bicara, dan teman-teman yang sudah tertawa lebih keras lagi melakukannya.

"Kau ini. Hahaha," Sungmin pun tertawa lebih keras seraya memukul lengan Kyuhyun sekali lagi. Pada akhirnya Kyuhyun sendiri pun ikut-ikutan tertawa atas diri ia sendiri.

Pasca suara-suara tawa sudah mereda, Kyuhyun mulai serius berbicara. "Singkat saja, intinya kami harap karya ilmiah kami bisa bermanfaat untuk seterusnya, terutama untuk ekskul ini dan juga sekolah, serta kami sendiri. Terima kasih semuanya. Terima kasih juga untuk kakak pembimbing kami, kak Leeteuk, yang sudah sabar sekali membimbing adik-adik kakak seperti saya yang tampan ini—"

Berkat empat kata terakhir yang diucapkan Kyuhyun, suara koor pecah yang bersumber dari teman-teman seangkatan yang tidak terima atas pernyataan itu.

"—serta tak lupa juga terima kasih untuk partner saya yang baik dan cantik ini. Untung menang, jadi saya puji."

Kalimat yang diucapkan Kyuhyun sebagai lanjutan dari perkataan ia sebelum itu kontan membuat koor kepadanya pecah kembali. Kali ini warna-warni, ada yang memberi sorakan godaan berupa kata 'cie' dan ada juga yang tertawa mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan. Sungmin sendiri yang mendengarnya merasa tersinggung dan menghadiahi Kyuhyun satu pukulan lagi seraya berkata, "Heh!"

"Ya jadi dipuji karena menang, ya. Oke sip, Kyu," ucap sang juru bicara kemudian, yang masih diselipi dengan kekehannya. "Terima kasih, Sungmin dan Kyuhyun. Kalian boleh duduk kembali," lanjut ia yang sudah kembali serius. Ketika nama-nama yang disebut olehnya berjalan duduk, ia pun berkata lagi, "Beri tepuk tangan untuk sang juara nasional kita!"

Seketika tepuk tangan kembali membahana ke seluruh penjuru kelas.

o

o

End.

o

o

Untung saja ketika mereka memenangkan lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat nasional yang menghasilkan sebuah piala di dalam lemari yang ia terus pandangi itu, hubungan pertemanan mereka sudah membaik, sehingga piala itu menjadi manis untuk dilihat olehnya saat ini. Ia pun kembali tergerak untuk mengambil foto piala itu.

Ketika ia baru saja selesai mengambil foto, mendadak ia merasakan sebuah rangsangan berupa tepukan di bahu kirinya. Ternyata setelah ia menggerakan kepala ke arah kiri, ia melihat seorang wanita yang ia kenal serta seorang pria di belakangnya. Ia dapat menyimpulkan bahwa pelaku utamanya adalah wanita itu. "Hai, Kyu. Sedang apa kau di sini?" tanya sang wanita.

Kyuhyun menghadapkan tubuh sepenuhnya ke hadapan wanita itu. Ia memandang sang wanita dengan tatapan kaget. Suaranya tidak berubah, masih saja sama seperti dulu saat di SMA, hanya saja penampilannya yang banyak berubah. Ia tampak lebih tinggi dan langsing dengan mengenakan dress selutut berkerah warna merah sesuai dress code, yang memperlihatkan lekuk tubuh yang bagus. Rambutnya yang paling banyak berubah, dari hitam menjadi blonde kuning muda terang, dari lurus menjadi bergelombang dan digerai ke arah samping. Bibirnya yang dibalut lipstick berwarna senada dengan pakaiannya serta tas selempang kulit warna putih yang menggantung pada bahu sebelah kanan menambah kesan elegan pada diri orang yang ia lihat. "Victoria?" tanyanya untuk memastikan bahwa orang yang ia duga sebagai mantan kekasihnya itu benar.

Sial sekali. Benar kata orang. Ketika sudah menjadi mantan biasanya wanita justru jadi terlihat lebih 'wow'.

"Bagus kalau kau masih mengingatku," balas Victoria seraya tersenyum. "Oh iya, kenalkan, ini tunanganku, Zhoumi. He's from china you know," lanjut ia yang kemudian memperkenalkan pria yang ada di belakangnya.

