Ketika hati tak mampu lagi merahasiakan segala penderitaan, ketika mata ini telah dibanjiri derai air mata, dan ketika dada ini seolah akan meledak oleh beratnya beban yang terpendam di dalamnya, seseorang takkan mampu menemukan petunjuk atas perjalanannya yang berliku selain hanya menangis dan meratap. Orang yang berduka akan menemukan kegembiraan kedukaannya, orang yang jatuh cinta akan menemukan kesenangan dan belas iba dalam impiannya.

.

.

Gadis itu menoleh untuk kesekian kalinya. Berharap seorang pemuda akan datang mengantarkan kepergiannya. Hatinya miris mengingat sang pemuda menangis dalam diam saat dia harus pergi meninggalkan pemuda itu sendirian dalam kehancurannya.

Tapi apa daya.. dia bukan dewi yang bisa menghapus dan merubah semua kesedihan menjadi kebahagiaan.

Dia hanya seorang gadis yang bahkan tidak mengerti kenapa jantungnya berdebar tiap kali pemuda itu ada dalam jarak jangkaunya.

Tepukan pelan dipunggungnya dan anggukan pelan kakaknya membuatnya kembali melangkah tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia harus pergi. Mereka harus berpisah.

Perpisahan itu tak bisa dihindari.

Reaching For You By Rameen

Naruto By Masasi Kisimoto

Romance & Drama

Uchiha Sasuke x Hyuuga Hinata

Note : OOC, Typo, AU, Alur cepat, Threeshot (maybe), SasuHina, DLDR

Penderitaan mempertemukan jiwa mereka. Seakan masing-masing saling memandang dan membaca apa yang dirasakan dalam hati dan mendengarkan gema sebuah suara yang tersembunyi. Tuhan telah menciptakan dua tubuh dalam satu jiwa, dan perpisahan tidak akan meninggalkan jejak apapun kecuali penderitaan yang berkepanjangan.

10 years later..

Mata itu terus memantau dan terus mengikuti setiap gerak dan langkah gadis dihadapannya. Dalam diam, tanpa ada yang tahu karena dia tak ingin siapapun tahu akan hal ini. Mata itu kelam dan tajam tapi mengeluarkan sorot kerinduan dan kelembutan penuh damba akan gadis yang senan tiasa ia jaga dari jauh.

Ingin sekali ia mendekati gadis itu. Menatap wajah cantik itu dari dekat, menyentuh tangan halus gadis itu dalam genggamannya dan mengatakan segala hal yang ia pendam selama ini. Tapi selalu dan selalu niat itu tertahan di ujung langkahnya. Sadar akan apa yang ingin ia lakukan bukanlah hal yang mudah manakala jika apa yang ia lakukan justru membuatnya kehilangan gadis itu.

Yah, itu cukup baginya. Memperhatikan gadis itu dari jauh, mengagumi anggun senyum gadis itu dari balik bayang-bayang yang tak akan pernah di jangkau oleh siapapun. Cukup, itu cukup baginya.

. . .

Hinata keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju butiknya. Butik yang diberikan oleh Ayahnya sebagai hadiah kelulusannya menjadi seorang sarjana. Dan sekarang sudah tiga tahun dia memimpin butik itu. Bukan butik mewah dan terkenal memang, hanya sekedar butik biasa yang memajangkan baju-baju berkelas dengan harga terjangkau.

Kepribadian Hinata yang lembut dan sederhana, membuatnya berpikir kalau akan lebih baik jika butiknya bisa dimasuki oleh orang-orang dari kalangan manapun.

Dia tersenyum saat salah satu pegawainya menyapa. Senyum manisnya, tidak berubah dari dulu. Masih sangat manis dan membawa peran tersendiri diwajah cantiknya. Dia menaruh tas tangannya dimeja kerjanya dengan wajah datar yang mengarah pada setangkai bunga lavender dan selembar surat.

Dia mengambilnya dan menghirup aromanya. Sungguh, dia memang sangat suka bunga itu. Wangi bunga itu selalu bisa membawa ketenangan sendiri baginya. Tidak hanya wangi bunga itu, tapi selembar kertas yang ada juga memberikan kata-kata penyemangat untuk memulai harinya.

'Semoga harimu menyenangkan. Good Luck!

- SH -'

Hinata mendudukan dirinya dikursi. Sudah sangat sering hal ini terjadi. Setiap kali dia datang ke kantor, pasti akan ada bunga dan surat penyemangat dimeja kerjanya. Atau kalau tidak, pasti ada pengirim bunga yang tidak pernah mengatakan siapa pengirimnya.

Hinata juga menyadarinya, ada seseorang yang selalu mengawasinya dari jauh. Tapi entah kenapa, hal itu tidak membuatnya takut. Dia justru merasa tenang karena berpikir kalau orang itu menjaganya dari balik bayang-bayang.

Awalnya iya, Hinata mencari tahu dan penasaran akan orang yang selalu mengiriminya bunga dan selalu memperhatikannya dari jauh itu. Tapi sudah setahun berlalu, dan dia tidak menemukan apa-apa. Jadi, sekarang dia hanya akan mengucapkan terima kasih didalam hati kepada orang itu.

Dan satu hal lagi yang mengganjal pikirannya. Dia merasa pernah melihat atau mendengar insial orang itu, 'SH'. Tapi semakin dia berusaha mengingatnya, dia tetap tidak mengingat apapun tentang inisial itu.

. . .

"Temeee…" seseorang berdecak kesal saat suara cempreng itu masuk ke indra pendengarannya. Seolah siap merusak harinya. "Kau sedang apa?"

