Title : Blossom
Author : AbalAbal
Cast : Luki M, Rin K, Kaito S
Genre : Romance
:v Evil Prince pending. Fokus yang laen dulu :v maap buat yang nungguin ntu ff otak saya lagi buntu buat mikir Evil prince. #plak Karakter Luki disana bikin saya hilang mood #nah loh?
Btw maap kalo ff ini semakin memukkan. Buat yang kemaren sempet komen ama support Terimakasih banyak :3
Senja telah menjelang tatkala Luki menghela napas untuk yang kesekian kalinya dalam kurun waktu 3 jam terakhir. Diliriknya jam tangan butut yang melingkar ditangan kananya yang ternyata telah menunjukkan pukul 6 sore. Matanya beralih pada sekelilingnya yang terlihat sepi. Hanya dia seorang yang berada dijalan itu. Berdiri tepat didepan pohon sakura dimana ia biasa melihat gadis itu. tapi entah kenapa, sudah 3 jam menunggu gadis itu tak juga kunjung datang. Luki bertanya-tanya kenapa? Apa gadis itu takut padanya sehingga ia enggan datang lagi?
Sigh.
Jauh dalam lubuk hatinya Luki tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian waktu itu. Ia tidak bermaksud kurang ajar. Hanya saja dia tak kuasa menahan diri untuk mencium gadis itu. Sekarang disaat ia ingin minta maaf dengan benar, gadis itu malah tak muncul. Tapi ia tidak boleh menyerah kan? Mungkin besok gadis itu akan datang? Atau mungkin besoknya lagi? Luki tidak boleh putus asa secepat itu.
Menunggu...
Menunggu...
Menunggu...
Luki selalu menunggu gadis itu muncul lagi. Ia berharap dengan terus menunggunya gadis itu suatu hari akan datang lagi. Tapi nyatanya tidak. Sudah 2 minggu berlalu setelah kejadian itu gadis itu tak pernah muncul lagi. Luki sempat beberapa kali nekat mencari gadis itu ke penjuru kota. Siapa tau gadis itu berpindah ke suatu tempat lain dikota dimana sakuranya lebih bagus. Tapi sepanjang Luki mencari hanya kekosongan yang menantinya, harapanya terkikis hari demi hari sampai akhirnya Luki menyerah mencarinya. Mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Orang selalu datang dan pergi dengan cepat dalam hidup. Itu hal yang wajar dan lumrah. Luki tau bahwa tak akan ada yang tinggal pada akhirnya. Semua orang akan pergi dari hidupnya suatu saat nanti. Entah karena kematian ataupun karena terluka. Dan gadis itu memang berhak pergi karena terluka.
"kau semakin parah saja Luki."
Luki meringis mendengar komentar seniornya barusan. Ia menyadari kerjanya akhir-akhir ini tidak terbilang bagus. Sering melamun dan beberapa kali memecahkan piring dan gelas ketika mencucinya.
"maaf senpai..." Luki membungkuk menyesali kecerobohanya karena satu piring lagi harus melayang karena kecerobohanya dalam berjalan. Kakinya tadi menyerempet kaki kursi pelanggan tanpa sengaja. Napan yang ia pegangpun meluncur mulus menciptakan bunyi memekakkan telinga sampai-sampai para pelanggan menatapnya heran.
Sang senior sekaligus pemilik toko roti itu mendengus. "Kau istirahat saja dirumah kalau merasa tidak enak badan."
"Tapi..."
"sudah kau istirahat saja."
Luki hanya mengangguk menuruti perintah Kaito. Setelah membereskan pecahan piring dan gelas dilantai pemuda itu memutuskan untuk pulang saja dan beristirahat.
"hati-hati dijalan!" pesan kaito ketika Luki meninggalkan toko.
Surai merah muda itu mengangguk, melambai pada sang bossnya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu. kaki panjangnya menyusuri trotoar jalanan yang cukup ramai itu sambil setengah malamun. Ia benar-benar ingin bertemu dengan gadis itu lagi. Tapi bagaimana menemukanya...?
Tiba-tiba...
Bruk!
Huh?
Luki sudah terduduk dijalanan. Apa itu tadi yang menabraknya? Luki menatap seseorang yang juga terduduk didepanya. Tampaknya gadis itu sempat berlari-lari tadi sampai tanpa sengaja menabraknya. Iris kebiruan Luki melebar melihat surai kuning didepanya yang juga terlihat sama terkejutnya melihat Luki.
"Kagamine-sama! Tunggu!"
Melalui bahu gadis itu Luki melihat beberapa orang kekar berjas hitam berlari tergopoh-gopoh kearahnya. Gadis didepanya menoleh panik melihat orang-orang berjas hitam itu semakin dekat.
"Tolong sembunyikan aku!" gadis itu meremat lengan jaket Luki.
"ikut aku!" ujar Luki menarik lengan gadis itu untuk bersembunyi dicelah gedung yang cukup sempit dan tersembunyi. orang-orang berjas hitam itu kelabakan mendapati buruanya kabur.
"cari disana..." Sayup-sayup Luki mendengar percakapan mereka. Langkah kaki yang menjauh membuat Luki menghela napas lega. Pemuda itu menoleh untuk melihat gadis disampingnya yang terlihat masih ketakutan dan pucat.
"Kau aman sekarang." Ujar Luki berjongkok mensejajarkan dirinya dengan gadis itu yang terduduk seraya memeluk kedua kakinya.
"Arigatou..."
Luki tersenyum, perasaan hangat melingkupi hatinya mendengar suara gadis itu. kerinduan dan kegelisahanya setelah beberapa hari ini seketika sirna.
"Kenapa mereka mengejarmu?" tanya Luki penasaran tapi gadis didepanya malah memalingkan mukanya dengan sendu. Luki mengartikanya sebagai gestur enggan mejawab.