Kyuhyun menatap pria yang disebut Victoria sebagai tunangannya. Dengan mengenakan kemeja merah yang dibalut jas hitam serta celana yang berwarna serupa dengan jasnya, pria itu terlihat begitu tinggi dan necis, seperti mempunyai kedudukan yang tinggi di suatu perusahaan. Sial sekali, bahkan mantan kekasihnya itu sudah mempunyai tunangan semacam orang ini. "Kyuhyun," ucapnya seraya mengulurkan tangan untuk mengajak tunangan Victoria itu berjabat tangan pertanda kenalan.

"Zhoumi," balas Zhoumi singkat, seraya membalas uluran tangan Kyuhyun. Mereka pun berjabat tangan bersama sembari melempar senyum satu sama lain. Perkenalan yang bagus.

"Jangan macam-macam lagi ya dengan Victoria. Dia sudah menjadi tunanganku sekarang," ucap Zhoumi dengan menyunggingkan sedikit senyum miring.

Namun Kyuhyun malah ingin tertawa melihatnya. "Jadi kau tahu siapa aku?" tanyanya ringan.

"Tahu," jawab Zhoumi cepat. "Victoria memperkenalkan semua mantan-mantannya padaku."

Kyuhyun tak tahan untuk tertawa keras mendengar pengutaraan Zhoumi yang begitu jujur sampai-sampai muka Zhoumi terlihat keruh. Jadi wanita itu sengaja memamerkan tunangannya. "Hahahahaha. Kau tahu bagaimana kami putus? Dia memutuskanku karena dia mengatakan padaku dengan lirih bahkan sampai ingin menangis bahwa dia tak tahan melihat aku dekat dengan sahabat wanitaku," tuturnya yang tak tahan untuk menajamkan mulut.

"Hei," Victoria segera memeluk lengan Zhoumi agar tunangannya itu tak marah mendengar kata-kata yang pasti terdengar pedas itu. Ia pun merasa malu sendiri ketika masa lalunya itu diungkit-ungkit di depan tunangannya. "Jangan seperti itu, Kyu," ucap ia memberi peringatan.

"Hahaha," Kyuhyun malah kembali tertawa dengan usil. "Jangan marah, Zhoumi. Aku sekarang sudah mencintai wanita lain. Jadi untuk apa aku merasa cemburu denganmu," lanjut ia dengan santai seraya memasukkan lengan ke dalam saku jas. Memang benar adanya, walaupun ketika Kyuhyun putus dengan Victoria yang merupakan mantannya semasa kelas sebelas itu ia masih menaruh hati pada Victoria, namun sekarang sudah tidak lagi.

"Oh iya? Siapa? Tapi aku tidak melihat kekasihmu atau tunanganmu atau istrimu yang mendampingimu sekarang. Kau sendirian. Atau mungkin dia ke kamar mandi?" tanya Victoria bertubi-tubi saking ingin tahu.

Lagi-lagi Kyuhyun ingin tertawa mendengar dugaan Victoria yang satu itu. "Hahaha, kau ini. Dia masih menjadi sahabatku sekarang, Vic. Orang yang kau cemburui itu dulu," jawabnya.

"APA?!" tanya Victoria dengan nada yang memekik. "Jadi sekarang kau benar-benar—"

"Diam, Vic!" seru Kyuhyun sebelum Victoria menyebut nama wanita yang ia cintai sekarang. Bisa sulit urusannya apabila fakta ini sampai menyebar ke mana-mana. Bisa-bisa Sungmin tahu sebelum ia menyampaikan langsung padanya dan tidak menjadi surprise lagi. "Kau adalah orang pertama yang tahu, dan jangan sampai orang lain tahu selain kau—kecuali Zhoumi, bahkan sahabat-sahabatku yang lain yang kau tahu," titah ia seraya menunjuk Victoria yang masih setia merangkul Zhoumi.

"Iya, iya," balas Victoria yang bersungut-sungut. Ia kemudian membuka tas selempangnya dan mengeluarkan dua surat undangan warna emas. "Oh iya, sebentar lagi aku dan Zhoumi akan menikah. Datang ya ke pernikahan kami. Tenang saja, digelarnya di Korea bukan di China. Dan satu lagi undangan ini untuk Sungmin. Walaupun mungkin sekarang dia di dalam aula tapi aku malas mencarinya lagi, jadi kutitipkan padamu saja," tuturnya seraya mengulurkan dua undangan yang ia pegang itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih, Vic."