"Bekerja."

"Kau rajin sekali Teme."

"Kalau aku tidak rajin, kau pasti memecatku."

"Kau selalu saja berpikir begitu." Naruto, pemilik suara cempreng itu mendudukan dirinya dihadapan Sasuke. "Aku tidak akan memecatmu. Yang ada aku sudah berulang kali bilang kalau aku akan menaikan jabatanmu."

"Itu namanya pilih kasih."

"Hah.. Kau ini.." Naruto menghela nafas mengetahui pemikiran sahabatnya itu.

Ingatannya kembali pada sepuluh tahun yang lalu. Dimana Sasuke tidak keluar kamar seharian setelah Hinata pergi. Dan setelah itu, dia meminta Sasuke untuk tinggal bersamanya. Orang tua Naruto setuju dan bahkan membiayai sekolah pemuda itu sampai lulus.

Mereka juga ingin membiayai kuliah Sasuke, tapi pemuda itu menolak dengan berdalih tidak mau merepotkan. Sasuke bekerja paruh waktu dibeberapa tempat. Dari pagi sampai malam. Dia sebenarnya juga ingin menyewa kos-kosan kecil saja agar tidak perlu merepotkan Naruto. Tapi sahabat pirangnya itu bilang akan mengikatnya diranjang kalau dia sampai berani keluar dari apartemen mewah Naruto.

Sasuke hanya bisa menghela nafas dan menuruti keinginan Naruto untuk tinggal bersama. Tapi tetap, Sasuke menolak semua bantuan yang ingin diberikan Minato, Kushina ataupun Naruto. Dari hasil kerja paruh waktunya, dia menabung sedikit-sedikit dan sesekali membeli persediaan makanan dirumah.

Sering kali Naruto memarahinya karena hal itu. Naruto sebenarnya sudah cukup kesal karena Sasuke tidak mau kuliah dan menolak bantuan orang tuanya, tapi pemuda pirang itu menghargai keputusan Sasuke. Dia juga tahu berapa tingginya gengsi seorang Uchiha, dari itu dia tidak melarang keinginan sahabat ravennya. Justru membantunya dengan mencarikan beberapa tempat kerja.

Setelah kuliah Naruto selesai dan dia diminta sang Ayah untuk mengurus salah satu perusahaan. Dia langsung menarik Sasuke untuk bekerja disana. Walau tanpa kuliah, dia percaya pada kemampuan sahabat ravennya itu. Dia bermaksud untuk menjadikan Sasuke salah satu Direktur dibidang pemasaran. Tapi Sasuke menolak hal itu karena alasan kalau dia hanyalah tamatan SMU dan akan menjadi pilih kasih jika dia tetap menerima tawaran itu.

Oh, Naruto menarik rambutnya kesal saat itu. Sasuke benar-benar orang yang keras kepala dan bergengsi tinggi. Dan lagi-lagi Naruto mengikuti keinginan Sasuke dengan memasukan Sasuke menjadi karyawan biasa dibagian administrasi. Jadilah, pria itu sekarang menduduki bangku karyawan dengan gaji yang tidak bisa dibilang besar.

"Apa kau tidak ada kerjaan lain?" suara Sasuke menyentak pikirannya.

"Tidak ada." Jawabnya cuek yang justru mengundang dengusan dari Sasuke.

"Seorang CEO dan directur utama sepertimu tidak ada kerjaan? Apa kau ingin makan gaji buta?"

Naruto mengerucutkan bibirnya kesal akan sindiran itu. Sahabatnya itu mungkin sudah mengalami banyak perubahan dalam hidupanya, tapi itu sama sekali tidak merubah sikap menyebalkan orang itu. "Kau menyebalkan Teme. Apa salahnya aku beristirahat sebentar. Lagi pula ini jam makan siang. Kau saja yang terlalu workaholic."

Sasuke menghentikan pekerjaannya dan menatap Naruto datar, lalu dia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 12.13 siang. Benar, itu jam makan siang dan dia tidak menyadarinya. "Hah.." Sasuke menghela nafas dan menyandarkan punggungnya dikursi. Baru dia rasakan tubuhnya yang mulai lelah.

"Kenapa? Apa kau lelah?" pertanyaan Naruto hanya mendapat tatapan bosan dari Sasuke. "Siapa suruh kau bekerja siang malam. Jam kerja diperusahaanku hanya sampai jam lima sore, tapi kau malah menambah jam kerjamu dengan menjadi stalker."

Sasuke sudah membuka mulutnya untuk menjawab saat seorang OB datang dan membawa beberapa makanan. "Terima kasih ya." OB itu hanya tersenyum dan pergi saat Naruto berterima kasih. "Makanlah, aku sudah tahu kalau kau pasti belum makan jadi aku yang memesankan ini untuk kita berdua. Hehe…"

Lagi –Sasuke menghela nafas menatap sahabat bodohnya itu. Tidak bisa dikatakan bodoh juga saat pria itu sudah berhasil membawa kesuksesan pada perusahaan dalam empat tahun terakhir. Sasuke memang selalu bersikap acuh tak acuh pada Naruto, tapi sebenarnya dia sangat senang akan kehadiran Naruto dalam hidupnya.

Dia tidak tahu lagi bagaimana harus membalas budi pada keluarga Naruto. Apapun yang dia jalani dan dia capai sekarang, tidak lepas dari keluarga Namikaze. Setelah kepergian keluarga dan gadis pujaannya, hanya Naruto lah orang yang selalu ada untuknya. Sikap ceroboh dan bodoh Naruto memang membuatnya kesal kadang. Tapi dia tidak pernah tidak bersyukur atas kehadiran Naruto.