"kalau begitu aku antar kau pulang. Dimana rumahmu?" Ujar Luki seraya bangkit dari posisi jongkoknya.
"Aku tidak punya rumah."
"ahahahaha... kau pasti bercanda kan nona?" tawa Luki garing. Yang benar saja? masa tidak punya rumah? Lalu selama ini gadis itu tinggal dimana? Dikolong jembatan? Luki pikir itu tidak masuk akal sama sekali. Terdengar seperti sebuah lelucon baginya.
"Aku tidak punya rumah." Ulang gadis itu lagi lebih seperti bisikan.
Luki menatap gadis didepanya seraya terlihat sedang berpikir.
"Okay... kalau begitu kau mau tinggal denganku untuk sementara?"
Gadis bersurai kuning itu menatapnya bingung seraya memiringkan kepalanya. 'Imut sekali' Pikir Luki gemas.
Tempat tinggalnya hanyalah sebuah apartemen kumuh yang kecil dan sempit dengan biaya sewa yang terbilang cukup murah. Luki pindah kesana sejak hari pertama ia menginjakkan kakinya di Tokyo. Berarti sudah berjalan hampir setahun lebih mengingat dirinya sekarang sudah kelas 2 SMA. Walaupun dengan keadaan seadanya dan pas-pasan entah emang apa Luki cukup betah tinggal disana. Mungkin karena tetangganya cukup baik sehingga dirinya cukup nyaman disana. Atau entahlah ia tidak punya alasan yang logis untuk meninggalkan apato jelek itu sekalipun ia bisa saja menyewa yang lebih baik mengingat gaji paruh waktunya masih selalu sisa dan dapat ia tabung diakhir bulan.
"Ini tempat yang jelek." Luki memutar bola matanya mendengar cemoohan gadis bersurai kuning itu ketika luki membuka lebar pintu apatonya.
"Setidaknya lebih baik dari pada kau harus tidur dijalanan." Balas Luki. Ia melepas sepatu bututnya dan meletakanya dirak didekat pintu. Gadis dibelakangnya melakukan hal yang sama.
"Kau duduklah dulu aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi." Ujar Luki kemudian pergi entah kemana.
Gadis bersuai kuning polos itu mengangguk patuh, mendudukan dirinya dilantai yang dingin dan kotor tanpa mengeluh. Wajahnya yang datar dan tanpa ekpresi menatap sekeliling, ruangan yang cukup busuk menurutnya. Cat yang mengelupas dimana-mana, tak ada pendingin atau penghangat, tak ada kursi dan meja yang cukup nyaman untuk duduk untuknya nonton tv. Tempat itu tampak seperti kos-kosan anak kuliahan kere ketimbang apato sewaan. Tatapan gadis itu berhenti mendapati sebuah bingkai foto diatas meja didekat televisi. Gadis itu tertarik untuk mendekatinya. Menyentuh pinggiran bingkai itu perlahan. foto sebuah keluarga yang bahagia. Sang surai merah muda itu dan kedua orang tua serata adiknya tersenyum bersama yang semula datar itu perlahan-lahan terlukis kesedihan.
"Airnya sudah siap. Kau mandilah dulu aku mau menyiapkan makan malam." Seru Luki dari ruang sebelah.
"Ha-hai" gadis itu meletakan bingkai foto itu ditempatnya semula, berlari kecil menghampiri tempat Luki berada.
Makan malam sederhana telah siap dimeja ketika Luki mendapati gadis itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sama. Luki menepuk dahinya, baru menyadari satu hal yang kelupaan tadi.
"aku lupa memberimu baju ganti." Ujar Luki kesal sendiri. Pemuda itu berjalan menuju kamarnya dan kembali beberapa saat kemudian dengan sebuah kaos dan celana trening(?) ditanganya.
"Pakailah. Ini masih baru. Tidur dengan pakaian yang kotor itu tidak nyaman."
Gadis bersuai kuning itu menerimanya dengan ragu. Tubuh mungil itu kembali masuk kedalam kamar mandi. 5 menit kemudian ia kembali ke ruang tamu yang merupakan tempat makan sekaligus dimana Luki sudah menunggunya sambil menonton tv.
"oh... sudah selesai..." Luki mengalihkan pandanganya dari tv yang tadi sempat ditontonya.
Gadis bersuai kuning itu mengangguk.
"makan malamnya sudah siap." Ujar Luki seraya menghampiri meja makan kecil yang tadi sudah ia persiapkan. Gadis bersurai kuning itu ikut mendekati meja makan. Duduk berseberangan denganya. Luki sersenyum kecil melihat gadis itu yang kebingungan menatap masakanya. Mungkin ragu dengan rasanya tapi Luki lebih memilih mengabaikanya karena perutnya yang sudah lapar. Ia melaih sumpit dan mulai melahap nasi dimangkuknya. Dilihatnya gadis didepanya juga melakukan hal yang sama. Walupun sempat ragu untuk memakanya tadi tapi gadis itu tampak berbinar-binar setelah gigitan pertama.
"enak."Luki tersenyum mendengar komentar itu.
"Sudah pasti enak." Timpal Luki puas.
Keduanya menikmati makan malam itu dengan tenang. Luki sempat curi-curi pandang melihat gadis itu memakan masakanya dengan lahap dan saat itu Luki baru teringat sesuatu yang penting.
"oh ya... siapa namamu?"
"Ka-kagamine Rin."
Luki tersenyum mendengar nama yang menurutnya indah itu. ":Well... namaku Megurine Luki salam kenal. Rin-chan!"
"Uhmmm..." Rin mengangguk dengan rona kemerahan diwajahnya.
***bersambung(?)***