"Sama-sama, Kyu," balas Victoria sembari tersenyum. "Semoga nanti kau dan Sungmin bisa datang ke pernikahan kami dengan menyandang status yang lebih spesial dari sekadar sahabat ya!"

"Amen," ucap Kyuhyun mengamini doa dari Victoria. Baru kali ini ia mendapat doa yang bagus secara langsung dari orang yang pernah merajut asmara bersamanya dulu, dan ia senang sekali mendengarnya.

"Kami ke aula dulu ya, Kyu!" pamit Victoria. Pasca Kyuhyun mengiyakan, dua sejoli itu pun melenggang pergi darinya dengan mesra. Kyuhyun membalikkan tubuh dan menatap kepergian mereka dengan tatapan campur aduk, terutama kepada Victoria. Ada rasa sedikit tidak percaya di benaknya bahwa ternyata orang yang merupakan satu-satunya mantan kekasih yang memutuskan hubungan mereka karena alasan mencemburui hubungan persahabatan antara ia dengan Sungmin itu malah mendapatkan jodoh lebih dulu dari ia. Gesit sekali wanita itu. Ataukah ia yang lambat?

o

o

When your relationship was broken…

o

o

Dengan tempo cepat kedua kaki berotot Kyuhyun bergerak cepat menuju meja tempat duduk di mana Victoria berada. Wanita itu sedang asik mengaduk-aduk jus alpukat yang berada di dalam sebuah gelas kaca yang tinggi, yang isinya tinggal setengah.

"Ada apa kau ingin menemuiku, sayang?" tanya Kyuhyun dengan nada lembut seraya duduk di depan Victoria. "Sebentar lagi aku harus menghadiri pertemuan ekskul."

"Ekskul apa?" tanya Victoria cepat.

"KIR," jawab Kyuhyun singkat.

Victoria melengos. "Bertemu Sungmin lagi, ya," ucapnya ketus. Ia buru-buru meminum jusnya lagi sebagai pelampiasan emosi yang mulai menanjak.

"Ada jobdesk ekskul yang harus kuselesaikan," tutur Kyuhyun yang berusaha mengalihkan topik karena ia dapat menangkap nada cemburu yang terucap dari mulut kekasihnya itu. "Sebentar lagi KIR akan—"

"Cukup," Victoria segera memotong perkataan Kyuhyun dengan tangan kanan yang ikut terlibat memberhentikannya. "Aku tidak bisa melihatmu dekat dengan dia, Kyu. Aku tidak bisa," lanjutnya dengan nada bicara yang melirih. Ia buru-buru menghabiskan minumannya karena tahu suasana sudah memanas.

Kyuhyun membelalakan mata terperanjat. Pasalnya wanita yang ia cintai di depannya ini hanya sekali menunjukkan rasa ketidaksukaannya akan hubungan persahabatan antara ia dan Sungmin, dan ketika ia menjelaskan bagaimana proses persahabatan mereka itu dan menjamin bahwa mereka berdua tidak akan saling mencintai, wanita ini sepertinya tidak mempermasalahkannya lagi. Ataukah selama ini ia menahannya? Oh tidak, sebentar lagi akan terjadi konflik dan ia harus segera menyelesaikannya atau hubungan mereka akan retak. Untung saja kantin saat ini cukup sepi dan hanya ada beberapa orang saja termasuk mereka yang duduk jauh dari posisi para penjual. "Sayang, bukankah aku—"

"Iya aku tahu kalian itu hanya sa-ha-bat," potong Victoria sekali lagi, kali ini dengan menekan intonasi di ujung kalimat. Rasa muaknya sudah tampak membumbung tinggi. "Aku tahu kalian sudah berteman sejak lama, aku tahu. Tapi Sungmin biar bagaimana pun tetap merupakan lawan jenismu, Kyu. Dia punya potensi untuk kau cintai lebih dari sekadar sahabat mengingat kau adalah laki-laki normal. Begitu juga dengannya, aku yakin dia merupakan wanita normal yang menyukai lawan jenis, dan kau sebagai lawan jenis punya potensi untuk dicintai olehnya."