"Teme, apa kau mau makanannya dingin? Makan sekarang atau aku akan memecatmu." Hah, ancaman yang selalu sama. Sasuke mulai mengambil sumpit dan mulai makan. "Jadi?"

Sasuke mendongak dengan raut bertanya, "Kapan kau akan keluar dari balik bayang-bayang?" Sasuke terdiam. Yah, sudah setahun ini dia menjadi stalker bagi gadis pujaannya. Hinata kembali ke Jepang empat tahun yang lalu dan dia baru mengetahui hal itu setahun yang lalu. Dia langsung mencari tahu segala hal tentang gadis itu.

Sejak itu, dia selalu mengawasi dan memperhatikan gadis itu dari jauh. Memberinya bunga disetiap pagi. Dan tersenyum kala gadis itu sedang tertawa bersama teman-temannya. Sudah setahun lamanya dia menjadi stalker. Tapi ketakutannya masih melekat didirinya. Jika saat sekolah saja, dia yang memiliki segalanya tidak berani. Apalagi sekarang, saat dia tidak punya apa-apa.

Gadis itu, terasa semakin berbeda dengannya. Gadis itu bagaikan langit yang sangat jauh dari bumi. Makanya, dia semakin tenggelam dalam bayang-bayang. "Aku masih seorang pengecut, Dobe!"

"Apa yang kau takutkan? Dia masih sama seperti dulu. Dia gadis yang tidak memandang tentang status sosial."

"Tapi tidak dengan keluarganya."

"Hah.. terserah kau saja. Oh ya, apa kau ada waktu setelah ini?"

Sasuke meminum air putih sebelum menatap Naruto. "Tidak. Masih banyak pekerjaan dan harus aku selesaikan secepatnya."

"Ck, ayolah Teme… temani aku.."

"Kemana?"

"Aku mau menemui klien baru. Entah kenapa aku sedikit takut untuk bertemu dengan mereka. Mereka yang lebih dulu menawari kerja sama dengan perusahaan ini. Dan setelah aku mendengar tentang project yang mereka ajukan, aku setuju untuk bekerja sama. Makanya nanti kami akan bertemu tapi…"

"Kenapa kau takut. Bukankah kau sudah biasa melakukannya?"

"Perusahaan ini terlihat mengerikan Teme." Sasuke mengernyit tidak mengerti. "Perusahaan ini memang sudah lama berdiri. Tapi baru enam tahun yang lalu keberhasilannya melonjak tajam. Banyak perusahaan lain yang gulur tikar karenanya. Perusahaan mereka disebut raja bisnis yang menguasai Amerika, Jepang dan Hongkong hanya dalam waktu lima tahun terakhir."

"Bukankah itu bagus? Perusahaan sebesar dan sesukses itu justru mengajak Namikaze bekerja sama."

"Itu aneh bagiku. Yang kudengar, mereka tidak pernah mengajukan kerja sama dengan perusahaan manapun. Perusahaan lainlah yang berlomba untuk bekerja sama dengan mereka. Tapi kenapa mereka justru menawari kerja sama dengan Namikaze. Sekedar catatan kalau ini bukanlah tawaran pertama. Mereka sudah mengajukan tiga kali penawaran yang selalu kuabaikan sebelumnya. Tapi kali ini mereka seperti memaksa untuk bekerja sama. Makanya aku coba untuk melihat secara langsung."

Sasuke diam dan berpikir, Naruto benar. Perusahaan sebesar itu pasti memiliki tujuan yang besar pula jika akan menjalin kerja sama. Dan kalau mereka mengajukan penawaran sampai tiga kali, berarti mereka mengincar sesuatu dari Namikaze.

"Lalu bagaimana?"

"Aku sudah membuat janji dengan mereka siang ini. Dan aku ingin mengajakmu karena aku tidak terlalu yakin mengajak Konohamaru."

"Dimana Shika?"

"Dia sedang ku tugaskan untuk mengawasi project yang sedang dibangun di Iwa. Ayolah Teme, kau mau kan?"

"Hah baiklah. Memang apa nama perusahaan mereka?"

"…"

"…"

"Akatsuki Grup."

. . .

Dalam sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Terlihatlah empat pria yang sedang membicarakan sesuatu secara serius.

"Apa semua sudah siap?"seseorang berambut merah mulai bersuara.

"Tenang saja un. Aku sudah mempersiapkan semua bahkan dari penawaran pertama kita pada mereka un." Pria lain yang berambut pirang panjang menjawab dengan santai.

"Baguslah, kita tidak boleh membuat kesalahan."

"Dimengerti un. Tapi, aku masih tidak mengerti kenapa dia memilih Namikaze. Kenapa bukan Hyuuga un? Bukankah perusahaan itu sama-sama besar?"

"Entahlah."

Seorang berdiri dari bangkunya dan berdiri didekat jendela untuk melihat pemandangan luar. Cahaya matahari sedikit menyilaukan matanya. "Kita memilih Namikaze bukan untuk memperluas bisnis Deidara."

"Lalu untuk apa un?"

"Dia mengajukan Namikaze karena diperusahaan itu ada adiknya. Dan juga, target kita mungkin akan bertindak sebentar lagi. Namikaze akan sangat membantu untuk menjatuhkan target kita karena mereka mempunyai keterikatan sendiri dengan Hyuuga. Entah itu persahabatan atau hal lain."

"Huh, jadi tujuan target kita selanjutnya Hyuuga? Apa dia bodoh? Hyuuga bukan perusahaan yang mudah ditaklukan."