Segeralah Kyuhyun meraih kedua tangan Victoria, berusaha mendinginkan kepala Victoria. "Tapi—"

"No! Shut up!" namun Victoria menepis sentuhan tangan Kyuhyun padanya. "Aku berusaha untuk tidak bersikap protektif dengan melarangmu untuk bersahabat dengannya. Kau memiliki hak untuk bersahabat dan berteman dengan siapa saja. Lagi pula, aku pun mempunyai beberapa sahabat laki-laki," ia menarik napas sejenak dan menghembuskannya untuk menetralisasi rasa sesak namun tak berhasil sepenuhnya. "Tapi interaksi kalian yang selalu terlihat intim itu membuatku tidak tahan lama-lama, Kyu. Mau berontak juga percuma. Pertemanan kalian sudah lama terjalin, susah lepasnya. Sebagai kekasihmu, aku merasa berada di posisi yang sulit, Kyu. Dan aku tidak bisa bertahan berada di posisi yang seperti ini. Aku merasa akulah yang menjadi orang ketiga di antara kau dan Sungmin, bukan Sungmin yang menjadi orang ketiga di antara kau dan aku."

Kyuhyun tak tahan mendengar nada serak Victoria yang seakan sedang menahan tangis itu. Ia berusaha untuk menggenggam tangan gadis itu lebih kuat namun lembut. "Sayang—"

"No! Don't ever try to call me with that fucking word anymore!" lagi-lagi Victoria menepis genggaman tangan Kyuhyun, bahkan jauh lebih kasar dibanding sebelumnya. "Aku ingin mengakhiri hubungan kita. Aku tak peduli mau kau menerimanya atau tidak, yang jelas mulai detik ini aku tidak akan menganggapmu sebagai kekasihku lagi," ia kemudian menyelempang tas selempang merah mudanya pada bahu sebelah kanan dan berdiri. Kemudian ia berlalu tanpa sudi menoleh ke arah Kyuhyun lagi.

"Fuck!" umpat Kyuhyun seraya memukul meja dengan kepalan tangannya. Dengan emosi yang masih tersulut, ia akhirnya pergi juga dari tempat laknat itu.

o

o

End.

o

o

Pada saat itu, baik ia maupun Victoria sama-sama berada dalam kekalutan. Ia masih ingat bagaimana tidak mood-nya ia saat menjalani kegiatan ekskul setelahnya. Ia yang biasanya selalu bercengkrama dengan Sungmin walaupun sesaat, hari itu ia tidak bisa menyapa gadis itu sama sekali. Pikiran konyolnya mengatakan bahwa ia harus menjauh dari Sungmin karena gadis manis itulah yang membuat hubungannya dengan Victoria retak. Padahal ia mulai belajar untuk menjalani hubungan yang lebih serius dari pada yang sebelum-sebelumnya.

Arah pandangnya berpindah pada lantai dua yang berada di serong kanan atas. Ruangan yang merupakan ruang kelas sebelas ia yang juga kelasnya Sungmin itu menjadi saksi atas kejadian di mana keretakan persahabatan mereka dimulai.

o

o

Something wrong happened…

o

o

Pagi yang cerah itu bertolak belakang dengan suasana hati Kyuhyun hari itu. Ditambah lagi dengan orang yang menjadi akar permasalahannya tiba-tiba saja muncul saat ia sedang duduk sendiri dan teman duduk di sampingnya itu belum datang pula.

"Kyu, kau kenapa? Dari kemarin murung," tanya Sungmin yang sialnya duduk di depannya, dengan tatapan intens lagi.

"Tinggalkan aku sendiri, Min," jawab Kyuhyun seraya merebahkan posisi duduk di senderan kursi sehingga menjadi setengah terlentang. Malas sekali ia menjawab, sampai-sampai ia menutup mata seakan ia akan tidur sebentar lagi.

"Hei sebenarnya ada ap—"

"Tinggalkan aku sendiri, Sungmin!" bentak Kyuhyun yang meninggikan suaranya tanpa mengubah posisi. Namun sepertinya cukup membuat nyali Sungmin menciut. "Ah—baiklah."

Setelah itu tidak terdengar suara Sungmin lagi. Kyuhyun mengintip sedikit untuk mengetahui apakah Sungmin masih ada di sana atau tidak, dan ternyata sudah tidak ada. Ia malas sekali untuk meladeni gadis itu.

o

o

End.

o

o

Sejak saat itu, mereka berdua tidak pernah berinteraksi satu sama lain dalam waktu yang lama, bahkan sampai sebulan, padahal mereka sekelas dan satu ekskul pula. Kyuhyun masih ingat bagaimana malasnya ia dalam melirik Sungmin barang sedikit pun. Anehnya lagi, Sungmin pun diam dan tidak berontak apa-apa. Sampai suatu saat ia disadarkan oleh salah seorang teman sekelas mereka berdua.

o

o

The conclusion…

o

o

Jam istirahat memang baru sekali di hari itu, akan tetapi Kyuhyun sudah merasakan kantuk yang luar biasa—bahkan sedari tadi sebelum istirahat dan kegiatan belajar mengajar masih berlangsung. Salah ia juga, semalam sebelum hari ini ia tidur malam. Jadi kantuknya pindah ke pagi ini dan sekarang ia harus menuntaskannya di atas meja tempat duduknya sebelum kelas kembali ramai dan jam istirahat sudah selesai.

"Kyu!" mendadak ada suara cempreng yang bervolume keras memekik di dekatnya, diiringi dengan suara gebrakan meja. Membuat ia terbangun dari tidur pulasnya. "Tolong bantu aku selesaikan PR matematika ini."

"Aish kau ini, Hyuk. Mengganggu tidurku saja," umpat Kyuhyun masih dengan setengah sadar kepada orang yang memiliki nama Eunhyuk itu.

"Ayolah, Kyu. Hitung-hitung amal," bujuk Eunhyuk yang duduk di depannya saat ini.

Usai menguap, Kyuhyun mengerahkan segenap tenaga untuk mengembalikan kesadarannya secara utuh dan menjernihkan pandangannya dengan cara membuka lebih lebar kelopak mata. Ia lantas memergoki buku tulis Eunhyuk yang berisi soal-soal matematika itu di atas mejanya. "Kenapa tidak kau kerjakan besok saja? Aku sedang malas untuk berpikir."

"Kau ini bagaimana? Dikumpulkannya saja besok pagi. Lagi pula aku mau pakai ini untuk belajar," tutur Eunhyuk masih dengan nada membujuk namun kali ini sudah menjurus ke arah paksaan. "Ayolah, Kyu. Ajari, ya? Ya ya ya?" dan sekarang ia justru memasang puppy eyes dengan ekspresi muka cerianya yang dipaksakan.

"Huh!" Kyuhyun mencelos. Ternyata di mana-mana gadis itu memiliki sifat pemaksa. "Yang mana yang mau kau tanyakan?" tanyanya yang sudah mengambil sikap pasrah.

"YES! Akhirnya!" Eunhyuk pun benar-benar ceria jadinya. Ia pun lekas menanyakan soal-soal matematika yang dijadikan pekerjaan rumah tersebut kepada Kyuhyun, dan dengan sabar—atau pasrah lebih tepat—Kyuhyun pun mengajarinya.

"Terima kasih ya, tampan!" seru Eunhyuk ketika sesi tutor sebaya telah selesai.

"Iya, sama-sama, yang lebih tampan," balas Kyuhyun dengan muka datar. Walaupun gadis ini berpenampilan feminim, akan tetapi sifatnya jauh dari kata feminim, sehingga mengingat hal ini sekarang Kyuhyun jadi ingin menyinggungnya.

"Heh, sembarangan! Aku ini cantik, tahu!" seru Eunhyuk kesal. "Eh iya, boleh nanya satu hal lagi, tidak?" tanya ia kemudian.

"Tanya apa lagi?" tanya Kyuhyun jengah. Anak ini memang dasar tukang penanya. Untung saja rasa kantuknya sudah hilang, ajaib sekali.

"To the point saja ya, Kyu," pakai ada salam pembuka segala lagi Eunhyuk. Perempuan berambut hitam lurus sebahu itu tampak mengedarkan pandangannya ke arah sekitar sebelum berbicara kembali. "Sebenarnya ada masalah apa antara kau dan Sungmin? Sampai-sampai kalian jadi terlihat sangat jauh. Padahal semua orang sudah lihat bagaimana dekatnya hubungan persahabatan kalian," raut wajahnya pun mulai serius, begitu pula nada bicaranya.