"Tujuannya memang Hyuuga. Tapi bukan perusahaan. Melainkan putri dari Hyuuga. Jika mereka gagal, bukan tidak mungkin mereka bertindak nekat dengan membantai habis klan Hyuuga."

"Benar!" seseorang berambut merah dengan baby face menyetujui perkataan temannya yang memakai percing. "Target kita adalah psikopat. Mereka yang sudah menghancurkan keluarga dan usaha kita sebelumnya. Setelah mereka pindah ke Jepang. Bahkan Uchiha pun bangkrut.

"Mereka menyusun rencana diawal secara terperinci lalu bertindak tanpa perhitungan lagi. Hanya ada satu cara untuk menghancurkan rencana mereka yang selalu terlihat mulus. Yaitu sedikit merusak bagian tengah rencana awal mereka. Setelah itu…"

"Duaaarr.. mereka akan meledak dan hancur bagaikan dinamit yang selalu aku mainkan. Benarkan un?"

Ketiga orang lainnya –Pein, Sasori dan Kisame hanya memandang bosan kearah Deidara yang selalu saja omongannya tidak lepas dari benda peledak itu.

"Sudahlah. Sasori dan Deidara hadiri pertemuan dan sebisa mungkin yakinkan mereka untuk bekerja sama. Lebih baik kalian pergi sekarang."

"Aku tahu."

"Siap un." Kedua pria itu langsung membereskan barang-barang mereka dan segera pergi sesuai perintah sahabat sekaligus bos mereka.

. . .

Pein berjalan menuju seseorang yang sedang berdiri tegap menatap lampu perkotaan dimalam itu. "Kau disini." ucapnya menyapa.

"Bagaimana?"

"Lancar. Sasori mendapatkan kerja sama itu. Bahkan directurnya datang bersama adikmu."

"Sasuke." Seseorang itu menyebut lirih nama itu. Dia sangat merindukan adiknya yang dingin itu. Dia tidak pernah bisa membayangkan kehidupan adiknya setelah kejadian itu, dia selalu ingin menemui sang adik dan membawa Sasuke bersamanya. Memberitahu adiknya, kalau dia masih memiliki keluarga.

"Kapan kau akan menemui adikmu, Itachi?"

"Belum sekarang, Pein. Nanti, setelah semua sudah berjalan lancar."

Pein hanya diam dan mengangguk, dia tahu apa yang dirasakan Itachi. Dulu, keluarganya juga hancur dan dia sekarang sudah bertekad untuk membalas dendam. Dia mendirikan perusahaan dengan tekad untuk menyerang balik orang brengsek yang sudah menghancurkan keluarganya dan seluruh usaha keluarganya.

Tak dia sangka, ternyata dia bertemu beberapa orang yang bersedia bergabung. Entah karena alasan yang sama, ataupun karena mereka tidak punya lagi tujuan lain dan ingin bergabung. Akatsuki sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun, tapi ternyata tidak mudah untuk menguasai dunia bisnis.

Sampai delapan tahun yang lalu. Dia bertemu dengan Itachi yang bekerja disebuah club malam. Setelah mengenal pria itu tiga bulan. Pein mendapat informasi kalau Itachi adalah Uchiha yang juga menjadi korban dari musuhnya. Seperti kata pepatah. Musuh dari musuhmu adalah temanmu. Pein mulai mencari tahu tentang segala hal menyangkut Itachi.

Dia tidak pernah meremehkan Uchiha, dan dari segala hal yang dia tahu, dia yakin kalau Itachi bisa diajak bekerja sama dengan baik. Dari itu, meski baru mengenal beberapa bulan, dia menarik Itachi masuk ke dalam Akatsuki. Menjelaskan semua tujuannya yang disambut Itachi dengan senyuman. Dari sanalah, Akatsuki menjadi sukses dan besar.

Pein benar-benar tidak salah memilih seorang Uchiha. Pemikiran dan trik Itachi sangat membantu. Tentu penglaman Itachi dalam bisnis tidaklah sedikit. Dan terbukti, dalam enam tahun terakhir, mereka berhasil menguasai Amerika, Hongkong dan sekarang Jepang. Tujuan mereka yang sebenarnya baru akan dimulai sekarang.

"Bagaimana dengan yang lain?"

"Kita akan melihat dulu apa yang akan target kita lakukan pada Hyuuga. Setelah itu, baru Kakuzu dan Kisame akan bertindak. Jika sesuatu yang buruk terjadi karena aksi nekat mereka. Mungkin kita baru bisa berbicara dengan Namikaze tentang rencana selanjutnya."

"Itu benar. Sasuke juga pasti akan bertindak jika terjadi sesuatu pada Hyuuga."

"Apa hubungan kalian dengan Hyuuga?"

"Tidak ada. Hanya Sasuke yang terikat dengan salah satu Hyuuga. Aku dan Sasuke. Kami terikat pada Namikaze, Akatsuki dan Hyuuga."

"Oh ayolah Itachi. Jangan berbicara seolah kau hanya ada ikatan sejalur dengan Akatsuki. Kita semua sudah jadi satu keluarga bukan?"

Itachi tersenyum dan menatap Pein. "Kita berjuang bersama." Ucapnya dan Pein pun ikut tersenyum.

Ikatan sejati ada dalam jiwa. Tidak selalu tentang cinta, bisa berbentuk persahabatan, persaudaraan dan juga rasa saling membutuhkan.

. . .

"Kau mau pergi lagi?" Naruto memandang Sasuke sambil menyuapkan snack ke dalam mulutnya.