"Hah… Itu dia masalahnya," jawab Kyuhyun malas-malasan. "Semua orang sudah lihat termasuk kekasihku Victoria itu—yang sekarang sudah jadi mantan."

"APA?!" pekik Eunhyuk seraya membelalakkan mata kaget. "Jadi kalian sudah putus?" tanyanya yang baru saja mengetahui satu fakta yang menggegerkan itu.

"Ya," jawab Kyuhyun dengan singkat, padat, jelas, dan ketus. Berani-beraninya gadis di depannya ini mengorek kembali lukanya yang sudah hampir sembuh. Tiba-tiba saja ia merasa oksigen di bumi ini menguap 99 persen.

"Dan penyebabnya karena Victoria cemburu dengan Sungmin?" tanya Eunhyuk lagi. Bisa dipastikan bahwa ia sangat ingin tahu permasalahan ini.

"Hm," Kyuhyun hanya berdeham. Ia menyangga pipi kanannya pada meja dengan menggunakan tangan kanan, sebagai tanda kalau perasaannya sudah keruh. Ia tidak ingin membahas Sungmin lagi.

"Ya ampun… Aku mengerti sekarang…," gumam Eunhyuk yang arah pandang matanya sudah entah kemana.

"Kau mengerti apa?" Kyuhyun yang mendapati gelagat Eunhyuk yang seperti sedang berpikir itu pun mulai tertarik untuk mendengarkan pendapatnya.

Eunhyuk menghela napas panjang. "Seorang wanita itu bisa mudah cemburu jika lelaki yang dicintainya dekat dengan wanita lain. But I think, persahabatan kalian masih wajar-wajar saja, tidak ada yang aneh."

"Benarkah?" tanya Kyuhyun cepat. Ia memajukan tubuhnya sedikit, semakin tertarik akan obrolan ini. Ia ingin mendengar pendapat yang lebih dari seorang teman yang lain mengenai hubungan persahabatan mereka.

"Iya. Tapi kau harus menjaga perasaan kekasihmu juga, jangan sampai—"

"Aku sudah berusaha, Hyuk," Kyuhyun memutus ucapan Eunhyuk dengan perkataannya. Ia tidak mau gadis itu mengatakan hal yang sia-sia saja. "Aku sudah berbicara secara terbuka kepada Victoria bahwa dia hanyalah sahabatku, tidak akan lebih. Bahkan aku pun mengatakan bahwa kami berdua memang teman lama. Padahal tadinya dia percaya, tapi dia kemudian mengatakan bahwa hubungan kami ini begitu intim sehingga dia tidak bisa melihat kedekatan kami," pada akhirnya ia mengatakan titik utama permasalahan yang sedang mereka bahas ini, yang membuat ia kembali sesak.

"Intim?!" ulang Eunhyuk dengan penuh penekanan. Keningnya mengkerut. "Biasa saja, ah. Kalian saling bully, saling sharing, itu biasa. Susah senang sama-sama menurutku memang harus seperti itu dalam hubungan persahabatan. Kalau kau sudah bersikap terbuka seperti itu padanya, sudah berusaha menjaga perasaannya, tapi dia masih tetap cemburu, berarti dia kurang percaya padamu," tuturnya dengan ringan.

"Kurang percaya?" tanya Kyuhyun. Kali ini dia yang mengernyitkan alis mendengar analisis yang dilontarkan Eunhyuk itu.

"Ya," jawab Eunhyuk seraya mengangguk mantap. "Dalam sebuah hubungan kalian harus bisa saling percaya satu sama lain dan berkomitmen untuk mempertahankan hubungan kalian itu. Kalian masih satu sekolah saja Victoria tidak kuat melihatmu dekat dengan gadis lain, bagaimana kalau kalian menjalani long distance relationship yang mana peluang bagi pasangan untuk bisa mendekati lawan jenis lain jauh lebih besar?!" ucapnya seraya mengangkat alis sejenak seiring dengan meningginya volume suaranya di ujung-ujung kata. "Lagi pula, aku dan para sahabat lelakiku bahkan jauh lebih intim, kalau kau tahu, bahkan ada juga yang sudah berpacaran. Tapi mereka tetap bisa mempertahankan hubungan spesial mereka dan tidak mempermasalahkan kehadiranku—karena sudah saling mengenal juga. Aku pun memang dasarnya sudah merasa nyaman kepada mereka sebagai sahabat, mau sedekat apa pun sampai orang-orang menganggap kami berpacaran pun aku tetap menganggap mereka sahabat, tidak ada yang lebih. Jadi, ya sudah. Intinya, it depends on your trust to your couple. That's it."