"Hn."

"Hah, apa kau tidak lelah melakukan itu terus-menerus. Jika kau lebih berani mendekatinya, kau tidak perlu membuang waktu malammu untuk selalu memperhatikannya dari jauh. Mungkin kalian bisa makan malam bersama disebuah restaurant."

Sasuke menoleh dan menatap Naruto dengan raut yang tidak bisa dijelaskan. "Benar! Aku harus mencari uang dan sukses dulu baru bisa mengajaknya makan di restaurant."

"Ck, kau selalu saja berpikir negative Teme.. dia bukan tipe gadis yang matre, itu tadi kan hanya usulku saja."

"Tetap saja. Aku tidak punya apapun untuk bisa mendekatinya sekarang. Melihatnya dari jauh,, itu cukup untukku."

Hah.. Naruto hanya menghela nafas saat Sasuke langsung keluar dari apartemen itu. Sudah biasa jika Sasuke akan langsung memperhatikan Hinata jika waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Terkadang pria itu hanya memperhatikan gadisnya sampai gadis itu pulang dengan selamat. Tak jarang pula Sasuke berdiam menatap kamar gadis itu dari jauh hingga pagi.

Naruto hanya khawatir sahabatnya itu bisa sakit jika terus tidak beristirahat. Naruto sebenarnya sudah lama ingin menghubungi Neji agar bisa mempertemukan Hinata dan Sasuke, tapi sang raven justru mengancam akan pergi dari sana kalau sampai Naruto nekat. Naruto mengerti jika Sasuke tidak mau selalu membuatnya repot.

Sasuke pasti merasa ingin meraih segala sesuatu dengan usahanya sendiri. Dan sekali lagi, Naruto menghargai hal itu.

. . .

Hinata berdiri menatap hujan yang turun dengan deras. Dia berdiri didepan butiknya sekarang. Supir yang biasa menjemputnya baru saja mengabari kalau mobil itu mogok ditengah jalan. Jadi dia terpaksa harus menunggu.

Biasanya, dia akan langsung menelpon Neji jika keadaan seperti itu, tapi sekarang Neji sedang ada kerjaan diluar negeri. Jadi dia tidak mungkin membuat kakaknya itu khawatir.

Dia terus memandang hujan dan sesekali bersenandung. Tanpa menyadari seseorang yang memperhatikannya dari balik rinai hujan. Orang itu khawatir karena hari sudah malam tapi Hinata tidak juga pulang. Ingin sekali dia menghampiri dan mengantar gadis itu pulang seperti dulu. Tapi, lagi-lagi ketakutan menjadi penahan langkahnya.

"Sial. Kenapa aku selalu takut melangkah?" umpat orang itu pelan.

Dia sangat khawatir sekarang tapi kakinya sulit sekali diajak bekerja sama. Pandangannya berubah saat seorang gadis menghampiri Hinata.

"Hinata-san?"

"Ah, Sasame."

"Kenapa masih disini?"

"Aku sedang menunggu jemputan. Mobilnya mogok jadi agak lama."

"Oh, aku kebetulan bawa mobil. Aku tadi baru saja belanja di mini market itu," Sasame menunjuk mini market yang tak jauh dari butik itu. "Aku melihatmu disini sendirian, jadi aku menghampiri. Ayo, aku antar pulang."

Hinata tersenyum ragu. Dia tidak ingin merepotkan. "Sudah tidak apa. tidak akan merepotkan kok." Sasame tersenyum seolah tahu isi pikiran Hinata. Dan perlahan Hinata mengangguk menyetujui.

Mereka mulai berjalan dibawah payung menuju mobil Sasame yang terparkir didepan mini market. Dan orang yang memperhatikan Hinata, segera merapatkan jaketnya dan menghidupkan motornya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada Hinata. Dia akan tetap mengawasi gadis itu sampai pulang dengan selamat.

. . .

Ting tong…

Ceklek..

"Hinata-sama?"

"Malam nenek Chiyo." Hinata langsung melangkah memasuki rumahnya. "Apa Ayah sudah tidur?"

"Belum, Hiashi-sama masih ada diruang kerjanya."

"Benarkah? Kalau begitu aku akan ke sana." Nenek Chiyo, pembanu dirumah itu mengangguk dan Hinata langsung melangkah menuju ruang kerja Ayahnya. Dia memang biasa menemui Ayahnya setiap kali pulang dari kerjanya. Dia juga biasanya akan bercerita dan mengobrol dengan Neji walau sebentar. Tapi karena Neji sedang pergi maka dia akan menemui Ayahnya saja.

Tok tok tok…

"Masuk!"

Hinata membuka pintu dan menjulurkan kepalanya, "Ayah?" dia tersenyum saat Ayahnya menoleh. Melangkah masuk setelah menutup kembali pintu itu. Gadis itu masih tersenyum mendekati Ayahnya yang duduk disofa sambil memeriksa beberapa berkas. "Ini sudah malam, kenapa Ayah belum tidur?"

"Dan kenapa kau baru pulang?"

"Ko menelpon dan bilang kalau mobilnya mogok. Aku menunggu disana sampai ada salah satu pegawaiku yang kebetulan lewat sana dan mengantarku."

"Benarkah? Kenapa kau tidak menelpon Ayah?"

Hinata tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang Ayah. "Aku tidak mau merepotkan Ayah, lagipula aku sudah pulangkan sekarang."

"Hah," Hiashi melepas kacamata bacanya dan menyandarkan punggunya. "Tapi bagaimana kalau tidak ada yang menolongmu?"

"Pasti ada." Hinata berujar yakin. Ya, dia masih yakin kalau ada seseorang yang selalu mengawasi dan menjaganya dari jauh sehingga dia tidak khawatir akan semua hal. Tanpa dia sadari, dia merasa nyaman dengan kehadiran sosok itu meski dia tidak tahu siapa?

"Kau sudah besar ya? Berapa umurmu?"

"26 tahun."

"Apa kau sudah ada rencana untuk menikah?"

Hinata mengangkat kepalanya cepat dan menatap Ayahnya bingung. Baru kali ini sang Ayah membahas tentang pernikahan. "Belum. Aku… belum ada calon dan belum pernah memikirkannya."

Hiashi tersenyum. Dia tahu jika putrinya dari dulu tidak pernah dekat dengan pria manapun. Hiashi hanya pernah mendengar dari Neji jika ada seseorang yang sangat mencintai putrinya itu. Tapi Neji tidak pernah memberitahu siapa orang itu.

"Kenapa Ayah tiba-tiba bertanya begitu?"

Hiashi terdiam, membuat perasan Hinata sedikit gelisah. "Ada yang akan melamarmu." Lavender itu melebar, siapa? Siapa yang mau melamarnya? Kenapa dia tidak pernah tahu sebelumnya. "Dan mungkin besok mereka akan datang ke sini. Ayah memang baru mendengar kabar anginnya saja, tapi…"

"Tapi?"

"…rumor tentang mereka tidak bisa diabaikan begitu saja."

"Rumor apa Ayah?"

"Tidak banyak orang tahu tentang hal ini, bahkan Ayah hanya mendapat sedikit informasi kalau mereka adalah orang-orang nekat yang melakukan apa saja untuk mencapai keinginan mereka."

Hinata hanya menatap Ayahnya tidak percaya. Orang-orang itu, terdengar tidak baik. "Ayah hanya bertanya saja padamu. Jujur, Ayah sangat tidak ingin menerima mereka, tapi Ayah ingin memastikan dulu padamu. Lagipula, jika kita menolak, Ayah takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."

"Sesuatu… seperti apa Ayah?"

Hiashi menarik nafas dan menggeleng. Dia sedikit menyesal akan perkataannya yang bisa saja membuat Hinata khawatir. "Tidak apa. Semuanya pasti bisa diatasi. Yang terpenting itu adalah dirimu sendiri Hinata. Ayah tidak akan memaksa, tenanglah."

Hinata menunduk, dia memang jadi sedikit khawatir jika dia menolak. Tapi dia juga tidak ingin menerima, entah disadarinya atau tidak, dia… seperti sedang menunggu seseorang.

"Siapa? Siapa mereka, Ayah?" dia mengangkat kepalanya dan menatap Ayahnya mantap.

"Hamura. Hamura Kabuto, putra dari Hamura Danzo."

"Hamura?" Hinata tidak pernah mendengar nama-nama itu sebelumnya. Mereka hanya orang asing dengan rumor yang buruk. Bagaimana mungkin dia mau disandingkan dengan orang-orang seperti itu.

Dan seperti bisa membaca ekspresi dari anaknya, Hiashi tersenyum dan mengelus rambut Hinata. "Ayah tahu." Hinata menatap Ayanya bingung. "Kau tidak mau kan? Besok jika mereka benar-benar ke sini, Ayah akan langsung menolaknya."

"Tapi bagaimana jik—"

"Shh.. sudah Ayah bilang semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada Ayah." Senyum Hiashi membuat Hinata juga tersenyum dan merasa lega. Dia… mempunyai Ayah yang hebat.

. . .

"Bagaimana?"

"Ada pergerakan, mungkin mereka akan bertindak sore ini."

Diruangan itu. Kembali anggota Akatsuki berkumpul. Tampak enam orang yang sedang saling menatap dan membicarakan sesuatu dengan serius. Pein, pemimpin mereka mulai membicarakan rencana mereka selanjutnya setelah melihat pergerakan target.

"Pastikan ada yang tetap mengawasi. Hal buruk bisa saja terjadi jika tujuan mereka tidak tercapai."

"Aku mengerti. Aku dan Hidan akan mengawasi mulai dari sore ini. Dan apapun hasilnya. Lusa Kakuzu dan Kisame akan mulai bertindak juga. Kita sudah mendapati koneksi untuk menyusup dan bertindak dari dalam."

Pein mengangguk akan penjelasan Obito. Jantungnya mulai berdetak cepat saat aksi balas dendam mereka akan segera dimulai.

. . .

"Hinata-san?"

"Sasame? Ohayou, ada apa?"

"Ohayou. Biasa, ada kiriman untukmu." Sasame memberikan tiga tangkai bunga lavender dan selembar surat. Membuat Hinata tersenyum menerimanya. "Ne, Hinata-san. Apa kau masih belum tahu siapa pengirimnya?"

Hinata menggeleng pelan lalu menghirup aroma bunga itu. Lavender-lavender itu selalu tampak segar setiap kali baru dikirim, seolah bunga itu baru dipetik dan langsung diberikan padanya. Dia memasukan bunga itu ke dalam vas kaca di mejanya. Dia mengumpulkan bunga lavender itu sehingga diruangan itu tercium aroma lavender yang menenangkan.

"Apa kau tidak berniat melapor ke polisi?"

Hinata berkedip bingung. "Polisi? Kenapa?"

"Bagaimana pun juga ini adalah tindakan penguntit kan. Bagaimana kalau dia berniat jahat atau apapun. Bukan maksudku untuk menakuti tapi aku hanya khawatir."