Hening. Kyuhyun berusaha meresapi dengan baik apa yang dikatakan oleh Eunhyuk.

"Mungkin prinsipku dengan prinsip Victoria berbeda tentang ini. Mungkin Victoria menganggap bahwa pacar harus dikasih sesuatu yang lebih daripada sahabat dalam segala hal. Makanya dia khawatir ketika kalian terlihat dekat jika kalian sedang berinteraksi, itu sebuah ancaman baginya. Akan tetapi menurutku kau sudah sangat perhatian padanya lebih dari pada kau dan Sungmin. Padahal aku yang lebih sering bertemu dan berinteraksi dengan kalian berdua. Victoria? Bertemu denganmu saja yang sering, Sungmin tidak," lanjut Eunhyuk usai mengetahui bahwa ternyata Kyuhyun menyimak perkataannya dengan baik. "Lagi pula, kalau kau menjauh dari Sungmin hanya karena itu, kau salah. Ingat, pacar mungkin akan datang silih berganti sampai nanti kau menemukan jodoh yang tepat, tapi sahabat akan selalu setia menemanimu walaupun kau sudah mendapat jodoh."

Kyuhyun berusaha mencerna kembali dengan baik ucapan Eunhyuk, sampai ia menemukan titik di mana ia mengingat bahwa ada sebuah fakta yang bertolak belakang dengan titik itu membuncah di kepalanya. "Tapi dia menjauh juga saat aku menjauhinya," gumamnya.

"Kyu! Apa kau tahu kenapa dia melakukan hal yang seperti itu?" tanya Eunhyuk dengan suara yang mulai emosi, membuat Kyuhyun menatap Eunhyuk penuh tanya.

"Dia takut mengusikmu, Kyu. Dia tahu bahwa orang yang sedang emosi akan bertambah emosi jika ditanya mengenai penyebab emosi itu bisa terjadi. Apalagi kau laki-laki, lebih temperamen," Eunhyuk menjawab pertanyaannya sendiri dengan emosi yang tampak tertahan. "Walaupun aku hanya menilai benar setengah dari penilaiannya itu, tapi saat kusuruh dia untuk menyelesaikan masalah kalian empat mata, dia tidak mau. Dia terlalu takut akan adanya konflik di antara kalian, jadi dia memilih untuk diam," lanjutnya dengan tatapan mata yang mulai nyalang.

Napas Kyuhyun mulai sesak lagi, namun kali ini beda sebab. Sungmin takut padanya—ia tahu betul mengapa. Pertemanan mereka pernah renggang selama tiga tahun karena sifat mereka berdua yang semakin timpang—Sungmin semakin baik dan alim sementara ia sendiri sebaliknya.

"Sungmin merupakan orang yang begitu lembut, Kyu. Dia terlalu menjaga perasaanmu tapi dia mengorbankan perasaannya sendiri. Takut yang ia rasakan sampai membuat ia menangis. Dia takut persahabatan kalian akan retak, padahal dia sudah berusaha untuk berperan sebaik mungkin sebagai sahabat. Bahkan ketika dia ditinggal olehmu untuk mengurusi pacarmu, dia tidak marah. Dia bilang itu hak dia dan ia tidak berhak mengusik. Padahal di zaman sekarang, ketika ada sahabat yang ditinggal oleh sahabat yang lain karena ingin berkencan dengan kekasihnya, sahabat yang ditinggal itu akan marah dan kemarahannya itu dilampiaskan melalui sindiran yang disebar melalui media sosial, tapi dia tidak seperti itu karena dia menjaga perasaanmu. Padahal aku pun tahu bahwa kalau kau sudah berpacaran kau akan buta akan apa pun selain pacarmu. Apa kau masih tega untuk menyakitinya?" Eunhyuk terus-menerus menceramahi Kyuhyun dengan perkataan-perkataan yang mulai diucapkan dengan nada lirih.