Hinata tersenyum, "Tidak perlu khawatir. Bukankah ini sudah lama? Dan aku masih baik-baik saja sekarang. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi aku sejujurnya merasa tenang akan kehadiran orang itu yang selalu memperhatikan dan mengawasi aku."

"Kenapa?" kini Sasame yang menatap bingung.

"Entahlah, aku hanya merasa nyaman tanpa sebab."

"Hinata-san, jangan buat aku tambah bingung." Sasame mengerucutkan bibirnya karena tidak mengerti dengan maksud perkataan Hinata. Sementara gadis berambut indigo itu hanya tersenyum semakin lebar.

. . .

"Kami datang untuk melamar Putrimu, Hiashi-san."

"Maaf. Tapi putriku belum mau menikah."

"Kau menolak kami?"

"Aku tidak bisa memaksa putriku."

"Kalian akan menyesal. Hyuuga!"

. . .

Pein memeluk kekasihnya dari belakang. Membuat wanita berambut ungu itu tersenyum dan mengelus tangan itu diperutnya. "Kau pulang."

"Karena aku merindukanmu." Pein mengecup pipi kekasihnya mesra.

Ddrrtt…

Getaran ponselnya disaku membuatnya melepas pelukan itu untuk mengangkatnya. Sedikit khawatir saat Obito menelponnya. "Hallo.."

"Pein, mereka sudah bertindak sekarang."

Suara Obito yang terdengar panic membuatnya mengernyit bingung. "Bukankah mereka memang sudah bertindak sore tadi?"

"Bukan itu, sepertinya mereka ditolak dan mereka langsung bertindak nekat sekarang."

"Apa? mereka langsung bertindak malam ini? Mereka benar-benar psikopat. Lalu apa yang mereka lakukan?"

"Aku tidak tahu tapi sepertinya sedang terjadi penyerangan dikediaman Hyuuga. Apa yang harus kami lakukan? Kami hanya berdua sekarang— oh ya ampun…"

"Ada apa lagi?"

"Gadis itu sudah pulang. bagaimana sekarang?"

"Oh Shit…" Pein mengumpat kasar. Dia menutup telponnya dengan telapak tangan dan menghadap pada kekasihnya. "Konan, aku harus segera pergi."

"Ya, aku tahu. Hati-hati." Pein mengangguk dan mengecup bibir Konan singkat sebelum melangkah pergi dan kembali berbicara dengan Obito ditelpon.

"Hallo Obito. Tetap awasi situasinya dulu. Aku akan segera menyusul bersama yang lain."

"Baiklah!"

. . .

Malam itu, Hinata merasa rumahnya begitu sunyi. Security yang biasanya menjaga pos depanpun tidak terlihat. Beberapa motor terparkir sembarang didepan rumahnya, membuat dia sedikit takut dan segera melangkah cepat.

Tapi sebuah tangan menahannya dari belakang dan menutup mulutnya. "Hhmmm hhhhmmm…" dia berteriak tapi tidak bisa. Orang itu menariknya ke belakang.

Saat mereka sampai disamping sebuah mobil yang sangat familiar baginya. Dia sedikit diam. "Shh,, tenanglah Hinata. Ini Nii-chan." Neji melepas tangannya dan membalik tubuh Hinata.

"Nii-chan? Ada apa ini?" gadis itu semakin khawatir saat mendapati raut ketakutan dan beberapa lebam diwajah Neji.

"Sudahlah, lebih baik kau masuk mobil dan kita pergi dari sini dengan cepat. Nanti akan Nii-chan jelaskan dijalan. Ayo, masuklah!" Neji membuka pintu mobil dan memaksa Hinata untuk masuk. Setelah Neji juga masuk. Mobil itu langsung berjalan cepat.

Tanpa mereka sadari. Sebuah mobil dan motor mengikuti mereka dari belakang.

Dijalan. Neji menjelaskan secara ringkas tentang apa yang terjadi. Hamura Danzo datang melamarnya tadi sore dan Ayahnya menolak. Malam ini. Beberapa orang suruhan Danzo datang dan menyerang kediaman Hyuuga. Neji baru saja pulang saat orang-orang itu mendobrak kasar pintu mereka.

Entah bagaimana, semua terjadi begitu cepat. Mereka menyerang, Neji serta Hiashi mencoba melawan. Security dan pembantu tidak bisa banyak membantu. Dan hal terakhir yang dia ingat. Ayahnya tertembak. Neji yang terpikir akan Hinata, meninggalkan Ayahnya yang sudah meninggal disana. Dengan perasaan kalut dia mencari jalan dan tempat untuk bersembunyi.

Dan ketika Hinata pulang dia langsung menyeret adiknya untuk segera pergi dari rumah itu. Dia tahu, tidak seharusnya dia mengabaikan begitu saja Ayahnya yang sudah meninggal. Tapi dia hanya ingin melakukan hal terbaik. Dia tidak ingin Hinata juga terlibat. Setelah semua tenang, mungkin dia akan kembali besok untuk mengurus kekacauan yang ada di kediaman Hyuuga.

Sementara air mata sudah mengalir dari mata lavender Hinata. Dia menutup mulutnya tak percaya saat mendengar kalau sang Ayah sudah tiada. Padahal baru tadi pagi dia tersenyum dan memeluk Ayahnya. "Ayah.." ucapnya lirih dengan aliran air mata.

Membuat Neji menatap sedih adiknya. "Hinata tenanglah." Dia meraih tangan adiknya. "Kita tetap harus pergi dulu sekarang. besok kita akan kembali ke sana, oke?"