"Coba diingat-ingat lagi ketika kalian memulai status persahabatan kalian seperti apa, bagaimana sampai itu terjadi, dan bagaimana proses untuk mempertahankan itu semua, bagaimana keterlibatan kalian berdua dalam membangun interaksi di antara kalian. Coba diingat-ingat lagi, Kyu," lanjut Eunhyuk lagi. Kentara sekali tatapan matanya yang dalam di mata Kyuhyun dan hal itu berhasil untuk mengundang Kyuhyun untuk merenung.

"Dia adalah satu-satunya orang yang membuatku nyaman untuk bisa sharing tentang segala hal, itu penyebab utamanya. Masalah keluarga bisa, karena keluarga kami berdua memang sudah saling mengenal sedari kami masih satu SD. Masalah pertemanan juga, karena dari SD sampai sekarang kami selalu satu lingkup. Masalah percintaan juga, dia tahu daftar mantan-mantanku dari dulu sampai sekarang, dan walaupun aku tahu bahwa dia belum pernah berpacaran, tapi dia selalu belajar dari mengamati pengalaman-pengalaman orang, dan dari cerita-cerita fiksi dan nonfiksi romansa. Masalah pelajaran juga dia memang pintar dari dulu bahkan sampai sekarang dia masih masuk lima besar walaupun bukan peringkat satu. Akan tetapi terlepas dari sifat unggul yang dimilikinya, dia tetap bisa bertoleransi dengan siapa saja, dari dulu itu. Makanya saat SMP aku sempat hampir tidak pernah berinteraksi dengan dia karena sifat-sifatku yang bertolak belakang dengannya sehingga interaksi kami menjadi tidak cocok, namun saat SMA kami justru menjadi dekat karena sifat toleransinya itu. Dia seakan lupa kalau kami pernah saling menjauh seiring berjalannya waktu—walaupun canggung di awal. Aku pun membutuhkan orang seperti dia untuk mengubah keadaanku menjadi lebih baik, karena sifat-sifat burukku sampai sekarang masih sulit dikendalikan kalau sudah bersama teman-teman laki-laki, seakan sudah mengakar karena sudah tumbuh benihnya sedari aku kecil. Terlepas dari itu, aku masih bisa bersikap lepas dengannya, termasuk mem-bully-nya," tutur Kyuhyun dengan pandangannya yang sudah entah ke mana perginya.

"So, you need her, right?" tanya Eunhyuk seraya menarik dua ujung bibirnya ke atas dengan penuh kepuasan. Akhirnya ia tersadar juga. Lalu ia mengedarkan pandangan ke arah sekitar untuk melihat apakah sudah ada keberadaan Sungmin atau belum, dan ternyata jawabannya adalah sudah. Sungmin terlihat sedang berbincang-bincang dengan orang yang duduk di tempat yang paling dekat dengan pintu kelas sembari membawa dua buah buku novel. Sejak kapan? "Ah kebetulan sudah ada orangnya. Kalau begitu sudah dulu ya, Kyu. Awas saja kalau setelah ini kalian masih saling diam satu sama lain. Ini," ia menyudahi percakapan mereka dengan ancaman di akhir sembari mengepalkan tangan pada Kyuhyun. Sesungguhnya Kyuhyun merasa sedikit bergidik karena memang gadis itu pernah benar-benar menonjok orang di lapangan. Pun tanpa menunggu balasan dari pemuda itu, gadis itu langsung melesat pergi.

Kedua mata Kyuhyun mengekori arah perginya Eunhyuk seraya mengambil sebuah keputusan. Ia harus segera memperbaiki semuanya sebelum terlambat.

o

o

End.

o

o

Lucu sekali rasanya mengingat hal itu di benak Kyuhyun. Sungmin benar-benar membawa efek besar bagi dirinya sehingga ia bisa terpancing untuk berpikir jernih dari kata-kata bijak yang dilontarkan orang lain.

TBC

Balasan review:

SuniaSunKyu137: based on pengalaman sih dikit XD tapi yang part 1 nya aja, sisanya murni rekayasa

TiffyTiffanyLee: bakal selesai sampai ultah Kyu kok, gak lama-lama. Hehehe

Thank you for your review. Maap yah ga ngomong panjang-panjang dulu soalnya waktunya juga dikit buat bisa internetan hehehe... Ngomongnya nanti aja di akhir chap.