"Ayah… hiks,, Nii-chan… Ayah.."

"Tenanglah adikku." Mata Neji memanas. Dia juga sangat sakit saat merasakan tubuh dingin sang Ayah dipangkuannya. Tapi dia tidak boleh lemah. Dia harus kuat demi adiknya.

Matanya melebar saat rem yang dia injak tidak berfungsi, dia melepaskan genggamannya pada Hinata yang membuat gadis itu menoleh bingung. "Nii-chan, ada apa?"

"Remnya…" Neji terlihat sangat panic sembari menginjak-injak rem. "Remnya blong."

Tak jauh dibelakang mereka, Sasuke mengernyit khawatir saat melihat mobil Neji mulai oleng. Dia semakin mempercepat laju motornya. Begitupun dengan sebuah mobil dibelakangnya.

"Hinata pegangan yang kuat."

"Nii-chan… awaaaasss…"

Neji langsungmembanting stir begitu melihat jurang..

"Aaaaaaaaaa….."

Ckiiittt…

Brruaakk…

Motor Sasuke langsung berhenti seketika saat mobil Neji menabrak tiang listrik dipinggir jalan. "Hinata?" ucapnya lirih dan dengan cepat turun dari motornya, tidak peduli jika motor itu jatuh tanpa dia standar.

"Hinata…" dia mulai berlari kala bayangan mobil orang tuanya yang tertabrak truk melintas dipikirannya. "HINATA…"

Tidak, dia tidak mau kehilangan lagi. Kenapa orang-orang yang dia sayangi harus mengalami kecelakaan didepan matanya. "Hinata…" dia berlari dan segera membuka pintu mobil itu paksa karena pintunya terkunci dari dalam. Terlihat bagian depan mobil itu yang hancur dan berasap. "Hinata…"

Sementara mobil lain yang mengikuti mereka juga berhenti. "Astaga! Bagaimana ini Obito. Apa yang harus kita lakukan?"

"Aku tidak tahu, Hidan."

Ddrrttt…

Segera Obito mengangkat telpon dengan tangan gemetar. "Hallo.."

"Hei, apa yang terjadi?"

"Pein, mereka… mereka menabrak tiang pinggir jalan. Bagaimana ini?" Obito sudah menghubungi Pein sebelumnya jika mereka mengikuti Neji dan Hinata. Mereka meninggalkan kediaman Hyuuga karena Pein dan yang lain sudah menuju ke sana.

"Astaga, apalagi itu. Sekarang kalian tolong mereka dan bawa ke rumah sakit terdekat."

"Tapi ada Sasuke disana."

"Sasuke?" Disebrang sana, Pein menatap Itachi dengan panic, sedangkan Itachi hanya diam dan fokus menyetir. "Tidak apa. Bilang saja kalian kebetulan lewat dan menolong."

"Baiklah!" Obito dan Hidan langsung keluar dari mobil begitu panggilan itu terputus. Menghampiri Sasuke yang masih mencoba membuka kasar pintu itu.

"Hei, ada apa ini?"

Sasuke menoleh dengan sorot penuh harap. "Tolong… tolong selamatkan dia… tolong…"

"Dia siapa? Ya ampun. Hidan cepat buka pintunya."

"Aku tahu." Hidan segera mengeluarkan peralatannya dari dalam tas. Bukan hal aneh jika Akatsuki mempelajari hal-hal aneh seperti membobol mobil, rumah dan yang lainnya. Mereka bahkan ahli dalam membobol password computer alias hacker. "Obito, pintunya terbuka."

Sasuke yang lebih dulu mendorong Hidan untuk melihat Hinata. Nafasnya memberat saat melihat Hinata dan Neji yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah dikening mereka. "Hinata.." ucapnya lirih dan meraih tubuh itu keluar. Memeluk tubuh itu dalam pangkuannya, "Hinata bangunlah… Hinata…"

"Hidan. Bantu aku mengeluarkan yang satunya dan bawa ke mobil."

"Iya."

Hidan dan Obito mengeluarkan Neji dari dalam dan membawanya ke mobil. "Hei, ayo masukan dia ke mobil dan kita bawa ke rumah sakit." Sasuke hanya diam tidak bergerak. Pikirannya kembali kacau dengan bayangan kecelakaan orang tuanya.

Membuat Obito geram dan memaksa memasukan Hinata ke dalam mobil, dia juga memaksa Sasuke untuk masuk sebelum menjalankan mobil itu menuju rumah sakit terdekat.

Tidak jauh dari sana, terlihat seseorang lagi yang bersembunyi dari balik pohon dan mengirim pesan pada bosnya yang pasti sedang menunggu hasil.

. . .

'Misi sukses. Semua dipastikan tewas.'

Disuatu ruangan yang cukup besar, seseorang tersenyum puas setelah mendapat pesan itu dari anak buahnya. Danzo. Meraih anggur merahnya dan menegak minuman itu dengan santai.

"Satu lagi… tamat." Gumamnya dengan seringai kemenangan dibibirnya. "Hyuuga, kau salah jika meremehkanku."

.

To be continued

.

Huaaahhh,, akhirnya selesai chapter ini. Gimana? Apa alurnya terlalu cepat? Kan udah aku tulis di note kalau alurnya cepat. Aku masih berpikir untuk membuat fic ini hanya 3 chapter. Tapi… sepertinya lewat deh. Hehehe. :D peace…

Ya udahlah, semoga readers menikmati chapter ini dengan santai. Semoga suke dan tidak mengecewakan.

Salam, Rameen.